Deretan Kasus Pencabulan Nodai Pesantren

Jakarta — 1miliarsantri.net : Momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2024 diiringi dengan perpindahan jabatan menteri agama RI yang dilantik pada 21 Oktober 2024. Menteri agama yang baru akan menghadapi pekerjaan rumah yang tidak sedikit terlebih mengenai dunia pesantren. Belakangan ini, publik kerap disuguhi kasus pencabulan, kekerasan seksual hingga perundungan di pesantren. Ketua RMI NU DKI Jakarta KH. Rakhmad Zaelani Kiki, pun berharap menteri agama yang baru bisa berlaku tegas dan menyeluruh untuk menjaga martabat pesantren sebagai lembaga pendidikan agama dan benteng moral bangsa. Kiai Kiki mengatakan, menag baru harus berani memberikan sanksi yang tegas, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan tindakan amoral seperti pencabulan. “Menteri Agama yang baru harus tegas dalam memberikan sanksi administratif dengan mencabut izin operasional bagi pesantren yang memiliki kasus pencabulan terhadap santri yang dilakukan oleh pemimpin atau pengasuh pesantren,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Ahad (20/10/2024). Kiai Kiki yang juga merupakan pembina pesantren ramah anak menambahkan, pesantren dengan pengasuh yang terlibat dalam tindakan amoral seperti pencabulan tidak layak lagi disebut pesantren. “Inti dari pesantren adalah kiai yang merupakan pendiri atau pengasuh pesantren itu sendiri. Jika mereka yang seharusnya menjadi panutan moral justru melakukan tindakan tak bermoral seperti pencabulan, maka hancurlah pesantren tersebut,” tegas dia. Dalam pandangannya, apabila pendiri atau pengasuh pesantren terbukti melakukan pencabulan terhadap santri, pesantren tersebut harus ditutup secara permanen. Hanya saja, dia memberi catatan apabila pelakunya hanya sebatas guru alias musyrif atau musyrifah, maka pesantren tersebut tidak perlu ditutup, melainkan pelaku harus diberikan sanksi tegas. Dia juga menekankan pentingnya peran Kementerian Agama dalam memberikan pendampingan kepada korban. Menteri Agama, melalui bidang terkait kepesantrenan, diharapkan turut aktif dalam mendampingi santri yang menjadi korban pencabulan. “Santri yang menjadi korban pencabulan harus dipulihkan baik kesehatan mentalnya maupun hak-haknya,” ujarnya. Pesantren dinilai merupakan pusat pembinaan moral dan benteng moral bagi generasi muda. Oleh karena itu, pesantren harus tetap menjaga kesucian nilai-nilai yang diajarkan. Jika pesantren tidak mampu menjaga integritas moralnya, terutama dari segi pemimpin atau pengasuhnya, maka hilanglah esensi dari pesantren itu sendiri. “Pesantren adalah tempat pembinaan moral, pusat moral. Kiai atau pendiri itu adalah intinya. Jika terjadi pencabulan yang dilakukan oleh pendiri atau pengasuh, maka sudah tidak ada lagi pesantren. Hancurlah pesantren itu,” sambungnya. Kiai Kiki menekankan bahwa tindakan tegas dari menteri agama yang baru sangat dibutuhkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Dengan menutup pesantren yang pemimpinnya terlibat dalam tindakan amoral dan memberikan sanksi kepada pelaku pencabulan, pesantren lain dapat terjaga integritasnya sebagai lembaga pendidikan yang mendidik generasi muda dengan nilai-nilai moral dan agama yang kuat. Dia juga berharap agar Kementerian Agama semakin memperketat pengawasan terhadap pesantren dan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan serta perlindungan santri. “Pengawasan harus lebih ketat, dan pendampingan kepada santri harus ditingkatkan,” tambahnya. Menurut Kiai Kiki, pentingnya pesantren sebagai tempat pendidikan agama yang seharusnya menjadi pusat pembentukan moral generasi muda. Dia berharap dengan adanya tindakan tegas dari pemerintah, pesantren bisa tetap menjalankan fungsinya sebagai benteng moral yang kokoh tanpa tercoreng oleh tindakan amoral yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. (yan) Baca juga :

Read More

Enam Jenis Produk Ini Tak Dapat Disertifikasi Halal MUI

Jakarta — 1miliarsantri.net : Penetapan kehalalan produk harus mengacu kepada standar halal yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam fatwa MUI, ada sejumlah ketentuan yang membuat produk tersebut tidak bisa memperoleh sertifikasi halal. Hal itu tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 44 Tahun 2020 tentang Penggunaan Nama, Bentuk dan Kemasan Produk yang Tidak Dapat Disertifikasi Halal. Fatwa tersebut ditandatangani oleh KH Hasanudin Abdul Fattah dan Prof KH Asrorun Niam Sholeh, yang pada saat itu menjabat sebagai sebagai Ketua dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI. Dalam fatwa tersebut memuat ketentuan bahwa di antara produk yang tidak dapat disertifikasi halal. Pertama, produk yang menggunakan nama dan/atau simbol-simbol kekufuran, kemaksiatan, dan/atau berkonotasi negatif. Kedua, produk yang menggunakan nama benda/hewan yang diharamkan. “Kecuali, yang telah mentradisi (‘urf) yang dipastikan tidak mengandung bahan yang diharamkan,” tulis fatwa tersebut. Selain itu, menurut pandangan umum tidak ada kekhawatiran adanya penafsiran kebolehan mengkonsumsi hewan yang diharamkan tersebut. Yang mempunyai makna lain yang relevan dan secara empirik telah digunakan secara umum. Ketiga, ketentuan produk yang tidak bisa mendapatkan sertifikasi halal adalah produk yang berbentuk babi dan anjing dengan berbagai desainnya. Keempat, produk yang menggunakan kemasan bergambar babi dan anjing sebagai fokus utama. Kelima, produk yang memiliki rasa/aroma (flavour) unsur benda atau hewan yang diharamkan. Keenam, produk yang menggunakan kemasan yang berbentuk dan/atau bergambar erotis dan porno. (wink) Baca juga :

Read More

Sejarah Sultan Selim I Meneguhkan Kedaulatan Turki

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kemenangan dalam Perang Reydaniyya pada 1517 membuka jalan bagi Sultan Selim I untuk meneguhkan kedaulatan Turki Utsmaniyah di dunia Islam. Sebab, Dinasti Mamluk yang berhasil dikalahkannya mau tak mau mesti menyerahkan kepadanya kendali pemerintahan atas dua kota suci, Makkah dan Madinah. Berdasarkan catatan sejarah, Selim I tidak meneruskan titel yang biasa digunakan para penguasa Mamluk, yakni “Penguasa Dua Kota Suci” (Hakimu’l Haramain). Alih-alih demikian, sultan kesembilan Dinasti Utsmaniyah itu memilih gelar yang lebih bernada rendah hati: “Sang Pelayan Dua Kota Suci.” Dengan menguasai Haramain, Turki Utsmaniyah pun layak mengenakan julukan khilafah. Transisi kekhilafahan dari Dinasti Mamluk ke Turki ditandai dengan upacara simbolis di Konstantinopel (Istanbul) pada 1517. Mamluk diwakili al-Mutawakkil III, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah yang berlindung di Kairo setelah bangsa Mongol membumihanguskan Baghdad pada 1258—sehingga dirinya hanya menjadi “boneka” Dinasti Mamluk belaka sejak saat itu. Dalam perjalanannya ke ibu kota Turki, al-Mutawakkil III didampingi keluarganya. Selim I memperlakukan rombongan ini dengan penghormatan yang semestinya diberikan kepada kalangan ningrat. Menurut catatan sejarah tradisional Turki, upacara tersebut diiringi penyerahan beberapa lambang kekhilafahan Islam, seperti pedang dan mantel yang diyakini sebagai milik Nabi Muhammad SAW, dari khalifah lama kepada penguasa baru. Namun, narasi tentang prosesi tersebut sesungguhnya baru muncul di berbagai manuskrip pada 1780-an atau sesudah Perjanjian Kucuk Kaynarca yang mengakhiri perang antara Turki Utsmaniyah dan Rusia pada 1774. Cerita itu juga sering kali dikaitkan sebagai klaim yurisdiksi atas wilayah Muslim di luar Imperium Turki Utsmaniyah. Apa pun fakta sejarahnya, yang jelas jantung dunia Islam, yakni Makkah dan Madinah, sudah berhasil dikuasai Turki Utsmaniyah selama berabad-abad sejak kesuksesan Sultan Selim I dalam menaklukkan Mamluk. Ia pun menyadari perannya sebagai khalifah bagi umat Islam, minimal dalam melindungi dua kota mulia tersebut dari segala macam ancaman dan gangguan. Pemimpin Turki itu juga selalu berupaya menjamin keamanan dan kenyamanan jamaah dari berbagai penjuru dunia yang melaksanakan haji dan umrah di Tanah Suci. “Pelayan Dua Kota Suci” tidaklah semata-mata gelar, tetapi juga tugas untuk dijalankan sebaik-baiknya. Menurut H Erdem Cipa dalam The Making of Selim: Succession, Legitimacy and Memory in the Early Modern Ottoman World (2017), sejumlah penulis pada abad ke-16 mengenang kepemimpinan Sultan Selim I sebagai masa yang penuh kedamaian dan keadilan bagi negerinya. Mevlana Isa yang menulis pada zaman Sultan Suleiman I al-Qanuni bahkan mengibaratkan, pada zaman Selim I “kumpulan domba dan serigala dapat berjalan beriringan tanpa saling bertengkar, dan begitu juga tikus terhadap kucing.” (jeha) Baca juga :

Read More

Anak India Dijuluki Anak Asia Paling Berbakat, Selesai Sekolah 9 Tahun Gelar Doktor 21 Tahun, Profesor Usia 22 Tahun

Bangalore — 1miliarsantri.net : Tathagat Avatar Tulsi yang dulunya dianggap sebagai ahli fisika jenius, kini menemukan dirinya di persimpangan jalan. Yang tak terduga, saat ini tanpa pekerjaan. Perjalanan hidupnya luar biasa sejak kecil. Tetapi baru-baru ini, perjalanannya berubah drastis dan tak terduga. Lahir pada 9 September 1987 di Bihar, kecemerlangan Tulsi mulai menjadi berita utama di usia yang sangat muda. Ia menyelesaikan pendidikan sekolahnya pada usia 9 tahun. Berikut kisah luar biasa Tathagat Avatar Tulsi. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Tathagat Avatar Tulsi telah meraih gelar B.Sc. dari Patna Science College pada usia 11 tahun. Pada saat ia berusia 12 tahun, ia telah menyelesaikan gelar M.Sc. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya untuk meraih gelar PhD dari Institut Sains India (IISc) yang bergengsi di Bangalore, yang ia selesaikan pada usia 21 tahun. Penelitian PhD-nya difokuskan pada “Generalisasi Algoritma Pencarian Kuantum.” Ia juga ikut menulis makalah penelitian dengan ilmuwan terkenal Lov Grover, meskipun makalah tersebut tidak pernah diterbitkan.Di tengah pengakuan nasional atas prestasi akademisnya, Tathagat diangkat sebagai profesor kontrak di IIT Bombay pada tahun 2010. Namun, kehidupan berubah menjadi sulit pada tahun 2011 ketika kesehatannya mulai menurun. Ia mengalami demam tinggi, yang kemudian didiagnosis sebagai alergi. Penyakitnya menandai awal perjuangannya. Pada tahun 2013, karena masalah kesehatan, Tathagat mengambil cuti selama empat tahun di Patna. Sayangnya, setelah absennya dia dalam waktu yang lama, IIT Bombay menghentikan pengabdiannya pada tahun 2019, yang secara efektif mengakhiri karier akademisnya di lembaga tersebut. Tathagat, yang pernah dianggap sebagai salah satu anak Asia paling berbakat yang mendapat julukan seperti “Superteen” oleh Science, “Physics Prodigy” oleh The TIMES, dan “Master Mind” oleh The WEEK, saat ini sedang menganggur dan mencoba membangun kembali hidupnya Kini, Tathagat Avatar Tulsi memasuki babak baru dalam hidupnya. Tak lagi di kelas, ia mengalihkan fokusnya untuk belajar hukum. Kecerdasannya yang tajam mencari peluang baru, dan banyak orang yang pernah mendapat inspirasi darinya kini mengamati dengan saksama untuk melihat masa depan akademisi yang dulu cemerlang ini. (rim) Baca juga :

Read More

Gerakan Penanaman Pohon Digalakkan di Pesantren

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sebagai salah satu side event rangkaian peringatan Hari Santri 2024, Kementerian Agama (Kemenag) menggalakkan penanaman pohon di pesantren. Pada Jumat (18/10/2024), sebanyak 50 pohon ditanam di pondok pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur. Event ini adalah bagian dari penanaman 50.600 pohon di berbagai pesantren di Jabodetabek, yang merupakan hibah dari Dinas Kehutanan dan Pertamanan DKI Jakarta. Gagasan ini dipilih karena selaras dengan kampanye Pesantren Hijau yang sudah digelar beberapa waktu yang lalu di seluruh Indonesia. Pesantren Hijau adalah program yang dilakukan oleh pondok pesantren untuk menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kepedulian santri terhadap lingkungan dan membiasakan mereka berperilaku dan berpola hidup sehat. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengatakan, penanaman pohon adalah upaya mengurangi polusi lingkungan. Sebagian pesantren, seperti Al-Hamid Cilangkap, Jakarta Timur ini memiliki lahan luas yang signifikan untuk konservasi. “Sedangkan di Indonesia ini apapun saja ditanam bisa tumbuh sehingga relatif tidak sulit ide ini diwujudkan,” ujar Basnang dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (19/10/2024). Indonesia memiliki sejumlah 41 ribu pesantren, sehingga jika dijadikan gerakan masif, maka akan signifikan membantu mengurangi karbon. Lingkungan yang segar dan bersih, lanjut Basnang, tentu saja akan berkorelasi positif bagi suasana belajar santri. Dalam lima tahun ke depan perubahannya akan lebih terlihat nyata apabila dimulai sekarang. Basnang menambahkan, pesantren adalah sebuah ekosistem yang memiliki potensi besar untuk berpartisipasi dalam isu lingkungan hidup. Menjaga kelestarian alam adalah salah satu ajaran agama tentang menjaga bumi. Hal ini juga terkait erat dengan kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana diamanatkan Allah. “Maka dari itu pesantren perlu berpartisipasi secara nyata dalam upaya menekan karbon dan konservasi air tanah. Bila semua pesantren di Indonesia berpartisipasi, tentunya akan signifikan bagi konservasi alam di Indonesia,” kata Basnang. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid, KH Lukman Hakim Hamid mengatakan, pihaknya setuju dengan gagasan konservasi ini. “Saya sangat bersyukur gerakan pesantren hijau dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah. Semoga kami dapat menjalankan dan mengembangkan program ini di pesantren kami,” ucap dia. Sebelumnya, pesantren ini telah melakukan penanaman ratusan pohon secara mandiri dan juga dalam framework Pesantren Hijau. Ia berharap pihaknya dapat bersama-sama untuk menjadi bagian dari gerakan ini, sehingga memberikan pengaruh yang signifikan bagi bumi Indonesia ini. “Ke depan semoga jumlah pohon akan semakin banyak dan dapat mereduksi sampah semakin banyak,” jelas Kiai Lukman. Gerakan Pesantren Hijau sebelumnya juga telah diinisiasi oleh Lazisnu, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU serta asosiasi pondok pesantren Nahdlatul Ulama atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). (rid) Baca juga :

Read More

Selim, Peneguh Status Kekhalifahan Turki Utsmaniyah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kemenangan dalam Perang Reydaniyya pada 1517 membuka jalan bagi Sultan Selim I untuk meneguhkan kedaulatan Turki Utsmaniyah di dunia Islam. Sebab, Dinasti Mamluk yang berhasil dikalahkannya mau tak mau mesti menyerahkan kepadanya kendali pemerintahan atas dua kota suci, Makkah dan Madinah. Berdasarkan catatan sejarah, Selim I tidak meneruskan titel yang biasa digunakan para penguasa Mamluk, yakni “Penguasa Dua Kota Suci” (Hakimu’l Haramain). Alih-alih demikian, sultan kesembilan Dinasti Utsmaniyah itu memilih gelar yang lebih bernada rendah hati: “Sang Pelayan Dua Kota Suci.” Dengan menguasai Haramain, Turki Utsmaniyah pun layak mengenakan julukan khilafah. Transisi kekhilafahan dari Dinasti Mamluk ke Turki ditandai dengan upacara simbolis di Konstantinopel (Istanbul) pada 1517. Mamluk diwakili al-Mutawakkil III, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah yang berlindung di Kairo setelah bangsa Mongol membumihanguskan Baghdad pada 1258—sehingga dirinya hanya menjadi “boneka” Dinasti Mamluk belaka sejak saat itu. Dalam perjalanannya ke ibu kota Turki, al-Mutawakkil III didampingi keluarganya. Selim I memperlakukan rombongan ini dengan penghormatan yang semestinya diberikan kepada kalangan ningrat. Menurut catatan sejarah tradisional Turki, upacara tersebut diiringi penyerahan beberapa lambang kekhilafahan Islam, seperti pedang dan mantel yang diyakini sebagai milik Nabi Muhammad SAW, dari khalifah lama kepada penguasa baru. Namun, narasi tentang prosesi tersebut sesungguhnya baru muncul di berbagai manuskrip pada 1780-an atau sesudah Perjanjian Kucuk Kaynarca yang mengakhiri perang antara Turki Utsmaniyah dan Rusia pada 1774. Cerita itu juga sering kali dikaitkan sebagai klaim yurisdiksi atas wilayah Muslim di luar Imperium Turki Utsmaniyah. Apa pun fakta sejarahnya, yang jelas jantung dunia Islam, yakni Makkah dan Madinah, sudah berhasil dikuasai Turki Utsmaniyah selama berabad-abad sejak kesuksesan Sultan Selim I dalam menaklukkan Mamluk. Ia pun menyadari perannya sebagai khalifah bagi umat Islam, minimal dalam melindungi dua kota mulia tersebut dari segala macam ancaman dan gangguan. Pemimpin Turki itu juga selalu berupaya menjamin keamanan dan kenyamanan jamaah dari berbagai penjuru dunia yang melaksanakan haji dan umrah di Tanah Suci. “Pelayan Dua Kota Suci” tidaklah semata-mata gelar, tetapi juga tugas untuk dijalankan sebaik-baiknya. Menurut H Erdem Cipa dalam The Making of Selim: Succession, Legitimacy and Memory in the Early Modern Ottoman World (2017), sejumlah penulis pada abad ke-16 mengenang kepemimpinan Sultan Selim I sebagai masa yang penuh kedamaian dan keadilan bagi negerinya. Mevlana Isa yang menulis pada zaman Sultan Suleiman I al-Qanuni bahkan mengibaratkan, pada zaman Selim I “kumpulan domba dan serigala dapat berjalan beriringan tanpa saling bertengkar, dan begitu juga tikus terhadap kucing.” (jeha) Baca juga :

Read More

Siapa Firaunnya Umat Rasulullah SAW?

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dakwah Rasulullah SAW selalu menghadapi pelbagai rintangan dan ancaman dari penguasa musyrik Makkah. Beberapa dari mereka menyerang langsung Nabi Muhammad SAW. Tidak sedikit pula yang menyiksa kaum Muslimin, terutama dari kalangan yang lemah seperti anak-anak, perempuan, dan budak. Di antara mereka adalah seorang pria yang berjulukan “Firaun-nya umat Islam.” Dialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam. Pernah Abu Jahal berseru kepada kaumnya, “Wahai sekalian orang-orang Quraisy! Sesungguhnya Muhammad tidak akan mau berhenti dari mencela agama kita (menyembah berhala), mencaci-maki nenek moyang kita, dan membodoh-bodohkan sesembahan kita. Oleh karena itu, aku benar-benar bersumpah demi Allah. Au besok akan menghadang dia dengan membawa batu terbesar. Kalau dia (Muhammad SAW) bersujud dalam shalatnya di depan Ka’bah, maka aku akan pecahkan kepalanya dengan batu itu!” Fitnah Abu Jahal terhadap Nabi SAW sedemikian besar. Seperti tampak dari sumpahnya, sesungguhnya dia beriman kepada eksistensi Allah SWT. Hanya saja, dia sebagaimana kaum musyrikin umumnya, menganggap penyembahan terhadap Allah mesti diperantarai berhala-berhala. Padahal, syariat tauhid tidak membenarkan hal itu. Kebenciannya terhadap Islam antara lain karena sifat egaliter yang dibawa ajaran tauhid. Semua orang sama kedudukannya di dalam agama Islam. Yang membedakan hanyalah ketakwaan terhadap Allah SWT. Sementara, Abu Jahal menikmati kedudukannya sebagai pemuka Quraisy. Selain itu, toh Abu Jahal sehari-hari menjual berhala kepada penduduk Makkah. Bila sampai Islam tersebar luas, maka orang-orang akan meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Jika itu terjadi, siapa lagi yang akan membeli berhala miliknya? Bisnisnya akan gulung tikar. Pernah suatu ketika, Abu Jahal diamanati mengurus seorang anak yatim. Namun, belakangan dia memakan harta si anak itu tanpa persetujuannya. Bahkan, anak yatim ini lantas diusirnya dari rumah. Tidak ada tempat mengadu selain Rasulullah SAW. Maka Nabi SAW bersama anak yatim itu menemui Abu Jahal. Beliau meminta agar harta milik si anak dikembalikan. Abu Jahal tewas dalam kancah Perang Badar pada tahun kedua Hijriah. Keadaannya tetap kafir. Seperti diriwayatkan dalam pelbagai kitab hadits sahih, begitu Rasulullah SAW menerima kabar itu, maka beliau berkata, “Fir’aun umat ini telah terbunuh.” Dalam Perang Badar, pasukan Muslimin berhadapan dengan balatentara kafir Quraisy yang berjumlah lebih banyak. Bagaimanapun, umat Rasulullah SAW ini tak gentar sedikit pun. Saat itu, Abdurrahman bin Auf berdiri di tengah sejumlah pasukan Muslimin. Kemudian, sahabat Nabi SAW ini dihampiri seorang pemuda dari kalangan Anshar. Namanya adalah Mu’adz bin Afra. “Wahai paman, apakah paman mengenal Abu Jahal?” tanya pemuda usia 16 tahun itu. “Ya, kenal. Tetapi, ada keperluan apa kamu dengannya?” “Saya mendengar Abu Jahal selalu memaki-maki Rasulullah SAW selama di Makkah. Demi Allah Yang menguasai diriku. Kalau saya melihatnya (Abu Jahal), tidak akan berpisah sebelum salah satu dari kami mati terlebih dahulu!” tegas Mu’adz. Abdurrahman bin Auf terkesan dengan kata-kata pemuda itu. Tidak lama berselang, datang pemuda lainnya yang juga dari Anshar. Dia merupakan adik dari Mu’adz, yakni Mu’awwidz bin Afra. “Wahai paman, apakah paman tahu Abu Jahal?” tanya Mu’awwidz kepada Abdurrahman. “Ya, dan apa keperluanmu dengannya?” “Saya mendengar Abu Jahal selalu bersikap keras terhadap Rasulullah SAW di Makkah. Demi Allah, saya ingin membunuhnya,” jawab sang adik usia 15 tahun itu. Sekonyong-konyong, Abdurrahman melihat sosok Abu Jahal di kejauhan. Dia dapat memastikan itulah sang musuh Allah, walaupun Abu Jahal saat itu tampil dengan balutan baju besi di seluruh tubuhnya kecuali mata dan sebagian wajah. “Itu Abu Jahal!” seru Abdurrahman bin Auf sambil menunjuk orang yang dimaksud. Seketika, dua pemuda tadi melesat maju, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Padahal, Abu Jahal sedang di atas kuda dan di depannya ada 10 lapis pasukan dengan persenjataan lengkap. Dengan cekatan, Mu’awwidz menerjang pasukan musyrikin itu untuk dapat menebas Abu Jahal. Sebelum akhirnya gugur, dia dapat melukai paha Abu Jahal dengan sayatan yang dalam dan parah. Adapun kakaknya, Mu’adz bin Afra, juga berhasil menyayat dalam paha Abu Jahal. Namun, tebasan pedang ‘Ikrimah bin Abu Jahal (waktu itu belum masuk Islam) nyaris memutus tangan kiri Mu’adz. Untuk sementara, dia pun keluar dari deru pertempuran. Pemuda itu lalu menginjak sisa tangan kirinya dan membuangnya, karena merasa tangan itu mengganggu konsentrasinya mengejar Abu Jahal. Akhirnya, Mu’adz syahid di medan pertempuran, mengikuti adiknya yang lebih dahulu gugur. Bagaimanapun, keduanya amat berjasa. Abu Jahal tidak bisa bertahan lama akibat luka parah pada pahanya; luka yang ditinggalkan kakak-beradik yang telah syahid itu. Meski di ambang maut, Abu Jahal tetap saja menghina kaum Muslimin. Menjelang akhir Perang Badar, Abdullah bin Mas’ud berhasil melumpuhkan Abu Jahal dan memenggal kepala pemuka Quraisy itu. (yan) Baca juga :

Read More

Fenomena Langka: Gurun Sahara Berubah Jadi Danau Raksasa

Rabat — 1miliarsantri.net : Gambar-gambar menakjubkan dari Gurun Sahara memperlihatkan danau-danau besar yang terbentuk di antara gundukan pasir setelah salah satu tempat terkering di dunia ini dilanda banjir pertama dalam beberapa dekade. Sahara memang mengalami hujan, tapi biasanya hanya beberapa inci per tahun dan jarang terjadi di akhir musim panas. Namun, selama dua hari di bulan September, hujan deras mengguyur sebagian Gurun Sahara di tenggara Maroko, akibat sistem tekanan rendah yang bergerak melintasi bagian barat laut Sahara. Data satelit awal NASA menunjukkan hampir 8 inci hujan turun di beberapa bagian wilayah tersebut. Errachidia, sebuah kota gurun di tenggara Maroko, mencatat hampir 3 inci curah hujan, sebagian besar terjadi hanya dalam dua hari bulan lalu. Jumlah ini empat kali lipat dari curah hujan normal untuk seluruh bulan September, dan setara dengan lebih dari setengah curah hujan tahunan untuk daerah ini. “Sudah 30 hingga 50 tahun sejak kita mengalami hujan sebanyak ini dalam waktu singkat,” ujar Houssine Youabeb dari badan meteorologi Maroko kepada media lokal pekan lalu. Saat air hujan mengalir di atas permukaan gurun, terbentuklah lanskap baru yang dipenuhi air di antara pohon kurma dan tumbuhan semak. Beberapa gambar paling dramatis berasal dari kota gurun Merzouga, di mana banjir langka ini menciptakan danau-danau baru di antara gundukan pasir. Pantulan pohon-pohon kurma kota kini berkilauan di permukaan laguna baru yang luas, dikelilingi oleh bukit-bukit pasir yang curam. Hujan juga mengisi danau-danau yang biasanya kering, seperti salah satunya di Taman Nasional Iriqui, taman nasional terbesar di Maroko. Gambar satelit NASA dari wilayah tersebut, menggunakan warna palsu untuk lebih menonjolkan banjir, memperlihatkan danau-danau yang baru terbentuk di berbagai bagian barat laut Sahara. Meskipun sebagian besar hujan turun di daerah terpencil yang jarang penduduknya, beberapa juga mengguyur kota dan desa di Maroko, menyebabkan banjir mematikan bulan lalu yang menewaskan lebih dari selusin orang. Sahara adalah gurun terbesar di dunia di luar kutub, membentang seluas 3,6 juta mil persegi. Gambar satelit dari bulan September menunjukkan sebagian besar wilayahnya tertutupi warna hijau saat badai bergerak lebih jauh ke utara dari biasanya, sebuah fenomena yang dikaitkan dengan perubahan iklim akibat ulah manusia menurut beberapa penelitian. Peristiwa hujan ekstrem diperkirakan akan lebih sering terjadi di Sahara di masa depan, menurut penelitian terbaru, seiring polusi bahan bakar fosil terus memanaskan planet dan mengganggu siklus air. (prim) Baca juga :

Read More

Iran Ancam Balas Dendam Setelah Kematian Pemimpin Hamas

Teheran — 1miliarsantri.net : Iran menyatakan bahwa semangat perlawanan akan semakin kuat setelah tewasnya Yahya Sinwar. Pernyataan ini disampaikan oleh misi Iran untuk PBB pada Kamis, beberapa jam setelah Israel mengumumkan telah membunuh pemimpin Hamas tersebut. “Semangat perlawanan akan semakin menguat. Dia akan menjadi teladan bagi para pemuda dan anak-anak yang akan melanjutkan perjuangannya demi pembebasan Palestina,” tulis misi tersebut dalam sebuah postingan di media sosial X. Selama pendudukan dan agresi masih ada, perlawanan akan terus berlanjut, karena sang syuhada tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi.” Sebelumnyanya, militer Israel mengumumkan bahwa pasukan mereka telah membunuh pemimpin Hamas Sinwar di Rafah, Gaza selatan, setelah baku tembak dengan pemimpin militan tersebut dan dua pejuang lainnya sehari sebelumnya. “Kemarin di Tel Sultan di Rafah, Yahya Sinwar telah disingkirkan oleh pasukan tentara,” kata juru bicara militer Laksamana Muda Daniel Hagari. “Pembunuh massal Yahya Sinwar, yang bertanggung jawab atas pembantaian dan kekejaman 7 Oktober, telah disingkirkan… oleh tentara [Israel],” kata Menteri Luar Negeri Israel Katz dalam sebuah pernyataan. Militer kemudian mengonfirmasi bahwa “setelah pengejaran selama setahun,” pasukan “telah menyingkirkan Yahya Sinwar, pemimpin organisasi teroris Hamas, dalam operasi di Jalur Gaza selatan” pada hari Rabu. Pihak Hamas sendiri belum mengonfirmasi kematian pemimpin nya. (zak) Baca juga :

Read More

Peringatan Hari Santri 2024, Terdapat 6 Lomba Terbuka untuk Umum

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) bersama Direktorat Pendidikan Islam Kemenag adakan lomba SMART (Santri Mode Art) Competition dalam rangka memeriahkan Hari Santri 2024. Lomba ini memberikan kesempatan kepada santri dan masyarakat umum dari berbagai latar belakang profesi untuk ikut memeriahkan Hari Santri 2024 dengan tema Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Basnang Said menyampaikan tujuan diadakannya lomba SMART selain untuk memeriahkan Hari Santri 2024 juga untuk memetakan kemampuan bakat para santri. “Saat ini banyak santri yang memiliki bakat dan minat terpendam tetapi belum diberi kesempatan untuk uji coba bakat mereka, maka dari itu lomba ini (SMART) baik untuk mengasah bakat mereka,” terang Basnang. Basnang menambahkan bahwa tujuan diadakan lomba SMART supaya santri memiliki jiwa kewirausahaan dengan mengasah kemampuannya dalam kegiatan santrinomic berupa membuat bisnis plan. “Tujuan lain, santri bisa mengekspresikan pandangan pribadinya utamanya pikiran-pikiran mereka berkait kekerasan yang terjadi selama ini di pesantren, mungkin juga di antara mereka ada yang mengalami tetapi belum mampu speak up (berbicara),” tambahnya. Terdapat 6 jenis lomba yang bisa diikuti para santri dan masyarakat umum dengan memperebutkan hadiah jutaan rupiah. Pendaftaran dan pengiriman karya hanya sampai 19 Oktober 2024. Bagi para santri maupun masyarakat umum yang berminat dapat menyimak informasi berikut. Video diunggah melalui akun media sosial pribadi dan di-tag ke akun media sosial Direktorat PD Pontren. Karya tulisan bisa berbentuk opini atau artikel dengan tema pesantren ramah anak. Foto diunggah melalui akun media sosial pribadi dan di-tag ke akun media sosial Direktorat PD Pontren. Durasi video maksimal 60 detik (1 menit) sudah termasuk opening dan credit title tanpa jeda dengan mencantumkan pesan yang ingin disampaikan. Materi video boleh menggunakan genre dan metode apapun, seperti animasi, drama, religi, humor dan lain sebagainya. Peserta lomba terbuka untuk seluruh santri dan masyarakat umum. Peserta merupakan perorangan atau kelompok dengan jumlah personil yang tidak dibatasi. Peserta mengirimkan 1 video yang di dalamnya memuat pesan tentang “Pesantren Ramah Anak”. Durasi video maksimal 3 menit sudah termasuk opening dan credit title tanpa jeda dengan mencantumkan pesan yang ingin disampaikan. Baca juga :

Read More