Kisah Bung Karno Ngaku Pelagak

Jakarta — 1miliarsantri.net : Hari ulang tahun pertama Angkatan Perang akan dilakukan pada 5 Oktober 1946. Perencanaannya penuh gegap gempita. Bung Karno sebagai panglima tertinggi Angkatan Perang akan melakukan inspeksi pasukan dengana cara yang megah dan mengagumkan dengan naik kuda. Padahal ia tak pernah naik kuda. Mengaku sebagai pelagak, ia akan menunjukkan hal yang layak dilakukan oleh pelagak. “Untuk pawai besok berilah saya kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak dan yang hampir mendekati kematiannya,” perintah Bung Karno kepada seorang perwira kavaleri. Di rumah, Fatmawati pun terheran-heran mendengar keinginan Bung Karno itu. Tentu saja, karena ia belum pernah melihat Bung Karno naik kuda. Maka, kita pun layak heran. Sebab yang sering kita lihat di foto-foto adalah Bung Karno sedang naik sepeda ontel. Baik itu naik sepeda sendirian maupun berdua bersama Fatmawati yangduduk di boncengan belakang. Kenapa inspeksi pasukan tidak menggunakan sepeda saja? Tidak. Bung karno ingin upacara peringatan Angkatan Perang itu bernagsung secara medah dan menganggumkan. Naik sepeda tidak memperlihatkan kemegahan yang ia inginkan. Maka, naik kuda menjadi pilihan utama. “Jadi bagaimana caranya?” tanya Fatmawati. “Aku hendak menghadapi kenyataan bahwa aku orang pelagak. Karena itu aku hendak melakukan apa yang diperbuat oleh orang yang pelagak. Aku akan belajar naik kuda,” kata Bung Karno. “Kan pawainya besok?” sahut Fatmawati. “Ya, saya akan belajar dalam satu hari,” jawab Bung Karno. Seorang perwira kavaleri melatih Bung Karno naik kuda. Tetapi ketika perwira itu tidak setuju Bung Karno naik kuda tua, Bung Karno yang pelagak itu menjadi grogi. “Tidak, Pak. Tidak pantas untuk Bapak. Kuda yang disediakan harus yang muda dan garang,” kata perwira itu. Sang perwira memiliki alasan kuat. Angkatan Perang harus memiliki semangat tempur. “Dia harus memperlihatkan semangat tempur yang menyala-nyala dan kuda yanag terbaik dari seluruh kelompok,” kata perwira itu. Bung Karno layak gugup mendengar pe njelasan perwira itu, karena ia memang berlum pernah naik kuda. “Di masa yang sudah-sudah, pergaulanku dengan kuda hanya sekadar menepuk-nepuk kuduknya saja,” kata Bung Karno. Bung Karno semakin grogi karena ia mendapat informasi bahwa kuda yang akan ia naiki belum pernah berbaris mengikuti irama musik. Kuda itu hanya dilatih sehari penuh untuk siap mengikuti upacara dan dinaiki Bung Karno. Seusai berlatih naik kuda, Bung Karno mendapat pijatan darfi Fatmawati. Ia mengeluh badannya pegal-pegal. “Fat, rupanya kuda itu tidak dilatih untuk tahu bahwa Presiden yang akan menunggangnya,” kata Bung Karno. “Nanti kuberitahu pelatihnya, kuda-kuda itu harus diberi pelajaran mengenal penunggangnya. Presiden, meneri, atau jenderal,” jawab Fatmawati yang disusul dengan tawa ringan. Hari-H tiba. Terompet telah dititup, genderang telah dipukul berderam-deram. Bung Karno menaiki kuda untuk memulai pawai. “Binatang itu berjalan mengikuti irama musik. Ia menjadi liar,” kata Bung Karno. Untung, Bung Karno yang sudah naik kuda itu bisa segera mengatasi situasi. Itu terjadi saat ia melihat pasukan yang berbaris rapi. “Datanglah sifatku yang congkak. Sorak-sorai dan teriakan gembira dari rakyat yang berjejal-jejal di lapangan pawai menghidupkan semangat,” kata Bung Karno yang mengaku sebagai seorang pelagak. Ia lalu menggunakan pergelangan kakinya untuk mengendalikan kudanya, seperti yang diajarkan oleh perwira kavaleri. Kuda itu menurut perintah Bung Karno, berjalan dengan langkah yang tenang dan teratur di depan pasukan Angkatan Perang. “Dan kuda yang bagus itu tak pernah menyadari bahwa tuannya lebih gentar menghadapi peristiwa itu daripada binatang itu sendiri,” kata Bung Karno. (yan) Baca juga :

Read More

Sejarah Pertama Kali Haji Dilaksanakan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Haji adalah ibadah yang diwajibkan kepada setiap umat Islam yang mampu menjalankannya. Siapa yang pertama kali menunaikan ibadah haji? Berikut beberapa pendapat mengenai hal tersebut. Perintah melakukan haji dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 97. Allah SWT berfirman, فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ Artinya: “Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.” Menukil buku Menuju Umrah dan Haji Mabrur karya Syaiful Alim, pendapat mengenai sejarah pelaksanaan haji dapat dirujuk dari kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau-i al-Mashadir al-Ashliyah karya Mahdi Rizqullah Ahmad, Akhbar Makkah wa Ma Ja’ala min al-Atsar karya Muhammad bin Abdullah al-Azraqi, dan Tarikh Makkah al-Mukarramah Qadiman wa Haditsan karya Muhammad Ilyas Abdul Ghani. Sejarah Haji Dimulai dari MalaikatDikisahkan bahwa sejarah haji dimulai ketika para malaikat menggugat kebijakan-Nya dalam menciptakan manusia. Hal ini tertera dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30. وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” Pada akhirnya, malaikat merasa bersalah. Mereka mengelilingi Arsy (tawaf) seraya menangis dan memohon ampun atas kelancangan kepada-Nya. Allah SWT pun membuat miniatur Arsy bernama Baitul Makmur (Ka’bah). Di tempat ini, para malaikat melanjutkan tawaf. Nabi Adam AS Melakukan Haji Mengikuti MalaikatDikisahkan pula bahwa setelah Nabi Adam AS dan Hawa diturunkan ke bumi, mereka segera bertobat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas RA, Nabi Adam AS juga melakukan tawaf. Melihat Nabi Adam AS yang tengah melakukan tawaf, para malaikat menemuinya seraya berkata, “Semoga hajimu mabrur, wahai Adam. Sesungguhnya kami telah melaksanakan ibadah haji di Baitullah ini sejak 2.000 tahun sebelum kamu.” Nabi Adam AS pun bertanya kepada para malaikat, “Pada zaman dahulu, apa yang kalian baca ketika tawaf?” Mereka menjawab, “Dahulu, kami mengucapkan Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.” Nabi Adam AS berkata, “Tambahkanlah dengan ucapan walaa hawla walaa quwwata illa billah.” Lalu, para malaikat mengikuti saran Nabi Adam AS tersebut. Nabi Ibrahim AS Menyerukan Perintah HajiKetika terjadi banjir pada masa Nabi Nuh AS, Allah SWT mengangkat Ka’bah kembali ke langit agar tidak dicemari dosa penduduk bumi. Nabi Ibrahim AS menelusuri jejaknya dan membangun Ka’bah yang baru, tetapi dengan fondasi dari Ka’bah yang lama. Hal ini diriwayatkan Qatadah sebagaimana dinukil al-Umari. Diceritakan dalam Tarikh Ka’bah karya Ali Husni al-Kharbuthli yang diterjemahkan Fuad Ibn Rusyd, setelah selesai membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyerukan perintah ibadah haji kepada manusia. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 27. Allah SWT berfirman, وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْق Artinya: “(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa setelah mendapat perintah tersebut Nabi Ibrahim AS berkata, “Wahai Tuhanku, suaraku tidak mampu memanggil hingga jauh.” Allah SWT menjawab, “Serulah! Aku yang akan menyampaikan.” Nabi Ibrahim AS pun menyeru, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atas kamu haji ke Baitullah.” Ternyata, seluruh makhluk yang ada di bumi dan langit mendengar seruan Nabi Ibrahim AS tersebut. Imam ath-Thabari juga menceritakan bahwa setelah itu Jibril datang menemui Nabi Ibrahim AS pada hari Tarwiyah (8 Zulhijjah) dan melakukan rangkaian ibadah haji bersamanya. (rid) Baca juga :

Read More

Sosok RA Kartini yang Memiliki Hobi Gemar Membaca

Jepara — 1miliarsantri.net : RA Kartini salah satu tokoh pejuang dsn pergerakan emansipasi wanita memiliki hobi gemar membaca. Banyak buku yang sudah ia baca, tetapi ia menolak untuk membaca buku karya PJ Veth. Padahal buku karya etnolog Belanda itu mendapat penghargaan dari Kongres Geografi di Paris pada 1873. Lalu mendapat penghargaan lagi dari Kongres Geografi di Venesia pada 1881. Selain itu, Yayasan Thorbecke juga memberi penghargaan pada 1882. Buku itu, Java, terdiri dari tiga jilid terbit sejak 1875 hingga 1882. Tapi, begitu ia menemukan buku yang ia suka, ia akan membaca buku itu tanpa jeda dengan cara mengurung diri di kamar. Alasannya tentu bukan karena buku itu berbahasa Belanda, sebab RA Kartini cukup mahir berbahasa Belanda. Ia, misalnya, membaca buku De Wapens Neergelegd karya Bertha von Suttner yang pada 1905 menerima Nobel. Buku itu berbicara tentang perjuangan memenangkan perdamaian sosial. RA Kartini memang menyukai tema-tema sosialisme. Karenanya, ia juga membaca buku roman berjudul De Vrouw en het Socialisme karya August Bebel. Ia bahkan pernah mengurung diri di kamar untuk menuntaskan membaca buku roman setebal 567 halaman tanpa jeda. Roman itu berbicara tentang emansipasi perempuan, judulnya Hilda van Suylenburg, karya C Goekoop de Jong. Bahkan ia sampai mengulang membaca hingga tiga kali. “Mau aku mengorbankan segala-galanya kalau saja diperoleh hidup di masa Hilda van Suylenburg,” tulis Kartini 25 Mei 1899. Buku bertema emansipasi perempuan yang pertama ia baca ya Hilda van Suylenburg itu. Ia kagum pada dampak gerakan emansipasi perempuan di Eropa yang digambarkan buku itu. “Percayakah kau, kalau Hilda van Suylenburg itu aku tamatkan tanpa berhenti? Aku kurung diriku di dalam kamar terkunci, lupa segala-galanya, tak dapat aku melepaskan dia dari tangan, dia begitu menyeret hatiku,” tulis Kartini pada 12 Januari 1900. Setelah RA Kartini menikah, ia mengutarakan niatnya melakukan sesuatu ala Hilda van Suylenburg. Sebelumnya ia juga telah membaca buku Moderne Vrouwen terjemahan dalam bahasa Belanda dari buku Prancis. Namun, ia tidak menyukai buku itu. Ia kembali ke buku Hilda van Suylenburg. “Sekarang kami akan melakukan sesuatu ala Hilda van Suylenburg: seorang ibu dengan bayi dalam gendongan pergi bekerja,” tulis Kartini pada 8 Juni 1904. Menyukai karya-karya Barat, bukan berarti RA Kartini tidak menyukai buku yang membahas mengenai Jawa. Ia membaca Wedhatama dan Centhini, sehingga mendapat wawasan mengenai nilai-niai Jawa. Ia juga membaca buku-buku hikayat wayang. Ia pun membaca buku-buku Multatuli. Setelah menuntaskan Max Havelaar, RA Kartini lalu membaca Minnebrieven, yang diterbitkan setelah Max Havelaar. Ia membaca dua kali Minnebrieven. Dari karya Multatuli inilah muncul kesadaran kuat RA Kartini untuk membela pribumi. Ada kalimat yang ia sukai dari buku karya Multatuli, yaitu: “Tugas manusia adalah memanusiakan manusia”. Dan “Bertambah orang Jawa bekerja, bertambah banyak laba didapat oleh mereka (pembesar-pembesar dan sebagainya), oleh pemerintah, oleh nasion”. Lalu mengapa ia tak suka buku Java karya PJ Veth? Ia kecewa dengan isi buku itu yang menurutnya membahas sisi negatif orang Jawa. Ia menolak untuk membaca buku yang menimbulkan kekecewaan. Buku-buku yang ia baca adalah buku-buku yang memunculkan kesadaran baru. Bukan berarti semua buku Barat bagus. Tidak. Buktinya, ia tidak suka dengan pandangan dalam buku Moderne Vrouwen. Ini buku Prancis yang diterjemahkan dari bahasa Prancis itu. RA Kartini mendapat kecocokan pemikiran dalam buku Moderne Maagden karya Marcel Prevost. Ini juga buku Prancis yang telah diterbikan dalam bahasa Belanda. “Karena penemuan-penemuan kembali banyak hal yang memang telah aku pikirkan, rasakan, dan alami,” tulis Kartini 23 pada Agustus 1900. RA Kartini juga cukup antusias membaca sejarah Revolusi Prancis, selain sejarah Yunani dan Romawi. Ia menjalankan prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan dalam kehidupannya sehari-hari. Hasil dari membaca buku sejarah Prancis, RA Kartini menjalankan prinsip bebebasan, persamaan, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Tentang ini, ia pernah bercerita lewat suratnya tertanggal 18 Agustus 1899. Ia juga menyukai buku Buddhisme karya Fielding. Juga menyukai biografi Pundita Ramabai. Ramabai Sarasvati meruoakan pembaharu sosial di India dan belum menikah ketika berusia 22 tahun. (her) Baca juga :

Read More

Ketika Bung Karno Memulangkan Istri Pertamanya, Putri HOS Cokroaminoto

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ketika bersekolah di HBS Surabaya, Bung Karno tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Pemimpin Sarekat Islam itu pun kemudian menjodohkan anaknya, Siti Utari, dengan Bung Karno. Lulus dari HBS, Bung karno melanjutkan sekolah di Technische Hoogeshool te Bandoeng (THB). Namun, setelah lulus dari THB mengapa ia ceraikan Siti Utari, istri pertamanya itu? Setelah memulangkan Siti Utari ke orang tuanya, Tjokroaminoto, Bung Karno pulang ke Blitar. Ia sungkem kepada ibunya sebelum mengutarakan isi hatinya, “Ibu, saya tidak beruntung.” Baru mengungkapkan satu kalimat, air matanya meleleh. Ibu Bung karno menjadi gusar, karena belum memahami maksud kalimat Bung Karno. “Ya anakku, kau kenapa? Bicaralah yang terang,” kata ibu Bung Karno. Lama Bung Karno tak menjawab pertanyaan ibunya. Dadanya membuncah. Ibunya terus mendesak, “Karno, bicaralah yang terang. Ibu tidak marah, ada apa?” “Utari sudah pulang kepada orangb tuanya,” jawab Bung Karno. “Oh, kenapa ia pulang? Apa kau kurang berharga untuknya?” tanya ibu Bung Karno. “Bukan begitu, Ibu. Hanya saya yang antarkan pulang,” jawa Bung Karno. “Apa ia bersalah?” “Tidak Ibu, jauh dari itu.” “Dan kenapa diantarkan pulang?” “Oh, buat keberuntungannya Utari sendiri,” jawab Bung Karno. “Oh, Kusno, engkau membuat aku jadi bingung. Tuturkanlah duduk perkaranya,” kata Ibu Bung Karno menyapanya dengan nama kecil anaknya, Kusno. Mendengar ibunya menyapanya dengan nama kecil, Bung Karno mengangkat kepalanya dari pangkuan ibunya. Setelah itu ia arahkan pandangannya ke luar jendela, lalu menarik napas panjang. Setelah mengatur hatinya, ia mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan perkataannya. Ia lalu menjelaskan kepada ibunya alasan ia ceraikan anak Tjokroaminoto, istri pertamanya. “Ibu, tentu Ibu tidak kejam untuk kemudian menyalahkan saya dalam hal ini,” kata Bung Karno. Ia lalu bercerita saat ia meminta restu kepada ibunya untuk menikahi Siti Utari. Ia menyatakan saat itu ia masih terlalu muda untuk memikirkan arti pernikahan. “Ibu, Utari juga tidka bisa disalahkan karena ia juga masih terlkalu muda,” kata Bung Karno. Tak ada yang salah dalam cinta mereka. Bung Karno mengaku sangat mencintai Utari kendati pernikahan itu karena dijodohkan oleh ayah Utara, Tjokroaminoto. Cinta itu juga masih ada ketika ia memulangkan Utari kepada orang tuanya.Demikian juga perasaan cinta Utari kepada Bung Karno, juga masih ada. “Tapi Ibu, semuanya itu bukanlah cinta sebagai suami istri. Hanya cinta sebagai cintanya orang yang bersaudara. Saya belum mengerti suatu apa ketika orang minta saya untuk menjadi suaminya Utari, cuma saya bergirang karena saya dan Utari akan menjadi teman hidup selamanya,” kata Bung Karno. Bung Karno dan Siti Utari menikah sebelum Bung karno bersekolah di Bandung. Sebelum memenuhi permintaan Tjokroaminoto, Bung Karno pulang ke Blitar, meminta pendapat dari orang tuanya. Terserah kepada engkau.” Demikian jawaban dari ayah dan ibu Bung Karno. Bung Karno pun menikah pada usia 17 tahun. Ia kemudian harus pindah ke Bandung, karena diterima di THB. Baru dua bulan di Bandung, ada kabar Tjokoraminoto ditangkap Belanda, Bung Karno pun keluar dari THB dan pulang ke Surabaya. Ia menjadi kepala rumah tangga Tjokoaminoro dengan bekerja sebagai juru tulis di Staats Spoor. Gajinya 265 gulden per bulan. Tetapi, enam bulan berikutnya, Bung Karno berselisih paham dengan ibu mertuanya, membuat Bung Karno kembali ke Bandung. Ia mendaftar lagi ke THB. Selama di Bandung, pergaulan politiknya bertambah. Ia sering bertukar pikian dengan Tjipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi Surjaningrat. Wawasannya bertambah dari tiga orang sekuler itu. Tapi hal itu justru membuat diriya berselisih dengan Tjokroaminoto, guru politik pertamanya, yang berpegang teguh pada Islam. Perselisihan kecil ini ternyata membawa pula akibat terhadap Siti Utari. Bung Karno lalu ceraikan Siti Utari, istri pertamanya. “Tapi siapa yang bisa menduga dan mengira, setelah saya bertambah umur saya memperoleh tambah keyakinan bahwa anara saya dan Romo Tjokron terdapat perbedaan azas dan paham dalam politik masyarakat pergerakan Indonesia,” kata Bung Karno kepada sang ibu. Ia telah memiliki keyakinan politik yang berbeda dengan keyakinan politik Tjokroaminoto. “Kemudian mendapat kesimpulan, tidaklah pantasn kalau dunia percaturan pergerakan politik ini nantinya akan menjadi berhadap-hadapan antara matu dan mertua. Tidak pantas, Ibu,” kata Bung Karno. Maka, Bung Karno memperkirakan Siti Utari akan lebih berpihak kepada ayahnya kepada suaminya. “Andaikata ia memilih berpihak kepada saya sebagai suaminya, saya juga sangat menyesal karena dengan demikian ia akan tercatat sebagai anak yang tidka berbakti kepada orang tuanya,” kata Bung Karno. Dengan keadaan rumah tangga seperti ini, Bung karno merasa tak bisa memiliki keluarga yang baik. “Harapan apakah yang akan kami peroleh dari anak-anak kami kemudian hari? Oleh karena itu, Ibu, saya menjadi bingung dan gelisah dan senantiasa diliputi kegala kesangsian,” kata Bung Karno. Jalan pemecahan yang didapat Bung Karno adalah: ia ceraikan anak Tjokroaminoto, Siti Utari, dengan baik-baik. Perpisahan itu itu diputuskan berdua dengan Utari. “Ibu, tidak disangka, kiranya bukan saya saja yang berpendapat demikian. Kiranya Utari pun berpendapat demikian juga. Ia pun mengetahui bahwa di antara saya dan Utari ada perpisahan jurang,” kata Bung Karno.(kur) Baca juga :

Read More

Setelah Bertemu Wahidin, Lahirlah Budi Utomo dan Hari Kebangkitan Nasional

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah berkeliling ke berbagai wilayah, dokter Wahidin Soedirohoesodo beristirahat di Batavia pada pertengahan 1907. Dokter Soetomo berkesempatan bertemu dengannya. Soetomo menyimak cerita Wahidin dengan penuh seksama. Pertemuan inilah yang mendorong Soetomo mewujudkan pendirian Budi Utomo pada 1908. Delapan pendiri Budi Utomo tindak tanduknya dinilai Douwes Dekker sangat tenang, kurang cocok dengan kondisi zaman saat itu. Tapi, sekarang tanggal lahir Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Wahidin bercerita mengenai upaya penggalangan beasiswa yang dihalang-halangi pihak Belanda. Saat ia tiba di suatu daerah sudah tersiar kabar para priyayi tak akan menghadiri pertemuan dengan Wahidin. Para priyayi itu dihalang-halangi oleh asisten residen agar tidak menemui Wahidin. Wahidin pun bergegas menghadap asisten residen itu. Soetomo, yang dikutip Ketua Budi Utomo periode 1917-1918, menceritakannya sebagai berikut: Sesoedahnja masoek didalam kantor toean Ass.-Resident itoe, tinggallah beliau berdiri dengan diam, hingga toean Ass.-Resident menengok padanja. Toean Ass.-Resident mendjadi sabar, seketika itu djoega, moekanja mendjadi manis dan tersenjoem poela. Maka kata Toean Ass.-Resident padanja: “Dokter, maksoedmoe haroes ditoendjang sekoeat-koeatnja. Baiklah berbitjara pada hari malam conferentie, hingga sekalian ambtenaar saja dapat mendengarnja.” Maka dengan bantoean toean Ass.-Resident ini, jang moela asalnja bermaksoed akan merintangi kemaoeannja itoe, dapatlah beliau perhatian jang loear biasa besarnja. Kesediaan Wahidin menghadap asisten residen dan berdiam diri selama belum disapa, memberikan gambaran bahwa sebagai orang Jawa Wahidin bisa menunjukkan sikap anak kepada bapak agar keinginannya dituruti orang tua. Demikianlah, sebab orang-orang Belanda memang memosisikan dirinya sebagai “bapak” bagi bangsawan Jawa. Dengan kesadaran barunya, Soetomo bersama tujuh pemuda bangsawan Jawa yang menempuh studi di STOVIA mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Di kemudian hari, tanggal kelahiran Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Budi Utomo yang tenang menggambarkan karakter para pendirinya. Dengan tenang, Budi Utomo memperjuangkan perluasan pendidikan bagi orang Indonesia seperti yang telah diperjuangkan oleh dokter Wahidin Soedirohoesodo, tapi tujuh tahun kemudian, mulai 1915, menekuni urusan politik juga. Ketenangan Budi Utomo yang didirikan dokter Soetomo itu khas bangsawan Jawa. Itu membuat EFE Douwes Dekker perlu menyentilnya. Douwes Dekker menganjurkan agar anggota Budi Utomo tidak memakai kain saat mengadakan pertemuan. Sebagai anak bangsawan, mereka selalu mengenakan kain dan blangkon dengan mondolan di bagian belakang ketika belajar di STOVIA dan di dalam pertemuan-pertemuan Budi Utomo. Itu merupakan cara berpenampilan yang baik bagi bangsawan muda Jawa yang mau bangkit pada saat itu, sehingga tanggal lahir Budi Utomo dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Penampilan lahiriah ini penting selain juga harus menjaga ucapan. Sastrawan dan budayawan Yogyakarta, Iman Budhi Santosa, mengutip Serat Sasanasunu yang ditulis pujangga Surakarta, Yasadipura II, pada 1820: Dalam Sasanasunu pupuh 3 bait 16, terdapat ajaran mengenai berbusana sebagai berikut: “Rehning anom sawatawis/bareo bareo aja/iku bangsat panganggone/lan den nganggo masa kala/lulungan pasamuwan/jingkengan sawetareku/pepenyon amomondholan.” Artinya: “Karena masih muda, baiklah rapi tetapi secukupnya saja/jangan boros dalam hal pakaian/karena seperti itu cara berpakaiannya penjahat/berpakaian rapi perlu melihat situasi/seperti sewaktu bepergian atau pesta/ikat kepala diatur semestinya/dengan mondolan dan bentuk penyunya.” Tetapi, menurut Douwes Dekker, penampilan lahiriah pemuda bangsawan Jawa itu tidak bisa mewakili karaker pemuda yang diperlukan saat itu. Maka, kepada para siswa STOVIA anggota Budi Utomo itu, pada 1912 Douwes Dekker berkata, ”Hilangkan dan buanglah itu semua.” Roeslan Abdoelgani pernah menanyakan alasan Douwes Dekker menyarankan hal itu. “Och, Roeslan, onze jongens moeten brutal zijn even brutal als de Nederlanders,” jawab Douwes Dekker. Roeslan Abdoelgani menceritakan hal itu pada pembentukan Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) Cabang Bandung, 15 Juli 1963. Arti jawaban Douwes Dekker: “Oh, Roeslan, pemuda kita harus kurang ajar seperti kurang ajarnya pemuda Belanda.” Kain dan mondolan blangkon itu pernah menjadi bahan poyokan orang pesisir utara. Mereka masuk Yogyakarta di zaman revolusi kemerdekaan. Melihat mondolan di blangkon –seperti diceritakan Sukarno dalam suratnya kepada Douwes Dekker— orang pesisir utara itu menceletuk, “Apa itu, zaman perjuangan, granatnya tidak dilempar, tetapi disimpan di belakang kepala.” Berbeda dengan para pemuda di Batavia, para pemuda Indonesia yang berada di Leiden, Belanda, sudah mengenakan celana pantalon dan jas. Pada tahun 1917 mereka mulai mengenal nama “Indonesia” yang kemudian dibawa pulang ke Batavia, jauh sebelum Soetomo bertemu Wahidin Soedirohoesodo. Maka, ketika Soetomo dan kawan-kawan mendirikan Budi Utomo, mereka belum mengenal kata “Indonesia”. tapi tanggal lahir Budi Utomo kemudian menjadi Hari Kebangkitan Nasional bagi bangsa Indonesia. Di Batavia, pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda, nama “Indonesia” itu dipakai secara informal untuk mengganti nama resmi yang dipakai Belanda: Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Inilah contoh dari kuasa bahasa dalam pepatah Belanda: Taal is macht. Bahasa adalah kekuatan. Bahasa adalah kuasa. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Sunan Amral Mengenakan Baju Kompeni Saat Menjemput Pakubuwono 1

