Kategori: EduTekno
Ketika AI Dan Big Data Mulai Atur Lalu Lintas, Solusi ataukah Ancaman Baru?
Bondowoso – 1miliarsantri.net : Di era digital yang serba cepat ini, kita mulai menyaksikan bagaimana AI dan Big Data menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dalam dunia bisnis atau hiburan, tapi juga dalam bidang yang lebih krusial seperti pengaturan trafik lalu lintas. Bayangkan, jalanan kota yang padat kini bisa diatur oleh sistem cerdas yang mampu menganalisis jutaan data hanya dalam hitungan detik. Teknologi AI dan Big Data hadir membawa harapan baru untuk mengurai kemacetan dan meningkatkan keselamatan di jalan raya. Namun, di balik kemajuan itu, terselip pula pertanyaan besar, apakah ini benar-benar solusi, atau justru ancaman baru bagi privasi dan kendali manusia? AI dan Big Data dalam Sistem Lalu Lintas Modern Sebelum kita menilai dampaknya, penting untuk memahami bagaimana AI dan Big Data bekerja dalam sistem transportasi. Keduanya saling melengkapi. Big Data mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, seperti kamera CCTV, GPS kendaraan, sensor jalan, hingga aplikasi navigasi. Lalu AI memproses data tersebut untuk mengambil keputusan secara otomatis. Misalnya, sistem bisa menyesuaikan durasi lampu merah dan hijau berdasarkan kepadatan kendaraan, memprediksi titik rawan kemacetan, hingga memberikan rute alternatif bagi pengendara. Teknologi ini bukan lagi sekadar teori. Banyak kota besar di dunia, termasuk di Asia, sudah mulai menerapkannya. Hasilnya cukup menjanjikan, waktu tempuh menurun, angka kecelakaan berkurang, dan efisiensi bahan bakar meningkat. Baca juga : Apakah AI untuk UMKM Syariah Sudah Sesuai dengan Prinsip Agama? Ternyata Begini Penjelasan Faktanya! Namun, di balik semua manfaat tersebut, ada sisi lain yang perlu kita cermati dengan hati-hati. Setiap inovasi besar pasti memiliki konsekuensi. Dalam hal ini, AI dan Big Data menimbulkan kekhawatiran baru terkait privasi dan keamanan data. Untuk bisa bekerja efektif, sistem membutuhkan akses ke informasi pribadi pengguna mulai dari lokasi real-time, kebiasaan berkendara, hingga rute harian. Jika data sebesar itu jatuh ke tangan yang salah, bukan tidak mungkin bisa disalahgunakan untuk kepentingan lain.
Awas Kejutan Santri Darul Hijrah Salam di HSCO’25: Perpaduan Kreativitas, Sportivitas, dan Ukhuwah Islamiyah
Pasuruan – 1miliarsantri.net — Ma’had Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah 2 Salam, Pasuruan, kembali menggelar ajang tahunan bertajuk Hari Santri Competition 2025 (HSCO’25) pada 22–26 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi momentum bagi para santri MA dan MTs untuk menumbuhkan semangat ukhuwah, sportivitas, dan kreativitas melalui berbagai cabang lomba dan pertunjukan seni. Rangkaian HSCO’25 dimulai dengan upacara Hari Santri pada Rabu pagi (22/10). Seluruh santri MA dan MTs berbaris rapi di lapangan utama menyimak tausiyah dari Ustadz Abdillah, Mudir Ma’had Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah 2. Dalam pesannya, beliau mengingatkan pentingnya semangat perjuangan para santri terdahulu dalam menjaga agama dan negeri. “Santri harus menjadi penjaga moral bangsa. Semangat jihad tidak hanya di medan perang, tapi juga di medan ilmu dan pengabdian,” ujarnya dengan suara lantang. Keesokan malamnya, Kamis (23/10), lapangan pondok berubah menjadi panggung besar untuk pembukaan resmi HSCO’25. Acara ini dibuka oleh Ustadz Wafi Ibrahim, selaku penanggung jawab kegiatan. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kejujuran dan adab dalam berkompetisi. “Kemenangan bukan sekadar soal siapa yang tercepat atau terhebat, tetapi siapa yang paling jujur dan tetap menjaga adab. Kompetisi ini kita jadikan sarana untuk melatih jiwa juang dan kebersamaan,” ungkapnya penuh semangat. Usai pembukaan, malam itu disemarakkan oleh penampilan spektakuler dari santri kelas 2 MTs dan 2 MA. Aksi bela diri dari Tapak Suci, IPSI (Pencak Silat), dan Kobujutsu dengan atraksi toya dan golok membuat penonton terpukau. Sorak kagum semakin menggema saat beberapa santri memperagakan lompat harimau melewati gelang api, menciptakan suasana heroik di tengah malam yang hangat. Menariknya, atraksi IPSI yang semula tampil tunggal tiba-tiba berlanjut menjadi seni ganda kolaborasi dengan Tapak Suci, memperlihatkan harmoni dua aliran bela diri dalam satu irama yang memukau. Sebagai penutup malam, santri kelas 2 MA menampilkan drama teater bertema perjuangan santri melawan penjajahan Belanda. Dengan penuh totalitas, mereka menyiapkan dan memainkan kisah heroik para santri yang mengangkat bambu runcing melawan penjajah. Adegan demi adegan menggambarkan semangat jihad dan cinta tanah air, hingga suasana haru menyelimuti lapangan. Kekompakan dan penghayatan mereka membuat penonton kagum — bukti bahwa semangat juang masih hidup di dada para santri Darul Hijrah. Rangkaian lomba berlangsung pada hari Jumat hingga Sabtu (24–25 Oktober 2025), mewarnai suasana pondok dengan semangat juang dan keceriaan. Beragam cabang lomba yang digelar meliputi futsal, voli, panahan, tenis meja, desain grafis, MTQ, MHQ, serta pidato, dengan pembagian kategori peserta dari MA dan MTs agar kompetisi berjalan adil dan berimbang. Baca juga : Semangat Juang 45 Tersulut dalam Lomba Agustusan Santri Darul Hijrah Salam Di balik kemeriahan acara, terdapat kerja keras panitia yang dikoordinasikan oleh OSDHA (Organisasi Santri Darul Hijrah). Mereka berperan aktif dalam merancang konsep acara, mengatur jadwal perlombaan, serta memastikan seluruh perlengkapan dan kebutuhan teknis berjalan dengan baik. Pihak asrama dan sekolah turut memberikan dukungan, baik dari sisi pendanaan maupun pendampingan teknis di lapangan.
Telkom Luncurkan TELIS 2.0: Inovasi AI yang Ubah Cara Karyawan Mengelola Kebijakan Perusahaan
Telkom Indonesia meluncurkan TELIS 2.0, sistem legal intelligence berbasis AI yang mempercepat pencarian dan analisis dokumen kebijakan perusahaan hingga 24 kali lebih efisien, membantu karyawan bekerja lebih cerdas dan produktif. Jakarta — 1miliarsantri.net: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan teknologi informasi dan komunikasi serta telekomunikasi digital di Indonesia, saat ini memperkenalkan TELIS 2.0 (Telkom Legal Intelligence System versi 2.0). TELIS 2.0 (Telkom Legal Intelligence System versi 2.0), aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mengelola, menganalisis, dan mengakses dokumen peraturan perusahaan secara cepat dan kontekstual. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi digital Telkom menuju penerapan AI berbasis produktivitas dan efisiensi kerja. Langkah Telkom ini melanjutkan kesuksesan TELIS 1.0 sebagai wadah penyimpanan digital peraturan perusahaan, TELIS 2.0 hadir dengan kemampuan baru yang jauh lebih cerdas. Aplikasi ini tidak hanya menyimpan dokumen, tetapi juga mampu menelusuri, meringkas, dan menampilkan informasi penting dari ratusan dokumen dalam hitungan detik. AI yang Mengubah Cara Kerja Unit Legal Telkom Dengan dukungan Cognitive AI, TELIS 2.0 secara signifikan memangkas waktu kerja administratif tim Legal hingga lebih dari tiga jam per hari, atau sekitar 40 menit per karyawan.Efisiensi ini memungkinkan karyawan untuk lebih fokus pada pekerjaan yang bersifat strategis dan bernilai tambah. Bahkan, kemampuan analitik dokumen yang didukung AI memungkinkan proses pemeriksaan dan perbandingan dokumen dilakukan hingga 24 kali lebih cepat dibandingkan metode manual.Peningkatan kecepatan dan akurasi ini bukan hanya soal efisiensi, tapi juga tentang transformasi budaya kerja menuju smart decision-making di lingkungan TelkomGroup. Faizal Rochmad Djoemadi: “TELIS 2.0 Jadi Use Case AI yang Nyata” Direktur IT Digital Telkom, Faizal Rochmad Djoemadi, menjelaskan bahwa peluncuran TELIS 2.0 menjadi tonggak penting penerapan AI di Telkom. “Memilih use case yang tepat adalah kunci sukses setiap organisasi dalam mengadopsi AI. Kami mulai dari unit pemilik data yang matang dan memiliki ambisi transformasi kuat. Dengan TELIS 2.0, kami ingin menghadirkan dampak langsung bagi sebanyak mungkin karyawan,”ujar Faizal. Menurutnya, unit Legal menjadi titik awal ideal karena memiliki volume data besar dan kebutuhan efisiensi tinggi. Keberhasilan implementasi TELIS 2.0 membuktikan bahwa teknologi AI mampu memberikan hasil nyata, bukan sekadar wacana digitalisasi.
Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, Bekal Berharga untuk Masa Depan Anak
Situbondo – 1miliarsantri.net : Terkadang ada sebagian orang yang memiliki banyak pengetahuan, justru kurang disukai dalam pergaulan. Salah satu alasannya ada pada adab yang dimiliki. Pentingnya adab sebelum ilmu adalah kunci agar pengetahuan yang kita miliki menjadi manfaat, bukan sekadar informasi yang memenuhi isi kepala seseorang . Ilmu tanpa adab ibarat pisau tajam tanpa gagang, bisa melukai diri sendiri dan orang lain. Karena itu, membekali anak dengan adab sejak dini adalah langkah terbaik sebelum mereka menapaki perjalanan menuntut ilmu yang panjang. Adab bukan hanya soal sopan santun kepada orang tua atau guru, tapi juga mencakup cara kita menghargai waktu, mendengar dengan seksama, dan menghormati pendapat orang lain. Adab mencerminkan kesiapan hati dan jiwa dalam menerima ilmu. Apalagi di era digital sekarang ini, ilmu bisa didapatkan dengan cepat. Mengajarkan pentingnya adab sebelum ilmu berarti menanamkan kebiasaan positif yang akan membantu anak menyerap pelajaran dengan hati yang lapang. Bayangkan jika seorang murid yang memiliki rasa hormat kepada gurunya, maka tentunya ia akan lebih mudah menerima nasihat dan bimbingan. Ilmunya pun akan terasa lebih ringan dan akan lebih menyenangkan untuk dipelajari. Para ulama terdahulu, sangat menekankan akhlak harus didahulukan sebelum ilmu masuk ke hati. Seorang murid yang mengamalkan adab kepada guru, menjaga sopan santun di majelis ilmu, serta menunjukkan kesungguhan dalam belajar, akan lebih mudah menerima ilmu yang masuk. Sebaliknya ilmu yang datang kepada orang yang sombong dan tidak beradab, seringkali tidak menetap dan tidak membuahkan hikmah. (sumber : www.almunawiyah.com) Mengajarkan Adab Sejak Dini Melalui Media Digital Di era digital seperti sekarang, anak-anak kita sangat akrab dengan gawai dan internet. Media ini sebenarnya bisa menjadi sarana yang efektif untuk belajar tentang adab, asalkan diarahkannya dengan benar. Banyak video, cerita, atau animasi yang akan mengajarkan nilai moral dan perilaku terpuji yang bisa untuk kita manfaatkan. Misalnya, kita bisa memperkenalkan cerita-cerita tokoh yang inspiratif dan sukses bukan hanya karena kepintarannya, tapi juga karena budi pekerti yang luhur. Anak pun bisa belajar bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari cara mereka bersikap kepada orang lain. Mengintegrasikan adab dalam keseharian anak lewat cerita, permainan edukatif, atau kelas khusus akan membuat nilai-nilai tersebut melekat kuat, bahkan tanpa terasa seperti sedang belajar. Sebuah lembaga pendidikan non formal seperti ISC (International Study Center) juga mengangkat adab dalam topik pembelajaran, khususnya di program “English for Adab”. Tersedia juga pembelajaran online lewat LMS (Learning Management System). Hal ini sangat relevan untuk para orang tua yang menginginkan pendidikan anaknya tercapai dalam bidang bahasa asing dan juga adab secara integral. Beragam program unggulan ISC bisa di akses di https://isc.institute Adab juga tampak dari kesiapan belajar. Datang tepat waktu, mencatat dengan serius, dan tidak melakukan kegiatan lain saat guru berbicara. Hal-hal kecil ini mencerminkan penghormatan terhadap ilmu dan pengajarnya. Singkatnya, pentingnya adab sebelum ilmu tidak hanya berlaku di pesantren, tetapi juga di dunia digital. Ilmu tanpa adab akan sulit berbekas dan membawa manfaat jangka panjang. Baca juga : How to Speak English Politely — The Adab Way
Awas Dampak Kejahatan Cyber Meluas, PT Telkom dan BMM Gencarkan Literasi Digital di Kalangan Pelajar
Surabaya – 1miliarsantri.net : Kejahatan Cyber terus meluas dengan menimbulkan korban yang terus bertambah. Bukan hanya di kalangan masyarakat awam, hingga instansi pemerintahpun tak luput dari kejahatan cyber. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung dunia pendidikan melalui program “CYBERHEROES: Literasi Sehat Berinternet.” Program ini dilaksanakan di berbagai kota dan difokuskan pada upaya pencegahan kejahatan cyber sekaligus peningkatan literasi digital di kalangan pelajar. Melalui program ini, PT Telkom dan BMM menyasar 30 sekolah dengan total peserta sebanyak 1.800 siswa yang tersebar di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk mengembangkan etika dan tanggung jawab dalam menggunakan internet serta menghadirkan duta cyberheroes di setiap sekolah yang berasal dari para siswa dan tidak menutup kemungkinan juga dari guru-guru potensial. Sebagai sarana yang penuh peluang sekaligus tantangan, literasi digital menjadi bekal penting agar generasi muda dapat menggunakan internet dengan bijak, aman, dan produktif. Pencegahan kejahatan cyber menjadi fokus utama dari PT Telkom dan BMM agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, sehat secara mental, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Baca juga : Kebijakan Perusahaan dan Pelaporan Insiden Pentingnya Cyber Security di Era Digital Joni Setiyawan Saputra, S.Pd selaku narasumber dalam pelatihan ini menekankan pentingnya cyber security di zaman digitalisasi. Terlebih, target dari ancaman cyber adalah mereka yang memiliki data digital, utamanya dalam platform keuangan, platform pencari kerja, hingga media sosial. “Ancaman cyber yang paling sering terjadi adalah email, SMS, telepon dan link yang tujuannya adalah untuk mencuri informasi sensitif berupa username, password dan OTP. Jika menerima pesan mencurigakan seperti ini segera abaikan meskipun mereka mengaku sebagai perwakilan dari pihak yang terpercaya,” lanjut Joni. Kegiatan literasi digital ini harapannya dapat menjangkau ratusan ribu siswa agar mereka memahami cara melindungi data pribadi dan diri mereka dari ancaman cybercrime seperti pencurian identitas atau penipuan online.
Gadget Sebagai Sarana Ibadah dan Belajar Agama, Revolusi Teknologi Kekinian
Situbondo – 1miliarsantri.net : Cara belajar agama lewat teknologi sekarang jauh lebih mudah dibanding zaman dulu. Kita tidak harus datang ke majelis taklim atau menunggu guru agama datang ke masjid, karena cukup dengan genggaman tangan, kita sudah bisa mengakses ilmu yang luas. Terobosan revolusi teknologi kekinian di bidang keagamaan. Bayangkan, di sela menunggu kendaraan, ketika lagi istirahat, atau sebelum tidur, kita bisa mendengarkan kajian, membaca tafsir Al-Qur’an, atau belajar fiqih dengan cara yang mudah dan praktis. Jadi, teknologi yang sering dianggap membuat lalai, sebenarnya bisa kita ubah menjadi teman dalam perjalanan spritual keimanan kita di era modern. Bagaimana Menjadikan Gadget Sebagai Sarana Ibadah Dan Belajar Islam? 1. Memanfaatkan Aplikasi Islami di Smartphone Kalau dulu kita harus membawa banyak buku untuk belajar agama, sekarang cukup dengan satu aplikasi, kita sudah bisa mengakses ribuan materi. Seperti aplikasi yang berisi Al-Qur’an digital lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya, pengingat sholat, kumpulan doa, bahkan kajian dari ustadz terpercaya. Cara belajar agama lewat teknologi jadi terasa ringan karena semua bisa diatur sesuai kebutuhan. Yang terpenting, kita bisa memilih aplikasi yang kredibel, isinya benar-benar berdasarkan sumber yang sahih, agar ilmu yang kita dapat tidak keliru. Penggunaan aplikasi ini cocok bagi yang punya waktu terbatas. Tidak perlu menunggu waktu khusus, cukup sisipkan beberapa menit setiap hari untuk mengisi hati dan pikiran dengan ilmu agama. 2. Menonton Kajian dan Ceramah Lewat Platform Video Sekarang sudah banyak ustadz dan dai yang membagikan ilmu lewat platform video seperti YouTube. Dari yang berdurasi singkat sampai yang panjang, semua ada. Cara belajar agama lewat teknologi seperti ini memudahkan kita memilih topik sesuai yang sedang dibutuhkan. Mau belajar tentang adab, tauhid, atau akhlak? Cukup ketik kata kunci, ratusan pilihan konten akan muncul. Namun, kita juga perlu hati-hati memilih sumber. Pastikan guru yang diikuti mempunyai reputasi baik dan ilmunya diakui. Teknologi memang memberi kemudahan, tapi tetap perlu disaring supaya yang masuk ke hati kita adalah kebenaran, bukan sekadar opini pribadi. Baca juga : Belajar Agama Lewat Ai dan Mengganti Peran Guru dengan Teknologi Canggih? 3. Mengikuti Kelas Online dan Grup Belajar Islam Cara belajar agama lewat teknologi yang tak kalah seru adalah ikut kelas online. Banyak lembaga dan komunitas mengadakan kelas agama lewat Zoom, Google Meet, atau grup WhatsApp dan Telegram. Di sana, kita bisa belajar bersama, bertanya langsung kepada ustadz, bahkan berdiskusi dengan teman-teman yang punya semangat yang sama.
Renungan Peristiwa G30S/PKI di Ma’had Darul Hijrah Salam: Santri Kokoh, Banteng Penjaga Islam dari Bahaya Laten Komunis
Pasuruan – 1miliarsantri.net : Suasana malam di Pondok Tahfidzul Qur’an Darul Hijrah terasa berbeda pada Sabtu (26/09). Ratusan santri berkumpul di lapangan utama pondok untuk mengikuti rangkaian peringatan tragedi kelam G30S/PKI, sebuah momentum yang selalu diperingati bangsa Indonesia sebagai pengingat akan bahaya laten kaum komunis. Malam hari itu ba’da Isya’ lapangan utama pondok penuh dengan seluruh santri Darul Hijrah Salam, mulai dari santri MA maupun MTS. Mereka sudah berbaris rapi dengan seragam kepanduan mereka masing-masing, warna biru untuk MA dan oranye untuk MTs. OSDHA dan mudabbir seakan-akan menjadi tokoh utama pada malam hari itu. Mereka menyiapkan semua kebutuhan acara dari awal sampai akhir, bahkan sampai hal-hal kecil sekalipun, walaupun acara yang diadakan begitu sederhana tapi sudah cukup untuk menyentuh hati para santri. Ditambah lagi dengan adanya tausiyah yang disampaikan oleh akhinaa Maharsi Martina Nurcahyo Sudaryo selaku musyrif pengabdian di tahun ini. Seolah mengingatkan kembali kejadian terkutuk di tahun 1965 yang merengut nyawa putra-putra terbaik bangsa Indonesia oleh pemberontak G30S/PKI. Gerakan itu bukan hanya ancaman terhadap stabilitas negara, tetapi juga terhadap agama. Terutama Islam yang sejak awal ditolak oleh ideologis komunis yang cenderung anti-Tuhan. Penyampaian Tausiah yang Berlangsung Khidmat Tausiyah yang disampaikan begitu tegas yang dapat membakar semangat muda para santri. Mulai dari sejarah bagaimana pengkhianat bangsa itu bisa hadir di tanah air, sampai pernyataan bahwa mereka tidak akan pernah bisa berdampingan bersama bangsa Indonesia. Karena kepercayaan mereka yang tak bertuhan, tidak akan pernah selaras dengan sila pertama yakni: Ketuhanan Yang Maha Esa, apalagi selaras dengan agama Islam. “Komunis bukan hanya sebuah ideologi, tetapi ancaman yang berusaha menghapus nilai agama dan budaya bangsa. Santri harus menjadi benteng agar sejarah kelam itu tidak terulang,” tegas beliau. Baca juga : Semangat Juang 45 Tersulut dalam Lomba Agustusan Santri Darul Hijrah Salam Pada masa itu, banyak pesantren dan santri ikut berdiri di garda depan untuk mempertahankan keutuhan bangsa, sekaligus menjaga akidah umat agar tidak terpengaruh paham yang menyesatkan. Kaum komunis sangat membenci umat beragama, terutama umat muslim karena para santri dan umat muslim secara keseluruhan merupakan kontributor terbesar saat masa Pra-Kemerdekaan. Bagaimana bisa mereka mengambil alih bangsa ini sedangkan benteng terkuatnya belum bisa dirobohkan? Maka dari itu mereka sering sekali bergesekan, bahkan tak jarang membantai umat muslim terutama di pondok-pondok pesantren.
Kasus Chromebook Jadi Pelajaran, Transformasi Digital Sekolah Harus Lebih Serius
Malang – 1miliarsantri.net : Kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) hendaknya menjadi refleksi dalam tranformasi digital sektor pendidikan. Di balik visi percepatan digitalisasi, minimnya pengawasan justru menimbulkan persoalan serius, baik dari sisi hukum maupun manfaatnya di lapangan. Diketahui sebelumnya pengadaan Chromebook untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia dilakukan melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Satuan Pendidikan (DSP) sejak tahun 2021. Anggaran yang digelontorkan tidak kecil, yaitu sekitar Rp 9,9 triliun selama periode 2019 hingga 2023. Namun, upaya besar itu tercoreng oleh dugaan korupsi yang merugikan keuangan negara hingga Rp 1,98 triliun. Kejaksaan Agung telah menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan dan menetapkan sejumlah tersangka, termasuk pejabat di lingkungan Kemendikbudristek serta pihak swasta. Salah satu pokok permasalahan yaitu dugaan mark-up harga dan pemilihan sistem operasi yang dinilai tidak sesuai kebutuhan sebagian besar sekolah, terutama di daerah dengan akses internet terbatas. Perangkat tak Tepat Sasaran Kasus Chromebook ini memperlihatkan bahwa penyediaan perangkat keras bukan serta-merta menjawab kebutuhan sekolah dalam beradaptasi dengan pembelajaran digital. Justru, di banyak daerah perangkat tersebut tidak terpakai secara optimal. Beberapa sekolah bahkan membiarkan Chromebook tetap dalam kardus karena keterbatasan listrik dan jaringan internet. Bukan itu saja, guru belum dibekali pelatihan teknis memadai. Lebih jauh lagi, dalam beberapa kasus, pengadaan perangkat juga tidak mempertimbangkan daya dukung teknis sekolah. Misalnya, tidak adanya tenaga IT yang bisa membantu guru dan siswa dalam mengoperasikan Chromebook. Bahkan ada sekolah yang hanya memiliki satu sumber listrik aktif di seluruh bangunan, yang tentu saja menyulitkan pemanfaatan perangkat digital dalam pembelajaran. Padahal, mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim sempat menyatakan bahwa program digitalisasi ini telah menjangkau lebih dari 77.000 sekolah dan 97 persen perangkat telah diterima. Namun, penerimaan perangkat tidak otomatis berbanding lurus dengan pemanfaatan. Tanpa dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia yang siap, perangkat digital cenderung hanya menjadi simbol modernisasi semu. Permasalahan ini diperparah oleh pola implementasi yang bersifat top-down. Sekolah-sekolah di berbagai daerah tidak dilibatkan secara penuh dalam perencanaan maupun pemetaan kebutuhan. Imbasnya, banyak institusi pendidikan menerima alat yang tidak sesuai dengan kapasitas dan kesiapan masing-masing. Beberapa sekolah negeri di daerah tertinggal bahkan tidak memiliki akses internet yang memungkinkan pemanfaatan Chromebook secara optimal.
Transformasi Digital Sekolah Langkah Penting Menuju Pendidikan Masa Depan
Malang – 1miliarsantri.net : Dalam percakapan publik saat ini, transformasi digital sekolah sering kali dipahami semata-mata sebagai pengadaan perangkat keras seperti laptop, proyektor, atau koneksi internet. Pandangan ini mengerdilkan makna transformasi itu sendiri. Padahal, transformasi digital dalam pendidikan bukan sekadar sebagai alat atau perangkat, tetapi menyangkut perubahan menyeluruh dalam ekosistem belajar. Seperti halnya cara guru mengajar, cara siswa belajar, cara sekolah dikelola, hingga bagaimana teknologi menjadi katalis peningkatan mutu pendidikan. Transformasi Digital : Dari Pengadaan Menuju Perubahan Budaya Pengadaan perangkat memang penting, tetapi transformasi digital sejati baru terjadi ketika sekolah membangun budaya yang mendukung pemanfaatan teknologi secara bermakna. Transformasi ini menuntut semua elemen sekolah, dari kepala sekolah, guru, staf administrasi, hingga siswa untuk mengadopsi pola pikir baru. Budaya digital berarti menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses berpikir, bukan sekadar alat presentasi. Guru perlu merasa nyaman bereksperimen dengan pendekatan baru dalam mengajar, siswa diajak lebih aktif dan kolaboratif, serta pimpinan sekolah perlu membuka ruang untuk inovasi. Tanpa ini, semua perangkat hanya akan menjadi simbol tanpa substansi. Transformasi Digital dan Peran Guru sebagai Agen Perubahan Guru adalah jantung dari transformasi digital. Tidak cukup hanya melatih mereka mengoperasikan perangkat, namun juga penting mengembangkan kompetensi pedagogi digital. Transformasi digital juga menuntut guru untuk adaptif dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mereka harus diberi ruang untuk salah, didorong untuk mencoba pendekatan baru, dan didukung dalam proses peningkatan kapasitas. Tanpa pelatihan berkelanjutan dan komunitas belajar, transformasi digital bisa berhenti hanya sebagai jargon dalam dokumen perencanaan. Baca juga : Tantangan Dan Solusi Transformasi Digital Sekolah Infrastruktur dan Kebijakan yang Mendukung Transformasi Digital Di luar manusia, aspek teknis seperti infrastruktur juga menjadi kunci transformasi digital. Sayangnya, banyak sekolah yang belum memiliki jaringan internet stabil, perangkat yang memadai, atau bahkan teknisi untuk pemeliharaan. Oleh karena itu, perlu komitmen jangka panjang dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk menjamin keberlangsungan dukungan infrastruktur. Lebih dari itu, regulasi juga harus mendukung. Misalnya, kebijakan tentang keamanan data siswa, kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta insentif bagi guru yang berhasil menerapkan pembelajaran digital secara efektif.


