Harapan Anak-Anak Palestina Yang Tinggal di Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Setiap tanggal 15 Mei diperingati sebagai Hari Nakba. Peristiwa Nakba bermula dari Deklarasi Balfour yang terjadi tahun 1917 ketika pemerintah Inggris menyatakan dukungan untuk pendirian tanah air bagi orang Yahudi di Palestina. Istilah Nakba atau Al Nakba berasal dari bahasa Arab yang berarti bencana. Peristiwa Nakba sendiri terjadi pada 1948 saat pendirian negara Israel. Peristiwa ini mengakibatkan pengusiran dan eksodus massal lebih dari 700 ribu warga Palestina dari tanah air mereka. Peringatan Nakba tahun ini memasuki tahun ke-76. Berbagai suara harapan dari warga Palestina mencerminkan semangat dan perjuangan yang tak pernah padam untuk meraih kemerdekaan. Majid Anas Al Masri (7), seorang anak Palestina yang saat ini tinggal di Indonesia, menyatakan harapannya agar Palestina segera merdeka. “Aku mau (Palestina) merdeka, terus lebih kuat dari Israel laknatullah,” ungkap Majid kepada 1miliarsantri.net, Ahad (19/5/2024). Majid juga mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi seorang mujahid yang dapat meraih kemerdekaan untuk Palestina. “Cita-cita jadi mujahid, bisa lawan Israel laknatullah, bisa jadi lebih kuat dari Israel,” lanjutnya. Dia sudah 5 tahun tinggal di Indonesia. Bocah yang kini tengah mengenyam pendidikan di BIMBA itu mengaku bahagia bisa tinggal di Indonesia. “Aku sudah 5 tahun di sini, sekolah di BIMBA. Di Indonesia baik, orang Indonesia baik sekali. Kalau di sini aman, di Palestina nggak aman karena ada Israel. Di sini kita bisa main, bisa makan. Di Palestina, nggak ada makan, nggak ada minum, nggak ada listrik, nggak ada internet,” beber Majid. Selain itu, Jana Abu Salah (18), seorang mahasiswa Palestina, mengimbau kepada seluruh warga Palestina untuk mengingat tanggung jawab sebagai warga Palestina melakukan yang terbaik untuk mengupayakan kemerdekaan Palestina. “Harapan saya untuk Palestina tentu saja saya ingin Palestina merdeka di masa depan dan saya berharap setiap orang di Palestina tidak lupa dari mana asalnya dan apa yang terjadi dengan Palestina. Ingatkan saja diri sendiri setiap hari, apa tanggung jawab kita terhadap Palestina. Sebagai mahasiswa, saya terus belajar agar kedepannya bisa menjadi sesuatu yang bisa membantu Palestina,” ujar perempuan yang kerap dipanggil Juwita itu. Loai Alawneh, seorang mahasiswa Palestina lainnya, juga menyatakan rasa terima kasihnya kepada Indonesia yang terus mengerahkan dukungan terbaik untuk menyuarakan hak bagi bangsa Palestina. Solidaritas internasional, seperti yang ditunjukkan oleh Indonesia, memberikan dorongan moral yang sangat berarti bagi perjuangan mereka. “Saya terima kasih untuk Indonesia karena orang Indonesia suka orang Palestina. Dan juga orang Palestina suka orang Palestina. Hari ini, hari hitam bagi Palestina karena hari ini Israel occupation, menjajah Palestina. Banyak orang wafat di Palestina,” tuturnya. Dia mengucapkan banyak terima kasih untuk orang Indonesia karena semua orang di Indonesia suka orang Palestina. (Iin) Baca juga :

Read More

Kolam Renang Terpanjang, Termewah dan Termahal Hadir di Arab Saudi

Arab Saudi — 1miliarsantri.net : Obsesi menjadi yang terbaik di dunia, Arab Saudi terus menunjukkan terobosan barunya. Negeri kaya minyak ini, membangun kolam renang terpanjang, ternewah dan termahal di dunia. Gimana tidak termahal. Untuk berenang saja harus mengeluarkan biaya £215. Visi Arab 2030 yang di wujudkan dalam proyek “Neom” sedang membangun kolam renang tanpa batas yang sangat besar di Arab Saudi. Tujuannya untuk menjadikan tempat wisata termewah. Diakui pihak Saudi bahwa proyek kolam renang ini menimbulkan kontroversi, namun karena punya tujuan yang jelas, Saudi tetap merampungkan proyek besar dan prestisius tersebut. Inisiatif yang ambisius untuk membuat kolam renang tanpa batas terpanjang di dunia mulai dilakukan di wilayah Treyam, Arab Saudi. Dengan panjang 457 meter yang menakjubkan, kolam ini otomatis akan mengerdilkan pemegang rekor sebelumnya yang ada di Dubai. Kolam renang yang dibangun Saudi ini sebanyak hampir empat kali lipat dan akan berada di ketinggian 67 meter di atas permukaan laut. Ini jelas akan menjanjikan pengalaman berenang yang tak tertandingi dengan pemandangan panorama. Proyek infrastruktur inovatif ini merupakan bagian dari Visi 2030, yang dipelopori oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang bertujuan untuk mengubah Arab Saudi menjadi tujuan wisata mewah dan pusat inovasi. Kolam renang tanpa batas hanyalah salah satu bagian dari megaproyek Neom yang dirancang untuk menarik pengunjung dari seluruh dunia ke lanskap alam kerajaan yang dilengkapi dengan fasilitas futuristik. Pejabat Neom memuji desain kolam renang sebagai “perpaduan harmonis antara desain kontemporer dan berwawasan lingkungan.” Para tamu diharapkan bisa menikmati suasana mewah sambil menikmati tingkat relaksasi dan peremajaan yang baru. Namun, retret mendalam ini hadir dengan banderol harga yang lumayan yaitu £215 untuk sekadar hanya berenang. Di tengah perayaan keajaiban arsitektur ini, suara kontroversi dan keprihatinan bergema. Ada laporan mengenai penggusuran paksa terkait dengan sebagian proyek ‘The Line’ yang lebih besar, khususnya terkait dengan pengusiran suku Huwaitat, yang telah memicu perdebatan etis mengenai dampak besar-besaran pembangunan tersebut terhadap sosial dan lingkungan. Pemegang rekor kolam renang tanpa batas terpanjang di dunia saat ini terletak di One Za’abeel di Dubai. Prestasi teknik ini membentang sepanjang 120 meter dan bertengger setinggi 100 meter, memberikan pengunjung pengalaman berenang yang nyata di samping kemewahan perkotaan. Terlepas dari kemegahan visi Neom, mahalnya harga untuk menikmati kolam renang tanpa batas terpanjang di dunia mungkin membatasi akses hanya kepada segelintir orang yang memiliki hak istimewa. Sementara itu, seiring dengan berjalannya konstruksi, proyek ini terus menarik perhatian dan pengawasan global. Neom, baru-baru ini mengumumkan penambahan beberapa inisiatif pariwisata berkelanjutan lainnya di kawasan Teluk Aqaba, yang menandakan komitmen teguh terhadap konservasi yang disertai dengan kemajuan. (dul) Baca juga :

Read More

Jamaah Haji Diimbau Perbanyak Minum Air Putih Agar Terhindar Dehidrasi

Madinah — 1miliarsantri.net : Kepala Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Madinah, Karmijono mengimbau jamaah haji untuk memperbanyak minum agar terhindar dari dehidrasi. Cuaca yang panas dan kering di Arab Saudi menjadi penyebab akan hal tersebut. “Banyak jamaah haji yang tidak sadar sudah mengalami dehidrasi saat beraktivitas di Saudi,” ungkap Karmijono di KKHI Madinah dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/5/2024). Karmijono menyebut salah satu ciri dehidrasi adalah jarang buang air kecil. Menurut Karmijono, seharusnya jamaah haji buang air kecil minimal setiap jam sebagai tanda tubuh terhidrasi dengan baik. “Itu tanda-tanda dehidrasi. Seharusnya, jamaah haji buang air kecil minimal setiap jam. Hal ini sebagai tanda tubuh terhidrasi dengan baik. Semakin sering kencing lebih bagus. Mending sering ke toilet daripada sering ke rumah sakit,” tambahnya. Ia pun meminta jamaah haji untuk banyak mengonsumsi air putih meski tidak merasa haus. Karmijono menganjurkan jamaah minum air zamzam yang tidak dingin agar bisa langsung diterima dengan baik suhu tubuh. Selain jarang buang air kecil, di kondisi cuaca yang panas dan kering bisa menyebabkan jamaah jarang berkeringat saat beraktivitas. Sebab, keringat yang dihasilkan langsung menguap. Soal jamaah haji lansia dengan riwayat penyakit bawaan, Karmijono mengimbau agar tidak memaksakan diri melakukan ibadah yang bersifat sunnah. Selain agar tidak lelah, hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan jamaah menuju rangkaian puncak haji. “Tidak ada petugas yang melarang jamaah untuk beribadah tetapi agar jamaah itu juga menyadari kemampuannya sendiri. Kalau memang sudah lelah, jangan dipaksa, tetap istirahat,” sambungnya. Sementara itu, Kasi Lansia, Disabilitas, dan PKP3JH, dr Leksmana Arry Chandra, meminta jamaah haji tidak berjalan tanpa alas kaki saat di Madinah. Pasalnya, suhu di Madinah saat ini mencapai 40 derajat Celcius dan saat siang pelataran Masjid Nabawi sangat panas. “Cuaca diperkirakan akan semakin panas jelang puncak haji, bisa mencapai 48-50 derajat celsius. Jika jamaah berjalan tanpa alas kaki di pelataran yang panas, sangat berisiko kakinya melepuh,” ungkap Leksmana Arry Chandra. Berdasarkan pengalaman, ada saja jamaah yang lupa letak sandalnya saat di Masjid Nabawi. Untuk menghindari hal itu, dr Leks menyarankan untuk membawa plastik sebagai tempat alas kaki (dul) Baca juga :

Read More

Kemenag Hadirkan Aplikasi Pusaka Untuk Mempermudah Jamaah Haji Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Operasional pemberangkatan jamaah haji Indonesia gelombang pertama secara bertahap diberangkatkan ke Tanah Suci dari sejumlah embarkasi menuju Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Berdasarkan laporan Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, pada 16 Mei 2024 sampai dengan pukul 21.00 Waktu Arab Saudi (WAS) atau 01.00 WIB, 4.500 jemaah sudah tiba di Madinah. Mereka terbagi dalam 40 kelompok terbang. Jamaah tinggal di Madinah untuk beribadah di Masjid Nabawi dan berkunjung ke sejumlah tempat bersejarah, sebelum bertolak ke Makkah. Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Kemenag mengimbau jemaah untuk memperhatikan sejumlah hal sebelum meninggalkan hotel di Madinah untuk beribadah di Masjid Nabawi. Pertama, jamaah agar mencatat nama dan nomor hotel. Kedua, memberi tahu dan mencatat nomor kontak Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang ada di hotel. “Kenakan identitas pengenal, terutama gelang jamaah. Jangan tukar menukar gelang dengan jamaah lainnya. Pergi dan pulang secara berkelompok,” tukas Akhmad Fauzin dalam keterangan persnya di Media Center Haji (MCH) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (18/5/2024). Fauzin juga mengimbau jamaah menggunakan pelembab kulit dan bibir untuk menghindari iritasi akibat cuaca panas. Selain itu, jamaah agar menggunakan alas kaki dan kaos kaki untuk menghindari kaki melepuh. “Jika kehilangan alas kaki, jangan memaksakan diri pulang ke hotel tanpa sandal di siang hari. Sebab, jalanan yang dilalui sangat panas. Hubungi petugas yang ada di sekitar Masjid Nabawi,” Fauzin mengingatkan. Untuk mencegah dehidrasi, kata Fauzin, jamaah diimbau selalu membawa dan minum air mineral 200 ml/jam secara teratur untuk menghindari dehidrasi. “Lalu atur irama keberangkatan dan kepulangan dari pemondokan menuju Masjid Nabawi, dan sebaliknya, untuk menghindari penumpukan antrian lift di hotel. Juga pastikan makan tepat waktu dan beristirahat yang cukup,” ujar Fauzin. Kepada jamaah, Fauzin menyampaikan untuk tidak sungkan meminta bantuan petugas, sejak di embarkasi, selama penerbangan, hingga di Tanah Suci. “Bila mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan, segera hubungi Petugas Haji Indonesia,” tandasnya. Untuk mendukung pengetahuan jamaah tentang ibadah haji, Fauzin mengatakan bhawa Kementerian Agama telah menyediakan Buku Panduan Manasik Haji, Buku Panduan Manasik Haji bagi Lansia, serta Video Manasik Haji yang dapat dilihat di aplikasi PUSAKA Kementerian Agama. “Aplikasi PUSAKA dapat diunduh di Playstore maupun AppStore. Berangkat haji, jangan lupa download PUSAKA,” pungkasnya. (dul) Baca juga :

Read More

Ini Penjelasan Kenapa Haji dan Umrah Merupakan Panggilan Allah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sebagian umat Islam beranggapan haji dan umrah merupakan ibadah yang terbatas dilakukan hanya oleh orang-orang kaya harta. Memang salah satu syarat ibadah haji (secara lebih khusus) adalah istitha’ah atau mampu. Walaupun begitu, ternyata banyak orang yang tidak mampu secara finansial atau keuangan ternyata mampu berangkat haji dan umrah tanpa disangka. Mengapa ada fenomena seperti ini ? Mengapa ibadah haji dan umrah seringkali disebut sebagai panggilan ? Salah satu ciri khas ibadah haji dan umrah adalah do’a talbiyah yang biasa dilantunkan. Do’a talbiyah seperti “labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbbaik, innal hamda wan ni’mata lak awal mulku laa syarika laka”, atau “labbaik Allahumma labbaik”, dan do’a “labbaik Allahuma ‘umratan” yang dibaca ketika umrah dan berangkat dari Miqat. Kata “labbaik” berasal dari kata “labba-yulabbi” yang bermakna memenuhi panggilan. Sehingga lafadz ini dalam do’a-do’a talbiyah itu bermakna “kami memenuhi panggilan-Mu” sehingga biasa menjadi salah satu sebab penyebutan ibadah haji dan umrah dengan panggilan haji, meskipun jarang ada penyebutan “panggilan umrah” di masyarakat Islam Indonesia. Karena memang haji dan umrah sebenarnya merupakan panggilan, siapapun yang diberi kesempatan untuk menunaikannya, pantas untuk disebut sebagai “tamu-tamu Allah”. Haji memang panggilan dari Allah, banyak orang yang lebih mampu dalam finansial, tetapi tidak punya kemauan untuk menunaikannya, tetapi banyak orang yang kurang mampu memiliki kemauan untuk berhaji, dan mereka mampu untuk menunaikannya. Sebagian dimampukan setelah memiliki kemauan, tetapi tidak semua orang yang mampu diberikan kemauan atau terpikir untuk beribadah haji ataupun umrah. Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima, dan umrah merupakan “haji kecil”. Setiap umat Islam perlu untuk merencanakan dua ibadah ini setidaknya sekali seumur hidupnya. Selain berdo’a kepada Allah, tentu ikhtiar terkait seperti dengan menabung dan semisalnya tetap penting untuk terwujudnya haji ataupun umrah. (yat) Baca juga :

Read More

Ketika Sultan Agung Buatkan Kelompok Orang Kalang Permukiman

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di Jawa ada kelompok masyarakat yang disebut sebagai orang Kalang, dimana mereka hidup di tengah hutan yang berprofesi sebagai tukang kayu yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah undagi. Kelompok masyarakat ini sudah ada sejak abad ini ke-8, pada masa Sultan Agung Mataram mereka dibuatkan permukiman. Tujuannya agar mereka tidak berpindah-pindah tinggal di hutan. Permukiman itu dibangun pada 1636. Lokasinya ada di dalam dan di luar ibu kota Mataram. Selama abad ke-8 hungga ke-15, mereka tunggal berpindah-pindah di tengah hutan. Meski mengasingkan diri, mereka berknteraksi juga dengan masyarakat luar hutan. Kemahiran mereka mengolah berbagai peralatan dari kayu dibutuhkan oleh masyarakat di luar kelompok mereka. Dalam perkembangannya, wilayah jelajah mereka mskin berkurang, setelah terjadi pembabatan hutan untuk berbagai keperluan. Hutan di wilayah pesisir semakin terbuka setelah diperlukan banyak kayu untuk membuat kapal. Maka mereka yang pelan-pelan semakin masuk ke dalam hutan skhirnya ke luar hutan juga setelah hutan semakin berkurang. Sultan Agung memahami kesulitan mereka sehingga membuatkan permukiman. Kampung mereka disebut Kalangan atau Pekalangan. Di antara mereka ada juga yang dijadikan sebagai abdi dalem di keraton. Sebagai abdi dalem, tugasnya membangun rumah, masjid, mrmbuat gerobak pedati, dan sebagainya. Dengan tugas itu, maka mereka juga harus mencari kayu jati di hutan. Lalu membawanya keluar hutan untuk dipakai sebagai bahan berbagai peralatan dan bangunan. Sebelum digunakan, kayu-kayu itu dikumpulkan di alun-alun. Kayu-kayu itu kemudian mereka olah sesuai kebutuhan. Tapi di lingkungan masyarakat keraton saat itu, keberadaan orang Kalang dianggap hina. Meski sudah dibuatkan perkampungan sejak zaman Sultan Agung, mereka masih biasa berpindah-pindah. Mereka bongkar rumah mereka, lalu diangkut dengan gerobak pedati, yaitu gerobak yang ditarik oleh dua ekor kerbau. Peralatan untuk mengolah katu juga mereka bawa pindah ke permukiman baru. Pada masa Amangkurat I, orang-orang Kalang tercatat bermukim di Jipang dan Lamongan. Pada masa Amangkurat II, 7.000 orang Kalang yang menjadi tanggung jawab Tumenggung Sosrowijoyo. Mereka tidak lagi tinggal di hutan. Sosrowijoyo memiliki tugas memelihara konpleks keraton. Di bawah Sosrowijoyo, orang-orang Kalang itu bejerja menelihara kompleks keraton Kartosuro. Ketika Mataram dibagi dua menjadi Yogyakarta dan Surakarta, orang Kalang juga dibagi dua. Yogyakarta dapat 3.000 orang Kalang, Surakarta juga mendapat 3.000 orang Kalang. Pada awal-awal mereka dibuatkan permukiman, Sultan agung melalukannya dengan setengah memaksa. Jika tidak, mereka tak akan pindah dari hutan. “Sangat mungkin hal itu dilakukan untuk memudhkan pengawasan dan juga untuk menghubungi mereka jika diperlukan,” ujar Agus Aris Munandar. (jeha) Baca juga :

Read More

Israel Makin Membabi Buta Melakukan Penyerangan ke Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Israel terus melakukan serangan militernya di seluruh Gaza, dengan baku tembak sengit di perkotaan antara pasukan Israel dan kelompok bersenjata Palestina yang terjadi di kamp Jabalia di utara hingga kota Rafah di selatan, yang berbatasan dengan Mesir. Di distrik Jabalia utara, yang sekarang banyak hancur, penduduk mengatakan tank-tank Israel telah menghancurkan sejumlah rumah dan tengah menghadapi perlawanan sengit dari pejuang kelompok Palestina Hamas, yang menguasai Gaza dan kelompok bersenjata Jihad Islam Palestina (PIJ). “Mereka mengebom rumah-rumah penduduk,” ucap Abu Jehad. PIJ mengklaim telah membunuh beberapa tentara Israel di Jabalia, sementara militer Israel mengatakan telah memusnahkan banyak pejuang di wilayah tersebut. Israel telah mengirim pasukan kembali ke wilayah di Gaza utara awal pekan ini setelah mengklaim mereka telah mengalahkan Hamas di sana beberapa bulan lalu. Militer Israel juga memerintahkan lebih banyak evakuasi dari lingkungan al-Manshiya dan Sheikh Zayyed di Gaza utara. PBB memperkirakan sekitar 100.000 orang telah diusir secara paksa dari wilayah utara dalam beberapa hari terakhir. Di Kota Gaza, beberapa orang tewas setelah pasukan Israel menyerang sekelompok warga Palestina di persimpangan Jalan Jalaa dan Jalan al-Oyoun. Setidaknya tiga jenazah tiba di Rumah Sakit Arab al-Ahli di Kota Gaza, serta beberapa orang dalam kondisi kritis. Jumlah korban tewas akibat serangan ini, yang menargetkan wilayah yang masih memiliki akses internet di Gaza, diperkirakan akan meningkat, menurut Hani Mahmoud dari Al Jazeera. “Ini bukan pertama kalinya kita melihat pola serangan terhadap warga sipil yang berkumpul dalam kelompok besar, baik di titik distribusi makanan atau koneksi internet, atau bahkan di titik bertenaga surya untuk mengisi daya ponsel atau komputer mereka,” ungkap Mahmoud. Pejabat kesehatan Palestina mengatakan setidaknya 82 warga Palestina tewas dalam 24 jam sebelumnya. Sementara itu, Hamas mengecam serangan terhadap warga sipil di Jalur Gaza, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut adalah tindakan “fasis dan balas dendam” yang mencerminkan “kekalahan” tentara Israel. Di Rafah, tank-tank Israel telah berkumpul di sekitar tepi timur Rafah dan dalam beberapa hari terakhir, telah menyelidiki wilayah-wilayah yang dibangun di kota tersebut, di mana ratusan ribu pengungsi mencari perlindungan dari pemboman di tempat lain di Gaza. Warga mengatakan pasukan Israel telah menyerbu ke tiga lingkungan dan pejuang Palestina berusaha mencegah tentara dan tank bergerak menuju pusat tersebut. Sejumlah kelompok bantuan termasuk International Rescue Committee (IRC) memperingatkan bahwa mereka menghadapi gangguan signifikan dalam operasi kemanusiaan mereka ketika tentara Israel bergerak ke kota tersebut untuk melakukan serangan darat yang banyak dikritik. “Saya baru saja kembali dari Gaza, di mana skala krisisnya sulit dibayangkan. Fasilitas di Gaza selatan telah diubah fungsinya menjadi tempat penampungan sementara yang meluap hingga ke jalanan. Populasi pengungsi ini kini menghadapi kekurangan akut kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan sanitasi yang memadai,” kata Kiryn Lanning, ketua tim IRC untuk wilayah pendudukan Palestina. Pekan lalu, setelah tentara Israel menyita dan menutup sisi Palestina di perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir yang merupakan titik masuk penting bagi bantuan kemanusiaan badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, memperingatkan bahwa rumah sakit di Gaza selatan hanya memiliki sisa bahan bakar untuk menjalankan operasinya selama beberapa hari, dan bahwa masuknya bahan bakar ke Jalur Gaza sangat penting untuk mencegah lebih banyak kematian. Pengiriman bantuan secara sporadis ke Gaza dengan truk telah melambat sejak pasukan Israel mengambil alih jalur penyeberangan di Gaza pada 7 Mei. Sebuah konvoi yang membawa barang-barang bantuan kemanusiaan digeledah oleh militer Israel pada Senin setelah mereka menyeberang dari Yordania melalui Tepi Barat. (zul/AP) Baca juga :

Read More

Jamaah Haji Bisa Masuk Raudhah dengan Tasreh

Madinah — 1miliarsantri.net : Masuk ke Raudhah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW menjadi harapan setiap jamaah haji saat di Madinah. Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Ibadah pada Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Madinah Efrilen Hafizh mengatakan bahwa jamaah haji Indonesia dapat memasuki Raudhah di Masjid Nabawi dengan menggunakan Tasreh. “Jamaah haji Indonesia tidak usah resah karena masuk ke Raudhah itu difasilitasi oleh pemerintah melalui penerbitan surat Tasreh. Jamaah tidak harus mengisi dan mendaftar melalui aplikasi Nusuk secara pribadi,” terang Efrilen Hafizh di Kantor Daker Madinah, Jumat (17/5/2024). Hafizh mengatakan, fasilitas untuk masuk ke Raudhah akan diberikan secara kolektif kepada jamaah sebelum berkunjung ke Raudhah. “Di setiap kloter itu akan diterbitkan dua tasreh. Pertama, tasreh khusus untuk perempuan. Kedua, tasreh khusus untuk laki-laki,” jelasnya. Ditambahkan Hafizh, pelaksanaan kunjungan ke Raudhah akan dilakukan paling cepat 3 hari setelah jamaah berada di Kota Madinah. “Setelah diterbitkan, tasreh akan diteruskan ke Kepala Sektor Khusus Nabawi. Jadwal masuk Raudhah akan diinformasikan kepada petugas kloter melalui petugas sektor. Sehingga jamaah tinggal datang pada jadwal yang sudah ditentukan. Jamaah wajib sudah berkumpul di pintu Raudhah paling lambat 30 menit sebelum jadwal masuk. Petugas Seksus Nabawi akan memandu jamaah dan menyerahkan tasreh kepada petugas yang menjaga Raudhah,” sambungnya. Kepala Daker Madinah telah bernegosiasi dengan pihak keamanan sektor Masjid Nabawi untuk memberikan dispensasi kepada petugas Sektor Khusus Nabawi agar dapat melakukan pendampingan terhadap jemaah haji yang masuk ke Raudhah. “Penerbitan tasreh ini dilakukan oleh Kantor Daker Madinah dan diberikan validasi berupa stempel untuk menghindari duplikasi dan menunjukkan bahwa tasrehnya asli,“ tandas Hafizh. Hafizh mengungkapkan bahwa layanan pemberian tasreh ini merupakan salah satu bentuk kehadiran negara dalam memberikan pelayanan terbaik kepada Jamaah Haji. Jamaah haji Indonesia mulai tiba di Madinah sejak 12 Mei 2024. Proses kedatangan ini akan terus berlanjut hingga 23 Mei 2024. (dul) Baca juga :

Read More

Pemerintah Siapkan 62 Ton Obat Untuk Antisipasi Jamaah Sakit

Madinah — 1miliarsantri.net : Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) menyiapkan 62 ton obat-obatan untuk jamaah haji. Semua obat tersebut didatangkan dari tanah air. Pengadaan obat sudah memperhitungkan pola penyakit dan jumlah kebutuhan yang diperlukan. Obat sebanyak 62 ton itu berasal dari stok pada 2023 dan penambahan kebutuhan obat di 2024. Jika nanti masih ada sisa, akan dilakukan stok opname lagi untuk kebutuhan 2025. “Ada kebutuhan obat yang sifatnya vital, ada esensial, dan non esensial. Kalau vital itu ada penambahan sekitar 20 persen, vital misalnya jantung tambah 20 persen, esensial 20 persen, dan vitamin cukup 5 persen,” terang Kasie Kesehatan KKHI Madinah Muhammad Firdaus kepada 1miliarsantri.net, Jumat (17/5/2024) Menurut Firdaus, penyakit yang paling banyak diderita jemaah haji pada tahun lalu adalah hipertensi, gangguan dislipidemia (gangguan lemak dan kolesterol), dan diabetes mellitus. KKHI Madinah memiliki 26 dokter, termasuk dokter spesialis, dan 36 perawat. Di KKHI Madinah, terdapat fasilitas ruang Unit Gawat Darurat (UGD) yang memiliki 10 tempat tidur, ruang High Care Unit (HCU) dengan kapasitas delapan tempat tidur, lalu ruang rawat inap laki-laki dan perempuan yang masing-masing berkapasitas delapan belas tempat tidur. KKHI juga menyediakan ruang khusus psikiatri yang memiliki delapan tempat tidur. “Ruang khusus psikiatri ini selalu terisi. Kasusnya macam-macam, ada gangguan jiwa. Screening untuk psikiatri dimulai di tanah air, tapi di Arab Saudi gejala-gejalanya muncul,” sambung Firdaus. Menurut dia, sebenarnya sebelum melunasi biaya perjalanan ibadah haji, jemaah telah menjalani pemeriksaan. Tetapi, berbagai hal, mulai dari tekanan, cuaca yang panas, dan kondisi yang tidak nyaman, kadang membuat gangguan kejiwaan muncul. Kepala KKHI Madinah Dr Karmijono mengatakan, tahun lalu, jemaah haji yang dirawat di HCU umumnya karena stroke, shock hipokolemik, dan shock kardiogenik. KKHI menerapkan aturan, jemaah dirawat maksimal 3×24 jam. Jika tidak ada perubahan, dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi. “Tapi, itu pun tidak saklek. Kalau 1 x 24 jam kok tidak ada perbaikan dengan pengobatan yang diberikan juga harus dirujuk. Keselamatan pasien harus diutamakan,” ujar Karmijono. Dia menambahkan, pihak KKHI tidak bisa mengerahkan semua kemampuan karena keterbatasan alat. “Sehingga, kita pakai 1×24 jam. Kalau tidak ada forecast ke arah yang bagus, ya sudah kita rujuk ke RS Arab Saudi,” bebernya. Dia menambahkan, selama ini pemerintah memiliki hubungan baik dengan rumah sakit di Arab Saudi. Pihak Arab Saudi juga membalas dengan kunjungan untuk mengetahui apa yang harus disiapkan. “Hubungan Menkes dengan Menteri Haji Arab Saudi juga bagus banget. Jadi kalau kita tidak menindaklanjuti, sayang. Sehingga harapannya dengan saling mengenal tersebut, semua kasus-kasus itu akan lebih lancar. Paling tidak, kalau butuh pertolongan, diprioritaskan,” pungkasnya. (dul) Baca juga :

Read More

Polemik Tentang Hukum Halal-Haram Musik Masih Belum Mereda

Jakarta — 1miliarsantri.net : Polemik tentang hukum halal-haram musik dan lagu masih belum juga mereda. Kontroversi ini kembali menjadi sorotan warganet usai pernyataan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam sebuah kajian yang mengartikan surat Asy Syuara sebagai surat penyair sama dengan pemusik. Menanggapi hal itu, Ketua MUI Bidang Seni, Budaya, dan Peradaban Islam Ustadz Jeje Zaenudin mengatakan perlu penelaahan bahkan kajian cermat dan mendalam untuk menilai benar atau salah dari pernyataan tersebut. “Saya berpendapat, mengartikan penyair secara langsung disamakan dengan pemusik itu memang tidak tepat. Tetapi untuk menilai benar salahnya statement itu perlu penelaahan bahkan kajian yang lebih cermat dan lebih mendalam,” terang Ustaz Jeje ketika dikonfirmasi 1miliarsantri.net terkait seputar permasalahan itu, Jumat (13/5/2024). Kenapa demikian? Sebab memang secara kajian semantik, terminologis, historis, dan praktik dari syair itu sangat erat hubungannya dengan musik. Bahkan, lanjut Ustadz Jeje, beberapa literatur umum dan karya klasik di bidang seni seperti kitab Al Musiqy Al Kabir, karangan Al Farabi yang wafat tahun 339 Hijriyah, dalam pengantar pentahqiqnya menyatakan bahwa syair dan musik merujuk kepada satu jenis seni yang sama. Tetapi tetap ada perbedaan. “Karena syair itu fokusnya kepada seni keindahan dan keseimbangan susunan kata dan kalimat mengikuti kaidah gramatika. Sedang musik berfokus kepada seni keindahan bunyi atau suara, irama, dan melodinya. Karena itu para ahli musik menyatakan ada musik pakai alat atau musik instrumental, dan ada musik yang mengandalkan kekuatan suara orang atau musik vokal,” sambungnya. Ketika seorang penyair menyusun syair, puisi, atau sajak, lalu gubahan syairnya itu dibacakan dengan pakai irama, atau dijadikan lirik yang dilagukan sehingga menjadi nyanyian. Nyanyian itu memunculkan seni musik, baik dilengkapi alat-alat maupun tidak pakai alat. “Itulah relasi syair dengan musik,” jelasnya. Atas dasar itu, papar Ustadz Jeje, mengartikan penyair otomatis sebagai penyanyi memang tidak tepat, meskipun bisa dipahami keterkaitan dan korelasinya. Sehingga bisa saja demi menyingkat penjelasan atau karena tergesa-gesa dalam penyampaian, seorang ustadz mengalami kesilafan lisan dalam ucapan. “Dan suatu yang wajar juga jika kemudian menimbulkan pihak yang tidak setuju atau keberatan dengan pernyataan itu. Tetapi menjadi tidak wajar ketika direspon secara berlebihan sehingga jadi menyerang pribadi, menuduh ajaran sesat, apalagi sampai memvonis fasik hingga kufur, itu sangat keterlaluan,” sambungnya. Terkait mengakhiri polemik di atas, Ustadz Jeje mengatakan, apa yang disampaikan Ustadz Adi Hidayat bisa dipahami dan bisa diterima bahwa yang dimaksud bukan mengganti nama surat penyair jadi pemusik, tetapi dalam konteks hubungan yang erat antara syair dan musik. Sehingga bisa memahami hubungan dengan hukum halal-haramnya musik dan lagu. “Tetapi jika ada pihak yang merasa belum puas dan belum bisa terima, maka sangat baik jika ditambah klarifikasi yang lebih jelas, tegas, dan spesifik fokus kepada maksud penerjemahan surat Asy Syuara sebagai para pemusik,” pungkasnya. (Iin) Baca juga :

Read More