RS Al Quds Terpaksa Menghentikan Operasional Pelayanan nya

Gaza — 1miliarsantri.net : Rumah sakit Al-Quds di Kota Gaza menghentikan “sebagian besar operasinya” setelah kehabisan bahan bakar dan pengeboman Israel setiap hari di sekitar kompleks rumah sakit. Rumah sakit yang terletak di Tal al-Hawa itu dikelola Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS). PRCS mengatakan rumah sakit tersebut terpaksa menghentikan sebagian besar layanannya. “Untuk menjatah bahan bakar dan memastikan layanan tingkat dasar dalam beberapa hari ke depan,” terang PRCS seperti dikutip dari Aljazirah, Kamis (9/11/2023). Rumah sakit itu mematikan generator utamanya dan kini hanya beroperasi dengan generator yang lebih kecil agar bisa memberikan layanan dasar dan listrik selama dua jam per hari untuk pasien dan 14 ribu orang yang terpaksa mengungsi ke sana. Bangsal operasi dan pabrik oksigen telah ditutup. “Kami membicarakan tentang peluru sekitar 15 meter dari gedung rumah sakit. Sebagian besar gedung di sekitar rumah sakit hampir hancur seluruhnya. Pengeboman semakin dekat ke rumah sakit, dan kami khawatir serangan langsung ke rumah sakit,” kata juru bicara PRCS Nebal Farsakh. Sebagian besar jalan menuju Rumah Sakit Al-Quds ditutup, memaksa petugas medis dengan ambulans mengambil satu rute yang terjal dan tidak beraspal untuk menjangkau para korban. “Kami memiliki sekitar 500 pasien di dalam rumah sakit. Kami memiliki 15 pasien di ICU. Mereka terluka dan menggunakan alat bantu pernapasan. Kami memiliki bayi yang baru lahir di inkubator. Kami memiliki 14.000 orang yang mengungsi, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak,” kata Farsakh. Ia mengatakan PRCS “kehabisan pilihan.” Farsakh menambahkan selama dua pekan mereka berulang kali memperingatkan “pasokan bahan bakar akan habis jika pasukan pendudukan Israel terus menolak untuk mengizinkan bahan bakar masuk ke Jalur Gaza”. Israel memberlakukan pengepungan total terhadap Gaza dua hari setelah perang dimulai pada 7 Oktober, memperketat blokade yang sudah berlangsung sejak 2007 dan sangat membatasi masuknya bantuan, makanan, air, listrik dan bahan bakar. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, 18 rumah sakit berhenti beroperasi sejak perang dimulai, baik karena kehabisan bahan bakar maupun akibat pengeboman. Direktur layanan medis darurat di PRCS Bashar Murad yang bekerja di Rumah Sakit Al-Quds, menggambarkan situasi di fasilitas tersebut “sebagai yang paling dahsyat” dalam sejarah organisasi tersebut. “Pada Ahad, serangan udara Israel mengebom pintu masuk rumah sakit kami, mengakibatkan tewasnya empat orang di pintu masuk dan melukai 35 orang, 12 di antaranya berada di dalam rumah sakit,” kata Murad. Ia menambahkan setengah dari ambulansnya tidak dapat digunakan. Sementara gudang utama diserang dan hancur sebagian. “Kami kehilangan semua obat-obatan dan peralatan di gudang yang bernilai sekitar 5 juta dolar AS. Saya tetap tinggal di Gaza karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan dalam situasi seperti ini,” tutupnya. (zul/AZ) Baca juga :

Read More

Tercatat Sebanyak 526 Truk Bantuan Masuki Gaza, Namun tak Diizinkan Bawa Bahan Bakar

Rafah — 1miliarsantri.net : Sebanyak 526 truk yang membawa sejumlah bahan dan bantuan kemanusiaan telah memasuki wilayah Gaza melalui penyeberangan perbatasan Rafah. Namun dari total bantuan, masih belum ada bahan bakar di antara kargo tersebut. Hal tersebur disampaikan Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric dalam sebuah taklimat. “Ini menjadikan jumlah truk yang masuk ke Gaza melalui Rafah sejak 21 Oktober mencapai 526 truk, sekaligus menjadi pengingat bahwa sampai hari ini belum ada bahan bakar yang masuk ke Gaza melalui Rafah,” terangnya. Dujarric juga mengatakan bahwa pihak berwenang Mesir setuju untuk mengerahkan unit teknis PBB, yang akan bertindak dalam kapasitas kemanusiaan dan memberikan dukungan penasihat kepada Bulan Sabit Merah Mesir. Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mesir Ahmed Abu Zeid mengatakan hambatan yang diciptakan oleh Israel dan aktivitas pihak Israel terkait pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza menyulitkan bantuan tersebut untuk sampai ke daerah kantong Palestina tersebut. Dia juga mengatakan bahwa “proses membawa bantuan ke Gaza menghadapi masalah logistik serius yang diberlakukan oleh pihak Israel.” Menurut Abu Zeid, semua pengiriman yang menuju ke Gaza harus diperiksa di penyeberangan perbatasan Nitzana, Israel. Dan baru setelah itu kendaraan bisa menuju ke tempat tujuan, yang memperpanjang rute sekitar 100 kilometer. Selain itu, juru bicara tersebut menunjuk pada hambatan birokrasi dari Israel. Ketegangan kembali memanas di Timur Tengah pada tanggal 7 Oktober ketika para militan dari kelompok radikal Palestina yang berbasis di Jalur Gaza, Hamas, melancarkan serangan mendadak ke wilayah Israel dari Gaza. Hamas menggambarkan serangannya sebagai respon terhadap tindakan agresif otoritas Israel terhadap Masjid Al-Aqsa di Temple Mount di Kota Tua Yerusalem. Israel mengumumkan blokade total terhadap Jalur Gaza dan telah melancarkan serangan udara ke Gaza serta beberapa distrik di Lebanon dan Suriah. Bentrokan juga terjadi di Tepi Barat. (zul/AP)

Read More

Setidaknya Jumlah Warga di Wilayah Gaza Yang Meninggal diangka 10ribu

Gaza — 1miliarsantri.net : Pengeboman Israel di Jalur Gaza telah berlangsung selama hampir satu bulan. Pejabat kesehatan di Gaza pada Senin mengatakan, setidaknya 10.022 warga Palestina, termasuk 4.104 anak-anak telah gugur akibat pengeboman Israel. Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan, puluhan orang gugur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza dan lebih jauh ke selatan di lingkungan Gaza seperti Zawaida dan Deir Al-Balah pada Ahad (5/11/2023) malam. Televisi Al-Aqsa yang mengutip sumber-sumber medis mengatakan, sedikitnya 75 warga Palestina tewas dan 106 luka-luka dalam serangan itu. Pejabat kesehatan Palestina mengatakan, delapan orang wafat dalam serangan udara semalam di rumah sakit kanker Rantissi di Kota Gaza. Para pemimpin badan PBB menuntut gencatan senjata kemanusiaan ketika perang di Gaza telah berlangsung selama hampir sebulan. Seluruh penduduk di Gaza terkepung, dan mereka tidak memiliki akses terhadap kebutuhan penting. “Seluruh penduduk terkepung dan diserang, tidak diberi akses terhadap kebutuhan penting untuk bertahan hidup, rumah, tempat penampungan, rumah sakit, dan tempat ibadah mereka dibom. Ini tidak bisa diterima,” kata para pemimpin PBB dalam pernyataan bersama. Ke-18 badan PBB yang mendesak gencatan senjata antara lain Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, dan Kepala Bantuan PBB Martin Griffiths. Seorang jurnalis Reuters di Jalur Gaza menggambarkan pengeboman dari udara, darat dan laut pada Ahad (5/11/2023) malam. Ini adalah salah satu pengeboman yang paling intens sejak Israel melancarkan serangannya. Perang Palestina-Israel terbaru dimulai pada 7 Oktober 2023 ketika Hamas memulai Operasi Badai Al-Aqsa terhadap Israel. Hamas melancarkan serangan mengejutkan dengan menembakkan ribuan roket dan infiltrasi ke Israel melalui darat, laut, dan udara. Hamas mengatakan, serangan ini merupakan tanggapan keras atas penyerbuan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur oleh pemukim Yahudi, dan meningkatnya kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina. Israel dibuat kewalahan dengan operasi mendadak Hamas yang menggunakan taktik jenius. Menanggapi tindakan Hamas, militer Israel melancarkan Operasi Pedang Besi di Jalur Gaza. Serangan udara Israel menghancurkan rumah warga sipil Gaza, gedung perkantoran, dan fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, serta tempat ibadah. Ribuan warga sipil Gaza, termasuk anak-anak meninggal dunia. Respons Israel meluas hingga memotong pasokan air, listrik, bahan bakar, dan makanan ke Gaza, yang semakin memperburuk kondisi kehidupan di wilayah yang terkepung itu sejak 2007. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan di Gaza, pengeboman Israel telah menyebabkan lebih dari 9.000 warga Palestina meninggal dunia, termasuk lebih dari 4000 anak-anak. Berdasarkan data Euro-Med Human RIghts Monitor, pengeboman Israel di Gaza hingga 31 OKtober 2023 telah membunuh 9.056 orang dengan 3.718 anak-anak, dan 1.929 perempuan. Sementara korban luka mencapai 21.980 dan 1.976 lainnya diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Serangan Israel juga telah menyebabkan 1,4 juta orang mengungsi secara internal. Pengeboman yang terus berlanjut itu telah menyebabkan 32 jurnalis gugur. Tenaga medis juga tidak luput dari serangan Israel. Sebanyak 111 tenaga medis meninggal dunia, dan 136 terluka. Pengeboman Israel telah menghancurkan sejumlah fasilitas publik. Data Euro-MEd menunjukkan, 44.300 bangunan hancur total dan 13.6100 rusak sebagian. Selain itu, 47 masjid dan 3 gereja hancur. Serangan yang terus membabi buta ini juga menghancurkan 147 sekolah, 513 fasilitas industri, 19 rumah sakit, 39 ambulans, dan 49 klinik. Selain itu, 87 kantor milik media juga ikut hancur. (zal) Baca juga :

Read More

Sebagian Besar Wilayah Gaza Tak Ubahnya Berubah Menjadi Kuburan Anak-anak

Gaza — 1miliarsantri.net : The Washington Post melaporkan kisah Youssef Sharaf (38 tahun) yang tetap memilih bertahan di Jalur Gaza. Dia sedang membagikan makanan kepada para pengungsi dari Gaza pada 25 Oktober ketika menerima panggilan telepon tentang serangan Israel terhadap menara tempat tinggal keluarganya. Sejak saat itu hingga saat ini, dia telah berusaha untuk menemukan jenazah keempat anaknya yang terkubur di bawah rumahnya yang hancur di Kota Gaza, tempat orang tua dan istrinya terbunuh, begitu pula ketiga saudara laki-laki, dua saudara perempuan, dan paman. Sharaf kehilangan ketiga putrinya di bawah reruntuhan, Malak (11 tahun), Yasmine (6 tahun), dan Nour (3 tahun), serta putra satu-satunya Malik (10 tahun). Dia mengatakan kepada Washintong Post, sekitar 30 kerabatnya tinggal bersama dengan harapan mendapatkan keselamatan. “Semua keluarga adalah warga sipil dan mencari kehidupan sederhana. Kami pikir kami tinggal di tempat yang aman. Dapatkah Anda membayangkan rasa sakit saya?” Kakak laki-laki Sharaf yang baru saja melahirkan seorang anak setelah 16 tahun menunggu, dibunuh bersama istri dan anaknya, begitu pula 13 keponakan, termasuk Lana (16 tahun), Hala (11 tahun), Jana (9 tahun), Juri (6 tahun), dan Tulin (4 tahun), Karim (2 tahun), dan Obaida yang usianya tidak lebih dari satu tahun. Komite Hak Anak PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan yang menyerukan gencatan senjata bahwa “tidak ada pemenang dalam perang yang menewaskan ribuan anak.” James Elder, juru bicara UNICEF, mengatakan dalam sebuah konferensi pers, “Gaza telah menjadi kuburan bagi anak-anak. Semua orang di sana hidup di neraka.” Ahmed Al-Farra, kepala departemen pediatrik di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis di Gaza selatan, menegaskan, apa yang dapat dilakukan dokter untuk menyelamatkan nyawa anak-anak ketika mereka mengangkut orang yang terluka ke rumah sakit semakin berkurang setiap hari. Anak-anak tiba dari lokasi penyerangan dengan luka yang mengerikan, luka di bagian tubuh yang terpotong, luka pecahan peluru, luka bakar parah, dan pendarahan dalam akibat kekuatan ledakan. Di tiga rumah sakit di berbagai wilayah Gaza, para dokter mengaku belum pernah melihat anak-anak menderita luka yang begitu mengerikan sebelumnya. Hossam Abu Safiya, seorang dokter di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, mengatakan, “Saya telah bekerja di sini lebih lama lagi. dari 25 tahun dan saya telah melihat semua perang tersebut. Namun perang ini berbeda,” jelasnya. “Kita berbicara tentang ratusan anak-anak yang membutuhkan perawatan medis atau mereka akan mati di jalanan,” lanjutnya. Dalam kasus lain, Shahd (18 tahun), yang bermimpi memiliki anak perempuan, kembali ke rumahnya setelah melahirkan putri kembar, Misk dan Masa. Namun perang dimulai beberapa minggu kemudian, sehingga Shahd mengungsi bersama keluarga besarnya dari kota ke Nuseirat di selatan Gaza, dan di sana dia terbunuh. Setelah lebih dari dua bulan diserbu Israel, Shahad mengatakan, “Tidak ada keamanan di tempat ini. Semua impian saya hanya menjadi fatamorgana yang tidak berarti.” Keluarga tersebut pindah ke tempat lain di Nuseirat, dan 10 hari kemudian, selama pemadaman komunikasi selama lebih dari 30 jam di Gaza, 3 anak lain dalam keluarga tersebut terbunuh dalam serangan Israel: Lana (9 tahun), Hassan (8 tahun) tua), dan Rana (6 tahun). Saadia, bibi dari keluarga tersebut, menceritakan tentang keponakannya, Nouran, yang cacat akibat ledakan: “Kami bercita-cita agar Nouran menjadi seorang dokter. Saat ini, kami tidak lagi tahu bagaimana Nouran akan menghadapi dirinya sendiri di cermin.” Dengan berlinang air mata. matanya, dia bertanya, “Apakah ini tujuan perang?” “Anak-anak kita bukanlah angka,” tambahnya, “Mereka mempunyai cerita yang layak untuk diceritakan.” (zul/WP) Baca juga :

Read More

RS Indonesia di Gaza Tak luput Dari Serangan Zionis Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Puluhan korban gugur dan luka-luka akibat pemboman Israel masih terus dilakukan dan dibawa ke Rumah Sakit Indonesia, walau RS yang pembangunannya diinisiasi MER-C ini sudah tak bisa beroperasi karena kehabisan bahan bakar dan energi akibat serangan beruntun yang dilakukan zionis Israel. “Kami memiliki beberapa informasi baru mengenai terhentinya kegiatan operasional yang terjadi di dekat Rumah Sakit Indonesia. Kami menerima lebih dari 50 orang tewas dan terluka dalam pemboman Israel baru-baru ini. 40 persen dari mereka yang terbunuh dan terluka dalam pengeboman tersebut adalah anak-anak,” terang Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Atef al-Kahlout, berbicara kepada Aljazirah, Jumat (4/11/2023) dini hari. Al-Kahlout menambahkan generator utama rumah sakit Indonesia telah berhenti 48 jam yang lalu. Kini pihaknya mengalami kekurangan tenaga medis yang parah. “Karena itu, saya memohon kepada masyarakat internasional untuk memberikan perlindungan kepada konvoi medis yang dijadwalkan berangkat besok menuju penyeberangan Rafah,” harapnya. Sementara itu, pihak militer Israel telah mengkonfirmasi bahwa “pesawatnya telah menghantam sebuah ambulans” di Gaza. Militer mengklaim bahwa pesawat itu digunakan oleh pejuang Hamas. Sementara Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan konvoi ambulans tersebut, akan sedang mengangkut pasien warga sipil yang terluka ke perbatasan Rafah dengan Mesir. Seorang juru bicara Kementerian juga mengatakan sebelumnya bahwa Palang Merah telah diberitahu bahwa konvoi medis ambulans akan meninggalkan Rumah Sakit al-Shifa, sebelum diserang. Namun akhirnya konvoi ambulance membawa pasien luka ke perbatasan Rafah tersebut, harus hancur terkena bom Israel. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Jumat (03/11/2023) menyerukan “penghormatan penuh terhadap hukum internasional,” menekankan bahwa rumah sakit tidak boleh dijadikan sasaran serangan, menyusul laporan serangan Israel di gerbang utama Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Saat menanggapi pertanyaan wartawan tentang kemungkinan PBB menyusun rencana menegakkan hukum internasional dan mencegah serangan Israel ke fasilitas kesehatan, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyatakan pihaknya akani terus menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum internasional. “Ini mencakup ketentuan bahwa rumah sakit tidak boleh digunakan dalam pertempuran apa pun. PBB selalu siap menyampaikan seruan dalam setiap kasus (konflik),” ujar Dujarric yang mencatat bahwa PBB sebelumnya telah menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional dalam konflik, seperti yang terjadi di Ukraina dan Sudan. Ketika ditanya tentang aksi PBB selain menyerukan penghentian permusuhan atau mengecam aksi brutal, Dujarric mengklarifikasi bahwa dia hanya bisa berbicara mewakili sekretaris jenderal PBB. “Kami terus menyerukan hal ini dan terus mendorongnya di hadapan umum dan terus mendorongnya secara pribadi. Ada bagian legislatif lain di PBB, yang mungkin bisa berbuat lebih banyak untuk memastikan pengakhiran konflik,” ucap Dujarric. Pada Jumat, serangan bom Israel menargetkan ambulans di depan gerbang utama Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, yang menyebabkan kematian beberapa warga Palestina dan melukai banyak lainnya. Hingga Jumat lalu, jumlah warga Gaza yang terbunuh sejak dimulainya agresi Israel ke wilayah tersebut pada 7 Oktober 2023 lalu telah melampaui 9.200 jiwa. Sebanyak 70 persen dari mereka adalah anak-anak, perempuan, dan lansia. Sementara korban luka di Gaza telah menembus 22 ribu orang. Agresi Israel juga mengakibatkan lebih dari 1 juta warga Gaza terlantar dan mengungsi. (zul/AP) Baca juga :

Read More

Beberapa Negara Berani Memutuskan Hubungan Dengan Israel

Yerussalem — 1miliarsantri.net : Beberapa negara akhirnya dengan berani memutuskan hubungan dengan Israel. Sikap ini sebagai bentuk protes atas pengeboman dan pembunuhan warga sipil di Gaza. Pada Kamis (02/11/2023), Bahrain mengusir duta besar Israel untuk Manama dan menarik kembali utusannya dari Tel Aviv. Dalam sebuah pernyataan, parlemen Bahrain mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari tindakan yang diambil untuk mendukung “perjuangan Palestina dan hak-hak sah rakyat Palestina”. “Kami mengonfirmasi kepergian duta besar Israel ke negara tersebut, kembalinya duta besar Bahrain dari Israel, dan penghentian hubungan ekonomi,” bunyi pernyataan itu seperti dilansir Doha News. Sehari sebelumnya, Yordania telah memanggil pulang duta besarnya untuk Israel, dan mengatakan bahwa negara itu hanya akan mengembalikan utusannya jika Israel menghentikan “krisis kemanusiaan yang ditimbulkannya”. Pada Selasa (31/11/2023) malam, Wakil Menteri Luar Negeri Bolivia Freddy Mamani mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa negaranya telah memutuskan “hubungan diplomatik dengan negara Israel sebagai bentuk penolakan dan kutukan terhadap serangan militer Israel yang agresif dan tidak proporsional yang terjadi di Jalur Gaza”. Negara tetangganya, Kolombia dan Chile juga memanggil pulang duta besar mereka untuk melakukan konsultasi untuk mengutuk kematian warga sipil di Gaza dan menyerukan gencatan senjata. Negara-negara Amerika Latin lainnya, termasuk Argentina dan Brasil, juga telah meningkatkan kritik mereka terhadap dampak operasi militer Israel terhadap warga sipil. Israel lalu mengkritik negara-negara Amerika Selatan setelah mereka memutuskan hubungan diplomatik dan memanggil pulang duta besar. Israel pada hari Rabu (1/11/2023), meminta Kolombia dan Chile untuk “secara eksplisit mengutuk organisasi Hamas. Di mana Israel memfitnah Hamas sebagai “organisasi yang membantai dan menculik bayi, anak-anak, perempuan dan orang tua,” menurut sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Israel. Seruan tersebut muncul beberapa jam setelah Chile dan Kolombia memanggil pulang duta besar mereka untuk Israel pada Selasa malam di tengah-tengah kecaman atas pembunuhan warga sipil di Gaza. “Israel mengharapkan Kolombia dan Chile untuk mendukung hak sebuah negara demokratis untuk melindungi warga negaranya, dan menyerukan pembebasan segera semua orang yang diculik, dan tidak bersekutu dengan Venezuela dan Iran untuk mendukung Hamas,” kata Kementerian Luar Negeri Israel. Sebelumnya, Presiden Chile Gabriel Boric menyebut Hamas dalam sebuah pernyataan terpisah di X, sebelumnya Twitter, di mana ia mengatakan “warga sipil tak berdosa” adalah “korban utama serangan Israel.” Chile “tidak ragu mengutuk serangan dan penculikan yang dilakukan oleh Hamas,” tulis Boric. “Kemanusiaan tidak dapat mempertahankan dirinya melalui ikatan yang tidak manusiawi,” ujarnya. Presiden Kolombia Gustavo Petro telah bersikap lebih tegas dengan membagikan banyak pesan di media sosial yang mengutuk tindakan Israel. “Ini disebut genosida; mereka melakukannya untuk menyingkirkan orang-orang Palestina dari Gaza dan mengambil alihnya,” tulis Petro di X. “Kepala negara yang melakukan genosida ini adalah penjahat terhadap kemanusiaan.” Sebelumnya, Israel telah mengutuk keputusan Bolivia pada hari Selasa untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, dan menyebutnya sebagai “menyerah pada rezim Ayatollah di Iran.” Meskipun Sunni, Hamas telah tumbuh semakin dekat dengan negara adidaya Syiah, Iran. Bolivia juga sebelumnya pernah memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel pada tahun 2009 dan melanjutkannya kembali pada tahun 2020. (zul/AP) Baca juga :

Read More

Seorang Tentara Senior Israel Tewas Terbunuh Dalam Pertempuran Darat di Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Pejuang Palestina membunuh seorang komandan batalion brigade lapis baja Israel di Gaza. Letkol Salman Habaka menjadi prajurit ke-18 yang tewas di Gaza dalam dua hari pertempuran sengit. Dia adalah tentara Israel paling senior yang terbunuh sejak serangan darat meningkat pada hari Selasa. Kabar tewasnya komandan senior dalam pasukan Israel ini disampaikan oleh tentara Israel pada Kamis (02/11/2023). Laporan pertempuran jarak dekat terus bermunculan sejak Selasa di setidaknya empat front di sepanjang pinggiran kota-kota di bagian timur dan utara Gaza. Radio tentara Israel mengatakan pertempuran “berkepanjangan” dan intens terjadi semalam setelah pasukan infanteri Israel disergap oleh pejuang Palestina. Laporan tersebut mengatakan 20 pejuang Hamas tewas sementara tentara mengatakan mereka membunuh “puluhan agen” tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Middle East Eye tidak dapat memverifikasi klaim ini secara independen. Hamas belum mengomentari jumlah korban yang dilaporkan dalam pertempuran yang menewaskan komandan senior Israel ini. Sementara itu, seorang tentara Israel terluka parah dalam sebuah insiden di perbatasan Mesir, kata media Israel, mengutip pihak militer. Lokasi dan keadaan pasti insiden tersebut tidak diungkapkan oleh pihak militer. Belum jelas apakah lokasi tersebut berada di dekat perbatasan dengan Gaza atau lebih jauh ke selatan. (bal/AP) Baca juga :

Read More

Seoul Central Mosque Masjid Pertama dan Tertua di Korea Selatan Yang Lengkap Dengan Lokasi Wisata Kuliner Muslim

Seoul — 1miliarsantri.net : Seoul Central Mosque merupakan masjid pertama atau tertua di Korea Selatan yang berdiri sebagai masjid pada 1976. Lokasi masjid ini berada di Hannam-dong, Distrik Yongsan, Itaewon, Seoul, Korea Selatan. Berdasarkan catatan The Seoul Guide, geografis masjid ini berdiri tepat di puncak bukit. Tempat itu dikunjungi orang-orang pada akhir pekan demi memperoleh ajaran Islam. Selain itu, di sana ceramah juga disediakan dalam bahasa Inggris dan Arab (selain bahasa Korea yang menjadi bahasa utama). Korean E Tour menjelaskan, Seoul Central Mosque merpakan tempat ibadah umat Islam di Korea. Di dalamnya orang-orang bisa mendapatkan pendidikan Islam beserta budaya-budayanya. Mulai 1962, Korean Muslim Federation (KMF) mendapatkan bantuan keuangan dari Malaysia sebesar 33 ribu dolar Amerika Serikat. Memasuki 1970, beberapa negara Islam dari timur tengah ikut serta berkontribusi. Tepat 1974, pembangunan dilakukan di atas tanah yang diberikan pemerintahan Korea Selatan. Luas tanah yang didonasikan mereka kala itu adalah 5.000 meter persegi. Kemudian, tepat pada 21 Mei 1976, masjid ini resmi dibuka. Selain komunitas Muslim Korea, ternyata penduduk atau wisatawan non muslim juga ada yang mengunjungi tempat ini. Namun, ada aturan untuk mengenakan pakaian sopan (standar Muslim) jika ada orang non-Muslim berkunjung. Pihak masjid ini menyediakan barang seperti jilbab, rok, dan beberapa pakaian lainnya. Pada 20 Juli 1990, Seoul Central Mosque memperoleh donasi kembali dari Bank Pembangunan Islam Arab Saudi. Berawal dari masjid ini, didirikan juga beberapa tempat ibadah serupa di wilayah lain Korea Selatan. Bangunan Seoul Central Mosque berwarna putih. Di bagian depan, terdapat menara yang terhubung dengan bangunan utamanya. Seperti masjid pada umumnya, menara ini diberikan lambang bulan-sabit pada puncaknya. Di pintu masuk masjid, tulisan “Allahu Akbar” akan menjadi penampakan utamanya. Terakhir, di bagian luar sebelum masuk gerbang, ada tulisan korea yang maknanya adalah kalimat syahadat. Terkait ruangan, Seoul Central Mosque terdiri dari tiga lantai. Untuk lantai pertama, difungsikan sebagai kantor atau ruang pertemuan KMF. Lantai kedua ada tempat ibadah yang khusus untuk laki-laki. Sedangkan lantai tiganya, dipergunakan untuk ibadah perempuan. Di sekitaran daerah masjid ini, Sungwon Pusat Seoul, terdapat beberapa toko, makanan, supermarket, dan agen perjalanan. Sektor perdagangan ini kebanyakan menyediakan hal yang dekat dengan budaya Islam atau sesuatu yang sifatnya tidak haram. Mengutip catatan Namsan Korea, Seoul Central Mosque juga punya lembaga pendidikan. Di antaranya seperti madrasah, Institut Penelitian Kebudayaan Islam, dan beberapa aktivitas yang berbau pendidikan lainnya. Fakta Menarik Seoul Central Mosque Kami, peserta tur 2018 Halal Restaurant Week Korea, dua kali menyambangi restoran halal di daerah Itaewon ini. Satu ke Murree Muslim Food dan satu lagi ke Kervan, restoran kebab Turki, cabang Itaewon. Pengunjung masjid bukan hanya umat muslim yang menunakan ibadah saja, tetapi juga warga Korea yang ingin melihat keindahan masjid serta keindangan pemandangan tepi sungai Hangang yang alirannya bermuara ke Laut Kuning. (yun/AP) Baca juga :

Read More

Cina Telah Hapus Israel Dari Peta Baidu dan Alibaba

Beijing — 1miliarsantri.net : Pemerintah Cina telah menghapus Israel dari peta. Hal itu disampaikan Media Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (30/10/2023) dengan memberitakan “Israel Goes Unnamed on China Online Maps”. Pengguna internet di Cina menyadari bahwa peta digital buatan Cina seperti Baidu dan Alibaba tidak menampilkan negara Israel. Baidu adalah Google-nya Cina. Baidu merupakan search engine asal Cina yang paling banyak digunakan di negara tersebut. Di peta online Baidu, hanya terlihat garis-garis perbatasan dan kota-kota utama yang diakui secara internasional. Meski begitu, tidak ada identitas jelas yang dicantumkan. Tak ada pula nama “Israel” dalam peta. Hal serupa juga terjadi di peta online milik Alibaba, Amap. Dalam aplikasi tersebut tidak ada pencantuman nama negara Israel. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina Wang Yi mengatakan, serangan Israel ke Jalur Gaza sudah melampaui tindakan membela diri. Dia menyerukan Tel Aviv menghentikan hukuman kolektif terhadap masyarakat di Gaza. Pernyataan Wang itu disampaikan kepada Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan saat keduanya melakukan percakapan via telepon pada Sabtu (14/10/2023) lalu. “Tindakan Israel telah melampaui ruang lingkup pembelaan diri. Mereka harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh seruan masyarakat internasional dan Sekretaris Jenderal PBB, dan menghentikan hukuman kolektif terhadap rakyat Gaza,” ujar Wang. (zunk/AP) Baca juga :

Read More

Israel Menghantam Kelaparan Warga Palestina Sebagai Senjata Perang

Gaza — 1miliarsantri.net : Surat kabar Inggris “The Times” menerbitkan laporan yang menyebut zionis Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Itu dibuktikan dengan pembatasan jumlah bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Jumlah tersebut sangat tidak mencukupi kebutuhan warga Gaza. Jumlah truk yang diizinkan melewati perbatasan Rafah di Mesir telah berkurang menjadi 8 atau 10 truk per hari, menurut pejabat PBB. Artinya, pasokan yang tiba pekan lalu jauh lebih sedikit dibandingkan yang biasanya dikirimkan dalam waktu 24 jam, sejak Presiden AS Joe Biden merundingkan kemajuan bantuan selama kunjungan ke Israel. Beberapa lembaga kemanusiaan internasional mengatakan, toko roti dibom dalam serangan udara Israel. ActionAid Palestine mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Sebelum rencana serangan darat dari Israel, kelaparan digunakan sebagai senjata perang, karena toko roti masih menjadi sasaran pemboman tanpa pandang bulu dan menghadapi kekurangan bahan bakar yang parah.” Oxfam mengatakan, hanya 2% dari pasokan makanan yang biasa dikirimkan ke Gaza sejak perbatasan ditutup pada awal krisis. Ketika serangan terus meningkat dari hari ke hari, kini terdapat 2,2 juta orang yang sangat membutuhkan makanan. “Sebelum terjadinya meletus perang Gaza-Israel, 104 truk mengirimkan makanan setiap hari ke Jalur Gaza, yaitu satu truk setiap 14 menit. Meski mengizinkan 62 truk bermuatan bantuan masuk ke Gaza selatan melalui penyeberangan Rafah, sejak akhir pekan lalu hanya 30 truk yang membawa persediaan makanan,” ungkap Oxfam. Di Gaza, 600.000 pengungsi Palestina terus mencari perlindungan di mana pun mereka bisa, mulai dari sekolah dan rumah sakit yang dikelola PBB hingga ke jalan-jalan dan mobil. Kondisinya semakin memprihatinkan. Misalnya Asiya Marzouq Abu Deeb (37 tahun). Dia terbaring di tanah bersama enam anaknya di luar sekolah PBB dekat kota Khan Yunis di Jalur Gaza selatan. “Anak-anak saya kelaparan, kehilangan berat badan karena kekurangan gizi. Kami hidup hanya dengan satu potong roti untuk seluruh keluarga. Seharusnya cukup untuk kita semua,” ujarnya, dikutip Al Jazeera. Aisya mengaku terpaksa meninggalkan rumah pada dini hari, lantaran pesawat tempur Israel lalu lalang di langit Gaza. Kala itu, dia bersama keluarga hanya berlari keluar dan tanpa arah tujuan yang jelas. “Kami tidak punya waktu untuk membawa pakaian atau apa pun. Saya membawa putri saya di antara lengan saya, kami minum air yang tercemar, dan putra saya yang masih kecil menderita infeksi dada karena polusi,” ucapnya. The Times melaporkan, mengutip Kantor Koordinasi Urusan Bantuan PBB, 10 toko roti rusak akibat serangan udara pekan lalu. Tiga toko roti juga ditutup karena kekurangan bahan bakar, dan lainnya kemungkinan besar akan tutup. “Sangat biadab melihat laboratorium dibom sementara warga sipil antri setiap hari untuk mendapatkan makanan bagi keluarga mereka. Mereka yang selamat dari pemboman mungkin malah mati kelaparan.,” kata Reham Jaafari, dari ActionAid Palestine. Saat mengantri di toko roti Doha, Mahmoud Muhammad Zorob, ayah dari delapan anak, berjalan sekitar lima mil untuk mencapai toko roti tersebut. Dia mengantri sejak pukul 05.00 pagi, namun pada akhirnya pemilik toko menginformasikan roti telah habis. “Saat ini, ada anak-anak yang sekarat karena kelaparan, jadi saya memakan apa pun, apakah itu biskuit, lentil, atau apa pun,” katanya. Hana Abu Sharkh (42 tahun), ibu dari enam anak, secara ajaib bisa selamat setelah rumahnya dibom. Meski begitu, dia harus menghadapi tantangan berat setelah selamat dari maut. “Situasi di sini buruk dalam segala aspek. Ada banyak hari ketika Aku berpuasa dan tidak makan untuk memberi makan anak-anakku, karena toko roti kosong roti,” tuturnya.(zl/AZ) Baca juga :

Read More