Mitos dan Doa Tolak Bala di Bulan Safar, Amalan untuk Melindungi Diri
Tak hanya itu, ada pula tradisi sedekah bersama hingga membaca surat Yasin tiga kali dengan doa khusus. Doa pertama, yaitu memohon panjang umur, kedua memohon dijauhkan dari musibah, ketiga memohon kecukupan rezeki.
Antara Mitos dan Spiritualitas di Bulan Safar

Kepercayaan terhadap mitos di bulan Safar sering kali dipandang sebagai bentuk sinkretisme antara budaya lokal dan ajaran Islam. Beberapa ulama tradisional bahkan menilai bahwa meski secara teologis mitos tersebut memang tidak berdasar, ritual doa dan sedekah yang tumbuh darinya justru dapat memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial.
Ulama seperti Ibnu Rajab al-Hanbali secara jelas menolak keyakinan bahwa bulan Safar memiliki nasib buruk khusus. Dalam karya beliau Lathā’iful Maʿārif, Ia menegaskan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan lainnya, kesialan maupun kebaikan bisa terjadi kapan pun, tanpa tergantung bulan tertentu.
Pandangan ini selaras dengan hadis Nabi saw.:
“Tidak ada penyakit menular (secara mutlak), tidak ada kepercayaan buruk pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim) .
Lembaga seperti MUI secara tegas menyatakan bahwa keyakinan semacam itu perlu diluruskan. Mereka menegaskan bahwa tidak ada dalil syar’i yang melarang menikah atau memulai usaha pada bulan Safar karena dianggap sial.
Ulama kontemporer seperti Syaikh Shalih al-Fauzan juga menyatakan bahwa menganggap bulan Safar membawa musibah adalah bentuk syirik kecil dan merusak akidah.
Di sisi lain, dalam tradisi Islam Nusantara, muncul pemaknaan yang lebih fleksibel: mitos tersebut memang tidak diakui secara tekstual, tetapi praktik doa, sedekah, dan ikhtiar spiritual tetap dianggap sebagai ekspresi nilai spiritual dan sosial masyarakat Islam Nusantara.
Di banyak daerah Indonesia, doa tolak bala di bulan Safar biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid atau mushala. Warga berkumpul membaca doa, tahlil, atau manaqib, lalu menutupnya dengan makan bersama.
Di Aceh, terdapat tradisi kenduri tolak bala, yakni makan bersama setelah membaca doa di bulan Safar. Di Jawa, dikenal tradisi slametan Rabu Wekasan, yang diisi dengan pembacaan doa keselamatan. Sedangkan di Madura, masyarakat biasa menggelar acara serupa di rumah-rumah dengan menghadirkan tetangga sekitar.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana doa dan kebersamaan dipandang sebagai cara menangkal mara bahaya. Meski berakar pada mitos, praktik tersebut tetap memberikan nilai sosial, yakni mempererat persaudaraan dan kepedulian antarwarga.
Pada akhirnya, bulan Safar tidak bisa dipandang semata sebagai bulan penuh kesialan. Bagi umat Islam, setiap bulan adalah sama-sama ciptaan Allah dan memiliki potensi keberkahan.
Yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan momentum ini sebagai pengingat untuk memperbanyak doa, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan demikian, doa tolak bala di bulan Safar dapat dipahami bukan karena mitosnya, tetapi sebagai ekspresi keimanan dan kebersamaan umat.
Penulis : Ramadani Wahyu
Foto Ilustrasi
Editor : Iffah Faridatul Hasanah
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


