Perang Gaza: Netanyahu Ingin Ambil Alih Penuh Gaza Meskipun Militer Israel Tidak Setuju

Yerusalem, Palestina – 1miliarsantri.net: Meskipun terdapat perbedaan pendapat antara Zamir dan anggota parlemen sebagaimana dilaporkan media Israel, Benyamin Netanyahu tetap mencari dukungan dan persetujuan untuk mengambil alih penuh Gaza. Pemerintahan Israel yang dipimpin PM Benyamin Netanyahu diperkirakan akan meminta persetujuan kabinet keamanan pada Kamis malam untuk rencana militer bertahap baru untuk merebut kendali penuh atas Jalur Gaza. Menurut laporan Media Israel yang dikutip dari arabnews.com, rencana yang didukung oleh Netanyahu berpotensi menggusur hingga satu juta warga Palestina selama lima bulan ke depan. Rencana Menyerang Kota Gaza dan Kamp-Kamp Pengungsi Pusat Rencana mengambil alih penuh Gaza dengan kekuatan militer, menurut laporan The Times of Israel, Militer Israel akan memulai serangan terhadap Kota Gaza dan kamp-kamp pengungsi pusat, mendorong sebagian besar penduduk ke selatan menuju zona kemanusiaan yang ditentukan di Mawasi. Serangan yang direncanakan tersebut menurut laporan tersebut bertujuan untuk membongkar sisa benteng Hamas dan menekan kelompok tersebut agar membebaskan sekitar 50 sandera yang masih ditawan di Gaza, yang sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup. Dalam citra satelit yang terdokumentasi, perbandingan antara situasi sebelum perang (pembantaian) di Gaza timur dan setelahnya menunjukkan kehancuran yang meluas yang telah memusnahkan seluruh lingkungan —termasuk rumah sakit, sekolah, rumah, dan pusat layanan— menjadikannya puing-puing tak bernyawa. Ketegangan Dan Perbedaan Pendapat Internal Elit Kepemimpinan Israel Usulan mengambil alih penuh wilayah Kota Gaza oleh Israel yang didukung PM Netanyahu mendapat penentangan dan penolakan oleh sejumlah petinggi militer IDF. Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengeluarkan pernyataan tegas menjelang rapat kabinet yang dijadwalkan, dia berjanji untuk terus menyampaikan posisi militer menolak rencana Netanyahu “tanpa rasa takut.” Perbedaan pendapat antara Zamir dan anggota kabinet mengenai kelayakan rencana tersebut dan risiko yang ditimbulkannya bagi para sandera.

Read More

Lebih dari Sekadar Bebas Riba, Ini Hikmah Bertransaksi di Unit Usaha Syariah

Bekasi – 1miliarsantri.net: Tren pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia terus berkembang menuju arah yang positif dalam beberapa waktu terakhir. Bank hingga koperasi berbasis syariah mulai bermunculan dan berkembang pesat, terutama di kalangan umat Islam yang makin sadar akan pentingnya bertransaksi secara halal. Namun sayangnya, pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah sering kali masih terbatas hanya pada satu hal, yakni bebas riba. Padahal, bertransaksi di unit usaha syariah bukan hanya soal menghindari riba. Melainkan ada banyak hikmah yang bisa dipetik, baik dari sisi spiritual, sosial, hingga keberkahan hidup secara menyeluruh. Baca juga: Usaha Syariah ‘Meraih Laba’ Tanpa Kehilangan Berkah Dan artikel ini akan membahas dan mengupas tuntas mengapa bertransaksi di unit usaha syariah adalah langkah yang lebih bermakna daripada sekadar mematuhi larangan riba. Prinsip Keadilan dalam Transaksi sebagai Pilar Utama Dalam sistem ekonomi Islam, larangan riba adalah bagian dari prinsip yang lebih besar yakni keadilan dan keseimbangan dalam muamalah. Unit usaha syariah tidak hanya menghapus unsur ini, tapi juga membangun transaksi atas dasar kejujuran, transparansi, dan kesepakatan yang setara antar pihak. Sebagai contoh dalam akad murabahah, konsumen telah mengetahui sejak awal harga asli barang beserta margin keuntungan yang diperoleh penjual. Tidak ada bunga tersembunyi, denda sepihak, atau penalti yang mencekik seperti dalam sistem konvensional. Di sinilah letak keunggulan dalam transaksi menjadi adil, terbuka, dan menenangkan hati. Menjaga Keberkahan Harta dan Rezeki Harta yang diperoleh melalui cara halal dan sesuai syariat memiliki nilai keberkahan yang tidak bisa diukur dengan materi semata. Allah SWT tidak sekadar memerintahkan umat-Nya untuk mencari rezeki, tetapi juga menekankan pentingnya mencari rezeki yang Halalan Thayyiban. Baca juga: Sistem Koperasi Syariah Dan Ikhtiar Membangun Ekonomi Umat Yang Berkeadilan Salah satu wujud ikhtiar menjaga kebersihan harta adalah dengan bertransaksi melalui unit usaha yang berbasis syariah. Walau keuntungan yang diperoleh mungkin tidak sebesar sistem ribawi yang mencekik, tapi keberkahan hasilnya terasa dalam ketenangan batin, ketentraman keluarga, dan kemudahan hidup yang tidak selalu dapat dijelaskan secara logika duniawi. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Umat Setiap rupiah yang kita belanjakan di unit usaha syariah bukan hanya bermanfaat bagi diri kita, tapi juga membantu membesarkan roda ekonomi umat. Baik itu koperasi pesantren, UMKM berbasis syariah, atau bank syariah lokal, semuanya adalah bagian dari ekosistem ekonomi yang berpihak pada masyarakat kecil, bukan pada pemodal besar asing. Dengan bertransaksi di tempat-tempat tersebut, kita membangun kemandirian ekonomi umat, mendukung usaha sesama muslim, serta memperkuat jaringan distribusi rezeki yang lebih adil dan merata. Ini adalah bentuk ibadah sosial yang sering kali terlupakan dalam menggerakkan ekonomi secara gotong royong dan etis. Mendidik Diri untuk Tunduk pada Syariat Sering kali kita berpikir bahwa berbisnis atau bertransaksi adalah urusan dunia semata. Padahal, Islam memandang setiap aktivitas hidup sebagai bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar.

Read More

Tersesat dalam Swipe: Dampak Konten Islami di Era Media Sosial

Surabaya – 1miliarsantri.net : Setiap pagi, Fulan, 26 tahun, seorang karyawan swasta di Surabaya, membuka TikTok sebelum sarapan. Niatnya sederhana: mencari pencerahan lima menit sebelum kerja dimulai. Namun dalam waktu kurang dari setengah jam, ia sudah melewati ceramah pendek tentang surga, video sedekah dengan backsound dramatis, potongan debat agama yang memanas, hingga influencer hijrah yang mempromosikan parfum sunnah sambil memperlihatkan isi kamar estetiknya. Fulan menutup ponselnya dengan hati yang tidak lebih tenang dari sebelumnya, justru lebih bising. Kemudian memulai harinya bukan dengan dzikir pagi di atas sajadah, tetapi dengan membuka Instagram dan TikTok. Ia mengikuti puluhan akun bertema dakwah. Video pendek yang menampilkan kutipan ulama, peringatan kematian, atau ajakan hijrah membanjiri gawainya. Namun bukan ketenangan yang ia dapat, melainkan rasa cemas. Ia bertanya dalam hati, “Kenapa aku tahu banyak, tapi tetap merasa jauh dari Allah?” Di era digital saat ini, konten Islami viral menjadi bagian dari rutinitas harian. Estetika pastel, potongan ayat Al-Qur’an, backsound sendu, dan video 30 detik dianggap cukup untuk memotivasi keimanan. Tapi dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu dibangun lewat proses panjang, ada adab dalam menuntut ilmu, ada guru, musyawarah, dan penghayatan makna. Sayangnya, banyaknya konten Islami justru bisa menipu. Kita merasa tahu banyak karena sering terpapar, padahal tidak benar-benar belajar. Akibatnya, muncul generasi yang kenyang secara visual, tapi lapar dalam pemahaman. Dalam dunia konten, ‘kecepatan’ lebih penting daripada ‘ketepatan’. Potongan ceramah bisa diedit dan disebar tanpa konteks, menghasilkan “kebenaran instan” yang menyesatkan. Fulan pernah membagikan video seorang ustaz yang mengharamkan aktivitas tertentu, hanya untuk mengetahui belakangan bahwa video itu dipelintir konteksnya dan telah disanggah oleh sang ustaz. Fenomena ini mirip dengan “fast-food Islam”: cepat dikonsumsi, mudah dicerna, tapi miskin gizi keilmuan. Layaknya junk food, jika dikonsumsi terus tanpa bimbingan, justru membahayakan. Selain itu, banyak akun dakwah di media sosial juga merangkap sebagai kanal jualan. Setelah video tentang zuhud, muncul iklan mukena. Setelah ceramah kematian, muncul promosi gamis. Dakwah dan komersial bercampur tanpa batas. Platform seperti TikTok dan Instagram bekerja dengan algoritma: yang viral lebih diprioritaskan daripada yang mendidik. Hal ini mengaburkan niat. Apakah dakwah itu karena Allah atau untuk branding pribadi? Sebagai penonton, Fulan merasa perlu tampil Islami. Ia menyukai dan membagikan video dakwah. Ia merasa bersalah jika tidak menyapa konten hijrah. Tapi semua itu hanya di layar. Di baliknya, ia masih menunda salat, kesulitan menjaga lisan, dan tetap merasa jauh dari Allah. Inilah bentuk keimanan performatif. Kita sibuk membangun citra Islami di media sosial, tapi lupa membangun hubungan batin dengan Tuhan. Padahal, dalam Islam, amal terbaik justru yang dilakukan diam-diam, tanpa sorotan. Sunyi yang Hilang dan Ibadah yang Terpeleset Jadi Konten

Read More

Estetika Halal: Mengapa Produk Muslim-Friendly Kini Juga Soal Gaya

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di etalase pusat perbelanjaan, kemasan-kemasan produk halal tidak lagi tampil sederhana. Botol serum bertuliskan “Halal Certified” kini bersanding dengan label minimalis bergaya Skandinavia. Mukena travel dijual dalam pouch kulit sintetis pastel yang ramping dan elegan. Hijrah hari ini tidak hanya mengubah kebiasaan, tetapi juga membentuk estetika baru yang dikemas secara visual dan strategis. Konsumen muslim urban kini tak hanya mencari kehalalan dari sisi bahan dan proses, tapi juga memperhatikan desain, kemasan dan estetika. Dalam satu dekade terakhir, pasar produk halal dan Muslim-friendly mengalami pertumbuhan signifikan. Label halal kini bukan hanya keperluan fiqh, melainkan telah menjadi bagian dari identitas gaya hidup yang menjanjikan loyalitas konsumen. Banyak brand berlomba-lomba menawarkan produk dengan citra Muslim-friendly, mulai dari perlengkapan ibadah, kosmetik halal, hingga kebutuhan harian. Namun di balik tren ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah estetika halal ini merupakan ekspresi religius yang otentik, ataukah semata bentuk reduksi spiritualitas menjadi gaya pasar? Ambiguitas ini terlihat dari cara brand memosisikan nilai-nilai Islam dalam kampanye mereka. Sebuah produk pelembab kulit, misalnya, tidak hanya menonjolkan bahan wudhu-friendly, tetapi juga menyisipkan kutipan hadis dengan tipografi serif yang mewah. Tentu, ini bisa membantu sebagian konsumen, terutama mereka yang baru memulai perjalanan hijrah. Namun ketika desain mengambil alih substansi, spiritualitas berisiko menjadi tren musiman. Media sosial turut mempercepat transformasi ini. Hijrah kini tak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga sebagai penampilan visual yang terstruktur dan Instagramable. Feed berisi flatlay skincare halal lengkap dengan caption inspiratif membuat hijrah tampak seperti hal yang harus rapi dan siap difoto. Untuk sebagian Muslimah, ini bisa menjadi motivasi positif. Namun bagi yang lain, justru menciptakan tekanan psikologis seolah hijrah harus tampil ‘sempurna’ sejak awal. Di sisi lain produk halal yang menarik, bisa menjadi media dakwah yang lembut dan efektif. Risiko Komersialisasi: Ketika Halal Menjadi Simbol Gaya Hidup Premium

Read More

Dari Kulkas Sampai Sedekah: Gaya Hidup Ramah Lingkungan Muslim Urban

Surabaya – 1miliarsanti.net : Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, banyak Muslim urban mulai merenungkan ulang makna hidup berkelanjutan. Ungkapan populer bahwa isi kulkas bisa lebih jujur daripada isi doa tak lagi terdengar berlebihan. Sebab, dari tumpukan sambal sachet hingga sisa ayam minggu lalu yang mulai mengering, kulkas bicara banyak tentang pola konsumsi kita. Artikel ini akan mengajak kita menelusuri bagaimana prinsip keberlanjutan dapat terwujud dalam keseharian seorang muslim modern, tanpa kehilangan esensi spiritual dan kepedulian sosialnya. Sebab semua aktivitas yang kita lakukan di dunia, menjadi bagian dari ikhtiar menjaga bumi sebagai amanah dari Sang Pencipta. Bagi sebagian Muslim urban, menjadi pribadi yang peduli lingkungan tak lagi sekadar ikut tren “eco-friendly” atau pajangan tagar hijau di Instagram. Kesadaran itu lahir dari pengalaman sederhana: membuang minyak goreng ke wastafel, membiarkan tahu putih membusuk, atau menumpuk makanan sisa yang berujung di tempat sampah. Momen-momen itu menumbuhkan satu pertanyaan besar: bagaimana menghidupi nilai Islam lewat gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan spiritualitas? Fulan, pekerja kreatif di Jakarta Selatan, bukan aktivis lingkungan. Tapi suatu sore saat membuka kulkas dan menemukan tiga kotak makanan kedaluwarsa, ia tersentak. “Ini bukan sekadar lupa, ini soal akhlak,” ujarnya dalam hati. Sejak itu, Fulan mulai menerapkan strategi belanja dan konsumsi yang lebih bijak: menyusun menu mingguan, mencatat stok bahan sebelum belanja, menyimpan sisa nasi untuk diolah kembali, hingga menolak membeli bahan yang tidak akan dimasak segera. Praktik ini tampak sederhana, namun memiliki dimensi spiritual. Dalam Islam, makanan yang mubazir bukan hanya bentuk kelalaian, tapi juga mencerminkan kurangnya rasa syukur dan tanggung jawab terhadap nikmat Tuhan. Gaya Hidup Eco-Islam: Dari Infak Pangan hingga Diet Syariah Ramah Lingkungan Nol sampah (Zero waste) dalam perspektif Muslim urban bukan hanya tentang membawa totebag atau membeli sabun batang. Dalam konteks gaya hidup dan lingkungan, zero waste mengacu pada prinsip hidup yang bertujuan untuk mengurangi limbah seminimal mungkin. Termasuk tindakan ini juga tentang menolak membeli air kemasan, dan berpikir ulang sebelum bersedekah dalam bentuk makanan cepat basi yang akhirnya dibuang pengurus panti asuhan. Di sinilah spiritualitas bertemu ekologi: keinginan menjaga bumi lahir dari empati dan kesadaran sebagai khalifah di muka bumi. Di sejumlah kota seperti Yogyakarta, mulai muncul praktik infak pangan. Komunitas seperti Food Bank Lumbung Mataraman dan Gerakan Gelar Gulung mengusung konsep “sedekah sayur” atau “beras patungan”. Prinsipnya sederhana: siapa yang punya lebih, memberi; siapa yang butuh, mengambil. Tidak ada syarat administratif, cukup kepercayaan dan niat untuk berbagi sebagai ibadah sosial.

Read More

Umar bin Khattab: Pilar Keadilan dan Ketegasan dalam Sejarah Islam

Jakarta – 1miliarsantri.net: Ketika berbicara tentang tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam, maka nama Umar bin Khattab pasti menjadi salah satu yang akan terlintas di benak. Sosok yang dikenal tegas, adil, dan penuh keberanian ini bukan hanya seorang Khalifah, tapi juga simbol nyata dari kekuatan iman dan integritas dalam memimpin. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan hidupnya, terutama soal bagaimana menghadirkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini akan mengajak kalian mengenal lebih dekat tentang siapa Umar bin Khattab dan apa perannya dalam sejarah Islam. Mengenal Umar bin Khattab dalam Lintasan Sejarah Ketika bicara soal sejarah Islam, tak lengkap rasanya tanpa menyinggung peran besar Umar bin Khattab. Beliau adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan juga termasuk dalam kelompok al-Khulafaur Rasyidin, yakni para pemimpin Islam yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Baca juga: Dari Syirik Menuju Tauhid! Revolusi Spiritual Nabi Muhammad SAW dan Lahirnya Peradaban Islam Umar bin Khattab mulanya dikenal sebagai penentang Islam yang keras. Tapi siapa sangka, hidayah menyapanya dalam momen yang begitu dramatis dan emosional. Setelah memeluk Islam, Umar bin Khattab menjadi salah satu pembela yang paling berani. Ia tidak lagi bersembunyi dalam menjalankan ajaran Islam, bahkan secara terbuka menyatakan keislamannya di depan kaum Quraisy yang pada masa itu sangat menentang Islam. Sebagai khalifah, Umar bin Khattab memimpin selama sekitar 10 tahun, dan dalam waktu yang terbilang singkat itu, ia berhasil membawa Islam ke masa keemasannya. Wilayah kekuasaan Islam pada masa itu meluas hingga ke Persia, Romawi Timur bahkan berbagai daerah di luar Jazirah Arab. Dan yang tak kalah penting Umar juga dikenal karena prinsip keadilan dan ketegasannya yang luar biasa. Ia tidak segan mengoreksi aparatnya sendiri, bahkan bersedia menerima kritik dari rakyat jelata. Umar Bin Khattab, Pilar Keadilan dan Ketegasan yang Menginspirasi Umar bin Khattab tidak hanya dikenal karena ekspansi wilayah kekuasaan Islam, tetapi lebih karena prinsip keadilan yang ia pegang erat. Keadilan bagi Umar adalah nilai inti dari kepemimpinan. Dalam menegakkan hukum Ia tidak pernah memandang status sosial, harta kekayaan, atau kedekatan pribadi. Semua orang, tanpa terkecuali, harus diperlakukan sama dan adil.

Read More

Kepala Militer Israel Tolak Usulan Netanyahu Rebut Sisa Wilayah Gaza

Yerusalem – 1miliarsantri.net: Pertemuan antara Perdana Menteri Israel dengan Kepala Militer yang berlangsung tiga jam berlangsung tegang. Usulan Netanyahu untuk merebut sisa wilayah Gaza ditolak Kepala Staf Militer. Mengutip arabnews.com, Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir memperingatkan perdana menteri akan bahaya yang ditimbulkan yang bisa menjebak militer zionis dan mengancam keselamatan jiwa para sandera yang ditawan oleh pejuang Palestina. Baca juga: Biadab! Israel Menembakan Rudal Ke Arah Anak-Anak Gaza Yang Sedang Mengambil Air Klaim Israel Kuasai 75 Persen Wilayah Gaza Pemerintah zionis mengklaim berhasil menguasai 75 persen wilayah Gaza setelah hampir dua tahun terjadinya perang yang diawali pada 7 Oktober 2023 silam, ketika pejuang Hamas berhasil menyerang wilayah Israel dan menghancurkan berbagai fasilitas militer zionis yahudi serta menawan tentara israel dan penduduk sipil. Israel menghancurkan rumah, sekolah, masjid serta rumah ibadah umat Kristen, dan rumah sakit, juga fasilitas medis lainnya. Sebagian besar wilayah kantong pesisir yang padat penduduk itu telah hancur akibat pemboman yang dilakukan israel. Pihak militer Israel menuduh Hamas beroperasi di antara warga sipil, terkadang menghindari wilayah-wilayah yang menurut intelijen diduga menjadi tempat para sandera ditawan, dan mantan tawanan mengatakan para penculik mengancam akan membunuh mereka jika pasukan Israel mendekat. Baca juga: Gadis Kecil Gaza: ‘Kembalikan Ibuku Dari Surga’ Menteri Pertahan Israel Pastikan Militer Melaksanakan Keputusan Pemerintahnya Israel Katz melalui pesan tertulisnya mengatakan bahwa “panglima militer memiliki hak dan kewajiban untuk menyuarakan pendapatnya”, dia melanjutkan, “tetapi militer akan melaksanakan keputusan pemerintah hingga semua tujuan perang tercapai”, tegasnya Rabu 6/7/2025. Sementara itu Kantor Perdana Menteri Israel menolak memberikan tanggapan dan komentar terkait pertemuan dengan Zamir dan petinggi militer zionis pada Selasa 5/8/2025. PM Netanyahu pada medio Mei 2025 mengatakan “Israel akan menguasai seluruh Gaza, diapun meenegaskan memimpin pemerintahan koalisi paling dalam sejarah Israel dan bersama mitranya akan mundur jika pemerintah mengakhiri perang.”

Read More

Wahyu Kalaseba: Titah Suci Yang Memanggil Putra Wayah Nusantara Untuk Bangkit

Jakarta – 1miliarsantri.net: Wahyu Kalaseba bukan sekadar ilham atau bisikan gaib dari ruang batin yang samar. Ia adalah petunjuk Ilahi, titah suci yang turun dari langit ke dalam ruang hening kesadaran seorang insan terpilih, yang bersih dari pamrih, yang hatinya lapang menampung cinta semesta dan yang jiwanya ikhlas memikul beban zaman. Wahyu itu telah menggema, bukan lagi rahasia yang hanya diketahui di balik tirai kabut pegunungan, getaran sunyi yang hanya terdengar dalam senyapnya gua dan di balik batu karang pantai. Wahyu Kalaseba telah memanggil putra wayah pilihan Nusantara, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, dari puncak gunung tertinggi hingga lembah yang terdalam. Ia datang bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijalankan, untuk dihidupkan, untuk dilaksanakan dengan sepenuh kesadaran jiwa dan raga. Masih banyak dari kita yang memilih menyepi—tirakat di atas gunung, menyatu dengan keheningan langit dan bumi, mencoba mengurai tabir rahasia kehidupan. Ada yang bersemedi di batu karang pesisir pantai, menanti bisikan ombak sebagai jawaban ilahi. Ada pula yang napak tilas ke makam para pepunden, menyusuri jejak leluhur untuk menyambung kembali warisan kesadaran adiluhung. Bahkan ada yang puasa Pati Geni 40 hari, membakar segala syahwat dunia demi membuka pintu-pintu langit. Waktunya Bangkit Namun kini, tiba waktunya untuk bangkit, bukan lagi zaman berdiam dalam sunyi, tapi zaman untuk menyalakan cahaya dalam keramaian. Tirakat dan laku batin telah membentuk kita, kini saatnya langkah konkret kita menjadi pancaran kebermanfaatan bagi umat dan semesta. Saatnya bergerak dengan langkah terukur, dengan strategi yang matang, dan dengan niat yang lurus. Wahyu Kalaseba mengandung misi besar, menyatukan Cakra Langit dan Cakra Bumi. Cakra Langit adalah simbol kehendak Ilahi atau tatanan suci dari Sang Pengatur Semesta. Sementara Cakra Bumi adalah daya gerak manusia, kekuatan kolektif anak bangsa, getaran batin rakyat yang menyatu dengan tanah airnya. Ketika keduanya tersinkronisasi, maka terbukalah jalan cahaya. Sebuah jalan yang tak hanya memulihkan tatanan duniawi, tetapi juga menyembuhkan luka-luka batin kolektif yang telah lama menjadi belenggu peradaban. Inilah titik kebangkitan, ketika langit memberikan arah, dan bumi melaksanakan gerak.

