Siapakah Sebenarnya Samiri
(HR. Muslim)
Ibnu Katsir saat membahas Surat Thaha ayat 88 mengutip Ibnu Abbas bahwa patung anak lembu itu tidak bersuara. Suara patung tersebut karena angin masuk dari duburnya dan keluar dari mulutnya.[2]
Samiri membuat patung tersebut berdasarkan teknik yang dipelajarinya dari bangsa Moab.
Dalam kitab-kitab tafsir, umumnya ada dua penafsiran terhadap kalimat فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ (QS. Thaha: 96).
Pertama, اَثَرِ الرَّسُوْلِ adalah jejak kuda malaikat Jibril.
Kedua, اَثَرِ الرَّسُوْلِ adalah ajaran atau syariat Nabi Musa.
Pendapat pertama adalah perkara ghaib (terkait malaikat) sehingga membutuhkan landasan dari Qur’an atau hadits.
Sedangkan pendapat kedua memiliki kesesuaian dengan konteks keseluruhan ayat.
قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوْا بِهٖ
Dia (Samiri) menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui.”
Maksudnya adalah Samiri mengetahui teknik pembuatan berhala, yang dapat mengeluarkan suara, dari bangsa Moab.
فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ فَنَبَذْتُهَا
“Jadi aku ambil segenggam jejak rasul lalu aku melemparkannya.”
Maksudnya adalah Samiri hanya mengambil sebagian kecil ajaran atau syariat Nabi Musa, lalu membuangnya.
وَكَذٰلِكَ سَوَّلَتْ لِيْ نَفْسِيْ
“Demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaha: 96)
Maksudnya adalah Samiri melakukannya karena menginginkan nikmat dunia dari penyembahan berhala, sebagaimana yang didapat tokoh-tokoh agama penyembah berhala dari Moab.
Al Qur’an kemudian menyebutkan bahwa Samiri mendapat hukuman pengucilan, suatu penyakit yang membuatnya tidak boleh disentuh atau menyentuh manusia. (QS. Thaha: 97)
Sehingga Samiri bukanlah Dajjal. Selain karena tidak ada dalil dari Qur’an maupun hadits, juga karena Samiri sepanjang hidupnya di dunia sudah tidak dapat lagi berinteraksi dengan manusia. (fiq)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


