Tersesat dalam Swipe: Dampak Konten Islami di Era Media Sosial

Dengarkan Artikel Ini

Dulu, ruang untuk bertafakur dan berdzikir sangat penting. Keheningan menjadi bagian dari ibadah. Hari ini, setiap ibadah bisa jadi konten. Tahajud difoto, sedekah direkam, ngaji ditayangkan langsung. Ruang pribadi spiritual berubah menjadi panggung publik.

Fulan mulai merasa kehilangan waktu untuk benar-benar sendiri dengan Allah. Bahkan momen menangis dalam doa pun tergoda untuk diabadikan. Sunyi itu hilang. Ia hanya ada dalam swipe, bukan dalam sujud.

Semakin banyak konten Islami yang ia konsumsi, semakin ia merasa tidak cukup baik. Ia tahu batas halal-haram, tapi tetap tergelincir. Ia tahu pentingnya shalat tepat waktu, tapi masih menunda. Ia tahu banyak, tapi hanya sebatas pengetahuan, bukan penghayatan.

Di sinilah muncul kelelahan spiritual generasi Muslim digital. Mereka kenyang informasi tapi lapar makna. Mereka haus hidayah, tapi dipenuhi perbandingan sosial. Semangat hijrah tanpa pembimbing atau komunitas sehat bisa menjelma jadi tekanan mental.

Suatu malam, Fulan mencoba hal sederhana. Ia mematikan ponsel. Tidak membuka TikTok, tidak menonton konten dakwah. Ia hanya duduk, shalat, dzikir perlahan. Tanpa interupsi, tanpa notifikasi.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca