Tarif AS 19% Bebani Ekspor RI, Buka Peluang Baru

Jakarta – 1miliarsantri.net : Mulai 7 Agustus 2025, Amerika Serikat resmi menerapkan tarif resiprokal 19 % atas produk asal Indonesia, menurunkan tarif sebelumnya dari 32 % berkat negosiasi diplomatik intensif, yang mana kebijakan tarif ini merupakan kelanjutan dari pola pola proteksionis Donald Trump sejak periode pertamanya pada 2018 lalu. Ekspor RI Tertekan, Peluang Terjaga Beberapa sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik diprediksi mengalami penurunan volume ekspor karena melemahnya daya saing harga. Menurut Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha Maghfiruha Rachbini, tarif tinggi akan langsung menekan volume ekspor RI, terutama di sektor tekstil, alas kaki, furnitur, elektronik, hingga produk pertanian seperti kelapa sawit dan karet. Studi DPR memperkirakan bahwa kenaikan 1 % tarif dapat menurunkan ekspor hingga 0,8 %, berisiko menyebabkan PHK di sektor padat karya dengan risiko PHK mencapai 191.000 pekerja di sektor tekstil dan 28.000 tenaga kerja di sektor kelapa sawit. Namun, dibandingkan tarif negara ASEAN seperti Thailand (36 %) dan Malaysia (25 %), tarif RI tetap lebih kompetitif dan harga RI juga lebih rendah dari pesaing seperti Vietnam atau Kamboja menjadikan alasan AS masih memilih produk kita. Tarif ini dapat menjadi pemicu inflasi di AS. Proyeksi Bloomberg Economics menunjukkan bahwa tarif 10-41 % secara umum bisa menggerus pertumbuhan AS hingga 1,8 % dan menaikkan inflasi inti sebesar 1,1 % dalam 2-3 tahun ke depan. Meski demikian, menurut Kontan, efek terhadap inflasi domestik AS diperkirakan minimal, tetapi tetap membutuhkan kewaspadaan agar tidak dimanfaatkan sebagai justifikasi inflasi lebih lanjut. Tarif ini bukan tanpa konsekuensi domestik. Studi menunjukkan bahwa kenaikan tarif AS secara umum memicu inflasi dan mengganggu stabilitas harga ritel mereka. Bahkan, kebijakan proteksionis ini bisa mendorong konsumen AS mengambil langkah penghematan, menunda pembelian impor, serta mengurangi konsumsi barang ekspor RI. Ekonom UGM, Muhammad Edhie Purnawan, menyatakan: “Tarif ini memang mengancam ekspor, tetapi juga membuka peluang: pangsa pasar RI kemungkinan tetap hinggap AS karena tarif kita lebih rendah daripada pesaing utama.” ujarnya Indonesia perlu merespons dengan diplomasi ekonomi, diversifikasi pasar, serta memperkuat iklim investasi dan kebijakan domestik. Lebih lanjut, DPR mencatat bahwa kebijakan ini menjadi pemicu penting bagi percepatan diversifikasi pasar hingga menuju UE, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Sementara itu, Kemenkeu menyebut risiko tekanan ekonomi bisa menurunkan pertumbuhan nasional 0,3–0,5 poin persentase. Dalam wawancara Tempo, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, memberikan sudut pandang kritis: “Teori tarif Trump tak ada di buku ekonomi” yang mana mengindikasikan bahwa efek kebijakan ini sering kali tidak sesuai harapan: ekspor mungkin tetap bertahan jika kualitas dan hubungan perdagangan RI solid.

Read More

Ekonomi Hijau dan UMKM: Sinergi Baru untuk Pembangunan Berkelanjutan

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan, ekonomi hijau semakin menjadi fokus utama di berbagai sektor. Di sisi lain, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, menghadapi tantangan sekaligus peluang baru untuk bertransformasi. Sinergi antara prinsip ekonomi hijau dan potensi UMKM bukan hanya dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tetapi juga mendorong terciptanya model bisnis yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berdaya saing global. Isu ekonomi hijau semakin menjadi fokus utama dalam perencanaan pembangunan nasional. Indonesia yang tengah menghadapi tantangan perubahan iklim dan transisi energi, melihat ini sebagai peluang besar. Pemerintah Indonesia bersama berbagai pemangku kepentingan mendorong langkah konkret agar UMKM tidak tertinggal dalam arus transformasi ini. Mulai dari akses pembiayaan hijau, pelatihan teknologi ramah lingkungan, hingga integrasi dalam rantai pasok industri hijau menjadi strategi yang tengah dijalankan. UMKM sebagai Tulang Punggung Ekonomi Nasional UMKM selama ini dikenal sebagai pilar utama ekonomi Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan lebih dari 65 juta unit UMKM tersebar di seluruh nusantara dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga tidak kecil, mencapai lebih dari 60%. Namun, di tengah dominasi besar tersebut, UMKM menghadapi tantangan serius: keterbatasan akses teknologi, modal, dan pasar. Di sisi lain, tuntutan global untuk menerapkan prinsip ramah lingkungan semakin kuat. Pasar internasional, terutama Eropa dan Amerika, mulai menerapkan standar keberlanjutan yang ketat. Produk tanpa jejak karbon rendah atau tanpa praktik ramah lingkungan perlahan terpinggirkan. Dalam konteks inilah, transformasi ekonomi hijau menjadi kebutuhan mendesak. UMKM tidak bisa lagi sekadar memproduksi dengan cara lama. Mereka harus menyesuaikan diri agar tetap kompetitif dan bisa masuk dalam rantai pasok global. Langkah awal yang kini banyak dilakukan adalah edukasi dan literasi mengenai pentingnya produksi berkelanjutan. Misalnya, UMKM di sektor fesyen mulai beralih menggunakan bahan ramah lingkungan, seperti serat bambu atau kain daur ulang. UMKM makanan dan minuman juga mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, beralih ke kemasan biodegradable, dan menerapkan sistem produksi hemat energi. Dukungan Pemerintah dalam Akselerasi Ekonomi Hijau Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dalam menghadapi perubahan besar ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa kali menegaskan pentingnya transisi hijau dalam pembangunan ekonomi nasional. Berbagai instrumen kebijakan keuangan diarahkan untuk mendukung pembiayaan hijau, termasuk bagi UMKM. Salah satu program yang digencarkan adalah green financing, di mana lembaga keuangan diberikan stimulus untuk menyalurkan kredit kepada pelaku usaha yang mengembangkan produk dan layanan ramah lingkungan. Misalnya, UMKM yang beralih menggunakan energi terbarukan, mendaur ulang limbah, atau menciptakan produk rendah emisi karbon bisa mendapatkan insentif khusus. Selain itu, pemerintah juga menjalin kerja sama dengan lembaga internasional, seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB), untuk memperluas dukungan pendanaan transisi hijau. Program pendampingan teknis juga disiapkan agar UMKM tidak hanya mendapatkan modal, tetapi juga pengetahuan dalam mengembangkan produk hijau yang berstandar global.

Read More

Pulau Galang Jadi Fasilitas Medis Korban Gaza

Batam – 1miliarsantri.net : Pemerintah Indonesia resmi menyiapkan Pulau Galang, Kepulauan Riau, sebagai fasilitas medis sementara untuk menampung dan merawat hingga 2.000 warga Gaza yang mengalami luka akibat konflik bersenjata berkepanjangan di Palestina. Langkah ini diumumkan langsung oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI dan mendapat dukungan penuh dari sejumlah kementerian teknis terkait. Program ini menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam menjalankan mandat konstitusi untuk berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia, sekaligus memberikan bantuan nyata kepada korban krisis kemanusiaan. Pulau Galang bukanlah nama baru dalam sejarah penanganan pengungsi internasional. Pada dekade 1980-an hingga awal 1990-an, pulau ini pernah menjadi pusat penampungan ribuan pengungsi Vietnam yang dikenal sebagai “boat people”, di bawah pengelolaan bersama pemerintah Indonesia dan UNHCR. Kini, dalam konteks yang berbeda, Galang kembali muncul sebagai simbol solidaritas dan empati lintas negara. Rencana Pemerintah: Rehabilitasi dan Fasilitas Medis Darurat Rencana besar pemerintah meliputi rehabilitasi bangunan lama bekas kamp pengungsi yang masih berdiri hingga kini, serta pembangunan fasilitas kesehatan darurat yang modern. Nantinya akan disiapkan rumah sakit lapangan lengkap dengan ruang operasi, peralatan medis canggih, tenaga kesehatan gabungan, dan dukungan logistik. Juru Bicara Kemenlu RI, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan bahwa misi ini sepenuhnya bersifat kemanusiaan tanpa agenda politik tersembunyi. “Kita menjalankan misi kemanusiaan sesuai mandat konstitusi dan prinsip perdamaian. Tidak ada agenda politik dalam program ini,” ujarnya. Koordinasi sedang dilakukan secara intensif dengan otoritas kesehatan Palestina, UNRWA, serta sejumlah organisasi kemanusiaan internasional untuk memastikan proses pemindahan pasien terluka dapat dilakukan dengan aman dan terencana. Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan tanggal pasti kedatangan gelombang pertama korban luka Gaza ke Indonesia. Sorotan Publik dan Tantangan Teknis di Lapangan Walaupun banyak pihak memuji langkah ini sebagai bentuk dukungan nyata Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina, rencana tersebut juga memunculkan sorotan dan kritik publik. Di media sosial, muncul pertanyaan seputar kesiapan Pulau Galang dalam menangani ribuan pasien dengan kebutuhan medis kompleks. Isu yang banyak dibicarakan mencakup aspek keamanan, sanitasi, serta ketersediaan logistik di wilayah yang relatif terpencil tersebut. Kekhawatiran lain adalah munculnya persepsi keliru bahwa Indonesia akan membuka ruang relokasi permanen bagi warga Gaza. Hal ini mengingat beberapa waktu lalu sempat beredar kabar tak berdasar di dunia maya mengenai “pemindahan” warga Palestina ke kawasan Asia Tenggara. Menanggapi hal tersebut, Direktur Timur Tengah Kemenlu RI, Bagus Hendraning Kobarsyih, memberikan klarifikasi tegas. “Pulau Galang adalah titik bantuan medis sementara. Tidak ada rencana jangka panjang yang mengarah pada relokasi. Ini bukan kamp pengungsian dalam pengertian migrasi,” tegasnya dalam wawancara dengan Reuters. Dari sisi akademis, Dr. Ahmad Nuruzzaman, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, menilai kebijakan ini sebagai bentuk diplomasi kemanusiaan yang cerdas. “Indonesia mampu menunjukkan sikap politik luar negeri secara konkret tanpa terlibat dalam dinamika militer, sekaligus memperkuat citra sebagai negara yang vokal namun konstruktif,” jelasnya dalam forum diskusi LIPI. Dukungan Lokal dan Persiapan Infrastruktur

Read More

Cadangan Devisa Turun, BI Siapkan Strategi Stabilisasi Rupiah

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Bank Indonesia (BI) melaporkan penurunan cadangan devisa pada awal Agustus 2025. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai ketahanan ekonomi nasional di tengah guncangan eksternal. Meski cadangan devisa turun kerap dipandang sebagai sinyal pelemahan, BI menegaskan pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah dan memperkuat daya tahan perekonomian. Cadangan devisa merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kesehatan finansial sebuah negara. Turunnya angka cadangan devisa tentu menimbulkan kekhawatiran, apalagi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Namun, langkah cepat dan kebijakan preventif BI dinilai mampu menjadi penyangga agar rupiah tetap terjaga dan tidak mengalami pelemahan yang signifikan. Dampak Tekanan Global terhadap Cadangan Devisa Turun Penurunan cadangan devisa Indonesia pada periode terakhir tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Penguatan dolar AS yang berlanjut, ditambah dengan ketegangan geopolitik di beberapa kawasan, membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar. Selain itu, permintaan dolar AS untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta korporasi turut memberikan tekanan tambahan. Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury) juga membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, sehingga memperberat tekanan terhadap cadangan devisa. Dari catatan BI, turunnya cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, posisi cadangan devisa saat ini masih berada di atas standar kecukupan internasional, setara dengan beberapa bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Para ekonom menilai, situasi penurunan cadangan devisa ini tidak serta merta menunjukkan krisis, melainkan sebagai bagian dari dinamika siklus ekonomi. Namun, tanpa strategi yang tepat, kondisi ini bisa menimbulkan sentimen negatif yang berpengaruh pada psikologis pasar dan masyarakat. Strategi Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah Bank Indonesia menyatakan siap mengambil langkah-langkah preventif untuk menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI menegaskan, kebijakan intervensi di pasar valas akan tetap dilanjutkan, baik melalui mekanisme spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. Selain itu, BI juga berkomitmen memperkuat kerja sama dengan lembaga internasional untuk memperbesar akses likuiditas valas. Langkah ini penting untuk memastikan ketersediaan cadangan devisa tetap mencukupi, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Kebijakan moneter yang lebih hati-hati juga akan ditempuh, termasuk pengendalian inflasi agar tidak semakin menekan nilai tukar. BI memastikan koordinasi dengan pemerintah tetap diperkuat, terutama dalam menjaga stabilitas harga pangan serta mendorong ekspor yang berkelanjutan.

Read More

Kopi Spesialti dan Industri Minuman Lokal yang Tumbuh Jadi Gaya Hidup

Malang – 1miliarsantri.net: Setiap pagi, Fulan selalu menyempatkan diri mampir ke sebuah kafe kecil dekat kosnya di Malang. Ia menyebutnya sebagai ritual KoPag (kopi pagi), yang bukan hanya untuk membuka mata, melainkan juga menjadi penanda hari dimulai dengan rasa akrab. Di kafe itu, ia mendapatkan lebih dari sekadar kopi spesialti, atmosfer hangat, obrolan ringan, dan identitas komunitas yang melekat kuat. Fenomena KoPag semacam ini kini menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup Gen Z, terutama di kota-kota yang sedang tumbuh sebagai pusat budaya baru, salah satunya Malang. Jika dulu minum kopi identik dengan generasi lebih tua yang menikmati kopi tubruk di warung sederhana, atau pelanggan tetap di gerai besar seperti Starbucks, kini tren tersebut berubah. Industri minuman lokal tumbuh jadi gaya hidup. Gen Z justru menghidupkan kembali semangat lokal dengan mendatangi kafe-kafe kecil, personal, dan dekat dengan komunitas. Bagi mereka, kopi spesialti bukan sekadar minuman, melainkan simbol identitas dan sikap. Tak heran jika nama besar seperti Starbucks mulai dijauhi, bahkan muncul kecenderungan boikot di kalangan anak muda yang ingin menunjukkan keberpihakan pada produk lokal. Malang sebagai Pusat Baru Kopi Spesialti Kota Malang kini perlahan membentuk reputasi sebagai salah satu pusat kopi spesialti di Indonesia. Ekosistemnya unik: kota mahasiswa dengan harga relatif terjangkau, komunitas kreatif yang berkembang pesat, serta atmosfer yang mendorong lahirnya kafe-kafe baru. Barista muda bermunculan dari kafe kecil, banyak di antaranya belajar otodidak atau bermodalkan semangat. Mereka membuktikan bahwa untuk menjadi barista andal tidak harus berasal dari sekolah perhotelan atau magang ke luar negeri. Fenomena ini mengingatkan pada kutipan dari film Ratatouille: “Semua orang bisa memasak.” Dalam dunia kopi, filosofi itu berubah menjadi: “Semua orang bisa bikin kopi.” Artinya, siapa pun bisa menjadi bagian dari ekosistem kopi spesialti, baik sebagai barista, pemilik kafe, maupun konsumen yang kritis terhadap rasa. Fulan dan Fulanah hanyalah contoh kecil. Dari pelanggan, mereka kemudian tertarik meracik sendiri kopi di rumah. Mulai dari membeli dripper murah, bereksperimen dengan biji lokal, hingga mengikuti workshop singkat. Beberapa bahkan kemudian bekerja paruh waktu di kafe, menciptakan lingkaran hidup baru di mana penikmat berubah menjadi pembuat, lalu kembali lagi sebagai bagian dari kultur yang terus berputar. Industri kopi lokal pun makin tersegmentasi. Ada kafe skena dengan musik indie dan suasana temaram, kafe cutesy dengan estetika pastel untuk nongkrong sekaligus berfoto, hingga kopitiam bernuansa nostalgia dengan menu sederhana namun autentik. Semuanya berdampingan, saling melengkapi, dan memperluas pilihan konsumen. Tren Kopi Spesialti sebagai Identitas Gen Z

Read More

BRI Super League: 6 Tim Belum Terkalahkan, Borneo FC di Puncak Klasemen

Foto : Borneo FC saat membungkam Persijap diSegiri (Dok : ileague.id) Jakarta – 1miliarsantri.net: BRI Super League memasuki pekan ketiga, enam tim berhasil menjaga catatan gemilang tanpa satu pun kekalahan. Fenomena ini membuat atmosfer kompetisi terasa semakin menegangkan, terutama karena ada tim promosi seperti PSIM Yogyakarta yang mampu mencuri perhatian. Fakta ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya, siapa saja tim yang masih kokoh berdiri tanpa kekalahan? Bagaimana peluang mereka ke depan di BRI Super League 2025/26? Mari kita bahas bersama-sama melalui artikel ini. 1. Borneo FC Samarinda Jika membicarakan BRI Super League 2025/26, kamu tak bisa melewatkan nama Borneo FC Samarinda. Mereka menjadi satu-satunya tim yang sukses menyapu bersih tiga kemenangan di laga awal musim ini. Dari Bhayangkara Presisi Lampung FC, PSBS Biak, hingga Persijap Jepara, semua mampu ditaklukkan. Konsistensi lini belakang yang solid berpadu dengan serangan yang efisien membuat Borneo FC layak disebut sebagai kandidat juara musim ini. Tak hanya soal hasil, catatan positif ini juga memperpanjang tren apik mereka sejak musim lalu. Jika dihitung secara keseluruhan, Borneo FC belum tersentuh kekalahan dalam 11 laga terakhir di kompetisi resmi. Tentu saja, performa seperti ini membuat para pendukung mereka semakin optimis bahwa BRI Super League 2025/26 bisa menjadi musim emas untuk klub kebanggaan Samarinda tersebut. 2. Persija Jakarta Nama Persija Jakarta memang selalu identik dengan persaingan juara. Di BRI Super League 2025/26, mereka kembali membuktikan diri sebagai salah satu tim yang pantang menyerah. Dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang, Persija kini duduk manis di posisi kedua klasemen sementara. Lebih dari itu, Persija juga mencatatkan diri sebagai tim paling produktif sejauh ini dengan torehan delapan gol. Lini serang yang tajam ditopang oleh pertahanan kokoh membuat Macan Kemayoran tampil seimbang di semua lini. Kamu yang mengikuti perjalanan Persija pasti bisa merasakan semangat tinggi mereka untuk kembali meraih trofi. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Persija akan menjadi pesaing utama Borneo FC dalam perburuan gelar BRI Super League 2025/26. 3. Arema FC Arema FC juga tak mau ketinggalan dalam daftar tim yang belum terkalahkan di BRI Super League 2025/26. Tim berjuluk Singo Edan ini menunjukkan permainan yang stabil dengan catatan dua kemenangan dan satu kali imbang. Meski lini belakang mereka sudah kebobolan tiga gol, Arema tetap menunjukkan karakter sebagai tim besar yang sulit ditumbangkan. Kamu yang menyaksikan permainan Arema pasti bisa melihat bagaimana mereka mengandalkan kombinasi pengalaman dan talenta muda. Dengan semangat tempur yang selalu menyala, Arema masih menjadi tim yang sangat diperhitungkan. Ke depan, mereka harus memperbaiki sedikit masalah di lini belakang agar bisa menjaga konsistensi sepanjang musim. 4. Malut United

Read More

Investasi Gen Z: Dari Saham hingga Aset Digital yang Jadi Identitas Baru

Surabaya – 1miliarsantri.net: Generasi Z hadir dengan cara pandang baru dalam mengelola uang. Jika dulu investasi identik dengan sesuatu yang rumit, eksklusif, dan hanya bisa diakses kalangan tertentu, kini justru menjadikan investasi Gen Z bagian dari gaya hidup. Dari saham, reksa dana, hingga aset digital seperti kripto dan NFT, pilihan instrumen investasi bukan sekadar soal mencari keuntungan, tetapi juga menjadi medium untuk menunjukkan identitas, nilai, dan aspirasi mereka. Di layar ponsel anak muda kota besar hari ini, bukan hal aneh jika aplikasi yang paling sering dibuka bukan lagi sekadar Instagram atau TikTok. Sebaliknya, nama-nama seperti Bibit, Stockbit, hingga aplikasi exchange kripto semakin menempati ruang utama. Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital yang membuat informasi soal investasi jauh lebih mudah diakses dibanding generasi sebelumnya. Jika dahulu belajar saham identik dengan seminar berbiaya tinggi atau membaca koran bisnis, kini cukup sekali klik tersedia analisis, grafik, hingga rekomendasi produk investasi yang telah dipersonalisasi. Fenomena ini menjadi penanda pergeseran cara generasi muda memandang uang. Bagi banyak anak Gen Z, investasi bukan lagi sekadar aktivitas orang kaya atau kalangan profesional finansial. Aktivitas ini kini menjelma sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, bahkan tak jarang dijadikan simbol status baru. Jika teman sebaya sudah rutin menyetor dana ke reksa dana pasar uang atau membeli saham bank digital, maka ada rasa tertinggal jika tidak ikut mencoba. Saham, Reksa Dana, hingga Kripto Jadi Pilihan Investasi Gen Z Populer Platform investasi digital seperti Bibit dan Stockbit memainkan peran besar dalam membentuk tren ini. Bibit, misalnya, hadir dengan tagline “Memudahkanmu Berinvestasi” melalui algoritma yang menyesuaikan rekomendasi produk dengan profil risiko pengguna. Sementara itu, Stockbit menggabungkan pasar saham dengan media sosial, memungkinkan penggunanya berdiskusi, berbagi rekomendasi, hingga membentuk komunitas investor muda yang aktif. Ekosistem digital inilah yang membuat investasi terasa lebih inklusif, tidak lagi berjarak, serta mampu menghilangkan kesan eksklusif yang sebelumnya melekat. Selain saham dan reksa dana, aset digital seperti kripto juga menjadi pintu masuk utama investasi bagi Gen Z. Meski tren NFT sempat meredup, kripto tetap bertahan sebagai instrumen dengan daya tarik tinggi. Volatilitas ekstrem, harga yang bisa melonjak tajam dalam semalam lalu anjlok keesokan harinya, menciptakan sensasi tersendiri. Bagi sebagian anak muda, risiko besar justru menjadi adrenalin tambahan, seolah-olah sedang bermain gim dengan uang nyata. Namun tidak semua yang masuk ke dunia ini benar-benar memahami risikonya. Di media sosial, konten tentang kripto atau forex kerap dikemas glamor dengan narasi “cepat kaya”. Padahal, peluang kerugian tak kalah besar dari potensi keuntungan. Tak sedikit cerita anak muda kehilangan tabungan hanya karena ikut-ikutan tanpa analisis mendalam. Fenomena ini mencerminkan paradoks investasi di era digital: informasi melimpah, tetapi kemampuan menyaring informasi kredibel masih menjadi tantangan besar. Identitas Digital dan Dinamika Sosial Baru Investasi kini bukan hanya soal angka atau keuntungan, melainkan juga menjadi bagian dari identitas digital generasi muda. Di X (dulunya Twitter) atau Instagram, portofolio saham kerap dipamerkan, hasil keuntungan dibagikan, dan diskusi seputar pilihan investasi berlangsung terbuka. Aktivitas ini melahirkan dinamika baru, di mana investasi tidak sekadar memiliki nilai ekonomi, melainkan juga fungsi sosial: medium eksistensi dan personal branding.

Read More

Rekap Pertandingan BRI Super League: Banyak Kejutan Terjadi dan Persija Tergeser dari Puncak Klasemen Turun ke Posisi 2

Liga Indonesia Pekan Ketiga Diwarnai Kejutan 6 dari 18 Tim Tak Terkalahkan Jakarta – 1miliarsantri.net: Pekan ketiga Liga Super Indonesia telah berlangsung dan melahirkan banyak kejutan. Kompetisi kast tertinggi sepak bola Indonesia dikenal dengan “BRI Super League menyajikan pertandingan yang menarik dan kompetitif. Persaingan ketat antar klub membuat atmosfer pertandingan semakin panas dan sulit ditebak, penonton dag-dig-dug menyaksikan pertandinga. Bahkan, Persija Jakarta yang sempat memimpin klasemen sementara dengan performa luar biasa harus rela turun ke posisi dua setelah disalip Borneo FC Samarinda. Tim dari Kalimantan ini tampil gemilang dan menyapu bersih tiga laga awal BRI Super League. Fenomena ini membuat banyak penggemar semakin penasaran dengan perjalanan panjang Indonesia Super League musim 2025–2026 yang baru dimulai. Dinamika Persaingan di Indonesia Super League Setiap musim, Liga Indonesia “Indonesia Super League” selalu menyuguhkan cerita berbeda. Klub-klub besar dengan tradisi juara tidak pernah bisa merasa aman karena tim kuda hitam terus bermunculan dan memberi perlawanan sengit. Musim 2025–2026 ini bisa menjadi salah satu yang paling menarik karena sejak awal sudah terlihat ketatnya persaingan di papan atas BRI Super League. Borneo FC Samarinda menjadi sorotan utama setelah berhasil mengamankan posisi pertama klasemen sementara dengan catatan sempurna. Tiga kemenangan beruntun membuat mereka mengoleksi sembilan poin penuh. Tidak hanya menang, permainan yang ditampilkan juga cukup solid, dengan mencetak lima gol dan hanya kebobolan satu. Performa ini menjadikan mereka kandidat serius dalam perebutan gelar juara Indonesia Super League. Di sisi lain, Persija Jakarta juga menunjukkan permainan impresif. Klub berjuluk Macan Kemayoran ini mengoleksi tujuh poin dari tiga pertandingan, hasil dari dua kemenangan dan satu kali seri. Dengan catatan delapan gol dan hanya kebobolan satu, Persija membuktikan diri sebagai salah satu tim dengan lini depan dan lini belakang yang seimbang. Namun, meskipun start mereka cukup gemilang, hasil imbang di pekan ketiga membuat posisi puncak harus direlakan kepada Borneo FC. Tidak kalah menarik, Arema FC juga ikut meramaikan papan atas dengan catatan serupa seperti Persija. Klub asal Malang ini mampu mengoleksi tujuh poin dengan selisih gol yang sedikit berbeda. Hal ini semakin menegaskan bahwa Indonesia Super League musim ini benar-benar dipenuhi kejutan sejak awal. Persija Jakarta Dari Puncak Klasemen ke Posisi Dua Perjalanan Persija Jakarta di Indonesia Super League musim ini bisa dibilang cukup fenomenal. Setelah tampil meyakinkan di dua pertandingan awal, Macan Kemayoran langsung merebut posisi puncak klasemen. Dukungan penuh dari The Jakmania yang selalu setia mendampingi, baik di kandang maupun tandang, menjadi energi tambahan bagi tim ibu kota ini. Namun, kejutan datang di pekan ketiga. Pertandingan yang seharusnya bisa dimenangkan justru berakhir dengan hasil imbang. Alhasil, poin Persija tertahan di angka tujuh, dan Borneo FC yang berhasil menyapu bersih tiga pertandingan langsung melesat ke posisi pertama. Walaupun turun ke peringkat dua, performa Persija tetap menuai banyak pujian. Kekuatan lini serang mereka yang mampu mencetak delapan gol dari tiga laga membuktikan efektivitas strategi yang diterapkan pelatih. Penurunan posisi ini tidak berarti buruk bagi Persija. Justru, hal ini bisa menjadi motivasi tambahan untuk bangkit dan kembali merebut puncak klasemen. Persaingan yang masih panjang memberi kesempatan besar bagi Macan Kemayoran untuk menegaskan dominasi mereka di Indonesia Super League.

Read More

Pemerintah Lanjutkan Efisiensi Anggaran Belanja Negara di 2026, Kebijakan Berisiko?

Tegal – 1miliarsantri : Pemerintah memastikan lanjutkan kebijakan efisiensi belanja anggaran akan kembali diberlakukan pada tahun 2026. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menerbitkan aturan baru yang mengatur penghematan belanja negara, mulai dari pembelian alat tulis kantor, pelaksanaan acara seremonial, hingga biaya perjalanan dinas. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 56 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pelaksanaan Efisiensi Belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang resmi berlaku sejak 5 Agustus 2025. Aturan tersebut bertujuan memastikan penggunaan APBN berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran. Dalam beleid itu disebutkan, “Perlu mengambil langkah-langkah pelaksanaan efisiensi belanja negara dalam APBN dengan tetap memperhatikan prioritas penganggaran berdasarkan arahan presiden.” Fokus Efisiensi: Belanja Barang hingga Transfer ke Daerah Berdasarkan Pasal 2 ayat (1), efisiensi dilakukan untuk menjaga keberlanjutan fiskal sekaligus mendukung program prioritas pemerintah. Langkah ini mencakup efisiensi anggaran belanja kementerian/lembaga (K/L) dan penghematan transfer ke daerah (TKD). Pasal 2 ayat (3) menyebutkan bahwa hasil efisiensi “utamanya digunakan untuk kegiatan prioritas presiden yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.” Sri Mulyani diberi kewenangan menetapkan besaran penghematan untuk tiap K/L, sesuai kebijakan yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto. Besaran efisiensi ditentukan berdasarkan persentase dari total belanja pada masing-masing jenis, seperti belanja barang, belanja modal, hingga kategori lain sesuai arahan presiden. Adapun sejumlah item belanja yang masuk dalam daftar efisiensi antara lain: Pasal 5 ayat (1) menegaskan, bila target efisiensi tak tercapai, K/L bisa menyesuaikan jenis belanja, asalkan efisiensi tetap terpenuhi dan belanja pegawai, operasional kantor, fungsi dasar, serta pelayanan publik tidak terganggu. Pemerintah juga memberi perlindungan terhadap pegawai non-ASN yang masih aktif, kecuali kontraknya habis atau tidak diperpanjang. K/L juga diwajibkan menyampaikan rencana efisiensi belanja kepada DPR jika dipersyaratkan oleh ketentuan peraturan. Pembukaan Blokir Anggaran PMK ini turut mengatur mekanisme pembukaan blokir dari hasil efisiensi APBN. Pembukaan blokir bisa diajukan oleh menteri atau pimpinan lembaga, setelah mendapat arahan dari presiden. Dana yang diblokir dapat digunakan kembali untuk: Sri Mulyani berwenang memberikan arahan pembukaan blokir kepada Dirjen Anggaran Kemenkeu, dengan acuan arahan presiden. Sementara untuk TKD, Bab IV PMK Nomor 56 Tahun 2025 mengatur lima sektor yang wajib dihemat mulai 2026: Dana hasil efisiensi TKD akan dicadangkan dan tidak langsung disalurkan, kecuali ada instruksi dari presiden. Lanjutan dari Efisiensi 2025

Read More

Konsep Ekonomi Berbagi dan Solusi Masa Depan Kepemilikan di Perkotaan

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di kota-kota besar, ruang semakin sempit dan biaya hidup kian tinggi. Harga rumah terus melambung, kendaraan pribadi memicu kemacetan, sementara kepemilikan barang-barang tertentu sering kali tidak lagi sebanding dengan beban biaya yang harus ditanggung. Dalam situasi ini, lahirlah sebuah konsep yang perlahan mengubah cara pandang dan jadi solusi masa depan masyarakat terhadap kepemilikan: ekonomi berbagi. Konsep ini awalnya mudah dikenali melalui layanan transportasi daring atau penyewaan sepeda dan skuter listrik. Namun cakupannya jauh lebih luas: berbagi ruang kerja bersama, berbagi hunian sementara, hingga berbagi barang rumah tangga sederhana. Semua ini tumbuh sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan hidup urban yang menuntut efisiensi. Dari Kepemilikan ke Akses: Gaya Hidup Baru Kaum Urban Ambil contoh Fulan, seorang pekerja di Jakarta. Tinggal di apartemen mungil tak jauh dari kantornya, ia dulu merasa harus memiliki motor pribadi demi mobilitas lancar. Namun setelah menghitung cicilan, bensin, parkir, dan biaya perawatan, ia sadar biaya itu lebih tinggi dibanding ongkos transportasi daring. Perlahan, ia memilih “akses” ketimbang “kepemilikan penuh”. Fenomena serupa terlihat pada hunian. Fulanah, seorang desainer grafis, memutuskan tinggal di co-living, ruang tinggal bersama dengan kamar privat kecil, tetapi dilengkapi fasilitas dapur dan ruang kerja komunal. Biayanya lebih terjangkau dan fasilitasnya lebih lengkap daripada jika ia harus menanggung semua sendirian. Dari sini terlihat, rumah bukan lagi sekadar aset pribadi, melainkan ruang hidup yang bisa dibagi sesuai kebutuhan. Pergeseran pola ini mencerminkan nilai baru di kota besar. Generasi muda semakin terbiasa dengan konsep berbagi karena lebih realistis secara finansial. Akses terhadap barang atau jasa kini lebih dihargai daripada kepemilikan itu sendiri. Dimensi Sosial dan Tantangan Ekonomi Berbagi Di balik efisiensi, ekonomi berbagi juga menumbuhkan lapisan sosial baru. Ruang kerja bersama menciptakan interaksi dan pertukaran ide antar pengguna, penghuni co-living sering kali saling menolong, bahkan penyewa sepeda listrik merasa menjadi bagian dari komunitas tertentu. Dengan cara ini, ekonomi berbagi bukan hanya soal menghemat biaya, tetapi juga membangun kebersamaan di tengah kota yang cenderung individualis. Namun, praktiknya tidak selalu seindah yang dibayangkan. Banyak tantangan yang muncul, mulai dari regulasi hingga keamanan. Misalnya, rumah-rumah yang dialihfungsikan menjadi homestay daring dalam jumlah besar dapat mendorong kenaikan harga sewa lokal. Di sisi lain, pekerja transportasi daring kerap terjebak dalam tarik ulur status: apakah mereka pekerja bebas atau karyawan tetap dengan hak penuh?

Read More