Satu Jamaah Haji Yang Hilang Ditemukan Meninggal Dunia

Makkah – 1miliarsantri.net : Satu dari tiga jamaah haji Indonesia yang hilang saat puncak haji akhirnya ditemukan. Niron Sunar Suna (77) dari Embarkasi Surabaya Kloter 65 (SUB 65) hilang saat melempar jumrah di hari kedua di Mina pada 29 Juni 2023. Kabar ditemukannya Niron terungkap setelah petugas maktab mendatangi sang istri, Kamsani, di kamar hotelnya, Selasa (11/07/2023). Dia menunjukkan gambar di ponsel kepada Kamsani. “Ibu kuat apa tidak? Kalau tidak kuat, tidak usah melihat,” ucap Tiarso, salah seorang tetangga kamar Kamsani menirukan ucapan petugas maktab. Perempuan berusia 63 tahun itu mengangguk. Pertanyaan itu sempat diulang dan dijawab dengan jawaban sama. Awalnya petugas menunjukkan gambar dari arah kaki. Terlihat sarung yang melilit tubuh bagian bawah jenazah. Saat itu Kamsani langsung membenarkan itu sarung suaminya. Kamsani langsung lemas dan menangis. Gambar itu menjadi jawaban atas pencarian salah seorang jamaah yang telah hilang selama 13 hari. Sebelum hilang, Niron mengenakan sarung dan kaos warna putih dengan saku kotak di bagian perut. Sama persis dengan gambar yang ditunjukkan petugas. Setelah memastikan jenazah itu adalah Niron, Kamsani langsung menandatangani pernyataan yang membenarkan identitas pria tersebut adalah suaminya. Petugas maktab kemudian membawa Kamsani ke Rumah Sakit Al Noor untuk melihat jenazah Niron secara langsung. Perkembangan itu langsung dikabarkan ke keluarga yang ada di kampungnya di Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Nanik Nu’naiha, teman sekamar Kamsani menceritakan, sebelum petugas maktab datang, Kamsani masih meyakini suaminya masih hidup. Setiap hari Kamsani menunggu perkembangan pencarian Niron. Niron hilang ketika berangkat melempar jumrah ula bersama rombongan. Nanik mengatakan, saat itu dia mendampingi Kamsani berjalan beriringan dengan rombongan laki-laki. Niron berada di barisan belakang. Sementara Kamsani di bagian depan. Namun Niron tidak kunjung tiba di tenda meski semua rombongan telah datang. Setelah lama menanti, tidak kembalinya Niron diinformasikan kepada ketua kloter dan diteruskan ke petugas. Jamaah satu rombongan juga membantu mencari dengan menyisir jalur melempar jumrah hingga dua kali, tetapi tidak menemukan. Hingga proses tinggal di Mina selesai dan kembali ke hotel, Niron tidak kunjung ditemukan. Sebelum Niron ditemukan, tas pinggang miliknya ditemukan terlebih dahulu. Namun lokasi dan siapa penemunya tidak jelas. Di tas pinggang itu terdapat identitas dan kartu pengenal jamaah haji. Karena itulah, Niron hilang tanpa identitas yang melekat. Selama proses menunggu kabar pencarian suaminya di hotel, Kamsani sakit-sakitan. Petugas kesehatan memberikan pendampingan khusus, termasuk mengawasi asupan makan agar tidak kekurangan nutrisi. “Kalau pas tidak mau makan, saya kasih tahu petugas kesehatan,” ucap Nanik. (dul)

Read More

Sebanyak 1.000 Jamaah Oyo Terlantar di Arab Saudi

Riyadh – 1miliarsantri.net : Lebih dari 1.000 orang jamaah haji dari Negara Bagian Oyo di Nigeria, yang baru saja menyelesaikan ibadah haji 2023 di Arab Saudi terlantar. Dilansir Daily Post, Selasa (11/07/2023), ada beberapa jamaah asal Nigeria yang telah kembali dengan selamat. Namun, jamaah haji dari negara bagian Oyo tersebut belum mengetahui tanggal pemberangkatannya. Hal ini pun dibenarkan oleh Ketua Dewan Kesejahteraan Jamaah Muslim Negara Nigeria, Profesor Sayed Malik. Dia menekankan, otoritas di negaranya telah berupaya untuk memastikan kepulangan jamaah secara tepat waktu tetapi terhambat oleh masalah logistik. Rencana awalnya, kata Malik, jamaah dijadwalkan akan kembali ke Nigeria secara bertahap mulai 10 Juli. Namun ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana secara dramatis. Terutama ketika pihak maskapai menolak untuk menerbangkan para peziarah seperti yang telah disepakati sebelumnya. “Kami terkejut bahwa tidak ada komunikasi dari maskapai dan pejabat NAHCON pada 10 Juli tentang keberangkatan kami, dan jamaah kami menunggu dengan sia-sia di hotel mereka untuk petugas yang tidak muncul,” ujarnya. Dari keadaan tersebut, barulah diketahui bahwa pesawat Aero Contractors yang mengangkut gelombang pertama jamaah Nasarawa ke Nigeria tidak kembali untuk jamaah lain di Saudi. “Tetapi tetap dikandangkan di bandara Nnamdi Azikiwe di Abuja karena maskapai gagal mendapatkan izin untuk mendarat di Jeddah, dari otoritas penerbangan Saudi,” katanya. Amir Haji, yang juga Wakil Gubernur Negara, Alhaji Bayo Lawal, telah mengarahkan otoritas Kesejahteraan Jamaah Muslim Negara untuk mengambil langkah-langkah yang tepat tentang masalah tersebut. (dul)

