Sragen – 1miliarsantri.net : Joko Tingkir merupakan tokoh yang sangat dikenal di masyarakat. Bahkan, peninggalannya di Desa Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang dikenal dengan Punden Tingkir, selalu ramai dikunjungi masyarakat. Joko Tingkir merupakan sosok yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan hingga melegenda di tanah Jawa. Kisah-kisah tentang Joko Tingkir, yang berkembang di tengah masyarakat, tidak pernah lepas dari pusaka berupa ikat pinggang atau timang yang memiliki nama Kiai Bajulgiling. Pusaka sakti Kiai Bajulgiling tersebut, didapatkan Joko Tingkir dari gurunya, Ki Buyut Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro. Banyak dikisahkan, pusaka sakti timang Kiai Bajulgiling itu, dibuat oleh Ki Buyut Banyubiru dari biji baja murni yang diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi dan kulit buaya. Dengan kekuatan gaibnya, bijih baja murni itu oleh Ki Banyubiru dibuat menjadi pusaka. Berdasarkan Babad Jawi dan Babad Pengging, kekuatan gaib yang dimiliki timang Kiai Bajulgiling ialah, barang siapa yang memakai ikat pinggang Kiai Bajulgiling ini, maka dia akan kebal dari segala macam senjata tajam dan ditakuti semua binatang buas. Hal ini selain kekuatan alami yang dimiliki oleh inti biji baja murni itu sendiri, juga karena adanya kekuatan rajah berkekuatan gaib yang diguratkan Ki Banyubiru di seputar timang berkulit buaya tersebut. Kekuatan dan keampuhan ikat pinggang Kiai Bajulgiling beberapa kali dialami dan dibuktikan sendiri oleh Joko Tingkir. Sebelum berguru ke Ki Banyubiru, Joko Tingkir atau Mas Karebet ini, pernah juga berguru ke Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela. Setelah berguru kepada Ageng Sela, dan Sunan Kalijaga, Joko Tingkir lalu disuruh untuk mengabdi ke Keraton Demak Bintoro. Di Kesultanan Demak ini Joko Tingkir melamar sebagai pengawal pribadi. Keberhasilannya meloncati kolam masjid dengan lompatan ke belakang tanpa sengaja, karena sekonyong-konyong Joko Tingkir harus menghindari Sultan dan para pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai pengawal. Joko Tingkir juga dikenal pandai menarik simpati Raja Demak Trenggono, sehingga dia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat Lurah Wiratamtama. Beberapa waktu kemudian, Joko Tingkir ditugaskan menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Ketika dihadapan Joko Tingkir, Dadungawuk tidak ingin diseleksi seperti yang lain, namun malah ingin menjajal kesaktian dari Joko Tingkir. Karena merasa diremehkan, Joko Tingkir sakit hati dan tidak bisa menahan emosinya sehingga Dadungawuk ditusuk dengan Sadak Kinang (tusuk konde) yang menembus jantungnya. Akibatnya, Joko Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak karena konon Dadungdawuk juga merupakan kerabat Kesultanan Demak. Kepergian Joko Tingkir menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya. Dengan rasa putus asa Joko Tingkir pulang kembali dan ingin mati saja. Dua orang pertapa, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang (suami dari putri Bondan Kejawen atau adik Ki Ageng Getas Pendawa, kakek buyut Panempahan Senopati) memberinya semangat. Ketika Joko Tingkir berziarah pada malam hari di makam ayahnya di Pengging. Di sana Joko Tingkir mendengar suara atau wangsit yang menyuruhnya pergi ke tokoh keramat lain, yaitu Ki Buyut dari Banyubiru. Lalu Mas Karebet atau Joko Tingkir pergi menemui Ki Buyut Banyubiru. Ki Banyubiru yang telah mengetahui maksud kedatangan Joko Tingkir, langsung menerimanya sebagai murid. Oleh guru yang sakti ini, Joko Tingkir diberikan pelajaran-pelajaran ilmu kedigjayaan di Gunung Lawu. Salah satunya adalah dengan merendam diri dalam sungai yang dingin, dengan tujuan dapat mengendalikan hawa nafsu dalam diri Joko Tingkir. Setelah beberapa bulan lamanya Joko Tingkir menimba ilmu, Ki Buyut Banyubiru sudah memperbolehkan Joko Tingkir untuk menemui Sultan Demak guna memohon pengampunan atas kesalahan yang pernah dilakukannya yaitu membunuh Dadungawuk. Sebelum berangkat ke Demak Ki Buyut Banyubiru memberikannya azimat Timang Kiai Bajulgiling. Perjalanan kembali Joko Tingkir ke Demak dilakukan dengan getek, yakni rakit yang hanya terdiri dari susunan beberapa batang bambu. Saat akan melewati Kedung Srengenge, Joko Tingkir menghadapi hambatan karena adanya sekawanan buaya, kurang lebih berjumlah 40 ekor, yang menjadi penghuni dan penjaga kedung tersebut. Percaya dengan kekuatan gaib dari timang ikat pinggang pemberian Ki Buyut Banyubiru, Joko Tingkir nekad mengayuhkan geteknya memasuki kawasan Kedung Srengenge. Bahaya mengancam, ketika sekawanan buaya menghadang dan mengitari rakitnya. Namun, berkat kekuatan gaib dari Timang Kiai Bajulgiling, buaya-buaya yang semula buas beringas seketika menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Joko Tingkir. Bahkan, keempat puluh buaya ekor buaya itu menjadi pengawal perjalanan Joko Tingkir selama menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di kiri-kanan, depan dan belakang rakitnya Di wilayah Demak, keampuhan jimat pemberian Kiai Buyut Banyubiru berupa ikat pinggang Kiai Bajulgiling diterapkannya kembali. Seekor kerbau liar atau banteng, dibuat Joko Tingkir menjadi gila, sehingga tiga hari tiga malam para prajurit di Demak tidak dapat menghalau kerbau tersebut, bahkan dengan malu terpaksa mengaku kalah. Hanya Joko Tingkir yang akhirnya berhasil membunuh kerbau itu, yakni dengan mengeluarkan jimat yang telah dimasukkan ke dalam mulut hewan itu sebelumnya. Para prajurit Demak terkagum dengan aksi Joko Tingkir yang mampu menaklukan banteng buas. Raja Demak Sultan Trenggono akhirnya mengampuni perbuatan Joko Tingkir tempo hari, dan memaafkannya. Kemudian Joko Tingkir diangkat kembali sebagai prajurit, dengan jabatan sebagai pemimpin laskar tamtama. Joko Tingkir menikah dengan putri ke-5 raja, yaitu Ratu Mas Cempaka dan menjadi Bupati Pajang dengan gelar Adipati Adiwijaya. Sepeninggal Trenggono tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian tewas dibunuh Aryo Penangsang pada tahun 1549. Aryo Penangsang membunuh Sunan Prawoto, sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya. Ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen, tewas dibunuh Sunan Prawoto sewaktu dia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Solo. Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi utusan itu gagal karena dia memiliki kekebalan dari jimat Ki Bajulgiling. Namun setelah mengalahkan utusan Aryo Penangsang, justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Aryo Penangsang. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung, karena sama-sama anggota keluarga Demak, dan merupakan saudara seperguruan yakni sama sama sebagai murid Sunan Kudus. Menyiasati hal itu, Adiwijaya mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang, akan mendapatkan tanah Pati dan Mentaok atau Mataram sebagai hadiah. Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani yang merupakan kakak ipar Ki Ageng Pemanahan, berhasil menyusun siasat cerdik. Sehingga Sutawijaya yang merupakan anak Ki Ageng Pemanahan,…