Negara Arab Menolak Wilayahnya Digunakan Sebagai Lokasi Operasi Militer AS ke Iran

Gaza — 1miliarsantri.net : Seorang pejabat senior AS mengungkapkan, negara-negara monarki konstitusional di Timur Tengah mengingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak menggunakan wilayah mereka sebagai pangkalan militer saat melakukan respons terhadap Iran jika Iran jadi melaksanakan serangan balasan ke Israel. Sebagaimana diketahui di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, membuat Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, dan Kuwait menimbang ulang detail perjanjian mereka dengan AS terkait izin puluhan ribu tentara AS yang ditempatkan di wilayah mereka. Negara-negara Arab itu saat ini juga mencegah pesawat-pesawat tempur AS terbang di atas udara mereka jika nantinya melakukan serangan balasan Iran. Diketahui, AS telah puluhan tahun berinvestasi membangun pangakalan-pangkalan militer di kawasan Teluk. Mengingat pangkalan-pangkalan militer itu berlokasi dekat dengan Iran, menjadi strategis bagi militer AS untuk melancarkan serangan ke Iran dari titik-titik tersebut. Penolakan negara-negara Arab mengakibatkan persiapan AS saat ini menjadi kompleks. Apalagi, berdasarkan sumber kepada MEE, momen serangan Iran ke Israel diperkirakan semakin dekat. “(Penolakan) Itu adalah sebuah kekacauan,” kata pejabat senior AS tersebut kepada MEE yang dikutip Senin (15/4/2024). Sumber MEE itu mengungkapkan ada tiga skenario Gedung Putih menyongsong serangan Iran. Pertama, Iran bisa menyerang Israel secara langsung dari teritori mereka. Opsi kedua, adalah serangan lewat proxy mereka seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon. Yang ketiga, adalah kombinasi dari dua opsi tadi. Iran diperkirakan juga bisa menyerang langsung kedutaan-kedutaan Israel di Timur Tengah. Tentara-tentara IDF yang kini berada di Gaza dan Tepi Barat juga bisa jadi sasaran dari rencana serangan Iran. Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden telah menginformasikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas komitmen bantuan AS. Namun, menurut sumber tadi, pemerintahan Biden saat ini terbelah atas level bantuan keamanan yang akan diberikan kepada Israel. Pemerintahan Biden saat ini juga dilaporkan khawatir lantaran eskalasi perang yang berpotensi melebar di Timur Tengah bersamaan dengan proses pemilu presiden di AS. AS saat ini sedikitnya memiliki 40 ribu pasukan di Timur Tengah. Meyoritas di antara ditempatkan di kawasan Teluk, khususnya di titik-titik pangkalan strategis laut dan udara. Pangkalan udara di Arab Saudi contohnya, menjadi pangkalan ekspedisi udara ke-378 AS yang mengoperasikan jet tempur F-16 dan F-35. Di Pangkalan udara Al Dhafra di UEA, AS mengoperasikan drone MQ-9 Reaper dan beberapa jenis jet tempur. Begitu juga di Kuwait, di mana pangkalan edisi 386 AS berada. Pangkalan udara Al Udeid di Qatar selain menjadi markas Pusat Komando AS, juga menjadi tempat berkantornya beberapa pejabat militer Israel. Bahrain pun kini menjadi tempat sekitar 9.000 tentara AS bermarkas di bawah Pusat Kendali Angkatan Laut AS. Adapun, Oman memperbolehkan militer AS melintas di atas udaranya dan menggunakan pangkalan laut untuk operasi. Kawasan Timur Tengah dalam tingkat kewaspadaan tinggi sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2024. Setelah enam bulan respons Israel ke Gaza, ketegangan semakin meningkat dan Timur Tengah dalam ancaman peperangan yang kian meluas menyusul pengeboman udara oleh Israel ke kantor konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April lalu yang ikut menewaskan kepada IRGC di Suriah dan Lebanon, Jenderal Mohammad Reza Zahedi. Pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya telah bersumpah akan membalas serangan ke konsulat Iran di Suriah. Pada Rabu (10/4/2024) bertepatan dengan perayaan Idulfitri, Khamenei dalam pidatonya menegaskan bahwa Israel, “Harus dihukum.” (zul/AP) Baca juga :

Read More

Kapal MSC Aries Disita Unit Kelautan IRGC dalam Operasi Khusus Tim Helikopter

Gaza — 1miliarsantri.net : Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi penyitaan sebuah kapal kontainer milik seorang pengusaha Israel dekat Selat Hormuz, di tengah ketegangan yang meningkat antara kedua negara tersebut. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pada Sabtu (13/4/2024) membenarkan bahwa kapal bernama MSC Aries disita oleh unit kelautan IRGC dalam operasi khusus tim helikopter. Merespons aksi Iran di Selat Hormuz, juru bicara militer Israel, Daniel Hagari, mengatakan, “Iran akan menerima konsekuensi atas pilihan mereka meningkatkan eskalasi lebih jauh.” Laporan IRNA menyebutkan bahwa kapal berbendera Portugal itu telah diarahkan menuju wilayah perairan Iran. Sebelumnya, Channel 14 Israel dan Times of Israel melaporkan bahwa kapal yang disita itu adalah milik perusahaan pelayaran Zodiac Maritime kepunyaan pengusaha Israel yang bernama Eyal Ofer. Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), melalui pernyataan, mengatakan sebuah kapal telah disita di daerah tersebut dan menyatakan bahwa kapal disarankan untuk transit dengan hati-hati dan melaporkan aktivitas mencurigakan apa pun kepada UKMTO. Penyitaan kapal itu terjadi di tengah peningkatan ketegangan di kawasan, serta spekulasi mengenai serangan militer Iran dalam waktu dekat sebagai tanggapan atas serangan yang dialami konsulat Iran di Suriah pada awal bulan ini. Sedikitnya 13 orang tewas dalam serangan ke konsulat Iran di Damaskus, ibu kota Suriah, yang menurut pihak berwenang Iran dilakukan oleh Israel. Korban jiwa termasuk tujuh penasihat militer Iran. Di antara mereka yang tewas adalah Jenderal Mohammad Reza Zahedi, komandan senior IRGC di Suriah dan Lebanon, dan wakilnya Jenderal Hadi Haj Rahemi. Setelah serangan itu, para pemimpin tinggi Iran dan militer memperingatkan akan adanya tanggapan yang keras. Sejumlah pihak berspekulasi pada Jumat (12/4/2024) bahwa serangan balasan akan terjadi dalam waktu kurang dari 48 jam. Sebagai tanggapan, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan Tel Aviv akan merespons jika Iran menyerang wilayahnya. Dalam beberapa hari terakhir, banyak pejabat asing telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian dan mendesak Iran untuk menahan diri. Namun, pihak berwenang Iran telah memperingatkan bahwa semua opsi sudah tersedia. (zul/AP) Baca juga :

Read More

Sejumlah Fakta Zionisme Israel Ingin Melenyapkan Palestina dari Muka Bumi

Gaza — 1miliarsantri.net : Jalannya berdirinya negara Israel tak lepas dari gerakan zionisme. Zionisme menjadi mesin utama penggerak pendirian negara zionis Israel. Berikut sejumlah fakta tentang zionisme hingga ‘berhasil’ merebut tanah Palestina dan mendirikan Israel : Maknanya, kurang lebih dipahami mereka sebagai ”pendirian kembali” tanah air Yahudi di Palestina atau yang digagas Birnbaum sebagai Eretz-Israel. Mengapa Argentina? Alasannya cukup sederhana. Karena, menurut Herzl, ”kondisi alamnya sebagai salah satu negara terkaya di dunia, wilayahnya yang luas, populasi yang sedikit, dan cuaca yang sedang.” Terjemahan surat itu kurang lebih berbunyi, ”Pemerintahan Yang Mulia bersimpati bagi berdirinya sebuah national home di Palestina bagi bangsa Yahudi dan akan mengerahkan daya upaya untuk mendukung tercapainya tujuan ini, juga jelas dipahami bahwa tidak boleh ada tindakan yang dapat menimbulkan prasangka mengenai hak sipil dan religius bagi masyarakat non-Yahudi yang berada di Palestina ataupun hak dan status politik yang sudah dimiliki kaum Yahudi di negara lain.” Kemenangan kaum Zionis memang di atas angin. Hal ini, tulis Ovendale, karena Zionis didukung oleh mesin propaganda serta akses pada media yang mudah bagi mereka. Bandingkan dengan bangsa Arab yang tak memiliki jalur informasi untuk menyuarakan aspirasi mereka. Kelebihan lainnya adalah dengan menggunakan Holocaust untuk mendulang simpati. Hingga kini, terlepas dari pengakuan politik dari negara lain, kedudukan Palestina dan Israel tetap tak setara. Itu mengingat secara hukum, status Palestina hingga kini bukan sebuah negara. (zul) Baca juga :

Read More

Sebagian Besar Penduduk Gaza Berisiko Alami Kelaparan

Gaza — 1miliarsantri.net : Utusan Khusus pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk Gaza David Satterfield mengatakan “bila tidak semua” sebagian besar dari 2,2 juta populas Gaza terancam segera mengalami kelaparan. Hal ini ia sampaikan dalam forum yang diselenggarakan Komite Yahudi Amerika. “Terdapat risiko kelaparan bila tidak semua, sebagian besar 2,2 juta populasi Gaza. Ini bukan poin perdebatan. Ini merupakan fakta pasti, yang mana pakar Amerika Serikat, masyarakat internasional, (dan) para ahlinya, diyakini sebagai sesuatu yang nyata,” terang Satterfield seperti dikutip media Israel, Haaretz dan The Times of Israel, seperti dikutip Aljazirah, Jumat (12/4/2024). Utusan AS juga menekankan sejak karena Israel dianggap sudah menguasai Gaza maka negara itu memiliki kewajiban untuk membantu warga sipil di sana. “Dehumanisasi yang mengerikan terhadap warga Israel yang terjadi pada tanggal 7 Oktober dan dehumanisasi yang terus berlangsung terhadap para sandera Israel setiap hari mereka ditahan tidak dapat ditandingi oleh dehumanisasi terhadap warga sipil Palestina yang tidak berdosa,” lanjut Satterfield seperti dikutip dalam acara daring tersebut. Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga mengakui penderitaan rakyat Palestina dalam pernyataan Idul Fitri yang dirilis Rabu (10/4/2024) kemarin. “Saat keluarga dan komunitas berkumpul, kami memahami bahwa mereka melakukannya di tengah kondisi banyak komunitas Muslim di seluruh dunia sedang mengalami penderitaan. Pikiran kami tertuju pada penderitaan warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat, warga sipil di Suriah, perempuan yang menderita di bawah pemerintahan Taliban di Afghanistan, warga Uighur di Republik Rakyat China, warga Rohingya di Burma dan Bangladesh, dan banyak lagi lainnya,” tambahnya. Dalam pernyataan tersebut Blinken mengatakan sudah terlalu banyak orang yang harus kehilangan kerabat yang dicintai selama setahun terakhir ini. Sementara masih banyak lagi yang mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan keluarga mereka saat ini. “Saya berharap Idul Fitri tahun ini bisa menandai momen menuju masa depan yang lebih penuh harapan, kebebasan, dan damai,” ungkapnya. Ia menambahkan Amerika Serikat berkomitmen untuk membela hak asasi manusia di seluruh dunia, memberikan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang sangat membutuhkan, dan berupaya mewujudkan perdamaian, martabat, dan keselamatan yang langgeng bagi semua komunitas. (zul/AZ) Baca juga :

Read More

Safari Ramadhan MUI Bersama 11 Syekh Palestina Himpun Donasi Rp5,2 Miliar

Jakarta — 1miliarsantri.net : Safari Ramadhan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Baznas RI 1445 H berhasil menghimpun dana Rp 5,2 miliar. Donasi tersebut akan disalurkan untuk Palestina. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, safari Ramadhan ini melibatkan sebelas imam dari Palestina yang merupakan para mufti, akademisi, dan hafiz quran yang tinggal di lima negara yakni Palestina, Mesir, Arab Saudi, Turki dan Yordania. Sebelas Syekh Palestina tersebut bernama Sadeq Yasser Aqlaae, Fayez S. A. Elyaseh, Wesam Hasan Soliman Hassan Zaurob, Ahmad Bilal Hashem Abuzaid, Dr Sameeh KA Hajjaj, Ahmad Mohamad Said Mokalalaty, Ibrahim Mahmoud Mustafa Abu Mahmoud, Ahmad Hassan Muhammad Husain, Hamza Khaled Mahmoud Abdallah, Moutashem Nawaf Harafsheh, dan Belal NS Abujazar. Mereka telah berkeliling selama 20 hari di provinsi Banten, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah. Selama safari Ramadhan, sebelas imam tersebut menyampaikan informasi tentang Palestina selama ceramah. Mereka juga mendorong jamaah Masjid membantu Palestina dengan berdonasi melalui rekening kemanusiaan BAZNAS. “Semua masuk ke rekening Baznas dan akan segera disalurkan kepada Palestina yang telah dizalimi oleh Israel,” terang Prof Sudarnoto. Prof Sudarnoto mengungkapkan, imam dari Palestina sudah ada yang meninggalkan Indonesia satu orang, malam ini satu orang, kemudian sisanya akan berangkat pada esok hari. Dalam kesempatan ini, Prof Sudarnoto menyampaikan ucapan terimakasih kepada Baznas RI yang telah mengakomodir para Imam Palestina dalam program Safari Ramadhan ini. Selain itu, Ketua Pelaksana Safari Ramadhan ini menyampaikan rasa terimakasih kepada MPR RI yang telah berkenan menyambut dan menerima dengan hangat para imam Palestina. Prof Sudarnoto juga menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi yang tidak pernah berhenti memperjuangkan Palestina di berbagai forum internasional. “MUI akan memberikan dukungan terkait langkah-langkah Kemenlu memperjuangkan Palestina, semoga Ibu Menteri Retno Marsudi diberikan kesehatan dan lindungan dari Allah SWT,” pungkasnya. (wink) Baca juga :

Read More

Para Petinggi Israel Ternyata Pendatang dari Luar Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Pejabat-pejabat tinggi yang berada di pemerintah Israel saat ini, ternyata bukanlah keturunan asli Yahudi Palestina, atau dengan kata lain bukanlah orang-orang Yahudi yang disebut dalam kitab Suci Taurat. Pejabat-pejabat Israel saat ini dan para pendahulunya, ternyata merupakan keturunan Yahudi azkhenazi atau Yahudi yang berasal dari negeri Eropa. Di Israel, kelompok Yahudi Ashkenazi dianggap sebagai Yahudi Frist Class, sedangkan Yahudi lainnya dianggap sebagai warga negara kelas dua. Berikut ini daftar siapa saja pejabat-pejabat Israel yang ternyata bukanlah keturunan asli Yahudi Palestina? Pertama, Isaac Herzog. Isaac Herzog merupakan Presiden Israel keturunan Ireland and Eastern Europe. Kakeknya, Isaac Halevi Herzog adalah kepala rabi pertama Irlandia. Ayahnya Chaim Herzog adalah kepala militer Israel pertama (1948–50) dan ibunya, Aura Ambache lahir dari keluarga Eropa Timur yang bermigrasi ke Jaffa. Kedua, Benjamin Netanyahu. Netanyahu merupakan Presiden Israel keturunan Polandia, ibunya, Tzila Segal adalah seorang Yahudi kelahiran Israel dan ayahnya Benzion Mileikowsky yang mengubah namanya menjadi Benzion Netanyahu adalah seorang Yahudi sekuler dari Polandia. Ketiga, Yoav Gallant Gallant adalah Menteri Pertahanan Israel yang lahir di Jaffa pada 1958. Ia putra seorang Yahudi Polandia yang selamat dari Holocaust Nazi. Ibunya, Fruma, berada di kapal SS Exodus, sebuah kapal yang mengangkut pengungsi Yahudi Eropa ke Palestina. Gallant diperkirakan akan menjadi Perdana Menteri masa depan menggantikan Netanyahu. Keempat, Bezazel Smotrich. Smotrich merupakan Menteri Keuangan Israel. Nama belakangnya diambil dari kota Smotrych di Ukraina, tempat nenek moyangnya tinggal. Kakeknya Yaakov berimigrasi ke Palestina sebelum perang dunia II. Jadi Smotrich merupakan Yahudi Israel keturunan Ukraina. Kelima, Itamar Ben Gvir. Ben Gvir merupakan Menteri Keamanan Sayap Kanan Israel. Itamar Ben Gvir merupakan keturunan imigran Yahudi asal Irak, sedangkan ibunya adalah seorang imigran Yahudi Kurdi. Keenam, Menteri Perekonomian dan Industri Israel, Eli Cohen. Ia lahir di Holon dari k eluarga Yahudi imigran dari Maroko. Ketujuh, pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid merupakan seorang Yahudi asal Serbia, sedangkan kakeknya merupakan Yahudi Hongaria. Kedelapan, mantan menteri pertahanan dan kabinet perang, Benny Gantz, merupakan Yahudi keturunan Hungary (ibu) and Romania (ayah). Kesembilan, Duta besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan datang dari keluarga dari Yahudi Rumania dan Yahudi Hungaria Kesepuluh, Diplomat dan penasihat pemerintah Israel, Mark Revege merupakan Yahudi keturunan Australia dan German Kesebelas, Duta besar untuk Inggris, Tzipi Hotovely merupakan Yahudi keturunan Georgia. Bahkan hampir semua pendiri negara Israel ini adalah orang-orang Yahudi yang bermigrasi dari Eropa, khususnya Rusia, Eropa Timur, Eropa Tengah, dan sebagian Eropa Barat seperti Jerman. Mulai dari Chaim Weizmann (presiden pertama Israel) dan David Ben-Gurion (perdana menteri pertama Israel) yang secara resmi menyatakan pendirian negara Israel pada 1948 ternyata juga termasuk Yahudi Ashekenazi. Yahudi Ashkenazi yang jumlahnya paling besar di Israel adalah Yahudi first class. Sementara itu, penduduk Yahudi lainnya diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Di samping itu, orang-orang Arab, baik Muslim, Kristen, Druze, maupun yang lain-lain, yang enggan pergi dari rumahnya sejak kawasan itu dianeksasi Israel juga mendapat diskriminasi, bahkan lebih buruk. Aljazeera dalam artikel bertajuk “Israel’s Great Divide” pada 13 Juli 2016, misalnya, mengungkapkan perlakukan diskriminatif terhadap Yahudi Mizrahi dan Yahudi Sephar di sana. Diskriminasi itu juga ditulis Times of Israel dengan judul “Study Finds Huge Wage Gap Betwween Ashkenazim, Mizrahim” Yahudi Mizrahi adalah Yahudi dari kawasan Timur Tengah. Sementara itu, Yahudi Sephardi adalah Yahudi Spanyol, yang dahulu merupakan bekas penduduk Andalusia, yang sebagiannya kemudian pindah ke Afrika, terutama Maroko, atau Anatolia yang saat itu dikuasai Khilafah Ottoman, agar tidak dipersekusi dan diinkuisisi saat wilayah itu direbut dari tangan Muslim. Yang paling telak mengungkap penyamaran Yahudi Ashkenazi tersebut adalah pembuktian genetika. Tes DNA itu dilakukan Eran Elhaik, seorang ahli genetika dari Universitas Johns Hopkins School of Public Health, Amerika Serikat. Penelitiannya menyebutkan Yahudi Ashkenazi didominasi komponen Khazaria dengan angka fantastis, yaitu 30-38 persen. Sementara itu, komponen Timur Tengahnya, menurut wawancara khusus Haaretz dengan Elhaik, ternyata sangat kecil sehingga sulit untuk mengatakan mereka berasal dari Kanaan (Palestina). Hasil penelitiannya itu dipublikasikan di Jurnal Genome Biology and Evolution edisi 17 Januari 2013. Di jurnal terbitan Oxford University Press itu, hasil penelitian tersebut ditulis dengan judul The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypothese. (zul) Baca juga :

Read More

Tentara Israel Mengakui Lebih dari 14.350 anak syahid akibat serangan Israel ke Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Tentara zionis Israel mengakui bahwa memang menembaki beberapa orang yang mereka anggap sebagai ancaman. Dalam insiden tersebut, sejumlah saksi mata menyaksikan kerumunan warga sipil berupaya mendapatkan bantuan dari iring-iringan truk yang telah melewati pos pemeriksaan militer Israel di Kota Gaza. Namun, sesaat kemudian, militer Israel melepaskan tembakan. Truk-truk pembawa bantuan sontak berusaha untuk bergerak maju dan, menurut seorang saksi Palestina mengatakan sebagian korban tewas tertabrak truk-truk tersebut. Sebanyak 760 lainnya luka-luka dalam insiden itu, kata juru bicara Kementerian Kesehatan Hamas di Gaza, Ashraf al-Qudra, dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Ahad (7/4/2024) sore. Rekaman udara yang dirilis oleh militer Israel menunjukkan ribuan orang berada di dalam dan di sekitar truk. Adapun video setelah kejadian yang diunggah ke media sosial menunjukkan beberapa korban tewas digotong ke dalam kereta keledai serta truk bantuan yang sudah kosong. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas menyalahkan Israel atas insiden yang mereka sebut sebagai “pembantaian”. Pemerintah Prancis mengatakan “penembakan yang dilakukan tentara Israel ke warga sipil yang berupaya mengakses makanan” adalah tindakan yang “tidak dapat dibenarkan”. Di sisi lain, Presiden AS Joe Biden menyatakan kekhawatirannya bahwa insiden itu akan mempersulit upaya AS dan mediator lain untuk menengahi gencatan senjata sementara dalam perang antara Hamas dan Israel. Insiden itu terjadi beberapa jam sebelum Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mengumumkan pemberitahuan bahwa lebih dari 30.000 orang, termasuk 21.000 anak-anak dan perempuan, tewas di Gaza sejak dimulainya konflik. Sekitar 7.000 orang lainnya dilaporkan hilang dan 70.450 orang dirawat karena cedera selama empat bulan terakhir, menurut kementerian itu. “Ini sangat mengejutkan karena jika Anda menambahkan jumlah orang yang terluka dan jumlah orang yang hilang, Anda akan mendapatkan lebih dari 100.000 orang, yang mewakili 5% populasi,” ungkap Philippe Lazzarini, kepala badan PBB yang menangani pengungsi Palestina (Unrwa). PBB juga memperingatkan akan terjadinya kelaparan di bagian utara wilayah Gaza, tempat sekitar 300.000 orang bertahan hidup dengan sedikit makanan dan air bersih. Militer Israel melancarkan serangan udara dan darat skala besar untuk menghancurkan Hamas – yang disebut sebagai organisasi teroris oleh Israel, Inggris dan lainnya. Kelompok tersebut membunuh sekitar 1.200 orang di Israel selatan pada tanggal 7 Oktober dan membawa kembali 253 orang lainnya ke Gaza sebagai sandera. Insiden penembakan terjadi sesaat setelah pukul 04:00 waktu setempat (02:00 GMT), tak jauh dari pos pemeriksaan militer Israel di Jalan Rashid, yang membentang di sepanjang pantai Mediterania. Sumber-sumber Palestina menyebutkan lokasi penembakan berada di Bundaran Nabulsi, di tepi barat daya Kota Gaza. Insiden bermula ketika iring-iringan kendaraan yang mencakup 18 hingga 30 truk bantuan sepanjang beberapa ratus meter, melewati pos pemeriksaan militer Israel menuju arah utara. Tak lama kemudian, ketika truk terakhir hanya berjarak sekitar 70 meter sebelah utara pos pemeriksaan, kerumunan warga Palestina yang sebagian besar berkemah di dekat lokasi menunggu kedatangan bantuan, berjalan menghampiri konvoi tersebut. Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Kolonel Peter Lerner mengatakan, beberapa warga sipil mendekati pos pemeriksaan dan mengabaikan tembakan peringatan yang dilepaskan tentara di sana. Letkol Lerner mengatakan pasukan khawatir bahwa beberapa warga sipil dapat menimbulkan ancaman sehingga sejumlah tentara mulai menembaki warga yang mendekat. Letkol Lerner menyebutnya sebagai “respons terbatas”. Sejumlah warga Palestina mengatakan tentara Israel tidak melepaskan tembakan peringatan dan malah langsung menembaki warga. Warga Palestina tersebut mengatakan para warga berada sekitar 70 meter dari pos itu. Saat kerumunan massa menghampiri truk, dan tembakan senapan mesin dilepaskan dari pos pemeriksaan, kepanikan pun terjadi. Truk-truk itu – beberapa di antaranya ditumpangi banyak orang – mencoba bergerak maju. Saksi-saksi Palestina mengatakan banyak korban ditabrak oleh truk. Juru bicara Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza, Ashraf al-Qudra, mengatakan bahwa puluhan korban dalam kondisi kritis dibawa ke Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza. Namun, petugas medis di sana tidak mampu mengatasi kondisi tersebut akibat banyaknya korban dan tingkat keparahan kasus. Di rumah sakit, seorang pria bernama Tamer Shinbari tampak sedang menggendong jenazah temannya. Dia berkata kepada BBC bahwa dia pergi ke Bundaran Nabulsi dengan harapan mendapatkan sekantong tepung untuk keluarganya yang mengungsi di sekolah-sekolah di Jabalia. Dia mengatakan tentara Israel melepaskan tembakan “dan truk bantuan menabrak mayat-mayat tersebut”. Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Kota Beit Lahia, Hussam Abu Safieyah, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka telah menerima 10 jenazah dan puluhan orang cedera dari bagian barat Kota Gaza. Sementara itu, penjabat direktur Rumah Sakit al-Awda di Jabalia mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa mereka telah menerima 161 pasien luka-luka, sebagian besar di antaranya tampaknya tertembak. (zul/BBC) Baca juga :

Read More

Biden Meminta Mesir dan Qatar Untuk Menekan Hamas Guna Mempercepat Proses Perundingan Gencatan Senjata

Gaza — 1miliarsantri.net : Negosiasi untuk mengamankan gencatan senjata di Jalur Gaza, setelah sekitar setengah tahun pertempuran antara tentara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, akan dilanjutkan di Kairo pada Ahad (7/4/2024). Kabar tersebut dilaporkan oleh lembaga penyiaran swasta Al-Qahera News pada Sabtu, dengan mengutip “sumber tingkat tinggi Mesir” yang tidak disebutkan namanya, sementara belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh otoritas Mesir pada pukul 13.45 waktu setempat. Sumber tersebut menambahkan bahwa Direktur CIA AS Bill Burns, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman, serta delegasi Israel juga berpartisipasi dalam perundingan tersebut. Delegasi senior dari kelompok Hamas yang berbasis di Gaza juga diperkirakan tiba di Kairo pada Ahad (7/4/2024) atas undangan Mesir guna mendiskusikan perkembangan terkait gencatan senjata di Gaza, menurut laporan itu. Pada Jumat (5/4/2024), pejabat pemerintah AS mengatakan bahwa Presiden Joe Biden baru-baru ini telah mengirim dua surat khusus kepada Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al-Thani terkait dengan percepatan negosiasi gencatan senjata, menurut media AS. Pejabat tersebut mengatakan bahwa Biden melalui suratnya meminta Mesir dan Qatar untuk “menekan Hamas guna mempercepat negosiasi gencatan senjata.”. Belum ada komentar langsung dari Kairo atau Doha terkait isu tersebut. Israel melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sejak serangan lintas batas yang dilakukan kelompok Hamas Palestina pada awal Oktober, menewaskan kurang dari 1.200 orang. Lebih dari 33.100 warga Palestina telah tewas sejak saat itu, dan lebih dari 75.800 lainnya luka-luka di tengah kehancuran massal dan kelangkaan bahan kebutuhan pokok. Israel juga memberlakukan blokade yang melumpuhkan di Jalur Gaza, menyebabkan penduduknya, khususnya warga Gaza utara, berada di ambang kelaparan. Perang Israel telah memaksa 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah kelangkaan akut bahan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur daerah kantong tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB. Israel dituding melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang pada pekan lalu memintanya untuk melakukan lebih banyak upaya untuk mencegah kelaparan di Gaza. (zul) Baca juga :

Read More

Puluhan Ribu Syahid di Gaza Melalui Pertimbangan Mesin AI

Gaza — 1miliarsantri.net : Pasukan Israel menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menargetkan kelompok Hamas. Sejak gencatan senjata berakhir pada 1 Desember lalu, angkatan udara Israel sudah membombardir 3.500 titik di seluruh Gaza. Secara total, sudah lebih dari 18.600 warga Palestina di Gaza yang tewas akibat serangan tanpa henti yang digencarkan militer Israel. Teknologi AI digunakan pasukan Israel untuk menyasar target secara real-time. Dinamai ‘The Gospel’, AI tersebut mampu mengidentifikasi lawan Israel beserta peralatan yang dimiliki. Banyak yang mengkritik pemanfaatan AI pada serangan Israel. Pasalnya, sistem itu telah membantu pembunuhan belasan ribu warga sipil Palestina. “Tampaknya serangan Israel ingin memaksimalkan kehancuran di Gaza. Jika sistem AI diklaim bekerja secara efektif oleh pasukan Israel, lalu bagaimana menjelaskan banyaknya korban sipil?” ,” ungkap antropolog dan profesor emeritus dari Lancaster University, Lucy Suchman, dikutip dari GPB, Sabtu (6/4/2024). Engineering Director AI Assurance di Trail of Bits, Heidy Khlaaf, menyoroti kecanggihan sistem AI untuk membantu manusia. Jika pasukan Israel banyak salah sasaran dan membunuh warga sipil, lantas bagaimana AI bisa efektif untuk hal lain? “Algoritma AI saat ini masih banyak kekurangan dengan tingkat eror yang tinggi. Pemanfaatannya berbahaya untuk sesuatu yang membutuhkan presisi, akurasi, dan keamanan yang mumpuni,” lanjutnya. Menurut para pakar, pemanfaatan AI oleh pasukan Israel menjadi fase pertama penerapan teknologi itu untuk kebutuhan perang. Mantan Kepala Agen Intelijen Pertahanan AS, Robert Ashley, AI berpotensi memberikan perintah yang jauh lebih cepat ketimbang manusia. “Anda bisa membuat keputusan jauh lebih cepat ketimbang musuh. Inilah kegunaan AI,” sambungnya. Menurut dosen di Hebrew University, Tal Mimran, The Gospel merupakan salah satu dari beberapa program AI yang dikembangkan Israel. Mimran sebelumnya bekerja untuk pemerintah Israel dalam mengembangkan siste penargetan untuk operasi militer. Ia mengatakan, sistem AI Israel lainnya mampu mengumpulkan data intelijen penting dan mengklasifikasikannya secara otomatis. The Gospel sendiri, kata dia, tak cuma menargetkan manusia. Sistem itu mampu menargetkan peralatan perang lawan. Misalnya alat peluncuran roket, hingga fasilitas yang ditempati pasukan Hamas. Kecanggihan Gospel tak main-main. Jika intel tradisional bisa memproduksi target sekitar 30-100 dalam 300 hari, maka Gospel bisa menyodorkan 200 target dalam 10-12 hari. Artinya, Gospel bekerja 50 kali lebih cepat. “Intinya, Gospel meniru cara kerja kelompok intelijen di masa lalu dengan lebih cepat,” bebernya. (zul) Baca juga :

Read More

Yahudi Israel Siapkan Ritual Sapi Merah Untuk Menggempur Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Kisah mengenai sapi merah kembali mengemuka di tengah perang genosida Israel yang masih berkecamuk di Gaza. Para rabi senior Yahudi mengumumkan bahwa Temple Institute Israel akan mengadakan konferensi untuk membahas persiapan keagamaan terkait penyelenggaraan ritual penyembelihan Sapi merah. Konferensi ini, menurut kepercayaan agama Yahudi, bertujuan untuk menyucikan ribuan orang Yahudi dari najis orang mati. Konferensi penyembelihan sapi merah ini dilakukan setelah lima ekor sapi tersebut mencapai usia yang disyaratkan untuk proses penyucian, yaitu dua tahun. Mereka meyakini bahwa ritual penyucian dengan menyembelih dan membakar lima ekor sapi merah dapat membuka jalan bagi ratusan ribu umat Yahudi untuk menyerbu Masjid Al Aqsa. Artinya, mereka belum bisa menyerbu Masjid Al Aqsa hingga saat ini karena patuh terhadap larangan resmi para rabi Yahudi. Dalam kepercayaan ini juga, begitu sapi merah muncul, maka di saat itulah waktu datangnya juru selamat dan dimulainya pembangunan Kuil Ketiga di atas reruntuhan Masjid Al Aqsa. Kemudian umat Yahudi pun memasukinya. Februari 2024 lalu, ketika Israel memporak-porandakan Gaza, Temple Institute mengeluarkan iklan pengumuman yang meminta para pendeta Yahudi (Kohen) untuk melatih banyak relawan pada ritual penyucian dengan sapi merah. Bahkan telah ditetapkan syarat-syarat khusus bagi para relawan tersebut. Ritual ini dilakukan di sebidang tanah yang sebelumnya dirampas oleh kelompok Yahudi untuk tujuan penyembelihan sapi merah di Bukit Zaitun yang ada di seberang Masjid Al Aqsa. Namun pertanyaannya kemudian, dari mana awal mula munculnya klaim penyembelihan sapi merah ini? Sapi Merah adalah salah satu kepercayaan Yahudi yang diam-diam dikembangkan oleh kaum ekstremis Yahudi, sebagai persiapan untuk penghancuran Masjid Al Aqsa. Kelahiran sapi merah dalam agama Yahudi berawal dari kepercayaan orang Yahudi pada 2000 tahun lalu di era Kerajaan Pertama dan Kedua. Saat itu, berdasarkan klaim Yahudi, abu sapi muda berwarna merah disembelih pada tahun ketiga, lalu darahnya dicampur air, dan digunakan untuk menyucikan orang-orang Yahudi. Dalam kepercayaan orang-orang Yahudi, seekor sapi merah dahulu pernah disembelih pada masa Kuil Pertama. Kemudian pada masa Kuil Kedua, ada delapan ekor sapi merah yang disembelih. Kini mereka sedang mempersiapkan dimulainya Kuil Ketiga yang erat kaitannya dengan kelahiran sapi merah kesepuluh, yang menurut Temple Institute, sudah lahir pada 2018 lalu. Menurut klaim Yahudi, segera setelah sapi itu muncul, juru selamat akan turun, yang diikuti akhir zaman. Sapi merah dalam bahasa Ibrani berarti “bara aduma”, dan sapi tersebut adalah sapi betina. Orang-orang Yahudi menunggu sapi tersebut agar kemudian bisa menghancurkan Masjid Al Aqsa dan membangun Kuil Ketiga. Sapi merah betina ini memiliki bulu berwarna merah sempurna, tidak pernah bunting, tidak pernah diperah, dan tidak pernah diikatkan tali dilehernya. Juga lahir secara alami dan dibesarkan di tempat yang disebut sebagai Tanah Israel. Patut dicatat bahwa tanggal yang tercatat dalam kitab suci agama kelompok ini untuk menyembelih sapi merah dan menyucikan diri dengan abunya adalah hari kedua bulan Ibrani Nisan, yang tahun ini jatuh pada 10 April 2024 mendatang. Ini diperkirakan akan berbarengan dengan hari Idul Fitri. Kelompok ekstremis Kuil mengandalkan fakta bahwa mengadakan ritual penyucian dengan Sapi Merah dapat membuka jalan bagi ratusan ribu umat Yahudi yang religius untuk menyerbu Masjid Al-Aqsa. Jika hal ini terjadi, maka akan membuka jalan untuk melipatgandakan bahaya yang dihadapi Al-Aqsa dan melipatgandakan jumlah orang yang menyerbu dan melaksanakan ritual di sana. Lima sapi merah adalah salah satu kepercayaan Yahudi yang diam-diam dilakukan oleh kaum ekstremis Yahudi baru-baru ini, demi membuka jalan bagi pembongkaran Masjid Al-Aqsa. Menurut klaim Yahudi, segera setelah sapi itu muncul, waktu yang disebut “Juruselamat/sang Mesiah” akan tiba. Sapi merah dalam bahasa Ibrani “Bara Aduma” adalah sapi yang ditunggu-tunggu oleh umat Yahudi untuk merobohkan Masjid Al Aqsa dan membangun Kuil Ketiga. Kepala Rabi Israel melarang umat Yahudi memasuki Masjid Al Aqsa sebelum menyucikan diri menggunakan abu dari sapi merah. Itulah sebabnya umat Yahudi menunggu-nunggu kelahiran sapi merah untuk bisa masuk ke dalam Masjid Al Aqsa. Namun, sapi merah yang mereka tunggu-tunggu harus lahir dalam keadaan yang bebas dari kecacatan, tidak memiliki aib, dan hal-hal yang buruk. Juru bicara Kegubernuran Yerusalem, Marouf Al-Rifai mengatakan, hingga saat ini belum dapat dipastikan bahwa sapi-sapi tersebut sah secara hukum untuk mulai digunakan dalam langkah-langkah praktis, dan pemantauan masih terus dilakukan. Dia menyampaikan bahwa “kemerahan” pada sapi-sapi tersebut lebih baik dibandingkan setahun yang lalu, dan tampaknya alasannya adalah karena guncangan yang dialami sapi-sapi tersebut selama transportasi udara ke Israel, selain itu terhadap perbedaan kondisi iklim antara Amerika dan Israel. “Sapi-sapi ini berganti bulu setiap enam bulan sekali, yang berarti ada peluang tambahan bagi mereka untuk kembali ditumbuhi bulu merah. Ini juga berarti perlunya diskusi dan tindak lanjut setidaknya selama 12 bulan, sebelum beralih ke tahapan dan prosedur praktis,” jelas dia. Al-Rifai menambahkan, proyek “Pencarian Sapi Merah” dipimpin oleh dua organisasi sayap kanan ekstremis. Pertama, Organisasi Boneh Israel, yang mencakup kelompok Kristen evangelis dan tokoh pemukim sayap kanan ekstremis, yang dipimpin oleh “Tzachi Mamo,” yang juga dikenal karena aktivitas kolonial Yahudinya di lingkungan Palestina di Yerusalem Timur, khususnya di lingkungan Sheikh Jarrah. Adapun organisasi kedua, menurut Al-Rifai, disebut “Institut Kuil” dan dipimpin oleh Rabi Yisrael Ariel yang rasis, yang merupakan pengikut gerakan ekstremis “Kach”, yang dilarang bahkan menurut hukum Israel. Rabi Ariel dianggap sebagai salah satu orang yang dekat dengan ekstremis sayap kanan Itamar Ben Gvir, yang menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional di pemerintahan Benjamin Netanyahu. (zul/AP) Baca juga :

Read More