Mengenang dan Mengenal Sepak Terjang HR Rasuna Said

Jakarta — 1miliarsantri.net : Siapa yang tidak kenal dengan Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau kita kenal dengan HR Rasuna Said. Terlahir di Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910. Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang telah menerima penghargaan sebagai pahlawan nasional Indonesia dari pemerintah. Ia merupakan pejuang yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, sama seperti perjuangan yang dilakukan oleh Ibu Kartini. HR Rasuna Said dikenal sebagai sosok yang berkemauan keras dan memiliki pengetahuan yang luas. Pada masa kecilnya, ia telah mengenyam pendidikan Islam di pesantren. Sejak kecil ia sudah aktif di berbagai pengajian. Setelah lulus SD, ia meneruskan ke pondok pesantren Ar-Rasyidiyah di dekat kota kelahirannya. Rasuna Said satu-satunya santri perempuan yang mondok di pesantren tersebut. Ia sangat tertantang dan antusiasme dalam belajar ilmu agama di sini. Memasuki usia remaja, ia pindah ke sekolah agama khusus perempuan di Diniyah Putri Padang Panjang. Namun, ia tak lama menjadi guru. Pada tahun 1930, saat usia 20 tahun, ia keluar dari Diniyah Putri. Rasuna Said merasa kurang cukup untuk malakukan perubahan hanya dengan menjadi guru atau mendirikan sekolah. Ia pun mulai mengikuti organisasi pergerakan untuk memperjuangkan nasib kaum wanita yang saat itu masih terbelakang. Rasuna Said aktif sebagai sekretaris di Sarekat Rakyat (SR). Ia juga terlibat dengan gerakan Islam modern Soematra Thawalib dan mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada tahun 1930. Ia mulai berorasi di setiap kegiatan soal hak-hak perempuan yang mulai dilupakan. Rasuna Said tak jarang mengritik pemerintah Belanda yang menyebabkan sistem dan budaya perempuan menjadi lemah. Ajakan Rasuna Said mendapatkan dukungan dari pribumi, namun dapat perlawanan dari penjajah Belanda. Merasa terancam akan ada gejolak di masyarakat, pemerintah Belanda mengasingkan Rasuna Said ke Semarang, Jawa Tengah, pada 1932. Saat itu, Rasuna berusia 22 tahun. Meski ditahan di Semarang, semangat perjuangan dan perlawanan Rasuna Said terus menggebu. Ia tetap rajin menulis sebagai kritik kepada penguasa saat itu. Pada tahun 1935, ia berjuang sekaligus sebagai jurnalis. Ia menjadi pemimpin redaksi di majalah Raya. Di Semarang, ia merasa kurang puas dengan sikap tokoh-tokoh PERMI dalam melakukan perlawanan Belanda. Rasuna akhirnya memutuskan pindah ke Medan. Di sini, ia mendirikan sekolah perguruan poeteri saat memasuki usianya yang 27 tahun. Selain lembaga pendidikan, ia juga ia membuat majalah mingguan bernama Menara Poeteri pada tahun 1937. Ia tetap konsentrasi dalam memperjuangkan wanita Indonesia. Slogan koran ini mirip dengan slogan Bung Karno, “Ini dadaku, mana dadamu”. Koran ini selain banyak berbicara soal perempuan, juga ajakan kepada pribumi kesadaran pergerakan, yaitu antikolonialisme. Rasuna Said tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum pemerintahan Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang pemerintahan Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, Rasuna Said merupakan salah satu pendiri organisasi pemuda Nippon Raya. Dalam karir politiknya, HR Rasuna Said pernah menjabat sebagai DPR RIS dan kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak tahun 1959 sampai meninggal. Ia wafat di Jakarta 2 November 1965 pada usia 55 tahun. Meninggalkan satu anak dan enam cucu. Atas keberaniannya dalam membela kaum perempuan dengan orasi-orasi dan tulisannya yang tajam, ia diberi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. Untuk mengenang jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, nama HR Rasuna Said diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. (yan) Baca juga :

Read More

Menristekbud Menerima Kedatangan 4 Arca Kerajaan Singasari dari Belanda

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kembalinya empat arca peninggalan Kerajaan Singasari dari Belanda ke Indonesia disambut bahagia oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim yang menyambut kedatangan empat arca peninggalan Kerajaan Singasari tersebut di Museum Nasional Indonesia, Selasa (22/08/2023). Keempat arca tersebut merupakan bagian dari 472 artefak berharga hasil proses pemulangan kembali atau repatriasi benda sejarah dan budaya dari Belanda ke Indonesia. “Masih dalam semangat kemerdekaan, masyarakat Indonesia patut berbangga atas hasil perjuangan kita bersama selama kurang lebih dua setengah tahun untuk mengembalikan benda sejarah dan budaya milik bangsa ini kembali ke Tanah Air,” kata Nadiem. Upaya repatriasi ini telah dimulai Kemendikbudristek sejak tahun 2021 dan secara resmi disepakati kedua negara pada 10 Juli 2023 lalu. Pemerintah Indonesia dalam seremoni kesepakatan tersebut diwakili oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid. Arca Durga, Mahakala, Nandishvara, dan Ganesha yang telah tiga abad disimpan di Belanda tersebut adalah tahap pertama artefak yang tiba di Indonesia. Kemendikbudristek kini tengah memproses pengembalian satu keris Puputan Klungkung, 132 karya seni Pita Maha, dan 335 koleksi khasanah Puri Cakranegara Lombok. “Pemulangan ratusan benda yang membentuk sejarah peradaban bangsa ini saya harap dapat meningkatkan semangat nasionalisme dan menambah khazanah ilmu pengetahuan kita. Hal ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya yang senantiasa kita dorong,” sambung Nadiem. Nadiem menambahkan, pihaknya sudah cek langsung kondisi keempat arca Singasari dan mengarahkan tim agar menjaga dan merawatnya dengan baik. Begitupun dengan ratusan benda hasil repatriasi yang secara bergelombang akan dibawa kembali ke tanah air. Hal tersebut ditekankan Mendikbudristek karena selain sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk jangka panjang, dirinya ingin dalam jangka pendek ini masyarakat dapat melihat artefak-artefak berharga tersebut dalam bentuk pameran. Mendikbudristek juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam upaya repatriasi. “Apresiasi saya yang setinggi-tingginya kepada Ibu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan tim Kemenlu, Pemerintah Kerajaan Belanda, tim repatriasi, dan para petugas yang memastikan benda-benda ini kembali ke Tanah Air dengan selamat,” pungkas Nadiem. (yan) Baca juga :

Read More

Beredar Video di Wilayah Saudi Diterjang Badai Petir Yang Sangat Dahsyat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sejumlah wilayah di Arab Saudi, diantaranya Madinah, termasuk Makkah dan Jeddah, diterjang badai petir yang sangat luar pada hari Selasa. Peringatan hujan deras berlaku hingga pukul 23.00 WAS (Selasa) atau pukul 03.00 WIB (Rabu). Di tengah cuaca ekstrem tersebut, terlihat para jamaah di Masjidil Haram tetap melanjutkan salat mereka. Sebelumnya, Jeddah telah diselimuti badai debu, dengan awan debu tebal memenuhi langit. Sejumlah video beredar di media sosial yang diambil dari Masjidil Haram, Makkah. Dalam video viral tersebut menunjukkan kekuatan angin yang dahsyat, begitu kuatnya arus angin hingga bisa mengangkat penghalang plastik yang berat. Hembusan angin yang sama juga menganggu pergerakan jamaah umrah yang saat itu hendak berjalan mencari tempat berlindung. Ada juga video yang menunjukkan tiang listrik roboh akibat angin kencang dan hujan lebat di Jalan Asfan, timur laut Jeddah. Beberapa tiang listrik condong ke jalan, menggambarkan situasi cuaca yang tidak stabil. Meski situasinya tampak mengerikan, ada momen indah yang viral di tengah kekacauan tersebut. Yakni, saat Masjidil Haram diguyur hujan deras dan badai petir, jamaah umrah tetap melanjutkan salatnya, sehingga tercipta pemandangan spiritual saat mereka salat di bawah guyuran hujan. Pada Selasa pagi, sebagaimana dikutip Gulf News, Rabu (23/08/2023), Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi mengeluarkan peringatan yang merinci kondisi cuaca utama di negara tersebut selama 24 jam ke depan. Badai petir disertai angin aktif diprakirakan terjadi di wilayah seperti Madinah, Makkah, Asir, Jazan, dan Al Baha. Sementara itu, wilayah Najran dan Tabuk diperkirakan akan mengalami angin permukaan yang menimbulkan debu. Hafr Al Batin, AlSaman, dan Rafha melaporkan suhu puncak mencapai 47 derajat Celcius, sedangkan Al Suda mengalami suhu terendah 14 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan melonjak hingga 95 persen. Abdullah Al Osaimi, pakar cuaca ternama, mengatakan pola cuaca ini mengisyaratkan awal musim gugur di bulan Oktober. (yan/dul)

Read More

Al Chaidar : Pemerintah Harus Segera Ambil Alih Managemen Al Zaytun

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pengamat terorisme Dr Al Chaidar berharap manajemen Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun agar segera diambil alih oleh Kementerian Agama RI, menyusul ditangkapnya Panji Gumilang atas dua tuduhan, yakni penistaan agama dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Menurut Al Chaidar, pengurus manajemen Ponpes Al Zaytun juga akan terkena imbas dari penangkapan Panji Gumilang. “Al Zaytun dari segi lembaga pendidikan masih bisa diselamatkan. Sebenarnya bisa diatasi oleh pemerintah dengan mengambilalih manajemen pesantren Al Zaytun kepada Kemenag,” urai Dr. Al Chaidar saat ditemui di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Selasa (22/08/23). Mantan anggota NII ini menuturkan bahwa pengelola ponpes tersebut banyak yang terlibat melakukan perbuatan penistaan agama yang sama parahnya dengan Panji Gumilang. Selain itu juga managemen ponpes Al Zaytun menikmati dana zakat infak dan shodaqoh (ZIS) dari jaringan jamaah NII KW9 untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu, para pengurus Al Zaytun yang lainnya diyakini akan segera ikut tertangkap pihak berwajib. “Kasus ini bisa bergulir ke pengurus lainnya karena mereka menikmati kegiatan melawan hukum yaitu mengambil barang ataupun uang, memang harus ditangkap semua pengurusnya. Bahkan menteri dan gubernur Al Zaytun di berbagai wilayah juga harus ditangkap,” tambahnya. Kendati begitu, dia menilai tidak perlu ada deradikalisasi pada siswa atau santri di pesantren tersebut. Memang diakuinya ada ajaran sesat Isa Bugis yang diajarkan bagi santri kelas akhir madrasah aliyah yang akan direkrut. Namun, itu hanya sebagian kecil saja. “Jadi tidak perlu keseluruhan, mungkin hanya kecelakaan saja saat mempraktekan ajaran Isa Bugis, tapi tidak banyak kok ajaran Isa Bugis yg diajarkan di Al Zaytun. Makanya sebaiknya diambil secara keseluruhan, nggak bisa setengah-setengah, itu memang harus diserahkan ke negara atau kemenag,” tuturnya. Sementara itu, Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki memastikan bahwa Kementerian Agama terus melakukan pembinaan terhadap pengelola Ponpes Al Zaytun pasca penetapan tersangka Panji Gumilang oleh Mabes Polri. “Kami terus melakukan pembinaan terutama kepada para pengelolanya hari ini, agar kembali kepada semangat mencerdaskan bangsa dan norma yang berlaku,” ujar Wamenag Saiful Rahmat di Jakarta, Selasa (22/08/2023) Dia mengatakan Kementerian Agama bertanggung jawab atas hak pendidikan para santri di Al Zaytun. Saiful menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak dasar bagi masyarakat yang wajib dipenuhi Pemerintah. “Kalau secara pendidikan, Kemenag bertanggung jawab atas memberikan pelayanan kepada para santri agar mereka tetap bisa belajar sebagai hak warga negara,” katanya. Sementara untuk proses pidana yang menjerat Panji Gumilang, dia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. “Untuk masalah pidananya dan lain-lain itu ke kementerian atau pihak terkait atau aparat kepolisian,” kata dia. Diketahui pada Selasa (22/08/23), Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri memeriksa dua saksi terkait penyidikan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) atas nama Panji Gumilang. Pemeriksaan saksi dilakukan setelah sebelumnya penyidik menaikkan status penanganan perkara dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan pada Rabu (16/08/23). Hasil gelar perkara penyidik Dittipideksus Bareskrim Polri tidak hanya mengusut dugaan TPPU saja tapi juga korupsi Dana BOS atas nama Panji Gumilang. Peningkatan status penanganan kasus disepakati dalam hasil gelar perkara yang dilaksanakan oleh penyidik Dittipideksus Bareskrim Polri pagi tadi. (wink)

Read More

Shofia Annyunari Berbagi Cerita Menarik Selama Mengikuti Kegiatan Belajar di Belgia

Surabaya — 1miliarsantri.net : Shofia Annyunari, salah satu siswi SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya mempunyai pengalaman menarik selama setahun dirinya belajar di Belgia dalam Program Rotary Youth Exchange 2022. Saat acara Welcome Party Rotary Youth Exchange 2023, Shofi, sapaan akrabnya, menceritakan pengalamannya. “Saya tinggal di Belgia kurang lebih satu tahun, tepatnya 10 bulan,” ungkapnya kepada 1miliarsantri.net Selasa malam (22/08/2023) Shofia tinggal bersama keluarga Bernard, ayahnya bernama Cyril Bernard dan ibunya Marie-amélie Bernadette di sebuah kota kecil sekitar Tournai yang bernama Kain. Selama di Belgia ia bersekolah di College Notre, Dame de La Tombe, Kain. Sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah. Ia hanya perlu waktu lima menit ke sekolah dengan mobil. Shofia berbagi empat hal menarik saat dia berada di Belgia. “Secara materi pelajaran tidak terlalu jauh dibandingkan dengan di Smamda. Tetapi jika dilihat dari cara mengajarnya cenderung ke arah berpikir kritis,” cerita dia. Gadis yang memiliki hobi fotografi ini menjelaskan saat ia mendapat tugas bahasa Prancis tentang lukisan, maka siswa diminta untuk menganalisis berbagai macam teknik, genre bahkan author lain yang terkait dengan lukisan yang dibahas tersebut “Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memakai hijab,” tegasnya. Ia menyiasati dengan memakai daleman ciput yang pas di kepala kemudian memakai wig di atasnya. Terkait ibadah shalat fardhu, ia lebih memilih untuk shalat di rumah sepulang sekolah, karena aturan untuk shalat yang diterapkan di sekolahnya ribet. Di rumah keluarga barunya juga sudah memahami tata cara peribadatan, sehingga Ia bisa menjalankan ibadah di rumah dengan tenang. “Alhamdulillah saya tidak pernah meninggalkan shalat selama di Belgia,” ungkapnya. “Alhamdulillah host family saya sangat pengertian, mereka menyiapkan dan menemani saya saat sahur dan buka,” sambungnya. Puasa Ramadhan di negara Belgia sangat berat dibandingkan di Indonesia karena harus 17 jam berpuasa. Ketika berbuka menunggu sebentar sudah langsung makan sahur. “Saya sangat bersyukur mempunyai host family yang baik, sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri, urainya. “Saya masak nasi goreng, pecel dan beberapa masakan Belgia, tentunya juga didampingi host family nya. Selain itu saat Lebaran mereka juga membuat kue kastengel bersama,” imbuhnya. Ia juga mempunyai pengetahuan dan pengalaman baru terkait even tahunan seperti Chirstmas dan Easter. Ia juga berkesempatan melihat carnaval di berbagai kota di Belgia selama 1-2 pekan. Selain itu ia juga diajak jalan-jalan ke negara lain hingga Paris dan Prague. Sebelum kembali ke Tanah Air, ia mendapat penghargaan gelar diploma dari Pemerintah Belgia karena sudah berpartisipasi aktif selama menjadi inbound student di Belgia. Dari pengalaman belajar di Belgia ini, ia bisa mendapatkan banyak hal di antara kemampuan bahasa Inggris yang terasah, kemandirian, menjadi Muslimah sejati yang tahan banting, teman mancanegara, kultur dan kebiasaan baik orang orang di sana. Juga mampu mengadaptasikan diri di segala situasi, menghormati perbedaan yang ada, mencari solusi dengan cepat. “Itulah beberapa hal yang saya alami sendiri, dan akan saya jadikan pelajaran untuk kehidupan saya ke depan,” pungkasnya. (har)

Read More

Pemerintah Saudi Berikan Perpanjangan Visa Bagi Jamaah Umrah Pakistan

Islamabad — 1miliarsantri.net : Pemerintah Kerajaan Saudi memberikan perpanjangan visa umroh untuk jamaah Pakistan hingga 90 hari. Selain itu, banyak lokasi di Makkah dan Madinah akan dibuka bagi jamaah Pakistan untuk mempromosikan wisata religi dan berkunjung di Arab Saudi. Hal tersebut disampaikan Menteri Haji dan Umroh Arab Saudi Dr Tawfiq Bin Fawzan Al Rabiah dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Agama Pakistan, Aneeq Ahmed, Selasa (22/08/2023), Para peziarah asal Pakistan yang datang ke Arab Saudi akan difasilitasi selama pelaksanaan ibadah mereka. Sambil memastikan hubungan kerja yang erat antara otoritas Pakistan dan Arab Saudi. Menteri Al Rabiah juga menyampaikan, 100 tempat bersejarah dan keagamaan lainnya sedang dibuka di dua kota suci tersebut untuk mempromosikan wisata religi. Dia menekankan, Arab Saudi berupaya mengurangi biaya haji bagi jamaah haji, karena Pakistan dan Arab Saudi memiliki hubungan persaudaraan. Selama berada di Pakistan, Menteri Al Rabiah juga mengadakan diskusi mengenai banyak isu penting. Otoritas penerbangan sipil kedua negara juga menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa jumlah penerbangan antara kedua negara akan ditingkatkan. Sementara itu, Menteri Agama Pakistan Aneeq Ahmed meminta agar warganya yang berusia di atas 65 tahun yang ingin menunaikan haji dan umrah dikecualikan dari persyaratan biometrik. Dia juga meminta penyediaan lokasi alternatif untuk Rumah Pakistan di Makkah dan Madinah karena adanya perluasan di lokasi dua masjid suci tersebut. Presiden Pakistan Arif Alvi berterima kasih kepada Arab Saudi karena telah membuat pengaturan yang sangat baik untuk ibadah haji tahun ini. Dia berharap hal itu akan mempercepat pembelian Rumah Pakistan di Madinah dari jumlah kompensasi dua Rumah Pakistan yang dibongkar. Dia mengapresiasi kerajaan atas dukungannya yang teguh terhadap tujuan-tujuan penting umat Islam, khususnya sengketa Jammu dan Kashmir, Palestina, dan Afghanistan melalui forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dia memuji kepemimpinan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman untuk normalisasi hubungan dengan Iran. Pakistan berterima kasih kepada kepemimpinan Saudi karena telah membuat pengaturan yang sangat baik bagi para jamaah dari seluruh dunia selama musim haji tahun ini, khususnya warga Pakistan. (gyu/afp)

Read More

Pengurus Masjid Salman Sesalkan Adanta Aktifitas Yang Membawa Pesan LGBT Dalam Kegiatan OSKM ITB

Bandung — 1miliarsantri.net : Berdasarkan laporan munculnya aktivitas-aktifitas yang membawa pesan gerakan LGBTQ, khususnya dalam kegiatan OSKM ITB 2023, Keluarga Besar Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan sangat menyesalkan dan menyatakan menolak setiap bentuk perilaku serta budaya LGBTQ dalam bentuk apapun. “Kami Keluarga Besar Masjid Salman ITB, yakni pembina, pengurus, dan jamaah, sangat menyesalkan munculnya aktivitas-aktivitas yang membawa pesan-pesan gerakan LGBTQ baik secara tersirat maupun tersurat, khususnya dalam kegiatan OSKM ITB 2023,” terang Dewan Pakar Salman ITB, M Salman AN, dalam konferensi Pers, Selasa (22/08/2023). Salman mengatakan, hal tersebut diduga terjadi karena kurangnya kesadaran dari semua pihak, terkait mengenai bahaya wacana maupun gerakan LGBTQ di dunia internasional. Menurutnya, wacana dan gerakan LGBTQ pada dasarnya berakar pada falsafah yang menolak adanya fitrah atau jati diri yang digariskan Sang Pencipta pada makhluk-makhluk ciptaan-Nya. “Falsafah ini memandang manusia berhak secara bebas tanpa batas mengubah atau memperlakukan dirinya sekehendaknya sendiri. Padahal manusia adalah hamba Allah SWT yang seharusnya menaati aturan yang telah ditetapkan Allah SWT,” lanjutnya. Salman menambahkan, Masjid Salman ITB menolak terhadap setiap bentuk perilaku serta budaya LGBTQ dalam bentuk apapun. Penolakan dalam bentuk apapun itu termasuk di dalam penggunaan simbol, identitas, kegiatan keorganisasian, maupun hal lainnya. Maka dari itu, pihaknya mengajak segenap mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, orang tua mahasiswa, jamaah Masjid Salman, dan masyarakat luas agar lebih peduli akan nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa. Salman juga mengajak semua pihak tersebut untuk memperdalam pemahaman dan penghayatan ajaran agama masing- masing, serta mewujudkannya dalam kehidupan bermasyarakat. “Kami juga mengajak semua pihak untuk memperkuat peran keluarga, kawan sejawat, dan lingkungan terdekat dalam membimbing dan mengarahkan adik-adik mahasiswa agar menjadi insan yang berkarakter kuat dan beretika tinggi, sehingga dapat menjadi pemimpin bangsa yang unggul di masa depan,” pungkasnya. (ede)

Read More

Habib Umar Berziarah ke Makam KH Hasyim Asy’ari

Jombang — 1miliarsantri.net : Ulama asal Tarim, Yaman, Habib Umar bin Hafidz melakukan ziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari sekaligus dalam rangka menghadiri acara Mulataqa (Pertemuan) di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (22/08/2023). Habib Umar didampingi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudh (Gus Kikin), Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel, KH Taufiqurrohman Muchit, dan beberapa habib dan kiai yang turut menemani selama ziarah berlangsung. Dalam kegiatan ziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari tersebut Habib Umar membacakan beberapa ayat Al-Qur’an seperti sebagian surat Al-Baqarah, dilanjutkan dengan ayat kursi, hingga pembacaan doa secara bergantian. Ia bersama rombongan kemudian menuju Masjid Pondok Pesantren Tebuireng, tempat pusat Multaqa Ulama dikawal tim keamanan. Kedatangannya sesuai jadwal yang disusun panitia Mulataqa Ulama. Dalam unggahan informasi terkait acara ini, Habib Umar bin Hafidz memang dijadwalkan hadir di Pesantren Tebuireng di tengah jadwal rihlahnya di sejumlah Pesantren di Indonesia. “Pesantren Tebuireng mengadakan Multaqo Ulama bersama al-Habib Umar bin Hafidz, yang dilaksanakan Selasa, 05 Shafar 1445 H / pada 22 Agustus 2023,” ujar Gus Kikin. Dalam sambutannya, Gus Kikin mengaku sangat gembira menyambut Habib Umar bin Hafidz beserta rombongan di Pesantren Tebuireng. “Alhamdulillah pada sore hari ini kita bisa bersilaturahim dengan Habib Umar, sesuatu yang sangat-sangat membahagiakan khususnya bagi kami keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng,” tukasnya. Gus Kikin juga menyampaikan permintaan maaf kepada semua undangan karena tempat pertemuan ini yang cukup terbatas. Pesantren Tebuireng sebelumnya telah berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkan penyambutan Habib Umar. “Saya mohon maaf karena tempat yang terbatas, kami tidak mampu tidak bisa menghormati semua tamu sebagaimana layaknya menghormati tamu. Jadi, kami mohon maaf betul. Semuanya seadanya,” sambungnya. Bagi Gus Kikin, kehadiran Habib Umar memberikan pelecut untuk terus meneladani kiprah-kiprah Hadratussyekh KH M Hasyim lebih jauh lagi. “Dan ini menjadikan semakin semangat bagi kami untuk melanjutkan meneruskan uswah hasanah (teladan baik) Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari,” pungkasnya. (yat) Baca juga :

Read More

MUI Adakan Kegiatan Road Show ke Beberapa Ponpes Untuk Mengedukasi Segala Bentuk Kekerasan di Pesantren

Bekasi — 1miliarsantri.net : Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak semua pihak memerangi segala bentuk kekerasan di pondok pesantren (ponpes). Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Prof Amany Lubis merasa sangat prihatin dengan adanya kejadian kekerasan tersebut. Dia mendorong semua pihak mencegah kekerasan. Kekerasan dalam bentuk apapun di pesantren sangat berbahaya. “Kita harus menjaga anak-anak santri kita, dan menjaga karakter pesantren yang saling mengajarkan perdamaian, memupuk saling asah asih asuh dan anti terhadap kekerasan dalam bentuk apapun,” terang Amany kepada 1miliarsantri.net, Senin (21/08/2023).. Amany mengatakan, MUI akan melakukan kegiatan Road Show ke beberapa Pondok Pesantren. Kegiatan ini sebagai bentuk kesungguhan KPRK MUI dalam upaya mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan pada anak, termasuk kekerasan seksual yang sangat membahayakan ini sudah menyasar ke pondok-pondok pesantren. “Banyak diberitakan kasus kekerasan termasuk kekerasan seksual di pesantren. Kami ingin mendengar dan berdialog langsung dari para santri,” tegasnya. Selain itu, kata Amany, pihaknya melakukan Roadshow Pondok Pesantren ini untuk belajar dari para pengasuh dan pengelola pondok pesantren Mahasina tentang bagaimana menjaga para santrinya dari bahaya dan ancaman kekerasan. Amany mengutip pernyataan Wakil Presiden RI KH Maruf Amin saat membuka Roadshow Pondok Pesantren yang pertama di Pondok Pesantren Tanara, Serang, Banten. “Pesantren merupakan pusat peradaban Islam, pusat untuk membangun masyarakat dan merupakan satu-satunya lembaga pencetak para ulama, harus kita jaga baik-baik,” kata Amany mengutip kiai Maruf Amin. Oleh karena itu, Amany menegaskan, anak-anak khususnya di pondok pesantren harus dijaga dari segala bentuk kekerasan. (fat) Baca juga :

Read More

Kisah Marbot Masjid Yang Bisa Lolos Kuliah di Amerika

Semarang — 1miliarsantri.net : Salah satu mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Khoirul Adib tak henti-hentinya mengucap syukur. Lajang kelahiran Tuban, Jawa Timur ini meraih beasiswa kuliah jurusan Teknologi Informasi di Amerika Serikat. Pemuda yang sehari-hari menjadi marbot masjid ini tak bisa melupakan peristiwa saat lolos seleksi MOSMA Kemenag. MORA Overseas Student Mobility Awards (MOSMA) merupakan salah satu program implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Di Semarang, Adib adalah marbot (tukang bersih-bersih) masjid. Dia tinggal di sebuah masjid dan ikut memakmurkannya dalam beragam kegiatan keagamaan dan sosial yang diadakan. Khoirul Adib merasa bisa kuliah di Semarang sebenarnya sudah luar biasa baginya. Apalagi, dia diterima pada jurusan yang menjadi passionnya. “Kuliah di Semarang bagi orang desa seperti saya sudah luar biasa, apalagi bisa belajar di jurusan teknologi,” ujar Adib dalam sambungan videocall kepada 1miliarsantri.net, Senin (21/08/2023) Meski demikian, bukan berarti Adib tidak ingin kuliah di luar negeri. Tentu ada cita-cita, meski lebih sering dipendamnya. Dia merasa, kuliah di luar negeri adalah mimpi yang terlalu tinggi bagi seorang anak desa sepertinya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, dia harus sering bolak balik Semang – Tuban – Semarang, menempuh jarak sekitar 280 km sekali jalan. Ibunya sedang sakit, sehingga dia harus merawatnya. Beruntung sudah ada jalan tol, sehingga jarak tempuh bus makin pendek, berkisar 5 – 6 jam. Tidak ada salahnya anak desa bermimpi kuliah di luar negeri. Khoirul Adib yakin bahwa rezeki sudah diatur yang Maha Kuasa. Tugasnya berikhtiar mencari jalan, dan saat itu yang terbayang adalah mencari beasiswa. Gayung bersambut, jalan itu datang dalam bentuk MOSMA. Adib mengaku kali pertama mendengar info MOSMA dari teman-temannya di kampus. Dia lalu mencari informasi di media online, dan mendapati penjelasan bahwa MOSMA merupakan program kerja sama Kementerian Agama dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang memberi beasiswa kuliah di luar negeri. MOSMA menjadi bagian dari implementasi program Beasiswa Indonesia Bangkit. Adib merasa ini menjadi peluang baginya untuk merengkuh asa. Semua proses dilengkapi untuk memastikan dia bisa mendaftar. “Saya tertarik untuk mempelajari dan mendaftar. Lika-liku perjalanannya saya lalui untuk bisa ikut mendaftar program tersebut. Ini bukan semata tentang mimpi saya, tapi juga harapan orang tua,” sambungnya. Pendaftaran MOSMA dibuka dari 15 Juni – 5 Juli 2023. Total ada 451 pendaftar, memacu Khoirul untuk bersiap menyongsong persaingan. Dari hasil seleksi administrasi, terpilih 192 peserta yang masuk tahap seleksi. Dan, nama Khoirul Adib tercantum dalam pengumumannya. Adib tergabung dalam kelompok S1 beserta 106 peserta lainnya. Ada 78 peserta untuk jenjang S2, dan 7 mahasiswa untuk jenjang S3. Tahap wawancara dilakukan secara daring (dalam jaringan), 13 – 14 Juli 2023, memudahkan Adib untuk tetap bisa sambil merawat ibunya. Sebab, dia tidak harus pergi ke Jakarta. Selain aspek psikologis dan akademik, Adib juga harus mempersiapkan kemampuannya berbahasa Inggris karena dia ambil pilihan ke Amerika. (Untuk pilihan ke Timur Tengah, salah satu materi tesnya adalah kemampuan Bahasa Arab). “Semua tahapan saya lalui dan pada saat pengumuman, 18 Juli 2023, ternyata nama saya dinyatakan lolos untuk bisa mengikuti program MOSMA Student Exchange di kampus ternama Amerika Serikat, Rochester Institute Of Technolgy,” ujarnya sambil tersenyum. Berita baik ini langsung disambut oleh keluarga. Orang tua nya begitu bangga melihat anaknya bisa mewujudkan cita-cita Adib, sebab dirinya juga lolos seleksi dan menjuarai kompetisi riset teknologi di Korea Selatan. “Alhamdulillah, sebelum ke Amerika, saya bisa ikut kompetisi riset internasional di Korea Selatan. Alhamdulillah, saya mendapat medali perak. Terima kasih Pak Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas. Terima kasih Kementerian Agama,” ceritanya. Di tengah rasa bahagia akan prestasi di Korea Selatan dan peluang kuliah di Amerika, Mahasiswa kelahiran 2002 mendapat kabar duka. Ibu yang sangat disayangi dan selama ini dirawat, wafat. Duka makin dalam karena saat itu, Khoirul Adib masih berada di Korea Selatan. Sehingga, dia tidak bisa mengurus jenazah ibunya hingga dimakamkan. “Namun saya tetap kuat dan harus meneruskan perjuangan ibu, agar bisa menjadi orang bermanfaat untuk semua orang,” tekadnya. Adib mengenang, bahwa dia sebenarnya juga mendapat tawaran untuk diterima kuliah satu semester di Columbia University, salah satu Ivy League Universities di Amerika Serikat (salah satu universitas top di AS). Tapi tidak sempat menindaklanjuti pendaftaran, karena sampai penutupan, dia harus merawat ibunya yang sakit keras. Ibunya sempat membaik sehingga dia bisa ikut kompetisi riset di Korea Selatan. Tapi Allah sudah menetapkan batas usia sang bunda. Semoga almarhumah senantiasa mendapat limpahan rahmah. “Batal masuk Columbia University, saya alhamdulillah diterima di Rochester Institute of Technology, salah satu universitas bergengsi juga di AS,” ucapnya penuh syukur. Negeri Paman Sam yang selama ini ada di angan, mulai terbayang. Meski hanya 6 bulan, kesempatan kuliah di sana tidak boleh disia-siakan. Adib mencoba mempersiapkan segala sesuatunya, sesuai kemampuannya, sembari menunggu jadwal keberangkatan. (hud)

Read More