Diantara Deretan Walisongo Yang Dianggap Keturunan Tionghoa
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Dengan demikian, dapat dikatakan Sunan Muria masih memiliki hubungan dengan keturunan Tionghoa.
Daerah penyebaran Islam Sunan Muria, yaitu sekitar Gunung Muria, meliputi pantai utara daerah Jepara, Tayu, Pati, Juana, dan Kudus Dakwah yang dilaksanakannya disampaikan secara lunak, terutama kepada rakyat jelata yang dianggap sebagai kaum sudra oleh para kaum ningrat saat itu.
- Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati adalah Tung A Bo yang berayahkan Tung Ka Lo, seorang muslim Tionghoa. Sunan Gunung Jati/Tung A Bo melaksanakan ibadah haji pada tahun 1521. Sunan Gunung Jati berhasil melaksanakan dakwah dengan menaklukkan hati masyarakat Banten, termasuk Adipati Banten.
Mereka tertarik untuk masuk Islam antara lain setelah memahami mengenai ajaran jihad yang menjelaskan bahwa yang harus dilawan bukan hanya musuh, tetapi juga hawa nafsu.
Data mengenai Wali Songo di atas juga telah dibahas oleh H.J. de Graaf dan kawan-kawan dalam bukunya Chinese Muslims in Java in the 15 and 16″ Centuries, the Malay Annals of Semarang and Cirebon.
Meski demikian, masih dibutuhkan pengkajian lebih lanjut untuk mengungkap sejarah yang diketahui memiliki banyak versi. Syiar Islam di Indonesia memang tidak terlepas dari peran para etnis Tionghoa yang telah terjalin pembauran sejak dahulu.
Ketika berbicara mengenai penyebaran Islam di Indonesia oleh warga keturunan Tionghoa, pikiran akan tertuju kepada seorang muslim dari China yang menurut sejarah sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Indonesia.
Muslim Tionghoa yang dimaksud, yaitu Cheng Ho atau dikenal juga dengan nama Sam Po Kong. Sejarah Islam Indonesia dengan sejarah Cheng Ho demikian terkaitnya meskipun kunjungan muhibah Cheng Ho ke Indonesia telah berlalu hampir enam abad yang lalu.
Cheng Ho adalah seorang muslim dari Yunnan yang berayah-ibu haji. Sejak usia 12 tahun Cheng Ho tinggal di Nanjing.
Pada masa hidupnya Cheng Ho telah melakukan tujuh kali pelayaran ke berbagai penjuru dunia. Pada kesempatan pelayaran itulah Cheng Ho singgah di Indonesia, salah satunya yaitu di Pulau Jawa, kemudian berdakwah.
Pada masa selanjutnya, Cheng Ho disebut-sebut sebagai seorang muslim yang memiliki andil besar dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara. Dalam masa-masa persinggahan, Cheng Ho telah menebarkan benih-benih seni budaya, pendidikan, dan benih-benih persahabatan serta perdamaian.
Pada awal abad ke-15 Cheng Ho singgah di Semarang kemudian menyebarkan agama Islam di sekitar daerah Gedong Batu. Pada saat itu, Cheng Ho dibantu oleh seorang pembantu utama yang juga sangat taat terhadap ajaran agama Islam. la mengajarkan penduduk bercocok tanam dan mengembangkan pelayaran niaga pantai sambil mengajarkan ajaran agama Islam. (fq)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


