Prabowo Negosiasi Tarif Impor Dengan Trump: Demi Rakyat, Bukan Segelintir Elit!

Jakarta – 1miliarsantri.net : Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan komitmennya dalam melindungi kepentingan rakyat lewat pendekatan diplomasi dan negosiasi. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah bernegosiasi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menurunkan tarif impor negara Paman Sam ke Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Inilah bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin negara, ujarnya. Negosiasi dilakukan Presiden Prabowo pada 15–16 Juli 2025, melalui sambungan telepon dengan Presiden Trump. Hasilnya, tarif impor AS untuk produk Indonesia berhasil diturunkan. Negosiasi akan melibatkan tiga bulan dialog teknis antara Indonesia dan AS, serta komitmen impor Indonesia sejumlah US$15 miliar energi, US$4,5 miliar produk pertanian, dan pembelian 50 pesawat Boeing sebagai imbalannya . “Negara lain pun menghadapi tekanan dari Amerika Serikat yang punya kebijakan alot. Tapi inilah kenyataan global. Tugas saya sebagai Presiden adalah melindungi rakyat Indonesia,” ujar Prabowo dalam pidatonya pada acara Hari Lahir ke-27 PKB di Jakarta (23/07). Langkah ini bukan sekadar soal angka, tapi menyangkut nasib industri lokal, tenaga kerja, dan investasi di Tanah Air. Jika tidak segera diatasi, tarif tinggi bisa membuat banyak perusahaan dalam negeri tumbang dan memicu gelombang PHK besar-besaran. Baca juga : Indonesia ‘Gagap’ Memasuki Perang Dagang Global Amerika Serikat Kritik dan Nyinyiran di Tengah Perjuangan Negosiasi Meski negosiasi tersebut membuahkan hasil konkret, Prabowo menyayangkan masih banyak suara nyinyir dan sinis terhadap usahanya. Menurutnya, kritik itu perlu, tapi kalau isinya hanya mencela tanpa solusi, tentu tidak membangun. “Setiap upaya yang saya lakukan demi rakyat selalu ada saja yang mencibir. Padahal, yang kita lakukan itu nyata. Seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), dulu dicibir, sekarang sudah menjangkau lebih dari 6,7 juta orang,” tegas Prabowo. Ini menjadi pelajaran penting buat kita semua untuk perubahan dan terobosan besar selalu menghadirkan pro-kontra. Tapi selama tujuannya jelas, yaitu demi kesejahteraan rakyat Indonesia, maka kerja keras itu layak dijalankan dan didukung. Misi Besar untuk Jaga Lapangan Kerja dan Iklim Investasi Prabowo juga menyebut bahwa perundingan dengan Trump tidak semata soal angka tarif, tapi soal penyelamatan iklim usaha di dalam negeri. Saat ekonomi global sedang goyah, daya tahan usaha kecil hingga menengah harus dijaga. “Tujuan saya jelas, jangan sampai ada usaha yang gulung tikar, jangan sampai ada PHK. Saya rela berdialog, bernegosiasi, agar rakyat tidak menderita. Itu janji saya sejak awal,” ungkapnya. Langkah ini patut diapresiasi. Di tengah kompetisi global dan tekanan geopolitik, Indonesia butuh pemimpin yang berani bicara di meja perundingan, bukan hanya menonton dari pinggir lapangan. Negosiasi yang berani dan strategis adalah bentuk nyata diplomasi ekonomi. Baca juga : Tarif Dagang Adalah Daya Tawar Negara, Catatan Kritis Kesepakatan Indonesia Dan Amerika Serikat Tarif Impor Turun, ‘oleh-oleh’ dari Eropa Revisi tarif impor AS terhadap produk Indonesia resmi turun terjadi, saat kunjungan Prabowo ke Eropa. Percakapan via telepon selama 17 menit itu disebut berlangsung dalam suasana serius namun akrab. Kalangan DPR dan pelaku industri nasional menyambut hasil tersebut sebagai kemenangan diplomasi, yang menunjukkan kepemimpinan Prabowo kuat dan kredibel di kancah global . Tarif yang lebih rendah memberikan ruang bagi ekspor sektor padat karya, terutama tekstil dan furnitur untuk tetap kompetitif di pasar global. Sekaligus sebagai upaya pemerintah menghindari risiko PHK massal di dalam negeri. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyatakan bahwa hasil ini adalah buah dari proses panjang dan alot. Penurunan tarif ini membuka peluang lebih besar bagi produk Indonesia di pasar Amerika. Langkah ini secara langsung berdampak positif pada ekspor dan potensi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kompetitif di pasar global. Isu Transfer Data Pribadi Namun, kesepakatan ini tidak lepas dari kontroversi. Salah satu poin dalam kesepakatan antara Indonesia dan AS menyangkut pemindahan data pribadi WNI ke Amerika Serikat. Disebutkan bahwa Indonesia akan memberi akses transfer data ke AS, asalkan Amerika diakui sebagai negara yang memiliki perlindungan data memadai. Banyak pihak mempertanyakan keamanan dan kedaulatan data digital bangsa. Prabowo sendiri menyatakan bahwa negosiasi soal ini masih berjalan dan belum final. Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan bahwa transfer data akan dilakukan secara bertanggung jawab. Namun, tetap saja, rakyat perlu mengawal isu ini dengan seksama. Jangan sampai urusan ekonomi membuat kita abai terhadap privasi dan keamanan data nasional. Hasil negosisasi lainnya yang menjadi sorotan pengamat kebijakan karena  AS tidak dikenakan tarif saat mengekspor ke Indonesia, sementara Indonesia harus menerima 19% beban tarif. Beberapa pengamat menyebut ini asimetris dan kurang menguntungkan Indonesia secara bilateral. Kesepakatan dagang tersebut berpotensi menjadi ancaman bagi petani dan industri lokal. Masuknya impor produk pertanian AS dengan harga lebih murah berpotensi menggoyang pasar lokal seperti jagung. Hal ini memerlukan kebijakan selektif agar petani tidak dirugikan. Baca juga : Tanah Subur, Petani Terkubur : Ironi Sektor Pertanian Indonesia Diplomasi Ekonomi  Dibarengi Transparansi dan Kedaulatan Data Sebagai warga negara, kita harus objektif menilai langkah pemerintah. Di satu sisi, penurunan tarif impor adalah kemenangan diplomatik yang nyata. Tapi di sisi lain, pembukaan akses data pribadi harus ditinjau hati-hati agar tidak menjadi celah kerentanan di masa depan. Negosiasi internasional memang kompleks. Namun, transparansi kepada publik adalah kunci kepercayaan. Jika pemerintah terbuka soal prosesnya dan jelas soal batas-batasnya, rakyat akan lebih mudah mendukung. Percaya pada Proses, Kawal dengan Kritis Prabowo menutup pidatonya dengan seruan kuat, agar rakyat Indonesia tetap percaya, karena ia akan bekerja sekuat tenaga untuk seluruh rakyat, bukan golongan tertentu. “Saya rela jiwa raga saya untuk rakyat Indonesia,” ujarnya tegas. Sebagai warga, kita harus mengapresiasi setiap langkah baik, tetapi juga tetap kritis dan sadar terhadap dampak jangka panjangnya. Diplomasi ekonomi seperti ini bisa menjadi angin segar, selama prinsip kedaulatan nasional tetap dipegang teguh. Pemerintah didesak untuk memperjelas dan transparan menyangkut isi kesepakatan yang dibuat. Agar masyarakat umum mengetahui dampaknya bagi harga lokal, subsidi dan neraca fiskal negara. Penulis : Ainun Maghfiroh Foto Istimewa Editor : Toto Budiman & Thamrin Humris

Read More

Tanah Subur, Petani Terkubur : Ironi Sektor Pertanian Indonesia

Malang – 1miliarsantri.net : Indonesia secara historis dan budaya dikenal sebagai negara agraris dengan potensi sumber daya alam yang besar. Struktur tanah dan unsur vulkanis yang terkandung di dalamnya membuat Indonesia menjadi salah satu negara tersubur di dunia. Bahkan salah satu band terkenal Koes Plus pernah mengabadikan betapa suburnya tanah Indonesia dalam sebuah bait lagu “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Namun, sektor pertanian yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi dan ketahanan pangan nasional justru menghadapi berbagai persoalan kronis yang hingga kini belum terselesaikan secara menyeluruh. Hal ini terjadi karena adanya miss leading dalam pengelolaan pertanian beserta kebijakan yang mengaturnya. Secara garis besar masyarakat Indonesia sedikit demi sedikit mulai kehilangan semangat untuk berusaha di sektor pertanian. Secara umum hal ini diakibatkan oleh rasa tidak terlindungi secara profesi dan hasil produksi petani. Pemetaan usaha pertanian yang masih semrawut di daerah merupakan salah satu contoh nyata. Tidak maksimalnya pemetaan potensi pertanian di daerah oleh pemerintah pusat seringkali berujung pada kegagalan usaha pertanian itu sendiri. Semakin lama petani akan kehilangan semangat untuk terus melanjutkan usaha pertaniannya, sehingga memutuskan untuk menjual tanah pertanian tersebut. Itu hanya contoh kecil yang masih menjadi permasalahan yang belum terpecahkan, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya. Alih Fungsi Lahan Masih Tinggi Salah satu persoalan mendasar yang terus menghantui sektor pertanian adalah alih fungsi lahan. Lahan pertanian produktif banyak yang berubah menjadi kawasan industri, perumahan, maupun infrastruktur lainnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga merambah ke pedesaan. Banyak sekali kasus petani lebih memilih untuk menjual lahan pertaniannya kepada pengusaha dan uang hasil penjualan tersebut digunakan membuka usaha pada sektor lain. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), luas lahan baku sawah terus mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini berdampak pada menurunnya produksi pangan nasional, terutama beras. Rendahnya Kesejahteraan Petani Kesejahteraan petani juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak petani di Indonesia masih tergolong petani gurem dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektare. Pendapatan mereka sangat tergantung pada hasil panen musiman yang rentan terhadap fluktuasi harga pasar dan cuaca. Di sisi lain, generasi muda cenderung enggan terjun ke dunia pertanian karena dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi. Regenerasi petani pun menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan sektor ini. Ketergantungan pada Impor dan Subsidi Meski memiliki lahan yang luas, Indonesia masih belum bisa lepas dari ketergantungannya terhadap impor sejumlah komoditas pertanian seperti kedelai, bawang putih, dan gula. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara potensi produksi dalam negeri dan kebutuhan konsumsi nasional. Hal ini berkaitan dengan tidak maksimalnya pemetaan potensi pertanian di daerah oleh pemerintah pusat. Ketergantungan pada pupuk bersubsidi juga menjadi isu tersendiri. Ketika distribusi pupuk tidak merata atau terjadi kelangkaan, produktivitas pertanian bisa langsung terdampak. Pemberdayaan masyarakat dan kelompok pertanian diperlukan untuk didorong melakukan inovasi pembuatan pupuk secara mandiri dengan dukungan dari pemerintah daerah dan pusat. Sehingga ketergantungan pada pupuk bersubsidi berkurang. Proteksi Harga yang Tidak Maksimal Ketimpangan ini membuat petani berada pada posisi yang lemah dalam supply chain pertanian. Peran tengkulak yang dominan dan belum optimalnya peran koperasi juga turut memengaruhi kondisi tersebut. Hal ini diperparah dengan penggunaan teknologi dalam pertanian masih terbatas, terutama di wilayah pedesaan. Padahal, adopsi teknologi seperti irigasi modern, alat mesin pertanian (alsintan), dan sistem informasi cuaca dapat membantu meningkatkan efisiensi dan hasil panen. Kurangnya pelatihan dan pendampingan juga menjadi kendala bagi petani untuk mengakses dan mengoperasikan teknologi tersebut. Dampak Perubahan Iklim  Perubahan iklim turut memberikan tekanan terhadap sektor pertanian. Perubahan pola hujan, kekeringan, banjir, serta serangan hama dan penyakit yang tidak terduga menambah risiko gagal panen. Petani dituntut untuk beradaptasi, tetapi dukungan dan edukasi terkait mitigasi iklim masih terbatas. Mengurai permasalahan dan kendala pada usaha pertanian di Indonesia tidaklah semudah membalik telapak tangan dan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan petani itu sendiri. Kebijakan yang berpihak pada petani kecil, pembangunan infrastruktur pertanian, serta pemanfaatan teknologi menjadi kunci agar sektor ini mampu bertahan.  Formulasi kebijakan yang menyeluruh, pemetaan potensi pertanian dan pemerataan dukungan teknologi adalah beberapa hal paling krusial untuk segera dilakukan di lapangan. Tanpa upaya yang progresif dari pembuat kebijakan, maka problematika di sektor pertanian dikhawatirkan akan terus menjadi hambatan dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Sumber referensi : 1. Badan Pusat Statistik (2024). Luas Panen dan Produksi Padi 2024. https://www.bps.go.id 2.Kementerian Pertanian RI (2023). Profil Petani dan Tantangan Regenerasi. https://www.pertanian.go.id 3. Setara Institute (2023). Dinamika Alih Fungsi Lahan Pertanian. https://setarajambi.org 4. DPR RI (2022). Analisis Ketahanan Pangan dan Impor Komoditas Strategis. https://berkas.dpr.go.id 5. Indonesiana (2023). Menekan Ketergantungan Impor Pertanian. https://www.indonesiana.id 6. DJPB Kemenkeu (2022). Kebijakan Impor dan Ketahanan Pangan. https://djpb.kemenkeu.go.id Kontributor : Leo Agus Hartono Editor : Toto Budiman

Read More

Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan Misteri Kematian Diplomat Muda Arya Daru di Kamar Kos Menteng

Jakarta – 1miliarsantri.net : Kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan, masih menyisakan banyak tanda tanya. Pria yang dikenal cerdas dan berprestasi itu ditemukan dalam kondisi tidak biasa di kamar kosnya yang terletak di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa, 8 Juli 2025. Temuan ini sontak menggemparkan publik dan menimbulkan berbagai spekulasi. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, dalam konferensi pers terbaru pada Kamis (24/7), mengungkap secara gamblang bagaimana kondisi korban saat ditemukan. Ini menjadi titik awal penting dalam penyelidikan yang saat ini masih berlangsung. Kronologi dan Temuan Awal Polisi Menurut Kombes Ade, Arya ditemukan dalam kondisi yang membuat siapa pun bergidik. Wajahnya tertutup plastik, tubuhnya dililit lakban berwarna kuning, dan keseluruhannya diselimuti kain di atas tempat tidurnya. Yang membuat kasus ini semakin janggal, kamar kos bernomor 105 tempat Arya tinggal terkunci rapat dari dalam. “Kamar tersebut punya tiga jenis kunci: kunci manual dan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam, serta kunci akses yang dipegang oleh korban sendiri,” jelas Ade. Sementara itu, akses masuk utama ke area kos hanya bisa dilakukan dengan kunci yang dipegang oleh para penghuni dan penjaga kos. Tidak hanya pintu yang terkunci, jendela kamar Arya juga ditemukan dalam kondisi terkunci dari dalam. Situasi ini membuat banyak pihak bertanya-tanya: apakah ini benar-benar murni bunuh diri, atau ada unsur lain di baliknya? Siapa yang Pertama Kali Menemukan Arya Daru? Fakta menarik lainnya adalah mengenai siapa yang pertama kali mengetahui kondisi Arya. Berdasarkan keterangan polisi, sang istri Arya merasa curiga karena suaminya tidak bisa dihubungi dan ponselnya dalam kondisi mati. Ia kemudian meminta bantuan penjaga kos untuk memeriksa kondisi Arya. Penjaga kos yang berinisial S lantas mengajak salah satu penghuni lainnya, FM, untuk bersama-sama memeriksa. Mereka berupaya masuk melalui jendela dengan cara mencongkel, membuka slot, lalu membuka pintu dari dalam. Di situlah mereka menemukan Arya sudah tak bernyawa. Sumber Foto : newsmaker.tribunnews.com Penemuan ini pun sempat membuat geger seluruh penghuni kos. FM dan penjaga kos segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Polisi kemudian datang dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), termasuk mengamankan barang-barang milik Arya, serta memeriksa rekaman CCTV di area sekitar. Keterangan dari kedua saksi ini menjadi krusial karena merekalah yang pertama kali melihat langsung kondisi korban, sebelum siapa pun menyentuh atau mengubah posisi apapun di kamar. Penyelidikan Melibatkan 15 Saksi dan Tim Ahli Untuk mengungkap misteri di balik kematian tragis ini, polisi telah memeriksa setidaknya 15 saksi. Mereka terdiri dari penghuni kos lain, rekan kerja Arya, keluarga korban, hingga orang-orang terakhir yang sempat berkomunikasi dengannya. Tak hanya itu, penyelidikan juga melibatkan banyak pihak profesional seperti tim kedokteran forensik dari RSCM, tim Inafis Bareskrim Polri, digital forensik dari Direktorat Siber, serta ahli psikologi forensik. Kolaborasi lintas disiplin ini menunjukkan bahwa kepolisian serius menelusuri setiap detail penyebab kematian Arya. Kasus yang Tidak Boleh Dibiarkan Mengendap Melihat kompleksitas kasus ini, sangat penting untuk tidak terburu-buru menyimpulkan. Banyak faktor yang perlu ditelusuri lebih dalam, mulai dari kondisi psikologis Arya, aktivitas terakhirnya, hingga hubungan personal maupun profesionalnya. Sebagai diplomat muda, Arya Daru bukan hanya sekadar korban individu. Ia adalah representasi generasi baru Indonesia yang bertugas membawa nama bangsa ke ranah global. Maka, publik pun layak mendapatkan kejelasan penuh atas kasus ini, baik dari sisi forensik, digital, maupun psikologis. Penting juga buat kita semua untuk tidak mudah terjebak dalam narasi-narasi spekulatif yang dapat merugikan keluarga korban atau mengganggu jalannya penyelidikan. Mari berikan ruang bagi pihak berwenang dan ahli untuk bekerja maksimal. Misteri yang Masih Perlu Dipecahkan Kasus kematian diplomat Kemlu Arya Daru jelas bukan perkara biasa. Banyak hal yang masih belum terjawab dan membutuhkan proses penyelidikan lebih lanjut. Dengan kondisi korban yang sangat janggal dan akses kamar tertutup rapat dari dalam, publik wajar bertanya-tanya. Rekaman CCTV dari 20 lokasi, termasuk lingkungan kos, Gedung Kemlu, dan area Grand Indonesia sedang diperiksa secara forensik digital oleh Polda Metro Jaya untuk melacak jejak korban seminggu terakhir sebelum kematian Polisi telah melibatkan tim forensik, digital forensic dan Pusident Bareskrim Polri untuk memastikan penyebab kematian korban secara ilmiah melalui autopsi, toksikologi, histopatologi, dan pemeriksaan digital. Saat ini, kita perlu mempercayakan sepenuhnya proses penyelidikan pada kepolisian dan tim ahli. Namun sebagai masyarakat, penting juga buat terus mengawasi dan menuntut transparansi agar kasus diplomat Kemlu Arya Daru tidak tenggelam begitu saja. Kepolisian masih menunggu hasil autopsi lengkap serta analisis digital forensik untuk memastikan penyebab pasti. Kasus ini menjadi ujian terhadap integritas sistem hukum Indonesia dalam menangani kematian pejabat negara dengan pendekatan ilmiah dan terbuka kepada publik. Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Menakar Peluang Juara Empat Tim Terbaik ASEAN Dalam Semi Final AFF U-23 2025

Jakarta – 1miliarsantri.net: Piala AFF U-23 2025, yang berlangsung di Indonesia memasuki babak semi final, mempertemukan empat tim terbaik Asean, Indonesia melawan Thailand dan Vietnam melawan Filipina, akan berlangsung hari ini Jumat (25/7) di SUGBK Jakarta. Semi final Piala AFF U-23 2025 merupakan babak krusial. Empat tim telah memastikan tempat di semifinalm asing-masing membawa kekuatan dan strategi serta cerita tersendiri, menjadikan perebutan gelar juara semakin menarik. Pertandingan pertama akan mempertemukan Timnas U-23 Vietnam melawan underdog Filipina, pada pukul 15.00 WIB, selanjutnya Timnas U-23 Indonesia akan menjamu Thailand U-23 pada pukul 20.00 WIB, semua dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Peluang Masing-Masing Tim Head to Head Indonesia melawan Thailand, dalam 5 laga terakhir (2017-2023) Indonesia menang 3 kali atas Thailand pada Final AFF U-23 2019 (2-1), AFF 2023 semi final (3‑1) & SEA Games 2023 (5‑2). Sementara Thailand 2 kali menang dan 1 imbang. Indonesia U-23, Strategi, Konsistensi, Semangat dan Dukungan Kandang Peluang Juara: Indonesia memiliki peluang juara cukup Tinggi, jika mampu menjaga konsistensi dan memanfaatkan dukungan publik yang memadati SUGBK Jakarta malam nanti. Thailand U-23: Disiplin, Strategi dan Efisiensi Peluang Juara: Thailand cukup kuat berpeluang juara dalam gelaran kali ini, terutama jika mampu menahan tekanan dari tuan rumah dan mencuri gol cepat. Vietnam U-23: Konsistensi, Kekuatan, Kecepatan dan Mental Juara Peluang Juara: Vietnam berpeluang sangat besar untuk menjuarai edisi kali ini, terutama jika lolos ke final dan menghadapi lawan yang sudah terkuras secara fisik. Filipina U-23: Kuda Hitam yang Berbahaya dan Memiliki Pertahanan Disiplin. Peluang Juara: Peluang juara Filipina rendah, namun sepak bola bukan matematika, kejutan bisa terjadi jika mereka bermain tanpa beban dan mampu bermain efektif serta memanfaatkan peluang sekecil apapun. Gaya, Karakter dan Kekuatan Indonesia, Thailand, Vietnam dan Filipina memilikik gaya bermain dan kekuatan berbeda. Strategi dan kemapuan pelatih masing-masing akan sangat menentukan siapa yang berpeluang maju ke babak Final. Karakter masing-masing tim merupakan hasil dari polesan tim pelatih. Vietnam dilatih oleh Kim Sang‑sik (asal Korea Selatan), kemudian Filipina diarsiteki Norman Fegidero Jr. (asal Filipina), sementara Thailand ditukangi Thawatchai Damrong‑Ongtrakul (Thailand) menggantikan Takayuki Nishigaya yang dipecat akhir Juni 2025 menyusul rentetan kekalahan telak, dan favorit juara Indonesia dikomandoi Gerald Vanenburg (Coach asal Belanda) dikenal optimistis terhadap kualitas pemainnya, meski tanpa beberapa nama besar. Pertandingan pada sore dan malam nanti merupakan duel penuh gengsi dan emosi, dipastikan terjadi dalam intensitas tinggi. Masing-masing tim berupaya menjadi yang terbaik dan maju ke Final AFF U-23 2025. Tim mana yang akan menjuarai edisi ini, nantikan prediksi selanjutnya.*** Penulis dan Editor: Thamrin Humris Foto ilustrasi

Read More

5 Warna Darah Haid Menurut Fiqih! Mana yang Termasuk Najis, Mana yang Tidak?

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Dalam kehidupan sehari-hari, banyak wanita Muslim yang masih merasa bingung membedakan jenis darah yang keluar dari tubuhnya. Terutama ketika membahas warna darah haid dalam Islam, sering muncul pertanyaan, apakah semua warna darah haid itu najis? Apakah darah yang warnanya berbeda-beda di awal atau akhir haid tetap disebut darah haid? Lantas, bagaimana panduan fiqih menjelaskan hal ini? Memahami warna darah haid dalam Islam bukan hanya penting untuk kebersihan, tapi juga berkaitan erat dengan sah atau tidaknya ibadah seorang wanita. Dalam fiqih, hal ini termasuk bagian dari ilmu yang wajib diketahui oleh setiap Muslimah, agar tidak keliru dalam menjalankan ibadah, seperti shalat atau puasa. Bagi yang masih belum memahami tentang hal ini, tenang saja! Artikel sengaja kami angkat untuk mengupas secara tuntas dan ringan tentang 5 warna darah haid menurut fiqih, serta status hukumnya. Perhatikan penjelasan berikut agar tidak keliru memahami hukum najis pada darah haid. Apa Itu Darah Haid Menurut Fiqih? Sebelum membahas berbagai warnanya, penting untuk memahami definisi dasar dari darah haid dalam Islam. Darah haid adalah darah alami yang keluar dari rahim wanita pada waktu tertentu setiap bulan. Menurut para ulama, darah haid hanya berlaku jika keluar dalam waktu minimal 24 jam dan maksimal 15 hari. Selain dari waktu itu, darah yang keluar bisa jadi bukan darah haid. Dalam fiqih, warna darah haid dalam Islam tidak menentukan apakah darah itu haid atau bukan, selama keluarnya berada di waktu kebiasaan haid seorang wanita. Namun, setiap warna tetap memiliki kecenderungan dan makna tersendiri. 5 Warna Darah Haid Yang Sering Dijumpai Beserta Penjelasan Hukumnya Dalam Fiqih Dan berikut ini adalah lima warna darah haid yang sering dijumpai beserta penjelasan hukumnya dalam fiqih: 1. Merah Tua (Hitam Kemerahan) Warna merah tua atau kehitaman merupakan warna yang paling umum keluar saat haid. Dan warna ini biasanya muncul di awal-awal masa haid dan sering kali disertai dengan rasa nyeri atau tidak nyaman. Wanita yang mengalaminya wajib menghentikan ibadah seperti shalat, puasa, dan tidak boleh berhubungan intim hingga masa haidnya selesai dan bersuci (mandi besar). Darah ini para ulama’ sepakat dihukumi Najis. 2. Merah Segar (Merah Terang) Warna ini sering muncul saat darah masih sangat aktif mengalir, biasanya di pertengahan masa haid. Tampak seperti warna darah luka biasa, namun tetap merupakan bagian dari darah haid selama masih dalam waktu haid. Jenis kedua ini merupakan darah haid dan najis. Segala bentuk ibadah tetap dilarang selama warna darah ini masih keluar. Namun, warna merah segar ini juga bisa muncul sebagai darah istihadhah, terutama jika keluar di luar waktu kebiasaan haid. Dalam hal ini, statusnya bisa berbeda. 3. Coklat Tua Warna ini biasanya muncul di akhir masa haid, menjelang darah berhenti total. Banyak wanita sering salah mengira bahwa darah coklat tua bukanlah haid. Padahal, ini tetap bisa masuk dalam kategori darah haid. Selama masih berada di masa haid, maka warna darah haid dalam Islam yang berwarna coklat tua ini tetap dihukumi najis dan dianggap darah haid. Flek coklat yang muncul setelah haid benar-benar berhenti, namun tidak disertai rasa tidak nyaman dan hanya sedikit, bisa dikategorikan bukan darah haid. Namun untuk aman, disarankan untuk berkonsultasi dengan ulama atau ahli fikih. 4. Merah Muda Warna merah muda sering muncul di awal atau akhir masa haid, terkadang hanya berupa flek ringan. Dan warna ini sering membingungkan karena terlihat lebih cerah, bahkan tampak seperti bercak biasa. Jika keluar di waktu kebiasaan haid dan disertai gejala seperti nyeri, maka tetap termasuk darah haid dan dihukumi najis. Namun, jika darah merah muda ini muncul di luar masa haid, maka bisa jadi termasuk istihadhah yang hukumnya berbeda. 5. Darah Istihadhah Darah ini bukan bagian dari haid meskipun terkadang warnanya mirip dengan darah haid. Dan darah istihadhah biasanya berwarna merah segar dan keluar di luar jadwal haid yang biasa. Tidak dihukumi sebagai haid dan tidak najis seperti darah haid. Wanita tetap wajib menjalankan shalat dan puasa, tetapi disarankan untuk berwudhu setiap akan shalat dan membersihkan darah jika terus mengalir. Darah istihadhah juga tidak mengharamkan hubungan suami istri, berbeda dengan darah haid yang mengharamkannya selama masa haid belum selesai. Pentingnya Mengenal Warna Darah Haid dalam Islam Mengetahui berbagai warna darah haid dan status hukumnya sangat penting bagi setiap wanita Muslim. Salah paham dalam hal ini bisa menyebabkan ibadah tidak sah atau justru melakukan sesuatu yang dilarang agama. Dalam fiqih, semua darah yang keluar di masa haid, baik berwarna merah tua, merah terang, coklat tua, atau merah muda tetap dihukumi najis. Kecuali darah tersebut keluar di luar kebiasaan haid dan tidak disertai gejala haid, maka bisa jadi itu darah istihadhah yang memiliki hukum berbeda. Jangan Anggap Remeh Warna Darah Haid dalam Islam Pemahaman tentang warna darah haid dalam Islam bukan sekadar soal kebersihan fisik, tapi juga berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya ibadah seorang Muslimah. Kesalahan dalam mengenali jenis darah bisa berdampak pada kesucian dan kewajiban agama. Karena itu, setiap wanita sebaiknya memahami dengan jelas perbedaan antara darah haid dan istihadhah, serta jenis warnanya. Bila ragu, sebaiknya berkonsultasi langsung dengan ulama atau ustazah yang paham fiqih wanita. Jangan sampai ibadah terganggu hanya karena tidak memahami warna darah haid dalam Islam. Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Vonis Kasus Tom Lembong ; Salah Sasaran atau Bukti Ketimpangan Hukum?

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Kasus korupsi yang menyeret nama mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong alias Tom Lembong bikin heboh ruang publik. Bukan cuma karena statusnya sebagai eks pejabat negara, tapi juga karena vonis 4,5 tahun penjara yang menurut banyak pihak, termasuk tim kuasa hukumnya, penuh kejanggalan. Di tengah panasnya isu ini, Tom Lembong pun resmi mengajukan banding ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, berharap keadilan bisa ditegakkan dengan lebih jernih. Tom Lembong Ajukan Banding Atas Vonis Korupsi Impor Gula Langkah hukum untuk mengajukan banding dilakukan Tom Lembong melalui kuasa hukumnya, Zaid Mushafi, pada Selasa (22/7/2025). Mereka menyebut ada hal yang tidak masuk akal dalam vonis yang dijatuhkan hakim. Menurut Zaid, tuduhan bahwa Tom Lembong bertanggung jawab atas kerugian negara sebesar Rp 194 miliar adalah sesuatu yang dipaksakan. Pasalnya, angka tersebut adalah potential loss, alias kerugian yang sifatnya belum nyata, dan lebih tragisnya lagi, Tom sama sekali tidak menikmati hasil dari dugaan korupsi tersebut. “Kalau seseorang tidak mengambil keuntungan pribadi, tapi tetap dipenjara 4,5 tahun, ini pertanda sistem hukum kita perlu ditinjau ulang,” ujar Zaid dengan tegas. Kritik utama muncul dari penggunaan pasal “merugikan keuangan negara” sebagai dasar kuat tuntutan. Fitur hukum yang memungkinkan ‘perselingkuhan’ antara kebijakan administratif dan ranah pidana. Perintah Presiden Tidak Dipertimbangkan Hakim? Salah satu poin yang bikin banyak orang angkat alis adalah fakta bahwa tindakan Tom Lembong saat itu disebut-sebut merupakan bagian dari perintah Presiden Joko Widodo. Hal ini bahkan sudah disampaikan di persidangan oleh saksi dari Inkopkar, Inkopol, dan juga ahli dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). Namun, menurut kuasa hukum Tom, hakim sama sekali tidak mempertimbangkan fakta penting tersebut. Zaid juga menyebut bahwa andai pun Tom hanya dijatuhi hukuman satu hari penjara, mereka tetap akan banding. Artinya, ini bukan sekadar soal lamanya hukuman, tapi lebih kepada prinsip: apakah seseorang benar-benar bersalah, dan apakah vonisnya adil? Apakah Tom Lembong Jadi Kambing Hitam? Kalau dilihat dari kacamata publik, kasus ini memang bikin banyak orang bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang pejabat yang tidak menikmati hasil korupsi, dan katanya menjalankan perintah atasan, tetap divonis bersalah? Apalagi, konteks pemberian izin impor gula ini kompleks, melibatkan koordinasi antar instansi dan urgensi pasokan bahan pokok. Kita semua tahu bahwa birokrasi di Indonesia sering kali sarat dengan tekanan politis dan keputusan cepat. Kadang-kadang, pejabat di level menteri memang harus ambil risiko demi kelancaran distribusi pangan, apalagi yang menyangkut komoditas sensitif seperti gula. Jadi, ketika Tom justru dijadikan tersangka utama dalam kasus ini, publik wajar curiga, apakah Tom Lembong hanya jadi korban dari permainan yang lebih besar? Rincian Putusan yang Melanggar Aturan Impor Tanpa Rekomendasi Dalam amar putusannya, hakim menyatakan bahwa Tom Lembong bersalah karena menerbitkan izin impor gula rafinasi kepada delapan perusahaan swasta tanpa rekomendasi dari Kementerian Perindustrian. Hal itu dianggap melanggar Permendag Nomor 117, yang jelas mengatur soal mekanisme dan rekomendasi yang wajib dipenuhi. Hakim menyebut bahwa tindakan Tom menyebabkan negara dirugikan hingga Rp 578 miliar dan memperkaya puluhan pengusaha swasta, yang seharusnya menjadi hak PT PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia), sebagai BUMN pelaksana. Walau begitu, hakim juga mengakui bahwa Tom tidak menerima keuntungan pribadi. Fakta inilah yang membuat banyak pihak mempertanyakan keputusan majelis hakim. Jadi, kalau tidak menikmati hasil, lalu kenapa harus dihukum berat? Sebuah pertanyaan yang mungkin juga ada di benak kamu sekarang dan sebagian besar masyarakat Indonesia. Kemana Arah Penegakan Hukum Kita? Kuasa hukum Tom Lembong menyatakan bahwa kasus ini adalah cermin betapa penegakan hukum di Indonesia sedang tidak dalam kondisi sehat. Dan kalau kita jujur, sulit untuk membantahnya. Setiap tahun, publik disuguhkan kasus-kasus korupsi yang penuh drama. Ada yang jelas-jelas bersalah tapi hukumannya ringan, ada pula yang tampaknya hanya menjalankan perintah, tapi justru dijadikan tumbal. Kita memang harus sepakat bahwa korupsi adalah kejahatan besar, apalagi kalau menyangkut kebutuhan dasar rakyat. Tapi dalam semangat anti-korupsi itu, jangan sampai hukum kehilangan objektivitas. Kasus seperti yang menimpa Tom Lembong seharusnya bisa ditangani dengan lebih proporsional dan adil. Bukannya mengorbankan satu pihak tertentu, tanpa memperhatikan rasa keadilan publik. Terlebih terungkap fakta persidangan bahwa impor gula tersebut sah dan sesuai prosedural. Sorotan juga terjadi terhadap ambiguitas definisi “kerugian negara” dalam UU Tipikor yang dapat menjerat pejabat hanya karena masalah birokrasi, bukan penyalahgunaan kekuasaan. Akhirnya persepsi publik dan  tuduhan politisasi terhadap proses penjatuhan vonis membuka pertanyaan mengenai independensi lembaga peradilan. Harapan dari Proses Banding Kini, semua mata tertuju pada proses banding yang diajukan Tom. Apakah Pengadilan Tinggi akan melihat lebih jernih dan mempertimbangkan seluruh bukti dan fakta yang diabaikan sebelumnya? Ataukah Tom tetap harus menjalani hukuman atas keputusan yang masih menyisakan banyak tanda tanya? Yang jelas, kasus ini bukan cuma soal satu orang. Ini soal integritas sistem hukum yang harus bisa menjamin keadilan buat siapa pun, tanpa tebang pilih, tanpa tekanan politik. Tom Lembong divonis 4,5 tahun penjara, tapi publik masih menanti, apakah hukum di Indonesia benar-benar bisa berdiri di atas kebenaran? Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

“Mbegendeng” dan Perlawanan terhadap Kepalsuan Negara

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam kebudayaan Jawa, dikenal istilah “mbegendeng.” Bukan sekadar nekat atau ugal-ugalan, tapi karakter yang menunjukkan kegigihan, keberanian tanpa kompromi, dan keberanian menghadapi kuasa—meski harus menabrak kenyamanan dan ketakutan umum. Watak ini kini menjelma dalam wajah-wajah publik yang berani membuka satu dari banyak borok kekuasaan: dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo. Selama menjabat sebagai presiden, Jokowi membangun citra sebagai sosok merakyat. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan rekam jejak politik yang kerap menabrak konstitusi, etika bernegara, bahkan kadang menginjak akal sehat rakyat. Dengan dukungan para buzzer yang menjilat tanpa reserve, narasi kekuasaan dibentengi oleh pasukan digital yang siap membungkam siapa saja yang mengkritik. Namun, ilmu kekuasaan itu ternyata tak selamanya digdaya. Dalam kasus dugaan ijazah palsu, watak mbegendeng muncul sebagai ancaman nyata terhadap narasi besar kekuasaan. Nama-nama seperti Roy Suryo, dr. Tifa, Doktor Rismon, dan Achmad Khozinuddin hadir ke permukaan. Ditambah Prof. Egi Sudjana bersama TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis), mereka tampil bukan sebagai politisi elite, tetapi sebagai warga yang menolak tunduk pada ketidakjujuran. Roy Suryo tampil dengan gaya slonong dan slengekan, membongkar celah-celah yang selama ini dikunci oleh narasi resmi. dr. Tifa membawa keberanian intelektual sebagai seorang dokter, dengan analisis dan suara lantang yang menyentuh nurani. Doktor Rismon hadir dengan gaya nggembel tapi cerdas, tak kenal protokol dan menyerang dengan argumen fakta lapangan. Sementara itu, Achmad Khozinuddin, dengan latar belakang hukum dan logika yang tajam, memainkan strategi argumentatif yang mampu menjebak kuasa dalam permainan hukum yang selama ini mereka kuasai. Bukan sekadar menyerang, Khozinuddin mampu memancing jebakan logis, hingga pihak lawan terseret ke dalam inkonsistensinya sendiri. Lalu ada Prof. Egi Sudjana, yang bersama TPUA tampil heroik dan lantang. Gaya aktivis yang masih menyala dalam dirinya menuntun masuk ke jantung pertahanan kekuasaan. Ia tak gentar menghadapi pengadilan dan aparat, bahkan dengan tenang melontarkan argumen yang menggoyahkan landasan legitimasi narasi resmi. Dan tentu saja, Gus Nur dan Bambang Tri, dua figur yang tanpa tedeng aling-aling membuka kedok yang menurut mereka selama ini ditutup-tutupi. Mereka hadir bukan sebagai pakar, tapi sebagai suara rakyat marah yang menolak ditipu. Apa yang dilakukan oleh Roy Suryo dkk. mengingatkan kita pada satu tokoh penting bangsa: KH Agus Salim. Suatu ketika, ia dihina oleh kaum komunis (PKI) dan disamakan dengan kambing karena penampilannya yang lusuh. Namun, jawaban beliau menohok dan membungkam: “Saya tidak tersinggung, sebab kambing pun lebih berguna daripada manusia yang hanya bisa menghina dan tidak memberi manfaat bagi bangsa.” Inilah gaya mbegendeng cerdas, jawaban yang tidak hanya menohok, tapi juga menyadarkan. KH. Haji Agus Salim (1884–1954) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam peta politik Indonesia modern. Beliau dikenal sebagai diplomat ulung, pemikir Islam moderat, jurnalis kritis, dan aktivis pergerakan nasional. Peran dan Jejak Politik KH. Agus Salim tercatat sebagai tokoh Sarekat Islam sejak 1915, Agus Salim aktif dalam gerakan politik dan jurnalisme. Ia mendirikan dan menjadi redaktur surat kabar seperti Neratja, Hindia Baroe, dan Fadjar Asia, yang digunakan untuk menyuarakan aspirasi kemerdekaan dan kritik terhadap penjajah Belanda. Sebagai figur tokoh pergerakan nasional yang meniti lintas ranah—pemerintahan kolonial, pergerakan nasional, hingga rumah diplomasi negeri baru—KH. Agus Salim berperan sebagai jembatan strategis antara gagasan Islam politik dengan semangat nasionalisme inklusif. Politik Pencitraan dan Manipulasi Sama halnya dalam konteks situasi nasional hari ini. Dalam suasana politik yang penuh pencitraan dan manipulasi, rakyat justru mulai menaruh harapan pada mereka yang tampil tanpa beban kuasa, tapi konsisten membongkar kepalsuan tanpa tendeng aling-aling. Watak mbegendeng bukan untuk membenci. Ia hadir sebagai antibodi sosial ketika kekuasaan terjebak dalam ilusi kebenaran. Ia adalah gaya oposisi moral yang terkadang tak mengenakan jas, tak memegang jabatan, tetapi tetap punya nurani dan keberanian. Ketika kekuasaan gagal menjawab dengan data, gagal membuktikan keabsahan, dan justru membentengi diri dengan buzzer serta ancaman hukum, maka semakin kuat pula publik mendengar mereka yang mbegendeng. Mereka tidak sedang mencari panggung. Mereka justru sedang membuka panggung kebenaran, meski harus berdiri sendirian. Dalam demokrasi, kadang kekuasaan tak jatuh karena oposisi formal, tapi karena kekuatan rakyat yang jujur dan berani. Watak mbegendeng telah membuktikan satu hal: bahwa kebenaran, jika diperjuangkan terus-menerus, bisa membongkar narasi kebohongan yang dibangun bertahun-tahun. Dalam dunia politik nasional yang semakin dipenuhi kepalsuan, “mbegendeng” bukan sekadar bentuk kemarahan, tapi ekspresi perlawanan dari hati yang jujur dan nurani yang terusik. Di balik sikap yang tampak ngawur dan tak sopan, terkandung keberanian untuk menolak tunduk pada kemunafikan sistemik dan keberpihakan pada kebenaran yang sering disembunyikan. Masyarakat tidak butuh pemanis kata-kata, tapi kejujuran yang menyengat. Kini saatnya kita tak lagi diam, karena diam hanya menguatkan kebohongan. Mari warisi semangat “mbegendeng” sebagai api perubahan: lantang, tulus, dan tak gentar melawan kebusukan yang membungkus wajah negara dengan senyum pura-pura. Dan sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang berkuasa, tapi juga siapa yang berani melawan kebohongan. Surabaya, 23 Juli 2025 Editor : Toto Budiman Oleh : M.Isa Ansori *) Penulis adalah Pegiat Pendidikan dan Perlindungan Sosial. Aktif dalam isu-isu kebijakan publik dan kesejahteraan rakyat. Pengurus LPA Jatim, Dosen di STT Multimedia Internasional Malang dan Wakil Ketua ICMI Jatim dan Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya

Read More

Digital Detox Ala Muslim: Rehat dari Sosmed Demi Hati yang Lebih Tenang, Simak Tipsnya

Jakarta – 1miliarsantri.net: Semua informasi dan kegiatan terasa ada dalam satu genggaman, terutama melalui smartphone. Ini fenomena yang membentuk gaya hidup masyarakat saat ini terutama Gen Z dan generasi digital lainnya. Di zaman serba digital ini, siapa sih yang nggak pegang smartphone hampir setiap saat? Bangun tidur langsung buka WhatsApp, sebelum tidur scrolling Instagram atau TikTok. Sosial media memang menyenangkan—bisa terhubung dengan banyak orang, update tren terbaru, atau cari inspirasi. Tapi, tanpa kita sadari, terlalu lama berselancar di dunia maya bisa bikin hati capek, pikiran penuh, bahkan iman terasa menurun. Digital Detox Untuk Kesehatan Mental dan Menjaga Iman Nah, di sinilah digital detox alias istirahat sejenak dari media sosial jadi penting. Sebagai seorang muslim, rehat dari sosmed bukan cuma demi kesehatan mental, tapi juga demi menjaga hati agar lebih tenang dan dekat dengan Allah. Kenapa Kita Butuh Digital Detox? Sering merasa hidup orang lain kok “lebih bahagia” setelah lihat story atau postingan mereka? Ini yang disebut social comparison. Padahal, belum tentu apa yang mereka tampilkan sama dengan kenyataan. Pernah niatnya mau buka Instagram “cuma 5 menit”, eh tahu-tahu sudah 1 jam? Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk baca Al-Qur’an, shalat sunnah, atau ngobrol sama keluarga malah habis buat scrolling. Kebanyakan melihat konten hiburan kadang bikin kita jadi lalai. Dzikir yang biasanya rutin bisa terlewat, shalat jadi terburu-buru karena “tanggung, bentar lagi videonya habis”. Cara Digital Detox ala Muslim Tenang, digital detox bukan berarti harus uninstall semua aplikasi dan kabur ke hutan kok! Cukup lakukan perlahan tapi konsisten. Berikut beberapa tipsnya: ✅ 1. Niatkan karena Allah Perbaiki niat dulu. Digital detox ini bukan semata-mata demi kesehatan mental, tapi demi membersihkan hati dan mendekatkan diri pada Allah. ✅ 2. Tetapkan Waktu Bebas Sosmed Misalnya, setelah shalat Subuh sampai Dzuhur nggak buka media sosial sama sekali. ✅ 3. Ganti dengan Aktivitas yang Menenangkan Hati Saat tangan gatal ingin scrolling, alihkan dengan hal-hal yang menambah iman: membaca tafsir ringan, mendengarkan murottal, atau sekadar berdzikir sambil rebahan. ✅ 4. Kurasi Akun yang Diikuti Kalau masih perlu sosmed untuk kerja atau bisnis, setidaknya pilih akun-akun yang bermanfaat—kajian Islam, motivasi kebaikan, atau informasi bermanfaat. Unfollow akun-akun yang bikin hati sering iri atau lalai. ✅ 5. Luangkan Waktu untuk Alam dan Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan kita untuk menyambung silaturahmi. Sesekali matikan notifikasi, habiskan waktu ngobrol sama keluarga, atau jalan santai di alam terbuka sambil mentadabburi ciptaan Allah. Hasil yang Akan Kamu Rasakan Beberapa orang yang mencoba digital detox merasa hatinya jauh lebih tenang, tidur lebih nyenyak, dan ibadah jadi lebih fokus. Ketika waktu tidak terlalu habis di sosmed, kita jadi sadar bahwa banyak hal yang lebih berharga untuk dikerjakan. Rasulullah bersabda: “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi) Bukankah ini pengingat yang pas banget untuk kita yang sering terlalu asyik scrolling? Rehat Demi Hati yang Lebih Dekat pada Allah Digital detox bukan berarti anti-teknologi, tapi cara kita mengatur ulang prioritas. Sosmed boleh, asal jangan sampai bikin hati lalai. Yuk, coba mulai dari hal kecil: matikan notifikasi satu jam sebelum tidur, ganti scrolling dengan dzikir, atau pasang niat setiap buka sosmed untuk hal-hal bermanfaat. Semoga dengan rehat sejenak dari dunia maya, hati kita semakin lapang, iman semakin kuat, dan hidup terasa lebih berkah.** Penulis : Annisa Dwi Meitha Foto ilustrasi AI Editor : Thamrin Humris

Read More

Scroll Terus Sampai Otak Nge-lag: Dilema ‘Konten Receh’ Candu Bagi Gen Z

Jakarta – 1miliarsantri.net: Fenomena yang makin umum kebiasaan Gen Z mengakses media sosial dengan aktivitas scrolling yang tak berujung. Di tengah tumpukan tugas, tekanan sosial, dan ekspektasi hidup yang kian kompleks, Gen Z kerap mencari pelarian singkat seperti pada “konten receh” di TikTok. Mereka sering menjadikan video absurd 10 detik tentang kucing nabrak tembok, lipsync random, atau curhat iseng yang tak berkesudahan menjadi sumber hiburan cepat. Namun di balik tawa singkat itu, muncul pertanyaan, “Mengapa kita merasa sulit berhenti scroll?” Konten Receh “Cemilan Digital” Menjadi Candu “Konten receh” di media sosial sama halnya dengan junk food—enak di mulut, tapi bikin eneg. Pasalnya, ia mampu menawarkan hiburan ringan, instan, dan tidak memerlukan perhatian mendalam, dan berpotensi menjadi candu yang sulit dihilangkan. Gen Z yang hidup di era produktivitas tanpa jeda menggunakan konten semacam ini sebagai ruang jeda mental. Bukan sekadar hiburan, tapi juga strategi bertahan di tengah kepenatan mental yang tak selalu bisa dijelaskan. Studi dari Frontiers in Psychology (2020) menemukan bahwa penggunaan humor lewat media—terutama konten ringan dan lucu—justru mampu menekan efek buruk stres dan kecemasan. Fokus dari riset tersebut adalah pola konsumsi media selama pandemi, dan menyimpulkan bahwa humor sebagai bentuk coping berkaitan erat dengan kesejahteraan mental yang lebih baik, sedangkan coping yang lebih bersifat avoidant (menghindar secara pasif) justru berhubungan dengan penurunan kualitas mental. Bahkan, studi oleh Chloe Partlow dan Patricia Talarczyk dalam Journal of Student Research (2021) menunjukkan bahwa Gen Z cenderung menilai konten absurd sebagai lebih lucu dan menyenangkan dibanding bentuk humor yang lebih konvensional. Semakin tidak masuk akal sebuah meme, justru semakin efektif sebagai pengalih stres. Ini menjadi petunjuk menarik bahwa humor digital tak hanya sekadar pemanis linimasa, tetapi juga punya fungsi psikologis yang nyata. Otak yang Nge-lag: Ketika Hiburan Jadi Candu? Istilah brain rot—yang ditetapkan Oxford sebagai “Word of the Year” 2024—mengacu pada penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi pasif konten trivial, seperti doom scrolling dan short-form feed tanpa muatan makna. Ini bukanlah alarm yang berlebihan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap konten pendek, cepat, dan dangkal dapat menciptakan kebiasaan otak mengharapkan stimulasi instan. Akibatnya, otak menjadi “malas” untuk terlibat dalam proses berpikir reflektif, konsentrasi mendalam, bahkan pengolahan ingatan jangka panjang. Fenomena ini sangat terlihat dalam kebiasaan konsumsi Gen Z terhadap media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram Reels dirancang secara algoritmik untuk mempertahankan atensi pengguna melalui konten berdurasi sangat pendek, diiringi audio menarik, dan efek visual yang menggugah. Pola ini memicu pelepasan dopamin secara cepat—senyawa kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan. Semakin sering seseorang mengonsumsi konten semacam ini, semakin besar kecenderungannya untuk mencari sensasi serupa—bukan karena kebutuhan informasi, melainkan karena dorongan fisiologis yang menyerupai efek candu. Peneliti dari University of California, Irvine dalam studi berjudul “The Cost of Interrupted Work: More Speed, More Stress” menemukan bahwa interupsi digital yang konstan, termasuk dari notifikasi dan konten cepat dapat membuat otak lebih sulit kembali ke fokus penuh. Penelitian Microsoft dalam Time.com (2015) menunjukkan bahwa rentang perhatian manusia telah menyusut drastis—dari rata-rata 12 detik pada tahun 2000 menjadi hanya delapan detik pada 2013—sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup berbasis layar dan konsumsi konten impulsif seperti media sosial dan notifikasi terus-menerus. Bahkan ketika seseorang tidak lagi aktif menonton, otaknya tetap mencari stimuli pengganti—semacam keresahan digital—yang mendorongnya untuk terus scroll tanpa arah. Dampaknya tidak selalu terlihat secara dramatis, tapi pelan-pelan mengikis. Konsumsi yang terus-menerus terhadap konten dangkal dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis, memperpendek rentang fokus, dan membentuk pola pikir reaktif ketimbang reflektif. Kita menjadi cepat bosan dengan informasi yang butuh pemrosesan, dan lebih tertarik pada sensasi instan yang menyenangkan tapi tidak membangun. Dilema Play–Pause: Hiburan Sehat atau Ketergantungan? Rentang antara hiburan sehat dan ketergantungan digital sangat tipis. Konten receh bisa menjadi pereda stres sesaat, membantu mengalihkan pikiran dari tekanan hidup yang terus datang bertubi-tubi. Namun ketika konsumsi semacam ini menjadi rutinitas otomatis—terjadi tanpa sadar, setiap kali stres datang, setiap kali jeda muncul di sela aktivitas—kita sesungguhnya sedang bergerak menuju zona abu-abu: bukan lagi sekadar pengguna, tapi terikat oleh pola. Zona ini berbahaya karena kerap tidak terasa. Menonton video lucu sebelum tidur, membuka TikTok sambil makan, atau scroll Instagram saat istirahat tampak seperti hal kecil yang wajar. Tapi ketika semua momen diam kita diisi oleh konsumsi konten—dan hanya itu—maka jeda bukan lagi momen reflektif, melainkan pelarian yang menumpuk.Alih-alih menghadapi stres, kita menekannya. Alih-alih mengolah emosi, kita menundanya dengan tawa sementara. Lama-lama, tubuh dan pikiran tidak lagi tahu cara istirahat tanpa hiburan eksternal. Dalam psikologi, pola seperti ini disebut sebagai compulsive coping—strategi bertahan hidup yang awalnya sehat, tapi menjadi maladaptif ketika dilakukan secara berlebihan. Sejumlah studi telah mencatat keterkaitan antara screen time berlebih dan peningkatan gejala kecemasan, kelelahan mental, hingga gangguan tidur, terutama pada kelompok usia muda. Rekomendasi untuk Membuka Ruang Jeda yang Lebih Sehat So, sobat Gen Z 1miliarsantri.net, apakah kalian akan terjebak dalam scrolling yang menjadi candu tanpa mampu memanajemennya dengan bijak, atau sejak dini mengatur pola dalam aktivitas scrolling sebagai bentuk hiburan semata tanpa meninggalkan efek ketergantungan.** Penulis : Ramadani Wahyu Foto ilustrasi AI Editor : Thamrin Humris

Read More

Belajar Ilmu Ikhlas Bagi Orang Awam

Bekasi – 1miliarsantri.net: Kata “ikhlas menggelitik penulis, selama ini kebanyakan manusia selalu mengandalkan kata ikhlas disetiap harinya, juga saat dalam keadaan putus asa. Terkadang begitu mudah mengatakan ikhlas, tapi sulit untuk dikerjakan. Bagi orang awam, kata “ikhlas” sering diartikan sebagai melakukan sesuatu dengan tulus, tanpa pamrih, atau tanpa mengharapkan balasan. Ikhlas berarti melakukan sesuatu karena niat yang murni, bukan karena ingin mendapatkan pujian, imbalan, atau pengakuan dari orang lain. Ikhlas Dalam Kehidupan Sehari-Hari Dalam kehidupan sehari-hari, ikhlas bisa berarti melakukan kebaikan kepada orang lain tanpa mengharapkan terima kasih atau balasan. Misalnya, membantu tetangga yang membutuhkan tanpa berharap mereka membalas bantuan itu. Ikhlas juga bisa berarti menerima keadaan dengan lapang dada, tanpa mengeluh atau merasa tidak puas. ‘Sleeping Prince Al Waleed’ Meninggal Dunia, Kisah Sabar dan Ikhlasnya Seorang Ayah Kurangnya ilmu agama atau memiliki ilmu agama yang mumpuni belum tentu mampu sepenuhnya untuk mempraktekan apa itu ikhlas. Jangankan orang awam yang sedikit ilmunya, para penjabat atau ulama terkadang belum mampu merefleksikan apa itu ikhlas. Terkadang orang awam jaman dahulu, sebutlah orang-orang tua terdahulu yang belum tentu memiliki ilmu agama bahkan tidak bisa mengaji, seperti kejawen, justru mereka mampu menerapkan apa itu konsep ikhlas dalam kehidupan kesehariannya, dengan pehaman yang amat sangat sederhana sekali dan mudah dicerna oleh masyarakat yang awam. Ikhlas Dan Tulus Ikhlas dan Tulus adalah dua kata yang berbeda yang maknanya hampir sama tapi beda kelasnya atau tingkatannya. Ikhlas menurut bahasa, kata “ikhlas” berasal dari bahasa arab berakar kata “kha-la-sha”, yang secara harfiah berarti bersih, murni, jernih. Secara istilah ikhlas diartikan sebagai niat yang murni semata-mata mengharapkan penerimaan dari Tuhan dalam melakukan suatu perbuatan, tanpa menyekutukan Tuhan dengan yang lain. Sementara itu menurut kamus Oxford languages , ikhlas berarti bersih hati , tulus hati, dan menurut bahasa Jawa ikhlas artinya tulus. Secara sederhana ikhlas artinya memurnikan niat hanya semata-mata mencari ridha Allah SWT, atau semata-mata menaati perintah-Nya, itulah beberapa definisi dari kata ikhlas. Badge Pahala : Bisakah Ibadah Di-Gamifikasi Tanpa Kehilangan Ikhlas Tingkatan Ikhlas Tiga tingkatan ikhlas menurut Syekh Nawawi al-Bantani adalah ikhlas karena Allah, ikhlas karena akhirat, dan ikhlas karena dunia: Pertama, Ikhlas Karena Allah: Tingkatan ini merupakan yang paling tinggi. Seseorang melakukan ibadah atau amal baik semata-mata karena mengharapkan ridha Allah, tanpa mengharapkan imbalan duniawi atau pahala akhirat. Kedua, Ikhlas karena Akhirat: Pada tingkatan ini, seseorang beribadah dengan harapan mendapatkan pahala di akhirat, seperti masuk surga dan terhindar dari siksa neraka. Ketiga, Ikhlas karena Dunia: Tingkatan terendah, di mana seseorang melakukan amal baik dengan tujuan mendapatkan manfaat duniawi, seperti kelancaran rezeki atau terhindar dari kesusahan.Dengan kata lain, tingkatan ikhlas ini menggambarkan bagaimana seseorang memfokuskan niat dan tujuannya dalam beribadah, dari yang hanya semata-mata karena Allah, hingga yang masih mengharapkan imbalan duniawi. Surat Al-Ikhlas Nah mungkin dari uraian diatas kita bisa mempelajarinya dari hal yang sederhana terlebih dahulu yaitu dari tingkat yang terendah, jika sudah terbiasa maka akan meningkat, namun dari sudut pandang penulis belajar ikhlas itu sangat sederhana, yaitu berpedoman pada surat Al-Ikhlas. Kenapa Surat Al-Ikhlas? Sebab, jika kita bisa dengan ikhlas mengakui Tuhan kita dan selalu percaya serta yakin apapun yg kita lakukan Tuhan kita akan tahu dan akan memberikan balasan, kemudian kita dengan ikhlas hanya bergantung pada Allah SWT saja Yang Maha Esa, Tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak berharap pada tuhan-tuhan yang lain apalagi pada manusia. Maka sudah pasti untuk mencapai ilmu ikhlas yg sesungguh akan mudah, sekali lagi, cukup kita terima dan pasrah pada Tuhan kita yang Esa dan tidak berharap pada siapapun, apalagi pada manusia. Terima bahwa Tuhan kita itu satu, Tuhan kita Shomad,Tuhan kita tahu akan semua perbuatan kita dan pastinya akan membalas segala perbuatan kita baik hal yang baik maupun yang buruk. Tuhan kita tidak beranak dan di peranakkan, dan Tuhan kita tidak ada bandingannya dengan semua makhluknya. Ikhlas Sebuah Pengakuan Cukup dengan pengakuan kita yang menerima dengan ikhlas isi kandungan surat Al-Ikhlas dan meyakini serta mempratekannya dalam keseharian kita maka pasti akan lebih mudah dan cepat kita mencapai tingkatan ilmu ikhlas tertinggi. Logikanya bagaimana kita akan ikhlas dalam menerima semua kehendak Allah atau berbuat dengan rasa ikhlas kalau kita sendiri tidak bisa ikhlas menerima Tuhan kita, tidak yakin dengan Tuhan kita, malah kita sibuk mencari pertolongan ke makhluk lain. Sibuk mencari pujian depan manusia, sibuk berharap pada selain Tuhan, itulah yg membuat kita tidak bisa mencapai derajat keikhlasan, itulah dalih yg mengatakan ikhlas cuma mudah di ucapkan tapi susah di amalkan. Kesimpulannya, untuk lebih mudah belajar ilmu ikhlas, cukup kita ikhlas menerima Tuhan kita yang semestinya, bukan cuma di mulut saja. Tapi dari hati, juga seluruh anggota tubuh harus menerimanya.** Penulis : Oom Komariah Foto : ilustrasi Editor : Thamrin Humris

Read More