Ketika Imam Syafi’i Dakwahi Baghdad

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada abad ke-2 Hijriah, Baghdad menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam yang menarik banyak ulama dari berbagai wilayah. Salah satu tokoh yang meninggalkan pengaruh besar di kota ini adalah Imam Syafi’i, yang tiba di Baghdad pada tahun 195 H. Kala itu, ulama kenamaan yang lahir di Gaza tersebut membawa mazhab fikihnya yang telah ia rumuskan selama berada di Makkah. Kedatangan Imam Syafii disambut hangat oleh masyarakat dan ulama Baghdad, menjadikan manhajnya cepat diterima dan digemari. Keberhasilan Imam Syafi’i menarik perhatian di Baghdad tidak lepas dari keunikannya dalam menyatukan dua pendekatan utama dalam menyimpulkan hukum Islam. Metode pertama adalah pendekatan Ahli Hadis, yang ia pelajari dari Imam Malik di Madinah. Metode ini menekankan pada pentingnya hadis sebagai sumber utama hukum Islam. Metode kedua adalah pendekatan Ahli Ra’yi yang lebih rasional dan berbasis logika, yang ia kuasai setelah berguru kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah, di Baghdad. Penguasaan dua metode ini membuat Imam Syafi’i mampu menawarkan solusi hukum yang seimbang, memperhatikan dalil naqli (teks) dan aqli (logika). Pendekatan ini menjadikan mazhabnya relevan di kalangan ulama Baghdad, yang sebelumnya lebih condong kepada metode Ahli Ra’yi. Kehadiran Imam Syafi’i di Baghdad segera mengubah lanskap keilmuan di kota itu. Menurut ulama Ibrahim al-Harbi, sebelum kedatangan Imam Syafi’i, terdapat sekitar 20 majelis ilmu yang mengajarkan metode Ahli Ra’yi. Namun, hanya dalam waktu dua pekan setelah dia tiba, jumlah majelis tersebut berkurang drastis menjadi hanya tiga atau empat majelis, karena banyak ulama dan pelajar beralih ke majelis Imam Syafi’i.

Read More

Berdasarkan rekaman CCTV tidak ada tawuran saat peristiwa penembakan terjadi

Semarang — 1miliarsantri.net : Pihak keluarga almarhum Gamma Rizkynata Oktafandy mengatakan, bahwa mereka berhasil mengamanka rekaman kamera pengawas atau CCTV yang diduga menampilkan detik-detik Gamma ditembak oleh anggota Satresnarkoba Polrestabes Semarang, Aipda Robig Zaenudin. Rekaman CCTV itu pun sudah diperlihatkan ke komisioner Komnas HAM yang tengah menyelidiki kejadian tersebut. Seorang anggota keluarga Gamma yang meminta dirahasiakan identitasnya mengungkapkan, setelah Gamma tewas ditembak Aipda Robig, keluarga mencoba melakukan penggalian fakta-fakta secara mandiri. Dia melanjutkan, akhirnya keluarga Gamma memperoleh rekaman CCTV Alfamart yang berlokasi di Jalan Candi Penataran, Kalipancur, Ngaliyan, Kota Semarang. Namun dia menolak mengungkap bagaimana cara mendapatkan rekaman CCTV tersebut. “(Rekaman CCTV) ini kan yang diambil sama orang Polrestabes (Semarang), cuma saya masih dapat. Ya bukan saya lah (yang mendapatkan rekaman CCTV-nya), ada yang bisa mendapatkan,” ucapnya. Dalam rekaman CCTV tertanggal 24 November 2024 tersebut, tampak seorang pria yang mengendarai sepeda motor jenis PCX atau Nmax berhenti di seberang Alfamart. Tak lama kemudian, dia memarkirkan sepeda motornya di tengah jalan dalam posisi melintang, lalu melangkah turun. Pria tersebut diduga merupakan Aipda Robig Zaenudin. Setelah turun dari motornya, pria itu berjalan ke arah tiga sepeda motor yang melaju dari arah selatan ke utara. Menurut anggota keluarga Gamma yang enggan dipublikasikan identitasnya, salah satu motor tersebut ditumpangi oleh Gamma. Dalam rekaman CCTV, tampak pria itu melepaskan tembakan langsung ke arah tiga sepeda motor tepat ketika mereka melintas di depannya. Ketika menembak motor yang ketiga, pria tersebut sempat terjungkal ke belakang. Pada rekaman CCTV, peristiwa itu terjadi pada pukul 00:20 WIB. Setelah ketiga motor tersebut melintas, pria itu kembali ke sepeda motornya. Ketika berusaha memutarbalikkan motornya, pria itu terlihat sempoyongan, lalu jatuh tersungkur bersama motornya. Setelah bangkit, dia kemudian memacu motornya ke arah yang sama dengan ketiga motor yang melintasinya sebelumnya. Anggota keluarga Gamma yang memperlihatkan rekaman CCTV tersebut mengungkapkan, komisioner Komnas HAM sudah menemui mereka untuk menanyakan dan memverifikasi peristiwa penembakan terhadap Gamma. Pada kesempatan itu, keluarga Gamma menunjukkan rekaman CCTV itu. “Sudah ditunjukkan (ke komisioner Komnas HAM),” ucapnya. Dia mengatakan, keluarga baru mendapat kabar bahwa Gamma telah meninggal pada Ahad (24/11/2024) siang, sekitar pukul 12:30 WIB. Menurutnya, awalnya keluarga memperoleh informasi bahwa Gamma tewas akibat terlibat tawuran. “Ternyata meninggalnya karena luka tembak,” ujarnya. Ketika keluarga datang ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi, Semarang, jenazah Gamma sudah dibalut kain kafan. Oleh sebab itu, pads momen itu keluarga belum mengetahui di mana persisnya luka tembak pada tubuh Gamma. Jenazah Gamma kemudian segera dibawa ke Sragen untuk dimakamkan di TPU Bangunrejo, Desa Saradan, Karangmalang. Pada Jumat (29/11/2024) lalu, Tim Disaster Victim Identification Polda Jateng melakukan pembongkaran makam Gamma. Jenazah Gamma diautopsi untuk menentukan secara presisi penyebab kematian remaja berusia 17 tahun tersebut. Kapolrestabes Semarang Kombes Irwan Anwar mengatakan, bahwa rekaman CCTV Alfamart yang berlokasi di Jalan Candi Penataran sudah diamankan Polda Jawa Tengah (Jateng). Hal itu karena kasus penembakan tiga siswa SMKN 4 Kota Semarang oleh Aipda Robig Zaenudin ditangani Polda Jateng. “CCTV Alfamart sudah ditangan penyidik (Polda Jateng) dan sudah diserahkan ke Labfor. Detail penanganan excessive action-nya ditangai Polda. Polrestabes menangani tawurannya,” ucap Irwan lewat pesan singkat, Kamis (5/12/2024). Menurut keterangan Polrestabes Semarang sebelumnya, Gamma dan dua temannya, yakni Satria dan Adam, ditembak Aipda Robig saat tengah terlibat tawuran antar-gangster remaja (biasa disebut kreak) pada dini hari tanggal 24 November 2024 lalu.

Read More

80 Persen Disabilitas Netra Muslim tak Bisa Baca Alquran Braille

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) mengungkap jika sebanyak 80 persen dari dua juta tunanetra Muslim di Indonesia tidak bisa membaca Alquran Braille. Ketua ITMI Yogi Madsuni menjelaskan, dari sekitar empat juta tunanetra yang ada di Indonesia, separuhnya adalah Muslim. “Kami melakukan identifikasi dan melakukan assessment, yang dari dua juta itu baru sekitar 20 persen. Bahkan mungkin kurang dari 20 persen yang bisa baca Alquran. Selebihnya belum bisa,” jelas Yogi Yogi menjelaskan, tingginya jumlah buta huruf Alquran Braille bukan disebabkan sulitnya akses terhadap Alquran Braille. Menurut Yogi, mushaf standar braille masih sangat cukup mengingat banyak komunitas yang memberikan wakaf Alquran berhuruf timbul tersebut. Beberapa diantara mereka bahkan melakukan pencetakan Alquran Braille. Menurut Yogi, permasalahannya ada pada jumlah guru pengajar Alquran Braille yang masih sangat sedikit. Dia mencontohkan, jumlah tunanetra Muslim di daerah Bogor sekitar 500 orang. Mayoritas belum bisa membaca Alquran Braille akibat minimnya pengajar di daerah tersebut. Begitu pula, ujar dia, jumlah pengajar Alquran Braille di Jakarta yang dapat dihitung dengan jari. “Belum lagi yang daerah-daerah lainnya. Apalagi kalau kita sudah bicara di Pulau Jawa, karena kami (ITMI) sudah ada di 27 provinsi dan di 167 kabupaten-kota,” jabarnya. Padahal, dia menjelaskan, Indonesia butuh setidaknya satu juta orang pengajar Alquran Braille untuk mengajar dua juta tunanetra Muslim. Untuk mengentaskan buta aksara tersebut, ITMI bersama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama pun telah merumuskan modul pembelajaran Alquran Braille. Modul pembelajarannya berjenjang dari tingkat dasar hingga mahir. Selain itu, menurut dia, ITMI menggelar training of traniner (ToT) di berbagai daerah untuk melahirkan para pengajar Alquran Braille untuk tunanetra. Dia menargetkan, program tersebut bisa mencetak setidaknya seribu trainer. “Jadi selama ini lebih banyak pengadaan Alqurannya daripada trainingnya atau pembinaannya. Padahal ini sangat penting,” ujar dia. Permasalahan yang diungkapkan Yogi terbukti di lapangan. Sekolah Luar Biasa (SLB) Al Irsyad Al Islamiyyah yang berada di Kota Bogor, harus memindahkan anak-anak tunanetra ke sekolah lain karena sulitnya menemukan guru khusus untuk mereka. Sekolah yang mengasuh 112 siswa disabilitas ini kini tinggal mendidik anak-anak tunarungu, tunagrahita, tunadaksa dan autis. Kepala SLB Al Irsyad Al Islamiyyah di Kota Bogor, Susan Azis Thalib mengungkapkan, jangankan untuk guru yang mengajari Alquran Braille, guru untuk siswa disabilitas netra saja sulit ditemukan. Dia menjelaskan, guru Alquran Braille bukan sekadar sulit tetapi langka. “Sangat pak, sangat, sangat pak, sangat membutuhkan guru membaca Alquran braille, di Bogor Kota bisa dihitung dengan jari jumlah guru SLB yang mengajar membaca Alquran Braille dan mengajar membaca huruf braille,” terang Susan.

Read More

Pesantren Sebagai Wadah Pembentukan Karakter Santri

Jakarta — 1mikiarsantri.net : Pesantren ini mengedepankan pengajaran kitab kuning dengan metode tradisional seperti wetonan, sorogan, dan hafalan. Melalui kegiatan rutin seperti sholat berjamaah, pengajian, hingga hafalan Al-Qur’an, nilai-nilai Islami seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketaatan ditanamkan secara intensif. Kegiatan lain seperti kerja bakti (ro’an) membentuk solidaritas dan rasa cinta lingkungan di kalangan santri. Meski mempertahankan tradisi, Pesantren An Najiyah 1 juga mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Program literasi digital, penggunaan perangkat komputer, dan pelatihan kepemimpinan berbasis nilai Islami menjadi upaya pesantren dalam menjawab tantangan globalisasi. Namun, semua penggunaan teknologi ini diawasi ketat agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dengan moto “Panca Jiwa Pondok” (Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwah Islamiyah, dan Pemikiran Moderat), pesantren ini terus berusaha menjaga keseimbangan. Tradisi pesantren, seperti pembelajaran kitab kuning, tetap dijalankan sambil membuka ruang untuk inovasi modern. Di era globalisasi, tantangan utama yang dihadapi pesantren adalah pengaruh budaya global dan media digital yang dapat memengaruhi moral santri. Untuk itu, An Najiyah 1 menerapkan pendekatan disiplin ketat dan program-program seperti sholat berjamaah untuk membentuk rasa tanggung jawab. Selain itu, pesantren melatih santri untuk hidup mandiri, menghormati waktu, dan mematuhi aturan pondok. Pondok Pesantren An Najiyah 1 terus berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya berkarakter Islami, tetapi juga siap menghadapi dinamika zaman. Pesantren ini berfokus menghasilkan manusia beradab, baik secara material maupun spiritual, yang mampu menjadi khalifah di bumi dengan menjaga nilai-nilai Islam.

Read More

Saksi Bisu Kebengisan serta Teror Kependudukan VOC di Pulau Banda

Maluku — 1miliarsantri.net : Parigirante merupakan sebuah monumen yang terletak di Banda Neira, Kepulauan Banda, Maluku. Berwujudkan sumur yang dikelilingi oleh rantai-rantai dan diapit 2 meriam kuno milik VOC disisi kanan dan kirinya. Sumur ini menyimpan sejarah kelam pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Jan Piertzoon Coen pada tahun 1621. Merangkul tidak kurang dari 1600 tentara, 300 tawanan Jepang dan 100 orang samurai bayaran dari Jepang. Diiringi 13 kapal angkut dengan beribu penumpang yang disertai kapal pengintai, Coen dengan armadanya datang ke Banda Neira untuk menguasai perdagangan pala (mrystica fragrans) dan menjalankan aksi balas dendam atas terbunuhnya Laksamana Pieterszoon Verhoeven oleh Orang kaya Banda melalui sebuah sengketa. Orangkaya merupakan sebuah sebutan bagi orang-orang berpengaruh di Banda Neira tempo lalu. Diketahui Coen merupakan juru tulis dan saksi atas terbunuhnya Laksamana Pieterszoon Verhoeven serta para pasukannya akibat sengketa yang dilakukan oleh para Orangkaya Banda. Konflik dimulai saat diutusnya Verhoeven oleh VOC ke pulau-pulau penghasil pala untuk menguasai perdagangan di pulau tersebut, walaupun harus menggunakan kekerasan. Setelah sampai, ternyata Inggris telah lebih dulu menjalin kerjasama dagang dengan rakyat Banda. Karena tidak senang, Verhoeven akhirnya datang ke Banda Neira untuk membangun Benteng Nassau di bekas tanah peninggalan Portugis. Di dalam monumen Parigirante terdapat prasasti yang berisi nama-nama Orangkaya yang dieksekusi dan jumlah warga yang tewas akibat genosida yang diperintahkan oleh si bengis Coen The Butcher of Banda. Memanfaatkan dukungan yang ada, ia membuat Banda Neira dituruni hujan darah. Akibat genosida yang dilakukan, tercatat kurang lebih 6.600 rakyat gugur, dan dari total 14.000 rakyat banda hanya tersisa 480 orang saja. Coen berhasil mendapatkan happy ending-nya, misinya sukses dengan sempurna. Ia berhasil menguasai perdagangan pala di Pulau Banda dan membalaskan dendam atas terbunuhnya Laksmana Pieterszoon Verhoeven. Melihat pembangunan tersebut, Orangkaya Banda mengajak Verhoeven untuk berunding dengan syarat adanya jaminan sandera dari pihak VOC. Verhoeven pun menunjuk Jan de Molre dan Nicolaas de Vischer sebagai sandera.

Read More

Arab Saudi Seriusi Transformasi Wisata

Dubai — 1miliarsantri.net : Arab Saudi sedang mengalami perubahan besar dalam lanskap ekonomi melalui Visi 2030, dengan sektor pariwisata menjadi penggerak utama diversifikasi dan pertumbuhan. Di bawah kepemimpinan Yang Mulia Ahmed Al-Khateeb, Menteri Pariwisata Arab Saudi, negara ini membuat langkah signifikan dalam mengembangkan sektor pariwisata sekaligus memberdayakan perempuan dan generasi muda untuk menciptakan industri pariwisata yang berkelanjutan dan dinamis. Sebagai bagian dari visi transformatif ini, Arab Saudi berinvestasi dalam proyek pariwisata berkelanjutan seperti NEOM, Proyek Laut Merah, dan AlUla, sambil juga berinvestasi besar dalam pengembangan sumber daya manusia. Dengan memprioritaskan program pengembangan keterampilan dan menciptakan peluang karier di sektor pariwisata, Arab Saudi sedang membangun fondasi untuk industri yang berkembang dan inklusif yang mencerminkan warisan budaya kaya sambil beradaptasi dengan kebutuhan dunia global. Visi 2030 yang diluncurkan pada 2016 adalah cetak biru ambisius untuk diversifikasi ekonomi, dengan pariwisata memainkan peran sentral. Sebelum Visi 2030, sektor pariwisata Arab Saudi relatif belum berkembang, namun dengan fokus baru kerajaan pada pariwisata sebagai pilar pertumbuhan ekonomi, sektor ini berkembang pesat. Salah satu tujuan utama Visi 2030 adalah meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Arab Saudi dari 3% menjadi 10% pada 2030. Pemerintah telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mencapai hal ini, termasuk menciptakan destinasi wisata baru, investasi infrastruktur perhotelan, dan reformasi untuk menarik pengunjung internasional. Pada 2019, Arab Saudi mengumumkan Strategi Pariwisata Nasional yang menargetkan 100 juta pengunjung setiap tahun hingga 2030. Target ini bahkan telah direvisi naik menjadi 150 juta pengunjung pada 2030. Tujuan ambisius ini didukung investasi besar dalam infrastruktur pariwisata baru, termasuk resort, bandara, dan fasilitas lain yang melayani wisatawan internasional dan pasar domestik yang terus berkembang. Elemen penting dalam transformasi pariwisata Arab Saudi adalah pemberdayaan perempuan. Melalui Visi 2030, pemerintah bekerja keras menciptakan lebih banyak peluang bagi perempuan di dunia kerja, khususnya di sektor pariwisata yang sebelumnya didominasi pria. Yang Mulia Ahmed Al-Khateeb menekankan bahwa wanita memainkan peran integral dalam kesuksesan sektor pariwisata. Untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih inklusif dan beragam, Arab Saudi telah menjanjikan investasi tahunan sebesar 100 juta dolar dalam program pengembangan keterampilan yang ditujukan untuk melatih 100.000 pemuda Saudi, dengan setengahnya adalah perempuan. Program ini dirancang untuk mempersiapkan wanita mengambil peran kepemimpinan dalam pariwisata, perhotelan, dan sektor terkait. Faktanya, wanita kini menyumbang hampir 50% peserta pelatihan dalam program pengembangan pariwisata Arab Saudi. Al-Khateeb dengan bangga menyatakan bahwa lebih dari 100.000 wanita telah dipekerjakan di sektor pariwisata, di mana mereka aktif berkontribusi pada strategi pariwisata Kerajaan. Para wanita ini terlibat dalam berbagai peran, mulai dari manajemen perhotelan hingga pemandu wisata, dan dipandang sebagai duta budaya Saudi.

Read More

Sebanyak 20 Kiai Muda Indonesia Selesaikan Pelatihan Ilmu Makhtutat di Mesir

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sebanyak 20 kiai muda Indonesia telah menyelesaikan pelatihan Makhtutath (Kepengarangan Turats) di Mesir. Program ini diselenggarakan Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Institute of Arabic Manuscripts Mesir. Pelatihan ini berlangsung sejak 1 sampai 26 November 2024, setara 22 pertemuan dan 42 jam pelatihan. Kegiatan ini dibiayau Dana Abadi Pesantren pada Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren berkolaborasi dengan LPDP 2024. Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halluji menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah memilih Institute of Arabic Manuscripts Mesir sebagai tempat pelatihan. Dia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia bukanlah negara yang berbahasa Arab, tapi dengan mayoritas penduduknya yang bergama Islam tentu juga bertanggung jawab dalam mengkaji makhtutoth ini. Karena peran umat Islam di mana pun akan memiliki dampak yang perlu diperhitungkan dalam menjaga peradaban ilmu keislaman. “Ilmu makhtutath ini sebuah pengetahuan tambahan yang penting. Tidak hanya dipelajari oleh orang berbahasa Arab saja tapi mereka yang serius mengkaji tentang Islam. Lihatlah Ibnu Sina sebagai pelopor ilmu medis, dan mayoritas ulama hadits seperti Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud bukanlah orang Arab. Ulama tafsir seperti Zamakhsyari, al-Razi, dan ilmuwan seperti al-Biruni, mereka-mereka inilah meskipun bukan orang Arab adalah contoh tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban Islam,” ujarnya. Prof. Abdul Sattar berharap pelatihan ini dapat memotivasi peserta untuk terus menjaga dan melestarikan bahasa Arab, bahasa yang menjadi wahyu Al-Qur’an. Ia menekankan pentingnya mempelajari turats (warisan ilmiah) agar bermanfaat bagi umat Islam. “Saya berharap setelah mengikuti daurah ini, kalian akan menyadari tanggung jawab besar untuk menjaga bahasa ini. Usahakan untuk terus mempelajari turats agar ilmu ini berguna bagi umat. Semoga itu menjadi amal jariyah bagi kita di akhirat nanti,” pesan Prof Abdul Sattar. Hal senada disampaikan Dr. Abdul Muta’ali selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo. Menurutnya, Ilmu Makhtutath ini merupakan ilmu yang penting untuk dipelajari. Bahkan kemajuan Eropa yaitu renaissance berawal dari ilmu makhtutath.

Read More

Bagaimana Hukum Mendoakan Non Muslim Yang Meninggal Dunia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sebagai seorang muslim diperintahkan untuk berhubungan sosial dengan baik pada siapa pun tanpa memandang status sosial, ras, suku, bahkan agama. Berperilaku baik terhadap non-muslim sama wajibnya dengan berperilaku baik terhadap sesama muslim. Interaksi ini tentu akan menumbuhkan ikatan emosional dan membawa kesedihan saat terjadi perpisahan. Kesedihan saat ditinggal orang terdekat adalah perasaan yang manusiawi. Jika orang yang meninggal tersebut beragama islam, tentu kita akan mendoakannya agar Allah mengampuni dosanya, memberikannya nikmat kubur dan menempatkannya di surga. Namun, jika orang yang meninggal itu adalah non-muslim, apakah boleh mendoakannya? Menurut Pengajar di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah Berjan Purworejo, Ustadz Rif’an Haqiqi, pembahasan tentang hukum mendoakan non-muslim yang sudah meninggal banyak ditemukan di kitab-kitab fikih pada bab Pemulasaraan Jenazah. Dalam hal ini, mayoritas ulama berpendapat bahwa mendoakan non-muslim yang sudah meninggal hukumnya haram, sebagaimana disampaikan oleh Imam An-Nawawi (w. 676 H) dan Imam Ar-Ramli (w. 1004 H), berikut ini: وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى الْكَافِرِ وَالدُّعَاءُ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ فَحَرَامٌ بِنَصِّ الْقُرْآنِ وَالْإِجْمَاعِ Artinya: “Adapun menshalati orang kafir dan mendoakannya agar mendapat ampunan, hukumnya haram berdasarkan nash Al-Qur’an dan Ijma’ (konsensus ulama)” (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ [Beirut: Darul Fikr, tt] juz V, halaman 258). وَتَحْرُمُ) الصَّلَاةُ (عَلَى الْكَافِرِ) وَلَوْ ذِمِّيًّا لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا} [التوبة: ٨٤] ؛ وَلِأَنَّ الْكَافِرَ لَا يَجُوزُ الدُّعَاءُ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ} [النساء: ٤٨ Artinya: “Haram hukumnya menshalati non-muslim meskipun berstatus dzimmi karena firman Allah: Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka (At-taubah: 84). Dan dikarenakan tidak boleh mendoakan non-muslim untuk mendapatkan ampunan karena firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (An-Nisa’: 48)” (Imam Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj [Beirut: Darul Fikr, 1984], juz II, halaman 493). Imam Al-Bukhari menceritakan sebuah kisah: menjelang Abu Thalib wafat, Rasulullah saw mendampinginya dan memintanya agar mengucap syahadat, namun di tempat itu hadir pula Abu Jahl, ia meyakinkan Abu Thalib agar tidak mengucap syahadat. Abu Thalib pun wafat tanpa mengucap syahadat. Rasulullah SAW bersabda: أَمَا وَاللهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ. فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ﴾ الْآيَةَ Artinya: “Demi Allah sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu selagi aku tidak dilarang. Lalu Allah menurunkan ayat 113 surah At-Taubah” (Shahihul Bukhari [Beirut: Dar Thuqin Najah, 2001], juz II, halaman 95). Berikut ini ayat yang dimaksud dalam hadits tersebut: مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسْتَغْفِرُوا۟ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرْبَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ Artinya: “Tidak ada hak bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun mereka ini kerabat(-nya), setelah jelas baginya bahwa sesungguhnya mereka adalah penghuni (neraka) Jahim.”

Read More

Ketika Gen Z Tertarik Ikuti Majelis Subuh

Surabaya — 1miliarsantri.net : Gus Ahmad Kafa dari Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Ning Sheila Hasina Zamzami (istriny) dari Pesantren Al-Baqarah, Lirboyo, Kediri, membagikan resep “Pede” (Percaya Diri) atau anti “insecure” (tidak percaya diri) kepada ratusan Generasi Z Islami (GenZI) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS). Dalam kajian rutin Majelis Subuh GenZI (MSG) bertajuk “GenZI, Percaya Diri – Kembangkan Potensi”, Gus Ahmad Kafa dan Ning Sheila mengapresiasi kajian bulanan MSG di MAS. “Ini (MSG) acara yang luar biasa, karena jarang anak muda yang semangat ngaji pada subuh, kalau jam 08.00-09.00 WIB masih biasa,” ungkapnya. Kepada ratusan GenZI yang aktif mengikuti MSG itu, Gus Ahmad Kafa membagikan pengalaman awalnya yang dulunya merupakan sosok introvert yang jika tampil justru tidak percaya diri, termasuk ketika diperintah membacakan peraturan di pondok sendiri kepada para santri. “Dulu, saya grogi, bingung, dan blank kalau diminta bicara di depan orang banyak, saya termasuk tipe introvert, tapi saya akhirnya berani belajar pada kehidupan melalui orang tua dan guru. Saya berani bicara di depan santri karena takut dimarahi orang tua, kemudian guru juga sering melatih dan memotivasi saya,” sambungnya. Jadi, katanya, resep “Pede” adalah latihan berbicara di depan orang banyak dan memotivasi diri melalui orang tua atau senior. “Saya dilatih guru membaca peraturan sekolah di depan kelas pada setiap hari bacakan peraturan di depan kelas, hal itu setahunan lebih,” katanya. Pelatihan dari guru dan motivasi dari orang tua akhirnya membangun kepercayaan dirinya. “Saya mulai pede dengan berproses, saya yakin bahwa keluar dari zona nyaman tapi masa depan jelas itu lebih baik daripada berada di zona nyaman tapi masa depan justru tidak jelas,” katanya. Selain resep berupa berproses melalui pelatihan dan mencari motivasi diri, Gus Ahmad Kafa juga membagikan resep lain yakni berpenampilan terbaik yang tidak harus mahal, tapi akan meningkatkan kepercayaan diri.

Read More

Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim antara Kultur Tradisional dan Moderen

Gresik — 1miliarsantri.net : Makam Sunan Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, adalah salah satu situs penting dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Sunan Malik Ibrahim adalah salah satu wali songo yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Dalam konteks modernisasi, pengelolaan makam Sunan Malik Ibrahim kini telah mengalami beberapa perubahan, baik dalam aspek infrastruktur, pengelolaan sosial, maupun ritual keagamaan yang dilaksanakan di sana. Pengelolaan makam Sunan Malik Ibrahim telah memasuki era modernisasi dengan berbagai perubahan yang melibatkan teknologi dan sistem manajerial yang lebih efisien. Salah satunya adalah penggunaan sistem informasi untuk manajemen data pengunjung, serta upaya menjaga kebersihan dan kenyamanan makam dengan fasilitas yang lebih baik. Di sisi lain, perkembangan infrastruktur seperti pembangunan jalan, tempat parkir, dan area publik lainnya mempermudah akses bagi peziarah. Namun, selain modernisasi fisik, pendekatan terhadap pelestarian budaya dan agama juga mengalami transformasi. Meskipun makam ini tetap menjadi tempat yang suci bagi umat Islam, pengelolaan makam juga harus mengakomodasi kepentingan pariwisata. Oleh karena itu, ada upaya untuk menyeimbangkan antara nilai-nilai spiritual dan komersialisasi dalam pengelolaan objek wisata religi ini. Modernisasi tidak hanya memengaruhi pengelolaan makam, tetapi juga memengaruhi praktik keagamaan yang berlangsung di sekitar makam. Dalam beberapa kasus, beberapa tradisi atau ritual yang dulunya dilaksanakan secara sederhana dan berbasis pada adat lokal mulai disesuaikan dengan praktik yang lebih terstruktur dan modern. Misalnya, dalam hal penyelenggaraan acara keagamaan, seperti haul atau peringatan wafatnya Sunan Malik Ibrahim, kita melihat adanya pengaruh penggunaan media digital untuk menyebarkan informasi dan memperluas jangkauan acara tersebut. Namun, modernisasi ini juga menimbulkan tantangan, yaitu bagaimana menjaga kesakralan dan keaslian tradisi agama agar tetap terjaga di tengah perubahan zaman. Sebagian masyarakat menganggap bahwa beberapa bentuk modernisasi mungkin mengurangi kedalaman spiritual dari tradisi tersebut, karena semakin banyak intervensi dari unsur-unsur komersial.

Read More