Viral Budaya Lokal di Era Digital; Potensi Tiktok dan Youtube dalam Melestarikan Budaya
Kurikulum merdeka memberi ruang besar untuk ini. Dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), tema kebudayaan bisa dieksplorasi dalam format digital.
Kolaborasi dengan komunitas lokal akan memperkaya pengalaman belajar. Siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi langsung dari sumbernya yakni dari para pelaku tradisi dan penjaga nilai-nilai lokal.
Perlunya Menghindari Reduksi Budaya

Tentu tidak semua konten budaya yang viral bersifat positif. Ada juga yang menyederhanakan budaya secara berlebihan, bahkan mengejeknya untuk efek lucu.
Risiko ini harus diantisipasi dengan membekali siswa kemampuan berpikir reflektif. Mereka perlu bertanya, siapa yang membuat konten? Untuk siapa? Apa dampaknya bagi pemilik tradisi?
Dengan kesadaran semacam ini, budaya tidak hanya dilihat sebagai barang konsumsi viral, tetapi sebagai narasi yang memiliki sejarah dan makna mendalam.
Rayyan dan pacu jalur-nya adalah simbol kecil dari potensi besar yang kita miliki. Tradisi bisa tumbuh kembali, bukan hanya lewat panggung adat, tapi juga layar digital.
Yang dibutuhkan adalah dukungan kolektif. Sekolah, guru, orang tua, komunitas budaya, dan pelaku teknologi harus bersama-sama mendorong anak-anak untuk menjadi penjaga sekaligus pencerita budaya mereka.
Perlu kita ingat bahwa teknologi bukanlah musuh budaya, Jika digunakan dengan bijak, ia mampu menjadi jembatan antara masa lalu yang kaya, dan masa depan yang kreatif dan inklusif.
Dengan demikian maka dapat kita simpulkan bahwa, viralnya budaya lokal di era digital tetap membutuhkan perhatian khusus dari segala pihak. Guna menghindari kesalahpahaman makna dan fungsinya. Mari kita jaga bersama agar budaya tetap terpelihara dan konsumsi berpikir siswa tetap terarah.
Penulis : Ramadani Wahyu
Foto Ilustrasi
Editor : Iffah Faridatul Hasanah
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


