Mitos dan Doa Tolak Bala di Bulan Safar, Amalan untuk Melindungi Diri

Dengarkan Artikel Ini

Selain berdoa, sebagian masyarakat juga melakukan shalat sunnah empat rakaat di hari rabu terakhir bulan safar dengan niat memohon keselamatan.

Tak hanya itu, ada pula tradisi sedekah bersama hingga membaca surat Yasin tiga kali dengan doa khusus. Doa pertama, yaitu memohon panjang umur, kedua memohon dijauhkan dari musibah, ketiga memohon kecukupan rezeki.

Antara Mitos dan Spiritualitas di Bulan Safar

Kepercayaan terhadap mitos di bulan Safar sering kali dipandang sebagai bentuk sinkretisme antara budaya lokal dan ajaran Islam. Beberapa ulama tradisional bahkan menilai bahwa meski secara teologis mitos tersebut memang tidak berdasar, ritual doa dan sedekah yang tumbuh darinya justru dapat memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial.

Ulama seperti Ibnu Rajab al-Hanbali secara jelas menolak keyakinan bahwa bulan Safar memiliki nasib buruk khusus. Dalam karya beliau Lathā’iful Maʿārif, Ia menegaskan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan lainnya, kesialan maupun kebaikan bisa terjadi kapan pun, tanpa tergantung bulan tertentu.

Pandangan ini selaras dengan hadis Nabi saw.:
“Tidak ada penyakit menular (secara mutlak), tidak ada kepercayaan buruk pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim) .

Lembaga seperti MUI secara tegas menyatakan bahwa keyakinan semacam itu perlu diluruskan. Mereka menegaskan bahwa tidak ada dalil syar’i yang melarang menikah atau memulai usaha pada bulan Safar karena dianggap sial.

Ulama kontemporer seperti Syaikh Shalih al-Fauzan juga menyatakan bahwa menganggap bulan Safar membawa musibah adalah bentuk syirik kecil dan merusak akidah.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca