5 Prinsip Komunikasi dalam Al-Qur’an yang Sering Kita Lupakan

Dengarkan Artikel Ini

4. Qaulan Ma’rufa – Perkataan yang Baik

Perkataan yang baik tidak menyakitkan, tidak merendahkan, dan tidak mempermalukan. Ini juga mencakup adab dalam bercanda, tidak menggunakan ejekan, sarkasme, atau sindiran yang menyakiti hati.

5. Qaulan Karima – Perkataan yang Mulia

Komunikasi mulia adalah komunikasi yang penuh penghormatan, terutama kepada orang tua, guru, dan orang yang lebih tua. Termasuk juga cara kita menanggapi perbedaan pendapat, agar tetap santun meski tidak sepakat.

Media Sosial Sebagai Ladang Ujian Adab

Coba kita tengok media sosial hari ini. Tak sedikit akun media sosial yang gemar melontarkan sindiran atau mengomentari penampilan serta keputusan hidup orang lain. Ada juga yang merasa berdakwah, tapi ucapannya justru penuh cercaan. Padahal, Rasulullah SAW tidak pernah mencela, memaki, atau berkata kotor, meskipun terhadap musuhnya.

Kita sering lupa bahwa mengetik komentar buruk nilainya sama dengan mengucapkannya langsung. Hanya beda medium, bukan beda pahala atau dosa. Jika prinsip-prinsip komunikasi Al-Qur’an tadi diterapkan di ruang digital, dunia maya akan jauh lebih damai. Namun sering kali kita lebih memilih kata-kata yang keras karena lebih viral, bukan karena lebih benar.

Kata-Kata Mencerminkan Jiwa

Dalam Islam, kualitas komunikasi mencerminkan kualitas hati. Orang yang jiwanya tenang, ucapannya pun tenang. Orang yang hatinya kotor, biasanya lidah dan jarinya juga mudah menyakiti.

Bahkan dalam bercanda pun Islam memberi batas. Rasulullah SAW bersabda:

“Celaka bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang-orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Bercanda boleh, asal tidak menyakiti atau berdusta. Sebab setiap ucapan akan kembali kepada kita, entah sebagai pahala, atau beban di akhirat kelak.

Baca juga: Antara Gaya dan Syariat! Pandangan Ulama’ Terhadap Trend Model Baju Muslim Terbaru

Menghidupkan Kembali Adab Sebagai Tugas Santri Digital

Menjaga adab bicara hari ini adalah bentuk revolusi sunyi. Tidak banyak yang melakukannya, karena kata-kata yang keras, kasar, atau provokatif lebih cepat menyebar. Namun justru di sinilah pentingnya peran santri digital, influencer muslim, dan pemuda Islam sebagai teladan di tengah kebisingan.

Mengendalikan kata-kata, baik yang diucapkan maupun dituliskan, bukan hanya soal sopan santun. Melainkan juga bagian dari jihad dalam rangka menundukkan ego dan menahan gejolak emosi. Dan jihad ini tidak pernah kehilangan relevansinya.

Kata Adalah Ladang Amal

Kita bisa mengubah dunia, bukan hanya lewat orasi besar, tapi juga lewat komentar yang menyejukkan, status yang menginspirasi, dan pesan yang jujur. Kata-kata kita bisa jadi ladang pahala, jika diisi dengan kebaikan. Mari kita hidupkan kembali adab dalam komunikasi, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Dunia ini sudah terlalu bising dengan kata-kata yang melukai. Saatnya kita hadir dengan kata-kata yang menyembuhkan. Karena dalam Islam, komunikasi adalah akhlak, dan setiap kata adalah ibadah.

Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah)

Foto ilustrasi

Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca