Tersesat dalam Swipe: Dampak Konten Islami di Era Media Sosial

Dengarkan Artikel Ini

Selain itu, banyak akun dakwah di media sosial juga merangkap sebagai kanal jualan. Setelah video tentang zuhud, muncul iklan mukena. Setelah ceramah kematian, muncul promosi gamis. Dakwah dan komersial bercampur tanpa batas. Platform seperti TikTok dan Instagram bekerja dengan algoritma: yang viral lebih diprioritaskan daripada yang mendidik. Hal ini mengaburkan niat. Apakah dakwah itu karena Allah atau untuk branding pribadi?

Sebagai penonton, Fulan merasa perlu tampil Islami. Ia menyukai dan membagikan video dakwah. Ia merasa bersalah jika tidak menyapa konten hijrah. Tapi semua itu hanya di layar. Di baliknya, ia masih menunda salat, kesulitan menjaga lisan, dan tetap merasa jauh dari Allah.

Inilah bentuk keimanan performatif. Kita sibuk membangun citra Islami di media sosial, tapi lupa membangun hubungan batin dengan Tuhan. Padahal, dalam Islam, amal terbaik justru yang dilakukan diam-diam, tanpa sorotan.

Sunyi yang Hilang dan Ibadah yang Terpeleset Jadi Konten


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca