Pesona Pantai Oman: Surga Tersembunyi bagi Pecinta Wisata Bahari

Oman — 1miliarsantri.net : Oman menjadi destinasi wisata yang menonjol berkat keragaman budaya dan lanskap uniknya. Selain pegunungan, gurun luas, dan pulau-pulau tersembunyi, Oman juga dianugerahi garis pantai sepanjang 3.000 km, dengan 1.700 km di antaranya berupa pantai berpasir yang memukau. Bagaimana cara meningkatkan pariwisata kapal pesiar dan bahari untuk memanfaatkan garis pantai yang luas ini? Mohammad al Busaidi, pegawai pemerintah, mengatakan bahwa Oman memiliki garis pantai yang luas dan indah, yang bisa menjadi aset besar untuk wisata bahari. Salah satu cara meningkatkannya adalah dengan membangun marina dan pelabuhan kelas dunia di sepanjang tempat wisata populer seperti Musandam, Sur, dan Salalah. Terminal kapal pesiar mewah akan menarik wisatawan kelas atas. Selain itu, menawarkan kegiatan bahari seperti snorkeling, menyelam, dan melihat lumba-lumba di lebih banyak lokasi akan mendorong operator kapal pesiar untuk memasukkan Oman dalam rute mereka. Salim al Farsi, pengusaha, berpendapat bahwa keindahan alam Oman tak tertandingi di kawasan Teluk. Pulau-pulau dan garis pantainya harus dipromosikan lebih gencar secara internasional. Memperkenalkan kapal pesiar dan layanan yacht ramah lingkungan yang menjelajahi area yang belum banyak dikenal seperti Kepulauan Daymaniyat dan pulau-pulau tersembunyi lainnya akan menarik para pencari petualangan. Bekerja sama dengan agen perjalanan global dan memberikan insentif kepada perusahaan kapal pesiar untuk beroperasi di Oman juga bisa meningkatkan jumlah wisatawan. Ia juga menyarankan agar semua ini dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya segelintir orang. Manish Verma, insinyur, menyatakan bahwa untuk meningkatkan wisata bahari, Oman perlu fokus pada peningkatan infrastruktur di sekitar area pesisir. “Kita harus membangun fasilitas yang lebih baik untuk wisatawan, seperti hotel tepi pantai, restoran makanan laut, dan tur perahu berpemandu,” ungkapnya. Mempromosikan warisan bahari Oman, budaya nelayan tradisional, dan menyelenggarakan kompetisi berlayar internasional juga dapat menarik lebih banyak perhatian ke negara ini sebagai tujuan utama kapal pesiar. Nandini Nandakumar, psikolog, percaya bahwa salah satu cara terbaik untuk meningkatkan wisata bahari adalah dengan mengadakan perjalanan rutin bagi pelajar ke laut. Ini akan mendorong tidak hanya cinta pada alam tetapi juga kesadaran akan laut. Selain itu, pemerintah bisa mengadakan kompetisi tentang kehidupan laut. Ahmed al Lawati, blogger, mengatakan bahwa garis pantai Oman sangat cocok untuk wisata kapal pesiar. Mengembangkan kapal pesiar bertema seperti tur warisan budaya atau kunjungan cagar alam juga akan menjadikan Oman sebagai tujuan unik di kawasan ini. Dengan menciptakan wisata darat eksklusif yang mencakup kunjungan ke pasar tradisional, benteng, dan gurun, wisatawan akan mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam. Ia juga menyarankan agar harga diturunkan. Kader Khan, salesman, berpendapat bahwa Oman harus fokus pada menyoroti pantai-pantai yang masih alami dan kekayaan kehidupan lautnya. Ide yang bagus adalah bermitra dengan perusahaan kapal pesiar mewah dan menawarkan pengalaman yang disesuaikan, seperti tur pulau pribadi dan olahraga air dengan harga ekonomis. Selain itu, membangun kesadaran melalui kampanye pemasaran yang berfokus pada budaya kaya Oman, garis pantai yang indah, dan keramahan tradisional akan menarik gelombang baru wisatawan ke pantai-pantai kita. (ric) Baca juga :

Read More

Kobarkan Api Semangat Perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pemikiran dan perjuangan Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari terus dikobarkan dan dikembangkan. Hal itu sebagai komitmen ulama pendiri NU untuk memperjuangkan, mempertahankan dan kini mengisi kemerdekaan Indonesia. “Bila dicermati pemikiran dan langkah perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari, sesungguhnya lebih maju dan melampaui zaman bagi kalangan santri. Karena itu, kita bertanggung jawab untuk terus merawat dan selalu mengobarkan semangatnya,” tutur KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Kiai Kikin menegaskan hal itu, terkait dengan Halaqoh Pemikiran Hadratussyaik KH. M. Hasyim Asyari di Gedung Monumen Resolusi Jihad NU, di Surabaya, Sabtu (28/9/2024) lalu. Selain Kiai Kikin, yang Ketua PWNU Jawa Timur, pembicara Riadi Ngasiran (Pemerhati sejarah dan Sejarawan NU), Kombes (Pol) Nanag Juni Mawanto (Direktur Direktorat Intelijen dan Keamanan Polda Jatim), dan Fahrul Muzaqqi (Fisipol Unair). Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriah PCNU Surabaya KH Ahmad Zulhilmi Ghazali, KH Abdul Hari (Wakil Rais) dan KH Achmad Saiful Chalim (Katib Syuriah PCNU Surabaya), H Roisuddin Bakri (Ketua Ikapete Jatim), H Moch Saiful Bachri (pengurus Ikapate yang juga Wakil Sekretaris PCNU Surabaya). Pada kesempatan itu, Riadi Ngasiran mengingatkan keberadaan Fatwa Djihad Kiai Hasyim Asy’ari (17 September 1945), yang ditujukan kepada masyarakat luas, terutama kaum santri dan umat Islam. Diperkuat dengan keputusan PBNU yang mengeluarkan ‘peringatan’ untuk pemerintah pada saat itu, yakni Resolusi Djihad NU di Surabaya (22 Oktober 1945). “Pada saat perang dan kondisi belum aman, masa Revolusi Fisik 1945-1945, ini telah mengeluarkan Resolusi Djihad NU di Purwokerto (hasil Muktamar NU pada tanggal 26-29 Maret 1946). Semua itu menjadi bukti andil nyata yang diberikan umat Islam pada umumnya dan Nahdlatul Ulama pada khususnya bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” tutur Riadi Ngasiran, yang penulis buku Perang Sabil di Surabaya, Resolusi Jihad NU 1945, segera terbit. Diingatkan, santri yang aktivis budaya dan pemikiran ini, untuk mengenang perjuangan para ulama dan kaum santri, terutama pada saat terjadinya pertempuran 10 November 1945, didirikan Monumen Resolusi Djihad yang telah diresmikan pada 22 Oktober 2011 oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siroj. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan gambaran akan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda, khususnya di Surabaya dan secara umum generasi muda Indonesia. “Alhamdulillah, sejak 2015, tanggal 22 Oktober ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Santri Nasional,” tutur Riadi Pengalaman seorang ulama besar di masa lalu, yang dikenal alim dan berpikiran maju namun hilang ditelan waktu. Hal itu menjadi pelajaran bagi para santri Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) Jawa Timur untuk menggelar Halaqoh Pemikiran tersebut. Halaqah bertema “Mengaktualisasikan Resolusi Jihad dalam Pembangunan Indonesia Sepanjang Masa” ini dihadiri tokoh-tokoh muda NU secara langsung. Mereka memenuhi ruangan gedung PCNU Surabaya dengan penuh semangat. Karena ingin mengetahui pengaruh pemikiran Pendiri NU itu. Pada bagian lain, Riadi Ngasiran pada sejak awal berdirinya, sebagai Tim Kerja Museum NU di Surabaya menegaskan pengaruh dari fatwa Kiai Hasyim Asy’ari. “Kedua keputusan agama dan politik NU (Fatwa Jihad Kiai M Hasyim Asy’ari tanggal 17 September 1945 dan Resoloesi Jihad NU tanggal 22 Oktober 1945) kemudian memperoleh dukungan besar dari organisasi keagamaan di Indonesia. “Rakyat Muslimin Kebumen mengeluarkan mosi agar umat Islam bersungguh[1]sungguh mempertahankan Republik Indonesia. Mosi tersebut dimuat di Suratkabar Harian Pada tanggal 7-8 November 1945, Umat Islam Indonesia menyelenggarakan Muktamar Islam Indonesia di Yogyakarta. Muktamar Islam Indonesia menyerukan seluruh umat Islam Indonesia untuk memperkuat persiapan untuk berjihad fi Sabilillah”. Dalam muktamar tersebut, PBNU mengeluarkan sebuah dukungan spiritual kepada para pejuang Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. (har) Baca juga :

