Semua Calhaj Indonesia Sudah Diberangkatkan ke Mekah

Madinah — 1miliarsantri.net : Semua jamaah haji gelombang pertama di Kota Madinah sudah diberangkatkan ke Makkah, Sabtu (1/6/2024) pagi Waktu Arab Saudi (WAS). Jamaah dari hotel sudah memakai ihram menuju Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat dan sholat sunnah. Setelah itu mereka diberangkatkan menuju Makkah sekitar pukul 09.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan sebanyak 4.743 dan akan melakukan umroh wajib sebelum puncak haji. “Alhamdulillah semua jamaah dalam keadaan sehat dan telah diberangkatkan ke Makkah untuk melaksanakan umrah wajib,” kata Ali. Kepala PPIH Daerah Kerja Madinah Ali Machzumi ditemui di Masjid Bir Ali, menjelaskan jamaah haji kloter keberangkatan terakhir sudah diberangkatkan dari hotel di sektor 3 dan sektor 5. Ada 12 kelompok terbang (kloter) yang diberangkatkan, yakni dari kloter Embarkasi Balikpapan (BPN-07) dan Surabaya (SUB-45). Dua kloter tersebut menjadi rombongan terakhir yang meninggalkan Madinah. Ali mengungkapkan, setelah semua jamaah haji reguler diberangkatkan ke Makkah, para Petugas Penyelenggara Haji Indonesia (PLIH) Daker Madinah akan menyusul ke Makkah. Petugas Haji Daker Madinah akan bekerja membantu kelancaran dan kenyamanan jamaah calon haji Indonesia di Arafah.. Berdasarkan data Siskohat Kementerian Agama sebanyak 90.131 calon haji reguler Indonesia gelombang pertama tiba di Arab Saudi melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah. Setelah tinggal 9 hari di Madinah, mereka kemudian diberangkatkan menuju Makkah untuk mengikuti rangkaian puncak ibadah haji pada 15 Juni 2024 mendatang. (drus) Baca juga :

Read More

Kelaparan Akut Terus Menghantui Jalur Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Kelaparan akut terus menghantui warga di Jalur Gaza, seiring blokade yang masih terus dilakukan militer zionis Israel. Seorang anak Palestina berusia 13 tahun dilaporkan meninggal karena kelaparan di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir Al-Balah di Jalur Gaza tengah di tengah penutupan perbatasan Rafah. Kematian tersebut membuat jumlah korban jiwa akibat kekurangan gizi dan dehidrasi meningkat menjadi 37 orang di Jalur Gaza. Menurut sumber-sumber lokal, situasi kesehatan di Jalur Gaza kian parah dengan perluasan operasi militer penjajah Israel di kota Rafah ke arah barat, di mana semua rumah sakit tidak dapat beroperasi. Abdelqader Al-Sarhi, nama bocah 13 tahun itu meninggal pada Sabtu pagi (1/6/2024) di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah. Selain kekurangan gizi, ia juga meninggal karena kurangnya perawatan medis di tengah penutupan perbatasan Rafah. Penjajah Israel terus menutup penyeberangan Rafah selama 26 hari, di tengah peringatan akan memburuknya situasi kemanusiaan akibat kurangnya aliran pasokan penyelamat jiwa kepada warga di berbagai wilayah, terutama di wilayah Jalur Gaza bagian utara. Jalur Gaza, khususnya wilayah utara, sedang bergulat dengan kekurangan makanan, air, obat-obatan, dan bahan bakar. Bahkan bantuan yang mencapai wilayah selatan Gaza tidak mencukupi, terutama dengan adanya pengungsian lebih dari 1,3 juta orang dari Gaza utara ke selatan, terutama ke Rafah. Pasukan pendudukan Israel tidak hanya mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza utara tetapi juga dengan sengaja menargetkan warga saat mereka menunggu datangnya pasokan bantuan yang sangat dibutuhkan. Hal ini mengakibatkan pembunuhan tragis terhadap ratusan warga sipil dan melukai lebih banyak lagi. Alexandra Saieh, kepala kebijakan dan advokasi kemanusiaan di Save the Children, mengatakan kepada Aljazirah bahwa “Gaza sedang menyaksikan tingkat malnutrisi terburuk, khususnya malnutrisi anak, di seluruh dunia saat ini”. Saieh mengatakan bahwa jumlah kematian anak akibat kekurangan gizi yang dilaporkan hanyalah “puncak gunung es” karena hanya mewakili anak-anak yang mampu “mencapai titik medis” yang mana kematian mereka dicatat. “Anak-anak di Gaza kelaparan, mereka tidak mendapatkan air bersih, mereka tidak mendapatkan bantuan medis yang memadai dan ini semua dipicu oleh terhambatnya bantuan kemanusiaan secara sistematis,” katanya, seraya menyebutkan bahwa pusat stabilisasi malnutrisi di Tal as-Sultan, di Rafah barat, harus ditutup dalam sepekan terakhir. Pada Maret lalu, PBB memperingatkan akan terjadinya kelaparan. Dan mereka – sebagai organisasi kemanusiaan – belum diberi akses untuk mencegah kelaparan tersebut sehingga kami memperkirakan situasinya akan menjadi lebih buruk,” katanya. “Dan di wilayah selatan, kami khawatir bahwa kondisi seperti kelaparan yang kita lihat di Gaza utara awal tahun ini sedang terjadi, dan mungkin sudah terjadi, di Gaza selatan,” ungkapnya. Rumah sakit terakhir yang berfungsi di Rafah, Rumah Sakit al-Helal al-Emirati, tidak berfungsi setelah dievakuasi pada 30 Mei, menurut kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di wilayah pendudukan Palestina. Dua rumah sakit utama lainnya di Rafah, Rumah Sakit Khusus al-Najjar dan Kuwait, berhenti berfungsi masing-masing pada tanggal 7 Mei dan 28 Mei, kata organisasi tersebut. Hampir tidak ada layanan kesehatan yang tersedia di kota Rafah. Hanya satu rumah sakit lapangan yang masih berfungsi sebagian, namun saat ini tidak dapat diakses karena adanya permusuhan di sekitarnya dan hanya dapat memberikan layanan dasar kepada pasien di dalamnya. Dua rumah sakit lapangan berfungsi di wilayah pesisir Rafah (al-Mawasi) tetapi mereka sangat kewalahan mengingat besarnya kebutuhan,” kata WHO dalam sebuah postingan di X. Organisasi tersebut mendesak gencatan senjata untuk memulihkan rumah sakit di sana. “Dengan meningkatnya serangan akibat operasi militer yang sedang berlangsung, kurangnya layanan kesehatan akan menyebabkan peningkatan kematian dan penderitaan yang tidak perlu.” Juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mengatakan anak-anak di Gaza kelaparan karena masih adanya hambatan terhadap akses bantuan. Setidaknya 36.379 warga Palestina telah syahid dan 82.407 terluka dalam serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober, kata Kementerian Kesehatan di Gaza. Kementerian menambahkan bahwa 95 orang tewas dan 350 orang terluka dalam periode pelaporan 24 jam terakhir. “Kami terus menegaskan bahwa kewajiban pemerintah Israel berdasarkan hukum untuk memfasilitasi pengiriman bantuan tidak berhenti di perbatasan, tidak berhenti ketika Anda turun hanya beberapa meter melintasi perbatasan. Bantuan yang masuk tidak sampai ke masyarakat. Menurut saya, mereka tentu saja tidak mendapatkan jumlah yang sangat mereka perlukan untuk mencegah kelaparan, untuk mencegah segala jenis kengerian yang kita lihat,” papar Jens Laerke. (zul) Baca juga :

Read More

Pemegang Visa Kunjungan Dilarang Masuk Mekah Madinah

Makkah — 1miliarsantri.net : Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menegaskan kebijakan yang melarang pemegang visa kunjungan untuk menunaikan ibadah haji. Aturan baru tersebut menegaskan bahwa pengunjung dengan visa kunjungan tidak diperbolehkan masuk atau berada di Mekkah sejak 15 Zulkaidah hingga 15 Zulhijah 1445 H atau 23 Mei sampai 21 Juni 2024. Otoritas Keamanan Publik Arab Saudi mengatakan lebih dari 20.000 pemegang jenis visa kunjungan dikenakan sanksi terkait larangan pengunjung tinggal di Mekkah. Pihak berwenang Saudi menekankan bahwa pelanggar akan dikenakan hukuman sesuai dengan peraturan kerajaan. Adapun tujuan dari aturan ini adalah untuk menjamin keselamatan jamaah haji saat melakukan ibadah. Keputusan tersebut merupakan bagian dari langkah-langkah keamanan dan organisasi yang diambil oleh Kementerian Dalam Negeri. Kementerian baru-baru ini mengumumkan bahwa pelanggar akan dikenakan denda sebesar SR10.000 atau sekitar Rp43,3 juta. Denda ini berlaku untuk pelanggar baik itu warga negara Saudi, ekspatriat, dan pengunjung yang tertangkap memasuki Mekkah tanpa izin haji selama periode 2 Juni hingga 20 Juni. (dul) Baca juga :

Read More

Israel Intensifkan Serangan ke Rafah

Gaza — 1miliarsantri.net : Warga Rafah melaporkan telah terjadi kembali penembakan artileri dan tembakan senjata yang intens pada Kamis (30/5/2024) di kota paling selatan Gaza usai Israel menyatakan telah menguasai koridor strategis Philadelphi di perbatasan wilayah Palestina dengan Mesir. Militer Israel meluncurkan operasi penyerbuannya ke Rafah sejak awal Mei meskipun ada keberatan internasional atas nasib warga Palestina yang berlindung di sana. Serangan akhir pekan ini yang memicu kebakaran dan menewaskan puluhan warga di kamp pengungsi telah memicu gelombang kecaman baru, termasuk kampanye media sosial dengan slogan “Semua Mata Tertuju pada Rafah” yang telah dibagikan oleh puluhan juta pengguna. Israel menyatakan pada Rabu (29/5/2024) bahwa pasukannya telah mengambil alih koridor Philadelphi sepanjang 14 kilometer (8,5 mil) di perbatasan Gaza-Mesir, yang diklaim digunakan Hamas untuk penyelundupan senjata. Juru bicara militer Israel Laksamana Muda Daniel Hagari mengumumkan pihaknya telah mengambil “kendali operasional” atas area perbatasan sempit itu, di mana ia juga mengklaim pasukannya “menemukan sekitar 20 terowongan.” Mesir, yang telah lama berperan sebagai mediator konflik dan semakin vokal dalam mengkritik operasi Israel, telah menolak semua klaim tentang adanya terowongan penyelundupan yang melintasi zona penyangga itu. “Israel menggunakan tuduhan ini untuk membenarkan kelanjutan operasi di kota Palestina Rafah dan memperpanjang perang untuk tujuan politik,” terang sumber tingkat tinggi Mesir yang dikutip oleh media afiliasi pemerintah Al-Qahera News. Pejabat Mesir mengatakan kemungkinan pengambilalihan Philadelphi oleh Israel bisa melanggar perjanjian perdamaian bersejarah antara kedua negara pada 1979, meskipun belum ada komentar resmi dari Kairo sejak pengumuman militer tersebut. Dalam kunjungan di Beijing, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyerukan peningkatan bantuan kemanusiaan untuk Gaza yang dikepung, dan menegaskan kembali penentangan negara terhadap “upaya apapun untuk memaksa pengungsian warga Palestina secara paksa dari tanah mereka.” Pemimpin Tiongkok Xi Jinping, sementara itu, pada Kamis mendesak diadakannya “konferensi perdamaian internasional yang kredibel, otoritatif dan efektif” untuk mengatasi perang ini, saat ia menjamu para pemimpin Arab termasuk Sisi. Sebagai informasi, di Jalur Gaza, saksi melaporkan tembakan artileri dan senjata Israel yang intensif di Rafah bagian tengah dan barat. Saksi juga menyebutkan pasukan Israel telah menghancurkan beberapa bangunan di wilayah timur kota tempat invasi Israel dimulai pada 7 Mei, yang awalnya berfokus pada penyeberangan perbatasan Rafah yang vital, pintu masuk utama untuk bantuan kemanusiaan. (zul) Baca juga :

Read More

Erdogan Menilai Israel yang Tidak Terlindungi oleh Hukum Merupakan Ancaman

Turki — 1miliarsantri.net : Pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di parlemen Turki pada Rabu (29/5/2024) lalu mengatakan tidak ada negara yang aman kecuali Israel mematuhi hukum internasional. Pernyataan Erdogan tersebut mengacu pada tindakan Israel di Jalur Gaza yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan meskipun ada keputusan dan resolusi yang menentangnya “Tidak ada negara yang aman kecuali Israel menerima hukum internasional dan menganggap dirinya terikat oleh hukum internasional,” ungkanya. Erdogan menilai Israel yang tidak terlindungi oleh hukum merupakan ancaman tidak hanya bagi Palestina atau Gaza tetapi juga bagi perdamaian global dan kemanusiaan secara keseluruhan. Ia mengecam serangan Israel pada Ahad (26/5/2024) terhadap sebuah kamp pengungsi di Rafah, Gaza selatan yang menewaskan sedikitnya 45 orang dan menyulut api yang menyebar dengan cepat melalui tenda-tenda dan akomodasi sementara. Presiden Turki itu turut mengkritik ketidakmampuan sistem internasional, termasuk badan-badan seperti PBB untuk menghentikan kekejaman yang sedang berlangsung di Gaza yang menyebabkan lebih dari 36.000 warga Palestina terbunuh dan telah menyebabkan kehancuran yang luas, pengungsian, dan kondisi kelaparan. “PBB bahkan tidak mampu melindungi personel atau pekerja bantuannya sendiri, apalagi menghentikan genosida. Bukan hanya umat manusia yang binasa di Gaza, tapi PBB juga dengan semangatnya,” ucapnya. Mengecam Barat atas dugaan keterlibatannya dalam perang Israel di Gaza, pemimpin Turki tersebut mengatakan bahwa tidak ada keyakinan yang menganggap sah untuk membakar warga sipil yang tidak bersalah sampai mati di tenda mereka. Sementara itu, dunia menyaksikan kebiadaban vampir yang dikenal sebagai Netanyahu melalui siaran langsung. “Negara Amerika, tangan Anda juga berlumuran darah; para kepala negara dan pemerintahan Eropa, Anda telah terlibat dalam barbarisme Israel karena Anda tetap diam,” ujarnya. Lebih lanjut dia mengatakan nilai-nilai seperti demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan berbicara dan pers, hak-hak perempuan dan anak-anak telah musnah karena kematian umat manusia di Gaza. Zionisme, sebutnya, sedang dibuka kedoknya di seluruh dunia. “Kaum muda mulai melihat betapa Zionisme adalah sebuah penyimpangan yang melanggar hukum dan saya berharap revolusi ini akan membebaskan dunia dari penyimpangan Zionis,” pungkasnya. (sir) Baca juga :

Read More

Israel Perluas Serangan ke Rafah

Gaza — 1miliarsantri.net : Tentara Israel pada Selasa kemarin mulai memperluas serangannya di Rafah, Jalur Gaza selatan, dengan merebut lebih banyak wilayah perbatasan dengan Mesir, atau yang dikenal sebagai Koridor Philadelphia. Tindakan ini berarti bahwa tentara Israel semakin bergerak maju untuk mengisolasi Gaza dari kontak dengan Mesir, dan pada akhirnya, dengan seluruh dunia. Tentara Israel memperluas serangannya ke Rafah di tengah penembakan dan pengeboman besar-besaran, hingga memaksa ribuan orang meninggalkan Rafah barat menuju Khan Younis dan daerah-daerah di Jalur Gaza tengah. Sedikitnya 16 warga Palestina tewas dalam pengeboman Israel di Rafah pada Senin malam (27/5/2024), menurut sumber medis. Serangan Israel saat ini ke Rafah membuat wilayah tersebut hanya berjarak 3 kilometer dari pantai Rafah, dan menempatkan lebih dari dua pertiga wilayah Koridor Philadelphia di bawah kendali Israel. Koridor Philadelphia, sepanjang 14 kilometer, adalah zona penyangga demiliterisasi yang membentang di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir, sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian setelah penandatanganan Perjanjian Camp David tahun 1978 antara Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Sebelum Israel melancarkan operasi militer ke Rafah pada 6 Mei 2024, koridor tersebut menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari 1,5 juta pengungsi Palestina yang meninggalkan wilayah mereka di Jalur Gaza karena serangan gencar Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Israel melanjutkan serangan brutal di Gaza meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera. Sedikitnya 36.050 warga Palestina telah terbunuh di Gaza dan lebih dari 81.000 orang lainnya terluka sejak Israel membalas serangan kelompok Palestina, Hamas. (zul/AJ) Baca juga :

Read More

Spanyol, Norwegia dan Irlandia Resmi Akui Palestina

Madrid — 1miliarsantri.net : Tiga negara yakni Spanyol, Norwegia dan Irlandia resmi mengakui dan mendukung kemerdekaan negara Palestina. Upaya terkoordinasi oleh tiga negara Eropa Barat ini dirancang untuk menambah tekanan internasional terhadap Israel yang terus melakukan serangan ke jalur Gaza, khususnya Kota Rafah. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan kepada rakyatnya dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi bahwa “ini adalah keputusan bersejarah yang memiliki satu tujuan, yaitu untuk membantu warga Israel dan Palestina mencapai perdamaian.” Irlandia dan Norwegia segera bergabung dengan Spanyol untuk meresmikan keputusan yang telah mereka umumkan bersama pada minggu sebelumnya. Bendera Palestina telah dikibarkan di Dublin di luar Leinster House, gedung parlemen Irlandia. “Ini adalah momen penting dan saya pikir ini memberi sinyal kepada dunia bahwa ada tindakan praktis yang dapat Anda ambil sebagai negara untuk membantu menjaga harapan dan tujuan solusi dua negara tetap hidup di saat yang lain mencoba untuk mengebomnya hingga terlupakan,” ungkap Perdana Menteri Irlandia Simon Harris dihadapan media. Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “selama lebih dari 30 tahun, Norwegia telah menjadi salah satu pendukung terkuat untuk negara Palestina. Hari ini, ketika Norwegia secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara, merupakan tonggak sejarah dalam hubungan antara Norwegia dan Palestina.” Meskipun puluhan negara telah mengakui negara Palestina, tidak ada satu pun negara besar di Barat yang melakukannya. Namun, bergabungnya tiga negara Eropa ke dalam kelompok ini merupakan kemenangan bagi upaya Palestina di dunia opini publik. Hubungan antara Uni Eropa dan Israel telah menurun seiring pengakuan diplomatik oleh dua anggota Uni Eropa, dan Madrid bersikeras pada hari Senin bahwa Uni Eropa harus mengambil tindakan terhadap Israel atas serangan mematikan yang terus berlanjut di kota Rafah, Gaza selatan. Setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa hari Senin, Menteri Luar Negeri Irlandia Micheál Martin mengatakan “untuk pertama kalinya dalam pertemuan Uni Eropa, secara nyata, saya telah melihat adanya diskusi yang signifikan mengenai sanksi” untuk Israel. Harris, Perdana Menteri Irlandia, bersikeras pada Selasa bahwa Uni Eropa harus mempertimbangkan sanksi ekonomi untuk Israel, dengan mengatakan “Eropa bisa melakukan lebih banyak lagi.” Sebagai informasi, sekitar 140 negara – lebih dari dua pertiga anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – mengakui negara Palestina. Penambahan tiga negara Eropa Barat ke dalam kelompok tersebut kemungkinan akan memberikan tekanan kepada negara-negara besar di Uni Eropa, seperti Prancis dan Jerman, untuk memikirkan kembali posisi mereka. (put) Baca juga :

Read More

Jumlah Warga Palestina yang Meninggal di Gaza Mencapai 35.984 orang

Gaza — 1miliarsantri.net : Kementerian Kesehatan Palestina pada Minggu (26/5/2024) mengatakan ada sebanyak 35.984 orang telah terbunuh selama lebih dari tujuh bulan perang antara Israel dan militan Palestina di wilayah Gaza. Jumlah tersebut termasuk sedikitnya 81 orang yang tewas dalam 24 jam terakhir. Selain itu, sejak perang dimulai ketika militan Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober, 80.643 orang telah terluka di Jalur Gaza. Angka tersebut mengalami peningkatan dari pekan lalu, dimana pada Selasa (21/5/2024), jumlah korban tewas di Gaza mencapai 35.562 orang, sementara korban luka 79.652 orang. Israel terus melanjutkan serangan brutalnya di Jalur Gaza meskipun pengadilan dunia telah memerintah Israel untuk menghentikan serangannya di wilayah tersebut, khususnya di kota Rafah. Pengadilan dunia juga telah memerintahkan Israel untuk tetap membuka penyeberangan Rafah antara Mesir dan Gaza, yang ditutup awal bulan ini pada awal serangannya terhadap kota tersebut. Namun, setelah keputusan itu diumumkan, Israel kembali melancarkan serangan di Jalur Gaza sejak Sabtu pagi. Sementara itu, bentrokan antara tentara Israel dan sayap bersenjata Hamas terus berlanjut. Perlu diketahui, lebih dari tujuh bulan konflik antara Israel-Palestina, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang dilumpuhkan militer zionis. Saksi Palestina dan tim AFP melaporkan serangan Israel terjadi di Rafah dan pusat kota Deir al-Balah. “Kami berharap keputusan pengadilan akan memberikan tekanan pada Israel untuk mengakhiri perang pemusnahan ini, karena tidak ada lagi yang tersisa di sini,” ungkap Oum Mohammad Al-Ashqa, seorang wanita Palestina dari Kota Gaza yang mengungsi ke Deir al-Balah akibat perang tersebut. (zul/AJ) Baca juga :

Read More

Beberapa Truk Bantuan Kemanusiaan Sudah Tiba di Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Truk-truk bantuan kemanusiaan sudah mulai memasuki Gaza melalui penyeberangan Karem Abu Salem di selatan, sementara kondisi kehidupan ratusan ribu warga Palestina terus memburuk akibat perang Israel yang tak henti-hentinya di daerah kantong Palestina tersebut. Penyeberangan Karem Abu Salem terletak di persimpangan Israel, Gaza dan Mesir. TV Al-Qahera yang berafiliasi dengan pemerintah Mesir pada Minggu membagikan video di X, yang menunjukkan truk-truk bantuan memasuki Gaza melalui penyeberangan, yang dikenal oleh warga Israel sebagai Kerem Shalom. Pihak official pemberi bantuan mengatakan setidaknya ada 200 truk yang barus bisa memasuki Gaza. Empat truk pertama yang memasuki Gaza membawa bahan bakar untuk rumah sakit dan desalination plants, kata Hani Mahmoud dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Deir el-Balah di Gaza. Ia mengatakan empat truk lainnya diperkirakan akan membawa gas untuk memasak. Mahmoud mengatakan, bantuan tersebut akan didistribusikan kepada organisasi-organisasi yang seharusnya menerima bantuan, yang akan membawanya ke gudang-gudang di zona pengungsian di kota Khan Younis dan pusat Gaza. Namun, Mahmoud juga mengatakan bahwa bantuan itu sangat tidak cukup. “200 truk tersebut tidak cukup untuk mengatasi hambatan dan keadaan ekstrim yang diakibatkan oleh serangan pengeboman besar-besaran serta kondisi yang terjadi di lapangan. Kita berbicara tentang mekanisme bantuan yang rusak di lapangan dalam hal memastikan keamanan bagi para pekerja bantuan, dalam hal infrastruktur, serta gudang-gudang yang telah diserang dengan sengaja beberapa kali di masa lalu,” urao Mahmoud. Volume pengiriman pada Minggu masih jauh dari apa yang dikatakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu minimal 500 hingga 600 truk yang dibutuhkan setiap hari untuk memberi makan jutaan orang – sebagian besar dari mereka adalah para pengungsi – yang berada di ambang kelaparan. Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), sebuah pemantau kelaparan global, telah memperingatkan akan terjadinya kelaparan yang akan segera terjadi di beberapa bagian Gaza, yang dihuni oleh 2,3 juta orang. Sebagai informasi, bantuan untuk Gaza sempat tertahan di penyeberangan perbatasan Rafah sejak awal Mei setelah pasukan Israel meningkatkan serangan militernya di wilayah tempat ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi berlindung. Rafah merupakan pintu masuk utama ke Gaza untuk bantuan kemanusiaan dan pasokan komersial. Para pejabat kemanusiaan PBB, kelompok-kelompok bantuan dan petugas kesehatan telah memohon kepada Israel selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, untuk mengizinkan pengiriman makanan, bahan bakar, dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan ke Gaza, dan memperingatkan bahwa jika hal itu tidak dilakukan, maka akan terjadi kelaparan massal di wilayah tersebut. Pada Jumat, Mesir mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan PBB mengalir ke Gaza untuk sementara waktu melalui Karem Abu Salem hingga mekanisme hukum untuk membuka kembali penyeberangan Rafah dari sisi Palestina. Ada laporan bahwa beberapa pasokan makanan yang menuju Gaza mulai membusuk karena adanya penundaan pengiriman yang sempat terjadi. (zul/AJ) Baca juga :

Read More

Irlandia, Norwegia dan Spanyol, Mengakui Negara Palestina

Washington — 1miliarsantri.net : Gedung Putih pada Rabu (22/5/2024) lalu menegaskan kembali penolakannya terhadap pengakuan sepihak atas negara Palestina setelah tiga negara Eropa yaitu Irlandia, Norwegia dan Spanyol, mengakui negara Palestina. Menanggapi tindakan ketiga negara Eropa itu, Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan menyatakan bahwa negara Palestina mana pun harus dibentuk melalui negosiasi langsung dengan Israel. “Apa yang bisa saya sampaikan kepada Anda adalah kami percaya satu-satunya cara Anda akan mencapai solusi dua negara yang bermanfaat bagi Israel dan Palestina adalah melalui negosiasi langsung antara kedua pihak,” katanya kepada wartawan di Gedung Putih. Ketiga negara Eropa pada Rabu (22/5/2024) mengatakan bahwa mereka akan secara resmi mengakui negara Palestina pada 28 Mei, sebuah langkah yang merupakan pukulan besar bagi Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah lama menentang negara Palestina, dan baru-baru ini menolaknya pada Rabu (22/5) ketika dia mengatakan pengakuan Irlandia, Norwegia dan Spanyol itu “adalah hadiah bagi terorisme dan tidak akan membawa perdamaian.” Dia menuduh bahwa negara Palestina akan menjadi “negara teroris,” dan menegaskan bahwa pemerintahnya “tidak akan menyetujui hal ini” dan “tidak akan menghentikannya untuk mengalahkan Hamas.” Bezalel Smotrich, menteri keuangan Israel, secara terpisah mengancam akan mengambil “tindakan hukuman yang keras” terhadap Otoritas Palestina (PA) sebagai pembalasan atas pengakuan negara Palestina, termasuk memotong pendapatan pajak pemerintah. “Pada rapat kabinet terakhir, banyak menteri, termasuk saya, dengan tegas mengajukan tuntutan untuk tindakan hukuman yang keras terhadap Otoritas Palestina atas tindakan sepihaknya terhadap Israel, termasuk upayanya untuk mendapatkan pengakuan sepihak dan dukungannya terhadap kasus hukum terhadap Israel di Den Haag,” kata Smotrich. Pendapatan pajak – yang dikenal di Palestina dan Israel sebagai “maqasa” – dikumpulkan oleh pemerintah Israel atas nama Otoritas Palestina atas impor dan ekspor Palestina, dan Israel sebagai imbalannya mendapat komisi sebesar 3 persen. Pendapatannya diperkirakan sekitar 188 juta dolar AS (sekitar Rp3 triliun) setiap bulan dan merupakan sumber pendapatan utama bagi Otoritas Palestina. “Apa yang dapat dilakukan Amerika Serikat melalui diplomasi yang keras dan diplomasi ‘informal’, yang dipimpin oleh presiden menteri luar negeri, saya sendiri dan pihak lain sedang mewujudkan visi kawasan yang terintegrasi, Israel yang aman, dan solusi dua negara,” kata Sullivan. Dia mengatakan hal tersebut ketika ditanya mengenai penolakan lama Israel untuk terlibat dalam proses apa pun yang akan mengarah pada pembentukan negara Palestina merdeka. “Israel adalah negara yang berdaulat, pada akhirnya mereka harus memutuskan apa yang akan mereka lakukan. Apa yang bisa kita lakukan sebagai teman adalah mencoba melakukan upaya-upaya untuk mewujudkan hal tersebut,” pungkasnya. (ris) Baca juga :

Read More