Read More

Tiga Hal Penting yang Harus Dipersiapkan Sebelum Mengurus Sertifikat Halal MUI

Surabaya – 1miliarsantri.net: Sertifikasi halal dari MUI kini menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku usaha, terlebih setelah diterapkannya kewajiban sertifikasi halal secara bertahap melalui Undang-Undang Jaminan Produk Halal No. 33 Tahun 2014. Banyak pelaku usaha, terutama pemula, kebingungan harus mulai dari mana. Penulis pernah mengalami situasi dimana bekerja di perusahaan pembalut yang baru berdiri 1 tahun. Mereka ingin segera mendapat sertifikat halal MUI agar menguatkan kepercayaan customer terutama yang muslimah. Awalnya penulis hanya sebagai anggota yang dimintakan tolong melengkapi dokumen SJH tanpa briefing yang jelas. Alhasil saya searching berdasarkan info di google. Pas proses audit yang terjadi saat pandemi 2020, ternyata 80% dokumen SJH harus direvisi padahal saat itu tim auditor sudah mengecek dan menginterview bagian pabrik produksi yang berada di luar negeri. Akhirnya tim halal perusahaan dirombak lagi. Penulis diberikan tugas oleh manajemen untuk menjadi ketua tim halal dan harus memperbaiki dokumen SJH dengan kurun waktu 3 minggu. Lebih dari itu auditor tidak bisa memberikan kelayakan halal. Alhamdulillahnya selesai tepat waktu dan produk mendapat label halal MUI. Dari proses itu, penulis menemukan bahwa ada tiga hal utama perlu disiapkan secara serius, yaitu tim halal, dokumen SJH, dan kesiapan biaya agar tidak kebingungan di tengah jalan. 1.   Tim Halal: Ketua yang Kompeten Adalah Pondasi Sesuai dengan standar Sistem Jaminan Halal (SJH) dari LPPOM MUI, Tim Manajemen Halal (TMH) adalah tim internal perusahaan yang bertanggung jawab memastikan pelaksanaan dan pengawasan terhadap implementasi SJH di perusahaan. Tim ini wajib dibentuk sebelum mengajukan sertifikasi. Peran tim halal yang paling utama adalah ketua karena dialah yang akan mensosialisasikan, menerapkan sistem halal, melakukan pemantauan terhadap jalannya SJH ke divisi yang terkait, membuat dokumen laporan SJH, koordinasi dengan audit. Kalau ketua tidak kompeten maka akan menjadi penghambat terealisasinya sertifikat halal. Adapun kriteria ketua tim halal yang diakui dalam sistem SJH adalah: Memahami proses produksi di perusahaan secara menyeluruh, sebagai berikut: Setelah penulis terpilih menjadi ketua tim halal perusahaan, auditor halal dari MUI menyarankan untuk mulai mengikuti training sertifikat halal ke IHATEC (Indonesia Halal Training dan Education Center). Pelatihan berlangsung 2 hari, dimana hari pertama diberikan literasi seputar kehalalan dan hari kedua pelatihan pembuatan dokumen SJH untuk 11 kriteria. Di hari terakhir, peserta wajib mengikuti tes pengetahuan selama pelatihan. Minimal harus mendapat point 60-70 agar tidak mengikuti tes ulang. Dan alhamdulillah penulis berhasil mendapat 72. Jadi hasil sertifikat ini nantinya akan menjadi dokumentasi untuk SJH di kriteria pelatihan. Menurut LPPOM MUI dalam Pedoman SJH, kekuatan tim halal menentukan keberhasilan implementasi sistem halal secara berkesinambungan. Karena itu, pemilihan ketua tim tidak boleh sekadar formalitas, melainkan berdasarkan kapasitas, integritas, dan akses koordinasi.

Read More

Dari Syirik Menuju Tauhid! Revolusi Spiritual Nabi Muhammad SAW dan Lahirnya Peradaban Islam

Tegal – 1miliarsantri.net: Sebelum Islam hadir membawa petunjuk, masyarakat Arab berada dalam masa yang disebut sebagai zaman jahiliyah. Istilah ini tidak hanya menggambarkan ketidaktahuan terhadap ilmu pengetahuan, tetapi juga merujuk pada kondisi moral, sosial, dan spiritual yang rusak dan gelap. Nilai-nilai kemanusiaan dikaburkan oleh kesyirikan, kekerasan, dan ketimpangan sosial. Namun, kondisi ini berubah secara drastis lewat misi agung Nabi Muhammad SAW yang mengembalikan manusia kepada tauhid dan nilai-nilai Ilahi. Dan mari, di artikel ini sejenak kita refleksi kembali perjalanan transformatif masyarakat Arab dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam, yang tidak hanya mengubah Mekkah dan Madinah, tetapi juga meletakkan dasar peradaban dunia yang adil dan beradab. Akar Tauhid yang Terlupakan Masyarakat Arab, khususnya suku Quraisy, sejatinya pernah mengenal ajaran tauhid. Mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS yang telah mewariskan agama Hanifiyah, sebuah ajaran yang murni menekankan keesaan Allah SWT dan keadilan dalam kehidupan sosial. Ka’bah sendiri adalah simbol tauhid yang dibangun oleh dua nabi tersebut sebagai rumah ibadah kepada Allah SWT. Namun, seiring berjalannya waktu, ajaran ini mulai dilupakan. Interaksi dengan peradaban lain, pengaruh asing, serta lemahnya pemahaman menyebabkan penyimpangan akidah. Tauhid berubah menjadi politeisme dan khurafat. Amr bin Luay al-Khuzai kemudian tercatat dalam sejarah sebagai tokoh yang pertama kali memperkenalkan berhala ke Mekkah, sehingga membuka jalan bagi tersebarnya praktik syirik di Jazirah Arab. Ia membawa patung bernama Hubal dari Syam dan meletakkannya di dekat Ka’bah. Sejak saat itulah, setiap suku mulai membawa dan menempatkan berhala mereka untuk dijadikan sesembahan. Ka’bah yang dahulu pusat tauhid, berubah menjadi tempat ritual syirik. Ragam Kepercayaan Jahiliyah Penyimpangan akidah melahirkan berbagai bentuk kepercayaan yang menyimpang dari nilai tauhid. Di antaranya: Tak hanya itu, praktik takhayul menyebar luas. Ada kepercayaan bahwa lapar disebabkan oleh ular dalam perut, atau bahwa kekuatan gaib bisa diperoleh dengan memakai cincin besi. Untuk meminta hujan, mereka mengikat rumput kering di ekor hewan ternak sambil menari di gurun. Semua ini menandai betapa masyarakat Arab kehilangan arah spiritual. Sistem sosial yang terbentuk pun tidak adil: perempuan tidak dihargai, bayi perempuan dikubur hidup-hidup, dan kaum miskin tertindas oleh pemilik kekuasaan dan harta. Pengaruh Agama Samawi Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, dua agama Samawi, yakni Yahudi dan Kristen, yang sudah lebih dulu masuk ke wilayah Arab. Kaum Yahudi banyak tinggal di Yatsrib (Madinah), sementara Kristen tersebar di wilayah Syam dan Yaman melalui pengaruh Kekaisaran Romawi Timur dan Kerajaan Habsyi. Namun, penyebaran dua agama ini bersifat terbatas dan tidak membentuk tatanan sosial yang menyeluruh. Di samping itu, agama-agama tersebut telah mengalami distorsi ajaran. Di tengah kehampaan moral dan spiritual inilah, kebutuhan akan pembaruan menjadi sangat mendesak. Kelahiran Pembaharu Pada tahun 570 M, lahirlah seorang anak dari Bani Hasyim, keturunan mulia dari Quraisy, Muhammad bin Abdullah. Beliau tumbuh sebagai pribadi jujur, amanah, dan berintegritas tinggi. Oleh karena itu, beliau pun dikenal di kalangan masyarakat Mekkah dengan sebutan Al-Amin. Pada usia 40 tahun, beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira melalui Malaikat Jibril. Firman pertama itu, Iqra’ (bacalah), bukan hanya instruksi membaca secara literal, tetapi juga ajakan untuk memahami hakikat kehidupan dan mengembalikan manusia kepada tauhid. Dakwah dalam Tantangan

Read More