Jamaah Haji Diimbau Patuhi Etika Saat Ziarah di Jabal Uhud

Makkah — 1miliarsantri.net : Selain Masjid Nabawi dan Raudhah, jamaah haji Indonesia kerap mengunjungi sejumlah situs bersejarah, salah satunya Jabal Uhud. Destinasi ini meliputi Masjid Syuhada Uhud, Jabal Rumma (lokasi para pemanah pada Perang Uhud), dan makam para syuhada. Jabal Uhud adalah salah satu tujuan ziarah utama bagi jamaah haji Indonesia di Madinah. Dalam bahasa Indonesia, “Jabal” berarti bukit. Tempat ini menjadi saksi bisu peristiwa Perang Uhud yang terjadi antara tentara Islam yang dipimpin Rasulullah SAW melawan kaum Quraisy. Perang Uhud, yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, berawal dari konflik bersenjata akibat kekalahan kaum Quraisy dalam Perang Badar. Dalam pertempuran ini, 70 sahabat, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, gugur sebagai syuhada. Selain meneladani kisah heroik Perang Uhud, ada beberapa etika yang perlu dijaga oleh jamaah haji saat berziarah di Jabal Uhud: “Ya Hajj, mamnu’ (tidak boleh),” tegas penjaga makam Syuhada Uhud. “Mencoret-coret sangat dilarang, dan tidak ada manfaatnya,” jelas Syeh Salih, salah satu penjaga makam Syuhada Uhud. Dengan menjaga adab dan etika saat ziarah, diharapkan jamaah haji dapat menghormati situs-situs bersejarah dan menjaga nama baik Indonesia. (dul) Baca juga :

Read More

Kesehatan Menurun, Raja Salman Membatalkan Sejumlah Agenda Kunjungan

Makkah — 1miliarsantri.net : Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mendadak telah membatalkan rencana perjalanan empat hari ke Jepang yang dijadwalkan pada minggu ini. Menurut juru bicara Jepang, Yoshimasa Hayashi pembatalan dilakukan karena putra mahkota ini merasa khawatir atas kesehatan ayahnya, Raja Salman Bin Abdulaziz yang kini kondisinya sedang sakit. Menurut rencana, kunjungan pangeran, sedianya akan dimulai pada hari Senin, dan sekaligus merupakan kunjungan pertama putra mahkota ke negara Asia tersebut sejak tahun 2019. Putra Mahkota Mohammed akan bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan kaisar negara tersebut serta perwakilan dari beberapa perusahaan Jepang untuk menandatangani perjanjian kerjasama Arab-Jepang. Salah satunya adalah kesepakatan untuk meningkatkan rantai pasokan hidrogen cair. Saudi Press Agency melaporkan pada hari Minggu bahwa ayah putra mahkota berusia 88 tahun menderita radang paru-paru dan akan menerima antibiotik di Istana Al Salam di Jeddah. Bulan lalu, menurut media Arab, Raja Salman dirawat di rumah sakit Spesialis King Faisal di Jeddah untuk kunjungan “pemeriksaan rutin”. Raja Salman memerintah Arab Saudi sejak tahun 2015 setelah Raja Abdullah meninggal pada tahun 2015. Dua tahun kemudian, raja mencopot Mohammed bin Nayef sebagai putra mahkota dan menggantikannya dengan putranya. Putra mahkota berusia 38 tahun dipandang sebagai raja de facto dan menangani sebagian besar urusan sehari-hari kerajaan dan merupakan pewaris takhta berikutnya. Putra Mahkota Mohammed juga dijadwalkan mengunjungi Jepang pada akhir tahun 2022, namun dibatalkan tepat sebelum dia tiba. “Kunjungan Yang Mulia Putra Mahkota Mohammed ke Jepang akan dikoordinasikan kembali antara kedua negara,” terang Hayashi kepada wartawan Rabu (22/5/2024) malam. Sumber-sumber Saudi mengatakan kepada AFP bahwa meskipun pemimpin de facto tersebut tidak hadir, delegasi Saudi masih akan melakukan perjalanan ke Jepang untuk melakukan beberapa pembicaraan. Pada hari Senin, menteri luar negeri kedua negara berbicara selama 15 menit melalui telepon. Berdasarkan pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Jepang, Menteri Luar Negeri Yoko Kamikawa menyampaikan harapan tulusnya agar raja dapat segera pulih dan mengatakan bahwa dia ingin bekerja sama dengan Riyadh ketika dunia menghadapi berbagai krisis, termasuk di Gaza dan Ukraina. Kementerian mengatakan kedua menteri menyampaikan bahwa mereka ingin mengatur ulang perjalanan tersebut sesegera mungkin. Jepang dan Arab Saudi telah memperdalam hubungan mereka selama beberapa tahun terakhir. Karena Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia, bantuannya sangat penting bagi Arab Saudi untuk mewujudkan Visi 2030, yaitu rencana putra mahkota untuk mendiversifikasi perekonomian kerajaan dari ketergantungan pada minyak dengan berinvestasi besar-besaran di sektor lain termasuk hiburan, pariwisata, dan energi terbarukan. Di sisi lain, Riyadh adalah pemasok minyak mentah terbesar di Tokyo dengan nilai sekitar $34,3 miliar per tahun dan pemasok utama petrokimia. Arab Saudi menjadi mitra dagang terbesar kedelapan Jepang pada tahun 2023 dengan perdagangan bilateral mencapai $42 miliar, menurut data Dana Moneter Internasional. Sementara itu, pada hari Minggu, Putra Mahkota Mohammed bertemu dengan penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan di kota timur Dharhran untuk membahas solusi terhadap perang di Gaza, SPA melaporkan. (dul) Baca juga :

Read More

Kadaker Minta Jamaah Calon Haji Agar Selalu Memakai Gelang

Makkah — 1miliarsantri.net : Sebanyak delapan kelompok terbang (kloter) calon jamaah haji (Calhaj) Indonesia yang datang lebih dulu di Madinah mulai bergeser ke Makkah dan Rombongan jamaah kloter pertama telah tiba di Hotel Al-Ghadeer, Makkah, Senin (20/5/2024) sekitar pukul 12.00 WAS dengan jumlah 392 orang. Kepala Daker Makkah, Kholilurrahman meminta kepada calhaj Indonesia untuk selalu memakai gelang saat melaksanakan ibadah di Tanah Suci Makkah. Sehingga, petugas dapat dengan mudah melayani calhaj yang sakit atau terpisah dari rombongannya. “Jamaah jangan lupa selalu menggunakan gelang jamaah haji, karena dalam gelang itu akan nampak nama jamaah, kemudian nama kloternya nama paspornya, itu sangat memudahkan petugas untuk membantu melayani jamaah ketika jamaah itu tiba tiba sakit, pingsan, atau terpisah rombongan kesasar tidak tahu tempat tinggalnya,” terang Kholilurrahman di Kantor Urusan Haji Indonesia, Makkah, Selasa (21/5/2024). Selanjutnya, dia juga mengimbau kepada calon jamaah haji Indonesia agar selalu bertanya kepada petugas jika lupa akan tempat tinggalnya. Ketika tiba di Makkah, kata dia, calhaj Indonesia juga harus memastikan untuk mendapatkan kartu hotel. “Kalau nanti jamaah terpisah rombongan tersesat, nanti tunjukkan kartu hotel itu kepada petugas, sehingga petugas mudah mengantarkan jamaah sampai ke sektornya, ke kantornya, ke hotelnya dan ke kamarnya,” sambung Kholilurrahman. Dia menuturkan, cuaca di Makkah sendiri saat ini sudah panas. Bahkan, menurut dia, pada saat puncak haji nanti cuacanya bisa mencapai 50° celsius. Karena itu, dia juga mengimbau kepada calhaj Indonesia untuk menghindari paparan terik matahari secara langsung. “Jamaah haji kita sebaiknya beribadah di hotel atau di masjid atau mushalla yang ada di hotel, terutama jamaah yang lansia yang risiko tinggi agar tidak memaksakan diri untuk melaksanakan sholat di Masjidil Haram,” himbaunya. Dia mengatakan, jamaah yang sehat dan kuat bisa melaksanakan ibadah di Masjidil Haram. Namun, dia tetap menyarankan agar tetap membawa payung dan membawa air minum. “Jangan sampai dehidrasi, karena banyak kasus jamaah yang sakit karena dehidrasi ketika di Masjidil Haram, lupa membawa payung, lupa membawa air,” lanjut Khalilurrahman. Demikian pula ketika nanti jamaag melaksanakan sholat di Masjidil Haram, juga diimbau agar tidak menitipkan sandal atau sepatunya di area Masjidil Haram. “Sandal atau sepatu yang dibawa itu jangan ditinggal, jangan dititipkan di loker-loker penitipan di area Masjidil Haram karena masuknya dan keluarnya akan berbeda. Masuknya dari pintu King Fahd nanti keluarnya akan berbeda. Oleh karena itu, saran saya jika menggunakan sandal pasukan sandal dalam kantong plastik, masukkan tas dan dibawa, jangan ditinggal kemudian,” tandas Khalilurrahman. Yang tidak kalah penting, dia juga mengimbau kepada calhaj Indonesia agar selalu waspada ketika beribadah ke Masjidil Haram, serta tidak membawa perhiasan. “Jangan membawa perhiasan khawatir ada tindakan kriminal atau pencopetan yang terjadi di area Masjidil Haram,” ucapnya. Ketika akan beribadah ke Masjidil Haram, Khalilurrahman juga menyarankan kepada calhaj Indonesia untuk tidak berangkat sendirian, melainkan berkelompok. “Ketika mereka berangkat 10 orang, maka pulang pun harus 10 orang. Ketika mereka berkelompok lima orang, pulang pun 5 orang, jangan sendiri-sendiri. Pastikan mereka berangkat bareng, pulang pun bareng,” tegasnya. Setelah calhaj Indonesia sampai ke hotel, tambah dia, calhaj Indonesia juga tidak boleh memasak dengan alat yang bisa berpotensi menimbulkan kebakaran. “Jadi kalau seandainya memasak, itu supaya alat masak air itu yang otomatis. Dan pastikan ketika mereka akan sholat ke Masjidil Haram, semua alat masak tersebut agar dipastikan mati dulu, sehingga tidak terjadi kebakaran seperti tahun-tahun yang lalu. Karena lalai ditinggal untuk sholat, kemudian magicom-nya meledak kebakaran,” pungkasnya. (dul) Baca juga :

Read More

Peringatan Imam al Ghazali Tentang Pendidikan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Agama Islam menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang sangat penting, bahkan Allah SWT memuliakan orang-orang berilmu. Untuk itu, Muslim disarankan untuk belajar sepanjang hidupnya agar terus mendapatkan ilmu. Islam juga menekankan kepada para pemilik ilmu untuk mengajarkan atau mengamalkan ilmu yang didapatnya kepada orang lain. Lantas, bagaimana jika orang yang memiliki ilmu tapi dikomersilkan dengan tujuan untuk meraup harta dunia? Ini pendapat Imam Al-Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin. Imam Al-Ghazali menjelaskan betapa pentingnya ilmu, bahkan ilmu lebih mulia dari sekedar ibadah tanpa ilmu. Akan tetapi, Imam Al-Ghazali juga mengingatkan ada bahaya di sekitar ilmu. Untuk menghadapi berbagai kesulitan dalam menuntut ilmu maka ringankan hati agar mudah dan ikhlas melakukannya. Ia mewanti-wanti agar ilmu jangan digunakan untuk memperkaya diri sendiri. “Ketahuilah bahwa sangat besar bahaya dalam menuntut ilmu, jika menuntut ilmu bertujuan untuk menarik perhatian manusia, menjadikan ilmu sebagai alat agar bisa duduk bersama para penguasa, dan membanggakan diri terhadap orang yang mendebat atau menjadikan ilmu sebagai alat untuk memburu dunia,” kata Imam Al-Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menuntut ilmu untuk tujuan berbangga-banggaan dengan para orang-orang pandai atau untuk memamerkannya pada orang-orang yang bodoh atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka.” Abu Yazid Al Bustomi mengatakan, “Aku telah melakukan mujahadah selama 30 tahun dan aku tidak mendapati sesuatu yang lebih sulit aku hadapi selain dari ilmu dan bahaya yang mengitarinya.” Abu Yazid Al Bustomi mengingatkan, jauhkan pandangan kamu dari sesuatu yang dijadikan indah oleh setan. Setan itu akan mengatakan kepada kamu, “Jika bahaya yang sebesar ini terjadi pada ilmu, maka meninggalkannya tentu lebih utama.” Abu Yazid Al Bustomi mengingatkan, “Kamu jangan pernah berpikir seperti yang dikatakan setan.” Ilmu tetap penting dan harus dipelajari meski ada bahaya di sekitarnya. Sebab banyak orang fakir ilmu yang masuk neraka. Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengarahkan pandangan pada malam Mi’raj-ku ke arah neraka, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah mereka fakir karena harta.” Nabi SAW menjawab, “Bukan (fakir harta) tapi mereka fakir dari ilmu.” Imam Al-Ghazali mengingatkan, siapa saja yang tidak mempelajari ilmu maka ia tidak akan dapat melakukan ibadah dengan benar dan tidak bisa melaksanakan hak-hak hidupnya sebagaimana mestinya. Sekiranya seorang menyembah Allah Ta’ala seperti ibadahnya para malaikat langit tanpa disertai dengan ilmu, maka tentulah ia termasuk orang-orang yang merugi. Maka teguhkan diri dalam menuntut ilmu dengan cara mengkaji, menyampaikan dan mengajarkannya. Usirlah kemalasan serta rasa bosan yang menerpa saat menuntut ilmu. Jika tidak diusir rasa malas itu, maka seseorang berada dalam bahaya kesesatan dan semoga Allah melindungi kita semua dari kesesatan. Hal ini dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin yang diterjemahkan Abu Hamas As-Sasaky dan diterbitkan Khatulistiwa Press 2013. (wink) Baca juga :

Read More

Harapan Anak-Anak Palestina Yang Tinggal di Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Setiap tanggal 15 Mei diperingati sebagai Hari Nakba. Peristiwa Nakba bermula dari Deklarasi Balfour yang terjadi tahun 1917 ketika pemerintah Inggris menyatakan dukungan untuk pendirian tanah air bagi orang Yahudi di Palestina. Istilah Nakba atau Al Nakba berasal dari bahasa Arab yang berarti bencana. Peristiwa Nakba sendiri terjadi pada 1948 saat pendirian negara Israel. Peristiwa ini mengakibatkan pengusiran dan eksodus massal lebih dari 700 ribu warga Palestina dari tanah air mereka. Peringatan Nakba tahun ini memasuki tahun ke-76. Berbagai suara harapan dari warga Palestina mencerminkan semangat dan perjuangan yang tak pernah padam untuk meraih kemerdekaan. Majid Anas Al Masri (7), seorang anak Palestina yang saat ini tinggal di Indonesia, menyatakan harapannya agar Palestina segera merdeka. “Aku mau (Palestina) merdeka, terus lebih kuat dari Israel laknatullah,” ungkap Majid kepada 1miliarsantri.net, Ahad (19/5/2024). Majid juga mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi seorang mujahid yang dapat meraih kemerdekaan untuk Palestina. “Cita-cita jadi mujahid, bisa lawan Israel laknatullah, bisa jadi lebih kuat dari Israel,” lanjutnya. Dia sudah 5 tahun tinggal di Indonesia. Bocah yang kini tengah mengenyam pendidikan di BIMBA itu mengaku bahagia bisa tinggal di Indonesia. “Aku sudah 5 tahun di sini, sekolah di BIMBA. Di Indonesia baik, orang Indonesia baik sekali. Kalau di sini aman, di Palestina nggak aman karena ada Israel. Di sini kita bisa main, bisa makan. Di Palestina, nggak ada makan, nggak ada minum, nggak ada listrik, nggak ada internet,” beber Majid. Selain itu, Jana Abu Salah (18), seorang mahasiswa Palestina, mengimbau kepada seluruh warga Palestina untuk mengingat tanggung jawab sebagai warga Palestina melakukan yang terbaik untuk mengupayakan kemerdekaan Palestina. “Harapan saya untuk Palestina tentu saja saya ingin Palestina merdeka di masa depan dan saya berharap setiap orang di Palestina tidak lupa dari mana asalnya dan apa yang terjadi dengan Palestina. Ingatkan saja diri sendiri setiap hari, apa tanggung jawab kita terhadap Palestina. Sebagai mahasiswa, saya terus belajar agar kedepannya bisa menjadi sesuatu yang bisa membantu Palestina,” ujar perempuan yang kerap dipanggil Juwita itu. Loai Alawneh, seorang mahasiswa Palestina lainnya, juga menyatakan rasa terima kasihnya kepada Indonesia yang terus mengerahkan dukungan terbaik untuk menyuarakan hak bagi bangsa Palestina. Solidaritas internasional, seperti yang ditunjukkan oleh Indonesia, memberikan dorongan moral yang sangat berarti bagi perjuangan mereka. “Saya terima kasih untuk Indonesia karena orang Indonesia suka orang Palestina. Dan juga orang Palestina suka orang Palestina. Hari ini, hari hitam bagi Palestina karena hari ini Israel occupation, menjajah Palestina. Banyak orang wafat di Palestina,” tuturnya. Dia mengucapkan banyak terima kasih untuk orang Indonesia karena semua orang di Indonesia suka orang Palestina. (Iin) Baca juga :

Read More

Jamaah Haji Diimbau Perbanyak Minum Air Putih Agar Terhindar Dehidrasi

Madinah — 1miliarsantri.net : Kepala Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Madinah, Karmijono mengimbau jamaah haji untuk memperbanyak minum agar terhindar dari dehidrasi. Cuaca yang panas dan kering di Arab Saudi menjadi penyebab akan hal tersebut. “Banyak jamaah haji yang tidak sadar sudah mengalami dehidrasi saat beraktivitas di Saudi,” ungkap Karmijono di KKHI Madinah dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/5/2024). Karmijono menyebut salah satu ciri dehidrasi adalah jarang buang air kecil. Menurut Karmijono, seharusnya jamaah haji buang air kecil minimal setiap jam sebagai tanda tubuh terhidrasi dengan baik. “Itu tanda-tanda dehidrasi. Seharusnya, jamaah haji buang air kecil minimal setiap jam. Hal ini sebagai tanda tubuh terhidrasi dengan baik. Semakin sering kencing lebih bagus. Mending sering ke toilet daripada sering ke rumah sakit,” tambahnya. Ia pun meminta jamaah haji untuk banyak mengonsumsi air putih meski tidak merasa haus. Karmijono menganjurkan jamaah minum air zamzam yang tidak dingin agar bisa langsung diterima dengan baik suhu tubuh. Selain jarang buang air kecil, di kondisi cuaca yang panas dan kering bisa menyebabkan jamaah jarang berkeringat saat beraktivitas. Sebab, keringat yang dihasilkan langsung menguap. Soal jamaah haji lansia dengan riwayat penyakit bawaan, Karmijono mengimbau agar tidak memaksakan diri melakukan ibadah yang bersifat sunnah. Selain agar tidak lelah, hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan jamaah menuju rangkaian puncak haji. “Tidak ada petugas yang melarang jamaah untuk beribadah tetapi agar jamaah itu juga menyadari kemampuannya sendiri. Kalau memang sudah lelah, jangan dipaksa, tetap istirahat,” sambungnya. Sementara itu, Kasi Lansia, Disabilitas, dan PKP3JH, dr Leksmana Arry Chandra, meminta jamaah haji tidak berjalan tanpa alas kaki saat di Madinah. Pasalnya, suhu di Madinah saat ini mencapai 40 derajat Celcius dan saat siang pelataran Masjid Nabawi sangat panas. “Cuaca diperkirakan akan semakin panas jelang puncak haji, bisa mencapai 48-50 derajat celsius. Jika jamaah berjalan tanpa alas kaki di pelataran yang panas, sangat berisiko kakinya melepuh,” ungkap Leksmana Arry Chandra. Berdasarkan pengalaman, ada saja jamaah yang lupa letak sandalnya saat di Masjid Nabawi. Untuk menghindari hal itu, dr Leks menyarankan untuk membawa plastik sebagai tempat alas kaki (dul) Baca juga :

Read More

Jamaah Haji Bisa Masuk Raudhah dengan Tasreh

Madinah — 1miliarsantri.net : Masuk ke Raudhah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW menjadi harapan setiap jamaah haji saat di Madinah. Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Ibadah pada Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Madinah Efrilen Hafizh mengatakan bahwa jamaah haji Indonesia dapat memasuki Raudhah di Masjid Nabawi dengan menggunakan Tasreh. “Jamaah haji Indonesia tidak usah resah karena masuk ke Raudhah itu difasilitasi oleh pemerintah melalui penerbitan surat Tasreh. Jamaah tidak harus mengisi dan mendaftar melalui aplikasi Nusuk secara pribadi,” terang Efrilen Hafizh di Kantor Daker Madinah, Jumat (17/5/2024). Hafizh mengatakan, fasilitas untuk masuk ke Raudhah akan diberikan secara kolektif kepada jamaah sebelum berkunjung ke Raudhah. “Di setiap kloter itu akan diterbitkan dua tasreh. Pertama, tasreh khusus untuk perempuan. Kedua, tasreh khusus untuk laki-laki,” jelasnya. Ditambahkan Hafizh, pelaksanaan kunjungan ke Raudhah akan dilakukan paling cepat 3 hari setelah jamaah berada di Kota Madinah. “Setelah diterbitkan, tasreh akan diteruskan ke Kepala Sektor Khusus Nabawi. Jadwal masuk Raudhah akan diinformasikan kepada petugas kloter melalui petugas sektor. Sehingga jamaah tinggal datang pada jadwal yang sudah ditentukan. Jamaah wajib sudah berkumpul di pintu Raudhah paling lambat 30 menit sebelum jadwal masuk. Petugas Seksus Nabawi akan memandu jamaah dan menyerahkan tasreh kepada petugas yang menjaga Raudhah,” sambungnya. Kepala Daker Madinah telah bernegosiasi dengan pihak keamanan sektor Masjid Nabawi untuk memberikan dispensasi kepada petugas Sektor Khusus Nabawi agar dapat melakukan pendampingan terhadap jemaah haji yang masuk ke Raudhah. “Penerbitan tasreh ini dilakukan oleh Kantor Daker Madinah dan diberikan validasi berupa stempel untuk menghindari duplikasi dan menunjukkan bahwa tasrehnya asli,“ tandas Hafizh. Hafizh mengungkapkan bahwa layanan pemberian tasreh ini merupakan salah satu bentuk kehadiran negara dalam memberikan pelayanan terbaik kepada Jamaah Haji. Jamaah haji Indonesia mulai tiba di Madinah sejak 12 Mei 2024. Proses kedatangan ini akan terus berlanjut hingga 23 Mei 2024. (dul) Baca juga :

Read More

KH Miftachul Akhyar : Ada 3 Tingkatan Dzikir

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar menjelaskan tiga tingkatan dzikir seseorang kepada Allah. Pertama, adalah dzikir yang sekadar diucapkan dari lisan, tapi hatinya tidak ingat kepada Allah. Dzikir semacam ini adalah kelas yang paling bawah. “Karena lupa (tidak ingat Allah) yang begitu itu kalau disabari, ditekuni lama-lama akan naik. Semula lupa, akhirnya ingat. Lha ini adalah maqam yang pertama. Belum hudur (hadir hatinya),” terangnya, Kamis (16/5/2024). Orang yang zikirnya masih berada di tingkatan tersebut, hendaknya terus mengistikamahkan berzikir. Karena untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi menurut Kiai Miftach memang butuh latihan. “Kalau lisan dan hati tidak bisa berzikir bersamaan, jangan ditinggalkan zikir. Terus berzikir. Tidak apa-apa, zikir terus. Begitu ingat Allah, tekanan zikirnya ditambah lagi,” ajakanya. Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, Jawa Timur ini melanjutkan penjelasan tingkatan zikir yang kedua, yaitu zikir yang hatinya sudah ingat atau hadir kepada Allah. Begitu lisan berzikir, hatinya juga ingat akan Allah. “Hudur (hatinya hadir) itu maqam yang kedua. Hatinya sudah hadir, madep (menghadap) kepada Allah,” terang Kiai Miftach, sapaan kesehariannya. Sementara tingkatan zikir yang ketiga adalah zikir yang hatinya selalu ingat hanya kepada Allah, tidak pernah ingat yang lain selain kepada-Nya. Zikir ini, kata Kiai Miftach, memiliki nilai yang tentu sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari dua tingkatan yang disebutkan sebelumnya. “Lalu naik lagi, sudah tak ingat lagi selain kepada Allah. Hanya ingat kepada Allah. Nah ini maqam yang ketiga. Maqam yang tinggi nilainya adalah maqam yang ketiga ini,” sambungnya. Kiai Miftach menegaskan, manusia perlu terus meningkatkan kualitas zikirnya kepada Allah sehingga bisa menggapai maqam yang lebih tinggi. Meski tentu saja untuk naik kelas, waktu yang dibutuhkan setiap individu cenderung berbeda-beda. Sebagian lambat, lebih cepat, sebagian yang lain bisa saja stagnan. “Zikir yang kelasnya paling tinggi adalah zikir yang tidak ingat selain Allah swt. Dan itu bisa dicapai oleh siapa saja. Kita harus punya keinginan untuk itu. Karena tidak sulit Allah menganugerahkan maqam itu kepada siapapun,” tuturnya. Kiai Miftach menyampaikan, seseorang perlu terus berlatih untuk bisa meningkatkan kualitas zikirnya. Cara yang paling mudah sebagai latihan adalah membiasakan menyertai setiap aktivitas yang dilakoni dengan selalu berzikir. Kendati hanya dengan lisan dan hatinya belum ingat Allah. “Jadi, berzikir bagaimanapun keadaannya harus kita lakukan. Jangan sampai lupa. Di dapur pun zikir. Kecuali tempat-tempat yang jorok, cukup hatinya saja yang zikir,” pungkasnya. (har)

Read More

Waspada ISPA hingga Infeksi Jamur Rentan Dialami Jamaah Haji Selama di Tanah Suci

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kasi Lansia, Disabilitas, dan Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (PKP3JH) Daker Madinah, dr Leksmana, mengungkapkan ada sejumlah penyakit yang rentan dialami jamaah haji selama di Tanah Suci. “Ada beberapa penyakit yang sering dialami jamaah haji, yaitu: Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diakibatkan karena kerumunan besar jamaah, polusi udara, dan perubahan suhu yang drastis di Mekkah dan Madinah,” ungkap dr Leksmana kepada 1miliarsantri.net, Rabu (15/5/2024). Selain itu, dr Leks meminta jamaah haji untuk mewaspadai penyakit gangguan pencernaan, seperti diare, muntah, atau sakit perut, yang disebabkan oleh perubahan pola makan, air minum yang berbeda, dan sanitasi yang mungkin tidak memadai. “Dehidrasi menjadi risiko yang serius terutama jika jamaah tidak cukup minum air. Hal ini dikarenakan cuaca panas di Makkah dan Madinah,” tuturnya. Sementara, lanjut dr Leks, cuaca panas dengan kelembapan yang tinggi dapat memunculkan penyakit kulit, infeksi jamur, ruam panas, atau luka akibat gesekan pakaian. “Penyakit menular, seperti flu, demam, atau penyakit menular lainnya karena interaksi dengan jemaah dari berbagai negara dengan kondisi kesehatan yang berbeda juga perlu diantisipasi.” lanjut dr Leks. Ia menambahkan, terdapat penyakit kronis yang bisa jadi dialami jamaah seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung. Hal ini bisa menjadi lebih sulit dikontrol karena perubahan pola makan, kurang istirahat, dan stres selama perjalanan. “Serta trauma atau cedera, terutama karena kerumunan besar dalam melakukan ritual seperti tawaf dan melempar jumrah” terang dr Leks. Data Kemenag mencatat tahun ini ada sekitar 45.000 jemaah haji reguler dengan usia 65 tahun ke atas. Di tengah cuaca panas Tanah Suci, dr Leks merekomendasi beberapa obat yang dianjurkan untuk dibawah oleh jamaah haji, yaitu: Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyatakan, bahwa pemberangkatan kloter pertama jamaah haji Indonesia pada penyelenggaran ibadah haji 1445 H/2024 M dilakukan pada 12 Mei 2024 mendatang. Proses pemberangkatan tersebut akan berlangsung hingga 10 Juni 2024. Sebagai informasi, tahun ini Indonesia akan memberangkatkan 241.000 jamaah yang terdiri dari 213.320 jamaah reguler dan 27.680 jamaah haji khusus. (rid) Baca juga :

Read More

Pentingnya Fleksibilitas dalam Hukum Islam Terkait Musik

Jakarta — 1miliarsantri.net : Polemik seputar hukum musik masih menjadi sorotan hangat dalam diskusi umat Islam hari-hari ini. Perspektif yang beragam mengenai legalitas musik terus memunculkan pertentangan. Di satu sisi, ada yang memandang bahwa musik secara mutlak haram; sementara di sisi lainnya, ada yang meyakini bahwa musik tidak memiliki batasan hukum yang tegas. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah sendiri telah mengeluarkan fatwa mengenai hukum musik. Dalam menanggapi keberagaman pendapat tentang musik, berdasakan buku Tanya Jawab Agama jilid V (2013) Majelis Tarjih membuat tiga klasifikasi: Pertama, jika musik memberikan dorongan kepada keutamaan dan kebaikan, maka hukumnya disunahkan. Kedua, jika musik hanya bersifat sebagai hiburan atau permainan semata tanpa dampak yang signifikan, hukumnya biasanya dimakruhkan. Namun, perlu diingat bahwa jika musik tersebut mengandung unsur negatif, maka hukumnya menjadi haram. Ketiga, jika musik mendorong kepada perbuatan maksiat atau kemaksiatan, maka hukumnya jelas haram. Pandangan Majelis Tarjih ini sejalan dengan Imam Al Ghazali. Menurutnya, musik dianggap haram apabila membangkitkan atribut yang tercela dalam diri manusia. Namun, Imam Al Ghazali juga memberikan perspektif yang lebih nuansa terkait hukum ini. Baginya, musik hanya menjadi makruh apabila seseorang terlalu terbuai olehnya, sehingga melupakan kewajiban-kewajiban yang lain. Lebih lanjut, jika musik hanya dinikmati sebagai bentuk kesenangan tanpa adanya efek negatif yang signifikan, maka statusnya menjadi mubah atau diperbolehkan. Imam Al Ghazali juga menyatakan bahwa musik dapat dianjurkan apabila mampu meningkatkan rasa cinta kepada Allah dan membangkitkan atribut yang terpuji dalam diri manusia. Dari penjelasan yang telah disampaikan, terbuka ruang untuk membongkar metode istinbath hukum yang digunakan oleh Majelis Tarjih dan juga Imam Al Ghazali. Untuk melengkapi pemahaman akan hal ini, kita akan menggunakan kerangka teoritik yang dikemukakan oleh pakar hukum Islam sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar. Dalam buku yang berjudul Fikih Kebhinekaan, Syamsul Anwar menguraikan tentang tipologi ‘illat, atau yang dikenal dalam hukum Islam sebagai metode kausasi dan ratio legis. Dua macam kausa ini menjadi landasan penting dalam penetapan hukum Islam. Pertama, “al-‘illah al-f?’ilah” atau kausa efisien, merupakan penyebab yang mendasari ditetapkannya suatu ketentuan hukum. ‘Illat ini berada di depan penetapan hukum itu sendiri. Sebagai contoh, dalam institusi pernikahan, ijab qabul menjadi ‘illat sahnya suami istri berhubungan badan. Begitu juga, dalam konteks tindak pidana korupsi, ‘illat dari jatuhnya hukum potong tangan adalah tindakan korupsi itu sendiri. Kedua, “al-‘illah al-gh?’iyyah” atau kausa final, adalah tujuan yang hendak diwujudkan melalui suatu penetapan hukum. Menurut Syamsul, ‘illat ini terwujud setelah penetapan hukum. Sebagai contoh, pandangan Majelis Tarjih Muhammadiyah tentang sahnya sebuah perceraian yang harus ditentukan di pengadilan bertujuan untuk menekan tingkat perceraian dan mencegah talak yang sewenang-wenang. Menurut Syamsul, ‘illat ini biasanya disebut sebagai Maq?shid al-Syar?’ah, yaitu tujuan-tujuan utama dari syariat Islam. Kalau kita melihat argumen Majelis Tarjih dan Imam al-Ghazali tentang musik seperti yang sudah disampaikan di atas, yang menyatakan bahwa musik dapat dihukumi sebagai haram, makruh, mubah, atau dianjurkan, maka dapat dikategorikan bahwa pandangan ini termasuk dalam kategori al-‘illah al-gh?’iyyah. Dengan pembacaan kausa final ini, kita menghukumi segala sesuatu tergantung pada tujuan akhirnya. Berdasarkan penjelasan di atas, tampaknya Majelis Tarjih bermaksud memberikan pelajaran penting bahwa penetapan hukum tidak boleh dilihat secara monolitik. Bagi Majelis Tarjih, suatu perbuatan jangan hanya dihukumi sebagai haram atau halal tanpa mempertimbangkan konteks dan tujuan akhir dari hukum tersebut. Dalam hal ini, kausa final atau al-‘illah al-gh?’iyyah seharusnya menjadi landasan utama dalam menetapkan hukum. Dengan pendekatan ini, kita diarahkan untuk melihat segala objek hukum secara menyeluruh, adil, dan proporsional. Tidak selalu suatu perbuatan dipandang sebagai halal atau haram secara mutlak, tetapi tergantung pada dampaknya dan tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, kesimpulan hukum dilihat secara kondisional. Jika musik membawa seseorang kepada kesesatan atau perbuatan maksiat, maka hukumnya adalah haram. Namun, jika musik tersebut membawa seorang Muslim kepada kemashlahatan, maka hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan. Pendekatan ini juga mengajarkan pentingnya kontekstualitas dan keadilan dalam menetapkan hukum Islam, serta menegaskan bahwa hukum-hukum tersebut tidaklah statis, tetapi dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan kondisi sosial. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Majelis Tarjih lainnya terhadap aktivitas menggambar, melukis, dan membuat patung. Meskipun sebagian kelompok Islam mungkin mengharamkan praktik ini, Majelis Tarjih mengadopsi metode pembacaan teks yang menyeluruh (istiqra), yang memungkinkan penilaian yang lebih proporsional dan kontekstual terhadap aktivitas-aktivitas tersebut. Dengan menggunakan pendekatan ini, aktivitas menggambar, melukis, dan membuat patung tidak dilihat secara monolitik, tetapi dinilai berdasarkan tujuan akhir atau al-‘illah al-gh-’iyyahnya. Dalam hal ini, aktivitas tersebut dapat dihukumi sebagai haram jika dianggap sebagai bentuk penyembahan atau penghormatan yang tidak pantas, seperti dalam praktik berhala. Namun, aktivitas tersebut dapat menjadi mubah jika digunakan sebagai media pembelajaran, penghiasan, atau bentuk ekspresi kreatif yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk menghukumi segala sesuatu secara kondisional-kontekstual, bukan secara parsial-tekstual. Oleh karena itu, dalam menentukan hukum yang bersifat konkret dan praktis, agar tidak bersifat monolitik, diperlukan penggunaan kerangka kausa final atau maq?shid al-syar?’ah atau al-‘illah al-gha’iyyah. Dengan menggunakan al-‘illah al-gh?’iyyah seperti yang dilakukan Imam al-Ghazali dan Majelis Tarjih, pembacaan terhadap teks al-Qur’an dan Hadis yang semula cenderung menekankan pada sisi parsialitas (juz’iyyah) dan monolitik, dapat diperluas cakupan pemahamannya menjadi lebih umum (‘ammah) dan universal (‘alamiyyah). Dengan pendekatan ini pula, Islam tidak lagi dipandang sebagai agama yang kaku, rigid, dan eksklusif. Sebaliknya, Islam menjadi ummatan wasatha (ummat yang moderat) dan rahmatan li al-‘alaa?n (rahmat bagi seluruh alam). Dengan memperluas cakupan pemahaman terhadap tujuan akhir dari hukum-hukum Islam, umat Muslim dapat menghadapi tantangan-tantangan zaman dengan lebih bijaksana dan inklusif. (wink) Baca juga :

Read More