Ajian Lembu Sekilan Turunan Dari Para Wali Hingga ke Presiden Soekarno

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Gajah Mada dikenal sebagai patih yang perkasa. Tidak hanya secara fisik, Mahapatih Majapahit ini juga memiliki ilmu kanurangan yang unggul karena memilik ajian Lembu Sekilan. Ilmu sakti itu rupanya menurun hingga Sunan Kalijaga dan Presiden Soekarno. Presiden pertama Indonesia itu memiliki ajian tersebut sehingga dia bisa lolos dari ancaman pembunuhan lebih dari tujuh kali dan tidak ada yang berhasil. Setidaknya, hal itulah yang diungkapkanSoekarno dalam pidato pelengkap Nawaksara. Lolosnya Soekarno dalam upaya pembunuhan-pembunuhan ini dinilai sebagian orang, karena kesaktian yang dimilikinya. Soekarno dianggap memiliki banyak ajimat dan benda pusaka yang melindunginya. Namun, hal itu sering kali dibantahnya. Bahkan, dalam pidato pelengkap Nawaksara, Soekarno kembali menegaskan, bahwa lolosnya dia dari upaya pembunuhan itu hanya karena perlindungan Allah SWT semata. ”Syukur alhamdullilah, saya dalam semua peristiwa itu dilindungi oleh Tuhan. Kalau tidak, tentu saya sudah mati terbunuh. Dan mungkin, akan saudara namakan Tragedi Nasional,” kata Soekarno dalam pidatonya. Kendati keterangan itu sudah sering diungkapkan Soekarno, masyarakat tetap saja menganggapnya sebagai orang sakti. Apalagi, sudah bukan rahasia umum jika Soekarno dikenal sebagai pecinta benda pusaka. Beberapa ajimat yang diyakini sebagian orang dimiliki Soekarno adalah Aji Lembu Sekilan. Ajimat ini konon dimiliki Patih Gajah Mada. Kehebatan ajimat ini sanggup melindungi pemegangnya dari bahaya. Ajimat dan benda pusaka lain yang diyakini dimiliki Soekarno adalah Wesi Kuning. Beberapa orang dekat Soekarno meyakini, ke manapun dia pergi selalu mengantongi benda pusaka sebesar lidi ini di bajunya. Khasiat benda ini sama dengan Aji Lembu Sekilan. Ajimat ini konon pernah dimiliki oleh Adipati Menakjinggo yang melakukan perlawanan terhadap Majapahit untuk mengawini Ratu Majapahit Dewi Suhito. Pemegang benda pusaka ini, diyakini akan terlindung dari berbagai mara bahaya dan kejahatan musuh. Konon kabarnya, pusaka ini sudah dimusnahkan dan serpihan kecilnya saja yang dipegang Soekarno. Lolosnya Soekarno dalam berbagai upaya pembunuhan, mulai dari pelemparam granat di Cikini, serangan bom hingga penembakan saat salat Idul Adha, semakin menguatkan wacana ajimat dan pusaka itu. Benda keramat lain yang dimiliki Soekarno adalah tongkat komando yang selalu dibawa ke manapun dia pergi. Tongkat itu diyakini memiliki kekuatan gaib, karena berisi keris pusaka yang sangat sakti. Tongkat komando Soekarno dibuat dari Kayu Pucang Kalak. Kayu jenis ini dianggap memiliki khasiat kanuragan. Bila ditaruh di atas air, maka bayangan kayu ini akan menyerupai ular yang sedang berenang. Kelebihan keris pusaka ini sanggup melindungi pemegangnya dari bahaya yang mengancam. Keris ini juga sanggup meluluhkan hati para lawannya, menimbulkan rasa iba, dan bisa menambah kewibawaan. Benda pusaka lain yang diyakini dimiliki Soekarno adalah keris pusaka peninggalan Perang Puputan, Bali. Keris ini pernah digunakan Raja Singasara untuk berperang dan telah menelan banyak korban jiwa. Keris ini merupakan warisan dari Ibunda Soekarno, Idayu Nyoman Rai yang masih keturunan Raja Singasara. Ujung keris ini telah berkarat, karena terkena darah orang-orang Belanda yang tewas terbunuh. Suatu ketika, Soekarno pernah mengatakan dirinya selalu membawa keris itu ke manapun dia pergi agar selalu teringat dengan semangat Perang Puputan yang sangat melegenda dan antikolonialisme itu. Sebagai keturunan Raja Singasara dan Nyai Ageng Serang, Soekarno diyakini mewarisi keberanian dan kesaktian kedua pejuang itu. Sebagian orang Bali bahkan menganggapnya sebagai penjelmaan dewa. Setiap kali Soekarno mendatangi Bali, wilayah itu kerap dituruni hujan. Hal ini sangat disyukuri masyarakat Bali yang wilayahnya kerap dilanda kekeringan. Kebetulan ini dianggap sebagai kesaktian Soekarno. Hal itu kadang dihubung-hubungkan dengan kesaktian yang dimiliki para leluhur Soekarno dari Raja Singasara dan Nyai Ageng Serang yang telah terkenal sejak jaman kerajaan yang melawan Belanda. Saat Soekarno kecil, konon dia sudah bisa melihat hal-hal gaib. Bahkan, diceritakan para orangtua di Trenggalek, Soekarno bisa menyembuhkan orang sakit. Kesaktian Soekarno kecil ini telah menjadi legenda. Dalam buku otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karangan Candy Adams, dirinya pernah menyinggung soal ini. Pernah ada seorang yang anaknya sakit minta disembuhkan oleh Soekarno. Dia menceritakan, ada seorang petani kelapa yang anaknya sakit keras bermimpi, hanya air pemberian Soekarno yang bisa menyembuhkan penyakit anaknya. Petani itu lalu menemui Soekarno dan meminta air. “Aku tidak bisa berdebat dengan dia, karena orang Jawa percaya kepada mistik, dan dia yakin bahwa anaknya akan meninggal kalau tidak memperoleh obat dariku,” sambung Soekarno. Saat itu, Soekarno yakin bahwa semua air mengandung zat-zat yang dapat menyembuhkan. Maka, diambillah air ledeng dari dalam dapur dan diberikannya kepada petani kelapa itu untuk dibawa pulang. Seminggu kemudian, petani itu kembali dan melaporkan bahwa anaknya yang sakit keras telah sembuh. Cerita ini lalu tersebar dari mulut ke mulut hingga makin banyak yang percaya Soekarno memiliki kesaktian. Pada lain kesempatan, saat Soekarno mengunjungi sebuah desa kecil di Jawa Tengah, ada seorang ibu yang mendekati ajudan Soekarno dan meminta sisa makanan dari piring yang digunakan dirinya. Ibu itu berkata bahwa dirinya sedang hamil, dan dia ingin anak laki-laki yang berada di dalam kandungannya mirip dengan Soekarno. Caranya adalah dengan memakan sisa makanan yang dimakan Soekarno. Mendapati dirinya diperlakukan seperti itu oleh sebagian masyarakat Indonesia, Soekarno mengaku sangat senang. Karena dengan begitu, dia merasakan wibawanya sebagai pemimpin semakin kuat. Hal itu dengan tegas dia ungkapkan saat dirinya dianggap penjelmaan Dewa Wisnu oleh orang Bali. Menurut Soekarno, pemujaan yang begitu besar terhadap dirinya membuktikan bahwa rakyat mencintainya. Kecintaan rakyat Indonesia terhadap Soekarno tampak sangat nyata ketika Proklamator Indonesia itu meninggal dunia. Awan hitam tampak menyelimuti langit Indonesia, kesedihan rakyat sangat terasa. Masyarakat Indonesia percaya, hingga kini sosok Soekarno masih hidup dan berada di tengah-tengah mereka. Penjelmaan sosok Soekarno itu berada dalam setiap ajaran-ajarannya yang terus digali hingga kini. (mif)

Read More

Berlibur Sekaligus Belajar Mengenai Topeng Tari Panji di Dusun Bobung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Musim liburan akhir tahun sebentar lagi akan tiba dan sudah pasti banyak lokasi wisata yang bakal menjadi pilihan tujuan berlibur nantinya. Nah, tidak ada salahnya jika kami tawarkan salah satu tempat spesial sekaligus edukatif untuk lokasi liburan anda yakni Dusun Bobung, sebuah dusun di wilayah Desa Putat, masih di Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dari Desa Nglanggeran, dusun ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah Sambipitu. Dusun dengan potensi kerajinan topeng serta berbagai kerajinan dari kayu lainnya ini telah dikelola menjadi sebuah desa wisata. Dari kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, butuh waktu 10 menit untuk mencapai gapura Dusun Bobung. Gapura ini mudah ditemui, dari jalur utama Nglanggeran- Sambipitu posisinya ada di sisi kiri jalan. Pada gapura bercat biru ini tertulis jelas “Selamat Datang di Desa Wisata Kerajinan Kayu Dusun Bobung”. Sedangkan, di sisi kanan dan kiri gapura ini terdapat papan petunjuk arah bertuliskan “Bubung 0,5 km”. Berdasarkan papan petunjuk arah ini, kita bisa memasuki jalan utama dusun yang asri oleh rimbun pepohonan tanaman keras, seperti jati, mahoni, dan tanaman perkebunan rakyat lainnya. Sebelum sampai di pemukiman warga, anda akan disambut oleh suara gemericik air yang ditimbulkan oleh bendungan irigasi Desa Bobung. Jalan utama menuju pemukiman warga melintas di atas bendungan ini. Tiba di kawasan permukiman, suasananya sangat tenang dan tak jauh berbeda dengan pedukuhan atau pedesaan lainnya. Hanya saja saat melintas di jalan utama dusun ini, ada pemandangan khas yang jamak ditemui. Warga, baik tua, muda, laki- laki, maupun perempuan, tengah melakukan aktivitas membuat kerajinan kayu, seperti menatah, menyerut, hingga menyungging kayu untuk dijadikan kerajinan. Mereka melakukannya baik di teras-teras rumah maupun bengkel kerja sederhana di samping bangunan utama rumah mereka. Tangan- tangan mereka begitu terampil menyungkil, menyerut, dan memahat kayu untuk dijadikan barang bernilai seni dan ekonomis baginya. Yang tak kalah mengagumkan, mereka begitu ramah memberikan salam sebagai bentuk penyambutan terhadap tamu yang datang. Di antara mereka bahkan memersilakan untuk mampir, sekadar melihat produk kerajinan mereka.. Sebagai dusun yang telah dikelola menjadi sebuah desa wisata, warga Dusun Bubung, sepertinya, telah membudayakan untuk menyambut hangat tamu yang berkunjung. Ketua Badan Pengelola Desa Wisata Bobung Suroso (35 tahun) menyampaikan, industri kerajinan kayu telah berkembang di dusunnya sejak 1960-an. Khususnya, kerajinan topeng klasik untuk tari topeng Panji (cerita Panji Asmarabangun) atau cerita Klasik Jawa periode Kerajaan Kediri. Memasuki medio 1990-an, mereka tak hanya membuat topeng klasik, tetapi juga topeng untuk hiasan yang memadukannya dengan sentuhan kesenian membatik. “Ternyata, topeng hiasan produksi asal Bobung ini juga banyak diminati hingga produksi topeng jenis ini terus berkembang,” terang Suroso. Tak hanya topeng hiasan (topeng batik), sentra industri kerajinan kayu ini juga merambah pada pembuatan kerajinan kayu yang lain. Alhasil, berbagai jenis kerajinan kayu diproduksi di desa wisata Bobung ini. Seperti, topeng hiasan, patung loro blonyo, nampan, cermin, hingga berbagai kerajinan kayu. Hasil produksi dari dusun itu pun tak sebatas untuk memenuhi permintaan daerah Yogyakarta, tetapi juga berbagai daerah di Tanah Air, bahkan luar negeri. “Dari topeng, produk kerajinan tersebut berkembang mulai dari kayu gelondongan (mentahan) sampai siap jual. Namun, untuk produk unggulan kerajinan kayu Dusun Bobung, tetap topeng,” sambungnya. Ia menambahkan, hingga saat ini kapasitas produksi kerajinan kayu desa wisata Bobung ini mencapai 8.000 buah per bulan dengan total omzet mencapai Rp 3 hingga Rp 4 miliar per tahun. Tak hanya itu, jumlah perajin juga terus bertambah. Jika di Dusun Bobung sedikitnya ada 150 perajin, sekarang telah berkembang ke dusun lain di sekitarnya dengan jumlah total perajin mencapai 600 orang. Salah satu perajin tersebut adalah Samadi (42 tahun). Ia merupakan perajin di dusun ini yang masih bertahan dengan produk topeng klasiknya. Menempati rumah yang sederhana sekaligus bengkel kerja menyungkil topeng klasik itu. Ia mengaku bahwa memproduksi topeng klasik tersebut memberikan kepuasan pada batinnya. Keahlian membuat topeng klasik sudah mulai langka. Hingga saat ini, kualitas topeng klasik produksi Samadi diakui sangat halus dan detail. Bahan baku topeng itu berasal dari kayu albasia (sengon), pule, serta kayu terbelo puso. Namun, yang paling banyak diminati topeng kayu terbelo puso. Samadi bercerita, awalnya ia membuat 32 tokoh topeng klasik tari Panji. Topeng-topeng itu mewakili 32 karakter berbeda. Namun, dalam perkembangannya karakter ini juga berkembang. “Kalau dulu memang hanya beberapa karakter saja, tapi sekarang untuk topeng klasik tari Topeng Panji, sudah mencapai 60 karakter,” ujarnya. Tiap karakter, ia melanjutkan, memiliki warna dan sentuhan yang berbeda-beda. Sehingga, untuk membuat satu karakter topeng, membutuhkan waktu dua sampai lima hari, tergantung dengan tingkat kesulitannya. Karena itu, satu buah topeng buatannya relatif lebih mahal. Untuk satu topeng mentahan (belum diberi sentuhan warna), harganya berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 900 ribu. Jika sudah diberikan sentuhan warna, ia melanjutkan, harganya jauh lebih tinggi, berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 3 juta. Untuk harga tertinggi ini biasanya karena permintaan, misalnya memberikan sentuhan warna emas murni 24 karat. “Khusus untuk sentuhan warna, dipercayakannya kepada Supriadi, juga perajin di Bobung yang memiliki kemampuan menyungging (mewarnai),” ujar Samadi. Suroso menambahkan, produk topeng klasik ini memiliki pangsa pasar yang terbatas untuk kalangan tertentu saja. Karena itu, nilai ekonomisnya cukup tinggi. Bahkan, topeng klasik buatan Samadi ini telah merambah pasar ekspor. Selain topeng klasik tari Topeng Panji, perajin Dusun Bobung, seperti Samadi, juga membuat topeng klasik Panji Cirebonan. “Ini menunjukkan perajin Bobung sudah diakui memiliki keahlian khas dalam membuat topeng klasik,” katanya. Belum banyak terungkap dalam penelitian resmi siapa perintis kerajinan topeng di Dusun Bobung. Namun, sebagian besar perajin mengamini jika kerajinan topeng ini tak dapat dilepaskan dari peran Mbah Karso, pendahulu warga yang juga salah seorang abdi Keraton Yogyakarta. Dari tokoh tersebut kemudian menurun ke Mbah Wagio dan seterusnya hingga saat ini. Generasi sekarang merupakan generasi perajin yang mendapatkan keahlian secara turun-temurun, namun miskin keahlian pada topeng klasik. Sehingga, jumlah perajin di Dusun Bobung itu berkembang pesat. Sekitar 80 persen dari warga dusun ini kini memiliki keahlian membuat kerajinan kayu, baik topeng klasik, topeng batik, loro blonyo, dan kerajinan lainnya. Di balik pesatnya pertumbuhan perajin tersebut, Suroso melanjutkan, ada satu hal yang masih menjadi ganjalan bagi masa depan kerajinan kayu desa itu. Saat ini produk kerajinan kayu sudah merambah pasar nasional dan bahkan…

Read More

Sebanyak 16 Wanita Pernah Menjadi Anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat

Banda Aceh — 1miliarsantri.net : Kesultanan Aceh memiliki tiga tingkat balai musyawarah (parlemen), yaitu Balairung, Balai Gading, dan Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Setidaknya terdapat 16 perempuan yang menjadi anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Di Balairung ada empat hulubalang terbesar di Aceh, di Balai Gading ada 22 ulama besar. Untuk Balai Majelis Mahkamah Rakyat ada 73 anggota wakil 73 mukim. Menurut Buya Hamka, Sultanah Syafiyatuddin memimpin Kesultanan Aceh, saat itu dibuat kebijaksanaan memasukkan perempuan sebagai anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Mereka mewakili mukim masing-masing. Dalam menjalankan pemerintahan, sultan didampingi jajaran eksekutif: wazir sultan, perdana menteri (panglima polim) dengan para menterinya, kadi malikul adil dengan empat ulamanya. Didampingi pula balai laksamana yang mengepalai tentara laut dan darat. Khusus menteri dirham (keuangan), pertanggungjawabannya tidak kepada perdana menteri, melainkan langsung kepada sultan. Urusan perbendaharaan negara menjadi tanggung jawab baitul maal, urusan cukai dan bea pelabuhan menjadi tanggung jawab balai furdhan. Di jajaran eksekutif ini, ulama memiliki posisi resmi. Yang diangkat menjadi perdana menteri adalah alim ulama ahli yang dalam adat istiadat, undang-undang (qanun), dan protokol (resam). Catatan dalam Qanun Al Asyi Darussalam (Undang-Undang Aceh Darussalam) menyebut ada 17 perempuan anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Tapi, ada satu nama yang menurut Hamka belum jelas identifikasi jenis kelaminnya berdasarkan nama, yaitu Si Nyak Tampli. Laki-laki atau perempuan? Balai Majelis Mahkamah Rakyat memiliki hak mengurus negeri dan rakyat. Tujuannya: “supaya rakyat hidup senang dan dapat banyak hasil, makmur, dan aman”. Balai Majelis Mahkamah Rakyat juga memiliki hak mengurus keamanan negara, menimbang urusan rakyat, menimbang perbuatan kebenaran dan keadilan. Supaya negeri aman dan rakyat taat. Sultan Iskandar Muda menetapkan Balai Majelis Mahkamah Rakyat ini pada 12 Rabiul Awal 1042 Hijriah, tahun 1632 Masehi. “Dalam perintah mendirikan itu Baginda berkata: ‘Supaya senang rakyat semuanya dan membahagiakan Aceh Drussalam’,” tulis Hamka. Lalu, atas perintah Sultanah Syafiyatuddin, anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat diperbarui dan dilengkapi dengan perempuan. Itu terjadi pada tahun 1649 Masehi (1059 Hijriah). Qanun Asyi Darussalam (Undang-Undang Aceh Darussalam) yang yang mencatat nama-nama anggota parlemen Kesultanan Aceh ini disalin turun-temurun. Salinan yang dikutip Hamka berasal dari tahun 1310 Hijriah, 1892 Masehi. “Salinan terakhir yang sampai ke tangan kita adalah salinan yang ada di tangan Tengku di Abai, Ibnu Ahmad daripada Habib Abubakar bin Usman bin Hasan bin Wundi Molek Syarif Abdullah bin Sultan Jamalu’l Alam Badrul Munir Jamalluail Ba’alawi, salah seorang sultan keturunan Arab sehabis masa raja-raja perempuan,” tulis Hamka. Sumber hukum undang-undang itu adalah Alquran, hadis, ijma’ dan qiyas, menurut mazhab ahli sunah wal jamaah. “Rupanya hak-hak yang diberikan kepada kaum perempuan, dengan persetujuan ulama sendiri pun, sebab ulama pun duduk dalam pemerintahan di samping raja, menyebabkan kaum perempuan pun setia memikul kewajibannya,” tulis Hamka. Cara hidup perempuan pun mendapat pengaruh. “Di seluruh tanah air kita ini, hanya di Aceh pakaian asli wanita memakai celana. Sebab mereka pun turut aktif dalam perang,” tulis Hamka. Nama-nama mereka adalah sebagai berikut: (mik) Baca juga :

Read More

Al Ula, Area yang Dihindari Rasululullah Kini Jadi Tempat Wisata

Riyadh — 1miliarsantri.net : Pemerintah Arab Saudi sedang membangun sejumlah kota untuk menarik wisatawan mancanegara. Hal ini dilakukan dalam upaya mengurangi ketergantungan negara pada sektor minyak bumi atau dikenal Visi Saudi 2030. Di antara kawasan yang masuk dalam mega proyek kota bersejarah adalah Al Ula. Al Ula juga dikenal sebagai Madain Saleh (Rumah Tsamud). Dalam Islam, tempat ini adalah rumah bagi bangsa Tsamud, yaitu kaum Nabi Saleh (AS) yang terkenal dengan kekuatan dan keterampilannya yang ajaib dalam membuat ukiran gunung dan konstruksi. Dilansir Islamic Information, Sabtu (18/11/2023), konon daerah ini dulunya sangat subur dan hijau. Namun, kekayaan alam yang berlimpah ini membuat orang-orang kaya di kalangan kaum Tsamud menjadi sombong. Mereka menjadi kejam dengan menyiksa dan membunuh orang-orang miskin. Ketika Nabi Muhammad SAW melewati tempat ini saat hendak berperang Tabuk, beliau secara khusus menunjukkannya kepada para sahabat. Beliau memerintahkan mereka untuk minum air hanya dari satu sumur yang digunakan oleh unta Hazrat Saleh AS dan melarang mereka makan serta minum apa pun dari area tersebut dan melewatinya dengan cepat. Bagi Muslim, sebenarnya bolehkah mengunjungi tempat ini? Sheikh Assim atau Assim bin Luqman Al Hakeem membahas masalah tersebut. Dia mengatakan, sebelum mengetahui hukumnya, sebaiknya perlu mengetahui batas dari area Madain Saleh. Sebab, jika dilihat dari hadits, Rasulullah SAW melarang untuk memasukinya. “Rasulullah bersabda kalau harus ke sana dan tidak ada cara lain untuk melanjutkan perjalanan kecuali melewatinya, maka kamu harus melakukannya secepat mungkin,” terang Sheikh Assim dalam akun YouTube-nya @assimalhakeem. Meski begitu, area ini harus didefinisikan karena Madain Saleh adalah nama yang diberikan untuk seluruh wilayah. “Namun, area yang ditimpa azab dan siksaan Allah adalah area yang terbatas sehingga Anda harus menemui pakar dan bertanya batasan-batasannya. Intinya, area tidak boleh dimasuki dan didekati,” tutupnya. (dul) Baca juga :

Read More

Said Nursi Seorang Ulama Hebat Yang Terlahir dari Nuriyah seorang Wanita Super

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Nama besar Said Nursi sebagai ulama agung di abad ke-19 masih menggaung hingga saat ini. Salah satu karya masterpiece-nya, Risale-i Nur (Risalah Nur), bahkan menjadi rujukan dan populer di kalangan santri modern. Di balik sosok sang ulama tersebut, ada kiprah seorang wanita yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan cara luar biasa. Dialah Nuriye atau Nuriyah, ibunda dari Said Nursi. Dalam bukunya yang berjudul Nisaul Auliya, Ibnu Watiniyah menulis, Said Nursi lahir dari rahim seorang wanita yang beradab lagi saleh. Nuriyah laksana cahaya yang melahirkan cahaya pula bagi muslimin Turki, bahkan dunia. Bukan hal sederhana bagi Nuriyah hingga mampu melahirkan dan membesarkan seorang pun berjiwa ulama. Kisah perjuangannya bahkan telah dimulai sejak masa kehamilan Nursi. Di tengah letihnya mengandung. Nuriyah (Nuriye) selalu menjaga wudhunya. Dikisahkan bahwa tak pernah sekalipun ia menginjak tanah saat hamil, kecuali dalam kondisi suci telah berwudhu. Itu hanyalah kiasan bahwa betapa Nuriyah selalu menjaga wudu dan selalu dalam kondisi suci. Jika ia berhadas atau tertidur, ia segera memperbarui wudhunya. Hal itu dilakukannya pula saat masa menyusui Nursi. Sangat terkenal kisah pengorbanannya bagaimana Nuriyah selalu menyusui putranya dalam keadaan suci. Tak pernah sekalipun ia menyusui putranya dalam keadaan batal wudhu. Hal ini dilakukannya demi menjaga kehalalan air susu yang diminum putranya. Menyusui sudah sangat merepotkan bagi seorang ibu. Namun, Nuriyah tak merasa kerepotan meski harus berwudhu sebelum menyusui putranya. Padahal, seorang bayi yang baru lahir hampir tak pernah berhenti menyusu pada ibunya. Bahkan, ketika malam sekalipun, bayi selalu meminta haknya untuk menyusu. Sungguh kerepotan dan kelelahan yang hanya dirasakan para ibu. Pun demikian dengan Nuriyah, bahkan ketika ia mewajibkan dirinya bersuci acap kali menyusui, ia-lah yang merasakan kelelahan yang berlipat. Sungguh menakjubkan apa yang dilakukan Nuriyah demi air susu berkualitas iman bagi putranya. Tak heran jika kemudian putranya itu menjadi ulama ternama, terutama di ranah tasawuf. Bahkan karena bimbingan ayah dan ibundanya, Said Nursi mendapat berbagai macam julukan keistimewaan. Salah satunya, ia dijuluki sebagai Badiuzzaman, atau Sang Keajaiban Zaman. Julukan tersebut diberikan karena kemampuannya yang mengagumkan. Pada usia tujuh tahun, Said Nursi sudah hafal Al-Qur’an. Bahkan ketika usia 15 tahun, 80 kitab klasik dihafalkannya. Dan yang membuatnya makin dikagumi, sesuai dia mengalami tajalli, bermimpi bertemu dengan Rasulullah, kemampuannya menghafal laksana mesin foto kopi. Apa yang dilihat, dalam sekian detik, ia mampu menghafalkannya, bahkan tanda bacanya sekaligus. Layaknya mesin foto kopi, hafalannya sama persis dengan yang tercetak di buku atau lainnya. Maka ketika banyak ulama mencoba menguji kemampuannya, maka semua pertanyaan yang diajukan mampu dijelaskannya dengan mudah. Karena kemampuannya yang luar biasa dan sangat ajaib, maka para ulama tersebut sepakat menjulukinya dengan nama Badiuzzaman (Sang Keajaiban Zaman). Sang ibunda pula hidup dalam ajaran tasawuf dan menghidupkannya di tengah keluarga. Pun dalam mendidik Said Nursi. Ada satu lagi kisah spesial Nuriye saat mengandung Nursi. Kala itu, ia telah memiliki firasat tentang kegemilangan putranya kelak. Suatu hari di kala perutnya buncit, Nuriye bermimpi melihat sebuah bintang keluar dari perutnya. Bintang tersebut kemudian masuk ke lautan dan menyinari perairan keseluruhan. Lautan yang luas itu menjadi bercahaya di setiap sudutnya. Ternyata, sang putra, Said Nursi, menjadi bintang yang kemudian memberikan cahaya bagi Turki. Ia yang hidup di era peralihan keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani dan kelahiran Turki modern itu menjadi orang yang paling vokal tentang dien atau din (agama). Di era terakhir kekhalifahan Turki Utsmani, ketika korupsi merajalela, Said Nursi bangkit untuk melawannya. la memiliki para murid setia yang terus mendukung gerakannya. Nursi sempat ditawari jabatan, tetapi hal itu tak membungkam pemikirannya. Perjuangannya masih berlanjut saat Kekhalifahan Turki Utsmani runtuh dan muncullah negara baru bernama Turki. Ketika sang bapak Turki melahirkan negeri Turki modern dengan melupakan bahasa Arab, Said Nursi muncul menolaknya dengan terus saja menulis karya-karya berbahasa Arab. Karena itulah, dia juga dijuluki Akhirul Fursan (Ksatria Terakhir). Karena dirinya menjadi saksi sejarah sekaligus tokoh utama di masa akhir pemerintahan Turki Utsmani dan bergantinya menjadi Turki modern. Ia pula yang gigih menentang kezaliman Mustafa Kemal Atturk, sang pemimpin Turki modern. Ketika Turki menjadi negara sekuler dan mengesampingkan Islam, Said Nursi menjadi penentang utama dan berupaya mempertahankan adanya negeri Islam di tanah Turki. Semua kiprah Nursi tersebut tak lekang dari perjuangan dan pengorbanan ibunda, Nuriyah. Ia-lah sosok di balik nama besar Said Nursi. la-lah sosok dibalik kegemilangan Said Nursi. Sejak hamil, melahirkan, menyusui hingga membesarkan Nursi, Nuriyah selalu lekat dengan agama. Maka, berhasil-lah ia dengan putranya sang pembela agama. (yus)

Read More

Kisah Naga Yang Menjelma Menjadi Seorang Pemuda Gagah di Grobogan

Grobogan — 1miliarsantri.net : Aji Saka, raja Medang Kamulan, kerajaan di wilayah Grobogan sekarang, menyuruh anaknya untuk bertarung dengan buaya putih di laut selatan. Anak Aji Saka ini lahir dalam wujud naga dari sebuah telur. Ketika ia bertarung dangan buaya putih, laut selatan bergolak. Hal itu membuat Ratu Laut Selatan, Nyi Loro Kidul keluar dari istananya. Ia mendapati penyebab alam bergolak. Seekor nada telah bertarung dengan buaya putih dan berhasil mengalahkannya. Buaya putih adalah penjelmaan dari Dewata Cengkar, raja Medang Kamulan yang suka menyantap manusia. Setelah dikalahkan oleh Aji Saka, ia tinggal di laut selatan dalam wujud buaya putih. Nyi Loro Kidul bersyukur buaya putih telah dikalahkan oleh seekor naga yang bernama Jaka Linglung. Maka, Jaka Linglung pun dijamu di istananya. Setelah dinikahkan Nyi Blorong, barulah ia dibolehkan pulang. Setelah bisa mengalahkan buaya putih, sebenarnya Jaka Linglung masih memiliki tugas mencari istri ayahnya. Tapi Nyi Loro Kidul telah mengatakan bahwa Ny Loro Kidullah istri Aji Saka, maka ia pun segera pulang ke Medang Kamulan. Sebagai naga, seharusnya ia bisa terbang. Namun kenyataannya, ia tidak bisa terbang. Bisa jadi gara-gara ia lahir dari sebutir telur ayam. Jika ia lahir dari sebutir telur elang, pasti ia akan bisa terbang. Maka, ia pulang ke Medang Kamulan melalui alam bawah, yaitu dari dalam tanah. Risikonya, ia tidak bisa melihat terang lokasi Medang Kamulan, sehingga harus sering muncul ke permukaan tanah untuk melihat arah. Bekas kemunculannya di permukaan menjadi sumur-sumur berair asin. Sumur-sumur itu ada di banyak tempat, di setiap tempat ia muncul ke permukaan. Ada di Jono, ada di Bleduk Kuwu, dan sebagainya. Sumur-sumur itu di kemudian hari, menjadi sumber pendapatan bagi penduduk. Oleh penduduk setempat, air asin yang ada si sumur-sumur itu digunakan untuk membuat garam. Nama Jaka Linglung diberikan kepadanya karena ia seperti orang linglung saat pulang dari laut selatan. Harus selalu muncul ke permukaan bumi untuk mencari arah. Di istana, kedatangannya disambut Aji Saka. Lalu ia dihadiahi mahkota emas, sisik di badannya juga dilapis emas. Ekor, gigi, dan taringnya juga dilapis emas. Cupu astagina, yaitu air bertuah, disimpan di ekornya. Cupu astagina ini bermanfaat untuk menghidupkan kembali naga yang mati. Jaka Linglung kemudian diangkat menjadi pangeran adipati. Ia menguasai wilayah Tunggulwulung. Namun, baru setahun tinggal di Tunggulwulung, unggas dan segala binatang sudah habis dia makan. Ia pun kena hukuman dari Aji Saka. Jaka Linglung disuruh pergi ke hutan klampis untuk bertapa dengan mulut menganga. Hanya jika ada benda yang masuk ke mulutnya, ia boleh memakannya. Minum pun jika hari sedang turun hujan. Suatu hari, hujan badai menerjang Medang Kamulan. Pohon-pohon tumbang. Banjir bandang pun datang. Penduduk harus mengungsi ke istana. Namun, ternyata istana pun juga diterjang badai, sehingga penduduk diungsikan ke tempat yang lebih tinggi. Berhari-hari hujan badai tak juga reda. Rumah-rumah penduuk sudah hancur, hewan-hewan piaraan terseret banjir. Aji Saka harus meminta kepada Yang Maha Kuasa agar bencana segera diakhiri. Tidak juga reda bencana itu, hingga akhirnya datang seorang pemuda perkasa yang melesat dari angkasa. Pemuda itu lalu menghela hujan badai hingga akhirnya reda. Hari berganti hari, penduduk sudah kembali ke desa masing-masing dan memperbaiki segala hal yang rusak. Mereka mencobabangkit untuk menjalani hidup yang baru. Setelah kondisi kembali normal, Aji Saka berpikir bahwa berakhirnya bencana ini bukan karena tindakannya. Ia merasa ada kekuatan lain yang melakukannya. Suatu hari, ada yang memberi laporan kepada Aji Saka bahwa hujan badai itu berhenti setelah ada pemuda yang terbang dari langit lalu menghalau hujan badai itu. Aji Saka pun meminta pemuda itu datang di istana. Pemuda itu pun datang bersembah dan mengaku sebagai Naga Jaka Linglung anak Aji Saka yang dihukum bertapa di hutan klampis. Naga itu yang tidak bisa terbang selama menjadi naga, akhirnya bisa terbang setelah jadi pemuda tampan, pewaris tahta Kerajaan Medang Kamulan. (mud) Baca juga :

Read More

Etnolog Belanda PJ Veth Heran Ratu Kalinyamat Bisa Menjadi Pemimpin di Negeri Islam

Jepara — 1miliarsantri.net : Pada 1931 terdapat tulisan di De Locomotief, mengutip rasa heran etnolog Belanda PJ Veth mengenai Ratu Kalinyamat yang bisa menjadi pemimpin di negeri Islam. Referensi mengenai Islam yang dibaca Veth menyebutkan perempuan tidak dibolehkan menjadi pemimpin. Sumber-sumber tertulis Portugis dan babad-babad di Jawa menyebutkan hal itu. Hal itu bisa terjadi dimungkinkan karena masih adanya pengaruh pra-Islam. Pengaruh peradaban pra-Islam itu memungkinkan Ratu Kalinyamat bisa memerintah di Jepara setelah kekuasaan Demak surut. Hal yang aneh lainnya adalah, Ratu Kalinyamat bertapa dengan bertelanjang. Hanya rambut panjang lebatnya yang menutupi tubuhnya. Tidak diceritakan desain tempat ratu Kalinyamat bertapa telanjang. Tapi Babad Tanah Jawi memberitakan Ki Ageng Pemanahan bersama Joko Tingkir bisa bercakap-cakap dengan Ratu Kalinyamat di tempat bertapa. Joko Tingkir yang sudah menjadi Adipati Pajang menasihati Ratu Kalinyamat agar tidak bertapa telanjang. Ratu Kalinyamat pun berterima kasih atas kepedulian Joko Tingkir. Tapi ia menjelaskan bahwa sudah telanjur bernazar, selama Aryo Penangsang masih hidup, ia akan bertapa telanjang. Karenanya, agar ia bisa menyudahi tapa telanjangnya, ia meminta bantuan Joko Tingkir untuk membalas dendam atas kematian suaminya. Suami Ratu Kalinyamat, Pangeran Kalinyamat, telah dibunuh oleh Aryo Penangsang yang dikenal sakti. Joko Tingkir pun menyatakan tak sanggup melawan kesaktian Aryo Penangsang. Ratu Kalinyamat lalu menyindir adik iparnya itu. Percupa punya saudara laki-laki tetapi tidak bisa membantu balas dendam atas kematian Pangeran Kalinyamat. Ki Ageng Pemanahan pun segera menengahi perdebatan kakak-adik ini. Ia menyarankan agar Joko Tingkir memikirkan dulu permintaan Ratu Kalinyamat. Karenanya, Ki Ageng pemanahan meminta Joko Tingkir pulang dulu ke Pajang. Jika sudah mendapatkan jawaban, segera kembali ke Gunung Danaraja, tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Setelah Joko Tingkir pergi, Ki Ageng Pemanahan memberi saran kepada Ratu Kalinyamat. Ia menjelaskan Joko Tingkir terlihat ada minat pada perempuan-perempuan yang menyertai Ratu Kalinyamat. Karenanya, ia meminta agar mereka disuruh dandan pada saat Joko Tingkir kembali berkunjung. Ratu Kalinyamat mengatakan, perempuan-perempuan yang menyertainya adalah selir-selir suaminya. Ia pun menyanggupi menyerahkan kepada Joko Tingkir jika Joko Tingkir bersedia membalaskan dendam. Singkat cerita, Joko Tingkir berhasil membalasan dendam. Ratu Kalinyamat kemudian menyerahkan selir-selir suaminya kepada Joko Tingkir Bahasa Jawa alusnya dipun danani. Peristiwa ini kemudian memunculkan pemberian nama mata air di tempat pertapaan itu: mata air danarasa. Ratu Kalinyamat pun menyudahi tapa, lalu melajutkan pemerintahan Jepara yang beribu kota di Kalinyamat. Memimpin negeri maritim ia bisa menggalang kekuatan untuk mengumpulkan armada laut dari negeri-negeri lain di pesisir utara Jawa. Ia mengirim armada lut itu ke Malaka dan Aceh, untuk membantu kedua negeri itu melawan Portugis. Babad Tanah Jawi tidak menyebutkan berhasil tidaknya Jepara melawan Portugis. De Graaf dan Pigeaud menyebut, pada pengiriman armada laut ke Malaka pada 1551, Jepara kalah dari Portugis. Pengiriman armada laut pada 1574 untuk membantu Aceh mengusir Portugis, Jepara juga kalah. Selama di Aceh, Jepara mengepung Portugis selama tiga bulan. Tapi, mereka harus pulang ke Jepara tanpa membawa kemenangan. Meski begitu, permintaan bantuan masih datang ke Jepara.Persekutuan Hitu di Ambon beberapa kali memnta bantuan ke Jepara. Di Ambon pasukan Jepara ikut mengusir Portugis dan orang-orang Hative yang masih seketurunan dengan orang-orang Hitu. De Graaf dan Pigeaud tidak menyebut berhasil tidaknya tugas di Ambon. Tapi pasukan Jepara disebut bertindak keras selama di Ambon. “Tetapi hanya terbatas sampai perempat ketiga abad ke-16, yakni semasa pemerintahan Ratu Kalinyamat,” tulis De Graaf dan Pigeaud. (hud) Baca juga :

Read More

Kisah Musailamah Sang Pendusta

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Musailamah al-Kadzab mengaku dirinya sebagai nabi pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Awalnya, ia pemeluk Islam dari Yamamah di Jazirah Arab, yang dikenal sebagai orang yang memiliki sifat lemah lembut dalam bertutur, pandai bicara, dan menarik simpati. Bahkan di lingkungan sekitarnya, Musailamah al-Kadzab didukung oleh Bani Hanifah dan memiliki pengaruh cukup besar. Karena klaimnya sebagai nabi, Musailamah al-Kadzab terlibat dalam Pertempuran Yamamah bersama pasukan Amirul Mukminin Abu Bakar dan tewas di tangan Wahsyi bin Harb. Wahsyi telah mendapat hidayah sehingga dia menyatakan keimanannya. Dia yang menewaskan paman Nabi SAW, yaitu Hamzah. Adapun Musailamah bin Habib memperoleh julukan al-Kadzab karena dia seorang pembohong atau pendusta. Perkembangan pengikut Musailamah makin hari makin besar. Dengan kepercayaan diri, dia membuat kitab dengan harapan ada legitimasi. Namun para ahli seni menilai kitab tersebut tidak mempunyai nilai seni. Ajaran Musailamah al-Kadzab semakin berkembang hingga Nabi Muhammad SAW wafat pada 632 H. Selepas Nabi Muhammad SAW wafat, Musailamah dan pengikutnya makin membuat tidak menyenangkan pemimpin Islam di Madinah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin Abu Bakar. Bahkan Musailamah menyerukan akan memerangi Madinah, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Islam. Menanggapi hal itu, Amirul Mukminin Abu Bakar kemudian mengutus panglima perangnya, Khalid bin Walid, beserta pasukannya untuk menumpas Musailamah dan pengikutnya. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba yang senantiasa berdusta dan terbiasa berdusta, akhirnya dicap di sisi Allah SWT sebagai pendusta.” Kemudian Nabi SAW melanjutkan, “Celakalah bagi orang-orang yang berbicara, kemudian dia berdusta, kemudian dia ditertawakan oleh manusia. Celakalah dia. Celakalah dia.” Seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, mungkinkah seorang Mukmin itu berzina? Mungkinkah seorang Mukmin itu mencuri?” Rasulullah SAW menjawab, “Kadang-kadang bisa terjadi hal yang demikian itu (berzina dan mencuri).” Kemudian Rasulullah ditanya lagi, “Mungkinkah dia berdusta?” Beliau menjawab, “Tidak. Sesungguhnya dusta itu dibuat oleh orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah SWT.” Jelas dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa pendusta itu disamakan sebagai hamba yang tidak mengimani ayat-ayat-Nya. Sedangkan orang mencuri dan berzina, merupakan tindakan khilaf (maksiat), tapi dia meyakini ayat-ayat-Nya. Ada seorang ibu berkata kepada anak kecilnya, “Kemarilah! Nanti aku beri engkau.” Maka Nabi SAW bertanya, “Apa yang akan engkau berikan jika ia datang?” Wanita itu menjawab, “Kurma.” Nabi SAW berkata, “Jika engkau tidak melakukannya, maka tercatat atasmu sebuah dusta.” Pada saat kita awal membangun sebuah rumah tangga dengan karunia putra-putri yang rupawan, sering kita berkata saat mau berangkat kerja sambil berpamitan pada anak-anak, “Nanti diberikan oleh-oleh ya.” Namun sering kita lupa tidak membelikannya saat pulang pada malam harinya. Inilah bentuk dusta yang kita tidak menyadari dan bahayanya jika hal itu terjadi berulang, sehingga berdusta kita anggap hal biasa. Apalagi jika kebiasaan ini terjadi pada tokoh, dampaknya akan lebih besar daripada seorang ibu yang lupa memenuhi janji pada anaknya. Hendaknya seseorang menghindari perbuatan dusta, termasuk dalam angan-angan dan perkataan hati. Dalam kehidupan keseharian, sering kita jumpai seseorang berdusta untuk memperoleh tambahan harta dan kehormatan. Jika terdesak untuk berbohong, maka dia mesti mengatur dengan kata-kata kiasan sebisa mungkin hingga dirinya tidak menganggapnya sebagai kebohongan. Ini merupakan tindakan pembenaran atas dusta yang dilakukannya. Kita bersikap optimistis agar negeri ini bebas dari contoh Musailamah al-Kadzab. Ada dusta yang diperbolehkan, Ummu Kultsum RA berkata, “Rasulullah SAW tidaklah meringankan (membolehkan) dusta sedikit pun kecuali dalam tiga hal, yaitu seseorang yang berkata-kata untuk mendamaikan, seseorang yang berkata-kata ketika perang, dan seseorang yang memuji istrinya.” Oleh karena itu, semenjak dini anak-anak kita dan keturunannya dididik untuk bersikap jujur yang jauh dari dusta. (mif) Baca juga :

Read More

Benarkah Ratu Kalinyamat Melakukan Tapa Telanjang

Jakarta — 1miliarsantri.net : Babad Tanah Jawi menyebut Ratu Kalinyamat melakukan tapa telanjang setelah suaminya dibunuh. Tim Pakar Ratu Kalinyamat menyatakan hal ini tidak bisa dimaknai secara harfiah. Tim pakar untuk pengusulan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional ini diketuai oleh Prof Dr Ratno Lukito. Anggotanya terdiri dari Dr Alamsyah, Dr Chusnul Hayati, Dr Connie Rahakundini Bakrie, dan Dr Irwansyah. Menurut Tim Pakar Ratu Kalinyamat, tapa telanjang tidak ada dalam tradisi masyarakat Jawa. Ada 11 jenis tapa yang biasa dilakukan orang Jawa di masa lalu, di dalamnya tidak ada tapa telanjang. Orang Jawa memiliki pepatah: Jawa tapa, Landa guna, Cina banda, Arab agama. Artinya Orang Jawa memilih meninggalkan urusan duniawi, orang Belanda menginginan manfaat, orang Cina mencari kekayaan, orang Arab menyebarkan agama. Tim Pakar Ratu Kalinyamat mengutip catatan arkeolog Belanda J Knebel pada 1897 menyebutkan 11 jenis tapa yang dilakukan orang Jawa pada abad ke-16: Di daftar itu tidak ada tapa wuda (telanjang). Di daftar itu juga tidak ada tapa ngrowot, yaitu tapa dengan cara tidak makan nasi. Juga tidak ada tapa pati geni, yaitu bertapa dengan cara menghindari cahaya. Tapa ngebleng juga tidka masuk dalam daftar itu. tapa ngebleng adalah bertapa dengan cara tidak makan minum di tanggal-tanggal ganjil. Tapa berendam di pertemuan arus sungai, yang disebut tapa kungkum, juga tidak masuk dalam daftar itu. Pun tapa pendem, yaitu bertapa di dalam tanah, juga tidak ada dalam daftar. Apakah jenis tapa yang tidak ada dalam daftar yang disusun Knebel belum ada di abad ke-16? Tapa kungkum jelas sudah tua juga, karena Sunan Kalijaga melakukannya. Tapa, menurut Bausastra Jawa karya Poerwadarminta: nglakoni matiraga sarta sumingkir saka ing alam rame (menjalani matiraga dan menjauh dari pergaulan masyarakat). Matiraga artinya menahan hawa nafsu atau menjauhkan diri dari kesenangan duniawi. “Jadi, tapa wuda merupakan makna simbolik keikhlasan Ratu Kalinyamat untuk meninggalkan kemewahan duniawi yang didorong oleh penyerahan total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” tulis Tim Pakar Ratu Kalinyamat. Penulis Portugis Tome Pires yang bercerita mengenai Jawa, sedikit membahas tapa yang dilakukan orang Jawa. Menurut dia, ada sekitar 50 ribu oertapa laki-laki di Jawa pada masa itu. Tomes Pires mengumpulkan catatan pada 1512-1515 pada saat Jepara dipimpin Dipati Unus. Ratu Kalinyamat lahir pada tahun 1514 dan melakukan tapa telanjang pada 1549 atau 1550. Ternyata tapa ada alirannya. Meski tidak menyebutkan nama-nama alirannya, Tome Pires menyebut jumlahnya, ada 3-4 aliran. Para pertama ini dipuja oleh orang-orang Moor. Yangd isebut orang Moor adalah orang-orang di Jawa yang menganut Islam, bangsa Moro, yang berasal dari Andalusia. Orang-orang Moor ini senang memberi mereka sedekah. Akan lebih senang lagi jika para pertapa mengunjungi rumah mereka, meski para pertapa itu tidak akan makan di dalam rumah mereka, melainkan di luar rumah. Para pertapa itu jika bepergian, mereka melakukannya dengan berkelompok, 2-3 orang. “Saya pernah beberapa kali melihat 10 atau 12 pertapa ini di Jawa,” tulis Tome Pires. Dengan penjelasan ini, tergambar jika bertapa itu tidak seperti yang digambarkan di film-film, duduk bersila melakukan semedi. Mereka juga melakukan aktivitas. Jadi, semedi hanya merupakan bagian dari tapa. Bagaimana dengan pertapa perempuan? Tome Pires menyebut jumlahnya dua kali lipat dari pertapa pria. Ada lebih dari 100 ribu pertapa perempuan di Jawa pada masa itu. Tentu ada sebabnya sehingga pertapa perempuan lenih banyak. Para pertapa perempuan ini ada yang tidak menikah ada yang bertapa setelah kehilangan suami. Dalam tradisi Jawa pra-Islam, perempuan yang ditinggal mati suaminya akan ikut mati juga dengan cara membakar diri atau menenggelamkan diri atau bunuh diri dengan keris. Tapi ada juga yang menolak ikut mati, lalu bertapa. Para pertapa mengasingkan diri di pegunungan. Mereka membangun tempat tinggal.“Mereka membangun rumah di pegunungan dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya,” tulis Tome Pires. “Mereka hidup dalam kesucian hingga mati. Mereka membangun rumah-rumah mereka di tempat terpencil,” ulang Tome Pires. Babad Tanah Jawi tidak menggambarkan detail tempat tapa Ratu Kalinyamat. Tapi diceritakan ada banyak pembantu yang menyertainya, artinya tentu ada pesanggrahan di tempat bertapa itu. Jika kemudian Joko Tingkir, adik ipar Ratu Kalinyamat, disertai oleh Ki Ageng Pemanahan, bisa mengunjungi Ratu Kalinyamat, kita juga menjadi tidak heran meski Ratu Kalinyamat sedang bertapa telanjang. Jika di lokasi pertapaan ada rumah, maka ia telanjang di dalam rumah itu, sehingga tidak merendahkan martabat perempuan. Dialog dengan Joko Tingkir dan Ki Ageng Pemanahan bisa dilakukan dengan tidak saling bertemu muka. Sebab ada batas dinding atau tirai sebagai pembatasnya. (yan) Baca juga :

Read More

Kajian Peran Ulama Dalam Sejarah Indonesia Menurut Beberapa Penulis

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di Indonesia, kontribusi kaum ulama diakui sangat besar dalam konteks perjuangan, baik di lini pendidikan, sosial, dan bahkan politik kebangsaan. Sejarah mencatat, mereka berperan strategis, baik pada masa tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pra-kolonial, masa penjajahan, maupun era kemerdekaan bahkan hingga saat ini. Ulama dan Kekuasaan merupakan salah satu buku yang merangkum narasi perjuangan ulama di Nusantara secara bernas dan mendalam. Karya guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Prof Jajat Burhanudin, ini mulanya merupakan disertasi yang dibuat sang penulis ketika menempuh studi S-3 di Leiden University (Belanda). Dengan karyanya itu, Prof Jajat bermaksud merevisi sejumlah historiografi Islam Indonesia modern yang muncul sebelumnya, yakni buah tangan para sejarawan sebelumnya yang telah menulis ihwal ketokohan ulama dalam pentas sejarah nasional. Sebut saja, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 karya Deliar Noer (1973) atau Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism karya Alfian (1989). Maka, Ulama dan Kekuasaan berusaha mengemukakan aspek-aspek yang sempat terabaikan dari studi-studi terdahulu tentang ulama Nusantara. Fokusnya mengungkapkan bagaimana proses historis yang membuat ulama memiliki fondasi intelektual dan sosial yang mapan. Buku tersebut diawali dengan pembahasan tentang peran ulama saat Nusantara masih berupa kerajaan-kerajaan Islam. Nusantara pra-kolonial—atau kerap disebut the lands below the wind (‘negeri di bawah angin’)—menampilkan eratnya hubungan antara kalangan raja (penguasa politik) dan ulama. Hal ini merujuk pada kesaksian para pengelana yang mengunjungi negeri-negeri Muslim di kepulauan tersebut. Misalnya, Ibnu Battuta yang melawat ke Samudra Pasai—kerajaan Islam pertama di Nusantara—pada 1345/1346. Penjelajah terbesar Arab itu, menurut Jajat, melaporkan bahwa Raja Samudra Pasai saat itu, Sultan Malik al-Zahir, amat gemar belajar Islam pada ulama. Di istana raja tersebut, kerap berlangsung diskusi keilmuan antara elite kerajaan dan alim ulama. Jajat berkesimpulan, Islam merupakan faktor yang tak terpisahkan dalam pembentukan kerajaan-kerajaan di Nusantara sebelum datangnya masa kolonialisme Eropa. Hasilnya, lanjut dia, pandangan politik yang berpusat pada raja menjadi basis kultural bagi pembentukan diskursus intelektual Islam sepanjang periode pra-kolonial. Otoritas politik raja pun diwarnai narasi-narasi agama. Dalam membahas Nusantara era kerajaan-kerajaan Islam, Jajat juga menghubungkan keadaan saat itu dengan Tanah Suci. Bagi raja-raja dan alim ulama Muslim Nusantara, Makkah dan Madinah memiliki posisi penting dalam horizon pemikiran mereka. Jajat membahas ketokohan beberapa ulama Nusantara pada masa itu yang mengadakan rihlah keilmuan hingga ke Tanah Suci. Mereka antara lain adalah al-Raniri (wafat 1608), Abdurrauf al-Sinkili atau Abdurrauf Singkel (1615-1693), serta Yusuf al-Makassari (1627-1699). Menurut Jajat, mereka menjadikan daulat kerajaan sebagai tempat untuk melancarkan misi pembaruan agama Islam. Ide-ide pembaruan itu pun diperoleh terutama saat masing-masing menuntut ilmu di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada masa ini, pengaruh alim ulama di lingkungan istana kerajaan tak lepas dari adanya jabatan kadi. Menurut Jajat, lembaga kadi kian mapan pada abad ke-17, misalnya di Aceh atau Banten. Dalam kasus Kerajaan Aceh, di samping kadi juga terdapat lembaga lain yang bertugas memberi nasihat kepada raja. Syaikhul Islam, demikian nama lembaga itu, menunjukkan besarnya pengaruh intelektual Muslim di lingkungan istana. Salah satu tokoh syaikhul Islam yang terkemuka di Aceh ialah Hamzah Fansuri (wafat 1590). Memasuki era kolonialisme, Jajat menunjukkan adanya pembentukan elite Muslim baru. Keadaan itu tak lepas dari peran jaringan ulama Nusantara yang mengadakan rihlah atau bahkan mengajar di Tanah Suci. Mereka berkontribusi dalam mengintegrasikan Islam di Hindia Belanda—sebutan bagi Nusantara kala dicengkeram kolonialisme—ke dalam arus perkembangan Islam di Timur Tengah. Ulama-ulama Jawi yang pulang ke Tanah Air kerap membentuk suatu kelompok sosial yang berorientasi pada pemahaman Islam. Kalangan ulama juga turut andil dalam upaya melawan kolonialisme. Pada akhir abad ke-18, Makkah menjadi pusat gerakan puritan Wahhabi. Jajat menjelaskan, gerakan tersebut menjadi wadah intelektual dan politik Islam di Makkah. Pada gilirannya, Wahhabi mengilhami munculnya “gerakan reformis Islam pra-modern”—demikian Jajat meminjam istilah dari Fazlur Rahman (1966). Ulama-ulama Nusantara yang terpengaruh Wahhabi memunculkan peristiwa-peristiwa letupan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Misalnya, kasus Gerakan Padri di Sumatra Barat (1807-1832). Gerakan itu muncul saat tiga ulama Minangkabau kembali dari Makkah pada 1803. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Setelah bersentuhan dengan Wahhabi di Tanah Suci, ketiganya pun melancarkan semangat pembaruan Wahhabi di daerah asal mereka. Awalnya, upaya mereka mendapat tantangan dari kaum adat. Bahkan, perang saudara pun tak terhindarkan. Akan tetapi, konflik yang ada lantas berubah menjadi perlawanan terhadap penjajah setelah Belanda memihak secara terbuka golongan adat. Di Jawa, pada abad ke-19 juga pecah Perang Diponegoro. Jajat mengakui, gerakan yang dimotori Pangeran Diponegoro (wafat 1855) itu tak memiliki hubungan dengan Wahhabi di Makkah. Akan tetapi, bangsawan Muslim Yogyakarta itu diilhami semangat kebangkitan Islam sehingga tampil memimpin perjuangan kaum Pribumi melawan Belanda. Selain itu, sang pangeran juga merangkul komunitas santri sebagai basis kekuatan. Peristiwa Banten tahun 1888 juga dibahas oleh Jajat dalam bukunya itu. Sebab gerakan perlawan ini diinisiasi para ulama terkemuka setempat waktu itu, yakni Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Mardjuki, dan Haji Wasid. Mengutip kajian Kartodirdjo (1966), para alim itu menyebut pergerakan mereka sebagai jihad melawan kolonial. Selain itu, mereka berkomitmen kuat untuk mewujudkan masyarakat yang berorientasi syariat. Karya Prof Jajat Burhanudin tidak hanya menampilkan pembahasan flashback, melainkan juga menyoroti keadaan terkini. Dalam perenungannya, sang penulis meneroka keadaan Muslimin Indonesia, sekurang-kurangnya, sejak era Orde Baru hingga Reformasi kini. Dalam lingkup nasional, Majelis Ulama Indonesia (MUI) muncul sebagai kristalisasi peran golongan ulama. MUI berdiri sejak Juli 1975. Menurut Jajat, lembaga itu dirancang untuk memfasilitasi komunikasi dua arah antara kepentingan pemerintah dan masyarakat Muslim dengan cara di mana selurug kelompok Islam di negara ini dapat terwakili. Pada zaman Orde Baru, dia menjelaskan, MUI berada dalam bayang-bayang pemerintah. Keadaan itu mengingatkan orang-orang pada kantor penghulu bentukan pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-19 atau syaikhul Islam di Kerajaan Aceh abad ke-17. Memasuki era Reformasi, MUI pun bertransformasi. Kecenderungan orientasinya kini pada umat, alih-alih negara. Umat Islam Indonesia zaman Reformasi juga dapat mengambil rujukan dari ulama lain, yakni yang di luar kelembagaan MUI. Misalnya, untuk menyebut satu saja dari banyak contoh, ketokohan sosok KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Dengan dukungan ekspose media—televisi atau radio—ceramah-ceramah Aa Gym dapat menjangkau khalayak luas. Pengaruhnya pun kian besar seiring waktu. Jajat menegaskan, kalangan ulama merupakan salah satu faktor penyokong utama pembentukan…

Read More