Rasa Trauma Anak-anak Palestina Sangat Mendalam

Dengarkan Artikel Ini

Menurut pejabat Hamas, putaran terakhir serangan udara Israel yang dimulai pada 9 Mei telah menghancurkan 100 unit rumah dan merusak 2.000 bangunan. Koordinator Khusus PBB untuk Proses Timur Tengah Tor Wennesland mengutuk serangan udara Israel yang menewaskan warga sipil. Sementara Israel membantah menargetkan warga sipil. Wennesland juga mengutuk penembakan roket yang sembarangan ke Israel.

Aktivis sosial, petugas medis Bulan Sabit Merah Palestina, dan psikiater mengunjungi daerah yang terkena dampak. Mereka bertemu dengan anak-anak dan keluarganya untuk memberikan panduan pemulihan.

“Saya datang ke sini untuk mengalihkan diri dari tekanan. Mereka mengatakan ingin mengebom dua rumah dan sebaliknya, mereka mengebom seluruh alun-alun,” ujar Joudy Harb berusia 11 tahun saat relawan dengan kostum kartun melukis wajah anak-anak, bermain, dan menari.

Menurut pejabat dari Dana Anak-anak PBB (UNICEF), setengah dari anak muda di Gaza atau sekitar 500 ribu anak mungkin membutuhkan dukungan psikologis setelah 11 hari pertempuran antara Hamas dan Israel pada 2021. Pejabat PBB dan pakar kesehatan mental Palestina mengatakan, demi kesejahteraan semua anak dan masa depannya, diperlukan solusi damai jangka panjang untuk pendudukan militer Israel, solusi yang mencegah terulangnya perang dan upaya berkelanjutan.

Menyusul putaran pertempuran lainnya, keluarga Palestina mengatakan gejala traumatis yang dialami anak-anak mereka semakin memburuk.

“Sayangnya, rasa takut tetap ada di hati mereka,” kata Mazeyouna bibi al-Mansi. (man)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca