Mengapa Gelombang Konservatisme Agama Meningkat di Malaysia Namun Surut di Indonesia

Dengarkan Artikel Ini

“Ada banyak cara untuk menjelaskannya. Salah satu kemungkinannya adalah adanya ketakutan bahwa para pemilih akan semakin konservatif, khususnya di kalangan masyarakat Melayu, dan mereka sekarang menerima argumen yang telah diajukan PAS selama bertahun-tahun dalam Islamisasi, mempromosikan hukum Syariah dan sebagainya,” kata Dr Norshahril. .

“Tetapi argumen lainnya mungkin adalah kurangnya alternatif. Masyarakat Melayu selalu mendukung UMNO dan mereka memandang UMNO sebagai partai utama bagi masyarakat Melayu dan Islam. Tapi sekarang mengingat permasalahan mereka, alternatif terbaik berikutnya adalah Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) dan tentunya partai yang sejarahnya lebih panjang adalah PAS,” imbuhnya.

Sebaliknya, pemilu di Indonesia bulan lalu tampaknya menunjukkan bahwa politik identitas telah surut, meskipun ada kekhawatiran awal bahwa hal ini dapat dirusak oleh konservatisme agama.

Dr Norshahril mengatakan bahwa politik identitas “entah bagaimana dibatalkan” di antara para kandidat dalam pemilu di Indonesia.

“Kami tidak melihat politik identitas serupa terjadi pada pemilu tahun ini dibandingkan dengan pemilu tahun 2019 dan 2014. Hal ini bisa berarti bahwa para kandidat sendiri telah mempersiapkan diri dengan sangat baik,” kata Dr Norshahril.

“Jadi dengan cara ini semua kandidat berhasil menggalang dukungan Islam dan karenanya kita tidak melihat politik identitas digunakan untuk menyerang satu sama lain,” tambahnya.

Melihat lebih dekat situasi Indonesia

Di negara tetangga, Indonesia, kekhawatiran terhadap kebangkitan Islam politik dan konservatisme agama, terutama menjelang pemilu bulan lalu, tampaknya sudah mereda.

Ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden tidak menyerah pada penggunaan politik identitas untuk mengumpulkan suara, kata para pengamat.

Ketiga pasangan tersebut adalah: Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berpasangan dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Islam (PKB) Muhaimin Iskandar; Menteri Pertahanan saat ini Prabowo Subianto dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka; serta mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mencalonkan diri bersama mantan anggota PKB Mahfud MD.

Pasangan pemenangan, Pak Prabowo dan Pak Gibran, tidak pernah menjadi anggota partai Islam, berbeda dengan dua paslon lainnya.

Ada kekhawatiran bahwa pemilu ini akan dirusak oleh konservatisme agama, terutama karena politik identitas mendominasi pemilu presiden dan legislatif tahun 2019 serta pemilu gubernur Jakarta tahun 2017.

Ujang Komarudin, pakar Islam politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, yakin beberapa kelompok politik ingin menegakkan ideologi Islam tetapi kesulitan untuk menang dalam pemilu karena masyarakat Indonesia heterogen.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca