Habib Umar : Buruh Mogok Kerja, Berimbas Ke Semua Sektor, Termasuk Macetnya Roda Pemerintahan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Aksi demonstrasi Buruh yang mengancam akan melakukan mogok nasional sebagai tuntutan pencabutan Omnibuslaw Cipta Kerja bisa menyebabkan pemerintahan mandek. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Generasi Cinta Negeri (Gentari) Habib Umar Alhamid. Menurutnya, jika buruh sudah melakukan mogok kerja, proses produksi ditempat kerjanya macet dan berimbas kepada jalannya roda pemerintahan. “Kalau buruh sudah ngambek dan mogok, roda pemerintahan mandek. Pemerintah harus segera menerima tuntutan kelompok buruh dengan mencabut Omnibuslaw Cipta Kerja,” ungkap Habib Umar Alhamid kepada 1miliarsantri.net, Jumat (11/08/2023). Habib Umar menambahkan, tuntutan kaum buruh yang meminta pemerintah untuk mencabut Omnibuslaw Cipta Kerja sangat realistis karena isinya sangat merugikan kelas pekerja. “Kaum buruh sangat dirugikan dengan Omnibuslaw Cipta Kerja. Omnibuslaw Cipta Kerja memudahkan pekerja asing ada di Indonesia dan yang terjadi membanjirnya TKA China,” ungkapnya. Tudingan kaum buruh tidak mempunyai disiplin dan didatangkan pekerja asing sangat tidak beralasan. Habib Umar menegaskan, mengenai kemampuan, buruh Indonesia bisa bersaing dengan buruh asing. Habib Umar mengatakan, tuntutan pencabutan Omnibuslaw Cipta kerja bisa berujung pada percepatan perubahan di negeri ini. “Kalau pemerintah mengecewakan terhadap tuntutan buruh, maka perubahan bisa cepat terjadi di Indonesia,” imbuhnya. Selain itu, ia mengatakan, pemerintah harusnya memandang buruh itu aset negara yang bisa menggerakkan ekonomi nasional bukan dijadikan sapi perah pemilik modal. “Harusnya pemilik modal dan buruh saling menguntungkan. Pemilik modal tanpa ada buruh, tidak bisa bekerja. Buruh tanpa ada pemilik modal, tidak ada kegiatan perekonomian. Solusi yang baik adalah memikirkan buruh dan rakyat Indonesia adalah kewajiban pemerintah,” kata Habib Umar. Sebagaimana diketahui, Partai Buruh beserta empat konfederasi serikat buruh dan 60 federasi buruh tingkat nasional. Hadir pula massa dari Serikat Petani Indonesia, Jala Pembantu Rumah Tangga (PRT), Buruh Migran, dan organisasi pekerja lainnya kembali melakukan aksi demonstrasi di Kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat, Rabu (09/08/2023). Jutaan massa aksi yang membawa enam tuntutan buruh ini mengaku siap mogok nasional apabila aspirasi mereka tidak segera dikabulkan dalam waktu dekat. Keenam tuntutan buruh pada aksi kali ini adalah cabut Omnibus Law UU Cipta Kerja, naikkan upah 2024 sebesar 15 persen, cabut presidential threshold 20 persen menjadi 0 persen, revisi parlimanentary threshold 4 persen, cabut UU Kesehatan, dan wujudkan Jaminan Sosial Semesta Seumur Hidup (JS3H), reforma agraria, serta kedaulatan pangan. Sementara itu Presiden Partai Buruh, Said Iqbal mengaku telah mengajukan judicial review untuk tiga dari keenam tuntutan tersebut. Ketiga tuntutan yang telah digugat oleh Partai Buruh ke Mahkamah Konstitusi (MK) adalah perihal pembatalan UU Cipta Kerja, cabut presidential threshold 20 persen, dan revisi parliamentary threshold 4 persen. Said Iqbal meminta agar pemerintah dan MK dapat segera memproses pencabutan dan revisi ketiga aturan tersebut. “Kami meminta sidang cepat. Presidential threshold 20 persen diubah menjadi 0 persen agar semua punya hak mengajukan calonnya, segera. Dalam waktu satu atau dua bulan,” ujar Said Iqbal di sela-sela demonstrasi pada Rabu (09/08/2023). Said Iqbal mengaku serikat buruh telah sepakat untuk mogok nasional apabila tuntutan ini tidak dikabulkan dalam waktu dua bulan. “Kami minta tuntutan ini segera (dikabulkan), sekitar dua bulan ke depan paling lama. Kalau tidak dipenuhi dalam dua bulan ke depan, kami mogok nasional,” kata dia. Presiden Partai Buruh ini berkaca pada sikap pemerintah yang dapat merampungkan undang-undang lain dalam waktu singkat. Dia memberikan contoh UU MD3 yang hanya dibahas selama 5 jam di DPR dan UU IKN yang selesai dalam waktu 2-3 bulan. Dalam hal ini, Said Iqbal menilai, bisa juga dilakukan untuk peraturan-peraturan lain. Said Iqbal pun memberi ultimatum kepada pemerintah dan MK agar tuntutan ini dapat diselesaikan dengan cepat. Dia mengklaim akan ada 5 juta buruh yang mogok nasional jika belum ada perubahan dalam dua bulan. “Bilamana pemerintah dan DPR tidak memenuhi tuntutan, Partai Buruh bersama organisasi buruh dan kelas pekerja lainnya, kami mempersiapkan mogok nasional. Berhenti stop produksi, 5 juta buruh, di seluruh Indonesia. Melibatkan 100 ribu pabrik akan berhenti, begitu pula dengan supir-supir pelabuhan dan bandara,” pungkas Said Iqbal. (wink) Baca juga :

Read More

Obat Dari Pengendalian Kerasnya Hati Adalah Dzikir

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dzikir dengan selalu mengingat Allah ﷻ memiliki banyak faedah bagi muslim. Salah satu manfaatnya yakni sebagai obat bagi kerasnya hati. Seperti dikutip dari buku Tazkiyatun Nafs, Seseorang menemui Hasan Al-Bashri rahimahullah, dan berkata “Aku mengadukan kerasnya hati ini, kepadamu.” Lalu Hasan rahimahullah menjawab, “Lunakkan ia dengan dzikir!” Makhul bertutur, “Mengingat Allah itu obat, sedangkan mengingat manusia itu penyakit.” Seseorang bertanya kepada Salman, “Amal apakah yang utama?” Ia menjawab, “Tidakkah engkau baca ayat Alquran, ولذكرالله أكبر “Dan dzikrullah itu (amal) terbesar.” Abu Musa Al-Asy’ariy meriwayatkan, Rasul ﷺ bersabda, Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan orang yang mati. (HR. Bukhari) Abdullah bin Busr meriwayatkan, Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya pintu kebajikan itu banyak. Sedangkan aku tidak mampu untuk memasuki semuanya. Maka, tunjukkanlah kepadaku, terserah kepadamu mana-mana yang aku mampu memasukinya dan jangan banyak-banyak, sebab aku bisa lupa!” Rasulullah ﷺ menjawab, لا يزال لسانك رطبا بذ كر الله “Pastikan lisanmu selalu basah dengan dzikrullah!” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim) Sebagai bagian dari adab, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berdzikir (mengingat Allah) dan berdoa. Adakah ciri yang nampak terlihat dari orang yang rajin berdzikir dan berdoa? Pakar Ilmu Alquran KH Ahsin Sakho menjelaskan, membaca doa dalam keseharian umat Islam begitu ditekankan. Bahkan mulai dari bangun tidur, menjalankan aktivitas, hingga kembali tidur pun terdapat doa-doa harian yang menyertainya. “Apabila doa-doa harian senantiasa dibaca dan diresapi, seorang hamba (cirinya) akan selalu diliputi rasa syukur dan ketenangan. Auranya tenang,” kata Kiai Ahsin dalam kajian live streaming, di Ahsin Sakho Center, Jumat (23/6/2023). Membaca doa dan wirid merupakan adab dan akhlak umat Islam. Di balik itu, terdapat sejumlah alasan mengapa umat Islam perlu membaca doa dan wirid dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Beliau menjelaskan, Allah memerintahkan manusia untuk senantiasa mengingat Diri-Nya. Dalam kondisi apapun, manusia dituntut untuk mengingat Allah SWT. Dan cara untuk mengingat Allah dapat ditempuh dengan menghaturkan doa serta membaca wirid harian. “Allah menyuruh kita untuk memperbanyak ingat kepada Allah, perbanyak dzikir. Karena kita itu adalah makhluk ciptaan Allah. Allah inginkan agar hubungan kita dengan Allah tercipta dalam hubungan yang harmonis, hubungan yang bagus,” ujarnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Ahzab ayat 41: “Ya ayyuhalladzina amanuu-dzkuruullaha dzikran katsiran.” Yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kamu semuanya dengan sebanyak-banyak zikir (mengingat Allah).”(yus) Baca juga :

Read More

Rakernas MPKS Muhammadiyah Digelar di Yogyakarta

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Suara Moehammadiyah Tower Convention and Hotel Yogyakarta pada 11-13 Agustus 2023. Rakernas tersebut secara resmi dibuka oleh Muhadjir Effendy, diikuti keynote speech di hadapan seluruh peserta oleh Menteri Sosial Republik Indonesia Tri Rismaharini. Mengangkat tema ‘Tajdid AUMSOS Abad ke-2’, musyawarah akan berfokus pada modernisasi manajemen Amal Usaha Muhammadiyah bidang Sosial (Aumsos) yang profesional, inklusif, dan mandiri. “Ini merupakan respons perkembangan permasalahan kesejahteraan sosial yang semakin kompleks,” terang Ketua PP Muhammadiyah, Prof Muhadjir Effendy kepada 1miliarsantri.net, Jumat (11/08/2023). Acara yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut terdiri dari berbagai sesi mulai dari general speech oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti, sharing session oleh berbagai lembaga terkait, sidang komisi yang membahas kebijakan MPKS untuk lima tahun mendatang, hingga penandatanganan MoU dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah penyelenggara Prodi Kessos. (mif) Baca juga :

Read More

KH Makruf Amin Mengapresiasi Pengelolaan Sampah Pesantren Menjadi Daya Jual

Sumenep — 1miliarsantri.net : Sampah yang awalnya momok bagi manusia, ternyata bisa didaur ulang oleh santri menjadi benda-benda yang berdaya jual. Salah satunya sampah plastik yang lumrah dilihat oleh warga di pasar, pertokoan, mall, dan lainnya. Pengelolaan sampah menjadi hal yang memiliki daya jual di beberapa pondok pesantren di Pulau Madura, Jawa Timur mendapat apresiasi dari Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof KH Ma’ruf Amin. Dalam silaturahim ke Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur, Wapres KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa problem sampah tidak hanya melanda di satu negara, tapi mendunia. “Di Pesantren Annuqayah terdapat laboratorium sampah yang bisa memilah sampah yang layak dijadikan benda yang bernilai ekonomis,” terang Kiai Makruf saat memberi sambutan di hadapan masyayikh, Rabu (09/08/2023). Ikhtiar tersebut, lanjutnya, juga dilakukan di pesantren lainnya. Khususnya sampah plastik, pesantren bisa menyulap sampah plastik menjadi minyak tanah, solar, bensin, hingga bisa menjadi bahan campuran aspal. Bila hal ini dikembangkan di pesantren, khususnya di Madura, maka masyarakat akan tahu bahwa sampah memiliki sisi ekonomis. “Kampanye antisampah plastik harus digalakkan agar warga tahu sisi positifnya. Toh pada akhirnya warga tidak lagi menganggap sampah sebagai barang bekas yang tidak bisa dimanfaatkan kembali. Semakin ditingkatkan pengembangan ini maka orang akan takut membuat sampah dan bingung mencari sampah, karena sampah memiliki nilai komersial,” ungkapnya. Tak hanya itu, Wapres yang pernah menjadi Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengingatkan bahwa kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi pesantren. Tidak hanya pesantren, di negara besar mulai mengkaji hitam putihnya. Bahkan di beberapa negara maju, agama mulai ditinggalkan oleh warganya. “Pengaruh gadget sudah masuk ke kamar anak-anak kita. Jangan mundur soal dakwah. Namun dalam koridor dakwah yang santun, bukan dakwah yang al-makkiyuna al-makkiyun. Maksudnya, dakwah jangan sampai maki-maki, karena pesantren tidak mengajarkan pada kita untuk memaki antarsesama,” tandasnya. Saat kunjungan ke Madura, Wapres juga menghadiri Dies Natalies Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep. Wapres mendorong kepada perguruan tinggi agar mampu beradaptasi menjadi lahan subur bagi inovasi, dan memegang teguh komitmen untuk mencetak generasi yang berdaya saing global. Wapres menjelaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan salah satu faktor penentu pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang mendorong kemajuan literasi teknologi dan peningkatan keahlian. Wapres KH Ma’ruf Amin mengingatkan adanya 4 isu strategi global yang saat ini menjadi perhatian dunia. Keempatnya adalah eskalasi tensi geopolitik, perubahan iklim, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, dan demografi. (dang) Baca juga :

Read More

Kemenag Pacu Pembangunan Pusat Literasi Bertaraf Internasional

Jakarta — 1miliarsantri.net : Membangun pusat literasi keagamaan Islam bertaraf internasional bukan hal yang mustahil, tetapi memerlukan waktu yang tidak sedikit dan dukungan berbagai pihak. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kementerian Agama, Kamaruddin Amin saat memberi arahan dalam kegiatan Grand Desain Pusat Literasi Keagamaan Islam di Jakarta, Senin (07/08/2023) lalu. “Indonesia bakal memiliki pusat literasi keagamaan Islam bertaraf internasional. Tentu tidak bisa instan. Tetapi kita optimis, harapan dan cita-cita itu akan segera terwujud,” ungkapnya. Terkait itu, Dirjen mengatakan, diperlukan desain yang matang, koleksi literatur yang lengkap seperti literatur klasik dan modern, juga termasuk jurnal-jurnal. “Tidak perlu gedung yang besar, yang penting literaturnya lengkap,” tegasnya. Dirjen mencontohkan, Program in Islamic Law at Harvard Law School yang pernah dikunjunginya memiliki bangunan yang tidak terlalu besar, tetapi literatur perpustakaannya sangat lengkap dan menjadi referensi dunia. “Selain literatur yang lengkap, kita mengajak pustakawan bersama-sama membesarkan pusat literasi keagamaan Islam, sehingga menjadi referensi bagi umat Islam di seluruh dunia,” paparnya. Sebagai informasi, pusat literasi keagamaan Islam akan dibangun di Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Ciawi, Bogor, Jawa Barat. (rid) Baca juga :

Read More

Mampu Menahan Amarah Merupakan Ciri Orang Kuat Iman Menurut Rasulullah SAW

Jakarta — 1miliarsantri.net : Menjadi pribadi yang mampu menahan amarah merupakan sebuah pencapaian mulia, mengukuhkan seorang muslim sebagai individu yang penuh ketakwaan. Kemampuan ini bukan hanya tentang menghindari ledakan emosi, melainkan juga tentang menjaga harmoni dengan sesama. Marah bukan hal yang perlu dihilangkan, tetapi dikendalikan atau diproporsionalkan. Puncaknya adalah kemampuan untuk marah bukan karena diri sendiri, melainkan karena agama. Menahan amarah sebagai akhlak mulia ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 133-134. “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 133-134). Termasuk juga dalil yang menegaskan kebaikan sifat menahan amarah yakni, Rasulullah SAW bersabda, “Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi, orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (Muttafaq ‘Alaihi: Hadits Shahih Bukhari no.6114 dan Muslim no.2609) Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, menjelaskan, beberapa faktor yang memicu kemudahan marah. Di antaranya lemahnya diri dan kapasitas intelektual yang terbatas, membuat kesulitan dalam menemukan solusi yang tepat. “Proses pembiasaan dari lingkungan yang tidak baik juga berperan, terutama jika tumbuh dalam keluarga yang pemarah,” ungkap Ustadz Fauzi kepada 1miliarsantri.net, Kamis (10/08/2023). Selain itu, mudah marah juga bisa dipengaruhi perbuatan maksiat dapat mengerasi hati, menjauhkannya dari kelembutan dan merangsang kemarahan. Terlalu besar harapan pada orang lain, komunikasi yang tidak efektif, dan target yang padat juga dapat menjadi pemicu kemarahan. Akan tetapi, ada marah yang diperbolehkan dengan catatan. Kemarahan yang muncul akibat sebab yang tepat, terutama yang berkaitan dengan urusan agama, dapat dianggap wajar. Namun, cara ekspresi marah harus tepat, mengingat Rasulullah menunjukkan ekspresi marah dengan wajah memerah. “Waktu, objek, dan tujuan dari kemarahan juga haruslah tepat,” tutur Ustadz Fauzi. Menurut Ustadz Fauzi, untuk mencapai kondisi kemarahan terkendali, diperlukan latihan dan pembiasaan. Pendekatan agama memiliki peranan penting dalam hal ini, melalui dzikir yang rajin, tilawah Al-Quran, perluasan ilmu, dan latihan mengelola hawa nafsu dengan diam. Ketika marah memuncak, ada beberapa langkah yang bisa diambil. Jika kemarahan hampir meledak, beberapa langkah sederhana dapat membantu meredakan gejolak. “Taawudz, wudhu, dan sholat adalah langkah-langkah yang telah diajarkan oleh agama untuk membantu mengendalikan diri dalam momen-momen kritis,” pungkas Ustadz Fauzi. (win) Baca juga :

Read More

Jumlah Pelajar Muslim di India Meningkat Drastis

New Delhi — 1miliarsantri.net : Angka pendaftaran siswa Muslim di institusi perguruan tinggi India beberapa waktu belakangan ini mengalami peningkatan signifikan. Hal tersebut disampaikan Menteri Persatuan Negara untuk Pendidikan India, Subhas Sarkar. Sarkar menjelaskan, untuk tahun akademik 2016-17, sebanyak 1.739 juta siswa Muslim terdaftar. Angka tersebut melonjak menjadi 1.922 juta untuk tahun akademik 2020-2021. Pertumbuhan tidak terbatas pada pendaftaran siswa saja. Jajaran pendidik Muslim juga membengkak. Jumlah guru dari komunitas Muslim meningkat dari 67.215 pada tahun akademik 2016-17 menjadi 86.314 pada tahun akademik 2020-2021. “Jumlah guru dari komunitas Muslim juga meningkat secara signifikan menjadi 86.314 pada 2020-2021 dari 67.215 pada 2016-2017,” ujar Sarkar, dikutip dari India Today, Kamis (09/08/2023). Sarkar pun membagikan statistik dari Survei Pendidikan Tinggi Seluruh India, 2020-21. “Sesuai Survei Pendidikan Tinggi Seluruh India (AISHE), 2020-2021, pendaftaran siswa Muslim meningkat menjadi 1.922 juta pada 2020-2021 dari 1.739 juta pada 2016-2017,” imbuhnya. Jumlah guru dari komunitas Muslim menunjukkan peningkatan yang signifikan menjadi 86.314 pada 2020-2021 dari 67.215 pada 2016-2017, sebagaimana dilaporkan dalam AISHE, 2020-21,” terangnya. “Pemerintah mendorong siswa minoritas melalui berbagai inisiatif,” tambah Sarkar. Sarkar mengakui bahwa angka putus sekolah anak-anak Muslim tidak sepenuhnya sejalan dengan pertumbuhan positif tadi. Sementara beberapa siswa dalam komunitas Muslim berkembang secara pendidikan, berkontribusi pada peningkatan partisipasi pendidikan tinggi, kehadiran mereka di pendidikan dasar dan menengah menyusut di beberapa negara bagian. Terlepas dari tantangan ini, perjalanan menuju kemajuan pendidikan bagi siswa Muslim terus berlanjut. Seperti diketahui, sejak kemerdekaan India pada tahun 1947, perjalanan menuju pembangunan menyeluruh dalam komunitas Muslim melalui pendidikan menemui banyak kendala. Namun, dalam beberapa dekade terakhir terlihat kemajuan bertahap pemuda Muslim di bidang pendidikan. Statistik yang muncul menyoroti tren yang penuh harapan, membangkitkan optimisme dalam sektor pendidikan. (kin/reu) Baca juga :

Read More

Sebanyak 30 Pesantren Mengikuti Workshop Ekosistem Halal Value Chain di Bandung

Bandung — 1miliarsantri.net : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Workshop Pengembangan Ekosistem Halal Value Chain (HVC). Workshop yang fokus sektor pertanian dan perkebunan tersebut digelar bekerja sama dengam Bank Indonesia (BI). Ketua PBNU H Choirul Sholeh Rasyid mengatakan, kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 6 hingga 9 Agustus 2023. Semua sesi kegiatan dilaksanakan di Bandung dan diikuti pondok pesantren di bawah naungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU yang memiliki bisnis di sektor pertanian/perkebunan. “Selama empat hari, para utusan 30 pondok pesantren mendapat materi dan pelatihan yang sangat sesuai kebutuhan masyarakat pondok,” terang Choirul kepada media, Rabu (09/08/2023) Peserta workshop ini berasal dari sejumlah provinsi di Indonesia, di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, D.I Yogyakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Aceh, Lampung, Riau, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Banten. Selain Choirul, hadir pula dalam kegiatan ini, Ketua Tim Pokja H. Khudori Faraby, Wakil Ketua Pokja Dr. Basnang Said, 2 Deputi Direktur Bank Indonesia (BI), Indrajaya dan Diana Yumanita. Dalam sambutannya, Choirul Sholeh Rasyid menyampaikan, NU memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Dengan sejumlah lembaga yang dimiliki oleh NU, maka kedepannya diproyeksikan akan berdampak positif bagi ekonomi umat secara luas. Terutama pesantren, semestinya juga tidak hanya berfokus pada pendidikan dan dakwah saja, namun juga dapat mengoptimalkan fungsi pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan ekonomi. “Pesantren tidak hanya, maaf tidak hanya memberikan pengajian, belajar, tapi juga mendorong ekonomi syariah untuk tumbuh dan berkembang,” ujar Choirul. Dia berharap kepada perwakilan pesantren yang hadir agar bertekad dengan serius dalam upaya pengembangan ekonomi pesantren. H. Khudori Faraby selaku ketua Tim Pokja menyampaikan bahwa Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf memberikan dorongan yang sangat positif dalam menyambut program pengembangan ekonomi syariah ini. Dalam kesempatan yang sama, Indrajaya selaku Deputi Direktur Bank Indonesia juga menyampaikan dukungan positif terhadap program kerjasama antara PBNU dengan BI dalam upaya Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah. Indrajaya menyampaikan bahwa workshop yang dilaksanakan bagi 30 pesantren dari sektor pertanian/perkebunan merupakan bentuk tindak lanjut dari MoU yang telah dilakukan antara PBNU dengan BI pada Desember 2022 lalu. Peserta workshop ini ditunjuk secara selektif dari sejumlah pesantren yang bergerak pada sektor bisnis pertanian/perkebunan. Selama beberapa hari, peserta mengikuti sejumlah rangkaian Focus Group Discussion dan site visit ke Pondok Pesantren Al-Ittifaq. Serangkaian kegiatan yang dilaksanakan bertujuan agar pesantren dapat menjadi bagian dari ekosistem Halal Value Chain (HVC) dan dapat mengambil success story dari pesantren pegiat bisnis bidang pertanian dan perkebunan. (den) Baca juga :

Read More

Penanganan Kenakalan Anak Setelah Lulus Dari Pesantren

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pendidikan di pondok pesantren telah lama diakui sebagai salah satu bentuk pendidikan yang membentuk karakter dan akhlak yang kuat pada para santri. Namun, tidak jarang para orangtua merasa khawatir ketika anak-anak mereka tampak berubah menjadi nakal atau kurang terarah setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren. Lalu, bagaimana seharusnya orangtua mengatasi tantangan ini? Pakar pendidikan Islam, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, mengungkapkan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan ketika menghadapi situasi ini. “Nomor satu, kita tidak boleh terlalu kaku dalam mendekati anak-anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok. Ini sama halnya seperti belajar karate, di mana saat pertama kali belajar, sering kali terasa kaku dan belum begitu terampil,” ujar Ustadz Fauzil dalam kajian ‘Positive Parenting’ di Yogyakarta, Rabu (09/08/2023). Dalam konteks ini, Ustadz Fauzil memberikan analogi belajar karate untuk menjelaskan situasi yang dialami anak yang baru lulus dari pondok. Anak-anak yang baru saja lulus dari pondok mungkin masih dalam proses penyesuaian dan perkembangan, sehingga perlu diberi ruang untuk beradaptasi dengan dunia luar. “Semakin banyak kita mengajak dialog yang lebih dalam, semakin banyak kita mendengarkan mereka, maka semakin mudah kita memahami permasalahannya. Ini seperti berwudhu, di mana semakin banyak kita membasuh, semakin bersih dan suci hati kita,” ucapnya. Namun, bukan berarti pendekatan ini akan berjalan dengan sendirinya. Ustadz Fauzil menegaskan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak. Dia mencontohkan ketika salah satu anaknya ingin pindah dari pondok pesantren setelah lulus SMP. “Ketika salah satu anak saya ingin pindah ke SMA yang lain setelah lulus dari pondok, saya tidak langsung menilai atau memojokkan keinginannya. Saya mendengarkan dengan baik dan memahami alasan di balik keinginannya,” ujar Ustadz Fauzil. Ustadz Fauzil juga mengajak para orangtua untuk belajar dari contoh Rasulullah Muhammad SAW dalam mendidik anak-anak muda. Dia merujuk pada kisah ketika seorang remaja datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan niat untuk berzina. Rasulullah tidak langsung mengecamnya, tetapi malah mendekat dan mendengarkan keluhannya. “Dalam kasus ini, Rasulullah menunjukkan bagaimana mendekati anak-anak dengan penuh pengertian. Dengan mendengarkan mereka dan memberikan perhatian, kita dapat membantu meredakan gejolak dan kebingungan yang mereka rasakan,” jelas Ustadz Fauzil. Lebih lanjut, Ustadz Fauzil menekankan pentingnya memahami kebutuhan emosional anak dan memberikan dukungan yang mereka perlukan. Anak-anak perlu merasa didengarkan, diterima, dan mendapatkan perhatian dari orangtua mereka. “Dengan begitu, mereka akan lebih termotivasi untuk melakukan kebaikan dan memperbaiki perilaku mereka,” paparnya. Ustadz Fauzil menyarankan agar para orangtua tidak terburu-buru dalam memberikan nasihat atau arahan kepada anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren. Dia mengutip kata-kata bijak dari Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan, mendengarkan adalah langkah awal dalam memahami dan memberikan solusi yang tepat. Dengan pendekatan bijak dan penuh pengertian, orangtua dapat membantu anak-anak yang baru lulus dari pondok pesantren untuk menemukan arah yang benar dalam menjalani kehidupan setelah pondok. “Karena itu kita yang perlu lebih banyak mendengarkan, lalu mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menjatuhkan, tidak memojokkan, sehingga anak merasa mendapatkan orang yang mau mendengarkan, merasa mendapatkan orang yang memperhatikan, merasa diterima. Dengan itulah anak-anak akan lebih bersemangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan,” tutup Ustadz Fauzil. (mif) Baca juga :

Read More

Kemenag Bentuk Tim Khusus Klarifikasi Koreksian Buku Pelajaran Fikih Untuk MTs

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) membentuk tim khusus untuk mengklarifikasi koreksian konten buku Mata Pelajaran Fikih Kelas VII untuk Madrasah Tsanawiyah (MTs). Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, Moh Ishom menyampaikan, pembentukan tim ini menindaklanjuti adanya pemberitaan terkait kesalahan yang terdapat dalam penulisan materi buku tersebut. Pemberitaan didasarkan pada hasil temuan Media Literasi Kampus Institut Agama Islam Nazhatut Thullab (MLK IAI Nata) pada delapan buku pelajaran Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek, Kemenag, dan penerbit non-pemerintah. Ishom menjelaskan, tim yang dibentuk akan dikirim untuk mengklarifikasi kondisi di lapangan terkait penggunaan buku mata pelajaran tersebut. “Kami membentuk tim untuk mendalami informasi tentang konten pada buku PAI di Madrasah. Mereka akan dikirim untuk mengklarifikasi kondisi di lapangan,” ungkap Moh Ishom dalam siaran pers, Rabu (09/08/2023). Adapun buku-buku itu telah beredar luas, salah satunya di Kabupaten Sampang, Madura. Menurut temuan, materi dalam beberapa buku diduga salah atau menyimpang dari ajaran Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja). Ishom menuturkan, hasil temuan dari tim akan menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan terkait buku tersebut. “Khususnya materi tentang rukun khutbah Jumat. Bukan rukun Shalat Jumat seperti yang diberitakan,” ujar Ishom. Ishom juga menyampaikan terima kasih atas masukan MLK IAI Nata. Menurut dia, hal ini menunjukkan masyarakat perlu berpartisipasi turut mengawal peningkatan kualitas pendidikan madrasah ke depan. Senada dengan Ishom, Kepala Balitbangdiklat Kemenag Suyitno mengapresiasi masukan dari MLK IAI Nata. “Kami apresiasi pihak MLK IAI Nata yang telah berupaya melakukan evaluasi terhadap buku-buku yang beredar di masyarakat. Namun kami perlu untuk melakukan verifikasi terhadap hal tesebut,” ujar Suyitno. Ia menambahkan, Kemenag sesuai amanat UU Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan dan PMA Nomor 9 tahun 2018 tentang Buku Pendidikan Agama, menjadi lembaga yang bertanggung jawab untuk mengurusi buku-buku pendidikan agama. “Kami menyadari tugas berat ini perlu partisipasi dan kolaborasi dengan masyarakat dan pihak penerbit dalam pelaksanaannya. Kami akan lakukan Forum Group Discussion (FGD) dengan pihak terkait di Kabupaten Sampang sebagai respons cepat Kementerian Agama dalam menjaga kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan dengan temuan dalam buku-buku pendidikan agama,” pungkasnya. (rid) Baca juga :

Read More