Kategori: EduTekno
Ketika AI Dan Big Data Mulai Atur Lalu Lintas, Solusi ataukah Ancaman Baru?
Bondowoso – 1miliarsantri.net : Di era digital yang serba cepat ini, kita mulai menyaksikan bagaimana AI dan Big Data menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dalam dunia bisnis atau hiburan, tapi juga dalam bidang yang lebih krusial seperti pengaturan trafik lalu lintas. Bayangkan, jalanan kota yang padat kini bisa diatur oleh sistem cerdas yang mampu menganalisis jutaan data hanya dalam hitungan detik. Teknologi AI dan Big Data hadir membawa harapan baru untuk mengurai kemacetan dan meningkatkan keselamatan di jalan raya. Namun, di balik kemajuan itu, terselip pula pertanyaan besar, apakah ini benar-benar solusi, atau justru ancaman baru bagi privasi dan kendali manusia? AI dan Big Data dalam Sistem Lalu Lintas Modern Sebelum kita menilai dampaknya, penting untuk memahami bagaimana AI dan Big Data bekerja dalam sistem transportasi. Keduanya saling melengkapi. Big Data mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, seperti kamera CCTV, GPS kendaraan, sensor jalan, hingga aplikasi navigasi. Lalu AI memproses data tersebut untuk mengambil keputusan secara otomatis. Misalnya, sistem bisa menyesuaikan durasi lampu merah dan hijau berdasarkan kepadatan kendaraan, memprediksi titik rawan kemacetan, hingga memberikan rute alternatif bagi pengendara. Teknologi ini bukan lagi sekadar teori. Banyak kota besar di dunia, termasuk di Asia, sudah mulai menerapkannya. Hasilnya cukup menjanjikan, waktu tempuh menurun, angka kecelakaan berkurang, dan efisiensi bahan bakar meningkat. Baca juga : Apakah AI untuk UMKM Syariah Sudah Sesuai dengan Prinsip Agama? Ternyata Begini Penjelasan Faktanya! Namun, di balik semua manfaat tersebut, ada sisi lain yang perlu kita cermati dengan hati-hati. Setiap inovasi besar pasti memiliki konsekuensi. Dalam hal ini, AI dan Big Data menimbulkan kekhawatiran baru terkait privasi dan keamanan data. Untuk bisa bekerja efektif, sistem membutuhkan akses ke informasi pribadi pengguna mulai dari lokasi real-time, kebiasaan berkendara, hingga rute harian. Jika data sebesar itu jatuh ke tangan yang salah, bukan tidak mungkin bisa disalahgunakan untuk kepentingan lain. Selain itu, muncul juga kekhawatiran tentang ketergantungan manusia pada sistem otomatis. Ketika semua keputusan diambil oleh algoritma, apakah kita masih memiliki kendali penuh terhadap lingkungan kita sendiri? Jika suatu saat sistem AI mengalami kesalahan atau diretas, dampaknya bisa sangat luas, bahkan berbahaya. Pertanyaan ini menjadi refleksi penting sejauh mana kita siap menyerahkan kendali kepada teknologi? Menemukan Titik Seimbang antara Manfaat dan Risiko Penerapan AI dan Big Data seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi efisiensi teknologi, tetapi juga dari aspek etika dan keamanan. Regulasi yang jelas dan transparan sangat dibutuhkan agar penggunaan data tetap dalam batas yang aman. Pemerintah, perusahaan teknologi, dan masyarakat harus bekerja sama membangun sistem yang tidak hanya pintar, tetapi juga bertanggung jawab. Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi, namun kita juga tidak boleh membiarkannya berjalan tanpa kendali. AI dan Big Data bisa menjadi solusi terbaik untuk menciptakan lalu lintas yang lebih tertib dan efisien, asalkan digunakan dengan prinsip kehati-hatian. Pada akhirnya, kita tidak bisa memungkiri bahwa AI dan Big Data telah membuka babak baru dalam dunia transportasi modern. Sistem yang dulu bergantung sepenuhnya pada manusia kini mulai dibantu oleh kecerdasan buatan dan analisis data raksasa. Jika dimanfaatkan dengan bijak, teknologi ini dapat menjadi solusi besar bagi masalah kemacetan dan keselamatan di jalan. Namun, jika tanpa pengawasan yang ketat, AI dan Big Data juga berpotensi menjadi ancaman terhadap privasi dan kebebasan individu.(***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto Ilustrasi AI
Awas Kejutan Santri Darul Hijrah Salam di HSCO’25: Perpaduan Kreativitas, Sportivitas, dan Ukhuwah Islamiyah
Pasuruan – 1miliarsantri.net — Ma’had Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah 2 Salam, Pasuruan, kembali menggelar ajang tahunan bertajuk Hari Santri Competition 2025 (HSCO’25) pada 22–26 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi momentum bagi para santri MA dan MTs untuk menumbuhkan semangat ukhuwah, sportivitas, dan kreativitas melalui berbagai cabang lomba dan pertunjukan seni. Rangkaian HSCO’25 dimulai dengan upacara Hari Santri pada Rabu pagi (22/10). Seluruh santri MA dan MTs berbaris rapi di lapangan utama menyimak tausiyah dari Ustadz Abdillah, Mudir Ma’had Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah 2. Dalam pesannya, beliau mengingatkan pentingnya semangat perjuangan para santri terdahulu dalam menjaga agama dan negeri. “Santri harus menjadi penjaga moral bangsa. Semangat jihad tidak hanya di medan perang, tapi juga di medan ilmu dan pengabdian,” ujarnya dengan suara lantang. Keesokan malamnya, Kamis (23/10), lapangan pondok berubah menjadi panggung besar untuk pembukaan resmi HSCO’25. Acara ini dibuka oleh Ustadz Wafi Ibrahim, selaku penanggung jawab kegiatan. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kejujuran dan adab dalam berkompetisi. “Kemenangan bukan sekadar soal siapa yang tercepat atau terhebat, tetapi siapa yang paling jujur dan tetap menjaga adab. Kompetisi ini kita jadikan sarana untuk melatih jiwa juang dan kebersamaan,” ungkapnya penuh semangat. Usai pembukaan, malam itu disemarakkan oleh penampilan spektakuler dari santri kelas 2 MTs dan 2 MA. Aksi bela diri dari Tapak Suci, IPSI (Pencak Silat), dan Kobujutsu dengan atraksi toya dan golok membuat penonton terpukau. Sorak kagum semakin menggema saat beberapa santri memperagakan lompat harimau melewati gelang api, menciptakan suasana heroik di tengah malam yang hangat. Menariknya, atraksi IPSI yang semula tampil tunggal tiba-tiba berlanjut menjadi seni ganda kolaborasi dengan Tapak Suci, memperlihatkan harmoni dua aliran bela diri dalam satu irama yang memukau. Sebagai penutup malam, santri kelas 2 MA menampilkan drama teater bertema perjuangan santri melawan penjajahan Belanda. Dengan penuh totalitas, mereka menyiapkan dan memainkan kisah heroik para santri yang mengangkat bambu runcing melawan penjajah. Adegan demi adegan menggambarkan semangat jihad dan cinta tanah air, hingga suasana haru menyelimuti lapangan. Kekompakan dan penghayatan mereka membuat penonton kagum — bukti bahwa semangat juang masih hidup di dada para santri Darul Hijrah. Rangkaian lomba berlangsung pada hari Jumat hingga Sabtu (24–25 Oktober 2025), mewarnai suasana pondok dengan semangat juang dan keceriaan. Beragam cabang lomba yang digelar meliputi futsal, voli, panahan, tenis meja, desain grafis, MTQ, MHQ, serta pidato, dengan pembagian kategori peserta dari MA dan MTs agar kompetisi berjalan adil dan berimbang. Baca juga : Semangat Juang 45 Tersulut dalam Lomba Agustusan Santri Darul Hijrah Salam Di balik kemeriahan acara, terdapat kerja keras panitia yang dikoordinasikan oleh OSDHA (Organisasi Santri Darul Hijrah). Mereka berperan aktif dalam merancang konsep acara, mengatur jadwal perlombaan, serta memastikan seluruh perlengkapan dan kebutuhan teknis berjalan dengan baik. Pihak asrama dan sekolah turut memberikan dukungan, baik dari sisi pendanaan maupun pendampingan teknis di lapangan. Puncak Rangkaian Kegiatan HSCO’25 Rangkaian kegiatan HSCO’25 resmi ditutup pada Sabtu malam (26/10) dengan dilaksanakannya pembagian hadiah kepada para pemenang lomba. Dalam suasana penuh haru dan kegembiraan, para pemenang diumumkan dan diberikan penghargaan atas kerja keras serta semangat sportivitas mereka. Lebih dari sekadar ajang perlombaan, HSCO’25 menjadi wadah pembentukan karakter — tempat para santri belajar disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Seperti pesan penutup dari panitia bahwa, “HSCO’25 bukanlah sekadar kompetisi, tapi medan latihan jiwa bagi santri yang kelak akan berjuang untuk agama dan bangsa.” Baca juga : Selamat Hari Santri Nasional 2025 Melalui setiap pertandingan dan kerjasama yang terjalin, para santri menunjukkan bahwa kompetisi bukanlah ajang untuk saling menjatuhkan. Melainkan sarana untuk menguatkan persaudaraan dan menumbuhkan karakter tangguh para santri. HSCO’25 juga sebagai ruang pembuktian jati diri santri sebagai generasi penerus bangsa yang siap berkontribusi dengan nilai-nilai Islam yang menyala di setiap sendi kehidupan. Momentum pelaksanaan HSCO’25 menegaskan bahwa santri masa kini adalah generasi yang cerdas, tangguh dan berdaya saing global. Namun tetap menjunjung tinggi nilai ukhuwah Islamiyah dalam setiap gerak dan langkah perjuangannya. (**) Penulis : Zufar Rauf Budiman Editor : Toto Budiman Foto : Dokumentasi OSDHA
Telkom Luncurkan TELIS 2.0: Inovasi AI yang Ubah Cara Karyawan Mengelola Kebijakan Perusahaan
Telkom Indonesia meluncurkan TELIS 2.0, sistem legal intelligence berbasis AI yang mempercepat pencarian dan analisis dokumen kebijakan perusahaan hingga 24 kali lebih efisien, membantu karyawan bekerja lebih cerdas dan produktif. Jakarta — 1miliarsantri.net: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan teknologi informasi dan komunikasi serta telekomunikasi digital di Indonesia, saat ini memperkenalkan TELIS 2.0 (Telkom Legal Intelligence System versi 2.0). TELIS 2.0 (Telkom Legal Intelligence System versi 2.0), aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mengelola, menganalisis, dan mengakses dokumen peraturan perusahaan secara cepat dan kontekstual. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi digital Telkom menuju penerapan AI berbasis produktivitas dan efisiensi kerja. Langkah Telkom ini melanjutkan kesuksesan TELIS 1.0 sebagai wadah penyimpanan digital peraturan perusahaan, TELIS 2.0 hadir dengan kemampuan baru yang jauh lebih cerdas. Aplikasi ini tidak hanya menyimpan dokumen, tetapi juga mampu menelusuri, meringkas, dan menampilkan informasi penting dari ratusan dokumen dalam hitungan detik. AI yang Mengubah Cara Kerja Unit Legal Telkom Dengan dukungan Cognitive AI, TELIS 2.0 secara signifikan memangkas waktu kerja administratif tim Legal hingga lebih dari tiga jam per hari, atau sekitar 40 menit per karyawan.Efisiensi ini memungkinkan karyawan untuk lebih fokus pada pekerjaan yang bersifat strategis dan bernilai tambah. Bahkan, kemampuan analitik dokumen yang didukung AI memungkinkan proses pemeriksaan dan perbandingan dokumen dilakukan hingga 24 kali lebih cepat dibandingkan metode manual.Peningkatan kecepatan dan akurasi ini bukan hanya soal efisiensi, tapi juga tentang transformasi budaya kerja menuju smart decision-making di lingkungan TelkomGroup. Faizal Rochmad Djoemadi: “TELIS 2.0 Jadi Use Case AI yang Nyata” Direktur IT Digital Telkom, Faizal Rochmad Djoemadi, menjelaskan bahwa peluncuran TELIS 2.0 menjadi tonggak penting penerapan AI di Telkom. “Memilih use case yang tepat adalah kunci sukses setiap organisasi dalam mengadopsi AI. Kami mulai dari unit pemilik data yang matang dan memiliki ambisi transformasi kuat. Dengan TELIS 2.0, kami ingin menghadirkan dampak langsung bagi sebanyak mungkin karyawan,”ujar Faizal. Menurutnya, unit Legal menjadi titik awal ideal karena memiliki volume data besar dan kebutuhan efisiensi tinggi. Keberhasilan implementasi TELIS 2.0 membuktikan bahwa teknologi AI mampu memberikan hasil nyata, bukan sekadar wacana digitalisasi. Pencarian Dokumen Jadi Instan dan Cerdas Salah satu tantangan besar di lingkungan korporasi adalah menemukan dokumen kebijakan terbaru dan relevan.Melalui TELIS 2.0, karyawan cukup mengetikkan kata kunci, dan sistem akan menampilkan ringkasan serta konteks kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Teknologi Cognitive AI yang digunakan bukan dimaksudkan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk mendukung manusia bekerja lebih cepat, akurat, dan efisien.Dengan fitur ini, proses pencarian yang biasanya memakan waktu panjang kini dapat dilakukan hanya dalam beberapa detik. Menuju Ekosistem Digital Berbasis AI Ke depan, kapabilitas TELIS 2.0 akan terus dikembangkan agar dapat membantu unit Legal dalam memperbarui dan menyusun kebijakan baru dengan lebih cepat.AI akan mampu mengidentifikasi peraturan yang perlu diperhatikan atau disesuaikan dalam hitungan detik, mendukung penyusunan kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan. Implementasi TELIS 2.0 menjadi bagian dari komitmen Telkom untuk membangun ekosistem digital yang inklusif, di mana AI berperan aktif dalam meningkatkan efektivitas kerja harian karyawan.Langkah ini menegaskan posisi Telkom sebagai pionir dalam penerapan teknologi berbasis AI di sektor korporasi Indonesia. TELIS 2.0 Inovasi Teknologi dan Budaya Kerja Baru Melalui TELIS 2.0, Telkom tidak hanya memperkenalkan inovasi teknologi, tetapi juga menghadirkan budaya kerja baru yang mengedepankan efisiensi, kecerdasan, dan kolaborasi digital.Inisiatif ini menunjukkan bagaimana AI dapat membawa dampak nyata bagi organisasi, dimulai dari hal sederhana namun memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas dan masa depan dunia kerja.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : Telkom Indonesia Foto tangkapan layar Youtube Telkom
Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, Bekal Berharga untuk Masa Depan Anak
Situbondo – 1miliarsantri.net : Terkadang ada sebagian orang yang memiliki banyak pengetahuan, justru kurang disukai dalam pergaulan. Salah satu alasannya ada pada adab yang dimiliki. Pentingnya adab sebelum ilmu adalah kunci agar pengetahuan yang kita miliki menjadi manfaat, bukan sekadar informasi yang memenuhi isi kepala seseorang . Ilmu tanpa adab ibarat pisau tajam tanpa gagang, bisa melukai diri sendiri dan orang lain. Karena itu, membekali anak dengan adab sejak dini adalah langkah terbaik sebelum mereka menapaki perjalanan menuntut ilmu yang panjang. Adab bukan hanya soal sopan santun kepada orang tua atau guru, tapi juga mencakup cara kita menghargai waktu, mendengar dengan seksama, dan menghormati pendapat orang lain. Adab mencerminkan kesiapan hati dan jiwa dalam menerima ilmu. Apalagi di era digital sekarang ini, ilmu bisa didapatkan dengan cepat. Mengajarkan pentingnya adab sebelum ilmu berarti menanamkan kebiasaan positif yang akan membantu anak menyerap pelajaran dengan hati yang lapang. Bayangkan jika seorang murid yang memiliki rasa hormat kepada gurunya, maka tentunya ia akan lebih mudah menerima nasihat dan bimbingan. Ilmunya pun akan terasa lebih ringan dan akan lebih menyenangkan untuk dipelajari. Para ulama terdahulu, sangat menekankan akhlak harus didahulukan sebelum ilmu masuk ke hati. Seorang murid yang mengamalkan adab kepada guru, menjaga sopan santun di majelis ilmu, serta menunjukkan kesungguhan dalam belajar, akan lebih mudah menerima ilmu yang masuk. Sebaliknya ilmu yang datang kepada orang yang sombong dan tidak beradab, seringkali tidak menetap dan tidak membuahkan hikmah. (sumber : www.almunawiyah.com) Mengajarkan Adab Sejak Dini Melalui Media Digital Di era digital seperti sekarang, anak-anak kita sangat akrab dengan gawai dan internet. Media ini sebenarnya bisa menjadi sarana yang efektif untuk belajar tentang adab, asalkan diarahkannya dengan benar. Banyak video, cerita, atau animasi yang akan mengajarkan nilai moral dan perilaku terpuji yang bisa untuk kita manfaatkan. Misalnya, kita bisa memperkenalkan cerita-cerita tokoh yang inspiratif dan sukses bukan hanya karena kepintarannya, tapi juga karena budi pekerti yang luhur. Anak pun bisa belajar bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari cara mereka bersikap kepada orang lain. Mengintegrasikan adab dalam keseharian anak lewat cerita, permainan edukatif, atau kelas khusus akan membuat nilai-nilai tersebut melekat kuat, bahkan tanpa terasa seperti sedang belajar. Sebuah lembaga pendidikan non formal seperti ISC (International Study Center) juga mengangkat adab dalam topik pembelajaran, khususnya di program “English for Adab”. Tersedia juga pembelajaran online lewat LMS (Learning Management System). Hal ini sangat relevan untuk para orang tua yang menginginkan pendidikan anaknya tercapai dalam bidang bahasa asing dan juga adab secara integral. Beragam program unggulan ISC bisa di akses di https://isc.institute Adab juga tampak dari kesiapan belajar. Datang tepat waktu, mencatat dengan serius, dan tidak melakukan kegiatan lain saat guru berbicara. Hal-hal kecil ini mencerminkan penghormatan terhadap ilmu dan pengajarnya. Singkatnya, pentingnya adab sebelum ilmu tidak hanya berlaku di pesantren, tetapi juga di dunia digital. Ilmu tanpa adab akan sulit berbekas dan membawa manfaat jangka panjang. Baca juga : How to Speak English Politely — The Adab Way Adab Membentuk Karakter dan Memudahkan Ilmu Masuk Jika kita mengibaratkan otak sebagai wadah, maka hati adalah pintunya. Adab adalah kunci untuk membuka pintu tersebut. Anak yang terbiasa bersikap sopan, sabar, dan rendah hati akan lebih mudah untuk menerima ilmu karena ia memiliki kesiapan mental. Pentingnya adab sebelum ilmu juga akan terlihat dari bagaimana anak tersebut berinteraksi dalam proses belajar. Mereka akan lebih sabar menunggu giliran, tidak memotong pembicaraan orang lain, dan mau mendengarkan penjelasan hingga selesai. Sikap seperti ini membuat proses belajar di kelas atau kelompok menjadi lebih kondusif dan menyenangkan. Kelas-kelas yang memasukkan materi adab dalam kurikulumnya akan terbukti mampu mencetak siswa yang bukan hanya pintar saja, tapi juga disegani karena sikapnya yang santun. Itulah mengapa mengajarkan adab sejak dini adalah investasi yang nilainya jauh melebihi materi. Baca juga : Adab First: Cultivating Character Through Language Menghubungkan Adab dengan Kecintaan Belajar Anak yang memiliki adab baik biasanya akan memiliki motivasi belajar yang lebih sehat tentunya. Mereka belajar bukan untuk pamer nilai, tapi karena rasa ingin tahu dan keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Inilah tujuan sejati pendidikan. Program pembelajaran yang mengajarkan adab, seperti yang ditawarkan dalam program integral di ISC, bisa menjadi jalan bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai Islami secara konsisten. Dengan pengajaran yang tepat, anak tidak hanya memahami teori adab, tapi juga mempraktikkannya dalam keseharian. Pada akhirnya, ilmu akan terus berkembang, tapi adab adalah bekal seumur hidup. Anak yang memiliki sikap baik akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan zaman, bergaul dengan siapa saja, dan mendapatkan kepercayaan orang di sekitarnya. Itulah mengapa kita perlu menanamkan pentingnya adab sebelum ilmu sejak mereka kecil. Sebagai orang tua atau pendidik, mari kita tidak hanya mengejar angka di rapor, tapi juga memastikan bahwa anak kita tumbuh dengan karakter yang kuat. Karena ilmu tanpa adab hanyalah kumpulan kata, tapi adab akan membuat ilmu itu hidup dan membawa manfaat bagi banyak orang.(***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi AI dan properti ISC
Awas Dampak Kejahatan Cyber Meluas, PT Telkom dan BMM Gencarkan Literasi Digital di Kalangan Pelajar
Surabaya – 1miliarsantri.net : Kejahatan Cyber terus meluas dengan menimbulkan korban yang terus bertambah. Bukan hanya di kalangan masyarakat awam, hingga instansi pemerintahpun tak luput dari kejahatan cyber. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung dunia pendidikan melalui program “CYBERHEROES: Literasi Sehat Berinternet.” Program ini dilaksanakan di berbagai kota dan difokuskan pada upaya pencegahan kejahatan cyber sekaligus peningkatan literasi digital di kalangan pelajar. Melalui program ini, PT Telkom dan BMM menyasar 30 sekolah dengan total peserta sebanyak 1.800 siswa yang tersebar di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk mengembangkan etika dan tanggung jawab dalam menggunakan internet serta menghadirkan duta cyberheroes di setiap sekolah yang berasal dari para siswa dan tidak menutup kemungkinan juga dari guru-guru potensial. Sebagai sarana yang penuh peluang sekaligus tantangan, literasi digital menjadi bekal penting agar generasi muda dapat menggunakan internet dengan bijak, aman, dan produktif. Pencegahan kejahatan cyber menjadi fokus utama dari PT Telkom dan BMM agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, sehat secara mental, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Baca juga : Kebijakan Perusahaan dan Pelaporan Insiden Pentingnya Cyber Security di Era Digital Joni Setiyawan Saputra, S.Pd selaku narasumber dalam pelatihan ini menekankan pentingnya cyber security di zaman digitalisasi. Terlebih, target dari ancaman cyber adalah mereka yang memiliki data digital, utamanya dalam platform keuangan, platform pencari kerja, hingga media sosial. “Ancaman cyber yang paling sering terjadi adalah email, SMS, telepon dan link yang tujuannya adalah untuk mencuri informasi sensitif berupa username, password dan OTP. Jika menerima pesan mencurigakan seperti ini segera abaikan meskipun mereka mengaku sebagai perwakilan dari pihak yang terpercaya,” lanjut Joni. Kegiatan literasi digital ini harapannya dapat menjangkau ratusan ribu siswa agar mereka memahami cara melindungi data pribadi dan diri mereka dari ancaman cybercrime seperti pencurian identitas atau penipuan online. Baca juga : Literasi Sehat Berinternet dipilih sebagai Tema Pelatihan Cyberheroes 2025 PT Telkom dan BMM Selain edukasi, program ini juga melibatkan pembuatan konten positif yang akan dipublikasikan melalui media sosial sekolah dan komunitas. Dengan semangat kolaborasi, PT Telkom dan BMM optimis bahwa generasi digital Indonesia dapat tumbuh cerdas, bijak dan terlindungi dari bahaya kejahatan di dunia digital. Kampanye literasi digital berbasis Media Sosial seperti praktek produksi konten edukasi menarik dan melakukan kolaborasi dengan influencer positif, juga bisa ditempuh untuk menyebarkan pesan tentang bahaya kejahatan siber dan cara pencegahannya. Selain menerapkan tagar edukatif seperti gerakan #AmanOnline atau #GenZCerdasDigital agar pesan pencegahan lebih viral dan berkelanjutan. Edukasi literasi digital terpadu di sekolah dan komunitas akan terus dijalankan dengan melibatkan berbagai stakeholders pendidikan. Diantara strategi upaya preventif yang bisa dijalankan dengan mengintegrasikan kurikulum dan materi cyber safety, etika digital dan perlindungan data pribadi ke materi pelajaran TIK atau PKN. Kolaborasi multisektor dengan membangun kemitraan antara pemerintah, swasta dan lembaga Pendidikan menjadi kunci kesuksesan Gerakan nasional literasi digital secara berkelanjutan. Dengan mendorong peran platform digital untuk memperkuat fitur keamanan, verifikasi akun, dan pelaporan konten berbahaya. (***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Istimewa dan Ilustrasi AI
Gadget Sebagai Sarana Ibadah dan Belajar Agama, Revolusi Teknologi Kekinian
Situbondo – 1miliarsantri.net : Cara belajar agama lewat teknologi sekarang jauh lebih mudah dibanding zaman dulu. Kita tidak harus datang ke majelis taklim atau menunggu guru agama datang ke masjid, karena cukup dengan genggaman tangan, kita sudah bisa mengakses ilmu yang luas. Terobosan revolusi teknologi kekinian di bidang keagamaan. Bayangkan, di sela menunggu kendaraan, ketika lagi istirahat, atau sebelum tidur, kita bisa mendengarkan kajian, membaca tafsir Al-Qur’an, atau belajar fiqih dengan cara yang mudah dan praktis. Jadi, teknologi yang sering dianggap membuat lalai, sebenarnya bisa kita ubah menjadi teman dalam perjalanan spritual keimanan kita di era modern. Bagaimana Menjadikan Gadget Sebagai Sarana Ibadah Dan Belajar Islam? 1. Memanfaatkan Aplikasi Islami di Smartphone Kalau dulu kita harus membawa banyak buku untuk belajar agama, sekarang cukup dengan satu aplikasi, kita sudah bisa mengakses ribuan materi. Seperti aplikasi yang berisi Al-Qur’an digital lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya, pengingat sholat, kumpulan doa, bahkan kajian dari ustadz terpercaya. Cara belajar agama lewat teknologi jadi terasa ringan karena semua bisa diatur sesuai kebutuhan. Yang terpenting, kita bisa memilih aplikasi yang kredibel, isinya benar-benar berdasarkan sumber yang sahih, agar ilmu yang kita dapat tidak keliru. Penggunaan aplikasi ini cocok bagi yang punya waktu terbatas. Tidak perlu menunggu waktu khusus, cukup sisipkan beberapa menit setiap hari untuk mengisi hati dan pikiran dengan ilmu agama. 2. Menonton Kajian dan Ceramah Lewat Platform Video Sekarang sudah banyak ustadz dan dai yang membagikan ilmu lewat platform video seperti YouTube. Dari yang berdurasi singkat sampai yang panjang, semua ada. Cara belajar agama lewat teknologi seperti ini memudahkan kita memilih topik sesuai yang sedang dibutuhkan. Mau belajar tentang adab, tauhid, atau akhlak? Cukup ketik kata kunci, ratusan pilihan konten akan muncul. Namun, kita juga perlu hati-hati memilih sumber. Pastikan guru yang diikuti mempunyai reputasi baik dan ilmunya diakui. Teknologi memang memberi kemudahan, tapi tetap perlu disaring supaya yang masuk ke hati kita adalah kebenaran, bukan sekadar opini pribadi. Baca juga : Belajar Agama Lewat Ai dan Mengganti Peran Guru dengan Teknologi Canggih? 3. Mengikuti Kelas Online dan Grup Belajar Islam Cara belajar agama lewat teknologi yang tak kalah seru adalah ikut kelas online. Banyak lembaga dan komunitas mengadakan kelas agama lewat Zoom, Google Meet, atau grup WhatsApp dan Telegram. Di sana, kita bisa belajar bersama, bertanya langsung kepada ustadz, bahkan berdiskusi dengan teman-teman yang punya semangat yang sama. Bergabung dengan grup belajar online juga membantu kita tetap istiqamah, karena ada pengingat dan motivasi dari anggota lain. Kadang, kita termotivasi bukan hanya dari materinya, tapi juga dari semangat orang-orang di dalamnya. Baca juga : Gus Baha : Belajar agama itu tidak perlu kaku 4. Mengubah Kebiasaan Online Menjadi Ladang Pahala Salah satu kunci utama cara belajar agama lewat teknologi adalah mengubah mindset kita. Kalau biasanya buka media sosial hanya untuk hiburan, kenapa tidak mulai follow akun-akun yang membagikan konten Islami? Setiap kali kita membuka timeline, yang muncul bukan hanya gosip atau berita yang bikin gelisah, tapi juga nasihat dan ilmu yang menyejukkan hati. Misalnya, follow akun yang rutin membagikan potongan hadis, kutipan tafsir, atau tips ibadah. Di TikTok pun sekarang banyak dai muda yang kreatif menyampaikan pesan agama mudah dipahami. Dengan begitu, waktu di dunia digital tidak terbuang sia-sia. Teknologi itu ibarat pisau, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Jika dipakai untuk hal buruk, maka dampaknya juga buruk. Tapi jika dimanfaatkan untuk kebaikan, maka hasilnya luar biasa. Cara belajar agama lewat teknologi merupakan contoh nyata bahwa kemajuan zaman bukan alasan untuk jauh dari Allah. Gadget yang dulunya sering membuat lalai sekarang sudah bisa menjadi sarana mendekatkan diri pada-Nya. Cukup bagaimana kita mengatur niat dan membiasakan diri. Mulailah dari hal kecil, seperti unduh aplikasi islami, dengar kajian singkat, ikut kelas online, atau sekadar mengganti tontonan kita menjadi yang bermanfaat. Perlahan, hati akan lebih tenang, dan ilmu agama pun bertambah. Jadi, jangan pernah ragu untuk menjadikan teknologi sebagai teman perjalanan iman. Karena di era digital ini, setiap detik yang kita gunakan dengan benar bisa menjadi ladang pahala. Itulah indahnya belajar agama lewat teknologi, mudah, praktis, dan insyaAllah membawa berkah. Semoga bermanfaat!(**) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi AI
Renungan Peristiwa G30S/PKI di Ma’had Darul Hijrah Salam: Santri Kokoh, Banteng Penjaga Islam dari Bahaya Laten Komunis
Pasuruan – 1miliarsantri.net : Suasana malam di Pondok Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah terasa berbeda pada Sabtu (26/09). Ratusan santri berkumpul di lapangan utama pondok untuk mengikuti rangkaian peringatan tragedi kelam G30S/PKI, sebuah momentum yang selalu diperingati bangsa Indonesia sebagai pengingat akan bahaya laten kaum komunis. Malam hari itu ba’da Isya’ lapangan utama pondok penuh dengan seluruh santri Darul Hijrah Salam, mulai dari santri MA maupun MTS. Mereka sudah berbaris rapi dengan seragam kepanduan mereka masing-masing, warna biru untuk MA dan oranye untuk MTs. OSDHA dan mudabbir seakan-akan menjadi tokoh utama pada malam hari itu. Mereka menyiapkan semua kebutuhan acara dari awal sampai akhir, bahkan sampai hal-hal kecil sekalipun, walaupun acara yang diadakan begitu sederhana tapi sudah cukup untuk menyentuh hati para santri. Ditambah lagi dengan adanya tausiyah yang disampaikan oleh akhinaa Maharsi Martina Nurcahyo Sudaryo selaku musyrif pengabdian di tahun ini. Seolah mengingatkan kembali kejadian terkutuk di tahun 1965 yang merengut nyawa putra-putra terbaik bangsa Indonesia oleh pemberontak G30S/PKI. Gerakan itu bukan hanya ancaman terhadap stabilitas negara, tetapi juga terhadap agama. Terutama Islam yang sejak awal ditolak oleh ideologis komunis yang cenderung anti-Tuhan. Penyampaian Tausiah yang Berlangsung Khidmat Tausiyah yang disampaikan begitu tegas yang dapat membakar semangat muda para santri. Mulai dari sejarah bagaimana pengkhianat bangsa itu bisa hadir di tanah air, sampai pernyataan bahwa mereka tidak akan pernah bisa berdampingan bersama bangsa Indonesia. Karena kepercayaan mereka yang tak bertuhan, tidak akan pernah selaras dengan sila pertama yakni: Ketuhanan Yang Maha Esa, apalagi selaras dengan agama Islam. “Komunis bukan hanya sebuah ideologi, tetapi ancaman yang berusaha menghapus nilai agama dan budaya bangsa. Santri harus menjadi benteng agar sejarah kelam itu tidak terulang,” tegas beliau. Baca juga : Semangat Juang 45 Tersulut dalam Lomba Agustusan Santri Darul Hijrah Salam Pada masa itu, banyak pesantren dan santri ikut berdiri di garda depan untuk mempertahankan keutuhan bangsa, sekaligus menjaga akidah umat agar tidak terpengaruh paham yang menyesatkan. Kaum komunis sangat membenci umat beragama, terutama umat muslim karena para santri dan umat muslim secara keseluruhan merupakan kontributor terbesar saat masa Pra-Kemerdekaan. Bagaimana bisa mereka mengambil alih bangsa ini sedangkan benteng terkuatnya belum bisa dirobohkan? Maka dari itu mereka sering sekali bergesekan, bahkan tak jarang membantai umat muslim terutama di pondok-pondok pesantren. “…. Justru itu kita para santri adalah benteng terakhir umat Islam kita seharusnya bisa berkostribusi pada negeri, kita tidak boleh kalah dengan orang-orang di luaran sana. Kita harus mengembalikan keperkasaan santri, mengembalikan kejayaan Islam serta membuktikan Islam adalah rahmatan lil-‘alamin,” demikian orasi yang disampaikan akhinaa Arsyi menutup tausiyah. Acara Inti Pemutaran Film Dokumenter G30S/PKI Setelah dibakar semangatnya, kini para santri menonton film dokumenter G30S/PKI. Bersama-sama mereka menyaksikan betapa kejamnya kaum komunis kepada bangsa mereka sendiri. Walaupun film dokumenter G30S/PKI selalu diputar setiap tahunnya, tetap saja memberikan atmosfer yang sama, yakni atmosfer mencekam dan tragis. Terlebih saat di-scene aksi penculikan dan pembunuhan 7 (tujuh) Jenderal AD, hingga akhirnya ditemukan jenazahnya di dalam sumur maut lubang buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Tatkala berakhir film tersebut, para santri diarahkan untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat tahajjud dan kemudian dilanjutkan berdoa bersama untuk keselamatan bangsa. Mereka tak melupakan dengan rutinitas itu, mau sesibuk apapun kegiatan yang diberikan, dan memang sudah seharusnya untuk selalu mengingat Allah, kapanpun dan dimanapun mereka berada. Baca juga : Kemeriahan Rangkaian Kegiatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 di Ma’had Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah Salam Acara ini bukan sekadar mengenang kekejaman PKI, tetapi juga menghormati darah para syuhada, ulama, santri, dan rakyat yang gugur dalam mempertahankan iman dan tanah air. Setiap tetes darah mereka adalah saksi bahwa Indonesia berdiri di atas pengorbanan besar umat. Tragedi G30S/PKI mengingatkan kita betapa rapuhnya bangsa jika aqidah dan persatuan dilemahkan oleh ideologi sesat. Peringatan ini menjadi pengingat bagi generasi sekarang, khususnya para santri, bahwa tugas mereka tidak berhenti pada menuntut ilmu, tetapi juga menjaga aqidah, persatuan, dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pesan utamanya adalah sejarah harus selalu diingat, agar pengkhianatan serupa tidak pernah terulang, dan agar semangat perjuangan terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.(**) Kontributor Santri : Istiqfaril Akbar Hidayatullah Editor : Iffah Faridatul Hasanah dan Toto Budiman Foto : Dokumentasi Tim Media OSDHA

