Diangkat Dari Kisah Nyata! Ini Tantangan Tak Terduga Dalam Merawat Orang Tua Sakit!
Membagi waktu juga menjadi tantangan besar. Pernah suatu kali bapak masuk ICU tepat saat ujian praktik kuliah semester delapan. Tragedi itu membuat bimbang antara mengurus ayah atau menunda kuliah. Namun setelah shalat malam, muncul energi baru untuk menyelesaikan tugas di sela-sela kelelahan. Alhamdulillah tahun 2019 (sebelum covid) bisa lulus kuliah tepat waktu dan bisa melihat bapak senyum bangga atas kelulusan anaknya.
Dan ketika mulai berkarir pun setelah pulang kerja berusaha pulang tepat waktu, meminimalisir untuk nongkrong. Pulang kerja sibuk menyuapi, bersih-bersih, mengaji bareng dan mengajak ngobrol bapak agar tidak kesepian.
Mungkin merawat orang tua membatasi aktivitas. Tapi hal itu lebih baik daripada menanggung rindu ketika orang tua tiada. Rasulullah SAW pernah bersabda tentang pentingnya berbakti kepada orang tua bahkan dibanding jihad yang diriwayatkan di hadis HR. Bukhari dan Muslim.
Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”
Hadis ini memberi gambaran bahwa mendampingi orang tua, bahkan saat kita sibuk dengan studi atau pekerjaan, tetap menjadi amal besar yang tidak boleh diabaikan.
Baca juga: Me Time Ala Islam! Nggak Cuma Santai, Tapi Bisa Jadi Ladang Pahala!
4. Stres dan Kelelahan Menghadapi Keputusasaan Merawat Orang Tua
Merawat orang tua sakit yang tak kunjung sembuh dapat menimbulkan kelelahan fisik dan mental. Ada masa ketika bapak terlihat diam, putus asa, dan enggan melakukan terapi. Kondisi ini membuat keluarga yang merawat ikut kehilangan semangat.
Pernah suatu kali, penulis memberanikan diri curhat melalui DM kepada Ayu Kartika Dewi, seorang aktivis toleransi yang juga mantan staf khusus Presiden Jokowi. Beliau terkenal responsif dan friendly kepada followernya. Waktu itu curhat seputar keputusasaan merawat bapak yang tak kunjung sembuh. Beliau membalas DM dengan kalimat yang berhasil mengisi kekosongan hati penulis saat itu:
“Merawat orang tua yang menua dan sakit memang bukan urusan sederhana, apalagi jangka panjang. Kalau kamu dan Ibu lelah, coba gantian ‘cuti’ beberapa hari supaya ada jeda istirahat. Karena kita tidak bisa menuang dari teko yang kosong. Kita harus cukup kuat supaya bisa menopang orang lain.”
Pesan ini membuka mata, bahwa kesehatan mental anak yang merawat juga harus dijaga. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda:
“Sesungguhnya tubuhmu punya hak atasmu.”(HR. Bukhari)
Artinya, anak tidak boleh mengabaikan dirinya sendiri. Menjaga emosi, beristirahat, bahkan mencari waktu sejenak untuk mengisi ulang energi adalah bagian dari ibadah.
Sebab, bagaimana mungkin bisa memberi semangat pada orang tua yang sakit kalau diri sendiri sudah kehabisan tenaga? Merawat orang tua sakit memang melelahkan, terasa seperti perjalanan panjang tanpa ujung.
Namun dibalik letih itu, ada pelajaran berharga, tentang kesabaran yang ditempa, tentang cinta yang diuji, dan tentang pengorbanan yang tak sia-sia. Merawat orang tua sakit memang melelahkan namun percayalah setiap peluhmu adalah doa, setiap sabarmu adalah pahala. Bacalah di sini: Berapakah Gaji Merawat Orang Tua yang Sakit di Mata Allah?— agar hati semakin yakin, tak ada cinta yang sia-sia di hadapan-Nya.
Penulis : Iftitah Rahmawati
Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh
Sumber foto: Ilustrasi
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


