Melihat 24 tahun Perjalanan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama

Dengarkan Artikel Ini

Beberapa konsolidasi program yang sudah pernah dilakukan ISNU di antaranya adalah: pertama, capacity building di bidang sumber daya manusia. Programnya yakni berbentuk pelatihan kewirausahaan, leadership, manajerial, dll.

Kedua, konsolidasi program di bidang intelektualitas dengan menjembatani warga NU yang ingin mendapatkan beasiswa S2 dan S3. Ketiga, advokasi undang-undang, yakni mengadvokasi undang-undang yang ada seperti UU Minerba, Wakaf, dan lainnya.

Keempat, bidang ekonomi. ISNU menghadirkan program-program pemberdayaan ekonomi seperti rintisan di bidang micro finance, memperkuat jaringan, mencarikan modal dengan bunga rendah, dan lainnya.

Menurut Cak Ali, Kehadiran ISNU sejauh ini merangkul para sarjana NU yang secara struktural tidak masuk di NU. ISNU juga memiliki program-program untuk bisa merangkul sarjana NU yang tidak terserap menjadi pengurus NU.

Saat ini terdapat ratusan guru besar yang masuk di kepengurusan ISNU dari tingkat pusat hingga daerah, dan mendekati 3.000 jumlah doktornya, serta yang S1 dan S2 tak terbilang jumlahnya.

Selain itu, NU juga memiliki sekitar 1400-an profesor. Menurut Cak Ali, kondisi ini membuat NU bukan lagi organisasi tradisional dengan stigma terbelakang, namun organisasi intelektual.

Dengan sumber daya manusia yang ada, ISNU memiliki tanggung jawab besar untuk mengembangkan NU. ISNU sebagai organisasi yang didirikan berbasis intelektualitas, profesionalitas, dan keahlian tertentu diharapkan dapat membangun kehidupan NU, bangsa, dan negara Indonesia. (rid)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca