Syi’ir Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Penjajah
Ghalib alim dan haji fasik menolong,
raja kafir dan senang mendukungnya.
Itulah orang alim yang munafik yang kosong imannya,
Merasa diangkat derajatnya jadi tumenggung.
Jika orang alim menunjukkan jeleknya orang takabur,
nanti tidaklah mungkin dapat kadi terkenal.
Pada syair di atas bisa kita lihat bagaimana kerasnya terhadap penjajah dan orang-orang pribumi yang bekerjasama dengan mereka.
Perlawanan dalam mengusir penjajah dari para pahlawan sangat beragam dengan situasi dan kondisi pada masa itu. Kiai Ahmad Rifai lebih memilih menggunakan metode dakwah secara lisan dan tulisan yang dirangkum dalam kitab-kitabnya. Metode tersebut memiliki keunikan tersendiri karena membentuk kesadaran masyarakat bahwa mereka sedang tertindas. Ia juga menanamkan pada masyarakat untuk menjadikan Islam sebagai fondasi dan jalan hidup yang benar.
Dengan kitab Tarjumah yang ia buat menjadikan santri-santri lebih mudah memahami ajarannya karena ditulis dengan Arab pegon yang umumnya berbahasa Jawa. Karena melihat kondisi masyarakat pada saat itu yang belum familiar dengan bahasa Arab. Selain mengajarkan agama Islam, dalam kitabnya, Kiai Ahmad Rifai memasukkan pesan-pesan untuk melawan penjajah dengan sekuat tenaga dan kemampuan masing-masing.
Slameta dunya akhirat wajib kinira
nglawen raja kafir sakuasnu kafikira
Tur perang sabil luwih kadene ukara
Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara.
Artinya:
Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan
Melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan
Demikian juga perang sabil lebih daripada ucapan
Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar.
Pada syair di atas kita menghayati keteguhan Kiai Ahmad Rifa’i dalam dakwahnya melalui pena melawan penjajah dan sekaligus kebodohan. (sar)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


