Motivasi Bangkit Dari Depresi ala Amira dalam Novel Assalamualaikum Baitullah

Surabaya – 1miliarsantri.net : “Kita ke Baitullah, Nak. Nggak ada doa yang nggak diijabah di sana.” quote dari cuplikan film Assalamualaikum Baitullah itu selalu muncul di fyp beranda penulis. Film ini diangkat dari novel Islami karya Asma Nadia Assalamualaikum Baitullah, penulis best seller literatur Muslimah dan setiap karyanya banyak difilmkan. Tahun 2024, saya hanya bisa menyimpan niat kuat untuk umrah dan mempersiapkan diri dengan ilmu melalui membaca novel bunda Asma Nadia Assalamualaikum Baitullah. Dan dari kisah Amira, tokoh utama novel ini, penulis belajar bahwa Allah selalu membuka jalan untuk mereka yang ingin pulang kepada-Nya, meskipun awalnya datang dalam keadaan hancur. Karya novel Asma Nadia satu ini ditulis berdasarkan curhatan perempuan yang memenuhi DM atau chat. Bunda Asma menemukan kisah pilu seorang istri yang hampir bunuh diri karena diselingkuhi suaminya dan ada perempuan yang mengalami pelecehan seksual yang membuatnya berniat mengakhiri hidupnya. Ia menulis agar para perempuan punya harapan, bahwa luka tidak harus jadi alasan untuk berhenti. Dalam tokoh Amira, tergambarlah betapa dalamnya luka seorang wanita, tapi juga betapa luasnya rahmat Allah. Al-Qur’an Sebagai Penguat Jiwa, Penangkal Keputusasaan Amira pernah berada di titik terendah. Dalam waktu bersamaan, dia kehilangan suaminya karena berselingkuh, kehilangan ibunya selamanya, kehilangan janin, terancam kehilangan rahim karena tumor ganas, dan kehilangan harta. Dunia runtuh, dan tak ada siapa pun yang peduli. Amira depresi, hal itu membuatnya berdiri di balkon lantai atas hotel, bersiap mengakhiri hidupnya. Namun, Allah tidak tinggal diam. Seorang pria misterius menyelamatkannya yang hampir terjatuh mati. Semenjak tindakan gegabahnya, Amira perlahan mencari ketenangan dengan shalat malam, membaca Al-Qur’an. Ia menemukan ayat yang membuat dirinya benar-benar menyesal pernah melakukan hal itu. “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa:29-30) Selain ayat diatas, Amira pun menemukan hadits yang membuatnya berjanji tidak melakukan hal sia-sia itu lagi. “ Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, ia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga ia mati. Allah Ta’ala berfirman: “Hamba-Ku mendahului-Ku dengan dirinya, maka aku haramkan baginya surga.” (HR.Bukhari no.3463, Muslim no.113) Ketika pikiran suntuk, jiwa lelah bahkan hilang harapan, berhentilah sejenak untuk membaca pesan-pesan kebaikan yang ada dalam Al-Quran. Al-Quran adalah media penyembuh bagi hati yang rapuh. Paling penting yang harus kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk main-main tapi ada tujuan yaitu menjadi khalifah fil ard, manusia bermanfaat dalam peran di kehidupan masing-masing. Yang mana hasil kebaikannya akan menjadi amal jariyah ketika meninggal nanti. Yang memiliki hak prerogatif hidup dan mati manusia adalah Allah. Kalau Allah masih memberikan umur, itu artinya Allah masih sayang kepadamu, Allah mau kamu berlomba-lomba dalam kebaikan dan bisa masuk surganya Allah. Diselingkuhi, Balas Dendamlah Dengan Fokus Mengasah Diri dan Tetap Istiqomah Sakitnya diselingkuhi membuat Amira ingin balas dendam. Dengan keadaan depresi, ia sempat berpikir menanggalkan jilbabnya, mengenakan pakaian seksi, memoles wajah dengan glamour hanya untuk membuktikan bahwa ia juga bisa tampil seperti pelakor yang menggoda suaminya. Namun sahabatnya, Ayu memberi nasihat yang membuat Amira berpikir ulang, “Kalau kamu mau menunjukkan siapa kamu, tunjukkan dengan kesuksesan, bukan dengan menuruti rasa dendam. Sekarang fokus pada proses penyembuhan, banyak berdoa, dan setelah itu buktikan bahwa kamu nggak layak dicampakkan. Buktikan bahwa meninggalkan seorang Amira adalah kerugian besar yang tak bisa ditebus dengan apa pun.” Mulailah Amira berusaha melupakan pengalaman pahitnya dengan fokus membangun brand fashion Muslimah “Red-Ameera Boutique”. Baru dua tahun berdiri, Amira mampu membangun PT dan brandnya mulai terkenal. Ia bangkit bukan karena dendam, tetapi karena sadar bahwa dirinya berharga. Dalam menyembuhkan luka batinnya, Amira juga berkonsultasi kepada psikolog. Psikolognya menyarankan untuk Amira meredam dendam dengan memaafkan.

Read More

Sejarah Perjuangan Islam Melawan Penjajah di Indonesia: Sejarah yang Terlupakan

Situbondo – 1miliarsantri.net : Jika kita berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, biasanya yang langsung terlintas adalah pahlawan-pahlawan nasional seperti Soekarno, Hatta, atau Jenderal Sudirman. Tapi di balik semua nama besar itu, ada kisah yang sering kali dilupakan yaitu sejarah perjuangan Islam dalam melawan penjajahan. Padahal, jauh sebelum republik ini berdiri, umat Islam dari golongan para ulama, santri, hingga masyarakat pesantren sudah lebih dulu bergerak melawan ketidakadilan. Sejarah perjuangan Islam di Indonesia itu kaya banget. Tapi sayangnya, kadang justru tenggelam oleh narasi yang lebih dominan. Kita sering lupa bahwa perjuangan fisik dan spiritual para ulama dan santri punya kontribusi nyata dalam menjaga identitas bangsa, bahkan ketika senjata dan peluru menjadi pilihan terakhir. Kontribusi Santri dan Kyai dalam Melawan Penjajah di Indonesia Jika kalian pernah mendengar tentang resolusi jihad yang telah digagas oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, itu adalah puncak dari sejarah perjuangan Islam di tanah air. Tapi sebenarnya, keterlibatan umat Islam termasuk juga para santri dalam melawan penjajah sudah terjadi jauh sebelum itu. Sejak abad ke-17, ulama-ulama besar seperti Sultan Agung, Tuanku Imam Bonjol, hingga Pangeran Diponegoro sudah memimpin perlawanan melawan penjajah. Bukan sekadar konflik politik, tapi juga sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, eksploitasi, dan penindasan atas nama agama dan kemanusiaan. Di era perjuangan fisik, terutama menjelang dan pasca-proklamasi kemerdekaan, para kyai memegang peran penting. Mereka bukan hanya tokoh agama, tapi juga pemimpin moral dan komando gerakan rakyat. Para santri yang dididik dengan disiplin tinggi di pesantren menjadi prajurit-prajurit tangguh. Mereka berjuang bukan karena ingin kedudukan atau imbalan, tapi karena cinta tanah air yang mereka anggap sebagai bagian dari iman. Bayangkan saja, para santri belajar agama di pagi hari, lalu sore harinya latihan perang atau patroli dan malamnya melawan tentara Belanda. Persenjataan mereka kalah jauh. Tapi semangat dan keyakinan mereka justru menjadi kekuatan utama. Mereka percaya bahwa jihad melawan penjajah adalah bentuk ibadah yang mulia. Yang menarik, perjuangan para santri dan kyai ini berlangsung dalam diam, jauh dari sorotan kamera atau liputan media masa itu. Tapi jejaknya masih bisa kita lihat hari ini, dari nama-nama pondok pesantren yang dulu jadi markas gerilya, hingga tradisi peringatan Hari Santri yang sekarang jadi bagian dari identitas nasional.

Read More

Warisan Ilmuwan Muslim yang Bepengaruh Pada Peradaban Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Modern

Jakarta – 1miliarsantri.net: Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam telah memainkan peran penting dalam membangun dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. Di mulai sejak dari abad ke-8 hingga ke-14 Masehi, dunia Islam menjadi pusat kemajuan ilmiah yang melahirkan banyak tokoh cemerlang. Para tokoh cemerlang ini, atau yang sudah kita sering sebagai ilmuwan muslim, bukan hanya menjaga dan menerjemahkan ilmu pengetahuan kuno, tetapi juga mengembangkan penemuan-penemuan baru yang menjadi pondasi bagi kemajuan peradaban dunia. Kontribusi para ilmuwan muslim diwariskan dan dipergunakan hingga kini di berbagai bidang, mulai dari matematika hingga kedokteran. Baca juga : Mengenal Zaman Keemasan Islam: Puncak Kemajuan Ilmu dan Peradaban Para Tokoh Ilmuwan Muslim Paling Berpengaruh Beberapa tokoh ilmuan muslim paling berpengaruh, yang sampai saat ini penemuannya masih menjadi inspirasi dan menjadi warisan dunia: 1. Al-Khawarizmi Lahir di Khwarizm (sekarang Uzbekistan) pada abad ke-8, Al-Khawarizmi dikenal sebagai bapak aljabar. Karya monumentalnya, al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala, menjadi fondasi penting bagi lahirnya matematika modern. Ia juga berperan dalam mengenalkan sistem angka Hindu-Arab, yang kemudian menjadi standar numerik yang digunakan di seluruh dunia hingga saat ini. Istilah “algoritma” berasal dari namanya. 2. Ibn al-Haytham Ilmuwan asal Basra ini dikenal sebagai pionir dalam bidang optika dan pelopor metode ilmiah modern. Dalam karyanya “Kitab al-Manazir,” ia menjelaskan bagaimana cahaya dibiaskan dan dipantulkan. Penelitiannya membuka jalan bagi ilmu optika modern dan bahkan memberi inspirasi bagi ilmuwan Eropa seperti Roger Bacon dan Kepler. 3. Jabir ibn Hayyan Dikenal sebagai Bapak Kimia, Jabir ibn Hayyan memperkenalkan metode eksperimental dalam studi kimia. Ia mengembangkan proses destilasi, kristalisasi, dan filtrasi. Karyanya “Kitab al-Kimya” menjadi rujukan penting dalam perkembangan ilmu kimia di Barat. 4. Al-Zahrawi Al-Zahrawi, seorang dokter dan ahli bedah ternama dari Andalusia (kini wilayah Spanyol), menyusun karya ensiklopedis dalam bidang kedokteran yang dikenal dengan judul Al-Tasrif. Ia merancang lebih dari 200 instrumen bedah dan dianggap sebagai pelopor dalam ilmu pembedahan. Banyak prosedur medis yang dia kembangkan masih menjadi dasar praktik medis modern. Baca juga: GUSJIGANG: Warisan Sunan Kudus Untuk Santri Milenial Sukses di Era Digital 5. Ibn Sina (Avicenna) Filsuf dan dokter asal Persia ini menulis “Kitab al-Qanun fi al-Tibb” (The Canon of Medicine), yang menjadi rujukan utama kedokteran di Eropa selama lebih dari 500 tahun. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam filsafat Islam dan metafisika. 6. Al-Biruni Tokoh ini dikenal sebagai ilmuwan multitalenta yang menguasai beragam cabang ilmu pengetahuan, seperti geografi, matematika, astronomi, hingga sejarah. Ia membuat perhitungan radius bumi dengan akurasi luar biasa dan menulis ratusan karya ilmiah, termasuk “Kitab al-Tahdid.” 7. Ibn Nafis Ahli medis dari Damaskus ini berhasil mengungkap sirkulasi darah kecil (peredaran paru-paru) jauh sebelum penemuan William Harvey. Dalam tulisannya berjudul Sharh Tashrih al-Qanun, ia mengkritisi dan membantah teori Galen yang selama ratusan tahun dianggap benar tanpa ditelaah lebih lanjut. 8. Ibn Khaldun Sejarawan dan sosiolog Muslim dari Tunisia ini menulis “Muqaddimah,” sebuah karya monumental dalam sejarah dan ilmu sosial. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu sosiologi dan historiografi modern. Warisan Ilmuwan Muslim dalam Berbagai Bidang Dan inilah beberapa warisan ilmuan muslim dari berbagai bidang, yang bahkan mungkin jika Anda tidak mengetahuinya, Anda berfikir bahwa keilmuan ini dimiliki oleh non Islam: 1. Matematika

Read More

Bank Syariah Indonesia (BSI): Solusi Pinjaman Modal Usaha Tanpa Jaminan Berbasis Syariah

Situbondo – 1miliarsantri.net : Memulai usaha memang butuh keberanian. Tapi keberanian saja nggak cukup, harus ada modal yang memadai. Sayangnya, tidak semua orang punya aset untuk diagunkan demi mendapatkan pinjaman. Nah, di sinilah konsep pinjaman modal usaha tanpa jaminan jadi jawaban yang sangat dinanti-nanti, terutama buat kita yang lagi ngerintis usaha kecil atau UMKM. Di tengah banyaknya tawaran pinjaman, Bank Syariah Indonesia (BSI) hadir membawa solusi yang tidak hanya bebas jaminan, tapi juga sesuai prinsip syariah. Menarik, kan? Kebanyakan dari kita mungkin masih ragu, “emang ada ya bank yang memberikan modal pinjaman tanpa jaminan?” Jawabannya, ada, bahkan sudah semakin berkembang, terutama dari lembaga keuangan syariah seperti BSI. Melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan berprinsip Islami, kamu bisa mendapatkan modal usaha tanpa harus khawatir akan kehilangan aset kalau usaha belum lancar. Apa Saja yang Disediakan BSI sebagai Penyedia Pinjaman Modal Usaha Tanpa Jaminan? Buat kamu yang belum tahu, Bank Syariah Indonesia (BSI) adalah gabungan dari tiga bank syariah terbesar di Indonesia: BNI Syariah, BRI Syariah, dan Mandiri Syariah. Sejak penggabungan ini, BSI aktif mendukung pelaku UMKM lewat berbagai program, salah satunya adalah fasilitas pinjaman modal usaha tanpa jaminan. Nah, apa sih sebenarnya yang bikin BSI beda dari bank lain? Pertama, pendekatannya syariah. Artinya, semua transaksi dilakukan tanpa riba atau hal-hal yang bertentangan dengan prinsip Islam. Kedua, prosesnya terbilang ringan dan bersahabat. Nasabah tidak harus menunjukkan atau memiliki sertifikat rumah, BPKB kendaraan, atau jaminan lain untuk bisa mengajukan pinjaman. Yang dibutuhkan cukup data usaha, KTP, dan kelengkapan administrasi dasar lainnya. Bahkan ada beberapa program pembiayaan mikro yang cukup dengan persetujuan kelompok atau komunitas usaha. Ketiga, BSI juga menyediakan pendampingan. Nggak hanya kasih uang, tapi juga membimbing agar nasabah bisa mengelola dana dengan bijak dan mengembangkan usahanya dengan lebih sehat. Program yang populer dari BSI untuk pembiayaan mikro tanpa jaminan antara lain adalah: Semua program ini ditujukan untuk membantu masyarakat mandiri secara ekonomi tanpa terbebani utang berbunga tinggi. Kenapa Pinjaman Tanpa Jaminan dari BSI Patut Dipertimbangkan? Kalau kalian masih bertanya-tanya, “Kenapa harus dari BSI?”, berikut beberapa alasannya.

Read More

5 Prinsip Komunikasi dalam Al-Qur’an yang Sering Kita Lupakan

Tegal – 1miliarsantri.net: Komunikasi di era digital bukan lagi sekadar berbicara dari mulut ke mulut. Kita bisa mengutarakan pendapat lewat status, menyindir lewat story, berdebat bahkan saling menyerang lewat komentar di media sosial. Semua orang bisa berbicara, tapi pertanyaannya, berapa banyak dari kita yang masih menjaga adab? Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi lebih mudah dan instan. Namun, di balik kemudahan itu, sering kali kita melupakan nilai-nilai dasar yang diajarkan Islam dalam berkomunikasi. Terkadang kita lupa bahwa dalam Islam, kata-kata bukan hanya alat sosial, tapi juga bagian dari ibadah. Berbicara itu ibadah, jika niat, isi, dan caranya lurus. Sayangnya, dalam hiruk-pikuk dunia maya, adab komunikasi ini makin sering diabaikan. Bahkan oleh kita yang mengaku sebagai santri, aktivis dakwah, atau pemuda Islam, sering lalai dari padanya. Baca juga: Moral Jurnalisme Dalam Nilai-Nilai Islam untuk Menyuarakan Kebenaran Di Era Kebisingan Komunikasi dalam Islam yang Bukan Sekadar Keterampilan Dalam pandangan Islam, cara kita berkomunikasi mencerminkan kualitas akhlak yang perlu dijaga dengan sungguh-sungguh. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa salah satu ciri keimanan seseorang tercermin dari bagaimana ia menjaga lisannya. Lebih baik kita diam daripada apa yang kita ucapkan adalah sesuatu yang tidak baik. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47) Ucapan kita bukanlah hal sepele. Setiap kata yang keluar akan dimintai pertanggungjawaban. Al-Qur’an surat Qaf ayat 18 mengingatkan bahwa setiap ucapan kita tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf :18) Ada malaikat yang senantiasa mencatat segala kata yang keluar dari lisan kita, sekecil apa pun itu. Artinya, berbicara bukan hanya soal keahlian menyusun kata. Namun, soal ketaatan dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Baca juga: Fenomena Sound Horeg : Dampak Sosial dan Tinjauan Singkat dari Sudut Pandang Islam Lima Prinsip Komunikasi dalam Al-Qur’an Al-Qur’an mengajarkan sejumlah prinsip komunikasi yang seharusnya menjadi fondasi setiap muslim dalam berkata-kata, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Sayangnya, lima prinsip ini kerap kita lupakan: 1. Qaulan Sadida – Perkataan yang Benar Perkataan yang benar artinya jujur, tidak mengada-ada, tidak membelokkan fakta. Dalam era hoaks dan informasi yang simpang siur, prinsip ini menjadi sangat penting. Menyebar informasi yang belum jelas sumbernya atau melebih-lebihkan cerita adalah bentuk kelalaian terhadap qaulan sadida. 2. Qaulan Baligha – Perkataan yang Tepat dan Efektif Baligh berarti sampai dan mengena. Komunikasi yang baik bukan hanya benar, tapi juga efektif, tepat sasaran, dan mempertimbangkan kondisi audiens. Dalam dakwah misalnya, pesan yang disampaikan harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan pendengarnya. 3. Qaulan Layyina – Perkataan yang Lembut Bahkan kepada Fir’aun yang zalim pun, Allah SWT perintahkan Nabi Musa untuk berbicara dengan lembut. Apalagi kita, kepada sesama umat muslim, saudara, bahkan teman di media sosial. Mengkritik boleh, menegur juga perlu, tapi semua itu tetap dalam bingkai kelembutan.

Read More

Bagaimana Perlindungan Dana Nasabah di Tengah Transformasi Bank BUMN?

Situbondo – 1miliarsantri.net : Menyimpan uang di bank telah menjadi bagian yang penting dari kehidupan saat ini. Tapi di balik kenyamanan itu, mungkin kita bertanya-tanya soal keamanan dan jaminan dana yang kita simpan. Apalagi sekarang, dunia perbankan Indonesia sedang mengalami transformasi besar dengan munculnya nama Danantara, entitas yang akan menaungi bank-bank BUMN dan perusahaan keuangan milik negara lainnya. Di tengah perubahan ini bermunculan pertanyaan yang terkait tentang bagaimana perlindungan dana nasabah. Bukan cuma soal teknis dan hukum, tapi juga soal keyakinan. Banyak dari kita ingin memastikan apakah sistem keuangan yang kita gunakan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan prinsip syariah seperti maysir (judi) dan gharar (ketidakjelasan). Nah, pertanyaannya sekarang, gimana sebenarnya mekanisme perlindungan dana nasabah di bawah sistem bank BUMN, dan apakah ada potensi unsur maysir atau gharar di dalamnya? Mengapa Perlindungan Dana Nasabah Jadi Isu Penting di Era Danantara? Kita mulai dari dasar dulu ya. Danantara dibentuk untuk menyatukan dan memperkuat peran lembaga keuangan milik negara. Berbagai lembaga keuangan seperti Bank BUMN dan perusahaan asuransi akan berada dalam satu payung besar agar lebih efisien dan solid menghadapi tantangan zaman. Tentu saja, ini adalah langkah besar yang membawa harapan baru. Tapi sebagai nasabah tentunya kita juga ingin mengetahui apakah dana kita tetap aman atau tidak! Sejauh ini perlindungan dana nasabah diatur secara ketat oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) yang menjamin simpanan hingga Rp. 2M per nasabah dan per bank. Jadi selama kita menyimpan uang di bank yang resmi dan terdaftar, maka tabungan kita akan tetap terjamin meskipun bank mengalami masalah nantinya. Hal ini berlaku juga untuk bank BUMN yang masuk dalam struktur Danantara. Selain itu, pengawasan dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga memperkuat perlindungan ini. Pastinya OJK sudah mengatur prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan dana masyarakat, termasuk juga pengelolaan risiko dan transparansi informasi. Jadi, secara sistem dana nasabah tetap berada dalam posisi yang relatif aman, walaupun struktur organisasi bank akan berubah. Apakah Ada Unsur Maysir dan Gharar dalam Sistem Perbankan BUMN?

Read More

Mimbar Rasulullah di Masjid Nabawi yang Selalu Dirindukan

Surabaya – 1miliarsantri.net : Awal tahun lalu ketika mengunjungi Raudhah tidak semudah dibayangkan. Telat beberapa menit saja, sudah tidak bisa masuk. Sesak sekali ketika gagal masuk, rasanya patah hati seperti ditolak masuk oleh Nabi Muhammad SAW. Tapi sekalinya masuk pertama kali di Raudhah, tumpah semua air mata dan suara hati yang selama ini terpendam. Hanya 15 menit, shalat dan berdoa begitu mendamaikan. Apalagi dengan mata terpejam, terasa ada bayangan sosok mulia yang hadir menyapa dan mendengarkan keluh kesah. Rasanya nggak mau ini berakhir. Tapi askar sudah berteriak menyuruh keluar. Keluar dari Raudhah saja, sudah rindu ingin kembali. Bukan hanya Raudhah yang membuat hati tak ingin beranjak, tetapi Mimbar Rasulullah yang ada di dekatnya. Mimbar itu bukan hanya struktur kayu, ia adalah simbol cinta, perjuangan, dan pengajaran dakwah nabi Muhammad yang Rahmatan Lil Alamin. “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)   Awal Sejarah Pembangunan Mimbar Pada masa awal hijrah, Rasulullah belum memiliki mimbar. Ketika khutbah, beliau biasa bersandar pada batang kayu kurma yang telah ditancapkan ke tanah. Suatu ketika terjadi perubahan fisik Nabi, hal itu mendorong Tamim Ad-Dari untuk membuat mimbar Rasulullah dengan dua anak tangga saja. Di lain sisi dakwah nabi Muhammad yang menyejukkan dan mencerahkan telah menarik banyak perhatian jamaah muslim bahkan mualaf. Mereka berbondong ke Masjid Nabawi untuk menyimak khutbah Nabi. Mimbar yang sudah ada kurang cukup menjangkau jemaah yang melimpah. Nabi berniat untuk membuat mimbar lebih tinggi. Dikisahkan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahwa nabi Muhammad meminta tolong kepada para sahabat untuk menyampaikan amanahnya kepada budak perempuan dari kaum Anshar agar membuat mimbar dengan tiga anak tangga. Dalam prosesnya, mimbar rasulullah dibuat dengan kayu dari Tharfa’ Al Ghabah Madinah. Mimbar itulah yang pertama kali digunakan pada tahun 8 hijriah hingga akhir hayatnya. Semenjak Nabi Muhammad menggunakan mimbar bertingkat itu, ada batang kurma yang menangis (sebelumnya dijadikan sandaran nabi ketika khutbah). Peristiwa itu yang membuat jamaah terkejut mendengarnya. Rasulullah pun langsung turun dari mimbar dan memeluk batang kurma sembari berpesan, “Jika aku tidak mendekapnya, ia akan terus menangis hingga hari kiamat.”, sebuah kisah yang ada dalam Shahih Ibnu Majah. Batang kurma saja menangis ketika tak lagi dijadikan sandaran Nabi Muhammad, apalagi kita umatnya yang selalu dibimbing walau beliau sudah tiada melalui ajaran Islam. Fungsi Mimbar Nabi dalam Dakwah Mimbar Rasul tidak hanya menjadi tempat khutbah Jumat. Ia juga menjadi pusat komunikasi kenabian. Melalui mimbar, Rasul menjawab pertanyaan umat, menyampaikan wahyu yang turun, dan merencanakan pembangunan masyarakat. Di mimbar ini merupakan simbol kepemimpinan agama dan pemerintahan yang saling beriringan. Fungsi mimbar inilah yang kemudian dilanjutkan oleh para khulafa ar-rasyidin setelah Rasul wafat.

Read More

Moral Jurnalisme Dalam Nilai-Nilai Islam untuk Menyuarakan Kebenaran Di Era Kebisingan

Jakarta – 1miliarsantri.net: Di tengah Banjir informasi di media sosial saat ini dipenuhi oleh hoaks dan disinformasi, jurnalisme menjadi semacam oase. Namun, di saat yang sama, banyak pula yang mempertanyakan, apakah jurnalisme masih punya moral? Apakah media massa saat ini masih memihak pada kebenaran atau justru jadi alat kekuasaan dan bisnis semata? Dalam perspektif Islam, pertanyaan ini semakin mendesak. Bagaimana seharusnya umat Islam memaknai jurnalisme? Apakah ada benang merah yang menghubungkan antara kerja jurnalistik dan nilai-nilai Islam? Dan mungkinkah seorang jurnalis muslim tetap profesional, sekaligus taat pada prinsip-prinsip agamanya? Jawabannya adalah sangat mungkin. Bahkan, Islam sejak awal mengajarkan nilai-nilai luhur yang selaras dengan prinsip dasar jurnalisme seperti kebenaran, keadilan, amanah, dan tanggung jawab sosial. Baca juga : Catatan Kelam Jurnalis Peliput Perang Gaza dan Beberapa Bentuk Pembunuhan Terhadap Wartawan Islam dan Tradisi Jurnalistik yang Bukan Hal Baru Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan penyebaran informasi yang jujur. Berkaitan dengan hal ini, Al-Qur’an melalui surat Al-Hujurat ayat 6 memberikan pesan penting agar umat Islam tidak menelan informasi mentah-mentah. Ketika ada kabar datang dari orang yang tak terpercaya, Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk menelusurinya dengan cermat terlebih dahulu. Ayat tersebut bukan hanya dasar dari prinsip tabayyun (verifikasi), tapi juga menjadi pondasi moral untuk kerja-kerja jurnalistik yang bertanggung jawab. Islam sejak awal sudah memperingatkan bahaya dari menyebarkan informasi tanpa cek fakta, persis seperti yang hari ini dilakukan jurnalis profesional. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai sosok terpercaya atau Al-Amin. Beliau tidak hanya membawa wahyu, tapi juga menjadi penyampai pesan yang jelas, jujur, dan berintegritas. Nilai-nilai yang seharusnya dipegang oleh jurnalis muslim pada hari ini. Tidak hanya itu, tradisi intelektual Islam sejak awal sangat menekankan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi. Ini bisa kita lihat dalam praktik periwayatan hadis. Kalau boleh dikatakan, hadis bisa dianggap sebagai bentuk awal “jurnalistik” dalam Islam, karena ia mengandalkan verifikasi sumber (sanad), isi berita (matan), dan kredibilitas perawi. Sebab, dalam tradisi Islam, tokoh seperti Imam Bukhari menerapkan proses penyaringan yang luar biasa ketat untuk memastikan sebuah hadis benar-benar sahih. Proses ini mencerminkan semangat yang sejalan dengan nilai-nilai jurnalisme, seperti ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Baca juga : “Mbegendeng” dan Perlawanan terhadap Kepalsuan Negara Nilai-Nilai Islam dalam Etika Jurnalistik Berikut adalah nilai-nilai Islam yang bisa menjadi landasan dalam kerja jurnalistik. 1. Kebenaran (ash-shidq) Tujuan utama jurnalistik adalah menyampaikan kebenaran. Ia adalah kompas moral bagi para jurnalis. Pun demikian dengan ajaran agama Islam, yang sangat menekankan pentingnya berkata jujur dan menghindari dusta. 2. Keadilan (al-‘adl) Jurnalisme menuntut agar setiap informasi disampaikan secara seimbang dan adil, dengan memberi tempat bagi berbagai perspektif, terutama bagi suara-suara yang kerap terpinggirkan. Yang demikian ini adalah nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran agama Islam. 3. Verifikasi (tabayyun) Sebagaimana disebut dalam QS Al-Hujurat ayat 6, menyebarkan berita tanpa verifikasi adalah tindakan tercela. Jurnalis muslim wajib memeriksa fakta sebelum menulis atau menyebarkannya. 4. Amanah dan Tanggung Jawab Informasi adalah amanah. Menyalahgunakan informasi untuk kepentingan pribadi, politik, atau ekonomi adalah bentuk pengkhianatan terhadap publik.

Read More

GUSJIGANG: Warisan Sunan Kudus Untuk Santri Milenial Sukses di Era Digital

Surabaya – 1miliarsanti.net: Lebaran tahun 2024, niatnya refreshing di sekitar Kudus. Salah satu wisata yang buka adalah Museum Jenang Kudus. Sesuai pengalaman, kalau jalan-jalan di museum terasa kaku. Tapi kalau museumnya Jenang Kudus, bakalan betah berjam-jam disana. Soalnya ada ruangan khusus yang menyajikan sejarah Islam Nusantara yang menginspirasi, ada puisi Islami yang indah nan menyentuh hati nurani serta pemikiran yang memantik rasa bangga. Salah satu pemikiran itu adalah warisan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shadiq Azmathkan berupa filosofi hidup GUSJIGANG. Filosofi ini menekankan pada tiga nilai: Gus (bagus akhlaknya), Ji (rajin ngaji), dan Gang (pandai berdagang). 3 nilai karakter itu sangat relate dengan kondisi kehidupan santri milenial di era tantangan teknologi dan globalisasi yang sedang mengalami krisis moralitas, krisis keahlian dan krisis kemandirian. Hadirnya ketiga nilai warisan Sunan Kudus bisa menjadi teladan untuk tangguh dalam menyebarkan kebermanfaatan. Bagaimana relasinya nilai GUSJIGANG terhadap kehidupan di era teknologi ini? Temukan jawabannya sampai akhir di artikel ini ya!. GUS – Bagus Akhlaknya, Penguat Integritas di Era Digital Bagus akhlaknya adalah landasan utama. Tanpa akhlak, ilmu tak akan bermanfaat. Di dunia ini banyak orang yang pintar tapi miskin hati nurani. Yang akhirnya membawa kemudharatan yang merugikan hak orang lain seperti tragedi korupsi yang dilakukan tanpa rasa malu lagi. Good attitude juga sangat penting di dunia karir. Penulis sebagai alumni perguruan tinggi Islam. Saat bekerja, pernah berkata jujur kepada atasan bahwa tidak bisa mengerjakan sesuatu dan butuh belajar untuk bisa mengerjakannya. Di sisi lain ketika penulis bilang mampu mengerjakan sesuatu, hasilnya optimal. Respons atasan yang notabene non muslim mengejutkan penulis: “Kamu itu jujur atas kemampuanmu dan itu lebih baik, dari mereka yang mengaku bisa tapi nihil kerjanya”. Realita itu membuka kesadaran bahwa orang yang jujur dan amanah adalah kunci dihargai. Inilah nilai “Gus” yang sesungguhnya, orang lain mungkin tidak tahu kalau kita seorang santri. Tapi mereka akan tahu kalau kita itu sosok yang berakhlak mulia, menjaga adab dan santun dalam berinteraksi, seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhammad dalam surat Al-Qalam ayat 4: وَإِ ﱠﻧكَ ﻟَﻌَﻠَٰﻰ ﺧُﻠُقٍ ﻋَظِﯾمٍ Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” JI – Rajin Ngaji, Motivasi Untuk Terus Berinovasi “Ngaji” dalam konteks Gusjigang tak hanya berarti membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca alam semesta dan realitas sosial kemasyarakatan. Mengaji mengusung semangat Iqra dalam surat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang berbunyi ; اِﻗْرَأْ ﺑِﺎﺳْمِ رَ ﱢﺑكَ اﻟﱠذِيْ ﺧَﻠَقَۚ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Read More

Usaha Syariah ‘Meraih Laba’ Tanpa Kehilangan Berkah

Tegal – 1miliarsantri.net: Di era perdagangan bebas saat ini persaingan usaha semakin dinamis, pelaku bisnis berlomba mengejar profit maksimal. Namun bagi seorang muslim, arah usaha tidak sekadar menuju keuntungan duniawi. Ada cita-cita yang lebih tinggi daripada itu, yakni mencari ridha dan meraih keberkahan dari Allah SWT dalam setiap rupiah yang dihasilkan. Maka, mengelola keuangan usaha dengan prinsip syariah bukan sekadar menambah nilai islami, tapi juga menjadi fondasi untuk membangun bisnis yang jujur, adil, dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip ekonomi Islam mengajarkan bahwa bisnis yang sehat bukan hanya soal untung rugi saja, tapi juga soal tanggung jawab moral. Baca juga: Sistem Koperasi Syariah Dan Ikhtiar Membangun Ekonomi Umat Yang Berkeadilan Keuangan Syariah untuk Menjaga dari yang Haram, Menguatkan yang Halal Dalam Islam, harta adalah titipan. Maka pengelolaan keuangan tak bisa dilakukan semaunya, melainkan harus mengikuti nilai-nilai syariat. Ada tiga hal pokok yang dihindari dalam sistem keuangan syariah, seperti riba (bunga), gharar (ketidakjelasan), dan maysir (spekulasi atau perjudian). Larangan riba disebutkan secara tegas dalam QS. Al-Baqarah [2]: 275–279. Dalam ayat-ayat itu, Allah SWT menegaskan bahwa praktik riba merusak tatanan ekonomi dan menimbulkan ketidakadilan sosial. Sebaliknya, Islam menekankan pentingnya transparansi, keadilan, dan saling ridha dalam bermuamalah. Usaha yang Diberkahi Ketika Dunia dan Akhirat Bertemu Sering muncul anggapan bahwa usaha syariah akan menghambat laju keuntungan. Faktanya justru sebaliknya. Bisnis yang dikelola dengan prinsip Islam cenderung lebih stabil dan dipercaya, karena dilandasi oleh kejujuran dan tanggung jawab. Adapun ciri-ciri usaha yang diberkahi antara lain: Dengan membangun reputasi yang bersih, usaha pun menjadi ladang keberkahan yang mengalir bukan hanya untuk pemiliknya, tapi juga untuk banyak pihak. 5 Langkah Praktis Mengelola Keuangan Usaha secara Syariah Agar bisnis tetap berada di jalur yang halal dan berkah, berikut beberapa tips praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para pelaku usaha muslim: 1. Catat Semua Transaksi dengan Jujur Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 282 mewajibkan pencatatan utang-piutang. Ini menunjukkan pentingnya dokumentasi dalam kegiatan ekonomi. Maka setiap pemasukan dan pengeluaran, sekecil apa pun, perlu dicatat secara transparan. Ini bukan hanya mencegah sengketa, tapi juga memudahkan evaluasi usaha. 2. Gunakan Akad yang Sesuai Syariah Transaksi dalam Islam harus didasari oleh akad yang jelas dan disepakati. Adapun beberapa akad yang umum dipakai: Pemilihan akad yang tepat menjadi pagar hukum dan moral bagi transaksi usaha.

Read More