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pakubuwono I menuruti permintaan Adipati Urawan mengirim utusan untuk menghadap Amangkurat II. Urawan saat itu menyamar sebagai tukang rumput menemui Pakubuwono I sebagai utusan Amangkurat II untuk menghentikan perang kakak adik berebut keraton Mataram. Dalam suratnya yang dititipkan kepada utusan, Pakubuwono I menyerahkan hidup matinya kepada Sunan Amral alias Amangkurat I. Setelah membaca surat itu Sunan Amral pun berniat menjemput adiknya, Pakubuwono I. Saat menjemput, Sunan Amral mengenakan pakaian Kompeni. Prajurit Mataram pengiring Pakubuwono I pun bersiaga, Sunan Amral hampir fiserbu lagi karena dikira musuh. Sebelum penjemputan dilakukan, Sunan Amral memerintahkan kepada Patih Nerangkusumo untuk menyiapkan tempat tinggal untuk Pakubuwono I. Tempat tinggal itu tidak boleh jauh dari keraton. Selama tujuh hari tempat tinggal dipersiapkan di sebelah barat pasar. Semua perlengkapan didatangkan dari keraton. Saat hari penjemputan tiba, Sunan Amral naik gajah. Pakubuwono I meminta para prajurit mengikat tombak. Tembang kodhok ngorek bergema dari gamelan, genderang bergemuruh. Gara-gara Sunan Amral datang dengan mengenakan pakaian Kompeni, prajurit Pakubuwono I melepas tombak-tombak dari ikatannya. Mereka bersiap menyerbu Sunan Amral, membuat prajurit Kartosuro yang mengiring Sunan Amral kalang kabut. Pakubuwono I kaget dibuatnya sehingga bertanya kepada punggawanya. Ia mendapat jawaban jika ada yang datang mengenakan pakian Kompeni. Itulah yang membuat para prajurit bersiaga. Pakubuwono I pun segera meminta Adipati Urawan menemui Sunan Amral untuk memberi tahu bahwa penampilannya membuat prajurit Mataram terkejut. Mereka menganggap yang datang adalah musuh. Prajurit Kartosuro yang sudah melarikan diri menduga, Pakubuwono I hanya pura-pura menyerah. Mereka menduga Pakubuwono I akan mengamuk begitu sudah dekat dengan Sunan Amral. Maka, meliihat prajurit Mataram membuka ikatan tombak dan bersiaga untuk menyerbu Sunan Amral yang mengenakan pakaian Kompeni, prajurit Mataram melarikan diri. Mereka tak mau menjadi korban perang saudara berebut keraton Mataram. Tiba di hadapan Sunan Amral, Adipati Urawan menyampaikan pesan Pakubuwono I bahwa prajurit Mataram terkejut melihat Sunan Amral datang mengenakan pakaian Kompeni. Dikira, musuh yang datang, Sunan Amral hampir diserbu lagi. Sunan Amral lalu memerintahkan Urawan kembali kepada Pakubuwono I. Pakubuwono I pun meminta para prajurit mengikat kembali tombak mereka laku berangkat menemui Sunan Amral. Begitu tiba di hadapan Sunan Amral, Pakubuwono I turun dari kuda. Ia langsung sungkem dan Sunan Amral segera memeluknya. Mereka menangis haru. Kepada para adipati, Sunan Amral meminta agar mereka juga berbakti kepada Pakubuwono I. Para adipati segera msju untuk menyampaikan sembah bakti. Mereka kemudian bersama-sama berangkat ke keraton. Pakubuwono I mrnyerahkan keraton Mataram kepada Sunan Amral. Sunan Amral kemudian memberikan gelar baru buat adiknya, yang merupakan wasiat dari Amangkurat I, yaitu Pangeran Adipati. Pangeran Puger yang menjadi Pakubuwono I kini menjadi Pangeran Adipati Puger. Oleh Sunan Amral, Pangeran Adipati Puger diserahi tanggung jawab terhadap 12 ribu orang Matatam. (jeha) Baca juga :

Read More

Ketika Sultan Agung Buatkan Kelompok Orang Kalang Permukiman

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di Jawa ada kelompok masyarakat yang disebut sebagai orang Kalang, dimana mereka hidup di tengah hutan yang berprofesi sebagai tukang kayu yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah undagi. Kelompok masyarakat ini sudah ada sejak abad ini ke-8, pada masa Sultan Agung Mataram mereka dibuatkan permukiman. Tujuannya agar mereka tidak berpindah-pindah tinggal di hutan. Permukiman itu dibangun pada 1636. Lokasinya ada di dalam dan di luar ibu kota Mataram. Selama abad ke-8 hungga ke-15, mereka tunggal berpindah-pindah di tengah hutan. Meski mengasingkan diri, mereka berknteraksi juga dengan masyarakat luar hutan. Kemahiran mereka mengolah berbagai peralatan dari kayu dibutuhkan oleh masyarakat di luar kelompok mereka. Dalam perkembangannya, wilayah jelajah mereka mskin berkurang, setelah terjadi pembabatan hutan untuk berbagai keperluan. Hutan di wilayah pesisir semakin terbuka setelah diperlukan banyak kayu untuk membuat kapal. Maka mereka yang pelan-pelan semakin masuk ke dalam hutan skhirnya ke luar hutan juga setelah hutan semakin berkurang. Sultan Agung memahami kesulitan mereka sehingga membuatkan permukiman. Kampung mereka disebut Kalangan atau Pekalangan. Di antara mereka ada juga yang dijadikan sebagai abdi dalem di keraton. Sebagai abdi dalem, tugasnya membangun rumah, masjid, mrmbuat gerobak pedati, dan sebagainya. Dengan tugas itu, maka mereka juga harus mencari kayu jati di hutan. Lalu membawanya keluar hutan untuk dipakai sebagai bahan berbagai peralatan dan bangunan. Sebelum digunakan, kayu-kayu itu dikumpulkan di alun-alun. Kayu-kayu itu kemudian mereka olah sesuai kebutuhan. Tapi di lingkungan masyarakat keraton saat itu, keberadaan orang Kalang dianggap hina. Meski sudah dibuatkan perkampungan sejak zaman Sultan Agung, mereka masih biasa berpindah-pindah. Mereka bongkar rumah mereka, lalu diangkut dengan gerobak pedati, yaitu gerobak yang ditarik oleh dua ekor kerbau. Peralatan untuk mengolah katu juga mereka bawa pindah ke permukiman baru. Pada masa Amangkurat I, orang-orang Kalang tercatat bermukim di Jipang dan Lamongan. Pada masa Amangkurat II, 7.000 orang Kalang yang menjadi tanggung jawab Tumenggung Sosrowijoyo. Mereka tidak lagi tinggal di hutan. Sosrowijoyo memiliki tugas memelihara konpleks keraton. Di bawah Sosrowijoyo, orang-orang Kalang itu bejerja menelihara kompleks keraton Kartosuro. Ketika Mataram dibagi dua menjadi Yogyakarta dan Surakarta, orang Kalang juga dibagi dua. Yogyakarta dapat 3.000 orang Kalang, Surakarta juga mendapat 3.000 orang Kalang. Pada awal-awal mereka dibuatkan permukiman, Sultan agung melalukannya dengan setengah memaksa. Jika tidak, mereka tak akan pindah dari hutan. “Sangat mungkin hal itu dilakukan untuk memudhkan pengawasan dan juga untuk menghubungi mereka jika diperlukan,” ujar Agus Aris Munandar. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Tukang Rumput Damaikan Sunan Amral dan Pakubuwono I yang Perang Berebut Keraton Mataram

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Perang kakak adik berebut keraton Mataram tak terhindarkan. Hal itu terjadi karena laporan palsu utusan Pakubuwono I yang dikirim untuk menemui Amangkurat II. Amangkurat II alias Sunan Amral, berkeraton di Kartosuro, Pajang. Ia menyerbu keraton Mataram di Plered yang sudah dikuasai adiknya, Pangeran Puger alias Pakubuwono I. Tukang rumput mendamaikan kakak adik yang perang berebut keraton Mataram akibat kesalahpahaman itu. Untuk menyudahi kesalahpahaman itu, Sunan Amral mengirim utusan untuk menemui Pakubuwono I. Ia diutus untuk membujuknya. “Jangan membawa teman seorang pun. Bujuklah adindaku itu,” kata Sunan Amral alias Amangkurat II. Utusan itu berangkat dengan menanggalkan pakaian kebangswanannya. Ia lalu mengenakan pakaian santri. Utusan itu lalu berbaur dengan tukang rumput. Tukang rumput yang mengurusi kuda-kuda Pakubuwono I pun bertanya kepada tukang rumput gadungan itu. Ia menjawab sebagai tukang rumput Ki Tambakboyo. Ia harus melarikan diri karena habis dipukuli. Oleh karena itu ia bergabung dengan para tyjang rumput raja. Jika ia kembali, ia takut akan dipukuli lagi. Tukang rumput raja merasa kasihan, sehingga menerimanya bergabung. Ia diminta membawa dedak. Saat tiba di pesanggrahan, Pakubuwono I sedang memeriksa kudanya . Selama perang, Pakubuwono I telah meninggalkan keraton Mataram di Plered. Tukang rumput gadungan utusan Sunan Amral alias Amangkurat II itu segera menyembah. “Aduh Gusti, abdi Paduka seperti bermimpi,” kata tukang rumput gadungan itu sambil menangis. Pakubuwono I kaget melihat orang yang sedang menyembah di hadapannya. Ia kenal dengan orang itu. “Apa tugasnya sehingga sakit menangis?” tanya Pakubuwono I, yang telah melakukan perang melawan kakaknya berebut keraton Mataram. “Duhai Gusti, bunuhlah hamba kalau Paduka masih berselisih dengan kakanda Paduka. Bagaimana jadinya bumi ini?” kata tukang rumput gadungan. Sebelum Pakubuwono I menyela, ia melanjutkan perkataannya. “Siapa yang akan mengurusi Tanah Jawa selain Paduka Gusti bersama kakanda Paduka?” tanya tukang rumput gadungan. Ia lalu menyatakan telah banyak raktat kecil tewas dalam perang berebut keraton Mataram itu. Ia meminta bekas kasihnya agar tak ada lagi rakyat yang menjadi korban “Siapa yang kehilangan jika Tanah Jawa rusak? Ya tentu Pafuka Gusti dan kakanda Paduka,” kata tukang rumput gadungan. Jika Mataram aman dan makmur, lanjut dia, tentu Pakubuwono II dan Sunan Amral yang menikmatinya. “Kalau Paduka menghendaki naik tahta, mintalah baik-baik dan bertemulah dengan kakanda Paduka,” kata tukang rumput gadungan memberi saran. Pakubuwono I tersentuh dengan kata-kata tukang rumput gadungan itu. Ia lalu menuruti kata-katanya. “Sampaikan sembah baktiku kepada Kakanda dan mohonkan maaf untuk semua kekeliruanku,” kata Pakubuwono I. Tapi tukang rumput gadungan itu tidak mau pulang. Ia meminta agar mengirim utusan menemui Amangkurat II. Tukang rumput gadungan Sunan Amral itu akan pulang bersama Pakubuwono I, jika Pakubuwono sudah siap untuk pulang. Pakubuwono I kemuduan mengutus tiga orang untuk menyampaikan surat keoada Sunan Amral alias Amangkurat II. Lewat surat itu, Pakubuwono I menyatakan menghentikan perang berebut keraton Mataram. Ia menyerahkan hidup matinya kepada Sunan Amral. Sang Raja pun memerintahkan kepada Patih Nerangkusumo agar menyiapkan tempat tinggal untuk adiknya, Pakubuwono I. Pakubuwono I kemudian pulang dan menjadi Pangeran Puger lagi. Adipati Urawan, utusan Sunan Amral yang menyamar sebagai tukang rumput, melaporkan bahwa Pakubuwono I sudah siap bertemu dengan Sunan Amral. Sang adik sungkem dan kemudian memeluk sang kakak. “Air mata mengucur deras,” tulis Babad Tanah Jawi. (jeha) Baca juga :

Read More

Turki Kembali Jadikan Gereja Kuno Ikonik Menjadi Masjid

Istanbul — 1miliarsantri.net : Turki kembali membuka gereja kuno bernama Chora, salah satu bangunan Bizantium paling terkenal di Istanbul, untuk ibadah umat muslim setelah sebelumnya digunakan sebagai museum selama lebih dari 70 tahun. Presiden Turki Tayyip Erdogan telah meresmikan pembukaan Gereja Chora, atau Kariye sebagai mesjid pada Senin (6/5/2024) setelah dilakukan restorasi. Gereja yang dibangun pada abad ke-4 ini sempat menjadi museum pada 1945. Meskipun dijadikan Mesjid, Erdogan tetap menjadikan aula luar sebagai museum, sehingga pengunjung dapat melihat mosaik berharga yang menghiasi langit-langit Turki. Salah satu turis asal Inggris, Ferdy Simon mengatakan, dia lebih suka bangunan itu tetap dijadikan museum agar orang bisa melihat mosaik dan lukisan dinding di sana. “Sepertinya ini merupakan langkah politik,” katanya, berbicara di luar Chora. “Agak disayangkan kalau melihat perempuan-perempuan taat datang ke sini untuk salat dan mereka diberitahu tidak boleh masuk ke area utama narthex,” imbuhnya merujuk pada fakta bahwa bagian area utama diperuntukkan bagi laki-laki, seperti di semua masjid. Di sisi lain, seorang pria Turki yang datang untuk salat bernama Ugur Gokgoz, mengatakan bahwa digunakannya Gereja Chora sebagai masjid adalah hak masyarakat Turki. Pemerintah pun tidak menghilangkan artefak yang ada dan tetap melestarikannya. “Ada bagian kecil yang diperuntukkan untuk salat. Bahkan mereka (pemerintah) tidak merobohkan semua bangunan dan mengubahnya menjadi masjid secara utuh,” ujarnya. Sebagai informasi, Erdogan seorang pejuang Muslim yang saleh di Turki dan ketua partai yang berpegang teguh pada islam, sebelumnya juga telah mengubah Hagia Sophia dari museum menjadi masjid pada 2020 dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh puluhan ribu orang. Langkah tersebut dikritik oleh para pemimpin gereja dan beberapa negara Barat, yang mengatakan bahwa mengubah kembali Hagia Sophia berisiko memperdalam perpecahan agama. Erdogan pun menepis kritikan tersebut dan mengatakan langkah tersebut adalah campur tangan terhadap hak kedaulatan dan dia bertekad untuk melindungi hak-hak umat Islam. (hur) Baca juga :

Read More

Keturunan dari Raja yang Punya Banyak Anak Jadi Raja tanpa Cawe-cawe Orang Tua

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Anak-anak muda ini jadi raja tanpa bantuan orang tua. Sebut saja nama Pangeran Jimbun, Joko Tingkir, Sutowijoyo, Raden Wijaya, Ken Arok, dan Jayakatwang. Pangeran Jimbun meniadi Raja Demak dikenal dengan nama Raden Patah. Joko Tingkir menjadi Raja Pajang dengan nama Sultan Hadiwijoyo, dan Sutowijoyo menjadi raja Mataram dengan nama Panembahan Senopati. Raden Wijaya menjadi raja Majapahit, Ken Arok menjadi raja Singosari, dan Jayakatwang menjadi raja Kediri. Mereka keturunan dari raja yang punya banyak anak, sehingga mereka bukan putra mahkota. Lantas, bagaimana mereka bisa menjadi raja tanpa cawe-cawe orang tua, bahkan menjadi pendiri kerajaannya? Tapi ada yang memakai cara licik. Pangeran Jimbun adalah anak raja terakhir Majapahit, Brawijaya V. Ibunya diuang oleh Brawijaya V saat mengandung dirinya, diberikan kepada Adipati Palembang Arya Damar. Joko Tingkir juga masih keturunan dari Brawijaya V. Kakeknya, Ki Ageng Pengging I (Andayaningrat) merupakan menantu Brawijaya V. Sutowijoyo juga masih keturunan dari Brawijaya V. Brawijaya V memiliki anak yang diramalkan akan mengalahkan nama besar Brawijaya V, karenanya ia dibuang ke Tarub, Grobogan, semasa masih kecil. Nama anaknya Bondan Kejawan, yang kemudian diambil menantu oleh Joko Tarub yang menikahi bidadari. Sutowijoyo merupakan keturunan kelima dari Bondan Kejawan. Raden Wijaya merupakan keturunan keempat dari Ken Arok dan Ken Dedes dari pihak ibu. Sedangkan Ken Arok merupakan anak dari pembantu adipati pada masa Kerajaan Kediri. Ayahnya bernama Gajah Para dan ibunya bernama Ken Endok. Dari nama-nama yang disebut di atas, hanya Ken Arok yang bukan keturunan dari raja. Ken Arok harus berjuang keras untuk bisa menjadi raja setelah hidup dalam pengasuhan penjudi karena bapaknya meninggal saat ia masih di kandungan. Tapi cara yang ia lakukan untuk ukuran sekarang dianggap cara licik. Saat raja terakhir Singosari Kertanegara mendapat perlawanan dari Bupati Gelang-gelang Jayakatwang, Raden Wijaya mendapat tugas menumpas pemberontakan itu. Tetapi para pemberontak berhasil membunuh Kertanegara. Jayakatwang yang merupakan keturunan dari raja terakhir Kediri, Kertajaya. Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Ken Arok berjuang cukup lama dengan cara untuk ukuran sekarang disebut licik. Kediri surut, ken Arok menjadi Singosari tanpa cawe-cawe orang tua. Raja terakhir Singosari, Kertanegara, adalah mertua Raden Wijaya. Empat putri Kertanegara dinikahi oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya bukan termasuk raja yang punya banyak anak. Saat Jayakatwang merebut Singosari, Raden Wijaya melarikan diri. Di kemudian hari ia menyusun siasat, mengaku menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Jayakatwang menerimanya. Raden Wijaya lalu meminta kawasan hutan untk berburu, yaitu hutan tarik di sebelah timur Kediri. Saat membuka hutan didapati buah yang rasanya pahit. Itu adalah buah maja, sehingga kampung yang dibangun Raden Wijaya diberi nama Majapahit. Raden Wijaya kemudian merebut kekuasaan dari Jayakatwang dengan memanfaatkan kedatangan tentara Mongol. Majapahit kemudian menjadi kerajaan, bertahan hingga 1478. Raja terakhir Majapahit Brawijaya V tertarik dengan nama pemuda dari Bintoro. Pemuda itu adalah Pangeran Jimbun, yang ternyata adalah anaknya dari istri yang ia berikan kepada Arya Damar. Ia kemudian mengangkatnya sebagai adipati Bintoro. Ketika Majapahit semakin surut, Pangeran Jimbun menjadikan Demak Bintoro sebagai kerajaan baru, tanpa cawe-cawe dari orang tuanya. Sultan ketiga Demak, Sultan Trenggono, memiliki menantu bernama Joko Tingkir yang sebelumnya menjadi santri Ki Ageng Selo di Desa Selo, Grobogan. Ki Ageng Selo adalah cucu dari Bondan Kejawan dan kakek dari ayah Sutowijoyo. Saat sultan terakhir Demak Sultan Prawoto dibunuh Adipati Jipang Aryo Penangsang, Joko Tingkir mendapat tugas untuk menyingkirkan Aryo Penangsang. Ayah Sutowijoyo, Ki Ageng Pemanahan, yang menjadi penasihat Joko Tingkir bisa menyingkirkan Aryo Penangsang dengan menggunakan Sutowijoyo. Ia mendapat hadiah hutan Mentaok di Mataram. Ia lalu membukanya dan membangun permukiman baru di sana. Sutowijoyo yang diangkat sebagai anak oleh Joko Tingkir, kelak diangat menjadi adipati Mataram, ketika Joko Tingkir sudah menjadi Sultan Pajang. Joko Tingkir menjadikan Pajang sebagai kerajaan setelah tak ada keturunan Raden Patah yang meneruskan pemerintahan Kerajaan Demak. Sebagai menantunya, ia melanjutkannya sebagai raja di Pajang, dan menjadikan Demak sebagai wilayah Kadipaten. Sutowijoyo kemudian menjadikan Mataram sebagai kerajaan dan ia menjadi rajanya dengan nama Panembahan Senopati. Pajang juga ia jadikan sebagai wilayah kadipaten. Sutowijoyo kemudian punya banyak anak. Mereka semua bukan putra mahkota, tetapi keturunan dari raja yang punya banyak anak. Kecuali Ken Arok, yang dianggap sebagai keturunan Betara Brahma. Mereka berhasil menjadi raja tanpa cawe-cawe orang tua, kendati ada yang mencapainya dengan cara licik. (jeha) Baca juga :

Read More