Ribuan Orang Melakukan Penghormatan Terakhir Untuk Sinead O’Connor

Dublin — 1miliarsantri.net : Sebanyak 3.000 orang lebih berkumpul untuk mengantarkan penyanyi Sinead O’Connor (56) ke peristirahatan terakhirnya. O’connor dimakamkan secara Islami. Mereka yang hadir di sepanjang jalan kota asal Sinead, Dublin, Irlandia, menangis sambil menyanyikan “Nothing Compares to U”. Keluarga penyanyi muallaf itu mengadakan upacara peringatan pribadi pada Selasa (08/08/2023) pagi yang dihadiri oleh Presiden Irlandia, Michael D Higgins; dan perdana menteri Leo Varadkar. Bintang seperti Bono, Edge dan Bob Geldof, juga tampak hadir. Kepala Imam di Pusat Islam Irlandia, Syaikh Dr Umar Al-Qadri, mengatakan kepada Daily Mail bahwa O’Connor akan dimakamkan secara Islami sesuai dengan perpindahan agamanya, merujuknya dengan nama barunya, Shuhada Sadaqat. “Pemakaman jelas pribadi (untuk) keluarga, dan itu adalah upacara yang sangat mengharukan, dan saya rasa itu benar-benar mencerminkan kepribadian Sinead yang indah. Itu sangat spiritual dan mencerminkan identitas Irlandianya serta identitas Muslimnya,” terang Syekh Dr Umar al-Qadri. Dia bersama anggota komunitas Muslim lainnya melakukan sholat jenazah untuk O’Connor. Ia juga mengatakan, O’Connor tidak pernah menjauh dari Allah SWT, tidak seperti orang lain yang memiliki kesulitan dan cobaan dalam hidup mereka. “Dia adalah manusia yang luar biasa, bukan hanya seorang musisi hebat, artis, tetapi yang akan menyentuh hati jutaan orang karena suaranya tetapi juga karena hatinya yang luar biasa. Dia selalu memiliki iman dan keyakinan yang kuat kepada Tuhan,” tambah Syekh Dr Umar al-Qadri. Dia mengatakan, O’Connor berbakat dengan suara yang menggerakkan generasi anak muda, serta dapat membuat para pendengar menangis dengan resonansi dunianya. Suara O’Connor membawa nada harapan untuk menemukan jalan pulang. “Orang-orang Irlandia telah lama menemukan pelipur lara dalam lagu dari penderitaan di tempat yang lebih rendah ini, dan Sinead tidak terkecuali, dan dalam berbagi pelipur lara itu, dia membawa kegembiraan bagi banyak orang di seluruh dunia,” ucap Syekh Dr Umar al-Qadri. Keluarga O’Connor meminta orang-orang yang ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir untuk berdiri di sepanjang tepi laut Bray di Co Wicklow, saat iring-iringan melewati jam makan siang, diiringi suara Bob Marley dan Natural Mystic Wailers. Seorang pekemah Volkswagen memimpin mobil jenazah yang membawa O’Connor dalam perjalanan terakhirnya, dengan para pelayat melemparkan bunga ke atap mobil itu. Bunga hydrangea biru dan mawar menutupi dan mengelilingi petinya. Kemudian mobil berhenti di luar bekas rumahnya selama beberapa menit sehingga pelayat dapat memberikan penghormatan. Banyak yang melangkah ke jalan untuk menyentuh kendaraan. O’Connor merupakan seorang ibu dari empat anak yang meninggalkan tiga anaknya yang masih hidup. Ia ditemukan meninggal dunia di flat penthouse miliknya di Herne Hill pada 26 Juli 2023. (tri-reu) Baca juga :

Read More

Rasulullah SAW Membaca Surat Al Mulk Sebelum Tidur

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Surat Al Mulk memiliki keutamaan yang besar untuk diamalkan oleh setiap Muslim. Bahkan Nabi Muhammad SAW telah berpesan kepada umatnya untuk senantiasa membaca surat tersebut setiap hari menjelang tidur. Sebelum tidur, Nabi SAW selalu terlebih dulu membaca surat tersebut. Diriwayatkan dari Jabir RA, dia berkata: عن جابر رضي الله عنه : ” أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا ينام حتى يقرأ آلم تنزيل ، وتبارك الذي بيده الملك “، “Rasulullah SAW tidak tidur sampai beliau membaca Alif Lam Mim Tanzil (Surat As-Sajdah) dan Tabarakal Lazi Biyadihil Mulku (Al-Mulk).” (HR Tirmidzi) Ada beberapa faedah yang besar bagi Muslim yang membaca surat Al Mulk setiap harinya. Hal ini pun telah dijelaskan oleh Otoritas Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, tentang faedah membaca Surat Al Mulk sebelum tidur. Dar Al Ifta menjelaskan, Surat Al Mulk adalah surat yang akan membuat pembacanya memperoleh banyak kebaikan dan diampuni dosa-dosanya. Mengapa demikian? Karena malaikat memohonkan ampunan bagi para pengamal surat Al Mulk. Membaca Surat Al Mulk juga akan memberikan kedamaian dan keamanan bagi seorang Muslim yang rajin membacanya. Sehingga kedekatannya dengan Allah SWT semakin meningkat. Selain itu, Surat Al Mulk menjadi pengantar dan pembimbing menuju surga. Kandungan Surat Al Mulk mengajarkan untuk selalu berserah diri kepada Allah SWT. Bukan berarti menyerah pada keadaan atau semacamnya. Justru dengan begitu, seorang Muslim akan senantiasa selalu bersyukur pada setiap keadaan yang dihadapinya. Akan selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa semuanya hanyalah bergantung kepada Allah SWT, termasuk soal rezeki. Karena rezeki itu telah ditetapkan dan setiap Muslim hanya perlu menjemputnya. Seorang Muslim yang lisannya basah dengan bacaan Surat Al Mulk, menerima pahala yang besar. Ingatlah bahwa setiap huruf dalam Alquran menyimpan kebaikan. Satu kebaikan ini akan dilipatgandakan 10 kali lipat bagi siapa saja yang dikehendaki Allah SWT. Bahkan, Nabi Muhammad SAW ingin supaya setiap Muslim menyimpan surat Al Mulk di dalam sanubari hati. Dalam riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku menginginkan bila surat (Al Mulk) ini dihafal di dalam kalbu setiap umatku.” (HR Ath Thabrani) (yus) Baca juga:

Read More

Sejarah Zakat di Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Direktur Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah, Amelia Fauziah memaparkan sejarah zakat di Indonesia. Selain itu, berdasarkan catatan kuno yang ditulis Denys Lombard dalam Silang Budaya mengatakan, dulu zakat menjadi daya tarik dakwah, dikarenakan kondisi muslim yang minoritas saat masuknya Islam di Indonesia. “Sehingga zakat diberikan kepada kaum tapa, serta orang yang membutuhkan sehingga banyak yang mulai berfikir bahwa umat Muslim tak hanya mengurusi masalah spiritual tapi juga konteks sosial,” terang Amelia, Selasa (08/08/2023). Hal ini lalu diikuti dengan menguatnya perkembangan zakat di abad ke-13. Tercatat, dalam kitab Bustanus Salatin yang menyebutkan zakat digaungkan oleh Raja di kerajaan-kerajaan Aceh. Namun, hanya sebatas dorongan para Raja untuk membayar zakat tanpa turun langsung untuk mengelola zakat masyarakat. “Meskipun kemudian di satu sisi ada yang mengkritik, seperti kerajaan Banjar yang menganggap kerajaan tidak perlu mengurusi soal zakat. Zakat, menurutnya adalah persoalan ibadah yang menjadi urusan individual,” tutur Amelia. Ragam fenomena ini, menjadi semakin menarik, hingga di masa kolonial Belanda aktivitas berzakat ini terus berkembang dan diintervensi oleh pemerintah kolonial. Saat itu, merangsang adanya gerakan yang menentang, sehingga masyarakat sipil mempergunakan dana tersebut untuk masjid dan lainnya. Sampai pada pemerintahan kolonial tahun 1830-an, mereka seolah melepas tangan perihal zakat yaitu tidak mewajibkan dan tidak melarang bahkan mempersilakan untuk dikelola oleh muslim. Saat itu, mereka berpikir kedermawanan merupakan kewajiban agama dan bersifat pribadi, sehingga tidak perlu dikelola atau diserahkan negara. “Bahkan, salah satu penasehat pemerintah kolonial yang sedikit ‘memahami’ agama Islam secara jelas membuat aturan untuk jangan ada kekerasan dalam hal ini, selama tidak berkaitan dengan politik,” ungkap Amelia. Produk Konkret Zakat Abad XIXPerkembangan zakat terus menguat di abad XIX, setali tiga uang dengan pertumbuhan pesantren pada saat itu yang juga menggunakan dana ZISWAF sebagai sumber dana penting dalam memperkuat pendidikan. “Sebagai contoh, Pondok Pesantren Gontor yang terkenal dengan wakafnya, kemudian lahir juga organisasi keislaman seperti Muhammadiyah, NU, Syarikat Islam, Persis yang membuat sekolah-sekolah,” tutur Amelia. Tabiat pemerintah kolonial saat itu membiarkan kultur ini berkembang selama tidak masuk ke ranah politik. Bahkan, pemerintah kolonial membuat aturan tentang pendaftaran zakat dan wakaf, serta jika terjadi kekerasan dalam pengelolaan yang dalam arti lain karena besaran dana yang besar dengan keamanan yang mengkhawatirkan maka pemerintah turut mengawasi. “Peran pengawasan ini terbawa hingga awal abad 20 dan akhirnya tumbuh luar biasa sehingga berjalan sampai sekarang,” kata Amelia. Pertumbuhan ZISWAF ditandai dengan mampunya dana ini menopang negara. Banyak masyarakat menyumbang untuk negara, seperti Pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang dibeli dari uang sumbangan rakyat, diikuti dengan banyaknya kantor-kantor KUA dari tanah wakaf. Maka itu, Presiden Soeharto sempat memimpikan negara dalam kepemimpinannya mengelola dana ZISWAF. Pada 1967-an, Presiden Soeharto membuat aturan khusus dan memproklamirkan diri menjadi amil nasional. Namun sayang, idenya masih terlalu general dan tidak bisa dipahami oleh khalayak. “Tentunya pada saat itu, ada dua hal yang menyebabkan ide tersebut mental, yaitu karena tradisi zakat yang terbiasa dikelola dari dari bawah dan kedua adanya resistensi dari tokoh agama,” tutur Amelia. Pola Hubungan Ideal Antara Negara dan Masyarakat dalam Pengelolaan Dana ZISWAFTata kelola yang dibentuk pemerintah, menjadi bagian paling penting dalam pengelolaan dana sosial keagamaan, khususnya Zakat Infaq Sedekah. Itu karena, penguatan tata kelola ini, nantinya akan mempengaruhi keseimbangan antara negara dan masyarakat sipil dalam mengoptimalkan potensi zakat yang besar. “Melalui undang-undang zakat 23/2011 saat ini, meskipun sudah cukup baik pada beberapa hal namun memiliki titik rentan yang berpotensi menimbulkan conflict of interest,” tutur Amelia. Salah satunya adalah peran ganda yang dimiliki BAZNAS, yakni sebagai AMN operator zakat sekaligus regulator. Hal itu bisa menjadikan kepercayaan dari para pengelola terhadap BAZNAS menjadi lemah. Itu karena Baznas menjadi lembaga yang melahirkan regulasi, namun di saat yang sama menjadi ‘kompetitor’. Ada tiga pilihan dalam pengelolaan dana dengan potensi yang luar biasa ini. Pertama yaitu dengan dikelola negara. Contohnya, negara-negara dibawah Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) seperti Pakistan dan Sudan yang mengelola dana tersebut. Namun, hanya sebatas incomenya saja. Sementara zakat memiliki banyak jenis yang harus dikelola dengan detail. Pada akhirnya setiap individu masih mengirimkan dana ZISWAF secara langsung kepada yang membutuhkan, atau komunitas hingga luar negeri. Kedua, yakni pengelolaan seluruhnya dikelola oleh masyarakat sipil, seperti Islamic charity dari UK. Ketiga, seperti di Indonesia yaitu fifty-fifty, yakni setengah pengelolaan oleh negara dan setengahnya lagi dikelola oleh masyarakat sipil. “Di satu sisi, ini menjadi jalan tengah, namun sebagaimana yang digagas di awal bahwa sebaiknya pemerintah cukup memfasilitasi di fungsinya sebagai regulasi. Kalaupun juga ingin mengelola, harus ada pemisahan fungsi diantara regulator dan operator,” ungkap Amelia. Konflik yang terjadi sekarang cukup memprihatinkan, karena banyak potensi lembaga zakat yang cukup baik seperti yang berasal dari BUMN, Universitas, Masjid tidak bisa berdaya guna dengan baik. Itu dikarenakan secara kelembagaan malah diharuskan menjadi UPZ. Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf merupakan perilaku yang berasal dari hati dan erat sekali kaitannya dengan ibadah individu, sehingga butuh strategi dan pendekatan yang khas sesuai dengan target muzakki. Dengan potensinya yang besar, ZISWAF memang mungkin saja dikelola oleh satu badan (dalam hal ini pemerintah) yang dianalogikan dengan aliran sungai yang bermuara ke satu danau. Dengan asumsi akan membesar dan bisa memberikan manfaat yang besar. “Namun, di saat yang sama hal ini juga mengkhawatirkan, karena jika tak dibarengi dengan tata kelola yang baik justru akan bahaya, akan timbul kebocoran bahkan bah. Maka tata kelola-lah yang menjadi penting. Jika saat ini masyarakat akar rumput sudah memiliki tata kelola yang kuat, tak ada salahnya jika pemerintah berlegowo untuk tak ikut dalam pengelolaan itu akan lebih baik,” pungkas. (mel) baca juga :

Read More

Gus Kautsar : Tidak Ada Istilah Galau Dalam Islam

Surabaya — 1miliarsantri.net : KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), ulama muda asal Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri mengatakan, dalam Islam tidak ada istilah galau. “Galau itu dilarang dalam Islam dengan dua solusi yakni sabar dan syukur. Apa yang disebut galau itu justru solusi, karena bisa mendekatkan kita kepada mencari Allah,” katanya saat mengisi pengajian Majelis Subuh Gen-ZI di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), dikutip Selasa (08/08/2023). Dalam pengajian bertema “Merdeka dari Galau” di MAS bersama pendakwah ustadzah Haneen Akira (istri ustadz Hanan Attaki) itu, Gus Kautsar menilai galau merupakan solusi bahwa semua yang ada dan terjadi merupakan garis tangan atas izin Tuhan. “Jadi, kalau Islam secara beneran itu, galau itu nggak ada, karena semuanya atas kehendak Allah dengan tujuan yang indah. Misalnya ketangguhan, memaklumi setiap kejadian, memaafkan siapapun, jadi kalau semuanya dikembalikan kepada Allah akan membuka semua pintu solusi. Semuanya indah, kalau gagal nggak benci, nggak menyalahkan, nggak mencari kambing hitam, tapi muhasabah,” katanya. Di hadapan ribuan jamaah dari kalangan generasi Z Islami dari Surabaya dan sekitarnya itu, putra KH Nurul Huda Djazuli itu mengutip pandangan bijak dari Imam Syafi’i. “Kalau ingin baik ya ikuti orang-orang dulu, seperti Imam Syafi’i. Kalau ikut orang-orang masa kini justru bisa nggak baik,” katanya. Menurut Imam Syafi’i, kata Gus Kautsar, apapun masalah yang menimpa itu dibiarkan saja berlalu dengan membawa masalahnya. Jangan terlalu meratapi masalah yang datang, karena semua masalah itu pasti ada akhir/ending dan semua masalah itu mengajari untuk rela dan sabar. “Imam Syafi’i juga mengajarkan muhasabah kalau menghadapi masalah. Masalah itu merupakan bagian atau jatah dari kehidupan. Kalau sudah jatah untuk kita, dihindari juga nggak mungkin. Kalau bukan jatah kita, dicari juga nggak datang. Yang penting, tetaplah menjadi orang baik, karena masalah itu menunjukkan bahwa manusia itu lemah. Kalau menggugat Allah justru panjang hisabnya,” katanya. (har) Baca juga :

Read More

Komika Abdur Arsyad Selalu Menangis Ketika Mendengar Atau Membaca Hadist Ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Komika Abdurrahim Arsyad bicara panjang lebar tentang pandangan religiusnya terhadap Nabi Muhammad SAW di kanal Youtube podcast Kasisolusi. Dalam obrolan podcast ini, Abdur, begitu ia akrab disapa, yang merupakan lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini mengungkapkan sebuah hadits yang selalu membuatnya menangis kala mendengarnya. Hadits yang dimaksud Abdur adalah hadits yang berisi kerinduan Rasulullah SAW kepada umatnya meski Nabi SAW sendiri belum pernah menemui mereka. Hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah dan ada dalam Shahih Muslim. Berikut ini hadits lengkapnya. جاء في صحيح مسلم عن أبي هريرة: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج إلى المقبرة, فقال:السلام عليكم دار قوم مؤمنين, وإنا إن شاء الله بكم لاحقون، وددت أني قد رأيت إخواننا، فقالوا: يا رسول الله, ألسنا بإخوانك؟ قال بل أنتم أصحابي، وإخواننا الذين لم يأتوا بعد، وأنا فرطهم على الحوض، فقالوا: يا رسول الله, كيف تعرف من يأتي بعدك من أمتك؟ قال: أرأيت لو كان لرجل خيل غر محجلة في خيل دهم بهم ألا يعرف خيله؟ قالوا: بلى يا رسول الله، قال: فإنهم يأتون يوم القيامة غرًّا محجلين من الوضوء، وأنا فرطهم على الحوض، ألا ليذادن رجال عن حوضي كما يذاد البعير الضال، أناديهم: ألا هلم, ألا هلم, ألا هلم. فيقال: إنهم قد بدلوا بعدك، فأقول: سحقًا سحقًا. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah mendatangi pemakaman lalu bersabda, “Semoga keselamatan terlimpahkan atas kalian penghuni makam kaum mukminin. Sungguh insya Allah kami akan bertemu kalian, dan sungguh aku sangat rindu berjumpa dengan saudara-saudara kita.” Mendengar itu, para sahabat pun bertanya, “Bukankah kami semua saudara-saudara engkau, wahai Rasulullah SAW?” Kemudian beliau SAW bersabda, “Kalian semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang akan datang di masa nanti.” Sahabat bertanya lagi, “Bagaimana engkau dapat mengenali mereka yang belum datang dari kalangan umat engkau, wahai Rasulullah SAW?” Beliau SAW bersabda, “Bagaimana jika seorang lelaki memiliki seekor kuda berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu?” Para Sahabat Nabi menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Lantas beliau bersabda lagi, “Karena itu, mereka akan datang dalam keadaan di mana wajah dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudhu. Aku mendahului mereka ke telaga. Dan ada golongan lelaki yang dihalangi datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat. Aku memanggil mereka, ‘Kemarilah kalian semua’. Dikatakan, ‘Sungguh mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat’. Maka aku bersabda, “Pergilah jauh-jauh dari sini.” (yid) Baca juga :

Read More

MUI Berharap Undang-undang Anti Islamophobia Segera Diberlakukan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong adanya undang-undang anti-islamophobia di seluruh negara khususnya di Asia Tenggara. MUI menilai Undang-undang anti-islamophobia sebagai upaya adanya toleransi yang kuat. “Hubungan antaragama bagus, masyarakat tidak kacau, rukun dan perdamaian bisa dibangun,” terang Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim kepada media di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (08/08/2023). Sudarnoto menambahkan, MUI terpanggil akan adanya ayat-ayat Alquran terkait dengan kemanusiaan, kebebasan beragama dan menghormati perbedaan dalam memerangi islamophobia. “MUI melihat pada keyakinan Islam itu menganjurkan perdamaian, tidak boleh menghina agama lain, harus ada penghargaan terhadap agama lain,” sambungnya. Tetapi, pada kenyataannya tidak sepenuhnya terjadi. Karena masih banyak kasus-kasus islamophobia di beberapa negara di dunia. Persoalan islamophobia, menurut Sudarnoto, merupakan persoalan yang sangat kompleks karena penyebabnya bukan hanya adanya kebencian terhadap Islam. Tapi punya kaitannya sangat erat dalam hal politik dan kebebasan berekspresi. Prof Sudarnoto menjelaskan, korban dari gerakan islamophobia bukan hanya menyangkut orang Islam, tetapi sebetulnya juga merusak kemanusiaan, hak-hak kemanusiaan, demokrasi, kedaulatan negara dan agama. Oleh karena itu, tegasnya, MUI sebagai payung organisasi Islam yang mewakili negara Muslim terbesar di dunia ini mendorong agar adanya undang-undang di seluruh negara di dunia, khususnya ASEAN terkait dengan anti islamophobia. Sudarnoto menuturkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah membuat deklarasi pada 15 Maret mengenai hari anti-islamophobia. “Deklarasi ini jangan sampai sebatas dokumen, harus digerakkan secara internasional. Karena deklarasi dari PBB ini semua negara tanpa terkecuali sepanjang menjadi anggota PBB harus komitmen menjaga ini, supaya tidak ada anti Islam, agama dan perbedaan,” tegasnya. Dalam kesempatan ini, Sudarnoto menyebut, kegiatan ini sebagai upaya untuk melihat peta islamophobia di ASEAN munculnya seperti apa. “(Juga mendorong) negara-negara di ASEAN harus ada jaminan undang-undang (anti-islamophobia). Termasuk di Indonesia, harus ada undang-undang yang memberikan jaminan tidak ada orang yang menghina agama,” pungkasnya. (rid)

Read More

Duo Pemimpin Tangguh Samarkand

Baghdad — 1miliarsantri.net : KZ Ashrafyan dalam artikelnya, “Central Asia under Timur from 1370 to the Early 15th Century” mengatakan, Timur Lenk berperan besar dalam kebangkitan peradaban Islam di Asia tengah. Sebagai penguasa, ia cerdas dan menyukai perkembangan ilmu dan seni. Sebagai panglima perang, ia amat tangguh dan–sering kali–digambarkan kejam. Bagaimanapun, tokoh yang mendaku berdarah Mongol itu menjuluki dirinya sendiri, Syaifullah atau ‘pedang Allah.’ Selama 35 tahun memimpin, Timur berhasil merebut berbagai wilayah di sekitar Laut Kaspia, lembah Sungai Ural dan Volga. Seluruh Persia hingga kawasan Irak utara dan bahkan Baghdad berhasil dikendalikannya. Di sisi timur, ia berhasil menduduki daerah hingga perbatasan Pegunungan Hindu Kush. Tidak jauh berbeda dengan para tokoh militer Mongol, Timur Lenk menerapkan taktik yang kejam. Sebagai contoh, serbuannya atas Isfahan. Rakyat setempat dan penguasa lokal enggan menyerahkan pajak pada Samarkand. Maka kota tersebut diserbunya. Sekira 200 ribu warga tempatan dibantainya. Bagaimanapun bengisnya, Timur Lenk cukup visioner dengan tidak gegabah dalam menyapu suatu daerah. Saat melakukan penyerbuan, ia menghindari tindakan apa pun yang berpotensi merusak tempat-tempat ibadah serta pusat-pusat keilmuan, termasuk madrasah dan perpustakaan. Kemudian, warga lokal yang berasal dari kalangan ulama, cendekiawan, ilmuwan, dan seniman dibiarkannya hidup. Mereka lantas diajak atau dipaksa hijrah ke ibu kota, yakni Samarkand. Dengan begitu, Timur menjadikan pusat kerajaannya bergeliat dengan pelbagai aktivitas keilmuan dan seni. Semasa hidupnya, sang penakluk menjadi patron banyak ilmuwan dan seniman terkemuka. Sebut saja, sejarawan Ibnu Khaldun dan penyari Persia, Hafez. Kelak, para penerus takhta Dinasti Timuriyah juga mengikuti jejaknya dalam mendukung kemajuan sains dan seni di Samarkand. Di antara mereka adalah Ulugh Beg, yang berkuasa pada periode 1411-1449. Cucu Timur Lenk itu berkontribusi besar bagi perkembangan astronomi serta ilmu matematika, khususnya pencarian tentang trigonometri. Pada masanya, terjadi pendirian banyak madrasah di Samarkand dan Bukhara. Timur Lenk meninggal pada Februari 1405. Ia dan anak keturunannya berjasa besar, antara lain, dalam mengangkat kebudayaan Persia dan Turki dalam konteks peradaban Islam di Asia. Kedudukan bahasa Persia menjadi mirip bahasa Arab. Apabila dahulu, pada era Umayyah dan Abbasiyah, Arab menjadi bahasa pemersatu, kini peran itu diambil bahasa Persia. Kalau pada masa silam mercusuar peradaban yang terkemuka adalah Baghdad, kini fungsinya dimiliki Samarkand dan kota-kota sekitar, termasuk Bukhara dan Merv. Dalam periode duo-penguasa ini, Timur Lenk dan Ulugh Beg, Samarkand berkembang amat pesat. Hampir separuh aktivitas perdagangan di Asia berputar di kota tersebut. Pada masa itu, pasar-pasar setempat menjadi titik temu pelbagai komoditas dari Cina, India, Nusantara, dan sebagainya. Beragam produk seperti kulit, linen, rempah-rempah, sutera, dan batu mulia mudah ditemukan di sana. Kemajuan juga ditandai dengan pembangunan banyak monumen dengan nuansa yang megah dan indah. Sebagai contoh, Gur e Amir, yakni bangunan besar yang dimaksudkan sebagai kompleks kuburan bagi jasad Timur Lenk. Konstruksi dengan kubah setinggi 30 meter itu di kemudian hari memengaruhi gaya arsitektur khas Mughal, seperti tecermin pada kompleks Taj Mahal di Agra (India) serta Taman Babur di Kabul (Afghanistan). Nama lengkapnya adalah Muhammad Taragai Ulugh Beg. Dialah penguasa Dinasti Timuriyah dalam periode antara tahun 1447 dan 1449. Namanya dikenang luas tidak hanya sebagai raja, tetapi juga ilmuwan. Cucu Timur Lenk itu berhasil menjadikan ibu kota negerinya, Samarkand, sebagai pusat peradaban Islam yang maju pada masanya. Perhatiannya tercurah besar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Bukan hanya memfasilitasi para cerdik cendekia, peneliti, dan sarjana yang berkiprah di Timuriyah. Dirinya juga terlibat langsung dalam beberapa riset, khususnya dalam bidang astronomi dan matematika. Sosok yang namanya diabadikan menjadi salah satu kawah di bulan itu memang menampilkan diri sebagai umara yang ‘ulama. Ia mendirikan banyak madrasah, perpustakaan, rumah sakit, dan laboratorium di wilayah kerajaannya, khususnya Samarkand. Salah satu legasinya yang paling berkesan adalah observatorium. Di sanalah tempat para saintis mengamati benda-benda langit dengan bantuan alat-alat, semisal teleskop atau teropong besar. Observatorium Ulugh Beg berdiri di Samarkand pada 1420. Pembangunannya bermula dari sebuah kunjungan yang dilakukan sang raja Timuriyah ke Observatorium Maragha. Bangunan yang berlokasi di Maragha—sekitar Provinsi Azerbaijan Timur, Iran, kini—tersebut kala itu dipimpin seorang ilmuwan Persia, Nashiruddin Tusi. Pada waktu itu, observatorium tersebut merupakan yang paling lengkap dan terkenal di seluruh Eurasia. Sesudah lawatan itu, Ulugh Beg menjadi sangat bersemangat untuk mendirikan bangunan serupa di Samarkand. Untuk itu, ia mengundang puluhan ahli astronomi dan pakar matematika dari berbagai penjuru dunia. Mereka diminta untuk merancang sebuah observatorium yang lebih hebat dari kepunyaan Negeri Maragha. Hasilnya sangat menakjubkan. Dengan dukungan Nashiruddin Tusi, pusat penelitian fenomena langit itu tidak hanya dilengkapi berbagai perlengkapan yang paling canggih pada masanya. Di sana, terdapat pula perpustakaan dengan koleksi yang meliputi ratusan ribu buku. Dengan meriset di sana, Ulugh Beg menghasilkan banyak karya ilmiah. Di antaranya adalah Zij-I Sultani, yakni tabel astronomi yang memuat gambaran serta deskripsi sekitar seribu bintang, serta pelbagai benda langit lainnya. Kitab itu terbit pada tahun 1437 dalam bahasa Persia. Hingga abad ke-18, Observatorium Ulugh Beg masih menjadi satu institusi yang dihormati oleh pakar astronomi dunia. Sayangnya, kompleks ilmu pengetahuan itu sempat dirusak pada 1449 oleh sebuah kerusuhan lokal. Jauh kemudian, tepatnya pada 1908 bangunan itu ditemukan kembali. Kini, yang tersisa darinya “hanya” bagian fondasi dengan beberapa konstruksi yang masih tegak berdiri. (ris)

Read More

RS Hasyim Asy’ari Jombang Resmi Beroperasi

Jombang — 1miliarsantri.net : Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa secara resmi membuka agenda grand launching Rumah Sakit Hasyim Asy’ari (RSHA) yang berlokasi di Jalan Cukir-Parkir Makam Gusdur, Kwaron, Diwek, Jombang Jawa Timur, Selasa (08/08/2023). Selain dihadiri Gubernur Jatim, acara grand launching tersebut juga dihadiri istri KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) yakni Nyai Farida Salahuddin Wahid, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfuzh, Inisiator sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika Parni Hadi, dan Direktur RSHA Aria Dewanggana. Pendirian rumah sakit ini diawali dari mimpi Parni Hadi dan sahabatnya, Gus Solah. Dia dan Gus Solah sudah saling mengenal sejak puluhan tahun lalu. Gus Solah adalah sahabat ketika Parni masih menjadi wartawan. “Saya dan Mas Solah, boleh bermimpi, boleh berangan-angan tetapi perlu pelaksanaan. Hari ini, the dream comes true. Mimpi menjadi kenyataan,” kata Parni dalam sambutannya. Di hadapan Gubernur Khofifah, Parni pun mengusulkan untuk menggelar wisata medis yang menyehatkan di RSHA. Ini juga merupakan awal dari kerja sama Dompet Dhuafa dengan Pondok Pesantren Tebuireng. Kerja sama selanjutnya perlu dilaksanakan di bidang ekonomi, pendidikan dan lainnya. Dalam kesempatan tersebut Parni mengingatkan, Dompet Dhuafa harus mewujudkan pelayanan yang nyaman dan menyehatkan. Dia pun telah melakukan pengecekan kesehatan di laboratorium RSHA. Hanya menunggu setengah jam, hasilnya sudah keluar. Beberapa ruangan juga telah dia cek dan dinyatakan sudah memenuhi syarat. Hal menarik bagi Parni, adalah sawah yang mengelilingi RSHA. Rumah sakit yang berdiri di atas lahan wakaf keluarga Hasyim Asy’ari seluas 1 hektare itu menyuguhkan pemandangan yang menyehatkan. “Rumah sehat dikelilingi sawah. Selain supaya terkesan pesona alam nya dan hal seperti ini gak banyak di Indonesia. Lagi pula sehat itu,” tukasnya.. Parni ingin Dompet Dhuafa dan Pesantren Tebuireng menjalin kerja sama multisektoral dan multidimensional. Misalnya kerja sama sosial, intelektual, kultural maupun spiritual. Dengan demikian, nantinya kerja sama tersebut akan menghasilkan sehat jasmani, sehat rohani dan sehat ekonomi. “Dompet Dhuafa punya beberapa keahlian tetapi akan menjadi lengkap kalau kita kerja sama. ini akan jadi model untuk seluruh Indonesia. Insya Allah. Banyak yang antre untuk kerja sama dengan Dompet Dhuafa, tetapi pilihan kami adalah Pesantren Tebuireng,” tutupnya. (tin) Baca juga :

Read More

Sepak Terjang Bupati Madiun Dalam Melawan Penjajah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kisah Raden Ronggo Prawirodirjo III yang gigih melawan penjajah Belanda menarik untuk dikulik. Pasalnya, setelah kabur dari Yogyakarta untuk berperang dengan Belanda, Bupati Wedana Mancanagera Timur Kesultanan Yogyakarta merangkap Bupati Madiun itu sempat diburu oleh Sultan Hamengkubuwono II. Padahal kala itu Raden Ronggo sudah bertekad untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda ke rakyatnya. Maka ia putuskan kabur dari Yogyakarta menuju Maospati. Perlawanan Raden Ronggo ini kerap disebut mengandung semangat Ratu Adil yang menjadi salah satu ciri awal gerakan perlawanan di Nusantara. Ia dibantu wakilnya, seorang keturunan Bali, Mas Tumenggung Sumonegoro, Bupati Padhangan yang kini masuk wilayah Bojonegoro, dan cucu panglima Sultan Pertama, Mas Tumenggung Malangnegoro, mengaku mendapatkan bisikan gaib bahwa Ronggo harus ber- kuasa sebagai Sunan Ingalogo di keraton Kutha Pethik, “kerajaan” Ketonggo. Dikisahkan dari “Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta : Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun, sekitar 1779 – 1810”, Sultan Hamengkubuwono II mengumpulkan pasukan ekspedisi yang terdiri dari seribu prajurit yang dipimpin oleh mantan punakawannya, Raden Tumenggung Purwodipuro (sekitar 1770-1826), yang kelak dipecat akibat ketidakbecusan dan korupsi. Sultan Hamengkubuwono II juga konon mengirimkan perintah kepada semua bupati di wilayah timur Yogyakarta, untuk bekerja sama memburu Raden Ronggo, yang juga merangkap sebagai Bupati Madiun ini pada 21 November 1810. Sultan mengeluarkan maklumat khusus kerajaan berisi penetapan hukuman mati bagi Raden Ronggo, jika dia menolak kembali ke Yogyakarta. Sultan juga memberikan perintah kepada Pangeran Dipokusumo untuk memperkuat pasukan Purwodipuro dan pasukan ekspedisi Yogyakarta pada 27 November 1810. Jika Raden Ronggo tertangkap hidup-hidup, dia harus dibunuh. Sultan Hamengkubuwono II tidak mau menanggung malu jika sang Bupati Wedana dibawa kembali ke Yogyakarta dalam keadaan hidup. Namun, sang sultan mengingat janji ayahnya kepada kakek Raden Ronggo III sekaligus panglima tentara Perang Giyanti (1746-55), yaitu Kiai Ronggo Prawirosentiko (pasca-1758, Raden Ronggo Prawirodirjo I), bahwa Sultan Hamengkubuwono I tidak akan menyakiti atau menumpahkan darah keturunannya. Jika keturunan Raden Ronggo I melakukan pelanggaran, Sultan Pertama diharap senantiasa sudi mengampuni. Purwodipuro yang korup memimpin pasukan ekspedisi Yogyakarta untuk memburu Raden Ronggo III. Pasukan ini didampingi oleh seorang bintara Indo-Jerman kelahiran Batavia bernama Sersan Lucas Leberveld (1757-sekitar 1815) dan seorang letnan kelahiran Belanda, Thomas Paulus (1773-sekitar 1825). Dua-duanya dijuluki sebagai orang yang taal en land kundig atau istilah fasih bahasa Jawa dan tahu-menahu mengenai keadaan di Jawa, dalam sumber Belanda. (mif)

Read More

Kementerian Haji dan Umrah Saudi Arabia Memberikan Kemudahan Akses Bagi Jamaah Umrah

Jeddah — 1miliarsantri.net : Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Saudi Arabia meminta jamaah dan pengunjung agar mematuhi semua peraturan yang telah ditetapkan, terutama peraturan untuk tidak berbaring atau tidur di wilayah koridor, tempat sholat, di jalur kendaraan darurat serta jalur untuk kursi roda didalam wilayah Masjidil Haram, Mekkah, terutama disaat dibukanya kembali pelaksanaan ibadah Umrah. Menteri Agama Urusan Haji dan Umrah Kerajaan Saudi Arabia, Tawfiq Fawzan Muhammed Alrabiah menegaskan agar para jamaah mematuhi etika umrah, di antaranya berperilaku baik dengan semua orang, bekerja sama, dan mematuhi instruksi dari penyelenggara. “Untuk menghindari adanya pelanggaran aturan, setiap jamaah yang ingin umrah harus mendapatkan izin sebelum tiba di Masjidil Haram di Mekkah melalui layanan Nusuk atau Tawakkalna,” terang Fawzan kepada media, Senin (07/08/2023) Fawzan menyebutkan, sekitar 10 juta umat Islam diperkirakan akan melaksanakan umrah di musim ini. Pemerintah Arab Saudi pun berharap 10 juta jamaah dari seluruh dunia untuk berpartisipasi. Musim umrah dimulai beberapa pekan lalu, bertepatan dengan dimulainya tahun baru Islam. Sebelumnya, Arab Saudi menerima sekitar 1,8 juta jamaah haji setelah tiga tahun pembatasan karena pandemi Covid-19. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Arab Saudi memberikan berbagai macam fasilitas kepada para jamaah umrah dunia dengan aturan baru yang meringankan. Di antaranya, jamaah pemegang berbagai jenis visa masuk, termasuk visa pribadi, kunjungan, dan turis, diizinkan untuk melakukan umrah dan mengunjungi Al Rawda Alsharifa, makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi di Madinah, setelah memesan e-janji temu. Selanjutnya, aturan yang mempermudah lainnya seperti visa umrah yang diperpanjang menjadi 90 hari. Kemudian pemegang visa diizinkan memasuki kerajaan melalui semua pelabuhan darat, udara, dan laut dan berangkat dari bandara mana pun. Hal tersebut dilakukan agar nantinya para jamaah yang melaksanakan ibadah Umrah, bisa benar-benar bisa melaksanakan ibadah dengan lancar diharapkan juga nantinya bisa menyedot kedatangan jamaah serta pengunjung ke tanah suci Makkah. (dul) Baca juga :

Read More