Read More

Sudah Selayaknya Soeharto dan Gus Dur Dianugerahi Gelar Pahlawan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Umum Yayasan Jayabaya Moestar Pj Moeslim menyebut sudah selayaknya negara menganugrahi Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) gelar pahlawan nasional. Soeharto, lanjut Moestar, telah sangat berjasa dalam pembangunan bangsa ini. “Beliau telah berhasil membawa bangsa ini dari keterpurukan di masa sebelumnya, menjadi jauh lebih baik,” tuturnya kepada 1miliarsantri, Ahad (29/9/2024). Selain itu, pada akhir masa kekuasaannya, Soeharto juga tidak menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan jabatannya. “Beliau bisa saja menggunakan tentara dalam menghentikan demonstrasi. Tapi jiwa besarnya ditunjukkan dengan berhenti menjadi Presiden RI mengikuti kehendak rakyat,” lanjutnya. Sebelumnya, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) resmi mencabut nama Soeharto dari Ketetapan (Tap) MPR Nomor 11 Tahun 1998 tentang perintah untuk menyelenggarakan yang bersih tanpa korupsi, kolusi, nepotisme (KKN). Keputusan itu diambil dalam rapat paripurna sidang akhir MPR RI periode 2024-2029. Hal ini menindaklanjuti surat dari Partai Golkar per 18 September 2024. “Terkait dengan penyebutan nama mantan Presiden Soeharto dalam TAP MPR Nomor 11/MPR 1998 tersebut secara diri pribadi, Bapak Soeharto dinyatakan telah selesai dilaksanakan karena yang bersangkutan telah meninggal dunia,” kata Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam rapat paripurna di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2024). Selain Soeharto, Moestar juga menilai Gus Dur layak mendapat gelar pahlawan nasional. “Gus Dur adalah sosok yang sangat menghargai keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan, terutama suku, agama, dan ras. Beliau memberikan contoh nyata tentang bagaimana keberagaman bisa menjadi kekuatan bagi bangsa,” katanya MPR juga telah mencabut Tap MPR nomor II/MPR/2001 tentang Pertanggungjawaban Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hal ini berdasarkan permohonan dari Fraksi PKB. Dengan dicabutnya kedua Tap MPR itu, Moestar menegaskan bahwa tidak ada lagi penghalan untuk negara mengangkat kedua Presiden RI itu menjadi pahlawan nasional. “Kita adalah bangsa yang besar dengan segala macam perjalanan sejarahnya. Kedua sosok ini layak menjadi pahlawan karena pemikiran dan tindakan mereka telah membawa bangsa ini maju seperti saat ini,” tutupnya. (jeha) Baca juga :

Read More

Albania Bakal Bentuk Negara Islam Mikro untuk Kelompok Sufi Syiah

Tirana — 1miliarsantri.net : Perdana Menteri Albania, Edi Rama mengumumkan rencana untuk membentuk negara mikro mirip Kota Vatikan yang dikelola Bektashi, sebuah ordo Sufi Syiah. Bila semua berjalan sesuai rencana, negara yang disebut “Negara Berdaulat Ordo Bektashi” akan menjadi negara terkecil di dunia, hanya seperempat luas Kota Vatikan. “Albania akan mengubah Muslim Bektashi yang berbasis di Tirana, menjadi negara berdaulat untuk mempromosikan moderasi, toleransi dan hidup berdampingan secara damai,” terang Edi Rama. Rama menambahkan, lahan seluas 10 hektar itu akan memiliki administrasi, paspor, dan perbatasannya sendiri. Melansir Euronews, negara baru ini akan memperbolehkan minuman beralkohol, mengizinkan setiap orang untuk mengenakan apa pun yang mereka inginkan, dan tidak menerapkan aturan gaya hidup, yang mencerminkan praktik toleran Ordo Bektashi. Rama mengatakan tujuan negara baru ini adalah untuk mempromosikan versi Islam yang toleran yang menjadi kebanggaan Albania. Menurut sensus terbaru, Bektashi mewakili sekitar 10 persen komunitas Muslim Albania. Negara Balkan berpenduduk sekitar 2,8 juta jiwa ini dikenal dengan toleransi beragama di wilayah yang terpecah belah. Keputusan dibuat dengan ‘cinta dan kebaikan’Sebuah cabang dari tasawuf, gerakan Bektashi atau Bektashiyya berasal dari wilayah Anatolia di Turki dan segera menjadi ordo resmi unit militer elit, Janissari. Namun, seiring berjalannya waktu, ordo tersebut mendapat kecaman karena pendekatannya yang liberal terhadap agama dan pengaruh politiknya yang semakin besar, dan ukurannya pun berkurang dan terbatas pada Albania, Kosovo, dan Makedonia Utara. Perintah tersebut secara resmi dilarang dua kali: pertama, pada abad ke-17, oleh Sultan Ottoman Mahmud II. Kemudian pada tahun 1925, bapak pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Atatürk, menutup semua pondok-pondok atau tekke Bektashi setelah ia melarang semua cabang agama Islam yang tidak diakui oleh Direktorat Agama asal Turki. Kaum Sufi, aliran mistik Islam, tidak menegakkan ajaran agama yang lebih ketat, dan Bektashi adalah salah satu cabangnya yang paling liberal. (old) Baca juga :

Read More

Gubuk Seng, Menyimpan Duka Tsunami Krakatau

Lampung Selatan — 1miliarsantri.net : Gemuruh ombak yang menghempas batu karang seakan memecah kesunyian di perairan Selat Sunda. Hilir mudik beragam jenis burung menerjang angin laut menambah keelokan yang nyaris sempurna saat memandang panorama Gunung Anak Krakatau (GAK). Gubuk Seng, begitu penduduk Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung menyebutnya. Sebuah perbukitan yang agak tinggi dari permukaan laut, memaksa mata terbelalak melihat GAK dari dekat sebagai keagungan sekaligus keindahan ciptaan Allah SWT. Gunung Krakatau (gunung berapi purba) yang meletus pada Agustus 1883, dalam rentang waktu kaldera vulkanisnya telah bermetamorfosis menjadi GAK sampai sekarang. GAK termasuk gunung berapi yang masih aktif vulkanisnya dalam waktu tertentu. Menurut data magma.esdm.go.id, GAK terakhir erupsi mengeluarkan kolom abu dari puncaknya setinggi 1.000 meter pada 16 Desember 2023. Sebelumnya, erupsi GAK yang memuntahkan lava pijar merah dan kolom abu terus beriringan yang dapat dilihat terang dari Pulau Sebesi, terutama pada malam hari. Saking dekatnya dengan GAK, terdapat Menara Pos Pemantau GAK. Namun, banyak yang menyayangkan bangunan pemerintah ini terbengkalai. Menara yang tinggi sekira 100 meter ini tidak terpakai lagi, aktivitas pemantauan dipindahkan jauh dari Gubuk Seng ke Desa Hargo Pancuran, Rajabasa, Lampung Selatan atau seberang Pulau Sebesi. “Seharusnya menara ini diaktifkan lagi, karena lebih dekat, agar informasi perkembangan letusan Gunung Anak Krakatau cepat tersampaikan ke masyarakat,” kata Tri, pengunjung asal Bandar Lampung, beberapa waktu lalu. Sembilan bulan aktivitas vulkasnis GAK senyap, warga sekitar pun tenang. Meski trauma penduduk Pulau Sebesi masih membekas pasca bencana gelombang tsunami GAK pada 22 Desember 2018. Musibah ini menelan nyawa ratusan jiwa, korban luka, rumah hilang dan hancur, juga perahu dan kapal nelayan tersapu ombak. Gubuk Seng menjadi tempat terparah saat gelombang tsunami yang tingginya melebihi pohon kelapa normal yang ada di bukit tersebut. Memang, Gubuk Seng bukan tempat pemukiman warga. Sehari-hari kawasan ini sepi penduduk, karena hanya tempat berladang atau berkebun. Ketika mendekati musim panen sebagian warga mendiami gubuk-gubuk di ladangnya. Bahkan, ada sebagian kecil warga yang terpaksa menetap di gubuk-gubuk dalam kebunnya bersama anak-anaknya, agar tidak jauh bolak balik dari Desa Tejang, pusat keramaian Pulau Sebesi yang jarak tempuhnya sekira 20-30 menit naik motor. Bencana tsunami krakatau enam tahun lalu masih meninggalkan bekas kerusakan dan menyimpan duka mendalam. Masih terdapat beberapa pohon besar yang diperkirakan usia ratusan tahun di tepi bukit tercerabut dari akarnya menjadi saksi. Sebagian warga telah membangun kebali gubuk-gubuk atau pondokan di dalam kebunnya setelah disapu gelombang tsunami. Sebelum terjadi tsunami krakatau, warga lokal dan pendatang termasuk orang bule (manca negara) menelusuri perairan di sekitar Pulau Sebesi dengan perahu motor. Salah satu tempat terfavorit pengunjung yakni di bawah bukit Gubuk Seng. Tempat ini bukan seperti pantai berpasir, tapi dipenuhi hamparan batu karang. Ombak menghempas dari perairan laut lepas dekat GAK tertahan di sekumpulan batu karang. Tempat ini banyak dijadikan pengunjung untuk memancing dan juga berekreasi menikmati keindahan alam GAK dari dekat asalkan cuaca cerah atau tidak mendung maupun hujan. Bagi yang ingin berkunjung lewat jalan darat, dapat menempuh Gubuk Seng menggunakan atau menyewa motor penduduk dari Desa Tejang sekira 20 menit. Perjalanan ke Gubuk Seng meniti jalan setapak dan berliku menanjak dan menukik mengiringi perbukitan dan perkebunan warga. Pengunjung harus waspada karena saat berdiri di terumbu karang persis menghadap GAK. Terkadang ombak laut tinggi datang tiba-tiba meski cuaca cerah, sehingga dapat menggulung orang yang berdiri di hadapannya. “Cuaca di sini tidak menentu, kadang tiba-tiba ombak besar dan tinggi, karena angin kencang. Jadi hati-hati kalau berdiri di karang, banyak kejadian,” kata Yusuf, tokoh masyarakat Pulau Sebesi. Untuk lebih aman, ia menyarankan pengunjung tidak memaksakan diri untuk mendekati laut agar dapat menyaksikan GAK lebih nyaman. Pengunjung dapat menikmati pemandangan gunung di dekat Menara Pemantau GAK yang tak dipakai berada di kawasan Gubuk Seng. (mik) Baca juga :

Read More

Emak-Emak Yahudi ingin membunuh Rasulullah SAW

Jakarta — 1miliarsantri.net :” Upaya membunuh Rasulullah Muhammad SAW pernah dilakukan melalui cara racun. Namun, Rasulullah SAW selamat dari upaya pembunuhan itu. Dalam sebuah hadits disebutkan: Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan, أن امرأة يهودية أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم بشاة مسمومة، فأكل منها، فجيء بها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألها عن ذلك فقالت: أردت لأقتلك! قال: “ما كان الله ليسلطك على ذاك” أو قال: “عليّ”، قالوا: ألا نقتلها؟ قال: “لا”، قال أنس: فما زلت أعرفها في لهوات رسول الله صلى الله عليه وسلم (متفق عليه). Bahwa ada seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seekor kambing (bakar) yang telah diracuni. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan sebagian darinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk memanggil wanita (yang memberi kambing) itu dan wanita itu pun datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam segera bertanya kepadanya tentang hal itu. Wanita itu menjawab, “Saya ingin membunuhmu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menguasakanmu untuk atas hal itu”, atau beliau bersabda “ … atasku (yakni membunuhku -pent)”. Para sahabat berkata, “Perlukah kita membunuh wanita ini?” “Jangan!” jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya melihat bekas racun itu senantiasa berada di langit-langit mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR Muslim). Buya H Muhammad Alfis Chaniago dalam Indeks Hadits dan Syarah II menjelaskan, dalam melakukan dakwah penyebaran Islam, Rasulullah Muhammad SAW banyak mendapat rintangan yang luar biasa. Dari mulai dimarahi sampai dengan dilempari batu dan kotoran. Hal terjadi karena kaum kafir menginginkan agar Rasulullah SAW berhenti berdakwah. Tapi halangan dan rintangan apapun tidak menyurutkan semangat Rasulullah Muhammad SAW dalam berdakwah. Sehingga kaum kafir memutuskan untuk membunuh Rasulullah SAW. Salah satu upaya pembunuhan yang dilakukan oleh kafir adalah seperti yang terdapat dalam hadits di atas. Di mana, seorang wanita Yahudi memberikan makanan kepada Rasulullah SAW yang sudah dibuhuhi racun tapi Allah melindungi Rasulullah SAW sehingga racun itu tidak mengakibatkan beliau SAW wafat. (jeha) Baca juga :

Read More

Nasihat Sayyidina Anas RA saat Gelap Gulita

Jakarta — 1miliarsantri.net : Syaikh Nadhr bin Abdullah Rahmotullah ‘alaih bercerita, “Pada waktu hidupnya Sayyidina Anas Rodhiyollohu ‘anhu, tiba-tiba siang menjadi gelap. Segera aku menjumpai Sayyidina Anas RA dan bertanya kepadanya, “Apakah kejadian seperti ini pernah terjadi pada zaman Baginda Nabi SAW?” Jawabnya, “Na’udzubilloh, jika angin bertiup sedikit kencang pada zaman Baginda Nabi SAW,kami segera pergi ke masjid karena takut akan terjadi Kiamat.” Sayyidina Abu Darda’ RA juga bercerita, “Jika terjadi angin ribut, biasanya Baginda Rasulullah SAW akan merasa takut dan segera pergi ke masjid.” Maulana Muhammad Zakariyya Al Khandahlawi dalam kitab Fadhilah Amal menjelaskan, belakangan ini, meskipun berbagai musibah besar melanda kita, siapakah yang ingat untuk datang ke masjid? Jangankan masyarakat awam, bahkan orang-orang berilmu pun sedikit yang mempedulikannya. “Silakan menjawab masalah ini dengan merenungkannya didalam hati masing-masing,” ujar Maulana Zakariyya. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Al-Biruni Menghitung Keliling Bumi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Menurut perhitungan modern, seperti dicatat Sigurd Humerfelt dalam “How WGS 84 Defines Earth” (2010), keliling bumi di area khatulistiwa adalah 40.075,017 km. Dengan memanfaatkan kalkulasi trigonometri, seorang saintis Muslim dari abad ke-11, al-Biruni, menemukan bahwa keliling bumi adalah 40.225 km. Angka itu bila dibandingkan dengan hasil temuan kini hanya menyimpang sekira 0,38 persen. Dengan perkataan lain, akurasi sang polymath Muslim sangat besar, yakni mencapai 99,62 persen. Al-Biruni menemukan pula radius bumi, yakni 6.339,6 km. Hingga abad ke-16 M, akademisi Eropa Barat belum mampu mengukur jarak demikian, seperti yang dilakukan Muslim genius tersebut. Maka, bagaimana metode yang diterapkan sang al-Ustadz fii al-‘Ulum (Gurunya Banyak Ilmu) untuk sampai pada hasil demikian? Heriyanto menjelaskan, pertama-tama al-Biruni—seperti halnya para ilmuwan Muslim terdahulu maupun sezamannya—berprinsip bahwa bumi ini berbentuk bulat seperti bola. Ia juga menunjukkan, planet ini berputas pada porosnya. Kemudian, al-Biruni mesti menemukan data penting, yakni jarak jari-jari bumi. Sebab, nilai pi sudah ditemukan oleh matematikawan sebelumnya, termasuk Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (780-847). Selain itu, besaran tinggi gunung juga telah diketahui. Untuk menyederhanakan kalkulasi, bentuk bola itu dilukiskan dalam bentuk dua dimensi, yaitu lingkaran. Katakanlah, O adalah titik pusat bumi. Titik A adalah titik di permukaan Bumi yang menjadi kaki gunung yang tinggi. Titik P berarti titik puncak gunung. Titik B adalah titik di permukaan bumi yang merupakan titik singgung garis P dengan horizon bumi—titik S. Kedua titik P dan S membentuk garis PS. Titik A dan B berada pada bidang permukaan bumi yang ketinggiannya sama dengan permukaan laut (h = 0 meter). Garis AP adalah tinggi gunung. Garis OB tegak lurus dengan garis PS. Ini sesuai dengan dalil geometri, sebuah garis yang menyinggung lingkaran akan tegak lurus dengan jari-jari lingkaran yang melalui titik singgung garis tersebut dengan lingkaran (titik B). Al-Biruni lalu menentukan data sudut elevasi, yakni sudut penglihatan dari P ke arah permukaan laut (h = 0). Dengan perkataan lain, sudut itu adalah yang terbentuk antara garis PS dan garis OAP. Adapun sudut elevasi yang ditemukannya, tutur Heriyanto, disimbolkan dengan huruf “α” (alpha). Garis AP adalah tinggi gunung (h). Al-Biruni mengadakan observasi di banyak tempat, khususnya kawasan Pegunungan Himalaya dan Hindukush. Gunung-gunung di sana rata-rata memiliki ketinggian puncak antara 6.000–7.000 m. Dengan mengetahui data (h) dan sudut elevasi, al-Biruni dapat menghitung jari-jari bumi (R). Ia menggunakan Dalil Sinus, yakni “panjang sisi a : panjang sisi b : panjang sisi c = sin A : sin B : sin C.” Karena itu, “garis OB : garis OP = sin OPB : sin OBP.” Garis OB adalah R. Adapun OP adalah R ditambah (h). Lambda adalah sudut OPB. Sedangkan sudut OBP adalah 90 derajat, yang memiliki sin sama dengan 1. Karena tinggi (h) dan sudut elevasi sudah diketahui, nilai R pun dapat dicari. Dari sana, keliling bumi pun bisa ditentukan dengan rumus “keliling = 2.π.R.” Hasilnya, al-Biruni mengatakan, jarak keliling bumi adalah 25 ribu 2/7 mil atau setara 40.225 km. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Islamnya Sayyidina Shuhaib RA

Surabaya –1miliarsantri.net : Sayyidina Shuhaib RA dan Sayyidina ‘Ammar RA memeluk lslam dalam waktu yang sama. Pada waktu itu, Baginda Nabi SAW sedang berada di rumah Sayyidina Arqam Rodhiyatlahu ‘anhu. Kedua orang ini berangkat dari tempat yang berbeda untuk menemui Baginda Nabi SAW. Secara kebetulan mereka berdua bertemu di depan pintu rumah Sayyidina Arqam Radhiyallohu ‘onhu. Keduanya saling menanyakan maksud kedatangan masing-masing. Ternyata maksud kedatangan mereka berdua sama, yakni untuk memeluk lslam dan berusaha mengambil keberkahan dari Baginda Nabi Shallollahu’alaihi wasallam. Sayyidina Shuhaib Radhiyallohu ‘anhu pun masuk lslam. Setelah ia masuk lslam, ia juga mengalami penderitaan seperti Kaum Muslimin yang jumlahnya masih sangat sedikit dan lemah. la disakiti dengan berbagai macam cara. Akhirnya, karena tidak tahan menanggung penderitaan itu, ia berniat untuk hijrah. Namun, Kaum Kafir Quraisy sangat tidak suka bila orang-orang lslam pergi ke tempat lain dan hidup dengan tenang. Apabila orang-orang kafir itu mendengar ada orang lslam yang akan berhijrah, mereka akan berusaha menghalang-halanginya. Orang-orang kafir Quraisy pun mengirim serombongan orang untuk mengejar dan menangkap Sayyidina Shuhaib. Sayyidina Shuhaib RA membawa satu wadah yang penuh dengan anak panah. la berseru kepada Kaum Kafir Quraisy, “Dengarkanlah! Kalian tahu aku pemanah yang paling mahir di antara kalian. Selama masih tersisa satu anak panah padaku, kalian tidak dapat mendekatiku. Jika anak-anak panah ini habis, akan kugunakan pedangku untuk melawan kalian, sehingga pedang ini terlepas dari tanganku. Setelah itu, berbuatlah semampumu. Tetapi, jika kalian mau, sebagai ganti nyawaku, kalian akan kuberitahu tempat hartaku di Makkah, dan akan aku berikan kepada kalian kedua budak perempuanku. Ambillah semuanya.” Kaum Kafir menyetujui usul tersebut. Sayyidina Shuhaib Radhiyallohu ‘anhu menyerahkan hartanya, kemudian melepaskan diri. Terhadap kejadian ini, maka turunlah ayat Al-Qur’an: وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ Wa minan-nāsi may yasyrī nafsahubtigāa marḍātillāh, wallāhu raụfum bil-‘ibād Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. Ketika itu, Baginda Nabi SAW sedang berada di Quba. Saat melihat kedatangan Sayyidina Shuhaib, beliau bersabda, “Sangat beruntung perniagaanmu, wahai Shuhaib.” Sayyidina Shuhaib, “Suatu ketika, Baginda Rasulullah SAW sedang memakan kurma, dan aku menyertai beliau makan. Ketika itu, salah satu mataku sedang sakit, lalu Baginda Nabi SAW berkata, ‘Hai Shuhaib, matamu sakit, tetapi kamu memakan kurma?’ Aku menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku makan dengan sebelah mataku yang sehat ini.’ Baginda Rasulullah tertawa mendengar jawabanku.” Sayyidina Shuhaib banyak membelanjakan harta di jalan Allah Subhaonahu woto’olo, sehingga Sayyidina Umar Radhiyallahu’anhu pernah berkata kepadanya, “Engkau telah berlebih-lebihan, wahai Shuhaib!” Sayyidina Shuhaib menjawab, “Aku tidak menggunakannya untuk hal yang sia-sia.” Ketika Sayyidina Umar Radhiyollohu ‘anhu hampir wafat, ia berwasiat agar Sayyidina Shuhaib Rodhiyallohu ‘anhu mengimami sholat jenazahnya. (yat) Baca juga :

Read More

Sampaikan Pesan Humanis, NU Goes Global

Washington — 1miliarsantri.net : Dalam kunjungan bersejarah ke Amerika Serikat, KH Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, membawa misi perdamaian dan harmoni global. Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), beliau memulai rangkaian pertemuan strategis di Washington DC. Gus Yahya memukau para pakar di The Heritage Foundation, sebuah think tank berpengaruh di lingkaran Partai Republik. Selama lebih dari dua jam, ia memaparkan visi tentang peran krusial Indonesia dan NU dalam dinamika geopolitik, terutama di kawasan Indo-Pasifik dan dunia Islam. Jeff Smith, Direktur Pusat Studi Asia di lembaga tersebut, menyatakan komitmennya untuk mendukung kerja sama dengan Indonesia dan NU di masa depan. Perjalanan diplomasi berlanjut dengan jamuan makan siang bersama Peter Berkowitz, mantan pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri AS. Berkowitz, yang pernah hadir dalam Forum R20 di Bali, memuji inisiatif NU dan berjanji menghubungkan Gus Yahya dengan jaringan strategis di AS. Sore harinya, The Atlantic Council menjadi saksi pemaparan Gus Yahya tentang urgensi integrasi dunia Islam ke dalam sistem global. Frederick Kempe, Presiden dan CEO The Atlantic Council, mengakui pentingnya peran NU dalam dinamika global dan menyatakan dukungannya terhadap inisiatif-inisiatif NU di kancah internasional. Puncak hari pertama ditandai dengan makan malam bersama tokoh-tokoh kunci dari berbagai sektor, termasuk media, politik, dan teknologi. Gus Yahya menguraikan konsep “fiqih peradaban” dan pentingnya menguatkan kembali prinsip-prinsip dasar Piagam PBB untuk mencegah eskalasi konflik global. Agenda padat berlanjut pada Selasa (17/9/2024) dengan seminar bertajuk “A Multi-Religious Path Towards Middle East Peace” di The Washington Institute for Near East Policy. Kunjungan ke Kementerian Luar Negeri AS dan pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Uzra Zeya menjadi penutup sebelum Gus Yahya bertolak ke New York untuk agenda selanjutnya. Lawatan Gus Yahya ini menegaskan komitmen NU dalam mempromosikan perdamaian dan harmoni global, sekaligus memposisikan Indonesia sebagai aktor penting dalam diplomasi internasional. (riz) Baca juga :

Read More