Tersesat dalam Swipe: Dampak Konten Islami di Era Media Sosial

Surabaya – 1miliarsantri.net : Setiap pagi, Fulan, 26 tahun, seorang karyawan swasta di Surabaya, membuka TikTok sebelum sarapan. Niatnya sederhana: mencari pencerahan lima menit sebelum kerja dimulai. Namun dalam waktu kurang dari setengah jam, ia sudah melewati ceramah pendek tentang surga, video sedekah dengan backsound dramatis, potongan debat agama yang memanas, hingga influencer hijrah yang mempromosikan parfum sunnah sambil memperlihatkan isi kamar estetiknya. Fulan menutup ponselnya dengan hati yang tidak lebih tenang dari sebelumnya, justru lebih bising. Kemudian memulai harinya bukan dengan dzikir pagi di atas sajadah, tetapi dengan membuka Instagram dan TikTok. Ia mengikuti puluhan akun bertema dakwah. Video pendek yang menampilkan kutipan ulama, peringatan kematian, atau ajakan hijrah membanjiri gawainya. Namun bukan ketenangan yang ia dapat, melainkan rasa cemas. Ia bertanya dalam hati, “Kenapa aku tahu banyak, tapi tetap merasa jauh dari Allah?” Di era digital saat ini, konten Islami viral menjadi bagian dari rutinitas harian. Estetika pastel, potongan ayat Al-Qur’an, backsound sendu, dan video 30 detik dianggap cukup untuk memotivasi keimanan. Tapi dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu dibangun lewat proses panjang, ada adab dalam menuntut ilmu, ada guru, musyawarah, dan penghayatan makna. Sayangnya, banyaknya konten Islami justru bisa menipu. Kita merasa tahu banyak karena sering terpapar, padahal tidak benar-benar belajar. Akibatnya, muncul generasi yang kenyang secara visual, tapi lapar dalam pemahaman. Dalam dunia konten, ‘kecepatan’ lebih penting daripada ‘ketepatan’. Potongan ceramah bisa diedit dan disebar tanpa konteks, menghasilkan “kebenaran instan” yang menyesatkan. Fulan pernah membagikan video seorang ustaz yang mengharamkan aktivitas tertentu, hanya untuk mengetahui belakangan bahwa video itu dipelintir konteksnya dan telah disanggah oleh sang ustaz. Fenomena ini mirip dengan “fast-food Islam”: cepat dikonsumsi, mudah dicerna, tapi miskin gizi keilmuan. Layaknya junk food, jika dikonsumsi terus tanpa bimbingan, justru membahayakan. Selain itu, banyak akun dakwah di media sosial juga merangkap sebagai kanal jualan. Setelah video tentang zuhud, muncul iklan mukena. Setelah ceramah kematian, muncul promosi gamis. Dakwah dan komersial bercampur tanpa batas. Platform seperti TikTok dan Instagram bekerja dengan algoritma: yang viral lebih diprioritaskan daripada yang mendidik. Hal ini mengaburkan niat. Apakah dakwah itu karena Allah atau untuk branding pribadi? Sebagai penonton, Fulan merasa perlu tampil Islami. Ia menyukai dan membagikan video dakwah. Ia merasa bersalah jika tidak menyapa konten hijrah. Tapi semua itu hanya di layar. Di baliknya, ia masih menunda salat, kesulitan menjaga lisan, dan tetap merasa jauh dari Allah. Inilah bentuk keimanan performatif. Kita sibuk membangun citra Islami di media sosial, tapi lupa membangun hubungan batin dengan Tuhan. Padahal, dalam Islam, amal terbaik justru yang dilakukan diam-diam, tanpa sorotan. Sunyi yang Hilang dan Ibadah yang Terpeleset Jadi Konten

Read More