Mimbar Rasulullah di Masjid Nabawi yang Selalu Dirindukan

Surabaya – 1miliarsantri.net : Awal tahun lalu ketika mengunjungi Raudhah tidak semudah dibayangkan. Telat beberapa menit saja, sudah tidak bisa masuk. Sesak sekali ketika gagal masuk, rasanya patah hati seperti ditolak masuk oleh Nabi Muhammad SAW. Tapi sekalinya masuk pertama kali di Raudhah, tumpah semua air mata dan suara hati yang selama ini terpendam. Hanya 15 menit, shalat dan berdoa begitu mendamaikan. Apalagi dengan mata terpejam, terasa ada bayangan sosok mulia yang hadir menyapa dan mendengarkan keluh kesah. Rasanya nggak mau ini berakhir. Tapi askar sudah berteriak menyuruh keluar. Keluar dari Raudhah saja, sudah rindu ingin kembali. Bukan hanya Raudhah yang membuat hati tak ingin beranjak, tetapi Mimbar Rasulullah yang ada di dekatnya. Mimbar itu bukan hanya struktur kayu, ia adalah simbol cinta, perjuangan, dan pengajaran dakwah nabi Muhammad yang Rahmatan Lil Alamin. “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)   Awal Sejarah Pembangunan Mimbar Pada masa awal hijrah, Rasulullah belum memiliki mimbar. Ketika khutbah, beliau biasa bersandar pada batang kayu kurma yang telah ditancapkan ke tanah. Suatu ketika terjadi perubahan fisik Nabi, hal itu mendorong Tamim Ad-Dari untuk membuat mimbar Rasulullah dengan dua anak tangga saja. Di lain sisi dakwah nabi Muhammad yang menyejukkan dan mencerahkan telah menarik banyak perhatian jamaah muslim bahkan mualaf. Mereka berbondong ke Masjid Nabawi untuk menyimak khutbah Nabi. Mimbar yang sudah ada kurang cukup menjangkau jemaah yang melimpah. Nabi berniat untuk membuat mimbar lebih tinggi. Dikisahkan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahwa nabi Muhammad meminta tolong kepada para sahabat untuk menyampaikan amanahnya kepada budak perempuan dari kaum Anshar agar membuat mimbar dengan tiga anak tangga. Dalam prosesnya, mimbar rasulullah dibuat dengan kayu dari Tharfa’ Al Ghabah Madinah. Mimbar itulah yang pertama kali digunakan pada tahun 8 hijriah hingga akhir hayatnya. Semenjak Nabi Muhammad menggunakan mimbar bertingkat itu, ada batang kurma yang menangis (sebelumnya dijadikan sandaran nabi ketika khutbah). Peristiwa itu yang membuat jamaah terkejut mendengarnya. Rasulullah pun langsung turun dari mimbar dan memeluk batang kurma sembari berpesan, “Jika aku tidak mendekapnya, ia akan terus menangis hingga hari kiamat.”, sebuah kisah yang ada dalam Shahih Ibnu Majah. Batang kurma saja menangis ketika tak lagi dijadikan sandaran Nabi Muhammad, apalagi kita umatnya yang selalu dibimbing walau beliau sudah tiada melalui ajaran Islam. Fungsi Mimbar Nabi dalam Dakwah Mimbar Rasul tidak hanya menjadi tempat khutbah Jumat. Ia juga menjadi pusat komunikasi kenabian. Melalui mimbar, Rasul menjawab pertanyaan umat, menyampaikan wahyu yang turun, dan merencanakan pembangunan masyarakat. Di mimbar ini merupakan simbol kepemimpinan agama dan pemerintahan yang saling beriringan. Fungsi mimbar inilah yang kemudian dilanjutkan oleh para khulafa ar-rasyidin setelah Rasul wafat. Mimbar yang menjadi saksi perjalanan dakwah Islam, disinilah tempat yang penuh berkah karena mimbar ini terekam semua suara Nabi Muhammad yang menyentuh hati, membakar semangat untuk senantiasa menjadi umat yang berakhlak, berilmu dan bermanfaat. Mengunjunginya dapat membayangkan bagaimana orang-orang sholeh terdahulu berkumpul, bersatu demi tujuan mulia, rasanya ingin kembali ke masa Nabi Muhammad, menjadi salah satu jamaahnya. Lokasi Mimbar Nabi Muhammad SAW Ketika mengunjungi Raudhah akan terlihat sebuah tempat yang tinggi, disitulah mimbar rasulullah berdiri tepat di bagian barat Raudhah. Mimbar itu memiliki ketinggian sekitar 5 meter. Di bagian pintu masuk mimbar ada tertulis kalimat tauhid, “La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.” Tempat Nabi Muhammad berkhotbah ini memiliki 2 anak tangga dengan lapisan karpet, pintu kayu dan pagar berlapis emas. Perkembangan Mimbar di Masjid Nabawi Setelah berpulangnya Nabi Muhammad, mimbar di Masjid Nabawi tetap dilestarikan oleh para khalifah: Abu Bakar, Umar dan Utsman dengan sedikit perubahan. Pada masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan dari Dinasti Umayyah, mimbar yang tadinya hanya 2 anak tangga kemudian dibangun dengan 6 tangga yang mudah dipindah dan ada tempat duduknya. Kemudian masa Abbasiyah dan Mamluk, mimbar dibuat indah dengan menghias ukiran yang lebih indah tanpa mengganti nilai simboliknya. Selanjutnya pada masa Utsmaniyah (Ottoman) mulai ada pergantian bahan pada mimbar. Mimbar diganti dengan marmer dan dihias ukuran islami tapi tidak menghilangkan bentuk asli mimbar. Dan pada masa para raja Saudi ini mimbar yang digunakan di Masjid Nabawi merupakan replikasi bentuk asli dengan desain yang modern. Sedangkan mimbar asli Nabi Muhammad disimpan sebagai bangunan bersejarah dan sakral. Merindukan Mimbar dan Keteladanannya Ziarah ke Masjid Nabawi tidak lengkap tanpa berdoa di Raudhah dan menatap mimbar Rasulullah. Di sanalah terasa betapa Islam dibangun dengan cinta, ilmu, dan amanah. Mimbar itu mungkin tak lagi digunakan oleh Nabi, tapi suaranya masih menggema dalam hati yang rindu dakwah penuh kelembutan. Mari kita terus menjadikan mimbar Rasul sebagai inspirasi dalam tutur, sikap, dakwah, dan hidup kita sehari-hari.(***) Referensi Penulis : Iftitah Rahmawati Foto Ilustrasi AI Editor : Toto Budiman, Iffah Faridatul Hasanah

Read More

Moral Jurnalisme Dalam Nilai-Nilai Islam untuk Menyuarakan Kebenaran Di Era Kebisingan

Jakarta – 1miliarsantri.net: Di tengah Banjir informasi di media sosial saat ini dipenuhi oleh hoaks dan disinformasi, jurnalisme menjadi semacam oase. Namun, di saat yang sama, banyak pula yang mempertanyakan, apakah jurnalisme masih punya moral? Apakah media massa saat ini masih memihak pada kebenaran atau justru jadi alat kekuasaan dan bisnis semata? Dalam perspektif Islam, pertanyaan ini semakin mendesak. Bagaimana seharusnya umat Islam memaknai jurnalisme? Apakah ada benang merah yang menghubungkan antara kerja jurnalistik dan nilai-nilai Islam? Dan mungkinkah seorang jurnalis muslim tetap profesional, sekaligus taat pada prinsip-prinsip agamanya? Jawabannya adalah sangat mungkin. Bahkan, Islam sejak awal mengajarkan nilai-nilai luhur yang selaras dengan prinsip dasar jurnalisme seperti kebenaran, keadilan, amanah, dan tanggung jawab sosial. Baca juga : Catatan Kelam Jurnalis Peliput Perang Gaza dan Beberapa Bentuk Pembunuhan Terhadap Wartawan Islam dan Tradisi Jurnalistik yang Bukan Hal Baru Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan penyebaran informasi yang jujur. Berkaitan dengan hal ini, Al-Qur’an melalui surat Al-Hujurat ayat 6 memberikan pesan penting agar umat Islam tidak menelan informasi mentah-mentah. Ketika ada kabar datang dari orang yang tak terpercaya, Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk menelusurinya dengan cermat terlebih dahulu. Ayat tersebut bukan hanya dasar dari prinsip tabayyun (verifikasi), tapi juga menjadi pondasi moral untuk kerja-kerja jurnalistik yang bertanggung jawab. Islam sejak awal sudah memperingatkan bahaya dari menyebarkan informasi tanpa cek fakta, persis seperti yang hari ini dilakukan jurnalis profesional. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai sosok terpercaya atau Al-Amin. Beliau tidak hanya membawa wahyu, tapi juga menjadi penyampai pesan yang jelas, jujur, dan berintegritas. Nilai-nilai yang seharusnya dipegang oleh jurnalis muslim pada hari ini. Tidak hanya itu, tradisi intelektual Islam sejak awal sangat menekankan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi. Ini bisa kita lihat dalam praktik periwayatan hadis. Kalau boleh dikatakan, hadis bisa dianggap sebagai bentuk awal “jurnalistik” dalam Islam, karena ia mengandalkan verifikasi sumber (sanad), isi berita (matan), dan kredibilitas perawi. Sebab, dalam tradisi Islam, tokoh seperti Imam Bukhari menerapkan proses penyaringan yang luar biasa ketat untuk memastikan sebuah hadis benar-benar sahih. Proses ini mencerminkan semangat yang sejalan dengan nilai-nilai jurnalisme, seperti ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Baca juga : “Mbegendeng” dan Perlawanan terhadap Kepalsuan Negara Nilai-Nilai Islam dalam Etika Jurnalistik Berikut adalah nilai-nilai Islam yang bisa menjadi landasan dalam kerja jurnalistik. 1. Kebenaran (ash-shidq) Tujuan utama jurnalistik adalah menyampaikan kebenaran. Ia adalah kompas moral bagi para jurnalis. Pun demikian dengan ajaran agama Islam, yang sangat menekankan pentingnya berkata jujur dan menghindari dusta. 2. Keadilan (al-‘adl) Jurnalisme menuntut agar setiap informasi disampaikan secara seimbang dan adil, dengan memberi tempat bagi berbagai perspektif, terutama bagi suara-suara yang kerap terpinggirkan. Yang demikian ini adalah nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran agama Islam. 3. Verifikasi (tabayyun) Sebagaimana disebut dalam QS Al-Hujurat ayat 6, menyebarkan berita tanpa verifikasi adalah tindakan tercela. Jurnalis muslim wajib memeriksa fakta sebelum menulis atau menyebarkannya. 4. Amanah dan Tanggung Jawab Informasi adalah amanah. Menyalahgunakan informasi untuk kepentingan pribadi, politik, atau ekonomi adalah bentuk pengkhianatan terhadap publik. 5. Menghindari Ghibah dan Fitnah Dalam agama Islam, kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjauhi ghibah (menggunjing) dan fitnah (menyebar kebohongan). Sementara dalam etika jurnalistik, seorang jurnalis tidak boleh melaporkan berita bohong. 6. Mengajak kepada Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran Fungsi media bukan sekadar menyampaikan, tapi juga membentuk opini publik. Jurnalisme mengarahkan informasi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan. Ini sesuai dengan prinsip agama Islam. Mengapa Umat Islam Perlu Terlibat di Dunia Jurnalistik? Media adalah medan pertempuran opini. Jika umat Islam tidak aktif di sana, maka ruang informasi akan dikuasai oleh narasi-narasi yang bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Maka, keterlibatan muslim dalam dunia jurnalisme bukan sekadar pilihan, tapi keharusan. Sebab, hanya dengan begitu kita bisa: Tantangan dan Peluang yang Harus Dihadapi Tentu, menjadi jurnalis yang memegang teguh etika jurnalistik dan nilai-nilai Islam sekaligus bukan tanpa tantangan. Dunia media sering dihadapkan pada tekanan ekonomi, politik, dan ideologi sehingga membuat banyak jurnalis harus mengorbankan idealisme atau pekerjaannya. Namun justru di situlah peran nilai-nilai Islam menjadi penopang moral. Ketika jurnalis lain mulai tergelincir karena iming-iming popularitas atau uang, jurnalis muslim bisa bertahan karena punya nilai yang lebih tinggi dari sekadar rating dan klik. Di sisi lain, peluang juga terbuka lebar. Bahkan media Islam kini punya ruang yang makin besar berkat internet. Dari blog pribadi, YouTube, hingga media online seperti 1miliarsantri.net, semuanya bisa menjadi ladang dakwah penyebaran informasi yang sehat. Jurnalisme Bukan Sekadar Profesi, tapi Ibadah Kalau orientasi utama dalam Islam adalah ibadah, maka semua aktivitas yang membawa manfaat dan diniatkan karena Allah SWT bisa bernilai ibadah. Termasuk menulis berita. Termasuk meliput kebijakan zalim. Termasuk mengungkap kebenaran yang ditutupi. Maka jurnalisme bisa menjadi bentuk jihad bil qalam, berjuang lewat pena dan informasi. Namun tentu, ini butuh komitmen, ilmu, dan keberanian. Baca juga : Seorang Jurnalis Tewas saat Operasi Militer Israel di Rafah Saatnya Menulis dengan Nurani dan Iman Di era post-truth dan fake news, masyarakat haus akan informasi yang bisa dipercaya. Dan lebih dari itu, mereka butuh informasi yang memberi harapan dan arah. Pada titik inilah, jurnalisme yang berlandaskan nilai-nilai Islam menemukan perannya yang paling mulia. Kita butuh jurnalis yang tidak hanya tajam dalam menggali fakta, tapi juga lembut dalam menyampaikan. Kita butuh media yang bukan hanya cepat, tapi juga bijak. Kita juga membutuhkan narasi yang bukan hanya bersifat informatif saja, tetapi juga inspiratif. Karena pada akhirnya, menjadi jurnalis muslim bukan hanya tentang keterampilan menulis atau merekam. Namun juga soal keberpihakan pada nilai: kebenaran, keadilan, dan kasih sayang. Dan itu adalah inti dari Islam itu sendiri.** Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah) Foto ilustrasi Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris

Read More

GUSJIGANG: Warisan Sunan Kudus Untuk Santri Milenial Sukses di Era Digital

Surabaya – 1miliarsanti.net: Lebaran tahun 2024, niatnya refreshing di sekitar Kudus. Salah satu wisata yang buka adalah Museum Jenang Kudus. Sesuai pengalaman, kalau jalan-jalan di museum terasa kaku. Tapi kalau museumnya Jenang Kudus, bakalan betah berjam-jam disana. Soalnya ada ruangan khusus yang menyajikan sejarah Islam Nusantara yang menginspirasi, ada puisi Islami yang indah nan menyentuh hati nurani serta pemikiran yang memantik rasa bangga. Salah satu pemikiran itu adalah warisan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shadiq Azmathkan berupa filosofi hidup GUSJIGANG. Filosofi ini menekankan pada tiga nilai: Gus (bagus akhlaknya), Ji (rajin ngaji), dan Gang (pandai berdagang). 3 nilai karakter itu sangat relate dengan kondisi kehidupan santri milenial di era tantangan teknologi dan globalisasi yang sedang mengalami krisis moralitas, krisis keahlian dan krisis kemandirian. Hadirnya ketiga nilai warisan Sunan Kudus bisa menjadi teladan untuk tangguh dalam menyebarkan kebermanfaatan. Bagaimana relasinya nilai GUSJIGANG terhadap kehidupan di era teknologi ini? Temukan jawabannya sampai akhir di artikel ini ya!. GUS – Bagus Akhlaknya, Penguat Integritas di Era Digital Bagus akhlaknya adalah landasan utama. Tanpa akhlak, ilmu tak akan bermanfaat. Di dunia ini banyak orang yang pintar tapi miskin hati nurani. Yang akhirnya membawa kemudharatan yang merugikan hak orang lain seperti tragedi korupsi yang dilakukan tanpa rasa malu lagi. Good attitude juga sangat penting di dunia karir. Penulis sebagai alumni perguruan tinggi Islam. Saat bekerja, pernah berkata jujur kepada atasan bahwa tidak bisa mengerjakan sesuatu dan butuh belajar untuk bisa mengerjakannya. Di sisi lain ketika penulis bilang mampu mengerjakan sesuatu, hasilnya optimal. Respons atasan yang notabene non muslim mengejutkan penulis: “Kamu itu jujur atas kemampuanmu dan itu lebih baik, dari mereka yang mengaku bisa tapi nihil kerjanya”. Realita itu membuka kesadaran bahwa orang yang jujur dan amanah adalah kunci dihargai. Inilah nilai “Gus” yang sesungguhnya, orang lain mungkin tidak tahu kalau kita seorang santri. Tapi mereka akan tahu kalau kita itu sosok yang berakhlak mulia, menjaga adab dan santun dalam berinteraksi, seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhammad dalam surat Al-Qalam ayat 4: وَإِ ﱠﻧكَ ﻟَﻌَﻠَٰﻰ ﺧُﻠُقٍ ﻋَظِﯾمٍ Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” JI – Rajin Ngaji, Motivasi Untuk Terus Berinovasi “Ngaji” dalam konteks Gusjigang tak hanya berarti membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca alam semesta dan realitas sosial kemasyarakatan. Mengaji mengusung semangat Iqra dalam surat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang berbunyi ; اِﻗْرَأْ ﺑِﺎﺳْمِ رَ ﱢﺑكَ اﻟﱠذِيْ ﺧَﻠَقَۚ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!.” (QS. Al-‘Alaq: 1) Ayat ini adalah seruan untuk mencintai ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Dari semangat ngaji ini, lahirlah ilmuwan muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Biruni, yang menjadikan Islam berjaya dalam ilmu pengetahuan. Teladan mengaji juga telah dipraktekan oleh santri yaitu Ahmad Fuadi. Dia merupakan santri yang haus akan ilmu sampai kuliah ke Amerika dan Eropa. Ahmad Fuadi ini terkenal sebagai penulis islami best seller, salah satu karyanya Negeri 5 Menara, bahkan karyanya difilmkan. Banyak orang terinspirasi kehidupan seorang santri dari karya beliau. Bahwa nilai-nilai islam bukan hanya tekstual namun penerang hidup ketika menghadapi ujian. Santri milenial harus meneladani semangat ini, belajar tanpa lelah, berpegang pada ilmu pengetahuan, agar mampu memberi solusi bagi umat dan bangsa. GANG – Pandai Berdagang, Berdikari dan Memberdayakan Santri hidup di era dimana AI sudah menggerogoti pekerjaan manusia. Dampaknya pengangguran dimana-mana. Di sisi lain muncul peluang kerja baru di dunia digital. Disitulah santri bisa menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Berdagang mengajarkan diri untuk mandiri tidak bergantung kepada orang lain dan bisa membantu banyak orang dengan keadilan serta kejujuran. Yang diteladankan oleh Nabi Muhammad yang juga seorang saudagar sukses. Mungkin nggak mudah untuk membangun usaha. Tapi ada sosok inspiratif yang bisa menjadi penyemangat santri untuk berwirausaha. Dia adalah sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf. Saat hijrah ke Madinah, ia memulai dari nol tanpa membawa harta. Dia diberikan harta, malah ditolak dan hanya meminta untuk ditunjukkan letak pasar. Dalam beberapa bulan dia sukses berdagang dan sampai akhir hayatnya mampu menginfakkan harta untuk mendukung perjuangan Islam. Di dunia digital ini banyak peluang bisnis yang bisa santri milenial eksplorasi seperti influencer yang mempromosikan produk halal, reseller produk pesantren, affiliate produk UMKM hingga mendirikan startup berbasis syariah. Berdagang bukan hanya untuk cari untung, tapi untuk berbagi, menguatkan umat, dan menjadikan ekonomi sebagai ladang pahala. Karakter GUSJIGANG dari Sunan Kudus memperkuat jati diri santri yang bisa menjadi idaman di masyarakat sebagai sosok yang berakhlak, berintelektual dan berduit. Dan pastinya GUSJIGANG itu bukan hanya warisan untuk dikenang melainkan untuk dilestarikan karena dengan “Gus” mampu dicintai karena akhlaknya. Dengan “Ji” mampu dihormati karena ilmunya. Dan dengan “Gang” mampu menginspirasi dengan semangat bisnisnya. (***) Penulis : Iftitah Rahmawati Foto Ilustrasi AI Editor : Toto Budiman, Faridatul Hasanah

Read More

Usaha Syariah ‘Meraih Laba’ Tanpa Kehilangan Berkah

Tegal – 1miliarsantri.net: Di era perdagangan bebas saat ini persaingan usaha semakin dinamis, pelaku bisnis berlomba mengejar profit maksimal. Namun bagi seorang muslim, arah usaha tidak sekadar menuju keuntungan duniawi. Ada cita-cita yang lebih tinggi daripada itu, yakni mencari ridha dan meraih keberkahan dari Allah SWT dalam setiap rupiah yang dihasilkan. Maka, mengelola keuangan usaha dengan prinsip syariah bukan sekadar menambah nilai islami, tapi juga menjadi fondasi untuk membangun bisnis yang jujur, adil, dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip ekonomi Islam mengajarkan bahwa bisnis yang sehat bukan hanya soal untung rugi saja, tapi juga soal tanggung jawab moral. Baca juga: Sistem Koperasi Syariah Dan Ikhtiar Membangun Ekonomi Umat Yang Berkeadilan Keuangan Syariah untuk Menjaga dari yang Haram, Menguatkan yang Halal Dalam Islam, harta adalah titipan. Maka pengelolaan keuangan tak bisa dilakukan semaunya, melainkan harus mengikuti nilai-nilai syariat. Ada tiga hal pokok yang dihindari dalam sistem keuangan syariah, seperti riba (bunga), gharar (ketidakjelasan), dan maysir (spekulasi atau perjudian). Larangan riba disebutkan secara tegas dalam QS. Al-Baqarah [2]: 275–279. Dalam ayat-ayat itu, Allah SWT menegaskan bahwa praktik riba merusak tatanan ekonomi dan menimbulkan ketidakadilan sosial. Sebaliknya, Islam menekankan pentingnya transparansi, keadilan, dan saling ridha dalam bermuamalah. Usaha yang Diberkahi Ketika Dunia dan Akhirat Bertemu Sering muncul anggapan bahwa usaha syariah akan menghambat laju keuntungan. Faktanya justru sebaliknya. Bisnis yang dikelola dengan prinsip Islam cenderung lebih stabil dan dipercaya, karena dilandasi oleh kejujuran dan tanggung jawab. Adapun ciri-ciri usaha yang diberkahi antara lain: Dengan membangun reputasi yang bersih, usaha pun menjadi ladang keberkahan yang mengalir bukan hanya untuk pemiliknya, tapi juga untuk banyak pihak. 5 Langkah Praktis Mengelola Keuangan Usaha secara Syariah Agar bisnis tetap berada di jalur yang halal dan berkah, berikut beberapa tips praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para pelaku usaha muslim: 1. Catat Semua Transaksi dengan Jujur Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 282 mewajibkan pencatatan utang-piutang. Ini menunjukkan pentingnya dokumentasi dalam kegiatan ekonomi. Maka setiap pemasukan dan pengeluaran, sekecil apa pun, perlu dicatat secara transparan. Ini bukan hanya mencegah sengketa, tapi juga memudahkan evaluasi usaha. 2. Gunakan Akad yang Sesuai Syariah Transaksi dalam Islam harus didasari oleh akad yang jelas dan disepakati. Adapun beberapa akad yang umum dipakai: Pemilihan akad yang tepat menjadi pagar hukum dan moral bagi transaksi usaha. 3. Tolak Sumber Pendapatan yang Tidak Halal Pendapatan dari hasil suap, penipuan, riba, atau praktik haram lainnya harus ditolak. Jika terlanjur masuk, dana tersebut sebaiknya disalurkan untuk kemaslahatan umum tanpa niat mengambil manfaat pribadi. Membersihkan sumber pendapatan adalah syarat penting agar usaha tetap berkah. 4. Jangan Lupa Zakat dan Infaq Zakat bukan sekadar bentuk kewajiban religius, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sosial. Ketika usaha telah memenuhi syarat nisab dan haul, maka zakat atas harta atau perusahaan perlu ditunaikan. Di samping itu, membiasakan diri berinfaq dan bersedekah juga merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap masyarakat. Sedekah bisa membuka pintu rezeki yang tak disangka dan menjadi penolong saat usaha menghadapi kesulitan. 5. Bijak Menghadapi Dunia Digital Era digital menawarkan banyak kemudahan, mulai dari pencatatan keuangan syariah lewat aplikasi, transaksi digital halal, hingga kerja sama dengan fintech dan bank syariah. Namun hati-hati, ada juga jebakan, seperti: Tetaplah selektif. Niat baik harus diiringi dengan kehati-hatian agar tidak tergelincir dalam praktik yang melanggar syariat. Baca juga: Travel Umrah: Usaha Jasa Berbasis Syariah Yang Menguntungkan Dan Berkah Usaha sebagai Jalan Ibadah Dalam Islam, bekerja bukan hanya mencari nafkah, tapi juga bentuk ibadah. Maka saat kita mengelola usaha dengan niat yang lurus dan cara yang benar, setiap aktivitas bisnis bisa menjadi ladang amal. Setiap rupiah yang halal, setiap transaksi yang jujur, setiap zakat yang ditunaikan, semuanya bernilai ibadah. Bahkan dalam kesederhanaan, jika dilakukan dengan benar, usaha kita bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Mulailah dari yang Sederhana Tidak perlu menunggu jadi pengusaha besar untuk menerapkan keuangan syariah. Bisa dimulai dari: Pelan tapi pasti, sistem keuangan Islami dalam usaha akan terbentuk. Dan insyaAllah, bisnis pun bukan hanya mendatangkan cuan, tapi juga keberkahan. Yang penting bukan seberapa besar omzet yang dihasilkan, tapi seberapa halal dan berkah setiap rupiah yang dijalankan.** Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah) Foto ilustrasi Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris

Read More

Berapakah Gaji Merawat Orang Tua yang Sakit di Mata Allah?

Surabaya – 1miliarsantri.net: Berbakti kepada orang tua dalam kondisi sehat mungkin lebih mudah dibandingkan berbakti kepada orang tua yang sedang sakit, apalagi penyakitnya terbilang susah untuk disembuhkan. Jadi teringat kalimat renungan ini, “Satu orang tua mampu merawat 10 anak, tapi 10 anak belum tentu mampu merawat 1 orang tua”. Walaupun mereka mau merawatnya, namun terkadang ada kepentingan transaksional seperti mengharapkan warisan orang tua. Padahal seorang ibu dan bapak membesarkan anak-anaknya dari bayi sampai dewasa dengan pengeluaran yang tak terbatas bahkan rela tahan ‘banting tulang’ demi kesejahteraan, kesuksesan dan kebahagiaan sang anak. Merawat di benak orang tua adalah sebuah harapan penuh kasih. Sedangkan seorang anak dititipkan orang tua yang sakit mulai perhitungan terhadap pengeluaran yang membengkak untuk pengobatan, merasa stres menghadapi mood swing orang tua dan ingin terlepas dari beban penderitaan itu dengan mengirim orang tua ke panti jompo. Merawat di benak anak kadang kala menjadi sebuah beban dan penderitaan. Penulis pun pernah melewati lika-liku merawat bapak stroke selama 5 tahun lamanya. Awal perjalanan begitu berat, selain harus kerja keras mencari uang demi pengobatan juga ekstra sabar merawat bapak. Ketika berangkat kerja harus memandikan dan menyuapi. Ketika pulang kerja dihadapkan sama bapak yang ngompol dan berak. Belum lagi kontrol ke rumah sakit. Rasanya capek banget. Kalau kerja, walau capek masih digaji. Kalau merawat orang tua sakit, dimana mereka tidak lagi aktif bekerja dan warisan pun tak ada. Lalu berharap kepada siapa?. Berharaplah kepada Sang Pemilik Langit dan Bumi. Allah telah menyediakan bayaran setimpal kepada seorang anak yang setulus hati merawat orang tuanya. Maka berlomba-lombalah dalam berbuat baik kepada orang tua, selagi mereka masih ada walau dalam kondisi sakit tak berdaya.  1. Tiket Menuju Surga Surga adalah tempat tinggal terbaik manusia. Disana manusia akan kekal, selalu bahagia dan apapun keinginan akan dikabulkan. Hampir semua manusia pasti menginginkan surga. Tanpa disadari terkadang manusia mencari tiketsurga sampai ke ujung dunia, padahal surga itu dekat yaitu orang tua kita sendiri. اﻟْوَاﻟِدُ أَوْﺳَطُ أَﺑْوَابِ اﻟْﺟَ ﱠﻧﺔِ ﻓَﺈِنْ ﺷِﺋْتَ ﻓَﺄَﺿِﻊْ ذَﻟِكَ اﻟْﺑَﺎبَ أَوِ اﺣْﻔَظْﮫُ Artinya: “Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi) MasyaAllah sebegitu besaran gaji yang kita dapatkan ketika berbakti kepada orang tua. Dan pada hakikatnya birrul walidain itu merupakan ibadah wajib, yang tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Nisa  ayat 36 yang berbunyi; وَاﻋْﺑُدُوا َّٰﷲ وَﻻَ ﺗُﺷْرِﻛُوْا ﺑِﮫٖ ﺷَﯾْـًٔﺎ ﱠوﺑِﺎﻟْوَاﻟِدَﯾْنِ اِﺣْﺳَﺎﻧًﺎ “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua.” Dalam surat An-Nisa telah dijelaskan bahwa perintah menyembah Allah dibarengi dengan perintah berbakti kepada orang tua. Itu artinya serajin apapun ibadah yang kita lakukan kalau tidak berbakti kepada orang tua, maka ada yang kurang sempurna dalam ibadah kita. Birrul walidain sebuah kewajiban ketika melakukannya mendapat pahala dan ketika melanggarnya mendapat ganjaran.  2. Pintu Rezeki Terbuka Lebar Bagi para pejuang merawat orang tua sakit/caregiver, mungkin akan merasa khawatir kalau rezeki akan berkurang karena harus membaginya untuk pengobatan atau perawatan orang tua. Belum lagi terpaksa resign untuk menjaga orang tua yang sudah kehilangan kemandirian dalam beraktivitas. Niat tulus tidak akan sia-sia, Allah akan memberi rezeki mengalir deras dari arah yang tidak kalian sangka. وَﻋَنْ ﻋَﺑْدِ َ ﱠِﷲ ﺑْنِ ﻋُﻣَرَ رَﺿِﻲَ َ ﱠُﷲ ﻋَﻧْﮭُﻣَﺎ ﻋَنْ اَﻟ ﱠﻧﺑِ ﱢﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯾﮫ وﺳﻠم ﻗَﺎلَ رِﺿَﺎ َ ﱠِﷲ ﻓِﻲ رِﺿَﺎ اَﻟْوَاﻟِدَﯾْنِ وَﺳَﺧَطُ َ ﱠِﷲ ﻓِﻲ .ﺳَﺧَطِ اَﻟْوَاﻟِدَﯾْنِ أَﺧْرَﺟَﮫُ اَﻟ ﱢﺗرْﻣِذِ ﱡي, وَﺻَ ﱠﺣﺣَﮫُ اِﺑْنُ ﺣِ ﱠﺑﺎنَ وَاﻟْﺣَﺎﻛِمُ Artinya: “Dari sahabat Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). Keberuntungan itu pun pernah dialami oleh sutradara film Jumbo Ryan Adriandhy. Dibalik kesuksesan 10 juta penonton dan karyanya termasuk film terlaris sepanjang masa, ada doa ibundanya yang menyertai. Dimana dalam mengerjakan karya itu, Ryan menemani ibundanya berjuang melawan kanker, hingga tahun 2022 harus berpulang. Tidak hanya mengalir rezeki yang deras, merawat orang tua akan dimudahkan urusan atau hajatnya. Seperti yang dialami penulis yang ketika memutuskan resign kerja selalu dimudahkan untuk mendapat penggantinya. Saat resign pertama, satu bulan sebelum resign mendapat tawaran kerja. Dan resign kedua, setelah 12 hari resign baru mendapat kerja. Hasil jerih payah merawat orang tua sakit tidak ada yang sia-sia, percayalah!.  3. Terhindar Dari Penyakit dan Panjang Umur Biasanya kalau dalam bekerja selain mendapatkan gaji juga mendapat tunjangan kesehatan seperti BPJS. Begitu juga ketika merawat orang tua sakit, akan mendapat tunjangan kesehatan dan umur panjang. ﻋَنْ أَﻧَسِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ، ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ ِﷲ ﺻَﻠﱠﻰ ﱠُﷲ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣَنْ أَﺣَ ﱠب أَنْ ﯾُﻣَ ﱠد ﻓِﻲ ﻋُﻣْرِهِ، وَﯾُزَادَ ﻓِﻲ رِزْﻗِﮫِ، ﻓَﻠْﯾَﺑَ ﱠر وَاﻟِدَﯾْﮫِ، وَﻟْﯾَﺻِلْ رَﺣِﻣَﮫُ Artinya, “Dari sahabat Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda, ‘Siapa saja yang ingin dipanjangkan umurnya dan bertambah rezekinya, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahim,’” (HR Ahmad). Hal itu pernah penulis alami tapi lebih ke terhindar dari penyakit. Jadi pernah muncul benjolan di payudara. Fakta itu membuat penulis cemas, takutnya itu mengarah ke kanker payudara yang belum ada obatnya. Padahal saat itu bapak juga belum kunjung sembuh dari strokenya. Takutnya kalau aku sakit, terus siapa yang merawat beliau. Dan pas shalat tahajud benar-benar khusyuk berderai air mata untuk diberikan petunjuk agar benjolan ini tidak membesar atau tumbuh menjadi kanker. Kemudian pihak keluarga ada yang memberi saran untuk menggunakan salep. Setelah rutin menggunakannya satu bulan. Alhamdulillah yang awalnya bengkak dan keras, sudah tidak ada benjolan. Gaji merawat orang tua sakit memang tak tertulis dalam slip gaji. Dan kalaupun orang tua kita tidak memiliki warisan untuk mengapresiasi dedikasi kita. Masih ada Allah yang siap menggaji kita melebihi harta benda atau jabatan di dunia melainkan surga yang dijanjikan, rezeki yang mengalir tanpa diduga, kesehatan dan umur yang diberkahi. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang Allah angkat derajatnya karena keikhlasan merawat orang tua yang sakit, Aamiin. Selagi orang tua masih hidup jagalah kesehatan mereka. (***) Penulis : Iftitah Rahmawati Foto Ilustrasi AI Editor : Toto Budiman, Iffah Faridatul Hasanah

Read More

Sistem Koperasi Syariah Dan Ikhtiar Membangun Ekonomi Umat Yang Berkeadilan

Tegal – 1miliarsantri.net: Di tengah derasnya arus kapitalisme global yang menempatkan keuntungan di atas nilai kemanusiaan, umat Islam ditantang untuk tidak hanya menjadi konsumen dalam sistem yang timpang, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi berbasis nilai-nilai yang diyakini. Dalam konteks inilah, koperasi syariah muncul sebagai salah satu bentuk ikhtiar nyata untuk menciptakan tatanan ekonomi yang lebih adil, beradab, dan memberdayakan umat. Lebih dari sekadar lembaga keuangan, koperasi syariah mencerminkan semangat kebersamaan dan nilai-nilai Islami seperti tolong-menolong, keterbukaan, dan komitmen terhadap kehalalan. Ia menjadi ruang kolaboratif bagi umat Islam untuk saling membantu, membangun kekuatan ekonomi bersama, dan menjaga integritas dalam berbisnis. Kritik Terhadap Sistem Yang Ada Kapitalisme modern telah menciptakan banyak ketimpangan. Model ekonomi ini cenderung menumpuk kekayaan pada kelompok kecil, sementara sebagian besar masyarakat justru semakin tersisih dari akses dan peluang yang adil. Dengan kata lain, banyak pelaku usaha kecil dan mikro kesulitan bersaing atau bahkan sekadar bertahan. Ketika sistem ini tidak lagi memberi ruang bagi keadilan, saatnya umat mengambil bagian dalam membangun alternatif yang lebih manusiawi, dan koperasi syariah menjadi salah satu jawabannya. Mengapa Koperasi Syariah Menjadi Ikhtiar Umat Secara sederhana, koperasi syariah merupakan bentuk usaha kolektif yang tumbuh dari komunitas dan dijalankan dengan landasan ajaran Islam serta prinsip-prinsip syariah. Sistemnya tidak mengenal riba, maisir, gharar, serta menempatkan kejujuran dan keadilan sebagai pijakan utama. Berikut ini beberapa alasan mengapa koperasi syariah menjadi ikhtiar dalam membangun ekonomi umat yang berkeadilan: 1. Bebas Riba dan Transparan Setiap kegiatan dalam koperasi syariah disusun sedemikian rupa agar terbebas dari unsur riba serta menghindari transaksi yang berpotensi menzalimi salah satu pihak. Di sisi lain, keuntungan diperoleh dari skema jual beli atau bagi hasil yang jelas dan disepakati bersama. 2. Kepemilikan Kolektif dan Demokratis Tidak ada dominasi satu pihak atas yang lain. Setiap anggota memiliki hak suara dan dapat berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan. Inilah bentuk kecil dari keadilan ekonomi Islam yang menjunjung musyawarah dan kebersamaan. 3. Mendorong Kemandirian Ekonomi Umat Koperasi syariah menjadi alat pemberdayaan umat, terutama pelaku usaha kecil yang kerap kesulitan mendapatkan akses permodalan dari lembaga keuangan konvensional. Dengan semangat tolong-menolong, umat bisa bangkit dari ketergantungan dan mulai membangun ekosistem bisnis yang saling menguatkan. 4. Transparansi dan Akuntabilitas Semua kegiatan transaksi dijalankan secara transparan dan dilaporkan kepada seluruh anggota sebagai bentuk akuntabilitas bersama. Hal ini menciptakan budaya amanah dan memperkuat rasa memiliki dalam organisasi. Tantangan dalam Mewujudkan Keadilan Ekonomi Perjuangan membangun ekonomi umat melalui usaha atau koperasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam tentu tidak mudah. Sejumlah tantangan masih menghadang, antara lain: Meski begitu, tantangan ini seharusnya dilihat sebagai peluang dakwah ekonomi, di mana generasi muslim bisa mengambil peran aktif dalam mengubah keadaan. Strategi Penguatan Mulai Dari Niat Menuju Gerakan Agar koperasi syariah benar-benar menjadi kendaraan untuk mewujudkan ekonomi umat yang berkeadilan, ada beberapa langkah penting yang harus diperkuat. Berikut ini strategi yang bisa dikembangkan: 1. Pendidikan dan Literasi Kampanye literasi ekonomi syariah harus dilakukan secara sistematis, terutama di pesantren, masjid, kampus, dan komunitas muslim muda. Pemahaman yang kuat akan prinsip dan praktik koperasi syariah adalah kunci perubahan. 2. Digitalisasi dan Inovasi Teknologi Transformasi digital adalah keniscayaan. Koperasi syariah perlu hadir dalam bentuk aplikasi mobile, pencatatan keuangan berbasis cloud, hingga sistem pelaporan online yang transparan dan mudah diakses anggota. 3. Kolaborasi dan Kemitraan Kemitraan dengan pesantren, UMKM halal, dan jaringan koperasi lain akan memperkuat posisi dan pengaruh koperasi syariah. Semakin luas jangkauannya, semakin besar daya ungkitnya terhadap ekonomi umat. 4. Kepemimpinan yang Visioner dan Amanah Koperasi bukan ladang kekuasaan, melainkan amanah sosial. Para pengurus harus memiliki visi jangka panjang, integritas tinggi, dan semangat melayani umat. Koperasi Syariah Sebagai Pilar Keadilan dan Kemandirian Ekonomi Koperasi syariah bukan sekadar alternatif dari sistem kapitalistik yang eksploitatif. Lebih dari itu, ia adalah bagian dari ikhtiar besar umat Islam untuk membangun peradaban ekonomi yang lebih beradab, dengan menempatkan keberkahan, keadilan, dan kebersamaan sebagai fondasinya. Melalui koperasi syariah, kita tidak hanya mencari laba, tetapi juga menyemai nilai. Setiap transaksi yang halal, setiap akad yang adil, dan setiap keuntungan yang dibagi bersama menjadi kontribusi nyata untuk kemaslahatan umat. Saatnya Kita Terlibat dalam Ikhtiar Ini Tidak semua orang harus menjadi pendiri koperasi. Namun setiap muslim bisa mengambil bagian dalam ikhtiar ini, antara lain dengan menjadi anggota, memberi dukungan, atau menyuarakan kepada masyarakat luas tentang pentingnya sistem ekonomi yang membebaskan dan mensejahterakan. Karena sejatinya, ekonomi yang berkeadilan bukan sekadar cita-cita, tapi tanggung jawab kolektif yang harus terus diperjuangkan oleh umat Islam.** Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah) Foto ilustrasi Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris

Read More

Sholat Dhuha: Amalan Ringan, Manfaat Besar untuk Rezeki

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di tengah kesibukan sehari-hari, seringkali kita lupa bahwa pintu-pintu rezeki bisa terbuka lebar melalui amalan yang ringan namun penuh keberkahan. Salah satunya adalah sholat Dhuha. Ibadah sunnah yang dilakukan di waktu pagi ini tak hanya mendatangkan ketenangan hati, tetapi juga menjadi sebab datangnya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Artikel ini akan mengulas bagaimana sholat Dhuha bisa menjadi amalan sederhana dengan manfaat luar biasa, khususnya dalam melapangkan dan memberkahi rezeki. Tentunya tidak hanya itu saja, masih banyak manfaat lain yang perlu dipelajari. Sholat Dhuha dalam Hadits Rasulullah Rasulullah SAW melaksanakan sholat dhuha saat waktu setelah matahari terlihat, dengan ketentuan sampai mendekati waktu dhuhur. Beberapa hadits yang diriwayatkan oleh beragam tokoh serta sahabat Rasulullah bisa menjadi pedoman shahih, antara lain sebagai berikut. 1. Hadits Anjuran Sholat Dhuha Diriwayatkan oleh H.R Muslim nomor 719, dari ‘Aisyah R.A berkata bahwa Rasulullah SAW melaksanakan sholat dhuha sebanyak empat rakaat serta dapat pula menambahnya dengan kelipatan genap sesuai dengan kehendak Allah. Melalui hadits tentang anjuran sholat dhuha ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah yang merupakan utusan Allah SWT kerap melaksanakan sholat sunnah ini. Bagaimana dengan kita sebagai umat-Nya? Tentunya harus mencontoh dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Hadits Waktu Utama Sholat Dhuha Rasulullah SAW bersabda “sholat awwabin” atau sholat orang yang diartikan kembali pada Allah. Istilah ini merujuk pada sholat dhuha, dan Rasulullah melaksanakannya saat anak unta mulai kepanasan atau saat fajar telah tampak, seperti yang telah diriwayatkan dalam HR. Muslim nomor 748. Manfaat Sholat Dhuha Bagi Kehidupan Source: Pixabay Tidak hanya membuka jalan lancarnya rezeki saja, sholat dhuha juga memiliki keunggulan lainnya. Setiap insan yang melaksanakan sholat dhuha akan menerima banyak manfaat duniawi hingga akhirat. Beberapa manfaat sholat dhuha adalah sebagai berikut: 1. Pintu Masuk Rezeki Pastinya keutamaan ini telah banyak diketahui oleh Muslim. Hal ini selaras dengan anjuran Rasulullah yang pernah disampaikan dahulu kala. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melaksanakan sholat ini sebelum memulai aktivitas harian. Selain itu, banyak keutamaan lain seperti menumbuhkan ketenangan batin, menjauhkan dari sifat tamak, dan melatih hati agar senantiasa bersyukur. Semua hal baik tersebut bisa diperoleh asal niat tulus untuk beribadah kepada Allah, bukan hanya mengejar manfaatnya saja. 2. Pertolongan hingga Sore Hari Disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi 4339 bahwa Allah akan mencukupkan insan hingga petang hari apabila dia melaksanakan sholat dhuha. Hadis ini menunjukkan bahwa sholat dhuha menjadi amalan yang mendatangkan pertolongan Allah hingga petang hari. 3. Terlindungi dari Godaan Setan Orang yang rutin menunaikan sholat dhuha akan lebih kuat dalam menjaga diri dari bisikan dan pengaruh setan. Hal ini menjadikannya lebih waspada terhadap maksiat dan menjaga amal dari pagi hingga menjelang siang. 4. Ibarat Bersedekah dari Setiap Sendi Tubuh Sholat dhuha juga dianggap sebagai bentuk sedekah dari 360 sendi tubuh manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang telah diriwayatkan oleh HR. Muslim. Setiap Muslim yang melakukan gerakan sholat di dalamnya dianggap sebagai suatu sedekah. Itulah mengapa sholat dhuha menjadi suatu amalan yang telah mencukupi semua aspek tersebut. Maka dari itu Rasulullah bersabda bahwa nilai ibadah ini seperti halnya saat seorang Muslim bersedekah dari setiap sendi yang ia miliki. 5. Pahalanya Setara dengan Ibadah Haji dan Umrah Muslim yang melaksanakan sholat dhuha secara istiqamah, terutama setelah sholat subuh berjamaah dan memperbanyak zikir, akan memperoleh pahala setara dengan mereka yang menunaikan ibadah haji dan umrah. Manfaat sholat dhuha tentunya tidak main-main. Jika seorang Muslim tekun mencari ridho Allah dengan beribadah, niscaya Allah akan membalasnya berkali lipat tanpa pandang bulu. 6. Hadiah Istana di Surga Rasulullah pernah bersabda bahwa siapapun yang rutin dalam menunaikan sholat dhuha hingga sebanyak 12 rakaat, kelak akan Allah beri sebuah istana megah yang berlapis emas di surga (HR. Imam Tirmidzi & Ibnu Majah). 7. Dosa akan Diampuni Meskipun dosa yang dimiliki sebesar buih di lautan, bagi Muslim yang taat menjalankan sholat dhuha maka akan tetap diampuni oleh Allah SWT. Hal ini berandaskan pada HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Bisa dibayangkan saat masih hidup di dunia dan kerap melaksanakan sholat dhuha, maka sama saja dengan menyicil pengampunan pada Allah SWT di akhirat nanti. Manfaat ini sangatlah besar untuk kita sebagai manusia yang tidak pernah luput dari dosa. Mengapa Sholat Dhuha Bisa Memperlancar Rezeki? Sholat dhuha bukan hanya tentang menunaikan ibadah sunnah, namun juga merupakan ikhtiar untuk menjemput rezeki. Perlu diingat bahwa rezeki tidak hanya soal materi, mulai dari kesehatan hingga ketenangan hati pun merupakan rezeki. Pagi hari merupakan waktu yang diberkahi oleh Allah SWT. Dalam HR. Abu Daud no. 2606, Rasulullah bersabda memanjatkan doa kepada Allah agar memberkahi umat-Nya di waktu pagi. Keberkahan pada pagi hari bukan berarti mendiskreditkan waktu lainnya, namun pada pagi hari manusia akan memulai aktivitas. Oleh karena itu, pagi hari menjadi waktu yang berkah dan didoakan oleh Rasulullah. Salah satu amalan ringan yang bisa dilakukan setiap pagi adalah sholat dhuha. Manfaat sholat dhuha akan dirasakan seiring waktu. Maka dari itu, umat Muslim dianjurkan untuk mencari keberkahan sebanyak-banyaknya selama hidup di dunia.(*) SOURCE: https://rumaysho.com/37208-inilah-keutamaan-shalat-dhuha-waktu-afdalnya-dan-jumlah-rakaat-shalat-dhuha-yang-dianjurkan.html https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230509100536-569-947072/9-manfaat-sholat-dhuha-salah-satunya-membuka-pintu-rezeki Kontributor : Yasmin Maulidia Editor : Toto Budiman

