Al-Azhar Bikin Gebrakan Baru: Luncurkan Program Pembelajaran Hybrid Mahasiswa Asing

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Dalam perhelatan Multaqa ke VIII yang dihadiri oleh ratusan alumni Al-Azhar Mesir dari berbagai daerah di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Salamah Daud, mengumumkan kabar gembira mengenai peluncuran program pembelajaran hybrid bagi mahasiswa asing. Program ini memberikan kesempatan bagi para calon mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mengikuti pendidikan dari salah satu universitas tertua dan paling bergengsi di dunia secara daring dan luring. Program hybrid yang ditawarkan Fakultas Ilmu-ilmu Kesilaman dan Bahasa Arab bagi Mahasiswa Asing (Kulliyatul Ulum Al-Islamiyyah wal Arabiyyah lil Wafidin) memungkinkan para mahasiswa untuk menempuh dua tahun pertama secara online dan dua tahun terakhir secara langsung di kampus Universitas Al-Azhar, Kairo. Program ini didesain untuk memberikan fleksibilitas belajar yang lebih tinggi, terutama bagi mereka yang mengalami kendala akses fisik ke Mesir pada masa-masa awal pendidikan. “Kami sangat bangga dapat memberikan solusi pendidikan yang fleksibel dan terjangkau bagi mahasiswa asing, tanpa mengurangi kualitas pendidikan yang selama ini menjadi ciri khas Al-Azhar,” terang Prof. Dr. Salamah Daud yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Pusat Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (PP OIAA). “Dengan metode hybrid ini, kami berharap semakin banyak pelajar dari berbagai negara yang dapat menikmati pembelajaran dari para ulama terkemuka Al-Azhar dan mendapatkan ijazah yang diakui secara internasional.” Keunggulan Program Hybrid Al-Azhar 1) Kurikulum dari Al-Azhar. Semua mata kuliah, diktat, dan pengajar berasal langsung dari Universitas Al-Azhar. 2) Ijazah Setara

Read More

Kisah Islamnya Sayyidina Shuhaib RA

Surabaya –1miliarsantri.net : Sayyidina Shuhaib RA dan Sayyidina ‘Ammar RA memeluk lslam dalam waktu yang sama. Pada waktu itu, Baginda Nabi SAW sedang berada di rumah Sayyidina Arqam Rodhiyatlahu ‘anhu. Kedua orang ini berangkat dari tempat yang berbeda untuk menemui Baginda Nabi SAW. Secara kebetulan mereka berdua bertemu di depan pintu rumah Sayyidina Arqam Radhiyallohu ‘onhu. Keduanya saling menanyakan maksud kedatangan masing-masing. Ternyata maksud kedatangan mereka berdua sama, yakni untuk memeluk lslam dan berusaha mengambil keberkahan dari Baginda Nabi Shallollahu’alaihi wasallam. Sayyidina Shuhaib Radhiyallohu ‘anhu pun masuk lslam. Setelah ia masuk lslam, ia juga mengalami penderitaan seperti Kaum Muslimin yang jumlahnya masih sangat sedikit dan lemah. la disakiti dengan berbagai macam cara. Akhirnya, karena tidak tahan menanggung penderitaan itu, ia berniat untuk hijrah. Namun, Kaum Kafir Quraisy sangat tidak suka bila orang-orang lslam pergi ke tempat lain dan hidup dengan tenang. Apabila orang-orang kafir itu mendengar ada orang lslam yang akan berhijrah, mereka akan berusaha menghalang-halanginya. Orang-orang kafir Quraisy pun mengirim serombongan orang untuk mengejar dan menangkap Sayyidina Shuhaib. Sayyidina Shuhaib RA membawa satu wadah yang penuh dengan anak panah. la berseru kepada Kaum Kafir Quraisy, “Dengarkanlah! Kalian tahu aku pemanah yang paling mahir di antara kalian. Selama masih tersisa satu anak panah padaku, kalian tidak dapat mendekatiku. Jika anak-anak panah ini habis, akan kugunakan pedangku untuk melawan kalian, sehingga pedang ini terlepas dari tanganku. Setelah itu, berbuatlah semampumu. Tetapi, jika kalian mau, sebagai ganti nyawaku, kalian akan kuberitahu tempat hartaku di Makkah, dan akan aku berikan kepada kalian kedua budak perempuanku. Ambillah semuanya.” Kaum Kafir menyetujui usul tersebut. Sayyidina Shuhaib Radhiyallohu ‘anhu menyerahkan hartanya, kemudian melepaskan diri. Terhadap kejadian ini, maka turunlah ayat Al-Qur’an: وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ Wa minan-nāsi may yasyrī nafsahubtigāa marḍātillāh, wallāhu raụfum bil-‘ibād

Read More

Gus Baha: Mukjizat Nabi Muhammad Tak Seperti Nabi Sebelumnya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan perbedaan mukjizat Nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya yaitu kebanyakan mukjizat Nabi Muhammad berupa al-ardul basyariyah, memiliki sifat-sifat sebagaimana manusia biasa. Artinya, rasul memiliki sifat-sifat seperti memiliki rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga, dan lain sebagainya. Hal ini membuat Rasulullah mudah ditiru oleh umatnya. Ketika Rasulullah ingin khutbah, ia langsung mengambil kayu yang ada di depannya dan berdiri sebagai tanda. “Perbedaan mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya yaitu mukjizat Nabi Muhammad bersifat basyariyah atau manusia. Sedangkan mukjizat nabi sebelumnya dahsyat-dahsyat,” terang Gus Baha Nabi sebelumnya mendapatkan mukjizat bisa komunikasi dengan hewan, bisa mengeluarkan unta dari batu, membelah lautan, dan lain sebagainya. Menurutnya, Allah menjelaskan sifat Nabi Muhammad, seseorang yang pernah yatim dan dirawat Allah. Pernah tidak jadi nabi, lalu diangkat. Pernah miskin lalu dikayakan. Allah menceritakan kehidupan sehari-hari, tapi Nabi Muhammad senang. Agama ini akan enak, karena sesuai dengan keseharian kita, Rasulullah pernah ditanya, apa itu Islam, lalu dijawab yang memberikan makan. Ini penting disampaikan agar agama ini mudah,” imbuhnya. Ulama asal Rembang ini menambahkan, orang kafir dulu pernah meminta mukjizat agar Allah turun dan menggandeng Nabi Muhammad, lalu mengumumkan bahwa ini nabi. Lalu tidak dituruti. Allah tidak menuruti, karena orang yang menolak Nabi Muhammad sebagai nabi adalah angkuh. Ketika ada mukjizat pun dia akan minta yang lain, tapi belum tentu beriman. “Karena sebanyak apapun mukjizat nabi, jika secara sosial tidak cocok maka tidak akan bisa diterima masyarakat. Mudah diterima oleh semua kalangan. Jadi lewat ngaji ini saya ingin menyampaikan, kamu yang ingin keramat tidak usah ingin aneh-aneh, biasa saja tapi masuk surga,” jelasnya.

Read More

Alquran Sebut Penyebab Kekalahan Muslimin Dalam Jihad

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kekalahan umat Islam dalam Perang Uhud menyisakan duka yang mendalam. Inilah palagan yang terjadi pada 15 Syawal tahun ketiga Hijriyah, atau sekitar bulan Maret 625 Masehi. Dalam Perang Uhud, kubu kafir Quraisy dipimpin Abu Sufyan. Ia membagi pasukannya menjadi tiga lini. Sayap kanan dikomandoi Khalid bin Walid, dan mereka inilah yang pada akhirnya berhadapan dengan sayap kiri pasukan Islam–yang terdiri atas para pemanah. Pada awal-awal jalannya pertempuran, kaum Muslimin dapat mendominasi. Banyak pasukan musyrikin yang kocar-kacir. Kemenangan yang seperti sudah di depan mata, sirna karena sayap kiri pasukan Islam begitu gampang tergoda dengan gelimang harta rampasan perang. Mereka meninggalkan pos-nya demi sekadar urusan dunia. Dalam Alquran diterangkan, kekalahan itu menjadi ujian bagi kaum Muslimin (QS Ali Imran [3]: 141) dan juga orang-orang munafik (ayat 166-167). “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS 3:142). “Apakah jika dia (Muhamamd) wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (144). Sebab-sebab kekalahan itu diterangkan pula dalam Alquran surah Ali Imran ayat ke-152 hingga 155. “Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin” (152).

Read More

Reaksi Rasulullah SAW Ketika Menerima Wahyu Pertama

Surabaya — 1miliarsantri.net : Syekh Said Ramadhan al-Buthy dalam The Great Episodes of Muhammad mengutip kesaksian ummul mukminin, ‘Aisyah. Menurut putri Abu Bakar itu, wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah mimpi yang baik (al-ru’ya al-shalihah) ketika beliau tidur. Sesudah bangun dari tidur itu, sosok yang berjulukan al-Amin tersebut diberikan oleh Allah rasa senang untuk melakukan perenungan atau menyendiri (tahannuts). Beliau lantas memilih Gua Hira sebagai tempatnya. Demikianlah keadaannya, Rasulullah Muhammad SAW senang melakukan tahannuts di sana. Sampai pada akhirnya, Malaikat Jibril turun dengan membawa awal surah al-‘Alaq. Jibril mengatakan kepada Rasulullah Muhammad SAW: “Bacalah!” Beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian, Jibril meraih dan memeluk Rasulullah SAW hingga dirinya merasa payah. Setelah melepaskan pelukan, Jibril kembali mengatakan, “Bacalah!” “Aku tidak bisa membaca,” jawab al-Amin lagi. Untuk ketiga kalinya, malaikat itu meraih dan mendekap Muhammad. Akhirnya, beliau bertanya, apa yang harus kubaca? اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌ۚ خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ‌ۚ‏ اِقۡرَاۡ وَرَبُّكَ الۡاَكۡرَمُۙ الَّذِىۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِۙ عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡؕ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Setelah itu, Rasulullah SAW pulang dengan hati yang kacau. Beliau langsung menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid. “Selimuti aku. Selimuti aku,” katanya. Maka Khadijah menyelimuti Rasulullah SAW hingga kegelisahannya mereda.

Read More

Kesederhanaan Rasulullah SAW Patut Dicontoh

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kesederhanaan hidup Rasulullah Muhammad SAW merupakan salah satu ciri yang paling mencolok dari kepribadian beliau. Misinya di dunia ini sama sekali tidak didorong oleh kepentingan pribadi atau ambisi duniawi. Ini sangat kontras dengan banyak pemimpin agama palsu dan figur berpengaruh dalam sejarah, yang sering kali memanfaatkan posisi mereka untuk menikmati kemewahan. Pada akhir hayatnya, Rasulullah Muhammad SAW telah berhasil menyatukan seluruh Jazirah Arab di bawah kepemimpinannya. Namun, meskipun memegang kekuasaan yang begitu besar, beliau tetap hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Di Madinah, beliau memiliki ribuan pengikut yang sangat setia dan juga sangat mencintainya. Pengikut-pengikut ini bersedia melakukan apa pun demi beliau. Namun, hal itu tidak membuat Nabi Saw tergoda untuk menjalani hidup dalam kemewahan. Berbeda dengan raja-raja atau penguasa pada umumnya yang menikmati kemegahan istana dan kekayaan berlimpah, Nabi Saw memilih hidup dalam sebuah rumah yang sederhana, bahkan sangat sempit. Ketika Rasulullah SAW ingin melaksanakan salat di dalam rumah, beliau harus mengetuk kaki istrinya, ‘Aisyah, untuk membuat ruang yang cukup bagi beliau agar bisa bersujud. Kehidupan Rasulullah SAW diisi dengan aktivitas sehari-hari yang sederhana. Untuk minum dan mandi, beliau menggunakan kantung air kulit kecil yang tergantung di rumahnya. Selama berbulan-bulan, tidak ada api yang dinyalakan di rumah beliau untuk memasak, dan keluarganya bertahan dengan makan kurma dan minum air, kecuali jika ada yang memberi mereka hadiah berupa susu. Kesederhanaan Rasulullah SAW ini berpengaruh bagi para sahabatnya. Suatu ketika, Umar bin Khattab berkunjung ke rumah Rasulullah SAW dan mendapati beliau berbaring di atas tikar kasar yang meninggalkan bekas di tubuhnya. Umar melihat sekeliling dan memperhatikan bahwa persediaan makanan Rasulullah SAW hanya sedikit gandum dan beberapa daun. Pemandangan ini membuat Umar menangis. Ketika Rasulullah SAW bertanya mengapa dia menangis, Umar menjawab bahwa ia tidak dapat menahan tangisannya setelah melihat betapa sedikitnya barang yang dimiliki Rasulullah SAW, sementara penguasa seperti Caesar dan Khosrau hidup dalam kemewahan yang berlimpah. Dalam jawabannya yang tenang, Nabi Saw berkata kepada Umar, “Apakah tidak membuatmu bahagia bahwa mereka diberi kemewahan di dunia ini, sementara kita akan diberi nikmat yang lebih besar di akhirat?” Jawaban Rasulullah SAW ini tidak hanya menjadi penghibur bagi Umar, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita semua tentang nilai kesederhanaan dan kehidupan akhirat. Rasulullah SAW tidak pernah tergoda oleh gemerlap dunia, meskipun kekuasaan berada di tangannya. Kesederhanaan ini datang secara alami bagi beliau, bukan sesuatu yang dipaksakan atau dilakukan demi mendapatkan pujian dari orang lain. Sikap hidup sederhana Rasulullah Muhammad SAW juga telah diakui oleh banyak sejarawan non-Muslim. Edward Gibbon, seorang sejarawan Inggris terkenal, menulis bahwa Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah terpengaruh oleh kemewahan atau keinginan untuk hidup dalam kekuasaan yang gemerlap. Beliau Saw menjalankan tugas-tugas rumah tangga sendiri seperti menyalakan api, menyapu lantai, memerah susu kambing, bahkan memperbaiki sepatu dan pakaiannya sendiri (Edward Gibbon, 2001: 252). Washington Irving, seorang biografer Amerika, mencatat bahwa Rasulullah Muhammad SAW tetap mempertahankan sikap sederhana ini bahkan setelah beliau mencapai kekuasaan terbesar.

Read More

Keluhan Nabi Muhammad tentang Umat yang Meninggalkan Alquran

Surabaya — 1miliarsantri.net : Surat Al-Furqan ayat 30 berisi tentang keluhan Nabi Muhammad kepada Allah tentang orang-orang Makkah yang meninggalkan Alquran. Menurut pakar tafsir Alquran KH Abdul Ghofur Maimun atau Gus Ghofur, indikasi orang yang meninggalkan Alquran itu tidak hanya secara fisik, tapi juga secara maknawi. Allah SWT berfirman: وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا Artinya: Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.” (QS Al-Furqan [25]: 30). Melalui ayat tersebut, menurut dia, generasi zaman sekarang bisa berkaca pada zaman Nabi tentang orang-orang yang mengabaikan atau meninggalkan Alquran. “Orang akan mengaca bahwa yang dihadapi Kanjeng Nabi adalah umat yang meninggalkan Alquran. Jadi, orang boleh mengaca apakaj zaman sekarang umatnya sudah meninggalkan Alquran atau tidak,” ujar Gus Ghofur beberapa waktu lalu. Pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang menuturkan, ayat tersebut bercerita tentang Nabi Muhammad saat berada di Makkah. Saat itu, Nabi menyampaikan ajaran Alquran dan banyak yang tertarik dan terpesona. Bahkan, karena sangat tertarik, mereka mendengarkan Nabi membaca Alquran pada malam hari secara sembunyi-sembunyi. Namun, para pembesar Quraisy di Makkah melarang masyarakat untuk mendengarkan Alquran. Mereka pun menutup telinga mereka dan mulai meninggalkan Alquran secara fisik. “Kalau mendengarkan itu ya secara fisik atau secara kasat mata. Tapi mereka ini meninggalkan Alquran dan itu yang dikeluhkan oleh Nabi Muhammad. Karena, mereka tidak mau mendengarkan Alquran,” kata Gus Ghafur. Selain itu, menurut dia, ada juga yang meninggalkan Alquran secara maknawi, yaitu mereka yang mengabaikan ajaran-ajaran Alquran, seperti tentang ketuhanan, tentang Nabi Muhammad, tentang syariat, dan hal baik lainnya yang terdapat dalam Alquran. “Mereka tidak terima dengan ajaran-ajaran Alquran, bahkan Nabi Muhammad dianggap gila,” ucap Gus Ghafur. Pada saat itu, menurut dia, Nabi Muhammad tidak hanya menyampaikan dakwahnya kepada orang-orang Makkah, tapi juga kepada orang-orang luar Makkah yang datang pada musim Haji. Namun, orang-orang Makkah yang tidak menyukai Nabi juga menyampaikan kepada mereka bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila. “Jadi memang secara fisik itu mereka tidak mau mendengarkan. Nah, secara maknawi ajaran-ajaran itu juga dinafikan,” jelas putra almarhum KH Maimoen Zubair ini. “Pokoknya ajaran-ajaran tentang bahasa Alquran yang indah juga diperolok-olok,” ujar dia. Namun, menurut Gus Ghafur, meskipun mengeluhkan umat yang mengabaikan Alquran itu, Nabi Muhammad tidak sampai mengecamnya. Lalu, pada surat Al Furqan ayat 31, Allah SWT menjelaskan kepada Nabi Muhammad bahwa nabi-nabi sebelumnya juga menghadapi orang-orang seperti itu. Allah SWT berfirman: Allah SWT berfirman:

Read More

4 Janji Allah untuk Pecinta Shalat Tahajud

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bangun di tengah malam untuk beribadah ternyata bukan hanya bermanfaat secara spiritual, tetapi juga membawa berkah luar biasa dalam karier dan kehidupan sehari-hari. Ustad Adi Hidayat mengungkapkan empat kunci kesuksesan yang dijanjikan Allah bagi mereka yang konsisten melakukan ibadah malam, berdasarkan tafsir Surat Al-Isra ayat 79 dan 80. Dalam ceramahnya, Ustad Adi Hidayat menjelaskan bahwa Allah SWT menjanjikan empat hal istimewa bagi hamba-Nya yang rajin bangun malam untuk beribadah. Keempat hal tersebut mencakup bimbingan karier, kemudahan dalam menjalani aktivitas, solusi terbaik dalam menghadapi masalah, dan perlindungan langsung dari Allah SWT. “Kata Allah, bangun malam, aku berikan empat hal. Satu, asā ay yab’aṡaka rabbuka maqāmam maḥmụdā. Kalau engkau konsisten, aku bimbung karirmu ke tempat kedudukan terbaik dan terhormat yang orang lain memuliakannya,” ujar Ustad Adi Hidayat. Kunci pertama yang disampaikan oleh Ustad Adi adalah jaminan Allah untuk membimbing karier seseorang ke tempat yang terhormat, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Isra ayat 79. Ini menunjukkan bahwa ibadah malam memiliki pengaruh positif terhadap kesuksesan profesional seseorang. Kedua, Allah menjanjikan bimbingan dalam menjalani kegiatan sehari-hari dengan cara terbaik. Hal ini tercermin dalam ayat 80 dari surat yang sama, yang berbicara tentang jalan masuk yang benar. Kunci ketiga adalah solusi terbaik dalam menghadapi persoalan, juga diambil dari ayat 80 yang menyebutkan tentang jalan keluar yang benar. Ustad Adi menegaskan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar terbaik bagi hamba-Nya yang konsisten beribadah di malam hari. Yang terakhir dan mungkin yang paling menarik adalah janji Allah untuk memberikan perlindungan langsung, yang juga disebutkan di akhir ayat 80. Ustad Adi menjelaskan bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tantangan yang dihadapi. Namun, Allah berjanji untuk langsung turun tangan melindungi hamba-Nya yang setia beribadah malam.

Read More

Mencari Kedamaian Hati Versi Hanan Attaki

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dai muda Indonesia, Ustad Hanan Attaki dalam sebuah ceramah nya membagikan wawasan mendalam tentang kekuatan doa dalam menyembuhkan luka batin. Beliau menekankan pentingnya memanggil Allah saat kita sedang mengalami kekecewaan dan sakit hati. “Ya Allah, Ya Jabbar, salah satu doa minta disembukan kecewa dan sakit hati di dalam sholat adalah rabbighfirli warhamni wajburni,” ungkap Ustad Hanan Attaki. Ustad Hanan Attaki menjelaskan makna mendalam di balik kata “wajburni” dalam doa tersebut. Beliau menegaskan bahwa “Jabbar” memiliki tiga makna, dan dalam konteks doa ini, maknanya adalah “yang mengobati sakit hati”. “Jadi ketika kita berdoa rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzukni wahdini wa’afini, wajburni itu artinya kalau kita terjemahin sembuhkanlah sakit hati saya,” lanjut Ustad Hanan Attaki. Ustad Hanan Attaki mengajak umat Islam untuk lebih memahami makna dari setiap kata dalam doa yang sering dibaca. Beliau menekankan bahwa dengan memahami arti dari doa-doa yang kita panjatkan, kita dapat merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan Allah SWT. Ceramah ini mengingatkan kita akan kekuatan penyembuhan yang ada dalam ibadah, khususnya sholat. Ketika kita merasa terluka atau kecewa, kita dianjurkan untuk berpaling kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya melalui doa-doa yang penuh makna. Pesan Ustad Hanan Attaki sangat relevan di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan dan potensi kekecewaan. Beliau mengingatkan bahwa dalam setiap kesulitan, Allah selalu ada untuk menyembuhkan dan menguatkan hamba-Nya yang beriman.

Read More

Beberapa Hal Menyebabkan Mandi Wajib

Jakarta — 1miliarsantri.net : Mandi menurut bahasa berarti menuangkan air pada sesuatu. Sedang menurut istilah mandi (al-Ghuslu) adalah menuangkan air sampai merata kepada seluruh tubuh dengan cara yang telah ditentukan oleh syara’. Dasar hukum mandi wajib ialah firman Allah, “Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kami sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) …” (Q.S.al-Maidah/5: 6). Selain itu dalam hadis disebutkan, “Rasulullah SAW. bersabda: Apabila datang bulan (menstruasi), maka tinggalkanlah salat dan apabila telah selesai haid, maka mandilah kamu”. (H.R. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad). Hal-Hal yang Mewajibkan Mandi Wajib Pertama, telah melakukan hubungan seksual (baik mengeluarkan atau tidak mengeluarkan sperma). Hal ini didasarkan kepada hadis Nabi SAW diriwayatkan Abu Hurairah RA: “Dari Nabi SAW. Beliau bersabda: Apabila seseorang duduk di antara cabang yang empat kemudian bersungguh-sungguh, maka ia wajib mandi”. (H.R. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad). Kedua, mengeluarkan sperma (air mani) baik ketika tidur (mimpi) atau dalam keadaan terjaga. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW diriwayatkan ‘Aisyiyah RA: Dari Aisyah ra. dari Nabi SAW. beliau bersabda: Apabila salah seorang diantara kamu bangun tidur kemudian ia melihat sesuatu yang basah sedang ia tidak tahu apakah ia mimpi, maka baginya wajib melakukan mandi (besar). Dan apabila ia sadar bahwa dirinya mimpi tapi tidak mengeluarkan sperna, maka ia tidak terkena wajib mandi (besar)”. (H.R. Ibnu Majah). Ketiga, terhentinya darah haid atau nifas. Seorang wanita yang telah kedatangan bulan (menstruasi) kemudian setelah melalui beberapa waktu darah haidnya terhenti (tidak keluar lagi), maka baginya wajib melakukan mandi (besar). Begitu pula apabila seorang wanita yang telah melahirkan, dan setelah ± 40 hari darahnya berhenti, maka baginya wajib melakukan mandi (besar).

Read More