Generasi Z dan Transformasi Gaya Bisnis di Indonesia

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Generasi Z mengubah wajah dunia kerja dan bisnis di Indonesia dengan preferensi, nilai, dan keterampilan digital yang khas. Lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, kelompok ini memadukan literasi teknologi tinggi dengan harapan akan fleksibilitas, makna kerja, dan dampak sosial. Dampaknya terasa mulai dari model pemasaran, struktur organisasi, hingga cara produk dan layanan dikembangkan dan didistribusikan di pasar lokal. Preferensi Konsumen dan Model Pemasaran Baru Generasi Z menuntut autentisitas, transparansi, dan interaksi cepat. Mereka lebih percaya pada rekomendasi peer-to-peer, micro-influencer, dan konten user-generated dibanding iklan tradisional. Untuk merek di Indonesia, strategi pemasaran yang efektif kini berfokus pada storytelling otentik, micro-moment engagement, dan pemanfaatan platform visual seperti TikTok, Instagram Reels, dan platform streaming pendek. Kampanye yang menonjol adalah yang menggabungkan nilai sosial, keberlanjutan, dan pengalaman personalisasi. Model pemasaran berbasis data menjadi standar. Pengiklan memanfaatkan analitik perilaku untuk mengidentifikasi micro-segmen dan mengoptimalkan pesan real-time. Konten interaktif, AR try-on, hingga live commerce menjembatani jarak antara brand dan pembeli muda. Brand yang gagal beradaptasi dengan format ini menghadapi risiko kehilangan relevansi, sedangkan yang sukses mendapatkan loyalitas yang lebih cepat dan biaya akuisisi pelanggan yang lebih rendah. Baca juga: Kemenag Buka Bantuan Perpustakaan Masjid 2025, Begini Syarat dan Cara Daftarnya Gaya Kerja, Kepemimpinan, dan Struktur Organisasi Generasi Z membawa ekspektasi kerja yang berbeda: fleksibilitas waktu dan lokasi, keseimbangan kehidupan kerja, kesempatan pengembangan cepat, dan budaya kerja inklusif. Perusahaan Indonesia yang ingin menarik talenta Gen Z mengadopsi model hybrid, program mentorship yang intensif, dan jalur karier berbasis kompetensi daripada senioritas semata. Feedback berkala dan transparansi kompensasi menjadi nilai jual penting. Kepemimpinan yang efektif kini mengutamakan kepemimpinan servicer, komunikasi dua arah, dan pemberdayaan tim. Struktur organisasi cenderung menjadi lebih datar untuk mempercepat pengambilan keputusan dan memberi ruang inisiatif individu. Praktik kerja agile, tim lintas fungsi, dan penggunaan alat kolaborasi digital membantu meningkatkan produktivitas dan memuaskan kebutuhan Gen Z akan kontribusi nyata dan merasa dihargai. Di sisi kewirausahaan, generasi ini menunjukkan minat tinggi terhadap startup dan bisnis kecil karena hambatan masuk yang semakin rendah. Ekosistem startup Indonesia merespons dengan lebih banyak inkubator, program akselerator, dan akses modal ventura untuk ide-ide yang memadukan teknologi, ekonomi kreatif, dan tujuan sosial. Inovasi Produk, Teknologi, dan Dampak Ekonomi Generasi Z mempercepat adopsi teknologi di berbagai sektor seperti fintech untuk inklusi keuangan, e-commerce untuk akses produk niche, edtech untuk pembelajaran cepat, dan healthtech untuk layanan kesehatan yang terjangkau. Preferensi pada produk yang mudah digunakan, mobile-first, dan cepat membuat perusahaan Indonesia fokus mengembangkan antarmuka yang intuitif dan proses checkout yang sederhana. Dampak ekonomi dari pergeseran ini terlihat pada meningkatnya permintaan layanan on-demand, pertumbuhan ekonomi gig, dan pembentukan pasar niche berbasis komunitas. Perusahaan yang mengintegrasikan umpan balik pengguna melalui iterasi produk cepat meningkatkan retensi dan meminimalkan biaya pengembangan. Selain itu, prinsip keberlanjutan dan etika bisnis menjadi faktor penentu dalam keputusan pembelian, mendorong perusahaan untuk transparan mengenai rantai pasok dan praktik lingkungan. Peluang besar muncul bagi UMKM yang mampu memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan dan efisiensi operasional. Pembayaran digital, logistik yang lebih terintegrasi, dan pelatihan online membuka jalan bagi pelaku usaha kecil untuk bersaing di pasar nasional maupun global. Regulasi yang mendukung, akses pembiayaan mikro, dan investasi infrastruktur digital akan mempercepat inklusi ekonomi yang dipimpin oleh generasi muda. Generasi Z bukan sekadar konsumen baru; mereka adalah penggerak perubahan budaya bisnis di Indonesia yang menuntut kecepatan, makna, dan teknologi. Perusahaan yang mengadopsi pendekatan customer-centric, struktur organisasi yang adaptif, dan inovasi produk berkelanjutan akan memenangkan perhatian dan loyalitas generasi ini. Mereka yang bertahan pada model lama berisiko kehilangan talenta, pangsa pasar, dan relevansi dalam ekonomi digital yang bergerak cepat. Baca juga: Properti Indonesia 2026: Surga Investasi atau Ladang Risiko? Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi By AI

Read More

Properti Indonesia 2026: Surga Investasi atau Ladang Risiko?

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Pergerakan pasar properti Indonesia pada 2026 menghadirkan kombinasi peluang apresiasi dan risiko sistemik. Urbanisasi, pembangunan infrastruktur, dan perubahan pola kerja mendorong permintaan di segmen tertentu, sementara suku bunga, pasokan berlebih, dan dinamika regulasi menambah ketidakpastian. Artikel ini merinci peluang utama, risiko yang harus diwaspadai, dan strategi praktis bagi investor yang ingin masuk pasar pada 2026. Peluang Investasi Properti Indonesia yang Menonjol Pertumbuhan infrastruktur dan konektivitas tetap menjadi pendorong utama nilai properti di banyak koridor. Proyek transportasi massal, jalan tol, dan pengembangan kawasan industri meningkatkan daya tarik lokasi di sekitar koridor tersebut. Segmen dengan permintaan struktural kuat meliputi gudang logistik untuk e-commerce, hunian terjangkau dekat pusat pekerjaan, dan ruko yang melayani ekonomi mikro dan UMKM. Permintaan sewa di kota-kota besar dan kota penyangga terus stabil karena mobilitas pekerja dan kebutuhan hunian temporer. Investor yang menargetkan aliran kas sewa jangka menengah hingga panjang berpeluang mendapatkan return yang lebih terukur dibandingkan spekulasi apresiasi cepat. Selain itu, semakin banyak developer menawarkan skema pembiayaan fleksibel, pra-lauching dengan diskon, serta produk green building yang mulai menarik premium harga bagi pembeli sadar lingkungan. Diversifikasi produk properti juga membuka ruang seperti mixed-use development, co-living untuk pekerja muda, dan fasilitas logistik kecil untuk bisnis e-commerce lokal. Memilih segmen yang sesuai dengan permintaan lokal akan meningkatkan peluang penghuni stabil dan apresiasi nilai. Baca juga: Cek! Ini Daftar 108 Santri Melaju ke Semifinal MQK Internasional 2025, Namamu Termasuk? Risiko dan Tantangan yang Harus Dikelola Suku bunga tetap menjadi faktor penentu. Kenaikan suku bunga mengerek biaya KPR, menekan daya beli konsumen, dan meningkatkan biaya modal developer, yang berpotensi menunda proyek dan menurunkan penjualan. Over-supply di beberapa segmen, khususnya apartemen menengah ke bawah di koridor tertentu, mendorong persaingan harga dan menurunkan tingkat hunian. Volatilitas harga bahan bangunan dan ketergantungan pada impor material dapat memperpanjang waktu konstruksi dan meningkatkan biaya proyek. Perubahan kebijakan tata ruang, revisi zonasi, atau peningkatan ketentuan lingkungan di tingkat daerah juga bisa mengubah kelayakan finansial proyek hampir tanpa peringatan panjang. Selain itu, likuiditas properti lebih rendah dibandingkan aset finansial; proses penjualan memakan waktu dan biaya transaksi tinggi, membuat properti kurang cocok bagi investor yang membutuhkan likuiditas cepat. Risiko operasional seperti manajemen properti yang buruk, biaya perawatan yang tidak diantisipasi, dan potensi kehilangan penyewa juga harus dimasukkan dalam perhitungan total return. Investasi tanpa due diligence yang memadai berisiko mengalami erosi modal ketika skenario makro berbalik. Strategi Investasi Cerdas untuk 2026 Akses transportasi, keberadaan pusat ekonomi, fasilitas publik, dan rencana tata ruang yang jelas. Lakukan analisis permintaan lokal, jangan tergoda oleh hype proyek tanpa data serapan pasar. Fokus pada segmen dengan permintaan nyata seperti gudang untuk logistik, rumah terjangkau dekat pusat kerja, dan ruko untuk UMKM. Cicilan, pajak, asuransi, biaya perawatan, dan kemungkinan renovasi. Buat proyeksi arus kas skenario optimis, moderat, dan pesimis untuk menguji ketahanan investasi terhadap fluktuasi suku bunga atau periode kekosongan penyewa. Manfaatkan pembiayaan dengan rasio LTV yang bijak dan pertimbangkan fixed rate jika prospek kenaikan suku bunga tinggi. Campurkan properti fisik dengan instrumen real estate alternatif seperti REIT, dana real estate, atau platform crowdfunding yang menawarkan eksposur properti dengan modal lebih kecil dan likuiditas relatif lebih baik. Gunakan jasa manajemen properti profesional untuk meningkatkan tingkat hunian dan menjaga nilai aset. Cek izin, legalitas lahan, riwayat developer, dan proyeksi permintaan. Hindari keputusan berbasis FOMO; berpegang pada angka dan rencana keluar yang jelas meningkatkan peluang hasil positif. Baca juga: Kemenag Buka Bantuan Perpustakaan Masjid 2025, Begini Syarat dan Cara Daftarnya Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

Presiden Komisi Eropa Dorong Stop Dukungan Bilateral dengan Israel, Serukan Donor untuk Palestina

Tegal – 1miliarsantri.net : Dukungan internasional untuk Palestina kembali menguat. Kali ini, giliran Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, yang menyampaikan langkah tegas terhadap Israel terkait situasi kemanusiaan di Gaza. Dalam pidato tahunan di hadapan Parlemen Uni Eropa, Rabu (10/9/2025), von der Leyen menegaskan Komisi Eropa akan menyiapkan paket kebijakan baru. Salah satunya dengan menghentikan dukungan bilateral dan sebagian perjanjian asosiasi dengan Israel, sekaligus mengusulkan sanksi terhadap menteri-menteri ekstremis di negara itu. “Saya akan mengajukan paket langkah untuk membuka jalan ke depan. Pertama, Komisi Eropa akan melakukan semua yang bisa dilakukan secara mandiri. Kami akan menghentikan dukungan bilateral kepada Israel. Kami akan menghentikan semua pembayaran di bidang ini tanpa memengaruhi kerja sama dengan masyarakat sipil Israel,” tegas von der Leyen, dikutip dari AFP. Selain itu, ia juga mendorong pemberlakuan sanksi terhadap para pemukim Israel yang terlibat dalam aksi kekerasan, serta penangguhan sebagian perjanjian dagang yang selama ini berlaku antara Uni Eropa dan Israel. Luka Gaza dan Seruan Kemanusiaan Di hadapan para anggota parlemen, Von der Leyen tidak bisa menyembunyikan keprihatinannya atas tragedi kemanusiaan yang terus terjadi di Gaza. Ia menyesali perpecahan internal negara-negara Uni Eropa yang membuat respons Benua Biru terkesan lambat. “Apa yang terjadi di Gaza telah mengguncang hati nurani dunia. Orang-orang terbunuh saat mengemis makanan. Para ibu menggendong bayi-bayi yang tak bernyawa. Gambaran-gambaran ini sungguh bencana,” ujarnya dengan nada emosional. Ia pun menekankan, “Demi anak-anak, demi kemanusiaan ini harus dihentikan,” ujarnya menyikapi kondisi Gaza terkini. Baca Juga : PBB Nilai Israel Persulit Distribusi Bantuan Kemanusiaan di Gaza Dorongan untuk Donor Palestina Dalam kesempatan yang sama, von der Leyen mengumumkan rencana membentuk kelompok donor internasional khusus untuk Palestina, terutama Gaza. Kelompok ini ditargetkan terbentuk pada Oktober 2025 dengan fokus pada rekonstruksi wilayah yang hancur akibat agresi militer Israel. “Kami akan membentuk kelompok donor Palestina bulan depan, termasuk instrumen khusus untuk rekonstruksi Gaza. Ini akan menjadi upaya internasional dengan mitra regional, dan akan melanjutkan momentum konferensi New York yang diselenggarakan Prancis dan Arab Saudi,” jelasnya. Von der Leyen juga menyerukan pembebasan sandera, akses penuh tanpa hambatan bagi bantuan kemanusiaan, serta gencatan senjata segera. Solusi Dua Negara Menurut von der Leyen, solusi jangka panjang yang realistis tetaplah solusi dua negara, di mana Palestina dan Israel bisa hidup berdampingan dengan aman. Namun, untuk mewujudkan itu, dibutuhkan persetujuan dari 27 negara anggota Uni Eropa—yang hingga kini masih terpecah dalam menyikapi langkah terhadap Israel. “Saya sadar akan sulit menemukan suara mayoritas. Dan saya tahu bahwa tindakan apa pun akan terlalu berat bagi sebagian orang. Terlalu ringan bagi yang lain. Namun, kita semua harus memikul tanggung jawab kita sendiri,” tegasnya. Baca Juga : Dewan Keamanan PBB Desak Kirim Bantuan Darurat ke Gaza Gaza di Bawah Serangan Israel telah melancarkan serangan militer besar-besaran ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023, menyusul serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober tahun yang sama. Aksi balasan tersebut terus berlangsung hingga kini, dengan korban jiwa yang terus bertambah. Data terbaru mencatat, sejak Oktober 2023, setidaknya 64.605 orang tewas di Gaza, mayoritas adalah warga sipil. (***) Penulis: Satria S Pamungkas Editor: Toto Budiman & Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Pos-pos Pemukim Israel Cekik Kehidupan Warga Palestina di Tepi Barat

Tegal – 1miliarsantri.net : Di tengah terik musim panas, Farhan Ghawanmeh (33) seorang warga palestina berdiri di hadapan kandang-kandang kosong yang dulu berisi ratusan domba dan kambing. Kini hanya tersisa sepi, menyisakan bayang-bayang tentang komunitas Baduinya yang kian terancam punah. “Pos-pos terdepan pemukim Israel semakin dekat, semakin intens, semakin ganas, dan kami warga palestina semakin terkepung,” ujar Ghawanmeh, dikutip dari Al-Jazeera. Dulu, masyarakat di Ras Ein al-Auja, desa penggembala Badui di timur Tepi Barat, memiliki 24.000 ternak. Kini hanya sekitar 3.000 ekor yang tersisa. Serangkaian serangan, pencurian, hingga tekanan ekonomi membuat banyak warga palestina terpaksa menjual ternaknya. Dikepung Pos-pos Pemukim Israel Pada Agustus 2025 lalu, pemukim Israel membangun pos terdepan baru hanya 100 meter dari rumah-rumah warga. Desa dengan 900 penduduk ini kini terkepung di tiga sisinya. Sama seperti permukiman Israel lainnya di tanah Palestina, pos-pos itu ilegal menurut hukum internasional. Keluarga yang tinggal paling dekat bahkan berniat meninggalkan rumah karena takut anak-anak mereka menjadi korban kekerasan. Para pemukim datang setiap hari membawa ternak, meniru gaya hidup penggembala lokal, dan kerap dipimpin remaja di bawah 18 tahun. Posisi ini membuat warga Palestina serba salah—jika mereka melawan, bisa dituduh “menyerang anak-anak” dan berakhir ditangkap. “Yang kita alami saat ini adalah bencana,” lanjut Ghawanmeh. “Beralih dari mengakses lahan seluas 20.000 dunum menjadi tidak memiliki akses apa pun, dan dari memiliki sumber air gratis menjadi tidak memilikinya sama sekali, sungguh melumpuhkan.” Baca Juga : Setahun Konflik Palestina-Israel Telan 42.000 Korban Jiwa Kehidupan yang Diputus Paksa Ras Ein al-Auja dulu adalah komunitas penggembala terbesar di Area C, wilayah yang sepenuhnya dikontrol Israel. Mereka punya akses ke mata air subur Wadi al-Auja, hingga akhirnya pemukim melarang warga menggunakannya tahun lalu. Tentara Israel, kata warga, membiarkan pemukim menutup akses tersebut. Kini, listrik dan air hanya ada sebatas harapan. Kabel listrik yang dipasang swadaya bersama lembaga kemanusiaan pun kerap diputus “lima atau enam kali seminggu,” jelas Ghawanmeh. Makanan membusuk di lemari es, ternak tak bisa lagi digembalakan, dan warga dipaksa membeli air serta pakan dengan biaya besar. Ibrahim Kaabneh (35), misalnya, kini hanya punya 40 ekor domba dan kambing dari 250 yang dulu ia miliki. “Bahkan ternak yang masih kami miliki pun, kami merasa seperti bukan milik kami. Kapan saja, mereka bisa dicuri. Kapan saja, mereka bisa diserang,” katanya. Baca Juga : Standar Ganda di Gaza Jadi Lampu Hijau Lanjutkan Genosida Hidup dalam Ketakutan Jalan masuk ke desa, yang dulunya dibangun dengan dana Amerika Serikat, kini dijaga blok beton bergambar bendera Israel. Warga harus melewati pelecehan setiap kali keluar masuk desa. “Begitu kita keluar rumah, rasanya seperti kita melakukan sesuatu yang salah atau ilegal,” kata Ghawanmeh. “Anak-anak, perempuan, dan semua orang di sini selalu berada dalam ketakutan.” Kaabneh menambahkan, ia sulit tidur karena ancaman serangan pemukim. Perempuan dan anak-anak kini membatasi diri, jarang keluar rumah lebih dari satu atau dua jam. Baca Juga : Israel kuasai Kota Gaza Ancaman Pengungsian Massal Menurut data PBB, dalam enam bulan pertama 2025 saja tercatat 759 serangan pemukim terhadap warga Palestina, angka yang diperkirakan memecahkan rekor tahun 2024. Para aktivis melihat pola yang jelas: pos-pos pemukim sengaja dibangun di dekat desa-desa Palestina untuk menciptakan “kontiguitas Yahudi” dan memaksa warga pergi. Dror Etkes, pendiri LSM Israel Kerem Navot, menyebut, “Sangat jelas bahwa tujuan utama mereka adalah memaksa warga Palestina ke wilayah yang sudah dibangun dan menghancurkan budaya serta gaya hidup penggembalaan di Tepi Barat.” Bagi warga, ancaman itu nyata. “Ini bukan soal apakah kami ingin pergi atau tidak,” kata Kaabneh. “Sekalipun kami pergi, kami tetap akan menghadapi serangan. Tidak ada tempat yang aman di Tepi Barat.” Jeritan dari Tanah Tercekik Sliman Ghawanmeh, saudara Farhan, menegaskan bahwa warga membutuhkan perlindungan internasional. “Saya sudah di sini selama 43 tahun. Saya lahir di sini. Tidak ada pemukim di sekitar sini. Dan sekarang, seorang anak datang dari Eropa dan mengancam saya untuk meninggalkan rumah saya dalam 24 jam. Siapa kamu?” ujarnya geram. “Beginilah status quo,” pungkasnya. “Kita tak punya apa-apa selain nyawa, dan kini nyawa pun terancam.”(***) Penulis: Satria S Pamungkas Editor: Toto Budiman & Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Gempa Guncang Pulau Sumba NTT, Getaran Dirasakan Hingga NTB

Gempa Bumi Darat Mengguncang Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur Sumba Tengah, NTT – 1miliarsantri.net: Gempa bumi dengan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah Waibakul, Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis dini hari, 24 September 2025. Berdasarkan informasi dari InaTEWS BMKG, gempa bumi terjadi pada pukul 02:54:43 WIB dengan pusat gempa berada di darat. Guncangan gempa dirasakan dibeberapa wilayah, catatan InaTEWS, gempa dirasakan di Waikabubak, Waibakul, Waingapu, Tambolaka, Kota Bima dan Sumbawa. Laporan kejadian gempa bumi yang terjadi dengan pusat gempa 13 km Waibakul, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur juga dirasaka di Nusa Tenggara Barat, dikutip dari kanal Telegram InaTEWS_BMKG. Detail Gempa Bumi Sumba, NTT BMKG mencatat, gempa ini berpusat di darat, tepatnya 13 km timur laut Waibakul dengan kedalaman 34 km. Hingga berta ini diturunkan, belum ada laporan terkait korban jiwa maupun kerusakan yang ditimbulkan gempa bumi darat dengan skala 5,1 magnitudo di wilayah Sumba Tengah Nusa Tenggara Timur. Ikuti info lebih lanjut melalui laman BMKG.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Foto ; Tangkapan layar InaTEWS-BMKG

Read More

Pesantren Go International: Langkah Menag RI Gagas Madrasah Berstandar Cambridge di Tangerang

Tegal – 1miliarsantri.net : Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan pesantren di Indonesia. Salah satu langkah strategis yang sedang digagas adalah pengembangan madrasah berstandar internasional di Pondok Pesantren Al Ikhlas Assalam, Tangerang. Pesantren ini ditargetkan mengadopsi kurikulum Cambridge sehingga santri dapat memperoleh standar mutu global yang diakui dunia. Menurut Menag, penerapan kurikulum internasional sangat penting agar para santri memiliki daya saing di kancah global. Dengan sistem pendidikan berstandar Cambridge, lulusan pesantren diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga siap melanjutkan pendidikan ke berbagai universitas mancanegara tanpa terkendala bahasa maupun standar akademik. “Nantinya Madrasah Aliyah di sini akan berstandar Cambridge, sehingga santri tidak perlu lagi jauh-jauh tes bahasa Inggris hanya untuk sekolah ke luar negeri,” kata Menag, Selasa (2/9/2025), dikutip dari laman resmi Kemenag. Membawa Pesantren ke Kancah Global Langkah ini bukan sekadar menghadirkan label internasional, melainkan upaya strategis agar pesantren bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Di era globalisasi, kemampuan bahasa asing, penguasaan sains, serta akses pada pendidikan tinggi dunia menjadi kebutuhan mendesak. Menurut Menag, santri tidak boleh lagi dipandang hanya menguasai kitab kuning atau ilmu agama semata, tetapi juga harus mampu bersaing dengan pelajar dari berbagai belahan dunia. Dengan adanya kurikulum Cambridge, lulusan pesantren bisa lebih mudah mendapatkan pengakuan internasional. Hal ini sekaligus menjawab keresahan sebagian orang tua yang menginginkan anaknya bersekolah di pesantren, tetapi tetap memiliki peluang besar untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Baca Juga : Bantuan operasional Kemenag 2025 Perbedaan Madrasah dan Sekolah  Umum Dalam sambutannya, Menag juga menjelaskan perbedaan mendasar antara madrasah dan sekolah umum. Baginya, madrasah memiliki ruh spiritual yang tidak dimiliki sekolah biasa. Ia menambahkan, para guru madrasah biasanya selalu memulai pembelajaran dengan doa, salat sunnah, membaca Al-Fatihah, serta meluruskan niat agar ilmu yang diberikan membawa keberkahan. Tradisi ini menjadi ciri khas pendidikan madrasah yang membedakannya dari sekolah umum. Menteri Agama juga menepis anggapan bahwa lulusan madrasah kalah bersaing dengan siswa sekolah umum. Ia menyebutkan, banyak contoh nyata santri yang justru berhasil menorehkan prestasi gemilang di berbagai perguruan tinggi ternama. Fakta ini menurut Menag menunjukkan bahwa pendidikan berbasis madrasah tidak hanya menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, tetapi juga berprestasi akademik. Kehadiran Pondok Pesantren Al Ikhlas Assalam di Tangerang diharapkan menjadi pusat kaderisasi generasi yang berilmu dan berakhlak. Menag bahkan menyebut, pesantren ini akan membuka akses pendidikan yang lebih inklusif dengan memberikan subsidi biaya bagi santri yang kurang mampu. Selain itu, ia menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam menjaga moralitas bangsa. “Kehadiran pesantren ini adalah tiang penyangga langit. Selama masih ada orang yang berdzikir, la ilaha illallah, maka langit tidak akan runtuh. Mari kita perbanyak wirid dan doa agar anak-anak kita sukses dunia dan akhirat,” pungkasnya. Pesantren Sebagai Penyangga Peradaban Jika ditarik lebih jauh, gagasan ini sejalan dengan peran historis pesantren di Indonesia. Pesantren sejak dulu bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat peradaban, dakwah, dan perjuangan sosial. Kini, dengan adanya inovasi kurikulum internasional, pesantren dapat tampil lebih modern tanpa kehilangan jati diri. Kolaborasi antara kurikulum agama dan kurikulum Cambridge bisa menjadi model pendidikan ideal. Santri akan mendapatkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. Mereka tidak hanya siap menjadi akademisi atau profesional, tetapi juga pemimpin yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Baca Juga : Kemenag Resmikan UIN Siber Syekh Nurjati Menatap Masa Depan Pendidikan Pesantren Gagasan Menag ini sekaligus membuka ruang diskusi lebih luas: bagaimana pesantren bisa terus relevan dengan tantangan zaman? Apakah mungkin pesantren berstandar internasional akan menjadi tren baru di Indonesia? Dan bagaimana memastikan bahwa santri tetap mendapatkan pendidikan agama yang kuat, meskipun belajar dengan standar global? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk dijawab bersama, karena masa depan pendidikan Islam tidak bisa hanya bergantung pada tradisi, melainkan juga harus adaptif terhadap perubahan dunia. Dengan visi besar yang disampaikan Menag Nasaruddin Umar, publik tentu berharap agar program ini tidak sekadar wacana, tetapi benar-benar terealisasi. Jika berhasil, Ponpes Al Ikhlas Assalam bisa menjadi role model bagi pesantren lain di Indonesia untuk naik kelas ke level internasional. (***) Penulis: Satria S Pamungkas Editor: Toto Budiman & Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Jurang Dalam Ketimpangan Sosial Nepal: Dari Flexing Anak Nepo hingga Amarah di Jalanan

Tegal – 1miliarsantri.net : Di tengah kondisi ekonomi yang masih serba sulit, generasi muda Nepal kini semakin geram dengan gaya hidup mewah keluarga pejabat dan politisi. Fenomena flexing alias pamer harta yang dilakukan anak-anak elite politik menjadi salah satu pemicu gelombang protes besar di negara pegunungan Himalaya itu. Di media sosial, istilah “anak-anak nepo”  Nepal plesetan dari nepotisme  mendadak viral beberapa pekan sebelum demonstrasi Senin lalu (08/09). Istilah ini ditujukan pada anak-anak pejabat tinggi dan menteri yang hobi pamer barang mewah di TikTok maupun Instagram. Para politisi Nepal sebenarnya sudah lama dituding korupsi, tidak transparan dalam penggunaan dana publik, dan menikmati gaya hidup yang jauh dari wajar jika dibandingkan dengan gaji resmi mereka. Kecurigaan itu semakin kuat ketika muncul berbagai video yang memperlihatkan kerabat pejabat bepergian dengan mobil mahal, nongkrong di restoran kelas atas, atau berpose dengan merek fesyen desainer internasional. “Kini memamerkan gaya hidup mewah layaknya tokoh mapan,” ujarnya kepada Al Jazeera, dikutip dari international.sindonews.com, Kamis (11/9/2025). Tak heran bila para demonstran menuntut dibentuknya komisi investigasi khusus untuk menelusuri harta kekayaan para politisi. Bagi publik, hal ini bukan sekadar soal pamer harta, tetapi simbol dari masalah yang lebih besar: korupsi dan kesenjangan ekonomi. Baca Juga : demo buruh di depan istana negara RI Warisan Feodalisme dan Ketimpangan Lama Menurut Dipesh Karki, asisten profesor di Universitas Kathmandu, fenomena ini tak bisa dilepaskan dari sejarah Nepal sebagai masyarakat feodal yang baru dua dekade lalu meninggalkan sistem monarki. “Sepanjang sejarah, mereka yang berkuasa memegang kendali atas sumber daya dan kekayaan bangsa, yang mengakibatkan apa yang bisa kita sebut sebagai perebutan kekuasaan oleh elit,” ujarnya. Video yang beredar di TikTok makin menambah bara kemarahan publik. Salah satunya menampilkan Sayuj Parajuli, putra mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal Gopal Parajuli, sedang berpose dengan mobil dan jam tangan mewah. Video lain memperlihatkan Saugat Thapa, anak Menteri Hukum dan Urusan Parlemen Bindu Kumar Thapa, sedang asyik di restoran mahal. Menurut Karki, tak mengherankan jika kesenjangan makin terasa. Sebab kekayaan, bisnis perkotaan, hingga kesempatan pendidikan sebagian besar terkonsentrasi di kalangan keluarga elit Nepal, terutama mereka yang memiliki koneksi politik. Baca Juga : PBB Desak Indonesia, Terkait Dugaan Pelanggaran HAM Saat Demo Realitas Ekonomi: Hidup Susah di Negeri Sendiri Kontras dengan kemewahan elite, kondisi rakyat justru sebaliknya. Pendapatan per kapita Nepal hanya sekitar USD 1.400 per tahun, salah satu yang terendah di Asia Selatan. Tingkat kemiskinan masih di atas 20 persen, sementara pengangguran pemuda mencapai 32,6 persen pada 2024, jauh lebih tinggi dibandingkan India yang hanya 23,5 persen Tak heran banyak warga Nepal memilih mencari nafkah ke luar negeri. Pada 2021, sekitar 7,5 persen populasi tinggal di luar negeri, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan India (1 persen) dan Pakistan (3,2 persen). Perekonomian Nepal bahkan sangat bergantung pada remitansi: pada 2024, uang kiriman pekerja migran mencapai 33,1 persen dari PDB, salah satu yang tertinggi di dunia. “Kenyataan pahitnya adalah sebagian besar penduduk miskin berada di luar Nepal, mengirimkan remitansi ke Nepal,” jelas Karki. Sementara itu, kepemilikan tanah tetap timpang. Menurut Karki, 10 persen rumah tangga teratas memiliki lebih dari 40 persen tanah. Di sisi lain, sebagian besar penduduk miskin perdesaan Nepal justru tidak memiliki tanah sama sekali. (***) Penulis: Satria S Pamungkas Editor: Toto Budiman & Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Kasidah Nusantara Makin Bergaung, Ini 6 Grup Terbaik Pilihan Kemenag 2025

Tegal – 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) kembali menghadirkan kabar gembira bagi pecinta musik kasidah. Dari 32 provinsi yang ikut serta dalam ajang Festival Seni Budaya Islam 2025, kini telah terpilih enam grup terbaik tingkat nasional. Mereka akan tampil di panggung bergengsi Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) Nasional XXVIII yang berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 13–16 Oktober 2025. Adapun keenam grup tersebut adalah: Bismillah (Bali), El-Lazka (Jawa Barat), Hidayatul Insan (Kalimantan Tengah), Kabupaten Tangerang (Banten), MAN Satoe Voice (Jawa Timur), dan Syaf An-Nur (Sumatra Utara). Seleksi dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat provinsi hingga nasional, pada 4–8 September 2025 lalu. Kasidah Sebagai Wajah Islam yang Sejuk Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menegaskan bahwa festival kasidah tidak semata-mata ajang kompetisi. Menurutnya, kasidah adalah bagian dari pelestarian seni budaya Islam Nusantara yang sarat dengan nilai dakwah. “Kami ingin menghadirkan kasidah sebagai garda terdepan syiar Islam yang menyejukkan serta membangun harmoni,” ujarnya di Jakarta, Rabu (10/9/2025). Dalam proses seleksi, para juri menilai berbagai aspek, mulai dari kualitas vokal, kreativitas aransemen musik, penguasaan panggung, hingga adab peserta. Zayadi menegaskan, objektivitas penilaian dijaga melalui koordinasi intensif antarjuri. Ia juga melihat festival ini sebagai ruang apresiasi seni sekaligus sarana edukasi. “Setiap penampilan adalah kontribusi penting dalam memperkaya khazanah seni budaya Islam di Indonesia,” tambahnya. Baca juga : kurikulum cinta Kemenag Kekayaan Warna Kasidah dari Berbagai Daerah Zayadi menyoroti betapa uniknya setiap provinsi dalam menampilkan kasidah. Ada nuansa berbeda yang muncul dari latar budaya masing-masing daerah, menjadikan festival semakin berwarna. Menurutnya, keberagaman ini bukan hanya hiburan, tetapi juga bahan pembelajaran lintas daerah. “Peserta seleksi ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari lembaga pendidikan, komunitas seni, hingga instansi pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa kasidah bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pendidikan dan dakwah,” jelasnya. Tidak Sekadar Seni, Tapi Juga Pesan Moral Kepala Subdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam, Wida Sukmawati, menambahkan bahwa peran peserta dari 26 provinsi lain juga tak bisa diabaikan. Menurutnya, mereka telah memperkaya festival dengan karya kasidah yang penuh nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan. “Kami berharap setiap penampilan tidak hanya memukau dari segi seni, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat dalam menebarkan kebaikan dan nilai-nilai Islami,” ujarnya. Wida menekankan pentingnya sinergi lintas generasi. Grup kasidah yang digawangi anak muda bekerja sama dengan para seniman berpengalaman demi menjaga kualitas sekaligus keberlanjutan tradisi. Menurutnya, aspek adab dan etika penampilan mendapat perhatian serius dari juri, sebab hal itu sama pentingnya dengan suara maupun aransemen musik. “Hal ini bertujuan agar pesan yang disampaikan lebih menyentuh dan membangun karakter audiens,” tambahnya. Lebih jauh, Wida menyampaikan harapannya agar gema kasidah bisa melampaui batas nasional. “Melalui kasidah, nilai-nilai moral dan spiritual dapat tersampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh hati masyarakat, sebagai simbol Islam yang damai, sejuk, dan harmonis,” katanya. Baca Juga : Bantuan operasional Kemenag 2025 Panggung Besar di Kendari Puncak Festival Seni Budaya Islam 2025 di Kendari nanti akan mengusung tema “Kasidah Kolaborasi.” Konsep ini memadukan harmoni musik, kreativitas, dan semangat kebersamaan dalam satu panggung. Kemenag sengaja merancangnya agar mampu menarik perhatian generasi muda, terutama milenial dan Gen Z, yang kini lebih akrab dengan musik modern. Melalui kasidah, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari perjalanan budaya Islam Nusantara. Perpaduan tradisi dengan sentuhan kekinian menjadi cara efektif untuk menjaga agar seni kasidah tetap hidup dan relevan di tengah arus globalisasi. Festival ini pun bukan hanya perayaan seni, melainkan juga ruang silaturahmi nasional. Dari Bali hingga Sumatra Utara, dari Banten hingga Kalimantan, semua bertemu dalam satu panggung kasidah yang penuh syiar kebaikan. Pertanyaannya, dari enam nama yang sudah terpilih, mana yang jadi favoritmu? Kasidah Nusantara yang kian bergaung melalui ajang pemilihan enam grup terbaik pilihan Kemenag 2025 menjadi bukti bahwa seni bernuansa religius ini tetap relevan dan dicintai masyarakat. Lebih dari sekadar hiburan, kasidah adalah medium dakwah, pengikat silaturahmi, sekaligus cerminan identitas budaya bangsa. (**) Penulis: Satria S Pamungkas Editor: Toto Budiman & Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More
Paspor

Lagi Jalan-jalan? Awas! Jangan Sampai Paspor Ada di Koper Kabin, Ini Alasannya!

Bandung 1Miliarsantri.net – Paspor adalah dokumen paling penting saat bepergian ke luar negeri. Tanpa paspor, seorang traveler bisa kesulitan melewati imigrasi, bahkan terancam ditolak masuk ke negara tujuan. Karena itu, menyimpan paspor dengan aman adalah hal yang wajib diperhatikan setiap Muslim yang melakukan safar. Banyak orang beranggapan aman-aman saja menyimpan paspor di koper kabin. Padahal, pakar perjalanan menegaskan bahwa itu kesalahan besar. Apalagi bila koper kabin harus dititipkan di bagasi mendadak (gate-check) karena aturan maskapai. Lalu, apa bahayanya dan bagaimana sebaiknya Muslim traveler menyikapinya? Yuk, kita cari tahu bersama melalui penjelasan di bawah ini! 1. Risiko Tertahan di Imigrasi Proses imigrasi biasanya dilakukan sebelum penumpang bertemu kembali dengan bagasi. Jika paspor berada di koper kabin yang dititipkan, Anda bisa ditolak masuk, dikenai denda, atau kehilangan penerbangan lanjutan. Dalam Islam, safar bukan sekadar perjalanan, tapi juga amanah. Menjaga dokumen penting seperti paspor berarti menjaga amanah agar perjalanan tetap lancar dan bernilai ibadah. Baca juga: Meningkatnya Perceraian, Benarkah Menikah Itu Menakutkan atau Jalan Terbaik Untuk Ibadah? 2. Ancaman Kehilangan & Pencurian Meski jarang disadari, pencurian di dalam pesawat memang terjadi. Jika koper kabin disimpan jauh dari pandangan, risiko kehilangan meningkat. Bahkan yang lebih sering terjadi adalah lupa mengambil barang di kabin karena terburu-buru. Paspor adalah tanggungan pribadi kita yang wajib dijaga. 3. Menghindari Masalah Biaya & Waktu Kehilangan paspor bukan hanya memakan biaya besar untuk mengganti, tapi juga memerlukan waktu panjang untuk mengurus dokumen baru. Dalam perjalanan, hal ini bisa merusak tujuan safar, baik itu untuk ibadah, bisnis, maupun wisata. Menaruh paspor di tempat aman adalah bentuk ikhtiar untuk menghindari mudarat. Baca juga: Memasak jadi Ibadah? Yuk Terapin Halal Home Cooking dari Sekarang! 4. Simpan Paspor Dekat dengan Diri Solusi paling aman adalah menyimpan paspor di tas kecil yang selalu melekat di tubuh, misalnya sling bag, belt bag, atau tas selempang dengan resleting. Jangan letakkan di saku terbuka. Dengan begitu, paspor mudah dijangkau saat melewati pemeriksaan, naik pesawat, atau di pos imigrasi. Ini sesuai dengan ajaran Islam tentang ihtiyath (kehati-hatian), agar sesuatu yang penting tidak hilang atau merugikan. Perjalanan seorang Muslim seharusnya tidak hanya aman secara fisik, tapi juga memberi ketenangan batin. Dengan menjaga paspor di tempat yang benar, kita bukan hanya menghindari masalah teknis, tetapi juga menjaga nilai safar sebagai ibadah yang diridhai Allah SWT. Semoga bermanfaat! Penulis : Zeta Zahid Yassa Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi sumber : https://www.travelandleisure.com/why-you-should-never-put-your-passport-in-your-carry-on-11752877

Read More

Ulama Nusantara yang Berpengaruh, Tapi Jarang Dibahas di Sekolah

Bogor – 1miliarsantri.net : Saat berbicara tentang ulama besar dalam sejarah Islam, banyak dari kita langsung teringat pada nama-nama dari Timur Tengah seperti Imam Syafi’i, Imam Bukhari, atau Ibnu Sina. Padahal, di Nusantara sendiri ada banyak ulama besar yang pengaruhnya sangat kuat, baik dalam bidang dakwah, pendidikan, politik, hingga budaya. Namun jarang dibahas secara mendalam dalam kurikulum sekolah formal. Mereka adalah para ulama yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga berjuang melawan penjajahan, membangun masyarakat, hingga merumuskan gagasan pendidikan dan kebudayaan. Dengan mengulas kembali kiprah mereka, masyarakat akan memahami bahwa sejarah bangsa tidak hanya dipenuhi dengan tokoh politik dan pahlawan perang, tetapi juga dengan ulama-ulama visioner yang kontribusinya sangat besar bagi lahirnya Indonesia yang berdaulat, religius, dan berbudaya. Mengenal kembali sosok-sosok ini penting. Selain memperluas wawasan sejarah, juga membangkitkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa yang memiliki jejak keilmuan Islam yang sangat kaya. Mengapa Ulama Lokal Kurang Diangkat dalam Pembelajaran? Salah satu alasan mengapa banyak ulama Nusantara “terlupakan” adalah karena narasi sejarah yang cenderung sentralistik dan kurang memberi ruang pada tokoh lokal. Selain itu, keterbatasan referensi dan kurangnya minat baca sejarah juga membuat nama-nama mereka tidak sepopuler tokoh-tokoh luar negeri. Padahal, kontribusi mereka luar biasa dalam menyebarkan Islam yang ramah, membaur dengan budaya lokal, dan relevan dengan konteks masyarakat saat itu bahkan hingga kini. Beberapa Ulama Nusantara yang Layak Dikenal 1. Syekh Yusuf Al-Makassari (Makassar, Sulawesi Selatan) Beliau adalah tokoh ulama dan pejuang anti-kolonial yang dihormati tidak hanya di Indonesia, tapi juga Afrika Selatan. Ia dikenal sebagai ulama sufi yang juga menulis banyak karya spiritual dan sosial-politik. 2. Syekh Nawawi Al-Bantani (Banten) Dikenal sebagai “Imam Masjidil Haram” asal Nusantara karena pernah menjadi pengajar tetap di Makkah. Karyanya dalam bidang tafsir, fikih, dan tasawuf menjadi rujukan ulama dunia Islam hingga saat ini. 3. Tuanku Imam Bonjol (Sumatera Barat) Selain sebagai pemimpin perang Padri, beliau juga dikenal sebagai ulama reformis yang ingin memurnikan ajaran Islam dari praktik menyimpang. Ia memperjuangkan pembaruan agama berbasis pemahaman yang mendalam. 4. KH Ahmad Dahlan & KH Hasyim Asy’ari Dua nama besar ini dikenal sebagai pendiri organisasi besar: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kontribusi mereka sangat besar dalam pendidikan dan pemikiran Islam di Indonesia, namun kadang dibahas hanya sebatas “nama besar” tanpa menggali ajaran dan perjuangannya. Baca Juga : Kisah KH Miftachul Akhyar Jadi Ulama Besar Ulama dan Pendidikan: Warisan Nyata Salah satu warisan terbesar para ulama Nusantara adalah sistem pendidikan pesantren. Di sinilah lahir ribuan santri, kader ulama, bahkan tokoh-tokoh pergerakan nasional. Sistem ini membuktikan bahwa ulama bukan hanya tokoh agama, tapi juga pendidik, pemikir, dan pemimpin sosial. Namun, sejarah besar ini sering kali luput dalam pelajaran sekolah. Kurikulum jarang menggambarkan kontribusi ulama sebagai bagian dari pembangunan bangsa secara utuh. Baca Juga : perjuangan santri dan ulama Pentingnya Reinterpretasi Sejarah Mengingat kembali ulama Nusantara bukan sekadar nostalgia. Ini adalah bagian dari jihad intelektual, membangun kesadaran sejarah yang utuh dan adil. Generasi muda perlu tahu bahwa Islam di Indonesia berkembang melalui pendekatan damai, adaptif, dan penuh kebijaksanaan, bukan dengan kekerasan atau pemaksaan. Membicarakan ulama Nusantara adalah membicarakan akar kita sendiri. Mereka adalah pilar penting dalam perkembangan Islam di Indonesia. Dengan mengenal mereka lebih dekat, kita bukan hanya belajar sejarah, tapi juga belajar tentang keteladanan, keilmuan, dan semangat perjuangan yang tak lekang oleh waktu. Sudah saatnya sekolah-sekolah, media, dan komunitas Muslim lebih banyak mengangkat sosok-sosok ini. Karena menghormati ulama adalah bagian dari mencintai ilmu dan merawat jati diri bangsa. Ulama Nusantara yang jarang dibahas di sekolah sejatinya menyimpan lautan ilmu, perjuangan, dan keteladanan yang bisa menjadi cermin bagi generasi muda. Mereka bukan hanya penjaga agama, tetapi juga pejuang peradaban yang mengajarkan kemandirian, toleransi, dan cinta tanah air. Mengangkat kembali kisah-kisah mereka berarti menghidupkan warisan luhur yang selama ini terpendam, agar cahaya perjuangan mereka terus menerangi langkah bangsa. Semoga generasi sekarang mampu meneladani semangat itu, menjadikannya bekal untuk membangun Indonesia yang bermartabat, berilmu, dan berakhlak mulia. (***) Penulis: Salwa Widfa Utami Editor : Iffah Faridatul Hasanah Foto Ilustrasi AI

Read More