Hasan Gipo seorang Tokoh NU yang tak pernah Populer
Hasan Gipo menjabat kurang lebih 3 tahun. Pada muktamar ke-3 di Semarang, KH Noor dari Sawah pulo, Surabaya menggantikan beliau.
Hasan Gipo seorang aktivis dan pedagang yang tinggal di kawasan elite Surabaya. Hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Ia yang mengantar Kiai Wahab menemui aktivis pergerakan di Surabaya seperti HOS Cokroaminoto dan Dr. Soetomo. Dari situ Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, dan SK Trimurti yang merupakan murid HOS Cokroaminoto. Dari sini pula para aktivis mulai merencanakan kemerdekaan.
Pertemuan antara Hasan Gipo dan Kiai Wahab serta beberapa kiai lain makin intensif setelah itu. Ia kemudian terlibat aktif dalam pendirian Nahdlatul Wathan (1914) meski tidak tercatat sebagai pengurus. Ia juga menjadi peserta diskusi dalam forum Taswirul Afkar (1916). Ia juga aktif terlibat dalam Nahdlatul Tujjar (1918).
Dalam forum-forum itu, Hasan Gipo berkenalan dengan ulama seperti KH Hasyim Asy’ari. Ketika para ulama membentuk Komite Hejaz dan akan mengirim utusan ke Makkah, sumbangan Hasan Gipo juga sangat besar.
Maka itu, ketika NU berdiri dalam pertemuan yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah di kawasan Bubutan Surabaya, ia langsung ditunjuk sebagai Hoofdbestuur (pengurus besar) NU sebagai Ketua Tanfidziyah. Usulan itu disetujui KH Hasyim Asy’ari.
Meski aktif sebagai pengurus NU, bisnis Hasan Gipo tetap berkembang. Bahkan ia melebarkan sayap ke bisnis properti. Ia memiliki banyak perumahan, pertokoan, dan pergudangan. Dari sini yang menjadi salah satu donator besar untuk NU.
Hasan Gipo tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga gagah fisik. Suatu ketika, Hasan Gipo menantang Muso (tokoh PKI) untuk berdebat tentang teologi. Ia merasa jengkel dengan Muso karena terlalu bangga dengan atheis.
Muso dikenal sebagai singa podium. Namun ia bisa ditaklukkan. Hasan Gipo bisa mematahkan semua argumennya, sehingga alumni Moskow dan anak didik Lenin itu keteteran. Hasan Gipo juga berani menantang Muso berkelahi secara fisik. Namun Muso yang biasanya brangasan tidak berani menghadapi tantangan Hasan Gipo.
Hasan Gipo meninggal dunia di Surabaya pada 1934 M. banyak orang yang bingung ketika ditanya tentang nama beliau, apalagi jika dikatakan sebagai Presiden NU Pertama. Sebab, masyarakat mengira KH Hasyim Asy’ari yang diberi amanah sebagai Rais Akbar NU, bukan Presiden NU. Istilah presiden ini yang kini dikenal sebagai Ketua Tanfidziyah.
“Kuburan beliau baru ditemukan beberapa tahun belakangan, satu kompleks dengan Kiai Mas Mansyur. Kiai Hasan Gipo adalah simbol ketulusan, khumul dan tak menyukai popularitas. saking khumulnya, makamnya baru ditemukan beberapa tahun lalu,” kata Husain, salah satu warga Ampel. (fq)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


