Maulid Nabi Muhammad Dalam Tradisi Perayaan Dunia dan Nusantara
MAROKO : Masyarakat menggelar majelis ilmu, membaca Burdat al-Bushiri, memperbanyak selawat, dan memasak couscous untuk dibagikan kepada tetangga sebagai simbol solidaritas.
NIGERIA : Pawai akbar menelusuri kota, ribuan orang melantunkan shalawat, membawa bendera Islam, dan menampilkan kesenian daerah dalam rangka memeriahkan Maulid.
Maulid Nabi Di Asia dan Nusantara
TURKI : Dikenal sebagai Mevlid Kandili, umat Muslim menggelar pengajian, konferensi, dan kegiatan keagamaan di masjid-masjid besar. Maulid menjadi hari libur nasional, ditandai salat berjamaah dan pembacaan Al-Qur’an.
PAKISTAN : Semua bangunan publik, masjid, dan rumah dihias lampu warna-warni. Konferensi Seerat di tingkat federal dan provinsi membahas kehidupan Nabi, lomba puisi naʽat, lomba baca Al-Qur’an, serta sedekah makanan dan permen kepada kaum dhuafa.
INDIA : Sehari sebelum Maulid, jalanan, masjid, dan pasar dihiasi lampu warna-warni dan pita hijau—simbol Islam—sebagai persiapan menyambut perayaan keesokan harinya.
MALAYSIA : Menjadi hari libur nasional. Umat mengisi Maulid dengan pengajian akbar, pembacaan manāqib, ceramah keagamaan, dan lomba-lomba Islami di masjid maupun sanggar dakwah.
BRUNEI DARUSSALAM : Puncak acara berupa “Perarakan Agung” sejauh 4,3 km di Bandar Seri Begawan, dipimpin langsung oleh Sultan, dengan ribuan peserta melantunkan selawat sepanjang jalan. Malam sebelumnya digelar pembacaan Syaraful Anām di Istana Nurul Iman.


INDONESIA : Peringatan Maulid bukan sekadar mengenang tanggal lahir Nabi Muhammad SAW, tetapi juga wujud syukur umat Islam atas kelahiran penerang kebenaran dan rahmat bagi semesta (rahmatan lil-‘ālamīn).
Di Indonesia, Maulid berkembang menjadi tradisi lokal yang sarat dengan nuansa keagamaan, seperti pembacaan Barzanji, shalawat, dan pengajian.
Hal ini tercermin dalam berbagai tradisi Maulid Nabi di tiap daerah sepeti :
- Kuah Beulangong (Aceh)
Warga bergotong royong memasak kari daging dalam belanga besar, lalu membagikannya sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur. - Bungo Lado (Padang Pariaman)
Pohon hias berisi uang dan daun merah dibuat oleh warga, lalu disumbangkan ke panti asuhan sebagai simbol kepedulian sosial. - Baayun Mulud (Kalimantan Selatan)
Bayi diayun sambil dibacakan syair maulid, sebagai doa agar tumbuh sehat dan diberkahi. - Endhog-Endhogan (Banyuwangi)
Telur ditancapkan pada batang pisang dan diarak ke masjid, lalu dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol berbagi rezeki. - Tradisi unik seperti Grebeg Maulud di Yogyakarta.


Tradisi-tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan ekspresi cinta umat Islam Indonesia kepada Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat nilai-nilai sosial, dan menanamkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Di era digital, Maulid bisa menjadi momentum untuk menyebarkan nilai-nilai Islam melalui media kreatif—dari ilustrasi, podcast, hingga konten edukatif.***
Penulis : Oom Komariah
Editor : Thamrin Humris
Foto istimewa berbagai sumber
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


