Scroll Terus Sampai Otak Nge-lag: Dilema ‘Konten Receh’ Candu Bagi Gen Z
Dalam psikologi, pola seperti ini disebut sebagai compulsive coping—strategi bertahan hidup yang awalnya sehat, tapi menjadi maladaptif ketika dilakukan secara berlebihan. Sejumlah studi telah mencatat keterkaitan antara screen time berlebih dan peningkatan gejala kecemasan, kelelahan mental, hingga gangguan tidur, terutama pada kelompok usia muda.
Rekomendasi untuk Membuka Ruang Jeda yang Lebih Sehat
- Atur Waktu Konsumsi, Misalnya, TikTok hanya diakses di waktu tertentu—istirahat, makan siang, atau setelah tugas selesai. Di luar itu, lakukan digital detox untuk memberi jeda pada otak.
- Sisipkan Aktivitas Offline, Alih-alih terus scroll, cobalah aktivitas seperti mewarnai mandala, berjalan kaki, atau kegiatan kreatif ringan—bentuk coping yang lebih mindful dan efektif menurunkan stres.
- Refleksi atas Konsumsi Digital, Pertanyaan seperti “kenapa aku membuka aplikasi ini sekarang?” atau “apa yang ingin aku hindari atau capai?” bisa membantu memetakan apakah scrolling receh memang fungsi coping, atau sudah jadi mekanisme avoidance.
- Bangun Kesadaran Sosial dan Emosional, Terlihat dari tren di TikTok yang memadukan humor dengan diskursus mental health—satir atau komedi bisa menjadi alat pemaknaan emosional bagi banyak Gen Z.
So, sobat Gen Z 1miliarsantri.net, apakah kalian akan terjebak dalam scrolling yang menjadi candu tanpa mampu memanajemennya dengan bijak, atau sejak dini mengatur pola dalam aktivitas scrolling sebagai bentuk hiburan semata tanpa meninggalkan efek ketergantungan.**
Penulis : Ramadani Wahyu
Foto ilustrasi AI
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