Read More

Meningkatkan Kualitas Pendidikan Lewat Reformasi Administrasi Guru dan Pembelajaran Mendalam

Jakarta – 1miliarsantri.net : Pendidikan merupakan pondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan berkelanjutan. Di Indonesia, upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan terus menjadi perhatian utama pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Salah satu pendekatan yang kini menjadi sorotan adalah pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini bertujuan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, mendorong keingintahuan siswa, serta memberikan pemahaman yang holistik, melampaui sekadar hafalan. Namun, keberhasilan pembelajaran mendalam tidak hanya ditentukan oleh metode yang diterapkan di kelas. Ekosistem pendidikan yang mendukung, terutama dari segi administrasi guru dan pengembangan profesional, menjadi kunci utama keberhasilan reformasi pendidikan ini. Guru sebagai ujung tombak pendidikan harus diberikan ruang untuk berkreasi tanpa terbebani oleh birokrasi yang sering kali menguras waktu dan energi. Salah satu tantangan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah sistem administrasi guru yang terlalu birokratis. Banyak guru menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif, seperti pengisian dokumen dan laporan repetitif, yang sering kali tidak berdampak langsung pada kualitas pembelajaran di kelas. Kondisi ini mengurangi waktu guru untuk mempersiapkan materi pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan siswa. Untuk mengatasi tantangan ini, reformasi administrasi guru menjadi langkah awal yang sangat penting. Penyederhanaan beban administratif dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital secara bijaksana. Namun, digitalisasi saja tidak cukup. Transformasi digital yang bermakna harus dirancang mempermudah tugas guru, bukan menambah kerumitan. Sistem digital yang efisien memberikan lebih banyak waktu bagi guru untuk fokus pada aktivitas inti mereka, yaitu mengajar dan membimbing siswa. Dalam Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, serta semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan semut di dalam lubangnya dan ikan di laut, benar-benar bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya peran seorang pendidik. Guru tidak hanya menjalankan tugas duniawi, tetapi juga memiliki tanggung jawab spiritual yang tinggi di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, memberikan dukungan penuh kepada guru—baik dalam bentuk kesejahteraan, ruang gerak profesional, maupun pengembangan kapasitas—adalah bagian dari penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk membentuk manusia yang berilmu dan bertakwa. Dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Ayat ini menggambarkan bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan mencerdaskan siswa secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang berakhlak mulia, beradab, dan memiliki kesadaran spiritual serta sosial. Dengan demikian, reformasi pendidikan sejatinya merupakan bentuk pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Reformasi pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pengembangan profesional guru. Di negara-negara maju seperti Singapura dan Estonia, pelatihan guru dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Guru tidak hanya dilatih untuk menguasai keterampilan teknis, tetapi juga diajak memahami filosofi pendidikan serta tujuan jangka panjangnya. Dalam konteks Islam, pengembangan profesional guru sejalan dengan konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan ta’dib (pembentukan adab). Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk membimbing manusia agar mengenal Tuhannya, menata akhlaknya, dan menjadi rahmat bagi sesama. Oleh karena itu, pelatihan guru tidak hanya berfokus pada aspek teknis pengajaran, tetapi juga pada pembentukan karakter dan adab sebagai pendidik. Salah satu tantangan besar dalam sistem pendidikan Indonesia adalah kesenjangan antara sekolah-sekolah di perkotaan dan pelosok. Di kota-kota besar, banyak sekolah memiliki fasilitas lengkap dan guru yang melek digital. Sebaliknya, di daerah terpencil, masih banyak sekolah yang kekurangan infrastruktur dasar seperti listrik, internet, bahkan bahan ajar. Dalam ajaran Islam, keadilan adalah prinsip utama yang harus ditegakkan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” Keadilan dalam pendidikan berarti memberikan akses yang setara bagi semua anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Negara dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap siswa, dimanapun mereka berada, mendapatkan fasilitas dan pembelajaran yang layak. Kemendikdasmen telah menetapkan tiga pilar utama dalam reformasi pendidikan: reformasi sistem administrasi guru, penguatan pengembangan profesional guru, dan peningkatan kesejahteraan guru berbasis kompetensi. Ketiga pilar ini saling berkaitan dan harus berjalan secara sinergis. 1. Reformasi Administrasi Guru    Penyederhanaan beban administratif akan memberikan waktu lebih bagi guru untuk fokus pada pembelajaran kreatif dan kontekstual. 2. Penguatan Pengembangan Profesional    Pelatihan berbasis kebutuhan nyata di kelas akan meningkatkan kapasitas guru dalam menyampaikan materi secara mendalam dan relevan. 3. Peningkatan Kesejahteraan Guru    Kesejahteraan yang layak akan memotivasi guru untuk terus berkembang dengan niat ibadah dan tanggung jawab moral yang tinggi. Transformasi pendidikan di Indonesia harus berpusat pada guru sebagai agen perubahan utama. Dengan memberikan kepercayaan, dukungan, dan ruang tumbuh bagi guru, kita dapat menciptakan ruang kelas yang dinamis secara intelektual sekaligus humanis dan spiritual. Teknologi hanyalah alat; dampaknya akan signifikan jika digunakan oleh guru yang bersemangat, kompeten, dan memiliki integritas. Pembelajaran mendalam bukan sekadar metode baru, tetapi arah baru pendidikan yang membentuk cara berpikir kritis, reflektif, dan bernilai. Islam mendorong umatnya untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayat. Oleh karena itu, reformasi pendidikan adalah bagian dari jihad intelektual kita hari ini untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sebagai insan yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu membangun peradaban unggul. sumber : https://pusdatin.dikdasmen.go.id/blog/deep-learning-dan-adopsi-teknologi-digital Kontributor : Zeta Zahid Yassa Editor : Toto Budiman

Read More

Mengenal Zaman Keemasan Islam: Puncak Kemajuan Ilmu dan Peradaban

Situbondo – 1miliarsantri.net: Saat mendengar kata “zaman keemasan Islam”, rasanya seperti membuka lembaran kisah megah yang penuh cahaya. Masa di mana dunia Islam bukan hanya memimpin secara spiritual, tetapi juga menjadi poros utama ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dunia. Ini adalah masa ketika masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi pusat riset dan pendidikan. Pada masa itu para filsuf, ilmuwan dan cendekiawan muslim duduk berdampingan dalam masjid menulis sejarah besar peradaban manusia. Di balik gemerlap peradaban itu tersimpan semangat belajar, toleransi, dan kehausan ilmu yang luar biasa. Yuk, kita kenali lebih dalam seperti apa kilau zaman yang begitu menginspirasi ini. Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan Karya-Karya Monumental Bicara tentang zaman keemasan Islam, maka tak bisa dilepaskan dari kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Pada masa ini, para ilmuwan Muslim tidak hanya menerjemahkan karya-karya dari Yunani dan Romawi, tetapi juga menciptakan berbagai penemuan dan teori orisinal yang menjadi fondasi ilmu modern. Bayangkan saja saat Eropa masih berada di masa kegelapan, dunia Islam justru telah membangun perpustakaan raksasa seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad. Di tempat inilah para pemikir, ilmuwan, dan penerjemah dari berbagai latar belakang berkumpul, berdiskusi, dan menulis karya-karya monumental. Beberapa nama besar dari zaman keemasan Islam yang mungkin kamu kenal antara lain Al-Khwarizmi yang disebut sebagai bapak aljabar, Ibnu Sina dengan ensiklopedia medis-nya Al-Qanun fi al-Tibb, dan Al-Haytham yang merupakan pelopor dalam ilmu optik. Mereka tidak hanya menulis buku, tapi  menciptakan sistem ilmiah yang masih digunakan hingga saat ini. Yang menarik, semangat zaman keemasan Islam bukan hanya soal pencapaian individu, tetapi didukung penuh oleh negara dan masyarakat. Khalifah dari Dinasti Abbasiyah memberikan perlindungan dan dukungan finansial bagi para ilmuwan dan seniman. Hal ini meciptakan lingkungan yang subur bagi lahirnya karya-karya besar. Bagaimana Zaman Keemasan Islam Menjadi Peradaban yang Membentuk Dunia? Kemajuan zaman keemasan Islam tidak hanya dirasakan dalam ilmu eksakta, tapi juga dalam bidang ilmu filsafat, sastra, seni arsitektur, hingga sistem pemerintahan. Kota-kota besar seperti Baghdad, Kairo dan Cordoba menjadi pusat peradaban global dan tempat di mana toleransi, kebudayaan serta ilmu tumbuh bersama. Dalam bidang arsitektur, kita juga bisa melihat keindahan Alhambra di Spanyol dan kemegahan Masjid Agung Cordoba yang mencerminkan keterampilan arsitek Muslim yang luar biasa. Dalam bidang sastra, muncul karya-karya puisi dan prosa dari penyair-penyair hebat seperti Rumi dan Al-Mutanabbi. Salah satu yang paling menarik dalam zaman keemasan Islam adalah semangat keterbukaan terhadap pengetahuan dari luar. Muslim pada masa itu tidak segan untuk belajar dari peradaban lain bahkan menerjemahkan karya-karya dari India, Persia serta Yunani, lalu mengembangkan ide-ide tersebut sesuai dengan konteks dan kebutuhan zaman. Bahkan dalam sistem pendidikan, sekolah-sekolah dan madrasah didirikan hampir di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Pelajaran bukan hanya soal agama, tapi juga astronomi, matematika, logika, dan kedokteran. Masa itu juga adalah bukti bahwa Islam pernah menjadi motor utama peradaban dunia, dan itu bisa menjadi inspirasi besar untuk masa depan. Zaman keemasan Islam menunjukkan bahwa integrasi antara budaya, ilmu dan iman bisa menciptakan kemajuan yang luar biasa. Hal ini menjadi pelajaran berharga buat kita semua bahwa dengan semangat belajar yang tinggi, terbuka dengan ilmu, dan saling menghargai perbedaan maka umat bisa kembali bangkit dan tentunya bisa memberikan kontribusi positif bagi dunia. Warisan Berharga dari Zaman Keemasan Islam Zaman keemasan Islam bukan sekadar masa lalu yang dilukis dengan tinta emas, tapi warisan intelektual dan spiritual yang bisa terus kita gali. Saat kita mengenang masa tersebut, kita tak hanya melihat kejayaan yang pernah ada, tetapi juga membuka harapan bahwa masa itu bisa menjadi inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Jadi, mengenal zaman keemasan Islam bukan hanya pelajaran sejarah, tapi juga panggilan untuk terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi. Karena siapa tahu, generasi kita juga bisa mengukir masa keemasan baru dengan semangat yang sama seperti para pendahulu kita.** Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Foto Ilustrasi Editor : Thamrin Humris

Read More

Batuk Tak Kunjung Sembuh dan Paru-Paru Kotor?, Ini Tips Alami Mengatasinya

Bekasi – 1miliarsantri.net: Batuk merupakan kondisi yang sangat mengganggu dan membuat penderitanya tidak nyaman ketika berada di ruang publik. Tentu sangat mengganggu aktivitas bukan? Kondisi batuk yang tak kunjung sembuh bagi sebagian besar orang sangat mengganggu. Mungkin paru-parunya kotor, nah perlu dibersihkan dari lendir dan racun yang menumpuk. Ketika seseorang mengalami batuk parah, hal yang paling sering dicari adalah cara untuk meredakan gejala batuknya. Orang yang menderita batuk ingin menemukan solusi yang dapat membuat mereka merasa lebih nyaman dan tidur lebih nyenyak. Mereka mencari obat batuk yang efektif, baik yang dijual bebas di apotek maupun resep dokter. Penderita juga ingin tahu jenis obat apa yang paling cocok untuk batuknya (misalnya, batuk berdahak atau batuk kering). Namun ada juga yang mencari cara alami untuk meredakan batuk, seperti teh herbal, madu, jahe, atau ramuan tradisional lainnya. Tips Alami Mencegah, Mengobati Batuk dan Membersihkan Paru-Paru Buat kamu yang memilih mencegah dan mengobati batuk serta membersihkan paru-paru dengan bahan alami, berikut solusi murah meriah yang bisa dibuat sendiri di rumah! Pertama, Siapkan bahan-bahan: Untuk diketahui, Jahe memiliki khasiat untuk mengurangi peradangan dan lendir di paru-paru, sementara itu Madu berfungsi melembutkan tenggorokan dan berkhasiat meredakan batuk. Kemudian Jeruk Nipis yang kaya akan Vitamin C memiliki khasiat meningkatkan imun atau kekebalan tubuh. Sedangkan Bawang Putih yang memiliki sifat antibakteri yang dapat melawan infeksi. Kedua, Cara Membuat: Ketiga, Cara Mengkonsumsi: Setelah semua ramuan tercampur merata dan siap dikonsumsi, kamu dapat meminumnya di waktu pagi dan malam. Pastikan ramuan tersebut diminum saat masih hangat agar khasiatnya lebih maksimal. Selamat mencoba, semoga tips alami mengatasi batuk yang tak kunjung sembuh dan mengobati paru-paru yang kotor bermanfaat untuk pembaca setia 1miliarsantri.net.*** Penulis dan Editor: Thamrin Humris Foto ilustrasi istimewa

Read More