Scroll Terus Sampai Otak Nge-lag: Dilema ‘Konten Receh’ Candu Bagi Gen Z
Penelitian Microsoft dalam Time.com (2015) menunjukkan bahwa rentang perhatian manusia telah menyusut drastis—dari rata-rata 12 detik pada tahun 2000 menjadi hanya delapan detik pada 2013—sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup berbasis layar dan konsumsi konten impulsif seperti media sosial dan notifikasi terus-menerus.
Bahkan ketika seseorang tidak lagi aktif menonton, otaknya tetap mencari stimuli pengganti—semacam keresahan digital—yang mendorongnya untuk terus scroll tanpa arah.
Dampaknya tidak selalu terlihat secara dramatis, tapi pelan-pelan mengikis. Konsumsi yang terus-menerus terhadap konten dangkal dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis, memperpendek rentang fokus, dan membentuk pola pikir reaktif ketimbang reflektif.
Kita menjadi cepat bosan dengan informasi yang butuh pemrosesan, dan lebih tertarik pada sensasi instan yang menyenangkan tapi tidak membangun.
Dilema Play–Pause: Hiburan Sehat atau Ketergantungan?
Rentang antara hiburan sehat dan ketergantungan digital sangat tipis. Konten receh bisa menjadi pereda stres sesaat, membantu mengalihkan pikiran dari tekanan hidup yang terus datang bertubi-tubi.
Namun ketika konsumsi semacam ini menjadi rutinitas otomatis—terjadi tanpa sadar, setiap kali stres datang, setiap kali jeda muncul di sela aktivitas—kita sesungguhnya sedang bergerak menuju zona abu-abu: bukan lagi sekadar pengguna, tapi terikat oleh pola.
Zona ini berbahaya karena kerap tidak terasa. Menonton video lucu sebelum tidur, membuka TikTok sambil makan, atau scroll Instagram saat istirahat tampak seperti hal kecil yang wajar. Tapi ketika semua momen diam kita diisi oleh konsumsi konten—dan hanya itu—maka jeda bukan lagi momen reflektif, melainkan pelarian yang menumpuk.
Alih-alih menghadapi stres, kita menekannya. Alih-alih mengolah emosi, kita menundanya dengan tawa sementara.
Lama-lama, tubuh dan pikiran tidak lagi tahu cara istirahat tanpa hiburan eksternal.
Dalam psikologi, pola seperti ini disebut sebagai compulsive coping—strategi bertahan hidup yang awalnya sehat, tapi menjadi maladaptif ketika dilakukan secara berlebihan. Sejumlah studi telah mencatat keterkaitan antara screen time berlebih dan peningkatan gejala kecemasan, kelelahan mental, hingga gangguan tidur, terutama pada kelompok usia muda.
Rekomendasi untuk Membuka Ruang Jeda yang Lebih Sehat
- Atur Waktu Konsumsi, Misalnya, TikTok hanya diakses di waktu tertentu—istirahat, makan siang, atau setelah tugas selesai. Di luar itu, lakukan digital detox untuk memberi jeda pada otak.
- Sisipkan Aktivitas Offline, Alih-alih terus scroll, cobalah aktivitas seperti mewarnai mandala, berjalan kaki, atau kegiatan kreatif ringan—bentuk coping yang lebih mindful dan efektif menurunkan stres.
- Refleksi atas Konsumsi Digital, Pertanyaan seperti “kenapa aku membuka aplikasi ini sekarang?” atau “apa yang ingin aku hindari atau capai?” bisa membantu memetakan apakah scrolling receh memang fungsi coping, atau sudah jadi mekanisme avoidance.
- Bangun Kesadaran Sosial dan Emosional, Terlihat dari tren di TikTok yang memadukan humor dengan diskursus mental health—satir atau komedi bisa menjadi alat pemaknaan emosional bagi banyak Gen Z.
So, sobat Gen Z 1miliarsantri.net, apakah kalian akan terjebak dalam scrolling yang menjadi candu tanpa mampu memanajemennya dengan bijak, atau sejak dini mengatur pola dalam aktivitas scrolling sebagai bentuk hiburan semata tanpa meninggalkan efek ketergantungan.**
Penulis : Ramadani Wahyu
Foto ilustrasi AI
Editor : Thamrin Humris
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


