Proses Islamisasi Bentuk Kebudayaan di Minangkabau

Dengarkan Artikel Ini

Setelah banyak berkenalan dengan dunia luar, para pemuda tampil mengkritisi adat Minangkabau yang belum sejalan dengan Islam, praktik keagamaan yang belum tepat, dan juga memperbaharui sistem pendidikan.

“Hasilnya, Alam Minangkabau menjadi lahan subur pergerakan, dan di masa Revolusi Fisik, Sumatera Barat berhasil memberikan kontribusi yang sangat signifikan,” ungkap Akmal.

  1. Islamisasi Adat
    Setelah Revolusi Fisik berhasil dimenangkan, masyarakat Minangkabau dengan sukarela menimbang kembali persoalan-persoalan adatnya. Dalam suasana kemerdekaan, mereka memutuskan untuk melakukan penyesuaian terhadap adat sesuai dengan tuntunan adat itu sendiri.

“Yang signifikan dari babak ini adalah semangatnya, sebab penyesuaian adat dengan ajaran agama itu terjadi secara alamiah, tanpa didahului oleh konflik. Dengan demikian, komitmen yang telah dinyatakan di awal telah menemukan kemantapannya pada babak ini,” jelas Akmal.

Maka itu, dapat dipahami alasan Minang begitu kuat membela Islam. Itu karena Minang adalah Islam; jika tak berkomitmen pada Islam, maka bukan orang Minang. Sejak dahulu, Alam Minangkabau telah menerima kenyataan bahwa agama ditempatkan di atas adat, dan adat hendaknya menyesuaikan diri dengan agama. Betapa pun orang Minang mencintai adat, semestinya lebih mencintai Islam.

“Bagi orang Minang, tidaklah lazim untuk menjadikan adat sebagai sesuatu yang sakral dan tak boleh berubah, bahkan justru adat itulah yang wajib disesuaikan dengan agama, dan bukan sebaliknya. (mik)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca