Kisah Inspiraf: Hilangkan Stres Saat Merawat Orang Tua Sakit degan Cara Self Care Agar Lebih Tegar dan Optimis

Merawat orang tua
Dengarkan Artikel Ini

Kalimat sederhana itu jika ditelaah secara  psikologis menumbuhkan positive reframing yaitu kemampuan melihat kebaikan dalam kesulitan. Inilah sabar sejati, bukan tanpa air mata, tapi tetap bersyukur meski mata basah.


 Allah sudah menegaskan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Sabar bukan berarti menahan emosi tanpa keluh, tapi kemampuan menerima dan tetap berbuat baik di tengah luka.

Rasa jenuh dan putus asa itu manusiawi. Dalam psikologi, berbagi cerita pada orang yang dipercaya adalah bentuk self-compassion, cara menenangkan diri lewat empati. Nabi Ayyub a.s. pun pernah mengeluh kepada Allah ketika diuji sakit:

 4. Bersedekah dan Melihat Hikmah dari Ujian

Ketika bapak sakit tak kunjung sembuh, aku teringat sabda Nabi:

“Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)

Di tahun 2022 penulis berinisiatif saat Idul Adha berkurban kambing di masjid terdekat sebagai ikhtiar untuk meringankan rasa sakit bapak dan sebagai bentuk ikhlas dalam menghadapi apapun ujian.

Namun menjelang akhir tahun 2022, bapak telah dipanggil oleh Allah. Dari Situ aku sadar bahwa dalam kesakitan tidak dijawab dengan kesembuhan melainkan dengan ketiadaan yang mengajari diri ini lebih ikhlas dan pasrah kepada Sang Pencipta.

Di saat diri masih trauma akan kehilangan bapak, 2 tahun kemudian Allah memberi hadiah dengan mengundang  aku dan ibu berangkat umrah melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Dari situ penulis menyakini bahwa Allah tidak pernah menutup pintu balasan bagi orang yang sabar dan ikhlas.

Sedekah tak hanya menolong orang lain, tapi juga menyehatkan jiwa. Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa memberi atau membantu orang lain memicu produksi dopamin dan serotonin (hormon kebahagiaan). Saat seseorang memberi dari hatinya, ia sesungguhnya sedang menyembuhkan diri.

Dari sisi spiritual, Allah menjanjikan bahwa setiap amal tidak akan sia-sia. Kadang Allah tidak langsung menyembuhkan, tapi menumbuhkan kekuatan hati. Dan saat badai itu berlalu, kita menyadari ternyata ujian itu bukan hukuman, tapi jalan pulang kepada-Nya.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca