Napak Tilas Tebuireng dan Perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari

Dengarkan Artikel Ini

Sebelum menjalankan rencananya, Kiai Sakiban terlebih dulu mengutarakan maksudnya kepada Mbah Hasyim. Meski awalnya sempat menolak rencana Kiai Sakiban karena dinilai membahayakan. Namun atas dukungan para santri yang bermaksud ingin menyelamatkan warga dari Kebo Ireng pimpinan Wiro, Mbah Hasyim akhirnya menyetujui rencana tersebut.

Keputusan mengundang Wiro uji tanding sengaja diambil untuk menghindari hukum Belanda saat itu. Karena jika pertarungan dilakukan di luar padepokan, Belanda akan menangkap para santri serta menutup padepokan dengan tuduhan penyerangan. Dan diutuslah dua santri oleh Kiai Sakiban untuk menemui Wiro.

Setelah menemui Wiro di warung kopi Pasar Cukir tempat dirinya biasa duduk mengawasi anak buahnya, dua Santri utusan Kiai Sakiban langsung mengutarakan maksudnya.

“Kami menyampaikan salam dari Kiai Sakiban untuk kang Wiro,” ujar salah satu santri.

Mendengar itu, Wiro hanya menanggapi sinis.
“Ada apa Kiai Sakiban menyampaikan salam kepadaku,” jawabnya sinis.

Kemudian salah satu santri kembali menyampaikan maksudnya.
“Kiai Sakiban minta kang Wiro beserta anak buahnya tidak menggangu padepokan kami. Kalau memang bersedia sebaiknya diadakan tanding terbuka saja, jangan mengganggu dengan cara pengecut seperti perempuan,” sebut Santri itu.

Mendengar ucapan santri sontak mata wiro merah membara dan emosi.
“Kurang ajar! Berani sekali kalian menghina murid padepokanku seperti perempuan. Apa Kiai Sakiban tidak tahu siapa Wiro?” ujar Wiro dengan mata melotot.

Dua santri tersebut tidak menjawab, mereka hanya menunggu kata-kata Wiro selanjutnya. Dalam hati mereka merasa senang karena rencana memancing Wiro keluar bakal berhasil. “Bilang sama Kiai Sakiban, atur tempat pertarungan. Wiro sendiri yang akan turun,” kata Wiro masih dengan nada emosi.

Usai Wiro berbicara dua santri pun pamit dan menyampaikan pesan kepada Kiai Sakiban serta Mbah Hasyim. Kabar bakal adanya pertarungan antara Wiro dengan santri padepokan cepat menyebar luas.

Dan malam Jumat selepas Isya dijadikan waktu untuk uji tanding. Para santri padepokan pun sudah menyiapkan lokasi tanding, ratusan warga terlihat mendatangi lokasi, Wiro membuktikan ucapanya, dia datang dengan didampingi Sartini serta puluhan anak buahnya.

Pertarungan pun di mulai, dari pihak padepokan dipilih Abdullah, santri asal Cirebon yang berperawakan sedang namun memiliki kanuragan mumpuni. Saat keduanya berhadapan, ratusan warga pendukung Wiro bersorak memberi dukungan, karena merasa yakin jagoanya bakal menang.

Wiro langsung mengeluarkan jurus andalanya mengejar Abdullah, namun kesigapan Abdullah membuat semua pukulan Wiro hanya mengenai angin kosong. Akhirnya Wiro mengeluarkan jurus pamungkas dengan mantra-mantra saktinya.

Melihat Wiro mengeluarkan jurus andalan, Abdullah terlihat siaga sembari berserah diri kepada Allah. Saat Wiro mengejar dan hendak memukul dengan jurus pamungkasnya, dengan cepat Abdullah mengelak sembari melepaskan pukulan beruntun kearah leher dan ulu hati Wiro.

Wiro pun ambruk menerima pukulan Abdullah. Sontak para anak buah Wiro beserta Sartini yang terlihat cemas, mendatangi Wiro yang terkapar dengan luka dalam serius.

Karena Wiro tak dapat bergerak, Abdullah dinyatakan sebagai pemenang dan Wiro digotong pulang oleh anak buahnya. Kemenangan santri padepokan Mbah Hasyim langsung menyebar ke masyarakat termasuk ke telinga Belanda.

Sehingga Belanda mulai was-was bakal kehilangan seorang yang dapat diandalkan memimpin Kebo Ireng. Terlebih sekitar satu bulan kemudian, Wiro akhinya meninggal karena luka dalam.

Semakin hari Kebo Ireng semakin sepi, karena tidak ada lagi pemimpin yang diandalkan, ditambah kepergian Sartini karena selalu berselisih pendapat dengan pemimpin Kebo Ireng pengganti Wiro yang ditunjuk belanda yaitu Joyo Rumpono.

Masyarakat pun mulai tertarik mendatangi padepokan Mbah Hasyim untuk belajar bela diri dan agama. Sehingga murid padepokan semakin banyak.

Dan tepat pada tahun 1906 atau tujuh tahun berdirinya padepokan, Mbah Hasyim Asy’ari resmi mengubah padepokan menjadi pesantren dengan nama Tebu Ireng. Nama ini mempunyai filosofis yang berarti tebu yang paling baik jenisnya adalah Tebu Ireng, batang tebu yang berwarna hitam.

“Di Pondok Pesantren Tebu Ireng ini kita berharap anak didik yang belajar, ibarat tanaman tebu hitam yang kelak akan beguna dan bernilai tinggi di masyarakat, bangsa dan agama,” ujar KH Hasyim Asy’ari. (fq)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca