Keutamaan Membaca Al Qur’an Ketika di Bulan Ramadhan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Umat Islam berbondong-bondong memperbanyak amal kebaikan pada bulan Ramadhan. Sebab di bulan ini segala amal pahalanya akan dilipatgandakan. Salah satu amal yang dianjurkan adalah membaca Alquran. Bagi umat yang beriman membaca kitab suci Alquran merupakan sebuah keharusan. Di dalam Alquran terkandung pedoman-pedoman hidup yang patut diambil pelajaran. Dan bagi yang membacanya juga akan mendapatkan pahala. Jika membaca pada bulan Ramadhan akan mendapatkan keutamaan yang besar. Apa itu? Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menjelaskan ada beberapa keutamaan membaca Alquran pada bulan Ramadhan. Pertama, Kiai Cholil mengatakan pada bulan Ramadhan terdapat momen sangat spesial dalam sejarah Alquran yakni kitab suci ini turun pada bulan Ramadhan. Kedua, posisi seseorang sedang dalam keadaan bersih. Ia mengatakan segala aktivitas baik pada bulan ini bermakna semata-mata karena Allah seperti lapar sebab berpuasa itu karena Allah. “Pada saat kita membaca firman Allah, kita sedang diajak bicara oleh Allah,” ungkap Kiai Cholil kepada 1miliarsantri.net, Kamis (7/3/2024). Kiai Cholil melanjutkan keutamaan ketiga tentang keutamaan membaca Alquran pada bulan Ramadhan karena pada bulan ini semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya hingga tak terbatas. Keistimewaan ini tidak ada di luar bulan Ramadhan.

Read More

Ketum MUI Ajak Umat Islam Jalankan dan Maksimalkan Ibadah di Bulan Ramadhan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ramadhan sebentar lagi akan tiba beberapa hari lagi. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, mengajak umat Islam memaksimalkan Ramadhan untuk beribadah baik yang wajib maupun sunnah. Kiai Anwar mengatakan Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT. “Allah telah menjanjikan maghfirah (ampunan), rahmat, berbagai kenikmatan yang akan diberikan pada umat Islam yang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah di bulan Ramadhan,” terangnya dalam Tarhib Ramadhan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Tarhib Ramadhan ini digelar Komisi Dakwah MUI sekaligus doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. Dalam kesempatan ini, Kiai Anwar mengatakan, umat Islam patut bersyukur kepada Allah SWT karena diberikan kesehatan dan kesempatan untuk beribadah. Kiai Anwar mengungkapkan, Ramadhan sebagai bulan ampunan merupakan cara Allah SWT membersihkan dosa-dosa dan kesalahan umat Islam. Menurutnya, setiap manusia tidak terlepas dari yang namanya dosa. Tetapi, kata Kiai Anwar Iskandar, sebesar apapun dosa yang dilakukan apabila menunaikan ibadah Ramadhan seperti puasa dengan ikhlas dan ridha karena Allah SWT, maka akan Allah SWT memberikan ampunannya. “Begitu selesai Idul Fitri, bersih lagi. Ini namanya bentuk rahmay dan kasih sayang Allah SWT kepada kita semua. Mudah-mudahan kita semua nanti dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan ikhlas,” ungkapnya. Oleh karena itu, Kiai Anwar menyampaikan, melalui Tarhib Ramadhan ini, MUI mengajak kepada seluruh umat Islam untuk mengisi Ramadhan dengan kebaikan-kebaikan. “Insya Allah Ramadhan yang akan datang sebentar lagi ini diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang ada di bulan Ramadhan baik wajib maupun sunnah,” ujarnya.

Read More

Apa Yang Dimaksud Hukum Dzarrah Sebagai Pengganti Hukum Karma

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Mungkin Anda pernah mendengar bahwa dalam Islam tidak ada istilah hukum karma. Meski begitu, Islam meyakini bahwa perbuatan manusia pasti akan menghasilkan balasan yang setimpal. Hal ini disebutkan dalam surat al-Zalzalah ayat 7 dan 8 di mana perbuatan baik atau buruk sekecil biji dzarrah pun akan mendapat balasan setimpal. Dalam Islam hal itu disebut sebagai hukum zaroh. Dzarrah merupakan bagian terkecil dari sesuatu yang dalam ilmu fisika disebut atom. Dalam surat tersebut, dijelaskan perilaku baik dan buruk akan mendapat balasan setimpal, tetapi itu bisa dibalas di dunia atau nanti di akhirat. Perilaku baik dan buruk ini bisa dilakukan manusia secara sadar atau bisa juga secara tidak disengaja. Agar menjaga sikap untuk tetap memiliki hubungan baik antarsesama manusia, Islam mengajarkan untuk mengendalikan sisi emosional. Karena segala tindakan yang mendahulukan emosional, pasti berakhir buruk. Islam mengajarkan bahwa manusia dilahirkan dengan karakter yang bersih tanpa dosa dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan orang lain. Sebab setiap diri hanya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, sehingga manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Pada saat yang sama, ada agama tertentu yang meyakini bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini adalah hasil dari kehidupan sebelumnya. Kita menerima karma buruk akibat perbuatan kita di kehidupan sebelumnya, meskipun kita tidak ingat bahwa kita berada di kehidupan sebelumnya atau apa yang telah kita lakukan sehingga pantas mendapatkan apa yang kita alami sekarang. Ada juga keyakinan lain bahwa manusia pertama membawa beban dosa. Karena dosanya, kita berada dalam kebobrokan. Kita berbuat dosa karena kita mewarisi sifat berdosa itu dari orang tua pertama kita yaitu Nabi Adam AS. Bahkan ada yang melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa ada dosa warisan yang membuat kita menderita hingga hari ini.

Read More

Jadikan Setiap Ramadhan Sebagai Ramadhan Terakhir Kita di Dunia

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sejak baligh, pernah kah berpikir sudah berapa kali kita sebagai umat Muslim menjalani puasa Ramadhan Dari Ramadhan ke Ramadhan, sudah berbekaskah ibadah kita? Atau hanya rutinitas atau formalitas saja untuk menggugurkan kewajiban menjalani rukun Islam ketiga ini. Agar tidak sia-sia ibadah Ramadhan kita dari tahun ke tahun, seiring dengan usia kita bertambah dan jatah hidup berkurang, ada baiknya kita muhasabah. Ujung dari muhasabah ini, setidaknya bertekad menjadikan Ramadhan tahun ini yang terakhir dalam hidup kita, agar kita bersungguh-sungguh dalam beribadah. Para sahabat Rasulullah Sholallohu’alahi wassalam (SAW), telah menyiapkan diri menghadapi bulan suci Ramadhan enam bulan sebelumnya. Artinya, setengah tahun setelah Idul Fitri, mereka para sahabat rodhiyallohuanhum (ra) sudah mempersiapkan diri akan bertemu bulan Ramadhan berikutnya. Bagaimana dengan kita yang hidup di zaman serba canggih serba mudah dan instan ini? Ketika masuk bulan Ramadhan, para sahabat Rasulullah SAW memasuki 10 hari terakhir semakin giat dan ekstra beribadah. Selain pahala puasa ditambah beribadah Ramadhan berlipat ganda, juga terdapat satu malam yang hanya ada di Bulan Ramadhan yakni Lailatul qodar (malam seribu bulan). Alquran Surah Al-Qadar (97): 1-5 artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada Lailatul qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” Di pengujung Ramadhan, sebagian besar umat Islam bergembira karena mendekati hari raya Idul Fitri, tapi tidak dengan mereka. Para sahabat ra menangis karena Ramadhan akan berlalu, meninggalkan umat Islam. Entah akan bertemu lagi atau tidak tahun depan. Tidak ada yang menjamin hal itu. Bukankah ada keluarga, sahabat, teman, dan kolega kita yang tidak berjumpa lagi Ramadhan tahun ini. Betapa istimewanya Ramadhan, Allah SWT berikan bonus ganjaran pahala yang berlipat ganda. Jika saja hamba-hamba-Nya tahu ganjaran tersebut, mereka akan berharap Ramadhan sepanjang tahun. Rasulullah SAW bersabda dari hadist diriwayatkan Abu Mas’ud Al Ghifari, “Kalaulah hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan, maka umatku pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramadhan,” (HR. Thabrani, Ibnu Khuzaiman, dan Baihaqi).

Read More

KH Miftachul Akhyar : Jadikan Ramadhan Sebagai Bulan Muhasabah dan Memohon Ampunan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengungkapkan beberapa amalan penting yang dapat dilakukan umat Islam dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Ramadhan dikenal dalam Islam dengan bulan yang sangat mulia, yang kedatangannya perlu disambut dengan persiapan yang maksimal. Di antara persiapan itu adalah membuang sikap tercela yang selama ini biasa dilakukan. Baik berupa perbuatan maupun ucapan, seperti sikap tidak jujur kepada sesama, menipu, berkata kotor, dan lain sebagainya. Demikian ini merupakan ikhtiar untuk memperoleh keutamaan-keutaman Ramadhan bila saatnya tiba. “Untuk bisa menyambut datangnya bulan Ramadhan mengambil semua bonus bonus yang dijanjikan dalam Ramadhan, tinggalkan perilaku-perilaku yang kemarin kurang bagus, ucapan-ucapan bohong, tipuan-tipuan bahkan omongan kosong pun tinggalkan,” ungkapnya kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (2/3/2024). Hal lain yang dapat dilakukan yaitu mulai membiasakan membaca Al-Qur’an secara rutin. Kebiasaan ini juga hendaknya terus dilanjutkan pada saat menjumpai bulan Ramadhan. Mengingat, bulan Ramadhan juga dikenal dengan bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), lantaran kitab suci umat Islam ini diturunkan pada bulan Ramadhan. “Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan bila perlu khatamkan Al-Qur’an berkali-kali, perbanyaklah shalat malam. Isi kekosongan waktu dengan hal-hal yang berguna,” sambung Kiai Miftach. Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini lebih jauh menyampaikan, amalan-amalan yang dia sebutkan itu tak lain sebagai salah satu upaya untuk memantaskan diri saat akan menemui bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat Allah. “Insyaallah ini bertanda di saat kita bisa melaksanakan dengan sempurna pertanda kita ini orang yang betul-betul menjadi insan kamil dalam batasan tertentu. Karena Ramadhan adalah bulan termulia dari sekian bulan, kita bisa menghormati dengan baik, maka kita pun akan menjadi manusia yang termulia,” terangnya.

Read More

Keistimewaan dan Keutamaan Mereka Yang Membaca dan Menghafalkan Al Qur’an

Surabaya — 1miliarsantri.net : Al-Qur’an adalah kitab suci yang mulia dan istimewa. Ia berisi berbagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Di dalamnya diungkapkan berbagai ilmu pengetahuan, dari dunia hingga akhirat. Selain itu, banyak keutamaan dan keagungan yang terdapat dalam Al-Qur’an, termasuk bagi orang yang membaca dan mengamalkannya. خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dari Usman bin Affan RA). Dalam Al-Quran surat Al Maidah, Allah berfirman; يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ. يَّهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ بِاِذْنِهٖ وَيَهْدِيْهِمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al-Ma’idah [5]: 15-16). Kemudian dalam ayat lainnya Allah berfirman; وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl [16]: 89). يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus [10]: 57).

Read More

Al-Qur’an dan Hadits Banyak Ajarkan Kesabaran Serta Berpikir Positif untuk Kesehatan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Al-Qur’an dan hadist banyak memberi contoh tentang keutamaan dari berpikir positif, tekun, dan optimistis saat menghadapi kesulitan. Kesabaran dan pandangan hidup yang positif dinilai sebagai dua alat penyembuh terhebat, benarkah demikian? Dalam surat Al-Baqarah ayat 155-157, Allah SWT berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ Arti: Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ Artinya: yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ Artinya: Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Merujuk temuan ilmu pengetahuan modern, rahmat ini seringkali datang dalam bentuk kesehatan. Seperti dikatakan Bernard Jensen, dalam bukunya The Science and Practice of Iridology, “Dokter zaman baru akan menyadari bahwa bengkel terpenting bagi manusia bukanlah tubuh fisik, namun pikiran yang mengendalikannya.” Ted M. Morter menegaskan hal ini dalam bukunya, Kesehatan Anda… Pilihan Anda, bahwa “pikiran negatif adalah penghasil asam nomor satu dalam tubuh (dan tingkat keasaman tubuh yang tinggi adalah penyebab utama penyakit)… karena Anda tubuh bereaksi terhadap tekanan mental dan emosional negatif yang disebabkan oleh pikiran dengan cara yang sama seperti bereaksi terhadap ancaman ‘nyata’ yang membahayakan fisik.” Sederhananya, pikiran negatif dan positif berasal dari otak. Karena itu, agar tubuh selalu sehat perlu untuk menjaga otak tetap stabil.

Read More

Wasilah dan Keutamaan Membaca Shalawat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita membahas ibadah dan ketakwaan, salah satu aspek yang sering kali diabaikan adalah peran penting membaca Shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Hukum membaca Shalawat sendiri dibagi menjadi dua, menjadi bagian wajib saat salat dan menjadi amalan sunah di luar waktu salat. Menyinggung urgensi membaca Shalawat, terdapat beberapa hadis yang mengajak umat Islam untuk memperbanyak pujian kepada Nabi SAW. Salah satu sabda Rasulullah SAW yang memotivasi kita adalah, مَن صلَّى علَيَّ صَلاةً واحِدةً صلَّى اللهُ عليه عَشْرَ صَلواتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطيئاتٍ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجاتٍ “Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapus darinya sepuluh dosa, dan ditinggikan baginya sepuluh derajat.” Dalam hadis lain disebutkan Nabi SAW bersabda, عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم. “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i). Kedua hadis di atas membawa makna mendalam yang mengajarkan kita betapa pentingnya mengisi hari-hari kita dengan mengucapkan Shalawat kepada Rasulullah SAW. Bukan hanya sebagai bentuk ketakwaan, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keberkahan dalam setiap langkah hidup. Semua tokoh ulama, guru ngaji senantiasa selalu mengajak bersama-sama untuk memperbanyak bacaan Shalawat kepada Rasulullah SAW, membentuk kebiasaan baik yang tidak hanya melengkapi salat kita, tetapi juga menyirami hati dan jiwa kita dengan kedamaian dan kebahagiaan.

Read More

Kiamat Merupakan Salah Satu Keniscayaan yang Benar-benar Akan Terjadi

Surabaya — 1miliarsantri.net : Hari kiamat merupakan peristiwa yang akan dihadapi semua umat manusia, tak terkecuali. Gambarannya pun banyak disampaikan di berbagai ayat Alquran, hadits, dan paparan ulama. Di antaranya yang dijelaskan dalam kitab Mukasyafatul Qulub al Muqarrib ila Hadhrah ‘Allam al Ghuyub karya Imam al-Ghazali. Mengutip perkataan Ibnu Abbas yang berkata,”Bumi ditambah dan dikurangi. Pepohonan, gunung-gunung, lembah-lembah, dan isinya dihilangkan. Bumi dipanjangkan seperti kerak bumi Ukazh, sebuah bumi yang seperti perak, darah tidak ditumpahkan di bumi itu, dan tidak digunakan untuk melakukan perbuatan buruk. sedangkan langitnya, matahari, bulan, dan bintang-bintangnya dihilangkan. Maka lihatlah, wahai orang miskin (miskin amal), terhadap kengerian dan kegentingan hari itu. Ketika semua makhluk berkumpul di daerah itu, bintang-bintang langit berjatuhan dari atas mereka. Matahari dan bulan lenyap. Bumi menjadi gelap karena sinarnya telah padam.” Ketika mereka berada dalam keadaan itu, tiba-tiba langit berputar di atas kepala mereka. Langit terbelah, meskipun langit itu tebal dan keras, selama 500 tahun. Para malaikat berdiri di tiap pinggir dan penjuru langit. Rasakanlah kengerian suara terbelahnya langit dengan pendengaramu. Rasakanlah ketakutan hari di mana langit terbelah, padahal langit itu keras dan kuat. Kemudian langit meleleh dan mengalir seperti perak yang dilelehkan dan bercampur warna kuning. Lalu langit menjadi seperti bunga mawar yang berminyak. Kemudian langit menjadi seperti cairan logam, dan gunung-gunung seperti bulu. Manusia bertebaran seperti belalang yang beterbangan. Mereka dalam keadaan tidak bersandal, telanjang, dan berjalan kaki. Rasulullah bersabda: يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُراةً غُرْلًا “Manusia dibangkitkan kembali dalam keadaan tidak bersandal, telanjang, dan tidak bersunat. Diriwayatkan, Saudah berkata, “Betapa buruknya, sebagian dari kita melihat sebagian kita yang lain.” Nabi menjawab, “Manusia ter-lalu sibuk untuk melakukan hal itu.” Allah berfirman: لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS Abasa ayat 37) Betapa agungnya sebuah hari, ketika aurat-aurat terbuka, tetapi meskipun demikian, perbuatan melihat dan menoleh tidak dilakukan. Bagaimana mungkin hal itu dilakukan, sedangkan mereka berjalan menggunakan perut dan wajah mereka, sehingga mereka tidak mampu untuk melihat orang lain. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di padang Mahsyar menjadi tiga golongan, yaitu kelompok yang berjalan berkendaraan, kelompok yang berjalan kaki, dan kelompok yang berjalan menggunakan wajahnya.” Seseorang bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana mereka berjalan menggunakan wajah mereka?” Rasulullah menjawab, “Dia yang menciptakan mereka berjalan menggunakan kaki, juga bisa menciptakan mereka berjalan menggunakan wajah.” Dalam tabiat manusia terdapat pengingkaran terhadap setiap sesuatu yang belum dikenalnya dengan baik. Seandainya manusia tidak pernah melihat ular yang berjalan menggunakan perutnya, seperti kilat yang menyambar, tentu dia akan mengingkari kemungkinan berjalan dengan menggunakan selain kaki. Berjalan menggunakan kaki juga dianggap mustahil bagi orang yang tidak pernah menyaksikannya. Maka, hendaklah engkau tidak mengingkari sesuatu yang berkaitan dengan keajaiban hari kiamat.

Read More

Aktivis Perempuan NU Beberkan 8 Tips Mencegah Anak Jadi Pelaku Perundungan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Maraknya perundungan yang terhadap anak-anak, terutama di lingkungan Pesantren, membuat Aktivis Perempuan Nahdlatul Ulama (NU) Iim Fahima Jachja angkat bicara dan memberikan 8 tips parenting atau pola asuh untuk mencegah anak agar tidak menjadi pelaku bullying (perundungan). Delapan tips tersebut dapat diterapkan orang tua di rumah, yaitu: “Pastikan orang tua jangan kalah dekat dibanding teman-teman dan sosial media (sosmed). Banyakin ngobrol, bangun situasi di mana si remaja mau berbagi cerita dari hal kecil hingga besar,” terangnya, Senin (26/2/2024). “Pastikan orang tua memiliki karakter yang dihormati oleh anak sehingga mereka mau mendengar apa kata orang tua. Jangan cuman bisa nasehatin tapi kelakuan bertentangan,” jelasnya. “Jangan nanti-nanti, nanti keburu basi dan ketumpuk isu lain,” ucap dia. 4.Rajin upgrade diriIa menjelaskan bahwa orang tua harus rajin mengupgrade diri dengan memperbanyak ilmu dan pengetahuan terkini, supaya bisa mengimbangi obrolan anak. “Jika ilmunya kurang, bantu si anak ketemu ahlinya yang kita percaya. Misal: anak mau diet ketat, dikasih tahu orang tua tentang gizi kok ndak nurut. Ketemukan dia dengan ahli nutrisi untuk memberi tahu yang benar,” jelas Iim. “Sayangnya, di era somed ini, jadi contoh saja tidak cukup, orang tua harus aktif membangun dialog,” ungkapnya.

Read More