Read More

MUI Tegas Tolak Acara LGBT Se Asia di Jakarta

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ketua MUI KH Cholil Nafis, secara tegas menolak rencana pertemuan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN dengan nama ASEAN Queer Advocacy Week (AAW), akan dilangsungkan di Jakarta pada 17-21 Juli 2023. Dia menilai LGBT merupakan penyimpangan dan tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia. “Astaghfirullah. Ini sudah menyimpang terus masih mengampanyekan lagi. Saya selamanya menolak penyimpangan ini, khususnya di Indonesia. Jangan sampai dianggap normal apalagi dilegalkan. Ini bertentangan dengan norma agama, Pancasila dan kenormalan manusia. Tolak!,” tegas Kyai Cholil kepada media di Kantor MUI, Selasa (11/7/2023). Menurut Kyai Cholil, LGBT selamanya tidak bisa dibenarkan karena tidak sesuai dengan fitrah manusia. Maka itu, dia mengajak semua elemen masyarakat Indonesia untuk menolak acara tersebut. “Jadi yg waras jangan diam dan jangan mengalah utk bersuara, bahkan, ini melanggar segalanya termasuk fitrah manusia. Tapi malah yg waras yg disalahkan. Bismillah, Lawan! Selamatkan bumi dan selamatkan Indonesia,” ujar Kyai Cholil. Rencana pertemuan dengan nama ASEAN Queer Advocacy Week (AAW) diorganisasi oleh ASEAN SOGIE Caucus, organisasi yang berada di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial PBB sejak 2021, bersama Arus Pelangi dan Forum Asia. AAW merupakan tempat bagi aktivis LGBT se Asia Tenggara untuk saling terhubung dan memperkuat advokasi satu sama lain. Namun, sampai saat ini, lokasi persis penyelenggaraan acara tersebut masih menjadi misteri. Panitia hanya memberikan informasi Jakarta akan menjadi tuan rumah tanpa menyebutkan lokasi secara spesifik. (lin)

Read More

KH Zuhdi Takeran : Kejadian Penculikan Para Kiai Selalu Kami Ingat Hingga Akhir Hayat

Magetan – 1miliarsantri.net : Rekam jejak kejahatan dan kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat dirasakan bagi seluruh penghuni Pondok Pesantren Takeran Magetan, bukan hanya santri, pengasuh dan pengurus tapi juga seluruh jamaah sangat teringat betul ketika terjadi nya peristiwa penculikan Kiai Imam Mursyid Muttaqirn pada 18 September 1948. KH. MS Zuhdi Tafsir, S.Ag atau akrab disapa Mbah Zuhdi, pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes Cokrokertopati, dan juga generasi penerus Pesantren Takeran Magetan, secara ekslusif menuturkan kisah pilu tersebut kepada 1miliarsantri.net. Habis shalat Jumat, saya bersama para santri pondok yang sedang duduk-duduk di serambi masjid melihat ada mobil datang ke pesantren. Mobil itu warnanya hitam dan bentuknya kecil. Bersama mereka terlihat beberapa orang membawa stand gun dan ada yang membawa karaben. Di situ saya lihat ikut datang seseorang yang katanya berasal dari Jombang sebagai pemimpin rombongan. Orang itu beberapa waktu kemudian saya tahu namanya Suhud. Sesampai di pesantren dan bertemu Kiai Imam Mursyid Mutaqin, ia kemudian berkata dengan mengutip ayat Alquran yang artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (bangsa) kecuali mereka yang berusaha mengubah nasibnya sendiri. Jadi, katanya rombongan yang datang itu ingin mengubah nasib bangsa Indonesia. Tapi, sebelum mereka datang di sekitar pesantren sudah tersebar pamflet yang isinya: Muso, Moskow, Madiun. Pamflet itu tersebar di sepanjang jalan raya yang ada di depan pesantren. Saya yang saat itu duduk di bangku kelas 1 SMP ikut membaca pamflet itu. Nah, rombongan yang dipimpin Suhud yang di situ ada pejabat camat Takeran yang menjadi anggota PKI itulah yang menculik Kiai Mursid. Saat itu juga Kiai dibawa pergi. Jadi, Anda masih ingat peristiwa itu? Iya betul, bahkan sampai kini mimik wajah, warna pakaian para penculik itu semuanya saya masih ingat. Yang membawa pergi adalah seseorang yang memakai piyama warna krem. Dia pergi bersama Kiai Mursyid yang diapit oleh Suhud dan camat Takeran yang jadi anggota PKI itu. Setelah Kiai Mursyid dibawa pergi, kompleks pesantren ini saat itu kemudian di-stealing (dikepung) oleh para anggota PKI lainnya. Kami dikepung selama sekitar seminggu. Kami ingat betul pengepungan itu membuat persediaan garam di pesantren habis. Kami dikepung sekitar tujuh hari hingga pasukan Siliwangi datang membebaskan kami. Kemudian bagaimana nasib Kiai Mursyid? Semenjak dibawa pergi itulah, kami sampai kini tidak mengetahui dimana keberadaan Kiai Mursyid. Namun, seorang pemuda yang masih menjadi kerabat dan tinggal tak jauh dari pesantren melaporkan bila beberapa hari sebelum penculikan itu, desa-desa di sekitar Takeran dikepung oleh orang-orang yang berseragam hitam-hitam. Mereka juga mengepung kantor Kecamatan Takeran. Beberapa rumah haji juga di sekitar Takeran didatangi, didobrak pintunya, dan penghuninya diancam. Mereka juga memukulinya dan memaksa agar tunduk pada PKI. Kata mereka: Kamu mau tunduk tidak? Kalau tidak, terus dipukuli. Dan, baru berhenti setelah menyatakan menerimanya. Di situlah saya lihat, penculikan itu memang disengaja dan sistematis. Para kader PKI terlihat sudah betul-betul siap melaksanakan gerakannya. Mereka bergerak ke mana-mana. Apakah ada korban lain selain Pak Kiai Mursyid? Yang diculik langsung di depan santri memang hanya beliau. Tapi, beberapa hari kemudian banyak santri dan pengurus pesantren juga hilang diculik mereka. Yang hilang itu kerabat kami Moh Suhud (Ayah Mantan Ketua MPR/DPR Moh Kharis Suhud) seorang guru yang mengajar di Mualimin milik pesantren Takeran, kakak ibu saya Imam Faham, ada Ustaz Hadi Addaba’ (orang Arab yang menjadi guru bahasa Arab) di Pesantren Takeran, Maijo (Kepala MI Takeran). Ada juga yang ikut hilang, yakni Husen (anggota Hizbullah). Juga ada beberapa keluarga kiai pengikut tarekat yang ikut dibunuh. Nama-nama mereka sudah saya lupa persisnya. Namun, sekitar tahun 1964 setelah jasad nya diangkat dari sumur, jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Madiun dan Magetan. Menurut Anda, apa yang membuat pengikut PKI itu begitu membenci para kiai dan santri sehingga mereka tega membunuhnya? Saat kejadian saya tak tahu mengapa itu terjadi. Namun, ketika saya mulai besar dan kuliah, saya mulai paham apa dan mengapa peristiwa pembantaian PKI di Madiun terjadi. Apalagi, pesantren kami ini semenjak dahulu adalah basis pergerakan. Leluhur kami adalah seorang pangeran dari Yogyakarta (Pangeran Kertopati) yang ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro. Dan, di pesantren ini pula Masyumi itu digagas. Jadi, lingkungan kami adalah orang yang paham dunia pergerakan. Nah, setelah lepas dari situasi itu, dan ketika saya mulai kuliah saya makin paham dengan situasi politik. Mulai tahun 1960-an, agitasi politik dari PKI memang terus menaik tinggi. Dan, sama dengan tahun 1948, agitasi itu juga mulai menargetkan dan menyerang posisi kiai yang katanya jadi bagian tujuh setan desa karena punya tanah luas. Kalau begitu, peristiwa 1948 terus terbawa-bawa hingga 1965? Peristiwa penculikan di September 1948, di mana anggota PKI menipu kami dengan mengajak Kiai Mursyid berunding dan kemudian menculik dan membunuhnya, itu berbekas di hati. Ketika semakin besar, saya kemudian mencari jawabannya, misalnya dengan memperlajari sejarah revolusi kaum buruh di Rusia atau revolusi Cina yang dipimpin Mao Zedong. Di situlah, saya tahu Muso itu muridnya Lenin yang lari ke Moskow setelah memecah Syarikat Islam. Dan dari situ pula, saya yakin bila partai komunis itu partai yang bersenjata yang siap merebut kekuasaan kapan saja ketika waktunya tiba. Di desa-desa sekitar Takeran, semenjak perayaan ulang tahun PKI tahun 1964, terdengar seruan bagi-bagi tanah. Sebutan setan desa muncul di mana-mana. Saat itulah, kami yakin peristiwa seperti 1948 akan terjadi lagi dan bisa dipastikan akan terjadi kapan saja. Maka untuk mengenang para korban kebiadaban, kejahatan dan kebengisan PKI, setiap tanggal 30 September, kami selalu mengadakan acara Doa bersama, pemutaran film G-30 S/PKI dan tentunya ziarah ke makam pahlawan serta dibeberapa tempat yang dijadikan pembantaian PKI. (fq)

Read More

Baca Doa ini Sebanyak 3 Kali Sehari Agar Terhindar Dari Sifat Riya

Jakarta – 1miliarsantri.net : Riya adalah salah satu bentuk kegiatan yang kita lakukan untuk memamerkan amal, ibadah, prestasi atau sesuatu hal kepada orang lain dengan tujuan mendapat pujian dan penghargaan darinya. Riya juga merupakan perbuatan hati yang tercela, bahkan riya itu dianggap sebagai asy-syirk al-ashgar (syirik kecil). Terkadang, perbuatan riya sendiri ingin dilihat hebat atau saleh di depan orang lain. Misalnya saja ketika membicarakan ibadah kepada orang lain dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, Islam sangat tidak menyukai umatnya yang senantiasa memamerkan segala bentuk ibadah dan amalannya kepada orang lain. Tentu sebagai umat yang beriman, tentu kita tidak ingin ada riya dalam diri kita saat beribadah kepada Allah SWT. Maka dari itulah, Islam mengajarkan doa supaya kita terhindar dari perbuatan riya saat ibadah. Pendakwah Buya Yahya mengungkap sebuah doa agar kita terhindar dari riya saat melakukan ibadah. Doa agar kita terhindar dari riya saat melakukan ibadah ini dianjurkan Rasulullah dan dibaca sebanyak tiga kali sehari. Selain itu, doa ini juga sangat cocok diamalkan disaat diri kita merasa ingin melakukan riya dan ingin dipuji. Buya Yahya yang juga pendiri pondok pesantren Al Bahjah, Cirebon ini mengungkap doa agar kita terhindar dari penyakit riya saat melakukan ibadah. Doa agar terhindar dari riya ini merupakan doa sering dipanjatkan Nabi. “Nabi mengatakan, ayo baca ini kalau takut riya,” kata Buya Yahya. Adapun doa supaya kita terhindar dari perbuatan riya saat ibadah seperti berikut ini: “Allaahumma Innaa Na’udzu bika min an Nusyrika bika wa Syaan Na’lamuhuu wa Nastaghfiruka Limaa Laa Na’lamuhu” Yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui. Doa ini juga bagus dibaca saat diri kita terdapat potensi atau merasa ingin melakukan riya. “Kami sadar ini nggak boleh, tapi kadang-kadang kami sengaja menikmati agar amal saya dilihat oleh orang, kan begitu,” sambung Buya. Jika sudah ada rasa ingin melakukan riya, maka segera meminta ampun kepada Allah dengan membaca doa agar kita terhindar dari riya saat melakukan ibadah. Doa agar kita terhindar dari riya saat melakukan ibadah ini dianjurkan Rasulullah agar dibaca sebanyak tiga kali sehari. “Baca doanya tiga kali sehari minimal atau disaat kita merasa ada guncang pengen riya,” pungkas Buya Yahya. (gus)

Read More

Pelaksanaan Haji Sudah Selesai, 3 Jamaah Haji Indonesia Hilang

Makkah – 1miliarsantri.net : Puncak ibadah haji memang sudah lewat lebih dari sepekan, namun fase di Arafah dan Mina masih menyisakan cerita duka. Ada tiga jamaah haji Indonesia yang terpisah dari rombongan saat di Masyair dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Mereka semua adalah jamaah lanjut usia dan tercatat menderita demensia. Mereka adalah Idun Rohim Zen (87) dari Embarkasi Palembang Kloter 20 (PLM 20), Suharja Wardi Ardi (69) dari Embarkasi Kertajati Kloter 10, dan Niron Sunar Suna (77) dari Embarkasi Surabaya Kloter 65 (SUB 65). Kendati sama-sama hilang di kawasan Masyair (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), tetapi mereka memiliki cerita awal mula lepas dari rombongan secara berbeda-beda. Fakta ini terungkap dari keterangan ketua kloter masing-masing berdasarkan laporan dari jamaahnya. Ketua Kloter 20 Embarkasi Palembang Maytizah Husna menjelaskan, Idun terakhir kali meminta izin kepada dirinya untuk ke toilet pada 27 Juni 2023, sekitar pukul 15.30 Waktu Arab Saudi (WAS), atau sore hari di tengah masa wukuf di Arafah. Sejak itu pula Idun belum kembali bersama kloternya. Sedianya, Idun bersama rombongannya pulang dari Tanah Suci pada 29 Juli nanti. “Ketika itu, izin ke toilet dan tak mau ditemani. Setelah itu, hilang sampai sekarang. Kita sempat sisir waktu itu di maktab di Arafah, tidak ketemu,” kata Maytizah, Jumat (07/07/2023) petang, di sela proses pencarian di kawasan Arafah. Dengan demikian, keberadaan Idun belum jelas ketika rombongannya siap-siap menuju Muzdalifah pada malam harinya. Begitu juga dengan Suharja Wardi. Menurut Ketua Kloter 10 Embarkasi Kertajati (KJT 10) Cece Moh Yahya, hilangnya Suharja bermula ketika Suraja bersama istrinya mengambil wudhu menjelang shalat dhuhur waktu wukuf di Arafah. “Pak Suharja lebih dulu, lalu istrinya masuk. Saat istrinya keluar, suaminya sudah tidak ada,” kata Cece, Sabtu (08/07/2023). Petugas pun saat itu langsung melakukan pencarian di area maktab sembari berkoordinasi dengan petugas-petugas terkait. Berbeda dari Idun dan Suharja yang hilang di Arafah, Niron terpisah dari rombongannya ketika berada di Mina pada tanggal 29 Juni 2023 (11 Dzulhijjah). Kala itu Niron beserta rombongan KBIH Nurul Haramain melaksanakan lontar jumrah hari kedua yang dilaksanakan setelah subuh. Sebenarnya jadwal mereka lontar jumrah adalah pada sore hari pukul 17.30 WAS. “Sejak perjalanan dari Mina ke Jamarat, Bapak Niron masih berkumpul dengan rombongan, akan tetapi setelah pulang ke Mina, sesampai di tenda, Bapak Niron tidak terlihat bersama rombongan lagi, tertinggal dari rombongan,” kata Ketua Kloter 65 Embarkasi Surabaya Hartono Sunayar Kemi, Sabtu (08/07/2023). Karena tak kunjung pulang ke tenda sampai sore hari, sang istri pun melapor kepada Hartono selaku Ketua Kloter. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Seksi Layanan Perlindungan Jamaah (Linjam) PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi di Mina. Hartono mengaku, sejak itu pula proses pencarian terus pihaknya lakukan dengan berkoordinasi ke Sektor 7, PPIH Embarkasi SUB, bahkan ke PPIH Daerah Kerja Makkah. Namun, ikhtiar itu belum membuahkan hasil, hingga pada 5 Juli sore ada laporan bahwa tas paspor, kalung identitas, dan baju Niron ditemukan. “Walhasil barang dan identitas itu benar adanya milik Bapak Niron, akan tetapi Bapak Niron-nya sampai saat ini, tanggal 8 Juli 2023, belum diketemukan,” ujar Hartono. Kepala Bidang Perlindungan Jamaah Haji (Kabid Linjam) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Harun Al Rasyid mengaku ia bersama tim terus melakukan pencarian kepada tiga jamaah yang hilang. NU Online berkesempatan dua hari ikut melakukan pencarian ke sudut-sudut toilet dan tenda di Arafah, bahkan hingga ke atas Jabal Rahmah. Tak hanya itu, petugas Linjam juga menyisir seluruh rumah sakit di Makkah dengan memeriksa nama-nama pasien, juga masuk ke kamar-kamar jenazah untuk mencocokkan data, baik pada jenazah yang ma’lum (jelas identitasnya) maupun yang majhul (belum teridentifikasi). Sebetulnya laporan jamaah hilang bukan hanya tiga orang. Hanya saja, jamaah-jamaah lain itu berhasil ditemukan, baik dalam keadaan sehat maupun sedang rawat inap di rumah sakit atau bahkan sudah ada di kamar jenazah. PPIH Arab Saudi akan berkoordinasi dengan pihak forensik di Makkah dan kepolisian Arab Saudi untuk bisa membantu melakukan pencarian. Kasus semacam ini juga bukan kali pertama. “Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, memang pasca-Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) hal-hal seperti ini kerap terjadi. Namun berdasarkan pengalaman, di akhir-akhir mereka diketemukan,” ujar Harun. Harun memastikan ikhtiar pencarian tidak akan berhenti, bahkan ketika seluruh jamaah haji sudah pulang ke Tanah Air. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan kepolisian Arab Saudi dan KJRI sebagai perwakilan Indonesia di Arab Saudi. (dul)

Read More

Jejak Utsmaniyah Sangat Terasa di Negeri Kanguru

Melbourne – 1miliarsantri.net : Syiar perkembangan Islam terus tumbuh di Australia. Secara demografis, Negeri Kanguru menyaksikan tren peningkatan. Berdasarkan data dari biro pusat statistik setempat, pada 2016 terdapat 604.200 warga yang memeluk Islam di sana. Artinya, ada peningkatan sekitar 15 persen bila dibanding hasil sensus pada 2011 silam. Untuk mengakomodasi kepentingan warganya yang Muslim, pemerintah Australia mengupayakan lanskap tata ruang yang lebih mendukung. Sebagai contoh, di Melbourne, ibu kota negara bagian Victoria, terdapat sebuah masjid raya yang menjadi pusat kegiatan keislaman. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1992 itu dikenal sebagai Masjid Sunshine. Namanya secara harfiah berarti ‘masjid cahaya mentari,’ tetapi sunshine itu pun merupakan sebutan untuk distrik setempat. Hingga kini, tempat ibadah itu merupakan masjid terbesar di seluruh Victoria. Informasi yang tersedia pada laman resmi Masjid Sunshine menyebutkan, pembangunannya bermula dari komunitas imigran Muslim asal Siprus. Mereka merantau ke Australia dari negeri pulau Mediterania itu. Bagaimanapun, silsilahnya mengakar hingga ke Turki. Karena itulah, perkumpulannya disebut sebagai The Cyprus Turkish Islamic Community of Victoria (Masyarakat Muslim Turki-Siprus di Victoria). Pada mulanya, mereka membangun sebuah mushala sederhana di kawasan Richmond, Clifton Hill. Lambat laun, tempat ibadah itu tidak lagi sanggup menampung jamaah yang jumlahnya kian bertambah. Setelah bermusyawarah, para tokoh Muslim setempat sepakat untuk merelokasi bangunan itu ke Jalan Ballarat, Sunshine, pada 1985. Tidak mungkin lagi untuk membangun tempat seluas mushola sebelumnya. Komunitas Muslim tersebut pun berupaya untuk menggalang biaya agar bisa memodali berdirinya sebuah masjid besar. Seorang anggota dengan ikhlas memberikan rumahnya sebagai jaminan untuk meminjam uang dari bank. Maka terkumpul dana sebesar 191 ribu dolar Amerika Serikat (AS) saat itu. Uang tersebut menjadi modal awal bagi komunitas Muslim Turki-Siprus ini. Mereka lalu membeli sebuah lahan di tepi Jalan Ballarat No 618. Sesudah itu, di atasnya dibangunlah sebuah masjid baru. Pembangunannya mengalami pasang-surut. Sempat terjadi mangkrak, tetapi umat Islam Victoria pantang menyerah. Mereka lantas berhasil menghimpun dana hingga 2,5 juta dolar AS Proyek pendirian masjid ini pun diteruskan. Beberapa tahun kemudian, fasilitas yang diidam-idamkan itu tuntas berdiri. Peresmiannya disaksikan tokoh-tokoh Islam serta pemerintah daerah lokal. Tampilan Masjid Sunshine menyuguhkan corak arsitektur Islam khas Turki Utsmaniyah. Pemilihan tema itu memang wajar karena para pendirinya merupakan orang-orang Australia yang keturunan Turki. Menurut Serkan Hussein dalam Yesterday and Today: Turkish Cypriots of Australia (2007), bentuk Masjid Sunshine menyerupai Masjid Sultan Ahmad alias Masjid Biru, salah satu bangunan ikonis yang ada di Istanbul. Apabila Masjid Biru memiliki 13 kubah, Masjid Sunshine dilengkapi 17 kubah. Semuanya tersusun dengan padu, mengikuti gaya arsitektur klasik Mimar Sinan. Masjid Biru dihiasi enam menara yang menjulang tinggi. Sementara, Masjid Sunshine “hanya” mempunyai sebuah menara. Bentuknya seperti pensil raksasa, ramping dan runcing pada bagian ujungnya. Kini, Masjid Sunshine merupakan representasi pencapaian dan persembahan dari generasi Muslim sebelumnya kepada umat Islam. Khususnya bagi komunitas Turki-Siprus, kompleks ini tidak hanya sekadar tempat ibadah. Masjid tersebut juga menjadi semacam banguna Adapun bagi masyarakat luas Australia, termasuk warga yang non-Muslim, keberadaan fasilitas keislaman ini boleh jadi penyegar mata. Ini adalah hadiah arsitektur Utsmaniyah yang dapat dikagumi saat mereka melewati jalan utama dari dan menuju Kota Melbourne. Berpadu harmonis Kemiripan Masjid Sunshine dengan Masjid Biru tidak hanya pada sisi eksterior, tetapi juga interiornya. Anda akan merasakan suasana yang menenteramkan hati saat memasukinya. Di dalam bangunan utama masjid daerah suburban Melbourne itu, “hanya” ada beberapa tiang. Sedikitnya jumlah tiang itu karena bentuk atapnya yang setengah bola. Mungkin bagian langit-langit Masjid Sunshine tidak semegah Masjid Biru. Namun, kesamaan antara keduanya tampak pada hadirnya gambar-gambar kaligrafi dan hiasan geometris. Khususnya pada sisi dalam kubah utama, ornamen-ornamen yang ada menyajikan keserasian antara lukisan dan latar. Pada pusatnya, terdapat kaligrafi ayat Alquran. Sementara itu, 99 Asmaul Husna tergurat pada bagian pinggiran langit-langit yang melingkar itu. Sedikit perbedaannya dengan Masjid Biru, pada masjid yang dibangun komunitas Muslim Australia itu tidak terpasang banyak lampu gantung. Hanya ada sebuah lampu kristal yang tergantung di tengah langit-langit. Bagaimanapun, penerangan bukanlah masalah besar di sini. Sebab, ada banyak jendela sebagai tempat masuknya sinar matahari dari luar. Warna yang mendominasi bangunan utama masjid di Australia ini ialah putih, sedangkan interior Masjid Biru diselimuti warna krem-kecokelatan. Pada bagian lengkung langit-langitnya juga terdapat selang-seling warna merah-bata dan putih. Tampilan itu mengingatkan pengunjung pada gaya masjid-masjid klasik di Andalusia (Spanyol). Alhasil, pencampuran macam-macam corak arsitektur itu menandakan perpaduan yang harmonis pada Masjid Sunshine. (man)

Read More

Kisah Joko Tingkir dan Bajulgiling Pusaka Andalan nya

Sragen – 1miliarsantri.net : Joko Tingkir merupakan tokoh yang sangat dikenal di masyarakat. Bahkan, peninggalannya di Desa Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang dikenal dengan Punden Tingkir, selalu ramai dikunjungi masyarakat. Joko Tingkir merupakan sosok yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan hingga melegenda di tanah Jawa. Kisah-kisah tentang Joko Tingkir, yang berkembang di tengah masyarakat, tidak pernah lepas dari pusaka berupa ikat pinggang atau timang yang memiliki nama Kiai Bajulgiling. Pusaka sakti Kiai Bajulgiling tersebut, didapatkan Joko Tingkir dari gurunya, Ki Buyut Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro. Banyak dikisahkan, pusaka sakti timang Kiai Bajulgiling itu, dibuat oleh Ki Buyut Banyubiru dari biji baja murni yang diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi dan kulit buaya. Dengan kekuatan gaibnya, bijih baja murni itu oleh Ki Banyubiru dibuat menjadi pusaka. Berdasarkan Babad Jawi dan Babad Pengging, kekuatan gaib yang dimiliki timang Kiai Bajulgiling ialah, barang siapa yang memakai ikat pinggang Kiai Bajulgiling ini, maka dia akan kebal dari segala macam senjata tajam dan ditakuti semua binatang buas. Hal ini selain kekuatan alami yang dimiliki oleh inti biji baja murni itu sendiri, juga karena adanya kekuatan rajah berkekuatan gaib yang diguratkan Ki Banyubiru di seputar timang berkulit buaya tersebut. Kekuatan dan keampuhan ikat pinggang Kiai Bajulgiling beberapa kali dialami dan dibuktikan sendiri oleh Joko Tingkir. Sebelum berguru ke Ki Banyubiru, Joko Tingkir atau Mas Karebet ini, pernah juga berguru ke Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela. Setelah berguru kepada Ageng Sela, dan Sunan Kalijaga, Joko Tingkir lalu disuruh untuk mengabdi ke Keraton Demak Bintoro. Di Kesultanan Demak ini Joko Tingkir melamar sebagai pengawal pribadi. Keberhasilannya meloncati kolam masjid dengan lompatan ke belakang tanpa sengaja, karena sekonyong-konyong Joko Tingkir harus menghindari Sultan dan para pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai pengawal. Joko Tingkir juga dikenal pandai menarik simpati Raja Demak Trenggono, sehingga dia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat Lurah Wiratamtama. Beberapa waktu kemudian, Joko Tingkir ditugaskan menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Ketika dihadapan Joko Tingkir, Dadungawuk tidak ingin diseleksi seperti yang lain, namun malah ingin menjajal kesaktian dari Joko Tingkir. Karena merasa diremehkan, Joko Tingkir sakit hati dan tidak bisa menahan emosinya sehingga Dadungawuk ditusuk dengan Sadak Kinang (tusuk konde) yang menembus jantungnya. Akibatnya, Joko Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak karena konon Dadungdawuk juga merupakan kerabat Kesultanan Demak. Kepergian Joko Tingkir menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya. Dengan rasa putus asa Joko Tingkir pulang kembali dan ingin mati saja. Dua orang pertapa, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang (suami dari putri Bondan Kejawen atau adik Ki Ageng Getas Pendawa, kakek buyut Panempahan Senopati) memberinya semangat. Ketika Joko Tingkir berziarah pada malam hari di makam ayahnya di Pengging. Di sana Joko Tingkir mendengar suara atau wangsit yang menyuruhnya pergi ke tokoh keramat lain, yaitu Ki Buyut dari Banyubiru. Lalu Mas Karebet atau Joko Tingkir pergi menemui Ki Buyut Banyubiru. Ki Banyubiru yang telah mengetahui maksud kedatangan Joko Tingkir, langsung menerimanya sebagai murid. Oleh guru yang sakti ini, Joko Tingkir diberikan pelajaran-pelajaran ilmu kedigjayaan di Gunung Lawu. Salah satunya adalah dengan merendam diri dalam sungai yang dingin, dengan tujuan dapat mengendalikan hawa nafsu dalam diri Joko Tingkir. Setelah beberapa bulan lamanya Joko Tingkir menimba ilmu, Ki Buyut Banyubiru sudah memperbolehkan Joko Tingkir untuk menemui Sultan Demak guna memohon pengampunan atas kesalahan yang pernah dilakukannya yaitu membunuh Dadungawuk. Sebelum berangkat ke Demak Ki Buyut Banyubiru memberikannya azimat Timang Kiai Bajulgiling. Perjalanan kembali Joko Tingkir ke Demak dilakukan dengan getek, yakni rakit yang hanya terdiri dari susunan beberapa batang bambu. Saat akan melewati Kedung Srengenge, Joko Tingkir menghadapi hambatan karena adanya sekawanan buaya, kurang lebih berjumlah 40 ekor, yang menjadi penghuni dan penjaga kedung tersebut. Percaya dengan kekuatan gaib dari timang ikat pinggang pemberian Ki Buyut Banyubiru, Joko Tingkir nekad mengayuhkan geteknya memasuki kawasan Kedung Srengenge. Bahaya mengancam, ketika sekawanan buaya menghadang dan mengitari rakitnya. Namun, berkat kekuatan gaib dari Timang Kiai Bajulgiling, buaya-buaya yang semula buas beringas seketika menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Joko Tingkir. Bahkan, keempat puluh buaya ekor buaya itu menjadi pengawal perjalanan Joko Tingkir selama menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di kiri-kanan, depan dan belakang rakitnya Di wilayah Demak, keampuhan jimat pemberian Kiai Buyut Banyubiru berupa ikat pinggang Kiai Bajulgiling diterapkannya kembali. Seekor kerbau liar atau banteng, dibuat Joko Tingkir menjadi gila, sehingga tiga hari tiga malam para prajurit di Demak tidak dapat menghalau kerbau tersebut, bahkan dengan malu terpaksa mengaku kalah. Hanya Joko Tingkir yang akhirnya berhasil membunuh kerbau itu, yakni dengan mengeluarkan jimat yang telah dimasukkan ke dalam mulut hewan itu sebelumnya. Para prajurit Demak terkagum dengan aksi Joko Tingkir yang mampu menaklukan banteng buas. Raja Demak Sultan Trenggono akhirnya mengampuni perbuatan Joko Tingkir tempo hari, dan memaafkannya. Kemudian Joko Tingkir diangkat kembali sebagai prajurit, dengan jabatan sebagai pemimpin laskar tamtama. Joko Tingkir menikah dengan putri ke-5 raja, yaitu Ratu Mas Cempaka dan menjadi Bupati Pajang dengan gelar Adipati Adiwijaya. Sepeninggal Trenggono tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian tewas dibunuh Aryo Penangsang pada tahun 1549. Aryo Penangsang membunuh Sunan Prawoto, sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya. Ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen, tewas dibunuh Sunan Prawoto sewaktu dia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Solo. Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi utusan itu gagal karena dia memiliki kekebalan dari jimat Ki Bajulgiling. Namun setelah mengalahkan utusan Aryo Penangsang, justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Aryo Penangsang. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung, karena sama-sama anggota keluarga Demak, dan merupakan saudara seperguruan yakni sama sama sebagai murid Sunan Kudus. Menyiasati hal itu, Adiwijaya mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang, akan mendapatkan tanah Pati dan Mentaok atau Mataram sebagai hadiah. Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani yang merupakan kakak ipar Ki Ageng Pemanahan, berhasil menyusun siasat cerdik. Sehingga Sutawijaya yang merupakan anak Ki Ageng Pemanahan,…

Read More

Buya Yahya : Berdoa Sambil Bersujud diluar Sholat Hukum nya Haram

Jakarta – 1miliarsantri.net : Pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof. KH. Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab dianggil Buya Yahya menegaskan hukum berdoa sambil sujud di luar shalat. Dikatakan Buya Yahya, bila berdoa sambil sujud di luar salat itu hukumnya haram. Buya Yahya mengungkapkan bahwa sujud adalah ibadah tertinggi dan bentuk penghambaan yang sejati. “Sujud adalah saat terindah seorang hamba, karena dengan sujud itulah tampak penghambaan sejati. Sujud adalah salah satu cara perilaku ibadah yang paling agung, makanya sujud tidak boleh dilakukan sembarangan, kecuali dalam ibadah,” ungkapnya. Lebih lanjut dijelaskan Buya Yahya, jika sujud itu ada tiga yakni sujud saat salat, sujud tilawah, dan sujud syukur. Jadi, jika melakukan sujud selain ketiga itu maka hukumnya haram, karena sujud merupakan ibadah yang special. “Hati-hati, jangan gampang sujud kecuali untuk ibadah. Dikit-dikit sujud, sujud apa itu, pertama adalah sujud dalam salat, kedua adalah sujud tilawah karena kita membaca ayat disitu ada ayat sajadah, yang ketiga adalah sujud syukur tentunya dengan niat dan cara, tapi asal sujud-sujud saja tidak diperkenankan, tidak boleh itu haram, karena sujud ibadah special,” pungkasnya. (rid)

Read More

KH Cholil Nafis Merasa Kecolongan Dengan Beredarnya NII

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis tercengang benar-benar kaget karena ternyata masih banyak pengikut NII (Negara Islam Indonesia). Hal itu diketahui saat dirinya mendengar pengakuan Kepala Bakesbangpol Kabupaten Garut, sekaligus selesai menyampaikan keynote speaker dengan tema “Pancasila dan Islam Memupuk Nasionalisme” di Pendopo Kabupaten Garut, Jawa Barat, Ahad (09/07/2023) Menurut sambutan Kepala Kesbangpol Kabupaten Garut, realitanya masih ada aparatur yang menjadi pengikut NII. Ketua Umum MUI Kab. Garut juga menyampaikan kecolongan karena ada pengurus MUI dari NII yang sekarang sudah dikeluarkan. Demikian juga cerita Kepala Kantor Kemenag Kab. Garut yang masih ada penyuluh agama terpapar NII. “Jadi kesimpulannya, paham NII masih eksis dan nyata. Sejarahnya, Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia DI/TII itu meluas di seluruh Indonesia yang melawan negara yang sah. Dan melakukan perlawanan secara meliter. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi dan Aceh selama tahun 1948 sampai tahun 1962. Ternyata setelah organisasinya dibubarkan, pahamnya masih terus ada,” ujarnya. Lalu apa yang harus kita lakukan? Tentu ini kewajiban seluruh elemen bangsa. Jika berkenaan dengan paham keagamaan yang menjadi tameng untuk membangkang NKRI tentunya kewajiban tokoh agama dan masyarakat untuk membangun narasi dan hujjah meluruskan mereka. Mereka harus diajak dan dikembalikan ke jalan yang benar ke pangkuan NKRI. “Namun jika mereka sudah melawan terhadap negara dengan menggunakan kekuatan massa dan militer maka kewajiban negara dan aparat untuk menumpasnya. Ini bisa menjadi ancaman keutuhan NKRI dan keselamatan persatuan bangsa,” sambungnya. Dia berharap, Pemerintah dan masyarakat seharusnya lebih gencar dan efektif, dalam hal ini lembaga yang mengawal ideologi Pancasila untuk sosialisasi nilai-nilai Pancasila dan membangun ketahanan ideologi negara dari serbuan ideologi internal bangsa dan dari luar yang merusak ideologi negara NKRI. “Pemantapan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 perlu lebih masih dan menyentuh ke akar rumah dan di area yang masih rawan melawan negara dan pemerintahan yang sah,” pungkasnya. (rid)

Read More