Cara Dakwah Raden Fatah Dalam Menyebarkan Islam di Tanah Jawa

Dengarkan Artikel Ini

Unsur kesenian yang menjadi pelengkap wayang, seperti gamelan, tembang-tembang, tokoh-tokoh, dan lakon-lakon lainnya pun diperbolehkan, asalkan tetap bernafaskan Islam.

Atas rekomendasi itu, Raden Fatah memerintahkan agar ada penyempurnaan dan perubahan bentuk, wujud, cara pertunjukan, dan alat perlengkapan wayang kulit purwa yang merupakan warisan Kerajaan Majapahit. Tujuannya agar wayang tetap berkembang dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Berdasarkan perintah Raden Fatah, wayang lalu diubah pipih menjadi dua dimensi. Wayang digambar miring sehingga tidak lagi menyerupai arca-arca di candi.

Kulit sapi atau kerbau menjadi bahan pembuatan wayang. Yang diperindah dengan memberikan perhiasan warna lalu diberi pegangan. Raden Fatah juga menciptakan kayon (gulungan) yang ditancapkan di tengah panggung kelir dan menciptakan simpingan.

Sultan Demak itu juga membuat seperangkat gamelan laras pelog yang dimainkan di hari-hari tertentu di halaman Masjid Agung Demak. Gamelan itu dikenal dengan nama Gamelan Sekati.

Tradisi memainkan gamelan ini masih dilestarikan Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta setiap bulan Maulud dalam perayaan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Perayaan itu kini dikenal sebagai Sekaten (dari kata Syahadatain). (yus)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca