Kisah Tukang Rumput Damaikan Sunan Amral dan Pakubuwono I yang Perang Berebut Keraton Mataram

Dengarkan Artikel Ini

Ia lalu menyatakan telah banyak raktat kecil tewas dalam perang berebut keraton Mataram itu. Ia meminta bekas kasihnya agar tak ada lagi rakyat yang menjadi korban

“Siapa yang kehilangan jika Tanah Jawa rusak? Ya tentu Pafuka Gusti dan kakanda Paduka,” kata tukang rumput gadungan.

Jika Mataram aman dan makmur, lanjut dia, tentu Pakubuwono II dan Sunan Amral yang menikmatinya. “Kalau Paduka menghendaki naik tahta, mintalah baik-baik dan bertemulah dengan kakanda Paduka,” kata tukang rumput gadungan memberi saran.

Pakubuwono I tersentuh dengan kata-kata tukang rumput gadungan itu. Ia lalu menuruti kata-katanya.

“Sampaikan sembah baktiku kepada Kakanda dan mohonkan maaf untuk semua kekeliruanku,” kata Pakubuwono I.

Tapi tukang rumput gadungan itu tidak mau pulang. Ia meminta agar mengirim utusan menemui Amangkurat II.

Tukang rumput gadungan Sunan Amral itu akan pulang bersama Pakubuwono I, jika Pakubuwono sudah siap untuk pulang. Pakubuwono I kemuduan mengutus tiga orang untuk menyampaikan surat keoada Sunan Amral alias Amangkurat II.

Lewat surat itu, Pakubuwono I menyatakan menghentikan perang berebut keraton Mataram. Ia menyerahkan hidup matinya kepada Sunan Amral.

Sang Raja pun memerintahkan kepada Patih Nerangkusumo agar menyiapkan tempat tinggal untuk adiknya, Pakubuwono I. Pakubuwono I kemudian pulang dan menjadi Pangeran Puger lagi.

Adipati Urawan, utusan Sunan Amral yang menyamar sebagai tukang rumput, melaporkan bahwa Pakubuwono I sudah siap bertemu dengan Sunan Amral. Sang adik sungkem dan kemudian memeluk sang kakak.

“Air mata mengucur deras,” tulis Babad Tanah Jawi. (jeha)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca