Kajian Peran Ulama Dalam Sejarah Indonesia Menurut Beberapa Penulis
Setelah bersentuhan dengan Wahhabi di Tanah Suci, ketiganya pun melancarkan semangat pembaruan Wahhabi di daerah asal mereka. Awalnya, upaya mereka mendapat tantangan dari kaum adat. Bahkan, perang saudara pun tak terhindarkan. Akan tetapi, konflik yang ada lantas berubah menjadi perlawanan terhadap penjajah setelah Belanda memihak secara terbuka golongan adat.
Di Jawa, pada abad ke-19 juga pecah Perang Diponegoro. Jajat mengakui, gerakan yang dimotori Pangeran Diponegoro (wafat 1855) itu tak memiliki hubungan dengan Wahhabi di Makkah. Akan tetapi, bangsawan Muslim Yogyakarta itu diilhami semangat kebangkitan Islam sehingga tampil memimpin perjuangan kaum Pribumi melawan Belanda. Selain itu, sang pangeran juga merangkul komunitas santri sebagai basis kekuatan.
Peristiwa Banten tahun 1888 juga dibahas oleh Jajat dalam bukunya itu. Sebab gerakan perlawan ini diinisiasi para ulama terkemuka setempat waktu itu, yakni Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Mardjuki, dan Haji Wasid. Mengutip kajian Kartodirdjo (1966), para alim itu menyebut pergerakan mereka sebagai jihad melawan kolonial. Selain itu, mereka berkomitmen kuat untuk mewujudkan masyarakat yang berorientasi syariat.
Karya Prof Jajat Burhanudin tidak hanya menampilkan pembahasan flashback, melainkan juga menyoroti keadaan terkini. Dalam perenungannya, sang penulis meneroka keadaan Muslimin Indonesia, sekurang-kurangnya, sejak era Orde Baru hingga Reformasi kini.
Dalam lingkup nasional, Majelis Ulama Indonesia (MUI) muncul sebagai kristalisasi peran golongan ulama. MUI berdiri sejak Juli 1975. Menurut Jajat, lembaga itu dirancang untuk memfasilitasi komunikasi dua arah antara kepentingan pemerintah dan masyarakat Muslim dengan cara di mana selurug kelompok Islam di negara ini dapat terwakili.
Pada zaman Orde Baru, dia menjelaskan, MUI berada dalam bayang-bayang pemerintah. Keadaan itu mengingatkan orang-orang pada kantor penghulu bentukan pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-19 atau syaikhul Islam di Kerajaan Aceh abad ke-17.
Memasuki era Reformasi, MUI pun bertransformasi. Kecenderungan orientasinya kini pada umat, alih-alih negara. Umat Islam Indonesia zaman Reformasi juga dapat mengambil rujukan dari ulama lain, yakni yang di luar kelembagaan MUI. Misalnya, untuk menyebut satu saja dari banyak contoh, ketokohan sosok KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Dengan dukungan ekspose media—televisi atau radio—ceramah-ceramah Aa Gym dapat menjangkau khalayak luas. Pengaruhnya pun kian besar seiring waktu.
Jajat menegaskan, kalangan ulama merupakan salah satu faktor penyokong utama pembentukan Indonesia di masa depan. Mayoritas penduduk negara ini ialah Muslim. Alhasil, gambaran sosial-politik mereka pun tak lepas dari suara-suara ulama, sebagai sosok sentral dalam pengajaran Islam.
Kalangan ulama termasuk dari organisasi-organisasi mainstream, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), pun turut andil dalam mengupayakan demokrasi bekerja di Indonesia. Maka dari itu, peran mereka pun terus disaksikan masyarakat (baca: umat Islam) dalam menguatkan demokrasi. (yus)
Baca juga :
- BREAKING NEWS: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami
- Jumat Sehat, Bersih & Berkarya, MTs dan SMP Islam Al-Huda Peringati HUT Pramuka ke-65
- MTs dan SMP Islam Al-Huda Rawasapi Ucapkan Selamat Hari Pramuka ke-65
- Santri Rumah Tahfidz Opung dan Pramuka: Menempa Karakter, Mengabdi untuk Negeri
- Selamat Hari Pramuka Nasional 2026: Memantapkan Langkah Menuju Indonesia Emas 2045


