Beberapa Rumah Sakit yang Menjadi Sasaran Target Zionis Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Serangan militer Israel di Gaza, Palestina menargetkan fasilitas umum, tak terkecuali rumah sakit. Sejumlah rumah sakit di Gaza dilaporkan kolaps akibat serangan zionis Israel dan menyebabkan pasokan bahan bakar yang menipis. Salah satu nya adalah Rumah Sakit Al-Shifa, pusat medis terbesar di Gaza ini pun tak luput dari serangan zionis Israel. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan bahwa buldoser dan tank Israel telah menyerbu kompleks medis tersebut dari pintu barat. Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, serangan militer Israel ke RS Al-Shifa sama sekali tidak dibenarkan. Ia menegaskan, rumah sakit bukanlah medan pertempuran. “Rumah sakit bukanlah medan pertempuran. Kami sangat khawatir dengan keselamatan staf dan pasien. Melindungi mereka adalah hal yang terpenting,” ungkap Tedro pada konferensi pers di Jenewa. Dia menyatakan, WHO telah kehilangan kontak dengan petugas kesehatan di RS Al-Shifa. Baginya, fasilitas kesehatan, petugas kesehatan, ambulans dan pasien harus dijaga dan dilindungi tidak hanya dari segala tindakan perang, tetapi juga selama perencanaan militer. Berikut beberapa kondisi RS di Gaza yang kolaps imbas dari serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 RS Al-ShifaSerangan udara dan kurangnya pasokan medis, makanan, air bersih, dan bahan bakar telah mengganggu sistem kesehatan di Gaza. Rumah sakit telah beroperasi jauh melebihi kapasitasnya, lantaran melonjaknya jumlah pasien serta pengungsi warga sipil yang mencari perlindungan. Al-Shifa, rumah sakit dengan kapasitas 700 tempat tidur itu telah berada di bawah kepungan Israel selama sepekan terakhir, sejak Kamis (9/11/2023). Dilansir WAFA, Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa buldoser dan tank Israel telah menyerbu kompleks medis tersebut dari pintu barat. WHO bahkan mengatakan, pihaknya telah kehilangan kontak dengan petugas di RS Al-Shifa selama tiga hari terakhir. WHO belum menerima informasi terkini mengenai jumlah kematian atau cedera di Gaza sehingga mempersulit mereka untuk mengevaluasi fungsi sistem kesehatan. Setidaknya terdapat 2.300 orang yang masih berada di dalam rumah sakit, sekitar 650 pasien, 200-500 staf dan sekitar 1.500 orang yang berlindung. RS Indonesia RS Indonesia yang terletak di Beit Lahiya, Gaza Utara lumpuh setelah pasokan bahan bakar dan persediaan obat-obatan habis. Direktur RS Indonesia Atef al-Kahlot mengatakan, rumah sakit dengan 110 tempat tidur itu hanya beroperasi pada 30-40 persen dari kapasitasnya. Ia kemudian meminta bantuan komunitas internasional. “Kami menyerukan kepada orang-orang terhormat di dunia, jika ada di antara mereka yang masih tersisa, untuk memberikan tekanan pada pasukan pendudukan untuk memasok Rumah Sakit Indonesia dan rumah sakit lainnya di Jalur Gaza,” katanya. Sementara itu, dalam laporan MER-C, Israel kembali membombardir area sekitar RS Indonesia, pada Selasa (14/11/2023) malam, waktu setempat. Lebih dari 3.000 warga Palestina mengungsi ke rumah sakit tersebut. RS Al-QudsRS Al-Quds juga terkena imbas dari perang Israel di Gaza. Menurut Organisasi Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), pertempuran berlangsung di dekat RS Al-Quds ketika sedang dilakukan upaya untuk mengevakuasi pasien dari rumah sakit terbesar kedua di wilayah itu. RS Al-Quds telah berjuang untuk merawat pasien, dengan akses terhadap obat-obatan, makanan dan air yang terbatas. Mereka menutup pintunya untuk pasien baru pada Ahad (12/11/2023). “Rumah sakit dibiarkan mengurus dirinya sendiri di bawah pemboman Israel yang terus-menerus, sehingga menimbulkan risiko besar bagi staf medis, pasien, dan warga sipil yang kehilangan tempat tinggal,” kata PRCS dalam sebuah pernyataan, dikutip Al Jazeera. PRCS, yang mengelola RS Al-Quds sejak 2001, meminta pertanggungjawaban komunitas internasional dan penandatangan Konvensi Jenewa Keempat atas kehancuran total sistem pelayanan kesehatan di Gaza dan krisis kemanusiaan yang mengerikan yang diakibatkannya. Rumah sakit lainnya di Gaza Utara Beberapa rumah sakit di wilayah Gaza Utara seperti RS Anak Al-Nasr dan RS Khusus Anak Al-Rantisi tidak dapat lagi berfungsi tanpa akses terhadap bantuan medis. Mereka juga berada di bawah serangan Israel. Pada Jumat (10/11/2023), puluhan pasien anak dan orang tua dievakuasi dari RS Al-Rantisi ke rumah sakit di negara tetangga, Mesir dan Yordania. Menurut PBB, masih belum jelas apa yang terjadi pada 30 anak yang masih dirawat di RS Al-Nasr. Rumah sakit anak-anak lainnya, RS Kamal Adwan di Gaza Utara juga menghentikan operasinya setelah generator utamanya kehabisan bahan bakar,” terang Direktur Rumah Sakit Ahmed al-Kahlout. Sementara itu, RS Al-Awda telah kehabisan bahan bakar. RS Persahabatan Turki-Palestina, yang dikelola oleh Universitas Islam Gaza berhenti beroperasi pada Senin (30/10/2023) setelah serangan udara, lalu kehabisan bahan bakar dan obat-obatan. (zul/AZ) Baca juga :

Read More

Iran Tegaskan Tidak Mau Ikut Terlibat Perang Gaza

Teheran — 1miliarsantri.net : Pemerintah Iran menegaskan bahwa eskalasi regional bukanlah prioritasnya. Karenanya mereka tidak akan ikut berperang di Gaza. Iran telah mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) bahwa mereka tidak ingin konflik antara Israel dan Hamas menyebar. Tetapi serangan Israel lebih lanjut di Gaza dapat memicu konflik regional. “Selama 40 hari terakhir, pesan-pesan telah dipertukarkan antara Iran dan AS, melalui kedutaan besar Swiss di Teheran,” terang Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Jumat (17/11/2023). Menurutnya, kejahatan terhadap rakyat Gaza dan Tepi Barat jika tidak dihentikan, segala kemungkinan dapat dipertimbangkan, dan konflik yang lebih luas dapat menjadi tidak terelakkan. Iran selalu mengatakan bahwa mereka tidak diberitahu tentang serangan 7 Oktober terhadap Israel, sesuatu yang juga disetujui oleh Washington. Amirabdollahian juga menolak gagasan bahwa Iran mengendalikan kelompok-kelompok regional seperti Hamas, Hizbullah di Lebanon, atau Houthi di Yaman. Masing-masing kelompok ini memiliki identitas politiknya sendiri yang berakar di negaranya, tetapi ia memperingatkan bahwa Iran “tidak acuh terhadap pembunuhan terhadap rekan-rekan Muslim dan Arab mereka di Palestina”. Amirabdollahian menepis bahwa AS telah mengancam Iran dengan serangan jika Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel. Sebaliknya, ia memperingatkan bahwa Washington menambah bahan bakar ke dalam api regional sambil meminta Iran “untuk menahan diri”. Amirabdollahian menambahkan bahwa ancaman Amerika terhadap Hizbullah tidak akan berhasil dan kelompok Lebanon itu akan membuat keputusan sendiri. “Para pejabat militer kami berpendapat bahwa pengerahan kapal induk AS di dekat wilayah kami, yang membuat mereka dapat diakses, bukanlah sebuah keuntungan bagi AS. Sebaliknya, hal itu membuat mereka lebih rentan terhadap kemungkinan serangan. Fakta bahwa tentara Houthi Yaman menyerang wilayah Palestina yang diduduki Israel dengan rudal dan pesawat tak berawak berarti perang telah mulai meluas. Fakta bahwa Hizbullah bertempur dengan sepertiga tentara Israel menunjukkan bahwa perang telah meluas,” ungkapnya. Menurut sebuah laporan dari Reuters minggu ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan kepada pemimpin Hamas Ismail Haniyeh pada awal bulan ini bahwa Teheran tidak akan ikut berperang melawan Israel. Mengutip “tiga pejabat senior,” Reuters melaporkan bahwa Iran hanya akan memberikan dukungan politik dan bukannya “melakukan intervensi secara langsung”. Reuters menambahkan bahwa Khamenei mengatakan kepada Haniyeh bahwa ia harus “membungkam suara-suara” di dalam kelompok yang ingin membawa Iran dan Hizbullah ke dalam pertempuran di Gaza dengan kekuatan penuh. Sejauh ini, Iran dan sekutunya di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman telah memberikan dukungan yang tidak terlalu besar, tanpa sepenuhnya terlibat dalam perang. (yon/REU) Baca juga :

Read More

Militer Israel Bagikan Selebaran Imbauan Agar Warga di Khan Younis Untuk Mengungsi

Gaza — 1miliarsantri.net : Angkatan Udara Israel menjatuhkan selebaran di wilayah timur Khan Younis di selatan Jalur Gaza pada Kamis (16/11/2023) malam. Informasi itu memberitahukan orang-orang untuk mengungsi ke tempat perlindungan demi keselamatan. Selebaran itu mengindikasikan Israel akan menggelar operasi militer besar-besaran di wilayah tersebut. “Demi keselamatan Anda, Anda perlu segera mengungsi dari tempat tinggal Anda dan menuju ke tempat perlindungan yang diketahui,” ungkap selebaran tersebut, yang menyebutkan lingkungan Khuzaa, Abassan, Bani Suhaila, dan Al Qarara. Selebaran serupa telah dijatuhkan sekitar dua minggu sebelumnya. Namun kali ini disusul dengan penembakan tank besar-besaran Israel di wilayah timur. “Siapapun yang berada di dekat teroris atau fasilitas mereka membahayakan nyawa mereka, dan setiap rumah yang digunakan oleh teroris akan menjadi sasaran,” kata selebaran tersebut. Khan Younis terletak di bagian selatan Jalur Gaza. Puluhan ribu orang yang mengungsi dari wilayah utara telah mencari perlindungan di sekolah-sekolah dan tenda-tenda, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang parah di tengah kekurangan makanan dan air. Sebanyak dua pertiga dari 2,3 juta penduduk Jalur Gaza kehilangan tempat tinggal akibat perang dan setiap ruang yang tersedia di Khan Younis dan kota-kota selatan lainnya sudah penuh sesak. Kepala hak asasi manusia PBB mengatakan, wabah penyakit menular dan kelaparan tampaknya tidak dapat dihindari mengingat kondisi kehidupan yang mengerikan dan intensitas kerumunan orang. Israel juga menggunakan selebaran di Gaza utara untuk menekan warga sipil agar pindah dan ratusan ribu orang telah melakukannya. Sebuah pengungsian massal dikhawatirkan oleh banyak warga Palestina akan menjadi permanen. Israel bersumpah untuk menghancurkan Hamas dan melancarkan serangan udara, laut, dan darat di Gaza yang padat penduduk usai serangan tidak terduga Hamas pada 7 Oktober. Setelah itu, serangan balasan Israel membunuh lebih dari 11 ribu orang, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Israel mendapat tekanan internasional yang semakin besar untuk mengubah arah di Gaza ketika krisis kemanusiaan di wilayah kantong tersebut semakin meningkat. (zul/AZ) Baca juga :

Read More

Konflik Gaza Memperlihatkan Wajah Persaudaraan, Murabith dan Syuhada

Gaza — 1miliarsantri.net : Konflik peperangan yang terjadi di Gaza menjadi wajah ‘persaudaraan muslim’ yang disebutkan dalam Surah Al-Hujurat ayat ke-10. Gaza tak hanya menjadi tanah para murabith, tapi juga menjadi saksi ribuan syuhada. Warga Gaza juga memberikan contoh terbaik dalam pengamalan Surah Al-Hasyr ayat 9, “Mereka mengutamakan (kaum muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga membutuhkan.” Adalah Muhammad Abu Rujaila, seorang pemuda yang berdiri di pinggir jalan menunggu para murabith dari utara Gaza. Dia bersama pemuda-pemuda di selatan Gaza bersiap menyambut rombongan murabith yang terdiri dari anak-anak dan perempuan beserta pemuda yang menyertai perjalanan tersebut. Abu Rujailah menyambut mereka dengan air minum, selimut, dan kebutuhan pokok. Meski kondisi Gaza selatan pun tak luput dari pengeboman, tapi mereka menyediakan kebutuhan untuk mereka yang baru datang. Al Jazeera menggambarkan mereka sebagai pahlawan yang memberikan ketenangan. Berjalan kaki 15 sampai 30 kilometer dari utara Gaza bukan perkara mudah. Letih tiada terkira, dan hanya membawa pakaian di badan dan perkebakalan seadanya. Tapi, mereka disambut bak saudara saat tiba di tujuan. Muhammad al-Kafarna, seorang ayah yang mengantar keluarga besarnya ke Gaza selatan untuk mengungsi. Dia harus menempu perjalanan 20 kilometer dari Beit Hanoun, Gaza utara menuju lokasi penyintas di sebuah sekolah di Kota Rafah, Gaza selatan. Dia berangkat tanpa air, makanan, dan alat tidur. Di perjalanan, tank-tank militer Israel dan penembak jitu menjadi teror. Pesawat tempur seperti capung beterbangan. Dia tak bisa mengingkari rasa penat dan rasa takut. Namun, semua perasaan itu hilang saat melihat sambutan hangat dari sesama murabith di Gaza selatan. “Saudara-suadara kami di selatan, yang meringankan penderitaan. Kita semua adalah keluarga dan penderitaan kita sama,” kenangnya. Ummu Mustafa Shabir bersama sembilan anggota keluarga memutuskan berangkat ke Kota Rafah. Awalnya, dia tak bisa membayangkan jika harus bergabung bersama para penyintas di pusat pengungsian UNRWA. Suami Ummu Mustafa menderita atrofi otak sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk beraktivitas. Dia juga harus merawat tujuh putri dan dua putra. Namun apa yang terjadi? seorang ‘pahlawan’ menawarkan untuk tinggal di apartemennya. Tak sampai di situ, semua kebutuhan Ummu Mustafa terpenuhi. Dia mendapatkan air minum dan perlengkapan tidur. Dia menggambarkan situasi itu dengan satu kata “persaudaraan”. “Mereka memperlakukan kami seolah-olah kami adalah keluarga, dan kami tidak merasa terasing dari mereka,” ujarnya. (bal/AZ) Baca juga :

Read More

Pasukan Israel Bombardir Wilayah Tulkarem Selama 15 Jam Berturut-turut

Tepi Barat — 1miliarsantri.net : Pasukan Israel membunuh tujuh warga Palestina dalam serangan selama 15 jam berturut-turut tanpa henti di kota Tulkarem di Tepi Barat pada hari Selasa (14/11/2023). Middle East Eye melaporkan, pasukan Israel mengebom sebuah rumah dengan pesawat tak berawak (drone). Selain itu tentara Israel juga melancarkan serangan gas air mata ke rumah sakit, menghalangi ambulans untuk menjangkau korban luka, dan menyebabkan kehancuran massal di jalan-jalan dan toko-toko. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang bertepatan dengan kampanye agresi militer Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Serangan terbaru di Tulkarem, yang terletak di bagian utara Tepi Barat, dimulai pada Senin (13/11/2023) malam ketika pasukan khusus Israel menyerbu kamp pengungsi di kota itu dan menembak dua warga Palestina di dalam sebuah kedai kopi. Mereka diidentifikasi sebagai Mahmoud Hadaida, 25, dan Hazem al-Hosari, 29, ayah tiga anak dan pemilik supermarket di dekat kamp. Abu Suhaib al-Hosari, paman Hazem, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa dia sedang duduk bersama temannya di sebuah kafe ketika pasukan Israel mengejutkan mereka dan menembak mereka dari jarak dekat. “Ketika kami menerima berita tersebut, saya meninggalkan kamp bersama saudara laki-laki Hazem dan pergi ke rumah sakit dan melihat dia tertembak di dada,” ujar Abu Suhaib. Segera setelah penembakan, militer Israel mengirimkan bala bantuan dalam jumlah besar ke kamp tersebut yang memicu bentrokan dengan warga sipil Palestina. Serangan pesawat tak berawak semalam menghantam sebuah rumah yang berada di dalam kamp tersebut, dan menewaskan sedikitnya tiga orang. Sementara itu, buldoser militer menghancurkan jalan-jalan di kamp tersebut, merusak bangunan dan etalase toko. Militer Israel juga menempatkan sejumlah penembak jitu di gedung-gedung tinggi. Warga terpaksa tinggal di dalam rumah selama penggerebekan, termasuk keluarga Hazem, yang tidak dapat mencapai rumah sakit untuk mengucapkan selamat tinggal selama berjam-jam. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa stafnya dicegah untuk menjangkau korban luka, yang menyebabkan kematian sejumlah dari mereka. Dalam satu contoh, jip militer menghentikan ambulans PRCS dalam perjalanan menuju rumah sakit, dan menangkap orang yang terluka di dalamnya. Di pintu masuk Rumah Sakit Thabet Thabet, pasukan Israel menembakkan gas air mata, menurut rekaman yang diterbitkan oleh media lokal. Tulkarem sering menjadi sasaran pasukan Israel dalam beberapa pekan terakhir. Bulan lalu, tentara Israel menggerebek kamp pengungsi Nur Shams, sebelah timur kota Tulkarem, dalam operasi 24 jam. Penyerbuan ke kamp Nur Shams menyebabkan 13 warga Palestina tewas dan kehancuran yang meluas setelahnya. (sak/AP) Baca juga :

Read More

Jika Hizbullah Berulah, Menhan Israel Ancam Akan Jadikan Lebanon Seperti Gaza

Tel Aviv — 1miliarsantri.net : Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant memperingatkan Hizbullah bahwa melancarkan perang akan mengakibatkan kehancuran yang luas di Lebanon. Kondisi serupa dengan yang terjadi di Gaza bisa terjadi pula di Lebanon. “Jika Hizbullah melakukan kesalahan seperti ini di sini, pihak yang akan menanggung dampaknya adalah warga Lebanon yang pertama dan terutama. Apa yang kami lakukan di Gaza, juga bisa kami lakukan di Beirut,” ujar Gallant kepada tentara di perbatasan utara Israel dalam pernyataan yang disampaikan oleh kantornya. Pemimpin Hizbullah yang berkuasa di Lebanon Hassan Nasrallah mengatakan sebelumnya, kelompok bersenjatanya telah menggunakan senjata jenis baru dan menyerang sasaran baru di Israel dalam beberapa hari terakhir. Hizbullah telah menggunakan rudal yang dikenal sebagai Burkan, yang menggambarkan muatan bahan peledaknya antara 300 hingga 500 kilogram. Dia juga mengonfirmasi bahwa kelompok tersebut telah menggunakan senjata drone untuk pertama kalinya. “Hizbullah berjanji bahwa front di selatan melawan musuh bebuyutannya akan tetap aktif. Nasrallah sebelumnya mengatakan, ada kemungkinan pertempuran di front Lebanon berubah menjadi perang besar-besaran. Front ini akan tetap aktif,” janjinya. Dalam penyataan terbaru, Nasrallah menegaskan ada peningkatan dalam operasi Hizbullah di sepanjang garis depan dengan Israel. “Terdapat peningkatan kuantitatif dalam jumlah operasi, ukuran dan jumlah sasaran, serta peningkatan jenis senjata,” kata Nasrallah dalam pidato yang disiarkan televisi. Nasrallah mengatakan kelompok itu juga menyerang kota Kiryat Shmona di Israel utara untuk pertama kalinya sebagai pembalasan atas pembunuhan tiga gadis dan nenek mereka awal bulan ini. Hizbullah telah terlibat baku tembak dengan pasukan Israel di perbatasan Lebanon-Israel sejak 8 Oktober, dan membunuh sedikitnya 70 pejuangnya, beberapa warga sipil juga menjadi korban jiwa. Tapi serangan balasan sebagian besar terbatas di perbatasan dan Hizbullah sebagian besar menyerang sasaran militer. Kelompok yang didirikan oleh Garda Revolusi Iran pada 1982 adalah ujung tombak aliansi yang didukung Iran yang berlawanan dengan Israel dan Amerika Serikat. (gun/AAP) Baca juga :

Read More

Astronom Temukan Benua Tertua di Bima Sakti

Surabaya — 1miliarsantri.net : Bumi diduga bukan satu-satunya pemilik benua dan konsekuensinya; kehidupan, di galaksi Bima Sakti. Menurut penelitian baru, benua tertua berpotensi telah muncul 5 miliar tahun sebelum bumi. Artinya, ada banyak dunia di Bima Sakti yang menampung kehidupan alien yang lebih maju dari kita. Hipotesisnya berasal dari pendapat umum para ahli astrobiologi, bahwa sebuah planet perlu memiliki ciri-ciri tertentu untuk mendukung kehidupan. Di antaranya, oksigen di atmosfernya yang melindungi organisme dari radiasi berbahaya, dan air cair sebagai permulaan kehidupan. Meskipun kehidupan tidak sepenuhnya memerlukan daratan yang luas, sejarah bumi menunjukkan bahwa daratan penting agar kehidupan bisa berkembang dan bertahan dalam jangka waktu lama. Jadi, jika sebuah planet ekstrasurya memiliki benua sebelum Bumi, maka kemungkinan ada kehidupan yang lebih tua dan lebih maju di dunia tersebut. Hipotesis itu mengarahkan Jane Greaves, astronom Universitas Cardiff di Inggris untuk menjawab pertanyaan penting; Kapan benua pertama kali muncul di sebuah planet di galaksi kita? Melalui penelitiannya, Greaves menemukan benua dan kehidupan mungkin telah muncul 4 – 5 miliar tahun sebelum Bumi di dua planet ekstrasurya. “Jika kehidupan di planet lain memiliki permulaan 5 miliar tahun, maka ia berpotensi menampung kehidupan yang lebih berevolusi daripada kita,” tulis Greaves dalam hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Research Notes of the American Astronomical Society edisi September 2023. Begini ceritanya. Benua terbentuk akibat lempeng tektonik, yaitu pergerakan lempeng batuan yang mengapung di atas lelehan bagian dalam suatu planet. Panas dari inti planet mencegah magma mengeras dan menghentikan pergerakan benua. Panas tersebut berasal dari unsur-unsur radioaktif seperti uranium-238, thorium-232, dan potasium-40 di inti planet, yang terus mengeluarkan energi. Sebagian besar unsur radioaktif tersebut berasal dari peristiwa bencana kosmik, seperti ledakan supernova dan tabrakan antara bintang raksasa yang mati atau bintang neutron. Jejak unsur-unsur tersebut bisa dideteksi dalam panjang gelombang cahaya yang dipancarkan bintang. Dalam penelitian barunya, Greaves menggunakan tingkat uranium-238 dan potasium yang ada di bintang-bintang terdekat, ditambah usia bintang yang diukur oleh satelit Gaia Badan Antariksa Eropa (ESA). Dengan unsur tersebut, Greaves memperkirakan kapan sebuah planet berbatu di sekitar masing-masing bintang itu cukup panas untuk munculnya lempeng tektonik. Dia menemukan, benua pertama harusnya terbentuk di sekitar bintang mirip matahari pada 2 miliar tahun sebelum lempeng tektonik bumi muncul. Benua tertua dari bintang terdekat berada di sekitar bintang HD 4614, yang berjarak 20 tahun cahaya dari Bumi. Namun ada dua bintang yang menarik perhatian, yaitu HD 76932 dan HD 201891 yang sedikit lebih kecil dari matahari kita. Mereka masing-masing terletak 70 hingga 110 tahun cahaya dari kita di wilayah cakram tebal. Planet dari dua bintang tersebut bisa membentuk benua hingga 5 miliar tahun lebih awal dari Bumi. Berdasarkan sampel dari 29 bintang dan teori tentang planet layak huni yang berlaku saat ini, Greaves menyimpulkan ada dua sistem dalam sampel tersebut yang memiliki biosfer lebih maju daripada di Bumi. Menentukan planet yang berpotensi menarik dan layak huni, seperti yang diidentifikasi Greaves, merupakan persiapan penting bagi Observatorium Habitable Worlds (Teleskop pemburu dunia layak huni) yang sedang dibangun NASA. Teleskop itu akan digunakan para astronom mengamati planet mirip Bumi dan tanda-tanda kehidupan pada tahun 2040an. Greaves berharap penelitian ke depan akan menganalisis lebih banyak bintang untuk menentukan mereka memiliki planet dengan lempeng tektonik atau tidak. “Lempeng tektonik bisa membantu mengungkap sistem yang lebih tua di mana kehidupan bisa ada sebelum kehidupan di Bumi,” kata Greaves. (har) Sumber: Live Science Baca juga :

Read More

Ingin Kuasai Jagad Maya, Israel Bangun Digital Dome untuk Perang di Sosial Media

Tel aviv — 1miliarsantri.net : Ribuan sukarelawan di Israel menjaring akun daring dan media sosial untuk mencari berita palsu dan misinformasi seputar perang negara tersebut dengan Hamas. Mereka ini yang menghadapi pertempuran lain dengan berada di dalam Digital Dome. Sejak konflik meningkat sebulan yang lalu, kebohongan, ketidakbenaran, dan disinformasi telah memicu konflik di seluruh dunia. Misinformasi dan gambar fotorealistik palsu yang dibuat oleh AI mengenai perang tersebut diedarkan dan dibagikan kembali di media sosial, memicu emosi dan kemarahan yang kuat dari kedua sisi. Untuk melawan perang informasi di dunia maya, sebuah organisasi pemantau disinformasi yang berbasis di Israel yang bernama FakeReporter menjalankan ruang perang yang dikelola oleh 2.500 sukarelawan di seluruh Israel. Tim ini didirikan oleh tim peneliti, aktivis, dan pakar Open Source Intelligence (OSINT). Para relawan menandai dan melaporkan konten yang dinilai mencurigakan, jahat, dan vulgar ke platform itu sendiri. FakeReporter juga membantah narasi yang menyesatkan di media sosial. Kepala komunikasi FakeReporter Yotam Frost mengatakan, perang antara Israel dan Hamas melampaui medan pertempuran, itu terungkap setiap hari di media sosial. “FakeReporter telah mengamati peningkatan disinformasi yang mengkhawatirkan, khususnya di X. Saat ini, melatih pemikiran kritis sangatlah penting untuk membedakan antara fakta dan opini,” ungkapnya dikutip dari AlArabiyah. Saat ini, organisasi itu telah melihat banyak contoh dengan beredarnya postingan palsu dan penuh kekerasan di X. Dalam banyak kasus, komunitas memberikan konteks yang tepat melalui catatan komunitas. “Hanya saja, meskipun sudah jelas bahwa postingan tersebut palsu, postingan tersebut tidak akan dihapus. Keputusan ini mencerminkan pilihan strategis X dan platform sosial lainnya,” kata Frost. Kondisi itu yang membuat FakeReporter dan pejabat senior di komunitas teknologi tinggi Israel menciptakan “Digital Dome” atau sebuah platform digital untuk melindungi publik dari konten berbahaya. “Inovasi ini bergantung pada kombinasi teknologi Kecerdasan Buatan dan laporan dari pengguna di semua platform, yang bertindak sebagai ‘mata di lapangan’,” ujarnya. Frost menyatakan, konsekuensi dari disinformasi dan misinformasi sangat besar. “Mereka menimbulkan ancaman serius terhadap demokrasi, melemahkan ketahanan sosial dan meningkatkan stres, kecemasan, kebencian, dan ekstremisme,” imbuhnya. Menurut Frost, perputaran informasi dapat dengan mudah mempengaruhi proses militer, politik, dan diplomatik serta pengambilan keputusan yang sebenarnya. Ancaman tersebut lebih dari sekedar disinformasi karena menyerang fondasi masyarakat demokratis dan kemampuan individu untuk melakukan debat yang rasional dan berdasarkan fakta. Saat ini, mereka berupaya menyaring sejumlah besar informasi yang dinilai tidak benar yang beredar di jagat maya. Frost mengatakan, hingga saat ini organisasi itu telah mengumpulkan lebih dari 20 ribu laporan berita palsu di media sosial. Penyaringan awal dilakukan oleh relawan berdedikasi yang mengidentifikasi dan meneruskan konten yang jelas-jelas melanggar pedoman komunitas platform media sosial. Laporan tersebut kemudian disempurnakan lebih lanjut oleh tim terpisah sebelum diserahkan langsung ke platform. Frost mengatakan, penyebaran informasi yang cepat saat ini bertentangan dengan proses penting penyelidikan menyeluruh, verifikasi, dan penyampaian informasi yang dapat dipercaya kepada publik. Dia memberikan contoh dengan seorang jurnalis Israel membagikan video lama yang memperlihatkan sebuah roket tidak berfungsi di langit, sehingga menimbulkan tuduhan bahwa Israel berusaha menutupi tindakannya. Pada hari yang sama, halaman Facebook yang mengaku sebagai halaman resmi IDF menyombongkan diri dan mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut, sehingga menyesatkan banyak orang. “Sangat penting untuk menyadari bahwa platform media sosial memiliki kemampuan, baik dalam teknologi, sumber daya manusia, atau sumber daya keuangan untuk meminimalkan penyebaran disinformasi,” lanjut Frost. Tapi Frost menyatakan, banyak yang memilih untuk tidak menerapkan langkah-langkah tersebut dan kebijakan yang ada gagal meminimalkan misinformasi dan disinformasi secara efektif. “Khususnya, platform seperti X telah mengurangi tim kepercayaan dan keselamatan mereka yang sudah sangat kekurangan staf,” paparnya. FakeReporter didirikan sekitar tiga tahun lalu dan dijalankan oleh Achiya Schatz. Sebelum perang, lembaga ini fokus membantu orang-orang yang menjadi sasaran pelecehan daring karena berani menentang korupsi pemerintah. Sebelum FakeReporter, Schatz adalah juru bicara sebuah organisasi bernama Breaking the Silence. Organisasi ini menerbitkan kesaksian anonim tentara Israel yang mengklaim bahwa mereka menyaksikan pelanggaran etika selama bertugas di Tepi Barat dan Gaza. “Anggap saja ini sebagai Iron Dome digital, yang melindungi kita semua dan menggagalkan siapa pun yang mencarinya untuk menyakiti kita,” pungkas Schatz menjelaskan tentang kehadiran Digital Dome dikutip dari calcalistech.(zain/AA) Baca juga :

Read More

Begini Cara Warga Gaza Atasi Krisis Air dan Bahan Bakar

Gaza — 1miliarsantri.net : Terlihat salah satu warga bernama Basma Adwan duduk di depan tungku kayu buatan sang suami, Abd Rabbo, di rumah mereka di kota Rafah, selatan Jalur Gaza. Tungku kayu itu merupakan alternatif yang dibuat Abd Rabbo untuk mengakali krisis bahan bakar dan gas untuk memasak. Kompor yang terbuat dari setengah tong (wadah besi) dan kompor tradisional menjadi alternatif yang digunakan mayoritas masyarakat Gaza saat ini. Mereka tidak kehilangan akal untuk tetap bertahan di Tanah Gaza. Hari Basma dimulai dengan sinar pertama hari itu. Usai salat subuh, suaminya menyalakan potongan kayu bakar dari pohon zaitun dan jeruk di bawah kompor, siap menyiapkan sarapan untuk sekitar 25 penyintas dari utara Jalur Gaza, seperti halnya mayoritas rumah di bagian selatan. Basma dan suaminya adalah kepala sekolah. Pembantaian di Jalur Gaza membuat mereka kehilangan pekerjaan. Sekitar 215 sekolah telah diubah menjadi pusat penyintas, yang sebagian besar berafiliasi dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Mayoritas rumah dan sekitar 128 pusat penyintas di Kota Rafah serta Khan Yunis, Gaza Selatan dipenuhi ratusan ribu penyintas. Abd Rabbo mendaur ulang tong bekas menjadi kompor. Dia memanfaatkan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk kompor tersebut dan bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, seperti memasak dan sekadar minum the hangat. Kompor itu juga digunakan untuk menyediakan roti. Para penyintas juga tak kehilangan akal untuk mengatasi krisis air bersih. Misalnya Abu Ayoub. Dia memompa air asin di sebuah sumur dekat untuk didesalinasi. Dia memanfaatkan sebuah truk sebagai mesin agar proses pengubahan air asin menjadi tawar bisa dilakukan. Asisten Ketua Komite Darurat di sektor ini, Insinyur Zuhdi Al-Ghariz, mengatakan, lebih dari 90% rumah kekurangan sumber air, setelah pemerintah kota berhenti memompa air dari sumur bawah tanah ke rumah warga, karena kekurangan listrik dan kehabisan bahan bakar. Kondisi itu tak menyurutkan semangat mereka. Keluarga Abu Muhammad Al-Qar’an. Dia bisa memanfaatkan air laut untuk mandi. Pria yang tinggal di Kota Deir Al-Balah, Gaza tengah itu juga manfaatkan air laut untuk mencuci peralatan rumah dan mencuci pakaian. Itu bukan hal sulit. “Jika mereka mampu mencegah udara dan air laut dari kami, barulah mereka bisa menjadikan Gaza sebagai penjara,” tutupnya. (zul/AP) Baca juga :

Read More

Beberapa Pihak Yang Mendukung Benjamin Netanyahu

Tel Aviv — 1miliarsantri.net : Pada Desember 2022, Benjamin Netanyahu kembali naik ke tampuk kekuasaan dalam pemerintahan Israel. Kali ini, Netanyahu menggandeng partai-partai sayap kanan garis keras untuk membentuk koalisi pemerintah. Pemerintahan Netanyahu kali ini dianggap sebagai pemerintahan sayap kanan paling ekstrem dalam sejarah Israel. Ketika membentuk kabinet, Netanyahu menempatkan tokoh-tokoh ekstremis pro-pemukim Yahudi. Hal ini menyebabkan para pemukim ilegal Yahudi seperti mendapatkan angin segar untuk memperluas permukiman dan menindas warga Palestina. Ada beberapa menteri kabinet Netanyahu yang menjadi biang kerok atas meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat. Jajaran menteri biang kerok tersebut antara lain Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich yang bernaung di bawah Kementerian Pertahanan. Dilansir Times of Israel, posisi Smotrich di Kementerian Pertahanan akan memberinya wewenang atas urusan sipil di Tepi Barat, termasuk pembangunan pemukiman. Sebagai pendukung setia permukiman, Smotrich mendesak untuk memperluas kedaulatan Israel atas Tepi Barat, sejalan dengan ideologi agama dan keamanan yang berpusat pada mempertahankan kendali Yahudi atas Tanah Israel yang disebutkan dalam kitab suci mereka. Kemudian ada Menteri Misi Nasional, Orit Strock. Kementerian yang baru dibentuk ini memiliki sejumlah kekuasaan atas permukiman di Tepi Barat, dinas nasional, dan akademi pra-militer. Menteri ini juga memisahkan departemen-departemen dari kementerian lain yang menangani identitas Yahudi dan budaya Yahudi, dengan seorang pejabat kementerian juga bertugas sebagai anggota panel perencanaan nasional dan lokal. Netanyahu menunjuk Meir Porush sebagai menteri Yerusalem, tradisi dan Gunung Meron. Kementerian tersebut diubah namanya dari Kementerian Yerusalem dan Warisan dengan kesepakatan koalisi yang menyatakan kementerian tersebut sekarang fokus pada penguatan tradisi Yahudi, memperdalam pengetahuan dan hubungan seluruh bagian masyarakat Israel dengan tradisi dan memajukan proyek-proyek terkait. Porush sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri perumahan dan pendidikan. Tokoh politis yang paling kontroversial, Itamar Ben-Gvir juga bergabung dalam jajaran kabinet Netanyahu sebagai menteri keamanan nasional. Kementerian Keamanan Nasional yang baru dibentuk memiliki kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya atas Kepolisian Israel. Kesepakatan koalisi partai Ben-Gvir dengan Likud juga memberinya wewenang untuk mengambil alih pengawasan langsung seluruh Polisi Perbatasan, termasuk unit-unit di Tepi Barat yang saat ini berada di bawah wewenang Kementerian Pertahanan. Koalisi pemerintahan sayap kanan Netanyahu telah menyebabkan peningkatan kekerasan terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat. Pada Agustus 2023, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, kasus yang melibatkan pemukim Israel di wilayah pendudukan Palestina tahun ini meningkat cukup tajam, yakni sebesar 39 persen. Dalam enam bulan terakhir, PBB mendokumentasikan 591 kasus. “Itu rata-rata 99 insiden setiap bulan dan meningkat 39 persen dibandingkan dengan rata-rata bulanan sepanjang tahun 2022, yaitu 71 (kasus),” kata Juru Bicara OCHA Jens Laerke. Laerke mengungkapkan, jumlah kasus kekerasan yang dilakukan pemukim Israel pada 2022 sebenarnya menjadi yang tertinggi sejak OCHA mulai melakukan pencatatan pada 2006. Laerke mengatakan, dalam dua tahun terakhir, setidaknya 399 warga Palestina terpaksa mengungsi akibat kekerasan pemukim. Para pemukim menargetkan tujuh komunitas yang terlibat dalam penggembalaan melintasi wilayah Palestina yang diduduki. Laerke menyebut, tiga dari tujuh komunitas tersebut, yakni Al Baqa’a, Khirbet Bir al’Idd, dan Wedadiye, telah benar-benar dikosongkan karena kekerasan. Sementara komunitas lainnya hanya memiliki beberapa keluarga tersisa. Banyak komunitas di seluruh Tepi Barat berada di bawah ancaman pemindahan paksa sebagai akibat dari lingkungan pemaksaan yang diciptakan oleh penghancuran, aktivitas permukiman, dan praktik berbahaya lainnya. “Permukiman Israel ilegal menurut hukum internasional. Mereka memperdalam kebutuhan kemanusiaan karena dampaknya terhadap mata pencaharian, ketahanan pangan, dan akses ke layanan penting,” kata Laerke. Ben-Gvir mendorong percepatan aneksasi wilayah Tepi Barat secara keseluruhan. Dia mengklaim bahwa Tepi Barat merupakan bagian dari Israel. “Kedaulatan harus diterapkan di wilayah Yudea dan Samaria (nama yang digunakan Israel untuk merujuk Tepi Barat). Ini adalah tanah kita,” kata Ben-Gvir saat berbicara dengan Israel Army Radio, dikutip laman Days of Palestine. Pada kesempatan itu, Ben-Gvir menyerukan agar pergerakan warga Palestina di Tepi Barat dibatasi. “Hak pemukim Israel untuk hidup mendahului hak orang Palestina untuk bergerak,” ujarnya. Pada 27 Juli 2023 lalu, Ben-Gvir memimpin ratusan pemukim Yahudi Israel menggeruduk kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Para pemukim masuk melalui Gerbang Maghrebi, kemudian melakukan doa atau ritual Talmud di bawah penjagaan pasukan keamanan Israel. “Tempat ini penting bagi kita dan kita harus kembali ke sana dan membuktikan kedaulatan kita. Persatuan bangsa Israel itu penting,” ujar Ben-Gvir dalam sebuah pesan video. Aksi Ben-Gvir dan ratusan pemukim Yahudi Israel tersebut dikecam negara-negara Muslim, termasuk oleh Indonesia. Sejak pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilantik pada Desember 2022, Ben-Gvir, yang dikenal sebagai tokoh sayap kanan dan anti-Arab, telah tiga kali memasuki kompleks Al-Aqsa. Dua kunjungan sebelumnya terjadi pada Januari dan Mei lalu. Kedatangan Ben-Gvir ke kompleks Al-Aqsa selalu dikecam oleh negara-negara Arab dan Muslim karena dianggap provokatif serta mengabaikan kesucian situs Islam tersebut. (zul/AP) Baca juga :

Read More