Sejarah Syiar di Kepulauan Maluku

Dengarkan Artikel Ini

Bentuk masjid ini seperti bujur sangkar. Ukuran tidak begitu luas, hanya 10×10 meter persegi. Ketika pertama kali didirikan, masjid ini tidak memiliki serambi. Dalam renovasi dilakukan penambahan beranda berukuran 6,35 x 4,75 m persegi.

Banyak bagian bangunan tersebut yang menerapkan pola tradisional Maluku. Sebagai contoh, dinding masjid tersebut yang terbuat dari gaba-gaba, yaitu pelepah sagu yang dikeringkan. Setengah dinding itu, termasuk yang telah dipugar, didirikan dengan bahan campuran kapur.

Mimbar Masjid Wapauwe berukuran 2×2 m persegi. Bentuknya seperti sebuah kursi yang berbahan dasar kayu. Untuk menambah ketinggian, alasnya ditambahi dengan anak tangga. Pada bagian atasnya, terdapat lengkungan dan ukiran bermotif floris.

Seperti umumnya masjid-masjid tua di Jawa, Masjid Wapauwe pun dilengkapi dengan beduk. Benda yang digantung pada sebuah balok itu terbuat dari gelondongan kayu utuh dengan diameter dua meter. Kulit beduk diikat dengan tali rotan yang kencang.

Seni cipta bangunan Jawa terlihat mempengaruhi Masjid Wapauwe. Sisi interiornya memiliki saka guru atau empat pilar yang menyangga bagian atap. Atapnya pun berupa tajug bertingkat, sehingga lagi-lagi menampilkan kekhasan Jawa. Penutup atas bangunan itu terbuat dari daun-daun rumbia kering. Pada puncaknya, terdapat ukiran kayu berbentuk silindris dengan alur-alur dan molding.

Di antara atap di atas dan atap yang di bawah terdapat lubang jendela yang berfungsi sebagai ventilasi udara. Bagian paling bawah atapnya menjorok ke luar dan membentuk sebagian dari elips seperti daun. Di setiap ujungnya terdapat ukiran yang menampilkan lafaz “Allah” dan “Muhammad.”


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca